Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

TUJUH BELAS AGUSTUS 2016 (3)

TUJUH BELAS AGUSTUS 2016 (3)
Kita sekarang hidup di tengah dunia tanpa batas atau disebut globalisasi. Dan saya kira tidak ada satu masyarakatpun yang bisa menahan laju globalisasi tersebut di tengah kehidupan yang makin kompleks ini. Makanya, semua hal yang terkait dengan lokalitas, ideology dan bahkan keyakinan tentang agama juga bisa terpengaruh oleh pengaruh globalisasi ini.
Di dalam konteks negara-bangsa, maka tantangan terbesarnya adalah bagaimana masyarakat ini akan bisa terus mempertahankan ideology kebangsaannya terkait dengan serbuan informasi yang luar biasa tekanannya. Jika selama ini masyarakat masih bisa bertahan dengan ideology kebangsaannya, karena factor pengalaman, lalu pertanyaannya, apakah generasi muda kita masih bisa mempertahankan ideology kebangsaannya di tengah badai ideology dunia yang terus bergerak mempengaruhinya.
Melalui upacara Tujuh Belasan, sesungguhnya dikandung maksud untuk menularkan atau transfromasi nilai kebangsaan itu bagi generasi pelanjut bangsa. Kirab budaya yang diselenggarakan oleh Panitia Nasional Peringatan Hari Kemerdekaan ke 71 tentu dapat dimaknai sebagai bagian dari upaya untuk menularkan nilai perjuangan bangsa di masa lalu dan menyambungkannya dengan kenyataan sekarang.
Di tengah momentum peringatan Kemerdekaan ini, tentu ada peristiwa yang sangat heroic yaitu peristiwa kemenangan atlit Bulutangkis yang memenangkan medali emas di Olimpiade Rio De Jeneiro di Brazil. Mereka adalah pasangan ganda campuran Tantowi Ahmad dan Liliyana Natsir. Mereka berdua mengalahkan pasangan Ganda Campuran Malaysia, Chan Pen Soon dan Goh Liu Ying dalam dua set langsung dengan skore 21-14 dan 21-12. Tantowi Ahmad dan Liliyana Natsir selalu memenangkan pertandingan dalam dua set langsung selama berlaga di Olimpiade di Brazil ini.
Kemenangan yang didapat oleh pasangan Ganda Campuran Indonesia, Tantowi Ahmad dan Liliyana Natsir ini tentu melambungkan posisi Indonesia ke urutan 39 dunia, sebab sebelumnya atlet angkat besi, juga memenangkan medali perak yang juga dipersembahkan kepada Indonesia dari arena olimpiade dimaksud.
Seringkali peristiwa olahraga bisa menjadi penyemangat nasionalisme. Coba perhatikan misalnya munculnya lagu “Garuda di Dadaku” yang sering dinyanyikan di dalam arena olahraga tentu menjadi bukti bahwa merajut kebangsaan dan nasionalisme dapat ditumbuhkembangkan melalui peristiwa olahraga. Saya tentu masih teringat kala anak-anak kesebelasan sepakbola “Garuda Muda” menjuarai event internasional, maka rasa nasionalisme itu juga muncul . Jadi sebenarnya even untuk membangkitkan nasionalisme itu bisa berangkat dari mana saja.
Setelah mereka memenangkan pertandingan itu, maka Tantowi Ahmad lalu bersujud, sementara itu Liliana Natsir berteriak sebagai ekspressi kegembiraannya. Sungguh sebuah peristiwa heroic kala mereka meneriakkan nama Indonesia sebagai ekspressi kegembiraannya. Suatu peristiwa yang bisa membawa nuansa kebangsaan yang sangat mendalam.
Di dalam sessi wawancara dengan media televise, Liliyana dan Tantowi menyatakan bahwa kemenangannya itu dipersembahkan untuk memperingati hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 71. Mereka menyatakan bahwa kemenangan yang diperolehnya merupakan hadiah yang diperuntukkan bagi bangsa Indonesia yang sedang memperingati kemerdekaan.
Peristiwa heroic adalah kala sang Saka Merah Putih dikibarkan di Arena Olimpiade di Rio de Jeneiro. Mereka menyanyikan lagu Indonesia Raya dengan segenap jiwanya. Sungguh yang demikian ini adalah rasa kebangsaan yang sangat tinggi. Moment indah bagi keindonesiaan kita.
Menjadi Indonesia adalah hal yang penting bagi seluruh warga Negara Indonesia. Menjadi Indonesia artinya kita meyakini bahwa tidak ada bangsa lain yang lebih dicintai dibandingkan dengan kecintaannya kepada Indonesia. Menjadi Indonesia artinya bahwa seluruh perilaku dan tindakannya hanya diperuntukkan bagi masyarakat dan bangsa Indonesia. Menjadi Indonesia artinya bahwa right or wrong is my country hanya kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Di dalam konteks ini, maka consensus bangsa Indonesia, yaitu Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Kebinekaan merupakan pilar kebangsaan yang harus dijunjung tinggi kapan dan di manapun di dunia ini. Jika ada warga Indonesia yang kontra dalam pikiran dan tindakannya terhadap consensus bangsa ini, maka sesungguhnya yang bersangkutan sudah bukan lagi bagian dari Keindonesiaan.
Nasionalisme dan kebangsaan tentu harus terus diupayakan untuk ditumbuhkembangkan di tengah gelegak arus trans-ideology yang terus menghantui bangsa manapun di dunia ini. Jadi kita mesti terus berusaha untuk eksis dengan consensus kebangsaan kita itu.
Wallahu a’lam bi al shawab.

TUJUH BELAS AGUSTUS 2016 (2)

TUJUH BELAS AGUSTUS 2016 (2)
Setahun itu terasa sangat pendek. Saya rasa perjalanan waktu itu singkat saja. Saya tentu tidak tahu apakah ini perasaan saja, tetapi kiranya factor kesibukan yang menyebabkan hari berganti hari, bulan berganti bulan dan tahun pun berlalu dengan cepat. Sungguh bahwa rasanya waktu itu berjalan begitu cepat. Dan perayaan kemerdekaan juga berlalu begitu saja.
Benarkah kita memang sudah benar-benar merdeka? Pertanyaan ini yang masih sering kita dengar di saat kita memperingati Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia. Pertanyaan ini pula yang muncul tahun lalu dan tahun-tahun sebelumnya. Pertanyaan yang sepertinya mudah dijawab tetapi sesungguhnya sulit untuk dijelaskan. Ada berbagai perspektif untuk menjawab pertanyaan ini, tergantung dari mana kita akan menjawabnya.
Sebagai warga negara bangsa, maka tugas dan kewajiban kita adalah untuk mencapai tujuan dibentuknya bangsa ini, yaitu untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, membangun perdamaian abadi dan meningkatkan kesejahteraan sosial dan mensupport kemerdekaan bangsa secara keseluruhan.
Di dunia ini tidak boleh ada penindasan dan peminggiran suatu bangsa oleh bangsa lain. Tidak boleh ada kekerasan suatu bangsa atas bangsa lain. Dan yang tidak kalah penting tidak boleh ada eksploitasi suatu bangsa atas bangsa lain. Semua bangsa di dunia harus mendapatkan kemerdekaannya.
Slogan kita adalah “Sekali Merdeka Tetap Merdeka”, “Ever Free Free forever”. Sebagai bangsa kita sudah memasuki alam kemerdekaan dalam rentang waktu 71 tahun. Waktu yang cukup untuk menyiapkan generasi ke depan untuk membangun Indonesia yang makin jaya dan makin sejahtera.
Bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar, besar dalam jumlah penduduknya, luas wilayahnya dan juga kekuatan spirit kebangsaannya. Semua ini mendukung posisi Indonesia yang seharusnya sebagai bangsa yang disegani di seluruh dunia. Dengan wilayah yang luas dan aneka sumber daya alam yang sangat variatif dan meluber, maka tidak ada bangsa di dunia ini yang tidak tergantung kepada pangsa pasar Indonesia. Bandingkan dengan Singapura yang hanya bersumber dari pelabuhan lautnya, atau Jepang dan Korea Selatan yang mengandalkan industrinya.
Indonesia ini sungguh sangat kaya segalanya. Indonesia itu seperti serpihan surga di dunia. Makanya, Indonesia itu ibarat gula, yang tentu dapat menarik banyak semut untuk datang dan memakan gula itu. Sumber daya alam yang kaya tentu menjadi incaran semua bangsa di dunia yang memiliki industri terkait dengan sumber daya alam itu. Jepang dan Korea Selatan sangat tergantung kapada produk biji besi dari Indonesia untuk kepentingan industri otomotifnya. Demikian pula dengan batubara, kopra, kelapa, dan aneka tambang lainnya. Tentang kelapa, bahkan kita memiliki lagu “Rayuan Pulau Kelapa”. Betapa indahnya digambarkan di dalam lagu itu.
Kekayaan Indonesia yang luar biasa ini memang menjadi kebanggaan, namun demikian belum menjadi sumber daya peningkatan kesejahteraan masyarakatnya. Inilah yang masih menjadi pekerjaan rumah siapapun yang menjadi pemimpin bangsa ini dalam semua levelnya. Jepang dan Korea Selatan menjadi unggul dari sisi ekonomi sebab mengolah bahan setengah jadi menjadi produk jadi. Bahan besi setengah jadi diproduksi di Indonesia dan kemudian diekspor ke Jepang atau Korea Selatan dan kemudian setelah menjadi barang jadi kembali diimpor ke Indonesia, sehingga harganya menjadi berlipat-lipat dan hal itu menguntungkan pemerintah di kedua Negara. Ini sekedar contoh tentang bagaimana mekanisme perdagangan yang tidak menguntungkan pemerintah dan masyarakat Indonesia.
Saya bukan ahlinya untuk membahas tentang hal ini, akan tetapi saya kira yang lebih mendasar adalah merumuskan kebijakan agar bagaimana di dalam paket perdagangan internasional keuntungan itu berada pada bangsa Indonesia. Saya rasa paket-paket kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah tentu bertujuan agar pengembangan ekonomi masyarakat Indonesia makin baik di masa depan.
Sebagaimana yang menjadi tema di dalam peringatan Hari Kemerdekaan RI ke 71 “Indonesia Bekerja Nyata”, maka yang menjadi pekerjaan kita ke depan adalah bagaimana meningkatkan kekuatan infrastruktur untuk mendukung pengembangan ekonomi. Di sinilah arti penting dari upaya Presiden RI, Joko Widodo, untuk terus mengembangkan infrastruktur yang mendorong pertumbuhan ekonomi. Misalnya tol laut, pelabuhan laut, Bandar udara, jalan tol, waduk dan infrastruktur irigasi dan sebagainya untuk mendukung percepatan pembangunan ekonomi.
Perubahan paradigma pembangunan yang lebih mengarah kepada pemenuhan infrastruktur ini tentu dimaksudkan untuk tujuan pengembangan ekonomi. Oleh karena itu semua pimpinan Kementerian/Lembaga dan juga segenap komponen masyarakat juga harus mendukung program ini. Bagi kita, perubahan paradigma ini penting di dalam kerangka menjemput Indonesia ke depan, yang sebagaimana prakiraan para ahli di bidang ekonomi, bahwa Indonesia akan menjadi negara peringkat tujuh di dunia dengan percepatan pertumbuhan ekonomi.
Pencapaian ini tentu bukan sesuatu yang given akan tetapi harus melalui usaha tiada henti. Semua program harus diarahkan untuk menuju satu tujuan ini, yaitu peningkatan kesejahteraan masyarakat Indonesia.
Wallahu a’lam bi al shawab.

TUJUH BELAS AGUSTUS 2016 (1)

TUJUH BELAS AGUSTUS 2016 (1)
Rasanya baru kemarin kita merayakan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 70. Rasanya baru saja kita apel bersama seluruh Aparat Sipil Negara Republik Indonesia pada Kementerian Agama. Rasanya juga baru saja kita mengibarkan Sang Saka Merah Putih, dan ternyata hari ini kita kembali melakukannya untuk memoeringati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.
Perayaan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Indonesia yang ke 71 baru saja kita lakukan. Kita telah merdeka selama 71 tahun. Angka yang sesungguhnya memberikan gambaran bahwa kita telah lama merdeka. Rakyat ini telah selama 71 tahun merasakan bukan dalam penjajahan bangsa lain. Kita telah menjadi bangsa yang merdeka. Tentu merdeka dalam segala hal sebagaimana negara dan bangsa yang merdeka.
Dari sisi fisik kenegaraan dan kebangsaan tentu kita sudah lama menikmati kemerdekaan itu. Bangsa-bangsa penjajah sudah pulang ke negaranya masing-masing. Belanda dan Jepang yang pernah menjajah negeri ini sudah kembali ke negaranya sendiri. Mereka sudah tidak lagi memaksa kita untuk menuruti kehendaknya. Kita tentu sudah merdeka karena sudah berkesempatan untuk membangun negeri kita sendiri, mengatur negeri kita sendiri dan menuju cita-cita negeri yang dijanjikan oleh kemerdekaan itu sendiri.
Kita tentu sudah bangga sebab negeri ini sudah memasuki era modern dengan banyaknya gedung-gedung pencakar langit. Kita tentu juga sudah merasa nyaman karena semua barang konsumtif ada di tempat kita dan dapat diperoleh dengan mudah. Apa saja sudah ada di tempat kita ini.
Jika kita hidup di Jakarta atau Surabaya, maka lihatlah semakin banyaknya pembangunan gedung-gedung bertingkat, hotel-hotel bintang lima, kota baru dengan rumah-rumahnya yang mewah, pantai yang menjadi perumahan-perumahan indah dan juga semakin banyaknya mall-mall modern sebagaimana di negeri maju lainnya. Rasanya kita sudah berada di Chicago atau Washington DC atau Melbourne atau di Den Haag.
Negeri ini memang sudah menapaki kemajuan dalam banyak hal. Kita sudah menjadi bagian dari Group 20 atau G20. Yaitu Negara-negara dengan tingkat kemajuan ekonomi yang memadai. Di Asia kita sudah menjadi lima Negara yang masuk dalam G20, yaitu India, Cina, Jepang, dan Korea Selatan. Hal ini mengindikasikan bahwa di dalam percaturan global, bangsa Indonesia sesungguhnya sudah termasuk yang diperhitungkan.
Sesungguhnya negeri ini sudah mengalami kemajuan dalam banyak hal. Misalnya dalam perkembangan ekonomi, yang juga terus membaik. Pertumbuhan ekonomi juga semakin baik dibanding dengan tahun-tahun sebelumnya. Laju pertumbuhan economi membaik dibandingkan dengan triwulan keempat 2015 dan triwulan pertama tahun 2016, dari 4,9 persen menjadi 5,1 persen. Tren ini tentu akan semakin baik ke depan. Tentunya masih ada harapan tentang perkembangan ekonomi national.
Pertanyaan yang sering dikemukakan adalah apakah perkembangan Indonesia menuju kepada tren ke arah positif ini realitas atau semu belaka. Pertanyaan ini yang selalu berkumandang di tengah upaya untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang makin baik. Di sisi lain, juga selalu ada perdebatan yang tidak ada ujung akhirnya tentang kesejahteraan rakyat sebagai akibat pertumbuhan ekonomi dimaksud.
Di kalangan pemerintah tentu berpedapat bahwa melalui pertumbuhan ekonomi yang baik tentu akan berimplikasi pada kesejahteraan rakyat. Pembangunan tentu juga akan berjalan dengan memadai. Melalui pertumbuhan ekonomi yang diupayakan terus menerus melalui paket-paket kebijkan ekonomi tentu akan berakibat pada peningkatan lapangan kerja dan tentu juga secara berantai akan berpengaruh terhadap kesejahteraan rakyat secara umum.
Namun di kalangan organisasi non pemerintah maka selalu melihat hal-hal yang riil di tengah kehidupan masyarakat. Mereka selalu menyuarakan bahwa pembangunan ekonomi tidak mengenai sasaran rakyat banyak. Ada gap antara pembangunan ekonomi dengan kenyataan masih tingginya angka kemiskinan absolut di tengah masyarakat. Mereka nyaris tidak percaya bahwa angka kemiskinan yang dilansir oleh pemerintah sebesar 10 persen adalah angka riil. Makanya, mereka selalu menafsirkan bahwa pembangunan ekonomi di Indonesia ini masih belum tepat sasaran. Bagi mereka yang berkembang adalah kaum konglomerat, sedangkan rakyat yang sebenarnya mitra pembangunan masih berada di garis pinggiran.
Kita memang bisa berdebat dengan logika kita masing-masing. Akan tetapi satu hal yang pasti bahwa tidak ada pimpinan negara yang tidak menginginkan kesejahteraan bagi masyarakatnya. Makanya, upaya yang dilakukan oleh pemerintah sekarang ini tentu juga harus dimaknai sebagai upaya optimal yang dilakukan oleh pemerintah untuk meningkatkan kesejehtaraan rakyat.
Wallahu a’lam bi al shawab.

KERUKUNAN, HARMONI DAN SLAMET

KERUKUNAN, HARMONI DAN SLAMET
Saya memperoleh kesempatan yang sangat istimewa untuk hadir pada acara Peringatan Hari Tridharma Indonesia tahun 2016. Acara ini dihadiri oleh ratusan Jamaah Buddha Tridharma dari seluruh Indonesia.
Acara yang digelar di Grand Galaxi Park, Bekasi, 14/08/2016, memang sangat special, sebab diadakan setiap tahun. Hadir dalam acara ini, Sekretaris Jenderal Bimbingan Masyarakat Budha, para Pandita, Para Rama dan Ramani, Pimpinan Majelis Buddha Tridharma dan juga para Pimpinan Generasi Muda Agama Buddha.
Majelis Agama Buddha Tridharma ini diperingati untuk mengenang jasa Almarhum Bapak Kwee Tek Hoay, yang dianggap dan diresmikan sebagai “Bapak Tridharma Indonesia”. Berkat beliaulah Tridharma menjadi besar dan berkembang di Indonesia. Beliaulah yang dianggap sebagai peletak dasar Tridharma Indonesia. Melalui kerja dan karya nyata beliau maka tridharma sebagai sekte dalam agama Buddha memperoleh pengakuan dan berkembang hingga saat ini.
Beliau tidak hanya dikenal di kalangan masyarakat Buddha Indonesia akan tetapi juga di kalangan sastrawan. Beliau dikenal sebagai sastrawan Tionghwa Melayu. Banyak karyanya yang hingga saat ini masih dibaca dan dilestarikan. Tulisan-tulisan Beliau selain dicetak menjadi buku dan juga tersebar di berbagai media, misalnya Majalah Moestika Dharma, dan Sam Kauw Goat Poo. Baginya, sastra merupakan alat untuk menyebarkan dharma.
Di dalam kesempatan ini, saya menyampaikan tiga hal penting, yaitu:
Pertama, apresiasi dan ucapan selamat atas terselenggaranya upacara peringatan Hari Tridharma Indonesia yang diselenggarakan dengan sangat meriah dan dihadiri oleh semua tokoh di dalam Buddha Tridharma. Bahkan para pendiri dan pengembang awal Tridharma Indonesia juga hadir di tempat ini. Ucapan selamat juga atas telah ditetapkannya Guru Kwee Tek Hoay sebagai pendiri atau Bapak Tridharma Indonesia. Kepada seluruh panitia baik pusat maupun daerah sudah selayaknya diapresiasi karena keberhasilannya menyelenggarakan acara ini. Saya yakin bahwa yang hadir pada upacara ini adalah penerus dari Guru Kwee Tek Hoay dan akan menjadikan pemikirannya sebagai pedoman di dalam kehidupan di dunia ini.
Kedua, harmoni sebagai inti dari kehidupan. Saya mengapresiasi terhadap tema upacara peringatan ini, yaitu “Harmoni dalam Tridharma”. Di dalam falsafat hidup masyarakat Nusantara dikenal ada tiga hal mendasar, yaitu: rukun, harmoni dan selamat. Tiga hal ini merupakan falsafat hidup masyarakat Nusantara yang telah teruji keberadaannya semenjak dahulu kala.
Di dalam bahasa Jawa dinyatakan “rukun agawe sentosa” artinya bahwa kerukunan akan menjadikan kesentosaan. Kata sentosa itu lebih hebat dibanding kuat. Kata sentosa itu mengandung kekuatan fisik dan rohani. Jadi orang yang memperoleh kesentosaan berarti telah memiliki kekuatan fisik dan rohani. Makanya, yang harus dicari di dalam kehidupan ini adalah kesentosaan dan bukan hanya kekuatan. Orang yang telah memperoleh kesentosaan berarti telah memperoleh pencerahan kekuatan lahir dan batin.
Rukun di dalam kehidupan ini yang akan mengantarkan kesentosaan di dalam kehidupan. Maka rukun adalah prasyarat untuk memperoleh kesentosaan. Jika di dalam suatu masyarakat tidak didapatkan kerukunan maka kesentosaan juga akan hilang. Itulah sebabnya filsafat kehidupan ini kemudian dilanjutkan “congkrah agawe bubrah” atau konflik akan membuat kita binasa. Jadi apapun yang terjadi konflik tidak akan membawa kebaikan, tetapi sebaliknya akan membawa kepada kerusakan. Tidak hanya kerusakan fisik tetapi juga kerusakan rohani. Bubrah itu lebih dari kehancuran. Sebab kata hancur juga hanya bercorak fisikal, sedangkan bubrah juga berimplikasi pada kerusakan rohaniyah. Orang bisa menjadi sedih, susah, sengsara dan bisa melupakan Tuhan.
Lalu yang tidak kalah penting ialah harmoni atau keselarasan. Harmoni di dalam konsep hidup orang Nusantara tidak hanya selaras antara satu dengan yang lain, akan tetapi justru keselarasan antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia dan manusia dengan alam seluruhnya. Harmoni lebih kompleks ketimbang keselarasan dalam arti sempit, keselarasan antara manusia satu dengan lainnya. Keselarasan antara makro dan mikro kosmos antara dunia kecil dengan dunia besar, keselarasan antara kehidupan duniawi dan kelanjutannya di alam akherat. Kehidupan dunia adalah jembatan untuk menuju kehidupan akherat. Semua bisa memperoleh karma yang baik kalau di dalam kehidupannya mengembangkan keselarasan yang komplit ini.
Jika dua hal itu bisa dilakukan maka konsekuensinya akan memperoleh keselamatam. Inti kehidupan adalah keselamatan tersebut. Jika manusia berada di dalam kerukunan, terus mengembangkan harmoni maka hasilnya adalah keselamatan. Di dalam alam pikiran masyarakat Nusantara, maka keselamatan juga bukan hanya keselamatan lahir atau fisikal tetapi juga keselamatan batin atau spiritual. Jadi masyarakat Nusantara sangat menghargai terhadap jalan spiritual, karena lewat jalan itu maka keselamatan yang hakiki akan bisa diperoleh. Keselamatan hanya bisa diperoleh jika semua manusia mengembangkan kehidupan yang rukun dan harmoni.
Ketiga, teladani Guru Kwee Tek Hoay untuk bekal kehidupan yang rukun, harmoni dan selamat. Makanya, upacara seperti ini jangan hanya dipandang sebagai upacara ritual tahunan dengan menghadirkan banyak orang, akan tetapi yang lebih penting adalah bagaimana menghadirkan spiritualitas yang dicontohkan oleh Guru Kwee Tek Hoay di dalam merajut kehidupan ini.
Saya berkeyakinan bahwa banyak hal yang diajarkan oleh Guru Kwee Tek Hoay di dalam membangun kebersamaan di dalam kehidupan ini tanpa memandang seseorang berasal dari mana, suku apa yang bagaimana tingkat kekayaannya. Saya yakin beliau orang yang menghargai pluralitas dan multikulturalitas. Dan atas nama pluralitas dan multikulturalitas itu, maka merajut kehidupan yang rukun, harmoni dan slamet sungguh akan bisa diperoleh.
Wallahu a’lam bi al shawab.

MAKNA OPEN RECRUITMENT BAGI CALON PEJABAT

MAKNA OPEN RECRUITMENT BAGI CALON PEJABAT
Dalam bulan ini, Kementerian Agama menyelenggarakan seleksi terbuka untuk para pejabat di lingkungan Kementerian Agama. Sesuai dengan Undang-Undang No. 5 tahun 2014, bahwa bagi para calon pejabat, terutama untuk Pejabat Tinggi Pratama, Madya dan Utama harus menggunakan seleksi terbuka. Amanah Undang-Undang ini yang sekarang sedang dilaksanakan untuk memperoleh pejabat pada JPT Pratama di Kementerian Agama.
Jabatan sesungguhnya adalah amanah. Jabatan tentu bukan sebagai sesuatu yang given atau terberi. Akan tetapi jabatan merupakan hasil dari akumulasi prestasi yang terukur di dalam kehidupan birokrasi. Sebagai amanah, tentu jabatan mengandung tanggung jawab baik bagi diri sendiri, masyarakat, negara dan bahkan Tuhan Yang Maha Esa.
Banyak orang yang beranggapan bahwa jabatan adalah prestise atau harga diri. Makanya harus diraih dengan cara apapun. Padahal sesungguhnya jabatan tentu merupakan amanah yang diberikan oleh negara kepada seseorang dan kemudian harus dipertanggungjawabkan secara berantai tersebut.
Bagi orang yang menganggap bahwa jabatan adalah harga diri, maka dia akan melakukan berbagai upaya agar jabatan itu bisa diraihnya. Tidak akan memperdulikan bagaimana cara memperolehnya. Dan ketika jabatan itu sudah diperolehnya, maka jabatan itu akan dipertahankan dengan cara apapun juga. Dia tidak akan memperdulikan cara-cara yang ditempuhnya itu legal atau illegal, haram atau halal atau bahkan bermoral atau tidak bermoral, yang penting jabatan itu didapatkannya dan terus di dalam genggamannya.
Jika ada di antara kita yang berpikiran seperti itu, maka di sinilah awal mula dari semua masalah yang terjadi di dunia birokrasi. Adanya anggapan bahwa para pejabat di negeri ini melakukan berbagai penyimpangan tentu salah satunya disebabkan oleh perilaku seperti ini. Oleh karena itu, marilah kita hindari pikiran jabatan sebagai harga diri atau prestise. Marilah kita beranggapan bahwa jabatan adalah prestasi yang ketika diraih maka mengandung pertanggungjawaban berantai tersebut.
Kita harus berkeyakinan bahwa jabatan mengandung nikmat tetapi juga niqmat. Mengandung nikmat karena setiap jabatan memiliki fasilitas yang lebih dibanding dengan yang bukan pejabat. Namun demikian jabatan juga berpotensi niqmah atau bisa membawa masalah. Misalnya, peluang untuk melakukan tindakan yang tidak sesuai dengan agama. Oleh karena itu, jabatan selalu mengayuh di antara dua sisi ini, apakah akan lebih cenderung kepada kenikmatan atau keniqmahan.
Bagi mereka yang beranggapan bahwa jabatan adalah prestasi, maka dia akan melakukan tindakan yang relevan dengan regulasi dan perundang-undangan. Dia akan menggunakan pertimbangan akal budi, pertimbangan manfaat bagi umat dan pedoman syariah yang diyakininya. Orang yang seperti ini pastilah akan menggunakan seluruh jiwa dan raganya untuk mengembangkan institusi di mana yang bersangkutan bekerja.
Melalui open recruitment yang benar, saya berkeyakinan bahwa akan didapatkan pejabat yang memiliki prestasi yang baik. Sesungguhnya open recruitment bukan hanya sekedar mode atau cara untuk berbeda di dalam proses penentuan pejabat, akan tetapi melalui proses recruitment yang benar tentu akan dihasilkan pejabat yang kompeten.
Melalui tahapan seleksi administrasi, lalu seleksi karya tulis atau makalah dan dilanjutkan dengan assessment yang ketat dan terakhir dengan wawancara oleh panitia seleksi nasional, maka saya berkeyakinan bahwa akan didapatkan pejabat yang kompeten dan professional. Melalui seleksi yang bertahap dengan penilaian yang terukur, maka yang berhasil memasuki tahapan berikutnya adalah benar-benar mereka yang teruji.
Bisa digambarkan dari sebanyak 276 yang memasukkan namanya di dalam e-seleksi, maka melalui verifikasi yang ketat didapatkan sebanyak 167 orang. Artinya ada seseorang yang masuk dua kali di dalam e-seleksi, sehingga jumlahnya membengkak seperti itu. Lalu, dari sebanyak 167 orang yang terdaftar berdasarkan berkas yang masuk ke panitia seleksi, maka melalui proses penyaringan administrasi yang dilakukan oleh pansel ternyata hanya terdapat sebanyak 88 orang yang lolos untuk tahap ke dua. Mereka inilah yang kemudian mengikuti seleksi penulisan makalah dan assessment.
Hasil penulisan makalah dan assessment akan menjadi dasar untuk menentukan berapa jumlah mereka yang dapat lolos pada tahap berikutnya. Mereka yang lolos itulah kemudian akan mengikuti tahap seleksi wawancara. Dari tahap akhir inilah kemudian akan ditentukan sebanyak tiga orang pada masing-masing jabatan. Jadi akan lolos sebanyak 42 orang yang akan dikirim ke Komisi Aparatur Sipil Negara (KASN) untuk memperoleh persetujuan. Dari mereka yang memperoleh persetujuan ini, maka menteri kemudian menetapkan siapa yang akan menjadi pejabat pada jabatan tinggi pratama atau eselon dua.
Bisa dibayangkan bahwa dengan recruitment yang ketat seperti ini, maka pasti akan dihasilkan pejabat yang profesional dan kompeten. Maka, kita tentu berharap bahwa transparansi dan akuntabilitas di dalam seleksi jabatan akan dapat dihasilkan pejabat yang terbaik.
Wallahu a’lam bi al shawab.