Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

STRATEGI PENGEMBANGAN PENDIDIKAN AGAMA HINDU

STRATEGI PENGEMBANGAN PENDIDIKAN AGAMA HINDU
Pagi ini, Jum’at, 22/07/2016, saya memperoleh kesempatan untuk memberikan Stadium General di Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri (STAHN) Palangkaraya. Suatu moment yang penting saya kira untuk memberikan beberapa masukan terkait dengan bagaimana pengembangan pendidikan Agama Hindu, terutama terkait dengan tantangan zaman yang tentu saja terus berlangsung.
Hadir di dalam acara ini, Ketua Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri, Prof. Dr. Subagiasta, para Wakil Ketua, jajaran pimpinan, dosen STAHN dan juga tenaga kependidikannya. Acara ini menjadi menarik di tengah nuansa keinginan untuk mengembangkan kelembagaan PTKN yang terus bergulir dewasa ini.
Ada dua hal yang saya sampaikan terkait dengan acara ini, yaitu: pertama, mengapa perlu pengembangan kelembagaan. Di tengah tantangan zaman, khususnya Masyarakat Ekonomi Asean (MEA), maka tuntutan untuk melakukan perubahan kelembagaan itu dirasa mutlak adanya. Kita tidak bisa untuk terus berada di dalam kenyataan stagnan tanpa perubahan. Perubahan merupakan kata kunci untuk menyongsong zaman yang makin dinamis dan kompleks.
Di tengah zaman seperti ini, maka yang diperlukan adalah visi untuk meraih keberhasilan. Semua pimpinan, dosen, tenaga kependidikan dan juga mahasiswa harus memiliki visi menggapai masa depan. Keberhasilan hanya dapat dicapai melalui kerja keras dan cerdas. Kita harus berada di dalam program kebersamaan untuk mencapai keberhasilan dimaksud.
Di antara yang sangat mendasar adalah bagaimana agar lembaga atau institusi ini bisa menjawab terhadap tantangan zaman. Meskipun kita berada di dalam ranah pendidikan agama dan keagamaan, bukan berarti bahwa kita hanya melihat masa lalu. Kita tidak boleh menjadikan pendidikan agama itu sebagai barang antic. Artinya, kalau barang antik itu hanya bercerita tentang “masa lalu”, maka pendidikan itu bercerita tentang “masa depan”. Masa depan itu dapat diprediksi keberhasilan atau kegagalannya melalui bagaimana kita menyiapkan generasi sekarang untuk kepentingan membangun masa depan.
Pendidikan itu bukan hanya human capital, akan tetapi public capital. Artinya pendidikan bukan hanya untuk kepentingan membangun kemampuan individu atau profesionalitas individu, akan tetapi adalah untuk membangun kapasitas masyarakat atau profesionalitas masyarakat. Dengan demikian, individu yang cakap, pintar dan berakhlakul karimah akan mempengaruhi masyarakat secara umum untuk menjadi professional juga.
Di dalam pikiran kita, bahwa pengembangan kelembagaan itu hanya jika institusinya berubah, misalnya dari sekolah tinggi ke institute dan dari institute ke univesitas. Jika ini yang dimaksud, maka kita terjebak pada formalisme institusional. Perubahan seperti ini penting, tetapi yang lebih mendasar adalah perubahan mindset para pengelola lembaga pendidikan agar institusi itu melakukan lompatan perubahan terkait dengan tantangan zaman.
Formalisme institusional itu merupakan pemikiran bahwa yang penting adalah wadah. Jadi, orang lebih melihat pada wadahnya ketimbang isinya. Padahal wadah yang besar seharusnya berisi sesuatu yang besar. Akan tetapi jika di dalam wadah besar kemudian tidak terdapat isi yang besar berbasis pada pemikiran besar, maka hal ini akan menimbulkan ketidaksesuaian antara wadah dan isi. Jangan sampai gambarannya adalah old wine in new bottle. Wadahnya saja yang berubah sementara isinya sama saja.
Yang kita inginkan tentu saja adalah wadah baru, isi baru. Di dalam kerangka ini, maka yang dibutuhkan adalah bagaimana agar seluruh civitas akademika membangun kebersamaan untuk mengembangkan program studi, melakukan revitalisasi kurikulum, melakukan penguatan silabi dan juga merekonstruksi pola perkuliahan agar lebih bersearah dengan pendidikan berbasis liberal art. Di sinilah rasanya diperlukan lompatan, misalnya dengan mengembangkan program studi yang relevan dengan sekolah tinggi kita dan menyepadankan dengan kepentingan masyarakat.
Lompatan yang saya maksud adalah bagaimana lembaga pendidikan menyiapkan alumninya untuk dapat hidup di tengah zaman yang makin kompleks. Jangan sampai alumni pendidikan tinggi kemudian justru membebani masyarakat karena keberadaannya.
Untuk bisa membangun kapasitas alumni yang bisa hidup di masyarakat, maka kiranya diperlukan pikiran cerdas untuk merevitalisasi kurikulum. Tinggalkan kurikulum konvensional untuk menuju kurikukum berbasis penguatan kapasitas alumni. Lakukan rekonstruksi kurikulum agar kurikulum kita berselaras dengan kebutuhan masyarakat tanpa meninggalkan core business kita yang sesungguhnya.
Kedua, bagaimana menciptakan lingkungan akademik di perguruan tinggi kita. Academic environment merupakan konsep yang sesungguhnya sudah sangat lama dipahami oleh pimpinan perguruan tinggi. Namun demikian, secara aplikatif, konsep ini belum dijadikan sebagai rujukan untuk mengembangkan lembaga pendidikan tinggi. Institusi pendidikan kita itu tidak lebih dari system kepanjangan pendidikan menengah. Terutama di dalam system pembelajaran, evaluasi dan juga pengembangan ko-kurikulernya. Coba jika diperhatikan, apakah kita sudah memberlakukan pola liberal art untuk mengembangkan system pembelajaran kita. Saya kira belum. Cara kita memberikan kuliah masih seperti ketika kita mengajar di SLTA. Dosen datang, memberi ceramah, lalu ada tanya jawab dan kemudian di akhir semester ada ujian. Pola ini terus berlangsung dari tahun ke tahun, dari generasi ke generasi.
Di dalam proses pembelajaran, maka mahasiswa diberi peluang untuk menemukan sesuatu atau to invent atau to discover. Basis temuan itulah yang kemudian menjadi tema-tema diskusi di dalam perkuliahan, sehingga mahasiswa lalu dapat berpikir kritis dan analitis tentang ilmu yang dipelajari. Saya kira meskipun kita ini adalah sekolah tinggi keagamaan, tetapi ruang untuk menemukan atau memperoleh temuan baru berdasar atas pikiran kritis dan analitis itu dirasa sangat penting. Jadi tidak lagi mereka diminta untuk menghafalkan perkuliahan seperti siswa SLTA untuk menghafal pelajaran dan akhirnya mereka lulus ujian.
Inilah kira-kira lompatan yang perlu dilakukan di dalam kerangka untuk membangun lingkungan akademik di perguruan tinggi. Makanya, diperlukan civitas akademika yang visioner untuk menyongsong masa depan yang bukan semakin simple, akan tetapi semakin dinamis dan kompleks.
Wallahu a’lam bi al shawab.

PERENCANAAN BERBASIS KEBUTUHAN PADA MASYARAKAT BUDHA

PERENCANAAN BERBASIS KEBUTUHAN PADA MASYARAKAT BUDHA
Saya merasa berbahagian mendapatkan kesempatan bertemu dengen segenap pembimas Ditjen Bimbingan Masyarakat Budha. Saya datang di dalam acara ini dalam kapasitas sebagai sekjen Kemenag dan sekaligus sebagai Plt. Dirjen Bimas Budha. Saya menjadi pejabat sementara untuk menggantikan Pak Dasikin yang sedang mengalami musibah.
Acara ini dihadiri oleh Sesdirjen Bimas Budha, Pak Caliadi, dan Kabag. Perencanaan Ditjen Bimas Budha dan seluruh Pembimas Ditjen Bimas Budha dari seluruh Indonesia. Suatu kebahagiaan bisa memberikan pengarahan di dalam acara yang menentukan masa depan ditjen Bimas Budha ini.
Di dalam kesempatan ini saya sampaikan beberapa hal yang sangat mendasar, yaitu: pertama, pastikan serapan tinggi. Buktikan bahwa ditjen Bimas Budha bisa menyerap anggaran lebih baik. Sampai tanggal 13 Juli, serapan anggaran Ditjen Bimas Budha baru mencapai angka 31 persen, jumlah terendah serapan dari seluruh unit eselon I Kemenag, yang sudah mencapai angka 41 persen.
Di tengah prahara yang menimpa jajaran Ditjen Bimas Budha, maka yang harus dijawab adalah bagaimana ditjen Bimas Budha dapat memastikan bahwa semua ASN di dalamnya tetap bekerja keras. Dan salah satu indikatornya adalah kala serapan anggarannya bisa lebih baik disbanding tahun sebelumnya.
Agara dicanangkan bahwa anggaran ditjen Bimas Budha akan terserap sekurang-kurangnya 70 persen, sebab tahun lalu hanya kira-kira 51 persen. Suatu angka serapan anggaran yang sangat kecil dibandingkan dengan serapan anggaran Kemanag yang mencapai 89 persen. Saya tetap optimis bahwa sampai akhir tahun, maka anggaran yang bisa diserap akan lebih baik dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Kedua, pastikan bahwa sasaran program tepat. Salah satu yang terkadang membuat kekurangtepatan kita dalam menyerap anggaran adalah terkait dengan kepatan sasaran program dan kegiatan kita. Di era pemerintahan sekarang, maka yang menjadi prioritas pemerintah adalah program infrastuktur, kesehatan dan pendidikan dan baru kemudian pembangunan kesejahteraan rakyat, pengembangan SDM, revolusi mental dan semuanya dilakukan dalam kerangka sustainability development.
Oleh karena itu, jangan dibayangkan bahwa pembangunan infrastruktur tersebut hanyalah dilakukan oleh Kementerian PUPERA saja, akan tetapi pembangunan infrastruktur tersebut bisa juga berupa pembangunan ruang kelas, ruang kuliah, pemberian bantuan untuk lembaga keagamaan dan fasilititasi rumah ibadah dan sebagainya. Dengan demikian, kementerian Agama juga memiliki program pembangunan infrastuktur yang tentu terkait dengan fungsi agama dan pendidikan.
Fasilitasi pelayanan kehidupan beragama telah menjadi bagian penting di dalam renstra Kemenag. Oleh karena itu, memberikan fasilitasi terhadap para pemeluk agama juga tentunya bagian yang tidak terpisahkan dari program dan kegiatan masing-masing unit pada kemenag. Ditjen Bimas Budha tentunya juga berkewajiban untuk memberikan fasilitasi organisasi keagamaan dan sarana ibadah di dalam kerangka menjamin pelayanan kehidupan agama yang optimal.
Salah satu di antara core bisnis kemenag adalah memberikan fasilitasi bagi terselenggaranya kehidupan beragama yang rukun dan damai. Makanya, memberikan sarana dan prasarana pengembangan kehidupan beragama merupakan tanggung jawab aparat sipil Negara Kemenag. Siapapun ASN tersebut, maka yang mendasar adalah bagaimana memberikan pelayanan secara optimal kepada masyarakat beragama.
Dengan demikian, tugas pokok dan fungsi kemenag secara umum tetapi mendasar adalah untuk meningkatkan pemahaman dan pengamalan beragama dalam konteks terselenggaranya peribadatan yang berseirama dengan kerukunan dan toleransi umat beragama.
Ketiga, pastikan akuntabilitas dan transparansi program. Di era reformasi birokrasi ini maka kata kunci penting di dalam penyelenggaraan program dan kegiatan adalah bagaimana program tersebut dapat dipertanggungjawabkan. Untuk kepentingan tersebut, maka keterbukaan dan pertanggungjawaban pelaksanaan program menjadi sangat mendasar untuk diberlakukan.
Di dalam banyak hal, berbagai masalah yang sering dihadapi oleh para birokrat adalah tentang bagaimana pertanggungjawaban keuangan Negara. Oleh karena itu, tuntutan untuk penyelenggaraan pemerintahan berbasis pada prinsip transparansi dan akuntabilitas menjadi totok ukur keberhasilan reformasi birokrasi.
Ada banyak pelajaran yang dapat diambil dari masalah demi masalah yang kita hadapi sekarang ini. Oleh karena itu mari kita belajar dari perjalanan sejarah kita sebagai birokrat dan dipastikan bahwa ke depan tidak ada lagi “kesalahan” yang kita lakukan.
Wallahu a’lam bi al shawab.

PELAJARAN DARI TURKI (2)

PELAJARAN DARI TURKI (2)
Turki pernah menjadi ikon peradaban Islam. Di antara yang hingga hari ini menjadi kebanggaan umat Islam adalah masjid Biru (Masjid Sultan Ahmad) di Istambul Turki. Kita tentu bersyukur, bahwa perubahan semangat sekularisme yang didukung oleh pemerintah kala itu tidak serta merta menghilangkan berbagai symbol agama, khususnya masjid. Sebagai pusat peribadatan umat Islam, masjid masih dihargai oleh pemerintah secular tersebut.
Kepemimpinan di Turki tentu terus berganti, sampai kemudian terjadilah kepemimpinan sipil di era sekarang ini. Erdogan sebagai presiden Turki lebih bersemangat membangun kehidupan beragama. Konon katanya, Erdogan begitu konsern untuk menjadikan agama sebagai ruh pembangunan di Turki. Bahkan masjid-masjid di Turki penuh sesak dengan jamaah kala shalat shubuh. Bahkan keramaiannya menyamai shalat Jum’at. Turki memang telah berubah menjadi lebih religious di era sekarang.
Meskipun pemerintah memisahkan urusan agama dengan negara, di masa sebelum Erdogan, akan tetapi lembaga-lembaga charity diberikan kesempatan untuk mengambil peran secara maksimal. Ada sangat banyak lembaga charity yang mendarmabhaktikan organisasinya untuk membantu masyarakat, khususnya di bidang pendidikan.
Di antara yang menonjol dalam urusan pendidikan adalah Lembaga Charity Passiad dan Pesantren Sulaimaniyah. Dua lembaga ini “bersaing” dalam memberikan bantuan untuk pembiayaan pendidikan. Donasi yang diberikan juga sangat menonjol. Passiad terkenal kerjasamanya dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republk Indonesia dengan memberikan bantuan pendidikan dalam bentuk Pendidikan Bilingual, sedangkan Sulaimaniyah memberikan bantuan pendidikan kepada pesantren dan bekerjasama dengan Kementerian Agama Republik Indonesia.
Kita tentu tidak bisa melupakan terhadap upaya Pesantren Sulaimaniyah yang mengembangkan program hafalan Al Qur’an kepada para santri di Indonesia. Ratusan siswa yang dididik di Pesantren Sulaimaniyah di Indonesia. Yang menjadi ikon adalah metode pembelajaran yang dapat mengantarkan seseorang untuk bisa menghafal Al Qur’an dalam waktu kurang dari dua tahun. Bahkan ada di antara anak Indonesia yang hafal Al Qur’an dalam waktu hanya lima bulan. Pasca pembelajaran di Indonesia tersebut kemudian diberi peluang untuk belajar lebih mendalam mengenai Al Qur’an di Pesantren Sulaimaniyah di Turki.
Lembaga Pendidikan Sulaimaniyah, mungkin di Indonesia sama dengan Nahdlatul Ulama. Ada banyak aktivitas yang menyerupai relasi keagamaan tersebut. Sebagaimana NU, maka Lembaga Pendidikan Sulaimaniyah juga memiliki dan mengembangkan pesantren-pesantren. Baik di Turki maupun di Indonesia, Lembaga ini mendirikan pesantren sebagai tempat khususnya pendalaman Al Qur’an. Semula pesantren yang didirikan oleh United Islamic Cultural Center of Indonesia (UICCI) hanya memiliki pesantren di Jakarta, akan tetapi sekarang sudah berkembang di beberapa kota, misalnya Surabaya, Semarang, Bandung dan lain-lain.
Sebaliknya, Passiad lebih dekat dengan gerakan modernis. Di Indonesia mungkin mirip dengan Organisasi Muhammadiyah. Tentu tidak sama persis. Hanya sekedar penggambaran selintas saja. Tema-tema yang menjadi pikiran Organisasi Passiad adalah bagaimana menggerakkan modernisasi Turki dengan ruh Keislaman. Oleh karena itu, Passiad bisa dikaitkan dengan Gerakan Pemikiran Fathullah Gulen yang memang mencirikan gerakannya dengan modernisasi Turki berbasis agama.
Di Indonesia, Passiad kemudian menjalin kerjasama dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Di antara program yang dibina adalah mengenai Sekolah Bilingual. Hampir setiap tahun diadakan pemberian penghargaan kepada siswa dan siswi yang berprestasi di dalam kerjasama lembaga pendidikan di Indonesia dengan Passiad ini. Tentu saja, yang berprestasi tersebut adalah lembaga-lembaga pendidikan yang berbagai ragam. Bisa saja Sekolah Katolik atau Sekolah Islam dan Sekolah Negeri yang berkualitas dalam program bilingual dimaksud.
Masyarakat Indonesia juga bisa berkaca pada pengalaman Turki ini. Di antara yang penting adalah bagaimana agar lembaga-lembaga sosial, agama dan pendidikan bisa menyatu dengan pemerintah dalam kerangka pembangunan nasional. Kita tentu bersyukur bahwa semua organisasi berbasis pendidikan memiliki visi pendidikan secara riil mendukung terhadap upaya pemerintah.
Lembaga pendidikan di bawah Muhammadiyah dan NU atau lembaga pendidikan seperti Jamiyatul Washliyah, Perti, Nahdlatul Wathan dan yang beraliran Ahlu Sunnah Wal jamaah semuanya memiliki visi dan misi yang sama dengan pemerintah Indonesia, yaitu mengembangkan pendidikan untuk peningkatan kualitas SDM Indonesia.
Hanya yang perlu dipikirkan adalah munculnya lembaga-lembaga pendidikan yang berbasis pada mindset yang berbeda dengan arus utama agama di Indonesia. Mereka menyadari betul bahwa pendidikan merupakan proses penyemaian paham agama yang diinginkannya. Oleh karena itu, pemerintah saya kira perlu melakukan tindakan preventif agar pendidikan di Indonesia tetap berada di dalam kerangka menegakkan Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Kebinekaan.
Ke depan kita tidak ingin bahwa dari lembaga pendidikan akan muncul orang-orang yang anti terhadap consensus kebangsaan yang sudah menjadi visi dan misi kita sebagai bangsa Indonesia.
Wallahu a’lam bi al shawab.

PELAJARAN DARI TURKI (1)

PELAJARAN DARI TURKI (1)
Kisruh di Turki saya kira menjadi pelajaran yang sangat penting bagi bangsa Indonesia. Sebagaimana diketahui bahwa di pertengahan bulan Juli ini, sekelompok kecil Angkatan Bersenjata Turki melakukan kudeta kepada pemerintahan sipil di bawah Presiden Erdogan.
Pemerintahan Erdogan adalah pemerintahan sipil berdasarkan pemilu yang dilakukan di negeri itu. Selama ini Turki berada dibawah pemerintahan militer dan baru pada decade akhir-akhir ini kemudian negeri ini dibawah pemeritahan sipil yang dipilih langsung oleh masyarakat.
Berdasarkan pemberitaan yang diperoleh melalui berbagai media, bahwa pemerintahan Recep Tayyib Erdogan sebenarnya cukup berhasil mengangkat kesejahteraan masyarakat, terbukti dengan capaian pembangunan ekonomi yang berhasil meningkatkan sumber daya ekonomi. Dari Negara dengan peringkat ekonomi yang rendah kemudian melompat menjadi bagian dari G 20, sebagaimana peringkat Indonesia. Income perkapitanya naik dari 3.300 USD menjadi 11.500 USD. Kenaikan dalam jumlah yang sangat signifikan tentunya.
Di masa lalu, Turki adalah sebuah kerajaan yang sangat masyhur dan menjadi penerus kehancuran Baghdad. Pasca serangan Hulagu Khan, dan kemudian Hulagu Khan dan keturunannya menguasai kerajaan-kerajaan Islam, maka berikutnya adalah Emperium Turki yang menguasai dunia Islam. Bahkan kerajaan Turki menjadi benteng terakhir umat Islam pasca kehancuran kerajaan Abbasiyah di Baghdad.
Turki kemudian menjadi Negara Sekuler, berkat kepemimpinan Kemal Pasya Attaturk, yang mengubah Turki dari Negara Islam menjadi Negara Sekuler. Kemal Pasya menganggap bahwa kemajuan atau modernitas hanya akan dicapai jika agama dipisahkan dari negara. Semua harus diturkikan. Tidak boleh ada pengaruh Arab di dalamnya, bahkan konon adzan pun diganti dengan bahasa Turki. Bagi Kemal Pasya, bahwa Turki harus bisa menjadi bagian Eropa, maka seluruh yang bernilai positif dari Eropa harus diadaptasi.
Melalui perubahan mindset ini, maka Turki menjadi terbaratkan dan hingga sekarang Turki bukan lagi menjadi bagian dari Asia, akan tetapi menjadi bagian dari Eropa. Tidak salah lalu, Turki pun masuk ke dalam Piala Eropa dalam hal sepakbola. Turki menjadi “maju” akan tetapi Turki menjadi bagian dari tradisi Barat, yang memisahkan agama dari negara.
Meskipun pemerintahan Erdogan berhasil mengangkat citra dan realitas pembangunan ekonomi, akan tetapi tetap saja ada elemen yang merasa puas dengan keadaan ini. Di antara yang tidak puas tersebut adalah sekelompok kecil tentara yang merasa akan dipinggirkan di era kepemimpinan Erdogan. Berdasarkan analisis media, bahwa sekelompok kecil elemen masyarakat yang tidak puas itu disokong oleh Fathullah Gulen yang sekarang mukim di Amerika Serikat.
Fathullah Gulen sebenarnya adalah tokoh Turki yang sangat terkenal. Dia juga seorang ulama dan sekaligus pemikir yang andal mengenai masa depan Turki. Sebenarnya dia juga termasuk yang mendukung terhadap pemerintahan sipil di Turki. Beliau adalah orang yang seiring jalan dengan pemerintahan sipil, namun kemudian berpisah jalan, sehingga kemudian pindah ke Amerika Serikat.
Fathullah Gulen tentu menyangkal keterlibatannya dalam kudeta militer yang dilakukan oleh sekelompok kecil angkatan bersenjata ini. Namun demikian, pemerintah Erdogan tetap pada prinsipnya akan menghabisi seluruh komponen yang diduga telah melakukan persekongkolan jahat untuk meruntuhkan pemerintah yang sah. Itulah sebabnya ribuan pejabat baik sipil maupun militer yang diberhentikan karena pembangkangan politik ini.
Rakyat memang mendukung terhadap pemerintahan sipil di Turki. Dukungan tersebut dapat dilihat dari kekompakan rakyat untuk mendukung pemerintah. Mereka melakukan perlawanan terhadap militer yang melakukan kudeta. Rakyat memang merasakan bahwa ada perubahan yang signifikan dalam bidang ekonomi dan agama di Turki di era Erdogan.
Sebagaimana diketahui bahwa kekuatan anti Erdogan sebenarnya berada di dalam semua lini pemerintah dan militer. Banyak hakim, jaksa dan juga militer yang menjadi “lawan” Erdogan. Mungkin bukan hanya karena factor kesejahteraan yang terpangkas, akan tetapi terkait dengan ideology “mapan” yang diubah oleh Erdogan. Pemulihan kembali moralitas agama di dalam pemerintahan Erdogan mungkin juga menjadi “penyebab” bagi munculnya gerakan anti Erdogan.
Turki memang menjadi makin religious di bawah kepemimpinan Erdogan. Rezim sebelumnya yang memisahkan antara agama dan politik, atau melakukan “pemberangusan” terhadap symbol-simbol agama, seperti jilbab, perayaan tradisi Islam dan sebagainya merasakan bahwa “pengaruhnya” makin sempit. Kelompok secular pasti merasakan bahwa “Islamisasi” Turki akan membawa posisi mereka berada di tubir jurang. Itulah sebabnya, para pesaing Erdogan menginginkan agar kekuasaan Erdogan digantikan dengan orang yang diminatinya.
Peristiwa di Turki kiranya bisa menjadi kaca benggala bagi pemerintahan Indonesia. Jika di Turki kelompok secular masih bercokol dengan kuat, dan sangat memengaruhi kehidupan masyarakat, maka di Indonesia tantangannya sungguh berbeda. Di Indonesia, yang kemudian secara laten membangun jejaring dan penguasaan terhadap beberapa sector public adalah kaum “radikalis”. Kelompok ini telah memasuki “kebanyakan” ruang pemerintah, yaitu di dalam birokrasi, parlemen dan juga militer.
Pemerintah harus melakukan tindakan yang lebih riil, merumuskan action plan terhadap gerakan politik berbaju agama ini. Oleh karena itu, sinergi antar kementerian, sinergi antar unit dan antar program dan kegiatan kiranya memang perlu untuk dimantapkan.
Kita ingin ke depan bangsa dan negara ini tetap lestari dengan Pancasila, UUD 1945, NKRI dan kebinekaan. Mari kita jadikan peristiwa Turki sebagai pelajaran untuk menatap Indonesia ke depan. Jangan ada elemen di dalam tubuh kita yang kelak akan menjadi benalu bagi bangsa ini.
Wallahu a’lam bi al shawab.

DERADIKALISASI (3)

DERADIKALISASI (3)
Dunia digoncang lagi dengan terorisme. Kali ini yang menjadi sasarannya adalah Perancis tepatnya di Kota Nice. Terorisme ini terjadi bersamaan dengan perayaan Bastile Day, yaitu hari peringatan kebebasan Perancis atau kemerdekaan Perancis. Terror ini menewaskan sekurang-kurangnya 84 orang dan melukai sekurang-kurangnya 202 orang.
Pelaku terror adalah Mohammed Lahoueij Bouhlel, yang merupakan imigran Tunisia dan menjadi warga Negara Perancis. Mereka menabrakkan truknya ke kerumunan penonton kembang api di Promonade Des Anglais atau La Prom, sebuah tempat yang menawan di pinggir pantai Laut Mediterania.
Terlepas dari apa yang sesungguhnya menjadi motif dari terror yang dilakukannya, maka tindakan menabrakkan truk kepada kerumunan manusia dalam acara peringatan kemerdekaan adalah tindakan melawan kemanusiaan. Tindakan tersebut merupakan against humanism. Sebuah tindakan yang akan mendapatkan kutukan dari masyarakat atau Negara dan bahkan juga Tuhan. Menghilangkan nyawa orang dengan tujuan apapun merupakan tindakan criminal yang dapat disebut sebagai extra ordinary crime. Bisa dibayangkan bahwa dengan tindakan menabrakkan truk tersebut, maka sejumlah nyawa melayang dan lainnya luka-luka
Meskipun berdasarkan analisis berita (Jawa Pos, 16/07/16) dinyatakan bahwa tindakan tersebut berdasarkan atas motif pribadi, yaitu kegagalan hidup dan dipicu oleh perceraian, namun tentu tindakan tersebut lalu bisa dikaitkan dengan gerakan terorisme yang semakin marak akhir-akhir ini.
Bagi sekelompok orang yang selalu berpikir bahwa terorisme merupakan musuh bagi Negara-negara Barat, maka dengan kejadian ini secara serampangan juga bisa dinyatakan bahwa tindakan ini merupakan tindakan anti Barat yang dilakukan oleh orang Islam. Sebagaimana diketahui bahwa pelaku tindakan ini adalah imigran dari Negara Islam yang tentu bisa dengan mudah dikaitkan dengan terorisme yang “kebanyakan” anti Barat.
Yang sesungguhnya bisa dicari sebab musababnya adalah mengapa barat selalu menjadi “musuh” dikalangan kaum radikalis. Adakah penyebab eksternal yang kemudian memicu tindakan bom bunuh diri atau tindakan nekad untuk melakukan terror, penyanderaan dan sebagainya.
Saya berpandangan bahwa setiap tindakan yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang pasti ada in order to motif, baik yang bercorak individual maupun komunal. Bagi kelompok radikalis, bahwa Barat merupakan bagian dari ketidakadilan yang terjadi di dunia Islam. Barat dianggap sebagai musuh karena “kebanyakan” masalah yang terjadi di kalangan umat Islam adalah rekayasa Barat. Afghanistan, Irak, Syria, Lybia, Palestina, Tunisia, Sudan dan sebagainya yang selalu bermasalah merupakan rekayasa Barat untuk menghancurkan kekuatan Islam.
Di dalam global game yang terjadi dewasa ini, maka yang dapat menjadi kekuatan penyeimbang Barat hanyalah kekuatan Islam. Pasca kehancuran blok Timur, maka yang secara laten dianggap menjadi lawan Barat seimbang hanyalah umat Islam. Makanya di dalam global game itu yang dengan mudah bisa dipermainkan adalah Negara-negara Islam yang memang rawan konflik. Faksi-faksi di dalam berbagai Negara Islam memiliki “latent conflict” yang sangat tinggi dan dengan mudah bisa diadu domba. Konflik Syiah dan Sunni di beberapa Negara Timur Tengah dengan mudah bisa disulut untuk melakukan gerakan konfliktual.
Dengan demikian, kebencian terhadap Barat, sesungguhnya merupakan “because motive” atau motif penyebab dari tindakan kaum radikal untuk melakukan terror. Sedangkan “in order to motive” yang mendasar adalah karena tindakan Barat yang memperlakukan tidak adil di dalam relasinya dengan Negara-negara Islam. Perlakuan tidak adil itu juga bertali temali dengan tindakan Barat yang selalu ingin merusak tatanan masyarakat Islam.
Persoalan Palestina yang hingga kini tidak selesai dan juga tindakan Israel untuk menguasai Gaza dengan cara paksa dan merusak tatanan masyarakat di situ, tentu merupakan contoh dari bagaimana Barat selalu mendukung terhadap tindakan Israel di dalam relasinya dengan Palestina. Harap diketahui bahwa meskipun di Palestina juga terdapat faksi-faksi dan bahkan juga pemeluk agama lain, selain Islam, tetapi menyebut Palestina adalah sama dengan menyebut berdirinya Negara Islam.
State terrorism yang dilakukan Israel dengan dukungan Negara-negara Barat tentu menjadi motif penyebab mengapa perlawanan terhadap Barat selalu ada dan tumbuh. Jadi, tindakan Bouhlel yang menabrakkan truknya di dalam perayaan Bastile Day lalu diterjemahkan ke dalam konteks ini. Artinya, bahwa tindakan tersebut dianggap sebagai perlawanan terhadap dominasi Barat dengan segenap kekuatannya.
Namun demikian, kita harus tetap berada di dalam koridor bahwa tindakan untuk melukai umat, kapan dan di manapun, merupakan tindakan biadap yang harus dilawan. Jadi tindakan Bouhlel harus tetap dikecam dan dianggap sebagai extra ordinary crime. Semua harus setuju bahwa tindakan ini merupakan tindakan melawan kemanusiaan.
Wallahu a’lam bi al shawab.