• October 2026
    M T W T F S S
    « Sep    
     1234
    567891011
    12131415161718
    19202122232425
    262728293031  

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

TANTANGAN UNDANG-UNDANG JAMINAN PRODUK HALAL (1)

TANTANGAN UNDANG-UNDANG JAMINAN PRODUK HALAL (1)
Saya beruntung bisa mewakili Pak Menteri Agama, Bapak Lukman Hakim Saifuddin, di dalam acara diskusi public terkait dengan Jaminan Produk Halal di Kantor Pusat Pimpinan Muhammadiyah di Jakarta. Acara ini dihadiri oleh pimpinan Muhammadiyah dan sejumlah pimpinan Perguruan Tinggi Muhammadiyah. Acara ini diselenggarakan pada tanggal 01 Nopember 2016. Tema diskusi ini adalah “Kesiapan Pemerintah dan Dunia Usaha dalam Implementasi UU Jaminan Produk Halal”.
Hadir sebagai narasumber adalah saya (Prof. Dr. Nur Syam, MSi, Sekretaris Jenderal Kementerian Agama), Nadratuz Zaman, MSc, PhD. (pimpinan Pusat Muhammadiyah), Drs. Dorodjatun Sanusi, MBA, Apt. (Pengurus Pusat Gabungan Perusahaan Farmasi Indonesia), Rachmat Hidayat (Waketum Bidang Kebijakan Publik dan Hubungan Antar Lembaga pada Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia), dari Badan POM, dengan moderator Dr. Ir. Arief Safari, MBA (Pimpinan Pusat Muhammadiyah).
Saya memperoleh kesempatan pertama untuk membahas mengenai Peran Pemerintah di dalam implementasi UU Jaminan Produk Halal. Saya kemukakan tiga hal mendasar terkait dengan kesiapan pemerintah (baca Kementerian Agama) dalam penyelenggaraan UU No 33 Tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal. Pertama, saya sampaikan bahwa seharusnya yang menghadiri acara ini adalah Pak Menteri Agama, akan tetapi karena Beliau harus ke Lampung untuk membuka acara Annual International Conferrence of Islamic Studies (AICIS) di IAIN Raden Intan Lampung, maka Beliau dengan sangat terpaksa harus mewakilkan kepada saya untuk menjadi pembicara pada seminar ini. Semoga tidak ada rotan, akar pun jadi.
Saya sungguh mengapresiasi terhadap penyelenggaraan seminar ini, sebab tentu ada hal positif yang dapat dijadikan referensi terkait dengan penyelenggaraan jaminan produk halal. Sekarang kita sedang berada di dalam konteks perumusan Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) tentang Jaminan Produk Halal, sehingga diskusi semacam ini tentu akan membawa kepada kepekaan di dalam merumuskan RPP dimaksud. Kita memang sedang membutuhkan banyak masukan terkait dengan problema di dalam implementasi UU JPH ini.
Kedua, kewajiban pemerintah sesuai dengan amanat UU JPH adalah mengisi struktur Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH). Di dalam Pasal 5 ayat (3) UU JPH disebutkan bahwa “untuk melaksanakan penyelenggaraan JPH, dibentuk BP JPH yang berkedudukan di bawah dan bertanggungjawab kepada Menteri Agama”. Kemudian di dalam Pasal 64 UU JPH disebutkan bahwa “BP JPH harus dibentuk paling lambat 3 (tiga) tahun terhitung sejak UU JPH diundangkan.”
Sebagaimana diketahui bahwa Kementerian Agama sudah memiliki struktur baru sesuai dengan Peraturan Presiden No. 83 Tahun 2015 tentang Kementerian Agama. Kemudian Kemenag juga sudah memiliki Organisasi dan Tata Kelola (Ortaker) BPJPH ini sesuai dengan PMA No. 42 Tahun 2016. Yang dibutuhkan untuk pengisian Ortaker ini adalah sebanyak satu orang pejabat eselon I (Kepala Badan), dan sebanyak empat pejabat eselon II, yaitu: Sekretaris Badan JPH, Kepala Pusat Registrasi dan Sertifikasi Halal, Kepala Pusat Pembinaan dan Pengawasan, dan Kepala Pusat Kerjasama dan Standardisasi Halal. Lalu juga terdapat sebanyak 13 pejabat eselon III dan 27 pejabat eselon IV.
Saya berharap bahwa selambat-lambatnya bulan Januari 2017 sudah dapat dilakukan lelang jabatan untuk para pejabat dimaksud, sehingga diperkirakan pada bulan April sejauh-jauhnya Kemenag sudah memiliki pejabat sesuai dengan struktur BPJPH dimaksud.
Ketiga, Kementerian Agama sebagai leading sector untuk penyusunan Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP), yang sesuai dengan UU JPH harus diselesaikan dalam waktu dua tahun semenjak UU ini disahkan, artinya seharusnya tanggal 17 Oktober 2016 harus sudah selesai. Pada kenyataannya, bahwa terdapat sejumlah kesulitan untuk menyelesaikan dengan segera tentang RPP JPH ini. Ada enam problem yang harus memperoleh kesepahaman tentang RPP JPH, yaitu: 1) penetapan jenis sertifikasi produk yang harus dilakukan sebelum tahun 2019. 2) apa yang harus dilakukan oleh pemerintah pasca tahun 2019, di mana seluruh produk harus bersertifikat halal. 3) bagaimana sikap pemerintah jika setelah tahun 2019 ternyata masih banyak produk yang diperdagangkan di Indonesia dan belum bersertifikat halal. 4) bagaimana dengan seluruh produk seperti makanan, minuman, obat-obat-an, kosmetik, dan barang gunaan misalnya piring, sendok, sepatu, ikat pinggang dan lain-lain yang juga harus terkena kewajiban jaminan produk halal. 5) bagaimana dengan status obat dan kosmetik yang pasca tahun 2019 ternyata belum bisa menyediakan sumber bahan yang halal. 6) bagaimana dengan perilaku Usaha Mikro Kecil, dan Menengah yang juga harus berkewajiban jaminan produk halal.
Diskusi ini menarik sebab yang menjadi narasumber tidak hanya pimpinan organisasi dan birokrat, akan tetapi juga pelaku usaha. Makanya, di dalam diskusi ini terdapat banyak problem yang dihadirkan terkait dengan implementasi UU JPH. Bahkan di antara mereka menganggap bahwa UU JPH ternyata memiliki sejumlah persoalan yang tidak sederhana. Oleh karena itu, perlu hati-hati di dalam mengimplementasikan UU JPH ini agar tidak menjadi regulasi yang menjerat kaki kita sendiri.
Wallahu a’lam bi al shawab.

RUMUSKAN RKAKL UNTUK RAKYAT

RUMUSKAN RKAKL UNTUK RAKYAT
Di masa lalu, perencanaan itu dianggap sebagai tempat untuk memberikan tempat bagi para PNS yang kurang memiliki kinerja yang baik. Biasanya dikaitkan dengan tempat pemindahan dan pendadaran bagi yang berkinerja kurang memuaskan. Artinya, banyak orang memandang dengan sebelah mata untuk fungsional perencanaan dan ASN perencanaan.
Akan tetapi seirama dengan perubahan konsep perencanaan yang lebih beraksentuasi pada bottom up planning, maka perencanaan menjadi lahan kinerja yang luar biasa ketatnya, sebab merekalah yang harus membuat perencanaan berbasis kinerja untuk tahun berikutnya. Sepanjang tahun mereka harus berjibaku di dalam merumuskan perencanaan dimaksud.
Saya mendapatkan kesempatan untuk memberikan pengarahan pada acara Perumusan RKKAL pada Pagu Alokasi Kementerian Agama tahun 2017 di Hotel Aston Marina Ancol, 31/10/2016. Acara ini dihadiri oleh seluruh pejabat perencanaan daerah seluruh Indonesia, yang akan bekerja tiga hari ke depan untuk melakukan perumusan dan telaah terhadap perencanaan RKAKL tahun 2017. Selain akan dilakukan pendampaingan oleh Biro Perencanaan juga oleh Inspektorat Jenderal Kemenag.
Sebagaimana kebiasaan saya, maka saya memberikan beberapa resep terkait dengan bagaimana merumuskan RKAKL yang relevan dengan apa yang diinginkan oleh pemerintahan Jokowi/JK di masa pemerintahan sekarang. Saya menyebutnya dengan “Empat Pasti Merumuskan RKAKL Kementerian Agama”.
Pertama, Pastikan prioritas programnya tepat. Sesuai dengan Visi Presiden, bahwa pemerintah seharusnya memiliki visi pengembangan atau pembangunan untuk bangsa dan Negara ini. Bagi Presiden, bahwa ada empat hal yang menjadi prioritas nasional pada era pemerintahan sekarang, yaitu: 1) Memacu perkembangan infrastruktur untuk kepentingan rakyat. Harus dipahami bahwa infrastruktur pembangunan memiliki makna strategis bagi peningkatan kesejahteraan rakyat. Di era sekarang, maka konsentrasi atau focus pembangunan terletak pada bagaimana membangun infrastruktur seperti waduk, jalan raya, tol laut, bandara, pelabuhan, pasar dan hal-hal yang terkait dengan penguatan sarana dan prasarana pembangunan.
2) Focus pada pembangunan ekonomi. Melalui penguatan pembangunan infrastruktur, maka akan terjadi proses pergerakan ekonomi domestic. Bayangkan jika seandainya terdapat anggaran pembangunan infrastruktur senilai 1000 trilyun rupiah, maka akan terjadi penguatan ekonomi domestic yang luar biasa. Ada proses gerakan ekonomi domestic yang bisa dinikmati masyarakat. 3) Focus pada pengembangan ketenagakerjaan. Bisa dibayangkan dengan pembangunan infrastruktur yang banyak tersebut pastilah akan menyedot tenaga kerja yang memadai. Dengan pergerakan ekonomi domestic dan pembangunan infrastruktur tersebut maka akan terjadi peluang kerja bagi masyarakat Indonesia yang cukup memadai.
4) Fokus pembangunan adalah untuk mengurangi kesenjangan antar daerah. Saya kira bahwa pemerintah sekarang sedang mengembangkan program yang berbeda dengan pemerintahan masa lalu, dengan pengembangan infrastruktur ini. Dengan focus pengembangan insfrastruktur, maka akan terdapat sekian banya kemudahan bagi masyarakat untuk mengakses kehidupan. Dengan transportasi yang mudah dan cepat, maka hasil-hasil pembangunan akan bisa dirasakan manfaatnya secara langsung oleh masyarakat. Melalui keberhasilan pembangunan tol laut, maka harga barang di Indonesia Timur akan bisa ditekan sama dengan harga barang di Indonesia Barat.
Kedua, Pastikan sasarannya jelas. Pembangunan hakikatnya adalah untuk rakyat. Merekalah yang harus menjadi sasaran pembangunan. Rakyat harus merasakan bahwa melalui pembangunan tersebut, maka pemerintah hadir di dalam kehidupan masyarakat. Makanya, pembangunan harus memiliki jangkauan pengaruh yang luas bagi masyarakat. Harus massive cakupannya. Fokus di dalam sasarannya, tetapi massive dampak positifnya. Kementerian Agama sesungguhnya juga memiliki program pengembangan infrastruktur, misalnya pada pembangunan sarana dan prasarana tempat ibadah, sarana dan prasarana pendidikan, sarana dan prasarana kerukunan umat beragama dan sebagainya. Jika melihat focus pemerintah sekarang adalah di dalam konteks pengembangan infrastruktur ini, maka semestinya pengembangan sarpras keagamaan dan pendidikan haruslah diutamakan.
Ketiga, pastikan anggarannya relevan dengan kebutuhan masyarakat. Perubahan yang sangat mendasar terkait dengan pendekatan pembiayaan birokrasi adalah yang disebut dengan money follow program. Yaitu pemberian anggaran kepada birokrasi bukan berdasarkan fungsinya tetapi pada programnya. Jika di masa lalu uang itu habis dibagi-bagi antar unit sesuai dengan fungsinya, maka dewasa ini tentu tidak lagi bisa seperti itu. Mestinya harus ada keberanian untuk memangkas anggaran yang tidak relevan dengan fungsinya dan memberikan anggaran tersebut kepada yang program yang lebih dipentingkan. Peta dan postur penganggaran harus diubah sesuai dengan paradigma baru penganggaran ini.
Keempat, pastikan dampak positif atau impact pembangunan tersebut untuk rakyat. Sebagaimana yang sering diungkapkan oleh Pak Presiden, maka pembangunan itu untuk rakyat. Pembangunan dilaksanakan di dalam kerangka untuk menyejahterakan rakyat. Makanya jangan ada pembangunan yang tidak jelas pengaruhnya bagi peningkatan kesejahteraan rakyat. Harus dilakukan perubahan secara mendasar tentang kegiatan yang jumlahnya ribuan dengan program yang jelas peruntukannya. Kegiatan yang jumlahnya ribuan tentu akan sulit diukur keberhasilannya.
Kegiatan seperti workshop, seminar, sosialisasi yang tidak sangat urgen tentu bisa direalokasi kepada kegiatan yang lebih jelas sasarannya dan dapat diukur dampak positifnya. Itulah sebabnya, perencanaan harus berani mengubah kebiasaan lama yang telah bertahun-tahun berlangsung dengan melakukan perubahan paradigma bahwa semua kegiatan harus dapat diukur hasilnya.
Jadi, memang harus ada sinergi antara visi Presiden, program Kementerian dan kegiatan yang dilakukan pada unit-unit birokrasi, sehingga ke depan akan dapat dinilai seberapa keberhasilan pembangunan dimaksud.
Wallahu a’lam bi al shawab.

ONE PESANTREN ONE PRODUCT

ONE PESANTREN ONE PRODUCT
Saya diminta oleh Prof. Dr. Anita Lie untuk menjadi penguji luar dalam acara Ujian Terbuka Doktor dalam Bidang Ilmu Manajemen pada Universitas Katolik Widya Mandala, Surabaya, 29/10/2016. Ujian ini menghadirkan Promovendus Drs. KH. Mohammad Zakki, MSi, pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Mukmin Mandiri Surabaya.
Akhir-akhir ini memang agak jarang saya menguji disertasi di perguruan tinggi karena kesibukan saya di Jakarta. Tetapi di kala diminta oleh Prof. Anita Lie, Ketua Program Doktor Manajemen pada Universitas Katolik Widya Mandala, saya harus menyempatkan datang. Selain Cak Zakki adalah kolega saya yang memiliki kedekatan khusus, juga yang mengundang saya adalah Prof. Dr. Anita Lie, sahabat saya, kala sama-sama menjadi tim Dewan Riset Daerah Jawa Timur, tahun 2009 sampai 2013. Saya sering bersama Beliau di dalam acara mengembangkan riset daerah Jawa Timur.
Saya merasa pertemuan di Universitas ini sebagai reuni saja. Sebab saya bisa bertemu dengan Prof. Dr. Romo Eko Armada Riyanto, Prof. Dr. Hengki Supit, Ketua Yayasan Universitas Widya Mandala, mantan Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Airlangga, Prof. Muzakki, PhD., yunior saya di UIN Sunan Ampel Surabaya, Prof. Budiman Christiananta, PhD., dan lainnya. Ujian ini menjadi menarik, sebab yang hadir untuk menjadi pendengar dan pembahas akademik juga bervariasi. Ada Staf Ahli Menteri Perdagangan, Kepala Perindustrian Jawa Timur dan juga tokoh-tokoh agama.
Judul disertasi yang dibahas adalah “Pengaruh Kepemimpinan Strategik, Kepemimpinan Spiritual, dan Kepemimpinan Kewirausahaan Kiai terhadap Kepuasan Kerja Santri dan Jihad (Kinerja) Santripreneur di Pesantren Enterpreneur Provinsi Jawa Timur”. Sebuah judul yang menarik tentu saja, sebab menghadirkan tingkat kerumitan korelasi antar variabel dan harus diuji secara serius.
Dari kajian ini diperoleh gambaran bahwa: 1) Kepemimpinan Strategik berpengaruh positif dan signifikan terhadap kepuasan kerja santri entrepreneur. 2) Kepemimpinan Strategik kiai berpengaruh tidak signifikan terhadap jihad (kinerja) santripreneur. Kenyatannya bahwa kiai lebih mementingkan kepemimpinan spiritual dan kepemimpinan kewirausahaan ketimbang kepempimpinan strategic. 3) Kepemimpinan spiritual berengaruh positif terhadap kepuasaan santriprenuer. 4) Kepemimpinan spiritual berpengaruh positif terhadap jihad (kinerja) santriprenuer. 5) Kepemimpinan Strategik berpengaruh positif terhadap kepuasan kerja santriprenuer. 6) kepemimpinan kewirausahaan berpengaruh langsung terhadap jihad (kinerja) santripreneur. 7) kepuasan kerja santriprenuer berpengaruh positif dan signifikan terhadap jihad (kinerja) santripreneur.
KH. Mohammad Zakki tentu sangat menguasai terhadap hasil penelitiannya ini. Hal itu terbukti dari kemampuannya untuk memberikan jawaban dan penjelasan terhadap berbagai pertanyaan yang disampaikan kepadanya. Kala saya tanya tentang bagaimana proses perubahan makna jihad dari jihad fil qital ke jihad fil iqtishadiyah dan jihad fit tijaroh dan apa factor-faktor yang menyebabkan secara sosiologis terhadap hal itu, maka dapat dijawab dengan sangat baik.
Promovendus memberikan jawaban bahwa perubahan itu terjadi secara internal dan eksternal. Dari sisi internal adalah sikap keterbukan kyai di dalam menerima berbagai inovasi yang terkait dengan pemberdayaan ekonomi. Kyai sekarang sangat aware dengan dunia bisnis. Pengetahuan yang diperolehnya di pesantren dahulu dikaitkan dengan betapa pentingnya penguasaan ekonomi bagi pengembangan pesantren. Sementara itu, dari sisi eksternal, kyai sekarang juga memiliki jejaring sosial yang sangat kuat. Banyak kyai yang tidak hanya memiliki jejaring keilmuan agama saja, akan tetapi juga dengan penguasa dan kaum bisnisman. Itulah sebabnya kyai kemudian dengan secara cerdas dapat menggunakan peluang untuk mengembangan tradisi kewirausahaan dewasa ini.
Jika di masa lalu, kyai dibayari oleh santri secara bulanan berupa kiriman dari orang tuanya atau walinya, maka sekarang paradigmanya dibalik, santri dibayari oleh kyainya. Para santri tidak hanya belajar agama, akan tetapi juga belajar kewirausahaan di pesantrennya. Mereka memperoleh upah kerja sesuai dengan pekerjaannya.
Melalui konsepsi santrireneur dan kyaipreneur, maka wajah pesantren akan menjadi berubah. Yang di masa lalu, pesantren itu sebagai penerima jariyah dari masyarakat, maka kemudian ke depan pesantren akan memberikan jariyah kepada masyarakatnya. Jadi, pesantren akan menjadi pusat gerakan ekonomi syariah yang sangat baik.
Melalui kajian, ini tentu ada satu hal yang sangat menarik untuk dipikirkan bagi para pengambil kebijakan adalah yang disampaikan oleh Kyai Zakki dengan konsep “One Pesantren, One Product”. Konsep ini dalam konteks lain, saya rasa pernah dikembangkan oleh Pak Basofi Sudirman, yang pernah menggagas “One Village One Product”. Sayangnya bahwa konsepsi yang bagus ini belum bisa dilakukan di era itu, meskipun secara akademis sudah dilakukan berbagai kajian.
Gagasan Cak Zakki yang orisinal ini, saya kira perlu untuk ditindaklanjuti oleh Kementerian Agama dan juga Kementerian Perindustrian dan Kementerian Perdagangan, bahkan juga Kementerian Pariwisata. Melalui kerja sama antara G to B and to P, atau kerja sama antara Government to Businesman and to Public ini saya kira bisa direalisasikan.
Direktorat Pesantren pada Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama bisa menjadi leading sector untuk meneruskan gagasan ini dalam langkah nyata untuk pengembangan pesantren ke depan. Harus disupport secara optimal.
Wallahu a’lam bi al shawab.

REFLEKSI SUMPAH PEMUDA BAGI WARGA JAKARTA

REFLEKSI SUMPAH PEMUDA BAGI WARGA JAKARTA
Saya diundang dalam acara yang sangat menarik, yaitu diskusi dan music, yang kemudian saya sebut sebagai “Diskusik”. Acara yang digelar di Mall TAMINI, Jakarta Timur ini tentu sangat menarik, sebab memang memadukan antara Sumpah Pemuda, Kuliner dan Musik.
Acara yang unik ini diselenggarakan pada hari Jum’at sore, 28/10/2016. Narasumbernya juga orang yang memiliki kapabilitas di bidangnya, yaitu Prof. Dr. Hermawan Sulistyo, PhD., atau yang disebut dengan Bang Kiki, sebagai pakar riset Indonesia, kemudian saya, Prof. Dr. Nur Syam, MSi., Hana Hasanah Fadel, Pengusaha dan Pelestari Budaya dan Peduli Lansia, atau yang biasa dipanggil Lala, dan artis serba bisa, penyanyi, pemain sinetron dan Film, Ayu Azhari. Acara ini didesain oleh Axel Djody Production and Sonde Production dan dimoderatori oleh Eduard L Manto.
Tajuk acara ini adalah “Refleksi Hari Sumpah Pemuda Bagi Warga Jakarta”. Nara sumber yang pertama adalah Ibu Lala, yang menjelaskan tentang makna Sumpah pemuda bagi bangsa Indonesia secara umum, kemudian Bang Kiki lebih banyak berbicara tentang kuliner dalam kaitannya dengan budaya Nusantara, lalu saya memberikan gambaran tentang bagaimana seharusnya warga Jakarta memaknai Hari Sumpah Pemuda. Ayu lebih banyak berbicara tentang Kuliner dan kearifan local.
Pada kesempatan ini, saya menjelaskan mengenai tiga hal yang saya anggap penting untuk memaknai Hari Sumpah Pemuda. Pertama, saya nyatakan apakah warga Jakarta masih membutuhkan Hari Sumpah pemuda?. Bagi saya, warga Jakarta sekarang ini lebih banyak bergelut dengan dunia kehidupannya ketimbang berpikir tentang nasionalisme, kebangsaan dan termasuk persatuan dan kesatuan bangsa. Saya menyatakan seperti ini sebab yang sesungguhnya menjadi problem warga Jakarta adalah bagaimana mendapatkan makan untuk esok hari. Mereka terdiri dari orang-orang yang tidak memperoleh akses bagi kehidupannya, mereka berada di wilayah pinggiran, mereka belum bisa menikmati kue pembangunan.
Jarak sosial yang sangat jauh tentu bisa mengurangi makna Sumpah Pemuda yang intinya mengagungkan kesatuan dan persatuan bangsa tersebut. Bagi masyarakat Indonesia yang sudah bisa mengakses pekerjaan berbekal pendidikan yang baik, telah memiliki kecukupan sandang, pangan dan papan, maka kesatuan dan persatuan bangsa merupakan hal yang sangat penting. Namun mereka yang kurang beruntung, maka kesatuan dan persatuan bangsa bukanlah menjadi mind set kehidupannya. Jika yang lain berpikir “besuk makan siapa,” maka mereka masih berpikir “besuk makan apa.” Itulah sebabnya, mengisi Sumpah Pemuda tentu harus dengan kesejahteraan dan ketercukupan sandang, pangan dan papan. Rasanya juga menjadi sia-sia ngomong tentang Sumpah Pemuda terhadap mereka yang masih terpinggirkan di dalam kehidupan ekonomi ini.
Kedua, kita tentu bisa bersyukur bahwa kita dikarunia oleh Tuhan Yang Maha Esa dengan bumi Indonesia ini. Tanah yang subur dan indah. Tanah yang rasanya seperti percikan surga di dunia. Tanah Nusantara yang diperjuangkan kemerdekaannya oleh para Founding Fathers negeri ini menjadi tumpah darah kita. Tidak bisa dibayangkan andaikan kita tidak lahir di bumi kaya raya, yang bernama Indonesia ini. Bayangkan kita terlahir di negara-negara yang terus menerus di dalam keadaan koflik dan peperangan. Lalu kita menjadi pengungsi, menjadi pencari suaka ke Negara lain, menjadi yang terkatung-katung di tengah samudra untuk memperoleh kehidupan baru.
Oleh karenanya, kita harus menjaga Keindonesiaan kita ini dengan sepenuh hati dan aktivitas. Jangan pernah lengah untuk tidak membela Indonesia dengan empat pilar consensus kebangsaannya. Kita mesti pertahankan Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Kebhinekaan. Meskipun kita bersuku-suku, berbangsa-bangsa, bertenis-etnis, berbeda bahasa dan kultur, akan tetapi kita adalah bangsa Indonesia.
Memaknai Sumpah Pemuda, yang isinya: Kami Putra dan Putri Indonesia menyatakan berbangsa satu, Bangsa Indonesia. Kami Putra dan Putri Indonesia menyatakan bertanah air satu, tanah air Indonesia. Dan Kami Putra dan Putri Indonesia menyatakan berbahasa satu, Bahasa Indonesia. Sumpah pemuda, yang dilakukan pada tanggal 28 Oktober 1928 merupakan tonggak penting bagi kesatuan dan persatuan bangsa.
Di dalam konteks ini, maka kita semua baik yang sudah tua maupun yang masih muda tentu memiliki kewajiban untuk menjaga makna Sumpah Pemuda ini agar terus menerus menjadi darah dan daging di dalam kehidupan kita. Jangan sampai kaki kita terpeleset untuk memasuki kawasan lain, yang bukan Negara Kesatuan Republic Indonesia.
Ketiga, kita harus mencintai budaya kita. Jangan sampai budaya Nusantara yang adi luhung ini tergerus oleh budaya luar yang belum tentu cocok bagi bangsa Indonesia. Kita harus tetap mencintai budaya masakan Indonesia. Kuliner Indonesia adalah yang terbaik di dunia. Makanan yang sehat dan menyehatkan. Boleh kita senang dengan berbagai kuliner luar negeri dengan berbagai variannya, akan tetapi jangan sampai hal itu mengalahkan kesukaan kita pada Kuliner Nusantara.
Sebagaimana yang tadi disampaikan oleh Bang Kiki, bahwa meskipun tradisi makanan Indonesia itu adalah merupakan tradisi campuran dari berbagai wilayah lain, akan tetapi sekarang sudah menjadi makanan khas Nusantara. Jadi, mencintai kuliner Indonesia termasuk juga bagian dari memaknai Sumpah Pemuda.
Dengan demikian, kiranya ada pertautan antara Kuliner, Keragaman tradisi dan Persatuan bangsa dengan Sumpah Pemuda. Makanya, di kala kita lebih suka Kuliner Indonesia dibanding dengan kuliner Negara lain, maka hal itu bermakna mencintai Indonesia dan berikutnya berarti kita telah melaksanakan Sumpah Pemuda.
Wallahu a’lam bi al shawab.

PERCEPAT SERAPAN ANGGARAN RAIH KEMBALI OPINI WTP

PERCEPAT SERAPAN ANGGARAN RAIH KEMBALI OPINI WTP
Sebagai kelanjutan dari Evaluasi Kinerja Kementerian Agama yang dihadiri oleh Menteri Agama, Bapak Lukman Hakim Saifuddin, maka ditidaklanjuti dengan Rapat Koordinasi Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) yang terdiri dari Para Pejabat Eselon I Pusat dan pejabat Eselon II daerah. Yaitu Sekjen, Irjen, para Dirjen dan Balitbangdiklat, serta para Kakanwil Kementerian Agama seluruh Provinsi di Indonesia serta para pimpinan Perguruan Tinggi Keagamaan Negeri (PTKN) se Indonesia.
Sebagaimana biasanya, jika Pak Menteri yang membuka acara, maka saya yang kebagian menutup acara (28/10/2016). Dengan demikian, selain saya memberikan materi tentang Evaluasi Kinerja dan Serapan Anggaran juga harus menutup acara ini. Acara Rakor ini dihadiri oleh berbagai narasumber, yaitu: Menteri Agama (Lukman Hakim Saifuddin), Sekretaris Jenderal (Prof. Dr. Nur Syam, MSi), Ketua Komisi VIII DPR RI (Dr. M. Ali Taher Parasong), Tortama V (Dr. Bambang Pamungkas), Irjen (Dr. M. Jassin), dan dari Kemenkeu.
Saya merasa bahwa rakor ini sangat penting sebab kita berada di ujung tahun anggaran dan kita harus mencapai kinerja yang optimal, serapan yang optimal dan juga capaian Laporan Keuangan Kementerian Agama (LKKA) dengan predikat Opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP), sebagaimana telah diraih dalam beberapa tahun terakhir. Melalui rakor ini tentu kita semua harus meningkatkan kesadaran untuk focus pada tiga hal mendasar tersebut.
Terkait dengan hal ini, maka ketika saya menutup acara ini, maka saya sampaikan tiga hal penting untuk menjadi renungan kita semua dan kemudian ditindaklanjuti sesuai dengan arahan Pak Menteri. Arahan yang saya sampaikan, yaitu: pertama,
Agar seluruh KPA menfokuskan diri pada peningkatan kualitas serapan anggaran. Kita sungguh menginginkan agar serapan anggaran kita naik dengan cepat dalam 40 hari ke depan. Serapan kita sudah memasuki rangking ke tiga dari seluruh K/L. namun demikian jika dibandingkan dengan keinginan serapan anggaran sebesar 98 persen pada tahun 2016, maka capaian kita yang masih 66 persen tentu belumlah memadai. Secara keseluruhan, serapan kita tahun ini juga lebih baik dibandingkan pada tanggal yang sama dengan tahun 2015. Secara umum pergerakan serapan kita lebih baik dibandingkan dengan tahun 2015.
Namun demikian, kita mesti harus bekerja keras agar bisa melampaui serapan tahun 2015 yang kurang dari 90 persen. Makanya, tahun 2016 harus berada di atas angka 93 persen. Meskipun bukan indicator utama keberhasilan kinerja, akan tetapi serapan anggaran juga menggambarkan bahwa kita bisa menyelesaikan mandate kementerian yang sudah dirancang sebelumnya.
Sebagaimana arahan Pak Menteri pada waktu pembukaan, bahwa jangan sampai mandate pemerintah dalam bentuk anggaran yang sudah disepakati bersama oleh pemerintah dan DPR RI dalam bentuk program, kegiatan dan anggaran tersebut tidak terserap. Banyak sarana peribadahan, lembaga pendidikan, organisasi keagamaan yang membutuhkan anggaran untuk pengembangannya. Makanya, jika anggaran kita tidak terserap itu sepertinya kita ini dholim. Sudah diberi anggaran dan tidak diserap sesuai dengan sasaran dan kebutuhannya.
Kedua, rumuskan Laporan Keuangan Kementerian Agama (LKKA) sesuai dengan Standart Akuntansi Pemerintah (SAP). Upayakan agar kita sungguh-sungguh melakukan rekonsiliasi dengan benar, sehingga tidak terdapat selisih antara Laporan Operasional (LO) dengan Laporan Realisasi Anggaran (LRA). Pengalaman tahun lalu di mana terdapat selisih laporan yang cukup besar di antara keduanya tentu harus menjadi pelajaran yang penting. Jangan sampai hal ini terulang lagi di tahun 2016. Selain itu juga masalah compliance atau kepatuhan terhadap regulasi juga harus diperhatikan oleh KPA. Tidak boleh lagi ada ketidakjujuran, kekurangpengungkapan, atau bahkan kecurangan di dalam menyerapan anggaran. Pengalaman tahun lalu, masih cukup besar ketidakpatuhan itu, dan harus segera diselesaikan. Semua harus focus pada serapan anggaran tetapi tetap berada di dalam bingkai regulasi yang tepat.
Ketiga, agar semua focus untuk memperoleh kembali Opini WTP yang pada tahun 2015 lepas dari Kemenag. Semua KPA harus berusaha untuk memperoleh Opini WTP tersebut. Makanya, semua harus bersepakat untuk bekerja keras menghasilkan LKKA sesuai basis akuntansi yang sudah diterapkan oleh pemerintah. Sudah dilakukan berbagai upaya untuk kembali ke Opini WTP, misalnya dengan melantik Duta-Duta Akrual di seluruh Indonesia.
Berbagai upaya sudah dilakukan, berbagai ikhtiar sudah dilakukan, dan berbagai pendekatan kepada berbagai pihak terkait dengan upaya untuk menjadi yang terbaik dalam LKKA dan hasilnya juga sudah dilakukan.
Dengan demikian, yang juga dibutuhkan adalah doa dan kepasrahan. Manakala semua usaha sudah dilakukan, dan hasilnya tentu diharapkan sesuai dengan keinginan kita, dan kita harus tawakkal kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Wallahu a’lam bi al shawab.