• September 2026
    M T W T F S S
    « Aug    
     123456
    78910111213
    14151617181920
    21222324252627
    282930  

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

MEMPERTAHANKAN KEINDONESIAAN (2)

Bagi Pak SBY, bahwa ke depan masyarakat Indonesia bukan lagi hanya mempertahankan kemerdekaan akan tetapi adalah mempertahankan keindonesiaan. Mempertahankan keindonesiaan adalah kewajiban bagi bangsa Indonesia.

Percuma saja Indonesia menjadi negara yang sejahtera dan modern,  akan tetapi ternyata kehilangan jati diri sebagai bangsa Indonesia. Jati diri bangsa Indonesia adalah bangsa yang menjadikan Pancasila sebagai dasar negara, menjadikan UUD 1945 sebagai landasan yuridisnya, menjadikan NKRI sebagai bentuk final negaranya dan multikulturalitas sebagai asas di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Oleh karena itu, maka semua ideologi lain yang bukan ideologi Negara Indonesia, maka sudah sepantasnya untuk ditolak. Jika sekarang ada ideologi yang dikembangkan oleh Islamic State of Iraq and Syria (ISIS), maka ideologi ini tentu secara diametral bertentangan dengan filsafat kehidupan bangsa Indonesia dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Jika ada orang Indonesia yang mengikuti ideologi ini, maka sebenarnya mereka bukan lagi sebagai bagian dari bangsa Indonesia. Namun demikian tentunya diperlukan cara yang arif agar mereka yang tersesat tersebut dapat kembali kepada pangkuan bangsa dan Negara Indonesia.

Bangsa Indonesia terdiri dari berbagai macam etnis, suku, agama dan bahasa yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Dengan jumlah penduduk yang besar dan mayoritas beragama Islam, maka telah berhasil untuk memajukan demokrasi secara memadai.

Masyarakat Indonesia berhasil untuk memadukan antara Keislaman, keindonesiaan dan demokrasi. Melalui aplikasi atau pengamalan Islam yang rahmatan lil alamin, maka Islam Indonesia berhasil memadukan secara arif tentang bagaimana memadukan dan bukan mempertentangkan antara Islam, demokrasi dan keindonesiaan.

Pencapaian yang sangat baik ini adalah kerja keras seluruh bangsa Indonesia yang patut diapresiasi. Melalui watak dasar masyarakat Indonesia yang toleran dan santun, maka bangsa Indonesia bisa melakukan harmoni di dalam kehidupan berbangsa, bernegara dan beragama. Itulah modal dasar yang menjadikan Indonesia sekarang bisa menjadi Negara besar, kuat dan demokratis.

Pencapaian yang tidak kalah menarik adalah pencapaian di bidang pendidikan. Kita sadari bahwa pendidikan adalah instrumen terbaik bagi peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM). Semua negara maju dapat menjadi negara yang kuat dan modern  adalah karena keberhasilan pendidikannya. Pendidikan merupakan instrumen terbaik bagi peningkatan kualitas manusianya.

Melalui berbagai skema, seperti Bantuan Operasional Sekolah (BOS), Bantuan Siswa Miskin (BSM), Bidikmisi, Beasiswa Presidential dan sebagainya, maka memungkinkan anak miskin bisa menjadi sarjana bahkan doktor. Jika pada saat Indonesia merdeka tahun 1945, kebanyakan penduduknya adalah buta huruf, maka yang akan datang akan banyak penduduknya yang well educated bahkan menjadi kaum intelektual.

Kesadaran akan pentingnya pendidikan bangsa ini tentu didasari oleh kenyataan bahwa negara membutuhkan para cerdik pandai, membutuhkan para profesional, membutuhkan   pekerja keras yang semuanya itu hanya dapat dilahirkan dari dunia pendidikan.

Ke depan tidak akan dijumpai anak miskin, anak di daerah tertinggal, terbelakang dan terluar yang tidak bisa sekolah. Negara harus hadir di tengah kepentingan pendidikan. Oleh karena dengan skema bantuan pendidikan yang terus menerus dilakukan tentunya akan menghasilkan anak Indonesia yang hebat. Skema bantuan pendidikan ini akan bisa menjamin bahwa anak Indonesia akan menjadi generasi Emas Indonesia yang akan datang.

Manusia Indonesia yang berkarakter atau berakhlakul karimah  juga hanya dapat dicapai melalui pendidikan. Itulah sebabnya kualitas pendidikan harus terus menerus ditingkatkan. Para guru dan dosen sudah lebih baik tingkat kesejahteraannya. Dengan penghasilan yang lebih baik, maka dosen akan lebih aktif mengajar dan lebih bertanggungjawab. Guru dan dosen adalah kunci keberhasilan pendidikan, maka jika para guru dan dosen berkualitas, maka produk pendidikan juga akan menjadi lebih baik.

Dengan demikian, Indonesia yang maju, sejahtera dan demokratis hanya akan dapat dicapai melalui adanya kesadaran untuk mempertahankan keindonesian di antara semua warga negaranya.

Untuk mencapai hal ini, maka kualitas kehidupan masyarakat Indonesia harus makin baik dengan indikasi pendidikannya berkualitas, pendapatnnya makin meningkat dan keamanan serta kehidupan bernegaranya makin baik.

Semua ini bisa dicapai melalui kerjasama, kerja keras dan kerja cerdas dari seluruh komponen bangsa, karena sesungguhnya keberhasilan adalah keberhasilan semua rakyat Indonesia.

Wallahu a’lam bi al shawab

MEMPERTAHANKAN KEINDONESIAAN (1)

Saya sungguh-sungguh mengapresiasi terhadap pidato kenegaraan Presiden SBY di depan pimpinan DPR dan DPD serta seluruh anggota DPR dan DPD dan juga seluruh menteri dan pejabat eselon I dari  kementerian dan lembaga di Gedung MPR,  15 Agustus 2014.

Saya bukan ahli linguistik dan juga bukan ahli retorika yang mumpuni, akan tetapi mendengarkan pidato Pak Presiden SBY, saya mendengarkannya sebagai pidato yang bertenaga, bersemangat dan penuh dengan harapan dan keinginan yang dipadukan dengan intonasi yang tepat. Penekanan dan intonasi tersebut sangat terukur dengan pemaparan yang jelas dan tegas melalui pengungkapan data dan fakta yang akurat.

Pengalaman,  kekuatan pikiran dan batin  kiranya telah membawa Pak SBY untuk bisa memberikan pidato dengan sangat baik. Pidato yang layak memperoleh applause panjang dan mungkin adalah tepuk tangan terpanjang yang dilakukan sambil berdiri. Sungguh sebuah pidato yang sangat memukau siapapun yang memahami realitas yang sesungguhnya terjadi.

Dijelaskan oleh beliau posisi Indonesia di dalam percaturan internasional. Indonesia bukan lagi dianggap sebagai negara yang terbelakang. Indonesia sudah memasuki Negara maju dengan income perkapita penduduknya yang makin meningkat bahkan tiga kali lipat, sebagai new emerging economy, Indonesia sudah menjadi bagian dari G20, dengan pertumbuhan ekonomi yang sangat baik.

Ketika negara-negara lain terpuruk pertumbuhan ekonominya, Indonesia bisa berkembang dengan sangat baik.  Dalam bidang ekonomi, Indonesia bisa berbangga karena pencapaian ekonomi yang didapatkannya sekarang. Pertumbuhan ekonomi Indonesia di atas rata-rata pertumbuhan Negara Asean, Amerika Serikat dan juga Jepang. Rata-rata pertumbuhan ekonomi Indonesia adalah 5,9 persen.

Selain itu pemberantasan kemiskinan juga mencapai angka yang membanggakan. Pada tahun 2009 angka kemiskinan adalah sebesar 14 persen dan pada tahun 2014 tinggal sebesar 11 persen.  Jadi, pada tahun 2009 terdapat sebanyak 32 juta penduduk miskin dan pada bulan Maret 2014 tinggal sebesar 28 juta penduduk miskin.  Sebuah angka yang tentunya juga menggembirakan. Dengan semakin kecilnya jumlah masyarakat miskin di Indonesia tentu menggambarkan bahwa program-program jejaring sosial seperti PNPM, PKH, BLSM dan pemberdayaan masyarakat ternyata mempengaruhi terhadap pengurangan angka kemiskinan tersebut. Lalu, jumlah kelas menengah baru juga meningkat dengan signifikan. Pertumbuhan kelas menengah yang meningkat drastis tentu juga akan berdampak pada peningkatan kesejahteraan dan kesadaran baru tentang demokrasi dan pendidikan.

Di tengah arus perkembangan dunia yang makin kompleks, ternyata Indonesia bisa bertahan dengan tegak di bidang ekonomi dan politik. Dengan peningkatan ekonomi Indonesia tersebut, maka sekarang hutang ke IMF sudah bisa dilunasi. Di masa lalu, kita menundukkan kepala menghadapi IMF, yang disebabkan oleh suntikan dana hutang dan juga saran-saran pengembangan pembangunan di Indonesia, akan tetapi sekarang kita telah berdiri sejajar dengan IMF dan bahkan memberikan saran tentang perbaikan pengembangan ekonomi dunia berdasarkan pengalaman Indonesia.

Di bidang politik, maka yang penting adalah pencapaian di bidang demokrasi. Kita telah menjadi demokratis ketiga di dunia. Dalam waktu yang relative singkat semenjak era reformasi dimulai tahun 1999, ternyata kita telah menjadi Negara demokratis. Hal ini merupakan pencapaian spektakuler dalam bidang politik. Penyelenggaraan Pemilu dari tahun ke tahun makin baik. Dan kita tentu bersyukur bahwa melalui pemilu tahun 2014 yang lalu, ternyata bangsa Indonesia semakin dewasa. Pemilu berjalan dengan aman dan damai dan menghasilkan anggota legislatif dan calon presiden terpilih untuk periode 2014-2019.

Demokrasi yang dibangun  di atas kesadaran untuk membangun budaya politik yang unggul kiranya mendapatkan perhatian yang mendasar dari Pak SBY. Namun demikian bukan berarti bahwa pencapaian tersebut membuat kita semua puas. Bahwa pelaksanaan demokrasi memang mengalami kemajuan yang luar biasa. Akan tetapi tentunya harus terus menerus dilakukan perbaikan, misalnya di dalam proses pelaksanaannya. Memang masih ada celah yang perlu dibenahi, misalnya adalah politik uang yang masih disinyalir di tengah pelaksanaan pemilu. Semuanya masih membutuhkan pembenahan secara memadai.

Pencapaian di bidang pembangunan ekonomi, pembangunan bidang politik dan juga pembangunan social yang telah diselenggarakan di dalam kurun wktu 10 tahun terakhir tentunya telah memberikan harapan bahwa pembangunan yang didukung oleh keamanan, kesejahteraan dan kesadaran berbangsa tentu akan menjadi tangga bagi peningkatan kualitas kehidupan masyarakat Indonesia.

Jadi masih terdapat banyak titik harapan bahwa Indonesia akan bisa menjadi negara yang maju, modern, sejahtera dan kuat berkat keberhasilan pembangunan yang dilakukan secara terencana dan massif dan disertasi dengan transparansi dan akuntabilitas yang memadai.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

PESANTREN DI TENGAH PERUBAHAN (2)

Pesantren Darunnajah adalah contoh pesantren yang survive di tengah perubahan sosial yang terus menghentak tiada henti. Pesantren ini justru dapat mengembangkan kepak sayapnya sedemikian rupa. Dari pesantren kecil di tahun 1960-an, akhirnya berkembang menjadi pesantren yang modern dan tersebar di beberapa wilayah propinsi di Indonesia.

Di dalam acara Pekan Ta’aruf yang dihadiri oleh para kyai, ulama, ustadz dan ustadzah, wali santri dan juga wakil Menteri Hukum dan HAM, Prof. Dr. Deny Indrayana,  yang dua anaknya mondok di pesantren ini, menjadi ajang penampilan kreativitas para santri di hadapan hadirin semuanya.

Saya diminta untuk memberikan pengarahan di dalam acara ini, sekaligus memberikan taushiyah bagi para santri. Suatu hal yang membuat saya merasa tersanjung, sebab bisa memberikan nasehat kepada para santri yang akan menjadi generasi unggul Indonesia di masa depan. Ada tiga hal yang saya sampaikan di acara ini.

Pertama, ucapan selamat kepada pesantren dalam miladnya yang ke 40. Apresiasi memang layak diberikan kepada para kyai, khususnya Kyai Machrusy yang hingga sekarang tetap berjuang untuk mengembangkan pesantren Darunnajah bahkan dengan mengembangkannya hingga di luar Jawa. Tidak ada kata berhenti berpikir. Bahkan pesantrennya di Kuningan dicanangkan menjadi Pesantren Antar Bangsa.

Pemikiran yang sangat maju. Baginya, jika di Malaysia ada Universitas Antar Bangsa, maka di Indonesia bisa dikembangkan Pesantren Antar Bangsa. Pesantren ini tidak kekurangan sumber daya untuk mengembangkan pesantren dengan tipologi ini. Ada banyak alumni pesantren ini melanjutkan pendidikannya di luar negeri, seperti di Jerman, Inggris, Belanda, Jepang dan sebagainya.

Siapa yang menduga bahwa dari bilik pesantren yang dianggap tradisional tersebut muncul pemikiran reformatif tentang pendidikan Islam modern. Dengan memiliki pesantren internasional, maka Islam rahmatan lil alamin ke depan akan menjadi wacana dunia internasional.

Kedua, pesantren sebagai sumber daya pengembangan manusia Islami yang modern. Dulu pesantren diidentikkan sebagai lembaga pendidikan berorientasi kuburan, hanya berorientasi akherat saja. Banyak orang mencibir tentang pesantren yang dianggapnya kolot dan tidak mengikuti perubahan zaman. Tetapi dengan melihat perkembangan pesantren sekarang,  maka pandangan tersebut jelaslah keliru. Pesantren justru menjadi lokomotif bagi pengembangan modernitas. Pesantren bisa mengakomodasi keislaman, kemoderenan dan keindonesiaan.

Sebagaimana yang diungkapkan oleh Presiden SBY, bahwa perkembangan demokrasi di Indonesia yang demikian baik adalah sumbangan dari kemampuan masyarakat untuk membangun hubungan yang serasi antara keislaman, keindonesian dan kemoderenan. Perkembangan pemikiran seperti ini tentunya disumbangkan oleh para tokoh Islam, antara lain adalah kyai.

Pesantren dengan doktrinnya “memelihara nilai yang unggul dari masa lalu, dan terus menerus mengembangkan inovasi baru yang makin baik” maka pantaslah kalau pesantren kemudian bisa menjadi lembaga pendidikan yang terus menerus bisa bertahan dengan nilai dan karakternya yang unggul tetapi juga bisa menyerasikan dengan perkembangan baru yang terus terjadi.

Saya sungguh mengapresiasi pesantren yang sekarang sudah mengembangkan teknologi modern dan menjadikan santrinya sangat paham tentang teknologi informasi. Mereka adalah generasi yang sesungguhnya akan menjadi tumpuan masa depan Indonesia. Jika nanti tahun 2045 menjadi tahun Emas Indonesia, maka saya berpendapat bahwa para santrilah yang akan mengisinya.

Hal ini didasari oleh realitas bahwa di pesantrenlah dikembangkan pendidikan karakter yang agung. Tidak ada lembaga pendidikan yang melebihi pesantren di dalam mengembangkan pendidikan karakter. Jika ada orang bertanya:  “dimanakah terdapat pendidikan karakter”? Maka jawaban pastinya adalah di pondok pesantren. Keberhasilan pendidikan karakter inilah yang ke depan akan menjadi jawaban atas keraguan tentang masa depan Indonesia. Santrilah yang akan menjadi garda depan untuk mempertahankan Keindonesiaan.

Ketiga, pesantren adalah lembaga yang bisa menjadi pusat pengembangan Bela Negara. Tidak bisa dipungkiri bahwa semenjak dahulu pesantren adalah wahana bagi pengembangan semangat patriotisme. Dalam sejarah perang kemerdekaan, maka pesantren adalah lembaga pendidikan yang menghasilkan para pejuang untuk membela negara. Makanya, hingga sekarang tidak diragukan lagi bahwa pesantren dengan peran kyainya akan terus menjadi pembela NKRI. Pesantren akan menjadi penjaga Pancasila dan UUD 1945.

Melalui peran-peran yang seperti ini, maka kelak akan banyak dihasilkan SDM unggul yang menguasai ilmu pengetahuan dan juga ahli agama  yang memiliki wawasan kebangsaan dan semangat bela negara yang tangguh. Jika demikian halnya, maka beruntunglah Indonesia yang memiliki ribuan pesantren dengan semangat keislaman rahmatan lil alaminnya.

Kepada para santri, saya berpesan agar kelak menjadi agen-agen pengembangan Islam yang relevan dengan Keindonesian dan kemodernan. Jadilah satria bangsa yang tangguh ilmu dan agamanya, yang unggul karakternya dan kebangsaannya. Kita semua yakin bahwa kelak merekalah yang akan menjadi pewaris terbaik bangsa ini.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

PESANTREN DI TENGAH PERUBAHAN (1)

Saya merasakan  kekaguman kala menjejakkan kaki ke pesantren-pesantren di Indonesia. Lembaga pendidikan Islam yang sering dikonotasikan sebagai lembaga pendidikan tradisional ini, ternyata sudah berubah dengan perubahan yang luar biasa. Pesantren ternyata sudah menjadi lembaga pendidikan modern dengan berbagai atributnya.

Sabtu, 16 Agustus 2014 saya mendatangi acara “Pekan Ta’aruf, Olah Raga Seni dan Kepramukaan” yang diselenggarakan oleh  Pesantren Darunnajah Ulujami Jakarta Selatan. Kelelahan dari acara di Yogyakarta tentang “Sinkronisasi Pendataan Pusat dan Daerah untuk Program Pendidikan Islam” semalam ternyata menjadi tidak terasa begitu menjejakkan kaki di pesantren ini.

Dengan bangunan modern, serta keberadaan toko swalayan di bagian depan pesantren rasanya memang menggambarkan bahwa kepekaan pesantren terhadap kewirausahaan tentulah sangat menonjol. Bahkan tanahnya di luar Jawa yang seluas 650 ha, maka 250 ha di antaranya ditanami sawit. Menurut Kyai Machrus  bahwa pesantren harus mandiri tidak boleh menggantungkan diri kepada orang lain, bahkan kepada pemerintah.

Pesantren Darunnajah adalah prototipe pesantren di wilayah perkotaan yang berkembang dengan pesat. Didirikan 40 tahun lalu, dan kini sudah menjadi pesantren yang beranak-pinak menjadi puluhan  pesantren,  baik di Jawa maupun luar Jawa. Seluruh pesantren mengembangkan ciri khas pendidikan Islam yang sama, sesuai dengan ciri khas pendidikan pesantren.

Di Pesantren Darunnajah Ulujami ini, terdapat sebanyak 2500 santri dari berbagai wilayah di Indonesia, bahkan juga terdapat santri dari Thailand, Suriname, Timor Leste, dan Malaysia. Meskipun mereka berasal dari luar negeri, akan tetapi mereka membaur dengan para santri dari dalam negeri.

Acara Ta’aruf dan Pekan Olahraga, Seni dan Kepramukaan ini merupakan acara khas Pesantren Darunnajah. Jika di lembaga pendidikan lain acara ini dijadikan sebagai arena perpeloncoan yang tidak jarang menghasilkan kekerasan, namun di sini justru menjadi ajang bagi kreativitas seni dan olah raga serta kepramukaan. Di dalam marsnya, dinyatakan: “men sana ini corpore sano,  jiwa yang sehat terdapat di dalam fisik  kuat, belajar menjadi lebih giat, siap untuk mengabdi kepada umat”. Yang menarik juga bahwa seluruh kepanitiaan dilakukan oleh santri.

Pesantren ini didirikan oleh tiga orang kyai, dan sekarang yang masih hidup adalah Kyai Machrus Amin, yang dibantu oleh Kyai Sofwan Manaf sebagai Ketua Dewan pimpinan Pesantren, sedangkan Kyai Syaifuddin Arif sebagai ketua yayasan. Dengan pembagian seperti ini, maka masing-masing memfokuskan diri pada tugas masing-masing.

Kyai Machrus adalah sosok kyai yang memiliki kharisma yang sangat kuat. Dengan kemampuannya yang sangat memadai tentang dunia pesantren dan juga wawasan kebangsaan, maka beliau mengembangkan kepramukaan di pesantren dan sekaligus menjadi ajang untuk pengembangan wawasan bela negara. Melalui  pengembangan wawasan Bela Negara di pesantren ini, maka Kyai Machrus memperoleh penghargaan dari Kwartir Nasional Gerakan Pramuka dan sebagai tokoh penggerak Pramuka dan bela Negara.

Menurut penuturan Kyai Machrus, bahwa ketika beliau berusia belasan tahun, maka beliau sudah diajak berjuang oleh ayahnya. Pengalaman itulah yang membekas di dalam kehidupannya, sehingga beliau mencetuskan gagasan untuk melakukan gerakan Bela Negara melalui kepramukaan. Bahkan riwayat hidupnya, juga dibukukan oleh Kwartir Nasional, sebagai Tokoh Gerakan Pramuka.

Acara yang diselenggarakan ini juga diikuti oleh para santri dari seluruh perwakilan. Masing-masing perwakilan sebanyak 20 orang. Dari Bengkulu, Riau, Lampung, Banten, Jawa Barat dan DKI semua terlibat di dalam acara ini. Mereka mewakili daerah pesantrennya masing-masing di dalam kegiatan Lomba Seni, Olahraga dan Kepramukaan. Bagi para pemenang diberi penghargaan tidak membayar SPP ada yang setahun, enam bulan dan tiga bulan. Sedangkan para guru teladan juga memperoleh penghargaan sebesar masing-masing Rp750.000,-.

Saya tentu merasa terhormat karena dikalungi sorban oleh Kyai Machrus dan juga diangkat menjadi Guru Kehormatan. Bagi saya penghormatan ini tentu memiliki makna penting bukan hanya sebagai pemberian simbolik akan tetapi adalah memiliki tanggungjawab untuk terlibat secara tidak langsung maupun langsung bagi pengembangan pesantren ini.

Ada satu hal yang menurut saya luar biasa adalah ketahanan para santri untuk mengikuti acara ini. Mereka berdiri semenjak jam 09.00 WIB sampai siang hari jam 11.00 kala saya pulang. Padahal acara masih terus berlangsung dengan berbagai atraksi yang merupakan kreasi para santri. Ada pementasan senam kebugaran jasmani yang diikuti oleh santriwati. Kata Kyai, bahwa senam ini adalah kreasi para santri sendiri. Selain itu juga ada tarian Selamat Datang Jakarta, pencak silat yang diperagakan oleh para santri dan sebagainya.

Acara ini dihadiri oleh para orangtua santri, seluruh guru, pimpinan pesantren dan seluruh santri yang mukim di sini. Sungguh bagi kita, pesantren merupakan tempat yang sangat relevan untuk menumbuhkan tunas bangsa di masa yang akan datang agar menjadi generasi Indonesia yang lebih baik.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

 

 

 

 

WARTAWAN PELIPUT HAJI

Di dalam pertemuan dengan para wartawan di Hotel Bumi Wiyata, Depok , 14/08/2014, dalam sessi pelatihan bagi wartawan yang akan meliput ibadah haji di Tanah Suci, saya sungguh merasakan bahwa para wartawanlah yang sesungguhnya humas Kementerian Agama. Pada acara yang diberi tajuk “Media Center Haji (MCH) ini diikuti oleh sebanyak 30 wartawan dari berbagai media, yaitu Media cetak, televisi dan radio.

Acara yang dihandel oleh Pusat Informasi dan kehumasan (Pinmas) Kementerian Agama ini memang dijadikan sebagai ajang untuk menyamakan visi tentang peliputan pelaksanaan ibadah haji terutama di Tanah Suci. Acara ini tentu saja merupakan wahana untuk saling memahami apa yang sesungguhnya menjadi visi dan misi Kementerian Agama di dalam penyelenggaraan haji.

Saya tentu saja menyampaikan beberapa hal yang saya anggap  penting sebagai bagian dari keinginan untuk menjadikan pelaksanaan haji dan salah satu yang membantu terselenggaranya informasi haji yang makin baik adalah para wartawan. Pertama, bahwa peliputan jamaah haji bukan saja amalan lahiriyah atau duniawi, akan tetapi juga liputan spiritual, yang tentu harus diniati sebagai amalan ibadah.

Di dalam kerangka ini maka peliputan haji tentu mengandung peliputan yang tidak hanya mengandalkan mata sebagai instrument peliputan yang utama, akan tetapi juga menggunakan perangkat hati, yang merupakan alat control utama untuk menyatakan mana yang fit to be informed dan mana yang tidak layak untuk diberitakan.  Saya kira wartawan yang sudah terbiasa untuk melihat atau menemukan sisi pemberitaan yang baik tentu saja sudah memiliki full kesadaran tentang misi haji adalah untuk mencapai kemabruran.

Jika yang menjadi misi haji adalah bagaimana melaksanakan haji yang baik, maka juga akan berakibat terhadap misi individual atau organisasional para wartawan untuk membangun pemberitaan yang memadai. Saya yakin para wartawan yang tergabung di MCH akan memaklumi tentang hal ini.

Kedua,  banyak hal yang bisa diliput oleh wartawan. Di antaranya adalah pelaksanaan ibadah haji mulai dari kedatangan mereka di Tanah Suci sampai penggambaran seluk beluk pelaksanaan haji. Bagaimana mereka melakukan tawaf, sa’i, tahallul dalam paket umrah, lalu mabit di Arafah, Muzdalifah dan Mina, melempar jumrah, dan seluruh cerita tentang pelaksanaan haji. Lalu, acara-acara wisata rohani ke Jabal Rahmah, ke Goa Hira’, ke tempat wisata rohani lainnya yang saya kira juga sangat menarik untuk diberitakan.

Dengan demikian tidak hanya berita yang ditulis berbasis peristiwa on the spot, akan tetapi juga cerita kehidupan para jamaah dengan berbagai aktivitas dan keyakinannya. Pengalaman-pengalaman religious kala bisa mencium ka’baitullah, kala bisa mendaki Jabal Rahmah, kala bisa datang ke Bi’ru Ali, kala datang di maqbarah para syuhada’ tentu semua akan menjadi berita yang menarik dalam bentuk feature yang sangat manusiawi.

Peliputan tentang situs ritual memang sudah banyak ditayangkan dan diberitakan. Akan tetapi menurut saya bahwa tentu masih ada sisi menarik yang bisa disajikan. Selama ini liputan difokuskan pada obyek situs ritualnya sehingga akan terasa kering dari sentuhan bagaimana religious experience kala ada individu yang berhubungan dengan situs ritual tersebut.

Ketiga, wartawan adalah agen sesungguhnya dari kementerian atau lembaga pemerintah. Sebagai agen maka tugas para wartawan adalah memberikan informasi tentang apa dan bagaimana visi dan misi kementerian atau lembaga tersebut harus dibangun untuk tercapai. Saya kira wartawan memiliki peran yang sangat besar untuk menjadi agen di dalam pencapaian visi dan misi dimaksud. Pelaksanaan ibadah haji bukan semata urusan keduniaan atau bisnis, akan tetapi adalah urusan akherat. Maka di sini ada tanggungjawab tidak hanya kepada manusia, pemerintah atau lembaga tetapi juga kepada Tuhan. Itulah sebabnya para wartawan sebenarnya adalah agen keberhasilan ibadah haji dalam pengertian yang generic.

Di dalam kerangka inilah maka dibutuhkan kerjasama yang sangat mendasar antara Kementerian Agama dengan para wartawan adalah partner yang saling memberikan kepercayaan dan memahami. Biarkan para wartawan bekerja dengan misi dan tanggungjawabnya tentu di dalam koridor visi dan misi Kementerian Agama dalam pelaksanaan ibadah haji.

Seluruh rangkaian kegiatan informative mengenai pelaksanaan haji pada akhirnya adalah untuk mengembangkan imaje tentang pengelolaan ibadah haji. Jika kita menggunakan bagan konseptual G. Lukacs, maka “dunia dibangun di atas imaje”. Siapa yang menguasai imaje tersebut, maka dialah yang menguasai dunia. Saya kira wartawan dengan informasi yang disampaikannya akan bisa menjadi sahabat yang dapat membangun imaje positif tersebut.

Wallahu a’lam bi al shawab.