Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

MANFAAT SURAT ATTAGHOBUN

MANFAAT SURAT ATTAGHOBUN

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Hari Sabtu saya memang sengaja untuk pulang ke rumah saya di Tuban, karena ada pelepasan atas kelulusan anak-anak Taman Kanak-Kanak Alhikmah. Sebagai ketua Yayasan Pendidikan ini,  saya tidak boleh melewatkan acara special yang diselenggarakan oleh Kepala Sekolah Taman Kanak-Kanak (TK) Al Hikmah. Acara tersebut diselenggarakan pada 21 Juni 2025. Hadir seluruh guru KB dan TK Al Hikmah, siswa dan orang tua siswa dan pejabat Desa Sembungrejo.

Saya tentu menginap di rumah saya, sebab masih ada Emak, Hj. Turmiatun. Oleh karena itu, pada Hari Ahad, 22 Juni 2025, saya menjadi imam shalat Shubuh dan sekaligus menjadi penceramah. Saya upayakan setiap saya pulang ke rumah Tuban, maka saya selalu memberikan taushiyah kepada para jamaah, khususnya jamaah shalat  Shubuh. Tema yang saya sampaikan pada ceramah shubuhan tersebut terkait dengan Surat Attghabun, Surat di dalam Alqur’an yang memiliki banyak hikmah. Ada tiga hal yang saya sampaikan di dalam ceramah tersebut, yaitu:

Pertama, mari bersyukur karena kita masih diberi kehidupan,  masih bisa bernafas dan masih sehat. Dengan diberi kehidupan berarti Tuhan masih menyayangi kita untuk bisa bertaubat kepada-Nya. Jika ada kesalahan, kekhilafan dan dosa berarti kita masih diberi peluang untuk membaca istighfar atau shalawat Nabi. Keduanya dapat dijadikan sebagai instrument untuk memperoleh ridhanya Allah SWT. Kita semua ini sudah orang yang berusia tua. Saya  sudah 67 tahun, Kang Matmui sudah 68 tahun, Kang Junaidi sudah 65 tahun. Dan lainnya sudah di atas 50 tahun. Bahkan di antara Kawan-kawan kita sudah banyak yang meninggal dunia.

Marilah kita bersyukur dengan cara semakin banyak membaca shalawat kepada Kanjeng Nabi Muhammad SAW semoga kita semua dapat memperoleh syafaat dari Kanjeng Rasulullah Muhammad SAW. Marilah kita perbanyak membaca shalawat tersebut karena di antara yang diberikan otoritas oleh Allah SWT kepada umat Islam adalah Nabi Muhammad SAW dan kitab suci Alqur’an.

Kedua, kali ini saya akan memberikan penjelasan sedikit saja tentang salah satu Surat di dalam Alqur’an, yaitu Surat Attaghabun, yang artinya adalah penampakan kebaikan dan keburukan. Waktu penampakan kebaikan dan keburukan tersebut disebut sebagai yaumut taghabun. Hari tersebut terjadi pada saat manusia berada di padang Mahsyar, salah satu padang tempat dibangkitkannya manusia dari kuburnya. Mereka keluar dari kuburnya dengan berbagai macam rupa. Tidak mengenal satu sama yang lain. Berdasarkan kajian ilmiah bahwa dari tubuh kita  ada yang tidak hancur. Disebut sebagai tulang ekor. Dibakarpun tidak hancur. Anggota tubuh lain dapat rusak, akan tetapi satu bagian tubuh, tulang ekor, tersebut tidak akan rusak. Dari situlah manusia dibangkitkan.

Di dalam Surat Attaghabun dinyatakan bahwa orang kafir itu tidak meyakini bahwa akan ada hari kebangkitan manusia dari kuburnya, tidak percaya bahwa akan ada siksa di dalam neraka dan  tidak ada pahala serta  kebaikan dari surga. Itulah sebabnya Allah memberikan penjelasan di dalam Alqur’an bahwa semua yang diberitakan di dalam Alqur’an,  baik yang berupa kabar kebahagiaan maupun kabar kepedihan adalah sesuatu yang hak, dan termasuk bagian dari keimanan atas hal-hal yang di masa sekarang dianggap sebagai kegaiban. Di dalam Surat Albaqarah dinyatakan “dan orang-orang yang meyakini hal-hal yang gaib, yang menjalankan shalat dan yang menginfakkan sebagian hartanya”.

Allah menggambarkan bahwa surga dan neraka itu sebuah kenyataan di masa yang akan datang. Bukan sesuatu yang gaib. Di masa sekarang merupakan kegaiban tetapi di masa yang akan datang adalah kenyataan. Bahkan juga digambarkan bahwa di dalam surga  terdapat air yang mengalir dan orang mukmin akan kekal di dalamnya. Sebaliknya orang kafir akan dimasukkan ke dalam neraka dengan api yang menyala-nyala dan juga akan kekal di dalamnya. Menurut Surat Attaghabun, tidak ada satupun manusia, kecuali para Nabi, yang terhindar dari yaumul ba’ats dan juga yaumut taghabun.

Ketiga, kita bersyukur kepada Allah karena kita mendapatkan iman yang benar dan kita sudah menjalankan ajaran Islam dengan benar. Coba kalau kita rasakan, hampir setiap pagi kita  shalat berjamaah shalat  shubuh. Jarang orang yang bisa melakukannya. Dan kita sudah melakukannya. Apalagi jika kita bisa shalat malam atau qiyamul lail. Kita bangun jam 02.00 atau jam 2.30 atau bangun jam 03.00 atau jam 3.30 WIB. lalu bisa shalat hajad 2 atau 4 rakaat, lalu shalat taubah 2 rakaat terus membaca dzikir tentang kalimat thayyibah. Ini tentu sebuah kebaikan yang luar biasa. Lalu kita ke masjid untuk shalat qabliyah shubuh dan dilanjutkan dengan shalat shubuh. Pahalanya sangat luar biasa. Dan insyaallah kita sudah melakukannya. Kebahagiaan ini yang sudah kita rasakan. Dan harapan kita semoga kita  menjadi orang yang merasa bahagia di kala akan wafat.

Surat Attaghabun ini memiliki beberapa hikmah, di antaranya adalah gambaran kebahagian dan kesengsaraan di alam mahsyar dan lanjut di alam akhirat. Kemudian kabar tentang perlindungan Allah kepada hambanya dengan kasih sayangnya. Tidak diperkenankan kita untuk memarahi keluarga kita yang melakukan kesalahan. Dan yang terpenting adalah kabar kegembiraan bagi orang muslim untuk meninggalkan dunia atau wafat di dalam keadaaan khusnul khatimah.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

PENAMPAKAN KESALAHAN, KEKHILAFAN DAN DOSA

PENAMPAKAN KESALAHAN, KEKHILAFAN DAN DOSA

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Acara tahsinan yang diselenggarakan di Masjid Al Ihsan Perumahan Lotus Regency Ketintang Surabaya telah sampai pada Surat Attaghabun, Senin, 16/06/2025. Secara harfiyah arti Attaghabun adalah “hari ditampakkan segala kesalahan”. Disebut Yauma Attghabun atau artinya hari ditampakkan semua kesalahan. Melihat makna ayat ini, sesungguhnya ayat ini terkait dengan kehidupan sesudah mati dan alam kubur atau hari perhitungan amal perbuatan manusia. Di alam mahsyar.

Dilihat dari asbabun nuzulnya,  surat ini diturunkan karena adanya sahabat Nabi Muhammad yang terlambat untuk ikut hijrah. Di kala sahabat lain sudah berhijrah ke Madinah sehingga pengetahuan beragama sudah semakin baik,  sahabat Nabi Muhammad  tersebut belum berangkat karena isteri dan anak-anaknya melarangnya. Oleh karena itu, sahabat Nabi Muhammad itu ingin menghukum isteri dan anak-anaknya, tetapi Allah menurunkan surat Attaghabun di mana Allah justru meminta mereka memaafkan istri dan anak-anaknya.

Surat ini oleh beberapa kalangan dianggap sebagai surat di dalam Alqur’an yang perlu dibaca di kala ada seseorang yang berada di dalam sakaratul maut atau menjelang wafat. Itulah sebabnya perlu dicari, bagaimana penalaran atas ayat demi ayat di dalam Surat Attaghabun agar bisa dipahami mengapa surat ini yang dibaca. Jika Surat Al Waqiah  sering dikaitkan dengan rejeki, maka bisa dipahami sebab yang namanya rejeki itu tidak selalu dalam bentuk materi atau benda akan tetapi bisa juga dalam bentuk rejeki akan keimanan dan keislaman. Rejeki iman dan Islam adalah rejeki terbesar di dalam kehidupan manusia.

Di dalam surat ini terdapat pernyataan Tuhan yang terkait dengan masa depan manusia yang sudah wafat. Bahwa manusia akan dibangkitkan oleh Allah pada waktu berada di alam mahsyar. Tetapi ada sebagian umat manusia yang tergolong orang kafir yang tidak mempercayai akan adanya Yaumul Ba’ats atau hari kebangkitan. Orang atheis, misalnya mempercayai bahwa kematian adalah kerusakan salah satu system tubuh, sehingga tidak lagi fungsional. Jika fungsi paru-paru hanya tinggal di bawah 30 persen, maka peluang meninggal sedemikian besar. Dengan kerusakan paru-paru,  maka akan berpengaruh pada subsistem tubuh lainnya, misalnya jantung, otak dan lainnya.

Di dalam ayat 7 dijelaskan bahwa orang kafir mengira bahwa mereka tidak akan dibangkitkan, tetapi Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad, bahwa “demi Tuhanku kamu pasti akan dibangkitkan, kemudian diberitakan semua yang telah dilakukan”. Jadi orang kafir atau atheis tidak mempercayai akan adanya hari kebangkitan sebagaimana diinformasikan oleh Nabi Muhammad berdasarkan atas wahyu Allah. Merekalah orang yang akan menjadi penghuni neraka dalam waktu yang lama. Sedangkan orang yang mempercayainya akan diganjar dengan surga juga dalam jangka waktu yang sangat lama. Mereka yang di surga akan kekal selamanya. Kekekalan yang tentu tidak sama dengan kekekalan Allah SWT. Surga dan neraka, manusia dan alam adalah ciptaan Tuhan sehingga tidak akan menyaingi  kekekalan Allah SWT.

Juga digambarkan bahwa orang yang mengerjakan kebaikan akan dapat menghapus kesalahan-kesalahannya. “waman yu’mim billahi wa ya’mal shalihan yukaffir ‘anhu sayyiatihi wa yudkhilhu Jannat”. “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan melaksanakan perbuatan yang baik niscaya Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan memasukkannya di dalam surga”.

Di dalam hadits Nabi Muhammad SAW dinyatakan: “ittaqillaha haitsuma kunta wa atbi’is sayyiatal hasanata tamhuha”, yang artinya kurang lebih “bertaqwalah kepada Allah di manapun kamu berada dan ikutilah perbuatan yang jelek dengan perbuatan yang baik yang akan menghapus kejelekannya”. Ayat dan hadits ini merupakan berita gembira atau tabsyir kepada umat Islam agar selalu berada di dalam ketaqwaan kepada Allah di manapun, dan andaikan ada kesalahan maka hendaklah segera melakukan perbuatan yang baik karena perbuatan yang baik tersebut akan menghapus  dosa perbuatan yang jelek.

Lalu dimana relevansi surat Attaghabun dengan peristiwa kehidupan menjelang kematian? Surat Attaghabun merupakan surat yang memberitahukan tentang suasana Yaumul Ba’ats yang menggambarkan tentang pengungkapan kesalahan, kekhilafan dan dosa. Pada saat tersebut manusia, siapapun dia, tidak akan bisa mengingkari tentang apa yang dilakukannya. Dengan membacakan ayat-ayat di dalam Surat Attghabun bagi orang yang menghadapi kematian, maka memberikan keyakinan bahwa semua kelakuannya sudah berada di dalam catatan amalnya.

Bisa saja relasi antara bacaan Surat Attaghabun dengan suasana menjelang kematian tidak bersifat langsung, akan tetapi memiliki pengaruh psikhologis bagi orang yang akan wafat. Dengan memberikan informasi tentang surga,   maka akan memberikan kabar yang baik bagi seseorang yang dalam keadaan menghadapi kematian. Sedangkan informasi tentang neraka tentu juga akan memberikan gambaran bahwa yang bersangkutan harus menghadapinya. Memang hanya ada dua pilihan mendengarkan kabar baik atau kabar buruk.

Surat Attaghabun merupakan salah satu surat di dalam Alqur’an yang memiliki hikmah mengenai kebahagiaan abadi di akherat dan juga kesengsaraan abadi di akherat. Bagi orang yang beriman kepada Allah dan beramal kebaikan,  maka akan mendapatkan kebahagiaan. Sedangkan  orang yang kafir dan berbuat kedhaliman,  maka juga akan menanggung akibatnya. Dan yang tidak kalah menarik bahwa Surat Attaghabun memastikan bahwa Allah akan memberikan perlindungan  bagi orang yang patuh kepada-Nya dan dapat meninggalkan kehidupan dengan damai.

Pada aspek seseorang akan meninggalkan kehidupan dengan kedamaian inilah yang kiranya menjadi salah satu alasan mengapa Surat Attaghabun dibacakan kepada orang yang berada dalam situasi sakaratul maut.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

 

YAHUDI AZKENAZI DAN KEKERASAN AKTUAL DI LUAR BATAS KEMANUSIAAN

YAHUDI AZKENAZI DAN KEKERASAN AKTUAL DI LUAR BATAS KEMANUSIAAN

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Ngaji Bahagia di Masjid Al Ihsan, Perumahan Lotus Regency Ketintang, Surabaya, pada Selasa, 17/06/2025, terasa sangat khusus sebab yang dibicarakan adalah mengenai Kaum Yahudi yang sekarang sedang terlibat di dalam peperangan di Timur Tengah. Saya sengaja menjelaskan tentang Yahudi ini dalam kerangka untuk memahami siapa sesungguhnya yang berkuasa di Israel sekarang, dan mengapa mereka melakukan Tindakan kekerasan yang tak tertahankan.

Saya membagi tiga hal dalam menjelaskan tentang kaum Yahudi yang sekarang sedang berperang melawan Iran dalam pertempuran dengan menggunakan senjata modern yang sangat canggih. Pertama, sepanjang Sejarah manusia di dunia, maka ada tiga Kerajaan besar yang memiliki pengaruh dan wilayah yang sangat luas. Mereka memiliki tradisi sebagai bangsa besar yang kekuasaannya luar biasa. Tiga Kerajaan tersebut adalah China dengan kekuasaan yang besar meliputi daratan China, Mongolia, Eropa Tengah bahkan sampai ke Asia Tenggara dan Sebagian India ke barat. China menjadi dinasti yang Panjang dalam rentang kekuasaannya.

Kemudian Romawi yang juga menjadi sebuah negara besar dengan tradisi yang luar biasa. Kekuasaannya membentang dari Eropa Timur dan Barat bahkan sampai ke Timur Tengah. Negeri ini juga menguasai pemerintahan dalam jangka waktu yang sangat Panjang. Lalu, Persia juga pernah menjadi negara besar dan bahkan pernah mengalahkan Kerajaan Romawi. Kekuasaannya meliputi wilayah Persia, Timur Tengah dan Sebagian Afrika. Persia pernah menjadi Kerajaan besar dan memiliki kekuasaan yang besar. Negeri-negeri ini memiliki etos dan tradisi sebagai bangsa besar. Sekarang, yang masih menjadi negara besar adalah China, sementara itu Romawi dan Persia sudah tidak lagi memiliki kekuasaan besar. Hanya saja, pernah menjadi bangsa besar tersebut merupakan basis ethos di dalam penguasaan banyak hal. Jika Iran sekarang sedang menjadi trending topic karena keberaniannya untuk melawan Palestina merupakan kelanjutan atas ethos dan tradisi bangsa besar dimaksud.

Kedua, bangsa Yahudi sebenarnya memiliki Sejarah Panjang di dalam penggung kehidupan umat manusia. Mereka pernah menempati tanah Kana’an dan kemudian menyebar di wilayah Palestina, dan kemudian berada di seluruh dunia.  Tetapi sesungguhnya mereka adala bangsa nomaden, yang berpindah-pindah dri satu wiayah ke wilayah lain sampai akhirnya mereka memiliki Kerajaan sendiri. Mereka   pernah di Mesir pada saat Nabi Yusuf berada di Mesir da kemudian pada zaman Nabi Musa. Kaum Yahudi merupakan keturunan Nabi Ibrahim dari jalur Sarah, keduanya menurunkan Nabi Ishaq dan terus sampai kepada Nabi Ya’kup atau disebut sebagai Israel. Dari 12 putranya, maka yang berhasil mendirikan negara Palestina adalah Yehuda dan Benyamin. Akan tetapi karena perebutan kekuasaan, maka akhirnya terpecah-pecah. Nama Bani Israel dibangsakan kepada Nabi Ya’kup.

Kaum Bani Israel dapat dibawa ke Palestina oleh Nabi Musa dari penderitaan yang dialaminya di Mesir. Peristiwa itu yang diabadikan di dalam teks-teks agama sebagai penyebrangan di lait Merah yang kemudian dinisbahkan dengan mu’jizat Nabi Musa. Agama Yahudi dikaitkan dengan Nabi Musa sebagai rasul yang terbesar. Tetapi mereka juga mengakui adanya nabi-nabi lain, misalnya Ibrahim, Ishaq, Ya’kup, dan Yusuf. Hingga sekarang mereka mengakui akan nabi-nabi tersebut.

Ketiga, perihal kaum Yahudi sekarang, khususnya yang sedang berkuasa bukanlah keturunan Nabi Ibrahim. Kaum Yahudi Zionis adalah keturunan Kaum Azkenazi yang berasal dari suku Kazan di Kaukasus. Ada yang menyatakan bahwa kaum Zionis adalah keturunan Turki dan Mongol, bahkan keturunan Ma’juz. Mereka menempati wilayah Eropa Timur dan Tengah  dan kemudian bermigrasi ke Negara Eropa Barat. Mereka adalah orang Eropa Timur yang tidak mau masuk ke dalam agama Katolik atau Protestan. Mereka memeluk agama Yahudi dan mendiami beberpa negara di Eropa Barat. Pada waktu terjadi genosida kaum Yahudi yang dilakukan oleh Hitler, maka mereka menyebar ke seluruh dunia, khususnya di Amerika Serikat. Di sini mereka memperoleh status Istimewa karena bisa menjadi banker, ilmuwan dan politisi. Tetapi kaum Yahudi Azkenazi ini tetap beranggapan bahwa tanah “harapan” yang didambakan adalah Palestina. Makanya, mereka kemudian berbondong-bondong ke Palestina dengan membeli tanah-tanah yang dimiliki orang Islam.

Sebenarnya ada dua hipotesis terkait dengan kaum Yahudi. Ada yang menyatakan bahwa asal usul kaum Yahudi Zionis adalah dari keturunan Nabi Ibrahim disebut sebagai hipotesis Rhineland, dan ada yang menyatakan bahwa mereka bukan keturunan Nabi Ibrahim tetapi keturunan orang Eropa Timur dan Tengah dan di masa lalu mendiami dataran Kaukasus disebut sebagai hipotesis Kazan. Dan akhirnya berdasarkan uji DNA memang diketahui bahwa orang Yahudi yang berkuasa memang bukanlah keturunan Nabi Ibrahim sebab haplogroupnya adalah G dan bukan Y. nabi Ibrahim dan kemudian keturunan Ya’kuf berhaplogroup Y dan kaum Yahudi Zionisme berhaplogroup G. tentu masih ada Bani Israel yang keturunan Ibrahim karena memiliki haplogroup yang sama dengan Nabi Ya’kup.

Kaum Yahudi adalah mereka yang memiliki archetype dalam kaitannya dengan genosida yang dilakukan oleh Hitler, maka pada saat berkuasa,  pengalaman masa lalu yang sangat menyakitkan tersebut menjadi pengalaman yang tidak akan pernah dilupakan. Jika mereka ingin menguasai Gaza, bukan sekedar membuktikan adanya tanah harapan, akan tetapi juga untuk melampiaskan dendam kesumat atas pengalaman traumatic sebelumnya.

Jadi jika Israel sekarang membabi buta atas nama apapun, sesungguhnya hal itu merupakan ekspresi pelampiasan atas masa lalunya yang kelam. Untunglah masih ada yang berani melakukan Tindakan melawan atas keinginan utopis Israel dimaksud. Dan Iran adalah salah satu kekuatan di Timur Tengah, yang sekarang bukan hanya mimpi untuk menghancurkan Israel, akan tetapi sudah benar-benar dihancurkan.

Wallahu a’lam bi al shawab.

MENJADI YANG TERBAIK UNTUK DIRI SENDIRI

MENJADI YANG TERBAIK UNTUK DIRI SENDIRI

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Sebuah hadits Nabi Muhammad SAW yang sangat sering saya bacakan terutama dalam acara Wisuda Sarjana berbunyi: “Khairun nas anfa’uhum linnas” yang artinya: “sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya”. Hadits ini memberikan gambaran bahwa bermanfaat bagi orang lain adalah ciri utama bagi manusia yang terbaik. Namun demikian, ada satu hal yang tidak boleh dilupakan bahwa manusia juga harus menjadi yang terbaik untuk dirinya sendiri. Inilah yang saya sampaikan dalam pengajian pada  acara Ngaji Bahagia pada Komunitas Ngaji Bahagia (KNB) di Masjid Al Ihsan Perumahan Lotus Regency Ketintang Surabaya, 03/06/2025.

Saya menyatakan ada tiga hal yang perlu diperhatikan, yaitu: Pertama, secara dekonstruktif, bahwa manusia yang terbaik adalah yang terbaik bagi orang lain. Ini pasti. Tetapi juga jangan lupa, manusia juga harus menjadi yang terbaik untuk fisiknya, untuk jiwa dan untuk rohnya. Ini bukan dalil, akan tetapi bisa direnungkan: “khoriun nas anfuhum lijasadihi wa li nafsihi wa liruhihi. Sekali lagi ini bukan hadits apalagi Qur’an, tetapi hanya maqalah dari orang awam. Namun demikian penting untuk direnungkan, bahwa manusia yang terbaik adalah yang bermanfaat bagi jasadnya sendiri, bagi jiwanya dan bagi rohnya. Dengan demikian, seseorang akan dinilai bermanfaat jika dia menjadi yang terbaik untuk jasadnya, untuk jiwanya dan untuk rohnya. Tidak mungkin orang akan menjadi baik untuk orang lain,  jika jasad, jiwa dan rohnya sendiri tidak baik.

Kedua, jasad yang baik ditandai dengan adanya makanan dan minuman yang baik. Yang dimakan adalah  bahan-bahan yang sumber makanan yang  proses dan produknya baik. Di dalam konsep Islam disebut sebagai makanan dan minuman yang halalan thayyiban. Tidak cukup halal tetapi yang baik untuk kesehatan tubuh. Misalnya, daging kambing tentu halal selama hewan tersebut memang bukan hewan hasil pencurian, akan tetapi menjadi kurang baik jika dimakan oleh orang yang memiliki potensi asam urat dan kolesterol yang tinggi. Halal tetapi kurang thayib. Gula tentu makanan halal selama diproses dengan halal, akan tetapi menjadi kurang thayib jika dijadikan bahan makanan atau minuman orang yang memiliki diabetes.

Berikutnya, anfa’uhum linafsihi atau bermanfaat bagi jiwanya. Jiwa itu terletak di antara jasad dan roh. Dengan nafsu tersebut maka manusia menjadi memiliki keinginan untuk melakukan sesuatu.  Nafsulah yang menggerakkan seseorang untuk memilah dan memilih perbuatan mana yang dianggap penting dan mana yang dianggap tidak penting. Mana perbuatan yang bermanfaat bagi diri dan orang lain dan mana perbuatan yang tidak bermanfaat bagi diri dan orang lain. Makanya terdapat nafsu amarah yang berkecenderungan ke arah fisikal atau nafsu biologis atau nafsu kebinatangan. Lalu ada nafsu muthmainnah yang cenderung kepada kebaikan bersearah kepada perilaku malaikat. Jadi ada jiwa yang kal hayawan dan ada yang kal malaikah.

Tidak kalah menarik adalah anfa’uhum li ruhini atau bermanafaat bagi ruhnya. Ruh yang ada di dalam diri manusia adalah produk tiupan Allah. Artinya ada dimensi ketuhanan di dalam ruh tersebut. Makanya, ruh tentu memiliki ciri utama kebaikan. Ciri yang mendasar adalah kepatuhan kepada Allah. Namun demikian, ruh itu netral. Jadi sangat tergantung kepada nafsunya. Apakah nafsu kebaikan atau keburukan. Jika nafsu yang berkembang di dalam kehidupan adalah kebaikan tentu ruh itu akan menjadi bahagia, dan jika jiwanya cenderung kepada kejahatan, tentu ruh akan menjadi sengsara.

Ketiga, fisik, jiwa dan roh harus memperoleh asupan yang baik dan bermanfaat. Jasad harus diisi dengan kebaikan dan kemanfaatan. Sebagaimana tadi bahwa jasad harus diisi dengan asupan-asupan biologis yang bermanfaat. Jangan makan dan minum yang macam-macam yang tidak sesuai dengan kemampuan fisik dan yang terpenting halalan thayyiban. Lalu juga jiwa kita diisi dengan silaturrahmi atau berbuat baik kepada sesama manusia. Relasi social yang baik akan sangat menentukan atas kebaikan jiwa kita. Orang yang suka memaafkan, suka berbuat jujur, suka berbuat yang menyenangkan orang lain, orang yang suka membuat orang lain bahagia dan yang tidak kalah penting adalah orang yang suka sedekah, maka akan sangat berpengaruh atas kebaikan jiwa. Ini merupakan prinsip agar jiwa  selalu berada di dalam kebaikan. Jiwa yang akan menjadi muthmainnah dan bukan jiwa yang amarah termasuk jiwa yang lawwamah.

Kemudian yang tidak kalah menarik adalah mengisi roh dengan ibadah kepada Allah SWT. Roh berasal dari Tuhan, maka roh juga senang jika diisi dengan kebaikan, dan kebaikan roh itu sangat tergantung kepada seberapa banyak ibadah yang bisa dilakukan. Jaga dzikir atau wirid, jaga shalat, jaga puasa, dan jaga roh dengan terus berbaik sangka kepada Allah SWT. Sesungguhnya Allah itu maha Rahman dan Rahim, maka agar Rahman dan Rahim tersebut berada di dalam tubuh kita, maka harus diisi dengan kebaikan kepada diri kita, kepada jiwa kita dan kepada roh kita.

Saya kira, para jamaah masjid Al Ihsan sebagai anggota jamaah Ngaji Bahagia adalah orang yang beruntung, sebab setidak-tidaknya tiga hal ini sudah dilakukan seberapapun kita dapat  melakukannya. Insyaallah Tuhan yang memiliki roh, jiwa dan raga akan bersearah dengan kebaikan yang mampu dan harus kita lakukan.

Wallahu a’lam bi al shawab.

MENCERMATI PARA MUNAFIQIN

MENCERMATI PARA MUNAFIQIN

Prof. Dr. Nur Syam, Msi

Acara Ngaji Bahagia tentu selalu menghadirkan kebahagiaan. Kalau tidak mengapa namanya seperti itu. Pada pagi, Selasa, 27 Mei 2025, ketepatan ngaji Bahagia ini diikuti oleh banyak sahabat yang selama ini terlibat di dalam kegiatan ngaji bareng. Tema pagi ini juga menarik sebab mengkaji tentang munafiq sebagai fenomena social dan keagamaan. Tema ini dipicu oleh acara tahsinan yang sudah sampai kepada pembahasan tentang Surat Al Munafiqun, maka tentu terkait dengan siapa dan apa saja yang disebut sebagai munafiqun dimaksud.

Ada beberapa penjelasan terkait dengan munafiq, yaitu:

Pertama, tanda-tanda kaum munafiq sebagaimana diungkapkan di dalam hadits sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhori sebagai berikut: “idza haddatsa  kadzdzaba, wa idza wa’ada   akhlafa, wa idza’tumina khana”, artinya: “jika berkata bohong, dan jika berjanji ingkar dan jika diberi amanah berdusta”. Melalui hadits ini dapat dipahami bahwa ada pertanda sebagaimana dinyatakan oleh Nabi Muhammad SAW bahwa orang munafik itu sedemikian mudah untuk dikenali. Suka berbohong, suka ingkar janji dan suka berdusta.

Melalui hadits ini tentu kita dapat  mencoba untuk memahami diri kita sendiri, apakah kita termasuk orang yang diindikatori sebagai munafik. Sekaligus juga menjadi bahan berhati-hati, agar jangan mudah kita berkata bohong, jangan mudah kita ingkar janji,  dan jangan berdusta jika diberi amanah. Ada di antara umat Islam  yang sedemikian mudah untuk mengucapkan sesuatu yang tidak tepat dan benar. Contoh yang sangat sederhana, misalnya kita berjanji di suatu tempat untuk bertemu, ada sahabat yang belum datang, kala ditanya sampai mana, maka dengan enteng menjawab sudah dekat 10 menit lagi,  padahal masih jauh jarak yang harus ditempuhnya. Jika hal seperti ini secara terus menerus dilakukan, bukan tidak mungkin suatu ketika akan  menjadi kebiasaan. Atau akan menjadi tabiat atau perilaku yang bersumber dari kebiasaan secara kontinu dan kemudian menjadi kebiasaan sehari-hari.

Di sini, Islam mengajarkan agar kita bicara apa adanya. Qaulan sadidan. Berkata yang jujur dan  yang benar, dan jangan menutupi atas sesuatu yang sesungguhnya salah. Nyatakan yang benar itu benar dan nyatakan yang salah itu salah. Jika harus terlambat di dalam suatu pertemuan, maka ungkapkan apa adanya agar dipahami secara benar oleh orang lain. Oleh karena itu kita harus benar-benar menjaga agar sesuatu yang jelek tidak menjadi kebiasaan. Ada pepatah Jawa yang menyatakan: “esuk tempe sore dele” atau pagi bicara tempe, sore bicara kedelei. Atau di dalam bahasa Jawa disebut sebagai: “mencla, mencle”. Atau orang yang tidak konsisten antara apa yang dikatakan dengan apa yang dilakukan. Ini baru munafiq secara insaniyah atau munafiq ‘indan nas. Di dalam bahasa yang  ilmiah bisa disebut sebagai munafiq sosiologis atau munafiq antar manusia.

Yang paling berat, sebagaimana diceritakan di dalam Surat Al Munafiqun adalah terkait dengan munafiq di hadapan Allah dan Rasulnya. Dari mulutnya menyatakan mempercayai Allah dan apa yang diajarkan oleh Rasulnya, akan tetapi di dalam batin mengingkarinya atau bahkan memusuhinya. Pada zaman Rasulullah sudah banyak orang yang seperti ini, artinya banyak kaum Makkah dan Madinah yang seakan-akan percaya kepada ajaran Nabi Muhammad SAW akan tetapi secara empiris mereka melakukan gerakan untuk melawan Nabi Muhammad SAW. Misalnya kabilah yang sudah menyetujui perjanjian damai di dalam Perjanjian Madinah atau Piagam Madinah, tetapi secara diam-diam mereka melakukan konspirasi dengan musuh-musuh Islam, maka Nabi Muhammad berperang terhadap kabilah  yang semacam ini.

Jadi tidak benar, jika Nabi Muhammad SAW itu mengembangkan Islam dengan pedang, sebagaimana tuduhan para ahli orientalis, yang menyatakan bahwa Islam disiarkan dengan peperangan. Peperangan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW hakikatnya adalah untuk mempertahankan umat Islam dari rongrongan dan fitnah yang dilakukan oleh kabilah-kabilah yang ingin menghancurkan Islam.  Nabi Muhammad SAW sudah menduga akan banyak manusia yang mengingkari janjinya sendiri. Janji hanya sebagai pemanis hubungan social. Memuji padahal menggebuki, menyanjung tetapi sesungguhnya menelikung. Zaman Nabi Muhammad SAW sudah banyak orang yang seperti ini.

Yang tidak kalah menarik juga banyaknya orang yang diberikan amanah atau kepercayaan, akan tetapi kemudian berkhianat. Ada banyak contoh kehidupan yang secara transparan menggambarkan kenyataan seperti ini. Banyak para pemimpin yang kemudian menyalahgunakan kewenangannya. Abuse of power. Sewenang-wenang di dalam menggunakan kekuasaannya. Di kala belum menjadi pemimpin berperilaku baik dan memohon dukungan, akan tetapi setelah menjadi pemimpin berlaku mengingkarinya. Begitu transparan realitas social yang terbentang di hadapan kita tentang kenyataan ini, betapa mudah kita menemukan orang yang diberi amanah tetapi menyelewengkannya.

Dalam Sejarah kita dapat  membaca  orang minafiqun dalam skala besar, misalnya Musailamah al Kadzdzab, seorang munafiq besar yang semula mengakui Allah dan Nabi Muhammad tetapi itu hanya pura-pura. Bahkan dia menyatakan bahwa wahyu kepada Muhammad itu salah alamat, mestinya kepada Ali. Dia mencoba untuk menyaingi kesusastraan tinggi Alqur’an dengan puisi hasil ciptaannya. Lalu terdapat juga Ibnu Ziyad yang memerintahkan Umar bin Saad, seorang pemimpin  bala tantara Muawiyah untuk membunuh Sayidina Husein RA. Kemudian juga terdapat sekelompok orang Khawarij yang membunuh Sayyidina Ali karena perbedaan pendapat. Ibnu Muljam yang membunuh Sayyidina Ali RA., adalah orang yang beranggapan bahwa hanya pendapatnya sendiri yang benar dan selain itu salah. Dianggapnya bahwa Sayyidina Ali RA sudah keluar dari Islam karena tidak menggunakan hukum Allah dalam menyelesaikan konflik antar umat Islam kala itu.

Dengan demikian, orang munafik itu ada di mana-mana, ada di masa lalu dan ada pada masa sekarang. Dan bahkan juga ada di sekitar kita.

Wallahu a’lam bi al shawab.