Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

KE ARAB SAUDI LAGI: EVALUASI HAJI TAHUN 2017 DI MADINAH (9)

KE ARAB SAUDI LAGI: EVALUASI HAJI TAHUN 2017 DI MADINAH (9)
Hari Kamis Pagi, saya dan kawan-kawan Daker Bandara Jeddah dan Madinah serta Daker Madinah menyelenggarakan acara evaluasi mengenai pelaksanaan haji tahun 2017 di Wisma Haji Indonesia di Madinah. Hadir di acara ini adalah saya (Nur Syam, Sekjen Kemenag), Pak Dr. Ali Rahmat (Karoren), Pak Syihabuddin, Amin Handoyo (Kadaker Madinah), Pak Arsyad Hidayat (Kadaker Bandara), Pak Slamet, Pak Arfi, Pak Hariyanto dan jajaran PPIH di Madinah.
Rapat evaluasi ini tentu membahas beberapa hal yang terkait dengan penyelenggaraan haji tahun 2017 untuk Arab Saudi maupun secara khusus Daerah Kerja Bandara Jeddah dan Madinah maupun Daerah Kerja Madinah. Rapat yang sangat berarti di dalam kerangka untuk membedah lebih awal tentang beberapa problem yang dihadapi oleh PPIH di dalam pelaksanaan haji.
Rapat dimulai dengan pemaparan Pak Amin Handoyo tentang penyelenggaraan haji tahun 2017 dan dilanjutkan oleh Pak Arsyad. Tidak banyak berbeda dengan pemaparan Pak Dumyati (Ketua PPIH) terutama yang menyangkut data-data deskriptif tentang jumlah jamaah haji yang datang ke tanah Suci, dan juga yang datang ke Madinah dalam rangka pelaksanaan shalat arbain. Beberapa negara yang masih menyelenggarakan shalat Arabin adalah Indonesia dan Malaysia, sedangkan Turki dan lainnya sudah tidak lagi menjalankan shalat Arbain. Jadi ke Madinah untuk berziarah ke Makam Nabi Muhammad Saw saja. Kita merasa sangat bersyukur sebab nyaris seluruh jamaah haji kita bisa melaksanakan shalat arbain, yang bagi jamaah haji Indonesia nyaris menjadi ritual “wajib”. Wajib dalam konteks mereka akan menempuh shalat arbain, dan jika tidak mencapai hal itu dianggap kurang di dalam ritual haji secara keseluruhan.
Baik Pak Amin maupun Pak Arsyad keduanya menyinggung persoalan yang dirasakan oleh PPIH dalam kaitannya dengan pelayanan haji. Pertama, terkait dengan penambahan jamaah haji yang tidak diikuti oleh pertambahan petugas haji. Bahkan lebih parah lagi bahwa jamaah haji perempuan berjumlah 55,62 persen dan jamaah laki-laki sebanyak 44,38 persen. Akan tetapi jumlah petugas haji perempuan sangat tidak berimbang. Misalnya di Daker Bandara, jumlah petugas haji perempuan sangat sedikit, padahal mereka yang sesungguhnya melayani para jamaah haji perempuan, baik yang sudah udzur maupun yang sehat, yang tua maupun yang muda. Ketidakseimbangan jumlah petugas ini tentu berakibat jamaah perempuan tidak dapat dilayani secara maksimal.
Kedua, screening haji di Arab Saudi makin ketat. Sehingga banyak hal yang dirasakan bisa menghambat terhadap proses imigrasi. Misalnya ketat di dalam melakukan pemeriksaan terhadap barang bawaan jamaah. Masih ada jamaah haji yang membawa barang-barang yang tidak diperkenankan lagi sekarang ini.
Ketiga, pembatasan waktu tunggu di plaza Bandara KIAA Jeddah. Sebagai akibat pembatasan waktu itu, maka banyak jamaah kita yang “diusir” agar segera meninggalkan bandara. Padahal banyak di antara jamaah kita yang mandi, wudlu, pakaian ihram dalam antrian panjang yang memerlukan waktu lebih dari yang diperlukan. Makanya, ke depan diperlukan suatu strategi menggunakan pakaian ihram saat di bandara masing-masing, misalnya di Surabaya, Jakarta dan lain-lain. Sekedar memakai pakaian ihram. Adapun niat hajinya dilakukan di Bandara Jeddah. Bahkan PPIH juga diultimatum agar ke depan tidak lagi seperti sekarang.
Keempat, jamaah kloter terpisah yang juga menjadi penyebab kesulitan di dalam memisahkan koper-koper yang dibawanya. Ada yang kopernya baru bisa ditemukan dalam waktu 5 (lima) hari. Tentu hal ini akan menyebabkan beban psikhologis bagi jamaah haji tersebut. Pisah pemondokan dari jamaah dalam satu kloter ternyata memang bisa menjadi penyebab masalah-masalah lainnya. Memang sewa hotel di Madinah itu berbeda dengan di Makkah. Jika di Makkah menggunakan system full time musim haji, maka di Madinah menggunakan system blocking time musim haji. Akibatnya, di dalam satu hotel terdapat sejumlah jamaah haji dari negara lain.
Kelima, masih ada catering yang menyediakan makanan basi. Hal ini tentu cepat teratasi. Tetapi prestasi yang bagus juga ada misalnya penyediaan catering yang bisa dimasukkan ke dalam plaza bandara.
Keenam, pelayanan kesehatan melalui Yankes Mobile. Hal ini menyulitkan sebab di saat ada jamaah yang memerlukan penanganan kesehatan lalu pada saat itu tidak ada yankes mobilenya. Tahun lalu, pelayanan kesehatan dilakukan di KIAA Jeddah, sehingga memudahkan.
Hal-hal ini yang memerlukan penyelesaian terutama terkait dengan pentingnya peningkatan pelayanan haji. Dan di Jakarta nanti harus diperoleh jalan pemecahan atau solusi terkait dengan evaluasi haji tahun 2017.
Wallahu a’lam bi al shawab.

KE ARAB SAUDI LAGI; SITUS MASJID NABI DI TAIF TAK TERAWAT (8)

KE ARAB SAUDI LAGI; SITUS MASJID NABI DI TAIF MEMPRIHATINKAN (8)
Saya tentu merasa sangat senang bisa mengunjungi Kota Thaif yang dingin dan indah di tengah gurun tandus di Arab Saudi. Kota ini tidak besar dan juga tidak sebagaimana kota Makkah, Jeddah atau Madinah yang dipenuhi dengan hutan beton, bangunan hotel tinggi menjulang ke langit.
Thaif hanyalah kota kecil tetapi menjadi tujuan wisata bagi warga Arab yang berkeinginan untuk menikmati hawa dingin pegunungan. Makanya, lalu lintas dari dan ke Thaif juga ramai. Banyak mobil-mobil pribadi yang lalu lalang menuju ke Thaif baik dari Riyadh maupun dari Mekkah al Mukarramah.
Thaif memiliki sejarah hebat di dalam proses Islamisasi Arab Saudi, sebab di sinilah pernah terjadi peristiwa Nabi Muhammad saw berdakwah dan ditolak oleh warga Thaif. Kejadian ini yang digambarkan oleh Hadits Nabi Muhammad sebagaimana diuraikan oleh Imam Bukhori dan Muslim. Hadits yang menggambarkan kesabaran Nabi Muhammad saw sebagai Nabi dengan gelar Ulul Azmi.
Jalan menuju ke Thaif pada zaman Nabi Muhammad saw tentu adalah jalan setapak. Jalan yang tidak sebagaimana jalan tol sekarang. Saya berkeyakinan bahwa jalan menuju ke Thaif adalah jalan masa lalu yang merupakan jalan kaum suku yang masih sederhana. Mungkin juga sudah ada jalan setapak yang menghubungkan antara mekah dan Thaif dan juga wilayah lain. Akan tetapi tentu jalan yang berkelok dan mendaki atau menurun dari gunung ke gunung. Semua tentu masih serba sulit dan berliku.
Nabi Muhammad saw tentu juga melalui jalan seperti itu untuk sampai ke Thaif. Terlepas bahwa Nabi Muhammad saw tentu memperoleh kemudahan dari Allah, sebagaimana di setiap perjalanannya selalu diikuti dengan awan yang memayunginya, maka kita juga berkeyakinan bahwa Nabi Muhammad saw juga memperoleh kemudahan untuk sampai ke Thaif. Hanya Nabi dan Allah yang mengetahui tentang hal ini.
Di Thaif Nabi Muhammad saw memperoleh perlakuan yang menyakitkan. Dilempar batu, dilempar kotoran dan juga dicaci maki. Tempat Nabi Muhammad saw tersebut lalu ditandai dengan didirikannya masjid Nabi Muhammad di sebelah kanan jalan
Tol menuju ke Mekkah atau sisi kiri dari arah jalan tol menuju ke Thaif dari Mekkah.
Mungkin masjid Nabi Muhammad saw itu sama dengan mushalla di Indonesia. Ukurannya hanya kecil saja, dengan dua pintu luar dan pintu dalam dan terdapat mimbar untuk berkhotbah. Bangunan segi empat tersebut sangat sederhana, dan menilik terhadap kayu di pintu depan, sepertinya pernah terbakar. Masih ada sisa-sisa bekas kebakaran yang dapat dilihat di masjid ini.
Dinding masjid ini juga sudah kelihatan rapuh dan tidak terawat. Atapnya yang terbuat dari kayu juga sudah jebol dan rusak cukup parah. Saya sempat melihat secara mendetil terhadap kerusakan masjid Nabi Muhammad saw ini. Bagi saya bukan menandai masa lalu yang tidak baik, tetapi yang sangat mendasar adalah bahwa masjid Nabi Muhammad saw ini perlu dilestarikan. Jika di Indonesia, maka akan bisa menjadi situs terhormat, karena di sini ada peristiwa sejarah yang tentu akan bisa dikenang. Bukan untuk melihat masa lalu yang kelam, tetapi untuk pelajaran bagi generasi mendatang bahwa di tempat ini pernah terjadi peristiwa sejarah Islamisasi.
Sungguh masjid Nabi Muhammad saw di Thaif ini memerlukan perhatian khusus, terutama dari otoritas Saudi Arabia. Sekurang-kurangnya ialah melakukan perbaikan terhadap atapnya yang jebol, memperbaiki lantainya yang kumuh dan juga sajadah-sajadah yang kotor tidak terawat. Bagi kita, masjid ini adalah monument penggalan sejarah Islam yang mesti dilestarikan.
Dalam jarak 500 M di sebelah sisi jalan kanan menuju ke Thaif, juga dijumpai Masjid Sayyidina Ali Karramahullahu wajhah. Kondisi masjid Sayyidina Ali ini lebih baik. Ada menaranya, dan juga kelihatan agak terawat. Masjid ini tentu didirikan untuk mengenang Thaif sebagai tempat perjuangan Nabi Muhammad saw dan menjadi masjid yang di kala itu dianggap baik. Masjid ini dindingnya juga mulai rapuh tetapi masih lebih baik dibandingkan dengan masjid Nabi Muhammad saw.
Menurut saya, 2 (dua) masjid ini harus direnovasi dengan tidak menghilangkan ciri khasnya, sehingga keaslian masjid ini akan tetap terjaga. Kita tentu merasa kurang nyaman melihat situs peninggalan masa lalu ini dalam keadaan yang tidak terawat dan bahkan cenderung diabaikan.
Sebagai bagian dari umat Islam yang menyayangi terhadap situs-situs penting di dalam proses islamisasi di mana saja, maka saya merasakan betapa tindakan kita terhadap situs sejarah tersebut kurang optimal. Makanya, tidak ada kata lain, bahwa kedua situs tersebut harus dibenahi dan dipelihara sebagai bagian sejarah umat Islam yang tidak boleh terlupakan.
Wallahu a’lam bi al shawab.

KE ARAB SAUDI LAGI: RIHLAH KE THAIF (7)

KE ARAB SAUDI LAGI: RIHLAH KE THAIF (7)
Meskipun saya telah sebanyak 5 (lima) kali hadir di Arab Saudi, 2 (dua) kali ibadah haji, dan 3 (tiga) kali melakukan tugas evaluasi dan penjemputan kloter akhir Jamaah Haji Indonesia, akan tetapi baru kali ini saya menyempatkan diri untuk datang ke Thaif, sebuah kota bersejarah dalam historical evidence tentang dakwah Nabi Muhammad saw.
Thaif, merupakan daerah yang pernah dikunjungi Nabi untuk berdakwah dan diabadikan di dalam Al Qur’an, Surat Az Zukhruf, ayat 31. Di kala Nabi Muhammad saw berdakwah di Thaif ini, maka penduduk menolaknya dan bahkan kemudian Beliau dilempari batu hingga berdarah dan bahkan juga dilempari dengan kotoran. Ketika Malaikat Jibril mengetahui peristiwa ini, maka Malaikat Jibril menyampaikan kepada Muhammad saw untuk menghancurkan umat ini, akan tetapi Nabi Muhammad saw justru menyatakan bahwa Beliau diutus untuk membawa kerahmatan bagi umat manusia dan menunjukkan manusia kepada jalan kebenaran dan memiliki generasi penerus yang bertauhid kepada Allah, (HR. Bukhori dan Muslim).
Episode ini diceritakan di dalam dengan sangat indahnya, sebagai gambaran bagaimana akhlak Nabi Muhammad saw sebagai utusan Allah bukan untuk membawa kekerasan kepada umat manusia. Bahkan ketika dirinya disakiti dengan lemparan batu dan kotoran, akan tetapi Nabi Muhammad saw memiliki tingkat kesabaran yang luar biasa. Beliau memang diutus Allah untuk kebaikan manusia dan bukan sebaliknya.
Thaif adalah kota pegunungan dengan jarak 67 KM atau 1 (satu) jam 45 menit perjalanan dari Mekkah. Thaif terletak di sebuah wilayah pegunungan Asir dan Hada di Arabia yang tandus, tetapi tentu berhawa dingin dan segar, sebab memang hawa pegunungan. Jika di Jakarta mungkin seperti puncak. Hanya bedanya di Puncak dengan pepohonan yang rindang dan asri, sedangkan di Thaif tentu adalah gunung padang pasir yang kering kerontang, dan hanya tetumbuhan perdu khas gurun saja yang hidup di sini.
Saya tentu tidak sempat menghitung berapa jumlah gunung-gunung selama perjalanan ke Thaif ini. yang jelas bahwa ada sepuluh lebih puncak gunung yang terlihat selama perjalanan. Semua adalah susunan batu dan pasir serta tanah kering berpasir yang sudah berdiri dalam ribuan tahun yang lalu. Semua itu menggambarkan betapa lingkungan di sekitar Thaif adalah dataran tinggi yang tidak ramah bagi kehidupan, termasuk kehidupan manusia. Sejauh yang kita lihat di perjalanan hanya burung dara, anjing, kucing dan kera saja yang hidup di sini. Penglihatan ini tentu saja berbeda dengan ahli riset tentang binatang gurun yang bisa hidup di sini, sesuai dengan yang disiarkan televisi dalam paket acara Discovery Channel.
Untuk mencapai Kota Thaif yang indah, tentu sekarang tidak sulit. Sepanjang jalan menuju Thaif telah menjadi jalan tol yang sangat luar biasa. Saya membayangkan berapa trilyun riyal yang dikeluarkan oleh Pemerintah Saudi untuk pembiayaan tol sepanjang Mekkah ke Thaif. Jalan tol yang membelah dan berhimpitan atau berada di bibir gunung, berkelok-kelok, berpagar kuat dan di bawahnya terdapat jurang menganga yang sangat dalam. Pemerintah Saudi tidak tanggung-tanggung untuk menjadikan perjalanan menuju Thaif sebagai perjalanan yang menyenangkan.
Jika di Sumatera Barat ada Kelok Sembilan yang indah, maka di perjalanan ke Thaif ini tidak terhitung berapa jumlah keloknya. Tikungan-tikungan itu mengikuti pinggir gunung yang secara sengaja dijadikan sebagai badan jalan. Ketika kita berada di bawah lalu mendongak ke atas ternyata jalan yang sudah kita lewati itu berada di ketinggian bibir gunung yang sangat tinggi. Meskipun indah tetapi ada juga kengerian menyusuri jalan tol di sepanjang jalan ke dan dari Thaif ini. Seandainya saya diminta untuk mengendarai sendiri di jalan tol ini rasanya saya tidak berani. Untunglah Pak Sudi –yang selalu pakai kopyah—adalah sopir yang hebat dan paham betul medan-medan sulit di Arab Saudi.
Di Thaif, saya sempatkan untuk shalat sunnah Tahiyatal Masjid. Masjid ini diberi nama Masjid Abdullah bin Abbas. Masjid yang sangat unik dengan dinding dari batu-batu alam berwarna kekuningan tua dan indah. Masjid ini memiliki tiang atau pilar yang sangat banyak. Jika kita di dalamnya, maka kita akan tahu kerapian, besaran tiang-tiang dan begitu banyaknya. Pak Syihab sudah pernah ke sini beberapa kali dan Pak Ali juga sudah pernah ke sini. Kata Pak Ali, “masjid ini baru saja dibangun sebab beberapa tahun yang lalu tidak seperti ini bangunan luarnya.”
Menjelang masuk ke Thaif terdapat tempat rekreasi, ada hiburan naik onta yang dihias, ada makanan jagung bakar, dan juga pedagang buah-buahan yang sangat komplit. Ada banyak kendaraan yang berhenti untuk membeli buah-buahan, baik untuk dimakan sendiri ataupun dibawa pulang. Ada banyak buah-buahan dijual, akan tetapi yang kita kenal hanyalah jeruk, anggur, delima, mangga, dan lain-lain.
Hawa yang dingin dan angin sepoi-sepoi tentu membuat orang kerasan berkunjung di Thaif ini. Di depan masjid Abdullah bin Abbas juga terdapat beberapa hotel yang tentu disediakan bagi orang yang akan menginap di Thaif. Sayangnya karena waktu yang terbatas, sehingga kami tidak bisa lebih lama menikmati hawa dingin di dataran tinggi Thaif. Kami harus segera kembali ke Mekkah, agar esok pagi bisa shalat jamaah Shubuh dan thawaf wada’.
Kami kembali ke Mekkah dengan menyusuri jalan tol indah sepanjang Thaif ke Mekkah. Saya marasakan bahwa pemerintah Saudi Arabia telah merancang pembangunan jalan tol yang hebat ini. Dan jalan tol Thaif yang indah itu hanya ada di Saudi Arabia.
Wallahu a’lam bi al shawab.

KE ARAB SAUDI LAGI; PERLU JUGA UMRAH (6)

KE ARAB SAUDI LAGI; PERLU JUGA UMRAH (6)
Rasa syukur tentu menyelimuti hati saya, di saat saya bisa melakukan ibadah umrah. Saya, Pak Ali, Pak Syihab, Jimi, Haryanto, Slamet dan Arfi bersama-sama berangkat dari Jeddah menuju Mekkah. Kita berangkat jam 03. 00 WAS dan sampai tepat menjelang subuh. Thawaf dulu, lalu shalat subuh dan kemudian sa’i. Alhamdulillah semua berjalan lancar. Pak Ali kita tunjuk sebagai imam al umrah. Suatu istilah baru yang kita sepakati. Demokratis juga.
Begitu memasuki pintu menuju Ka’bah, tiba-tiba saja ada perasaan yang haru sebab bisa juga kembali melihat Ka’bah yang agung, sebagai pusat peribadahan umat Islam sedunia. Keharuan itu tentu terkait betapa banyaknya umat Islam di Indonesia bahkan dunia yang tidak bisa menyaksikan keagungan Ka’bah dengan mata kepalanya sendiri dan dari jarak dekat. Subhanallah, Maha Suci Allah yang menggerakkan kaki hambanya untuk melihat symbol keagungannya.
Tanpa terasa mengalir air mata keharuan yang muncul dari hati disebabkan oleh perjumpaan kembali dengan Ka’baitullah, rumah Allah yang suci dan disucikan. Sebuah batu hitam yang didirikan oleh Nabiyullah Ibrahim dan Nabiyullah Ismail ini menjadi saksi sejarah tentang bagaimana kepatuhan dan ketaatan hambanya kepada Allah azza wa jalla. Sungguh saya merasa bahwa hanya kehendak Allah semata yang mengantarkan kaki bisa ke tempat ini.
Saya menjadi terharu sebab di kala akan berangkat ada kegalauan terkait dengan banyak hal. Ada tugas-tugas kantor, ada keluarga, ada banyak hal yang dipikirkan. Saya juga nyaris mengundurkan jadwal keberangkatan saya ke Mekkah itu, dari Ahad ke Selasa, dengan harapan hari Senin dan Selasa pagi masih bisa menyelesaikan tugas-tugas kantor. Tetapi isteri saya mendorong agar saya berangkat saja, untuk mendoakan semuanya. Subhanallah, hari Selasa pagi setelah Senin sore melakukan rapat di Kantor TUH, saya bisa kembali melakukan ibadah umrah yang menjadi keinginan sekian banyak umat Islam di dunia.
Di tengah waiting list untuk berangkat Haji, maka Umrah menjadi pilihan terdekat. Makanya jumlah jamaah Umrah dari Indonesia itu membludak luar biasa. Bayangkan dalam setahun bisa 800 ribu jamaah Umrah yang melakukan ibadah ini. Makanya, perkembangan jumlah jamaah umrah dari tahun ke tahun juga semakin meningkat. Demikian pula jumlah PPIU yang bergerak di dalam bisnis Umrah juga semakin banyak saja jumlahnya.
Sebagai perjalanan mengenang sejarah Nabi Ibrahim dan Ismail dan juga perjuangan Siti Hajar untuk menemukan sumur Zamzam, maka peristiwa umrah saya rasakan sebagai suatu peristiwa yang sangat luar biasa. Bagaimana seorang perempuan, Siti Hajar, seorang diri dengan bayi kecilnya, Ismail, berjuang untuk menemukan air yang bisa menghidupinya. Dan dengan ditemukannya sumur Zamzam, maka itu menjadi berkah yang luar biasa bagi umat Islam untuk selalu merindukan meminum airnya. Berdasarkan kajian ilmiah, maka air zamzam memiliki kadar air terbaik di dunia. Jika sekarang sudah ditemukan air dengan kadar terbaik, tetapi tidak akan bisa mengalahkan kehebatan air zamzam. Tidak hanya terbaik tetapi juga memberkahi.
Perjalanan ibadah haji dan umrah, kiranya tidak hanya ibadah ritual akan tetapi juga ibadah sejarah. Ibadah untuk mengenang kembali apa yang sudah dilakukan oleh Nabi Ibrahim, sebagai pusat dan Bapak agama Semitis, sebagai pemuka Millah Ibrahim yang lurus, dan Nabi Muhammad saw yang melestarikan peristiwa hebat dalam sejarah kemanusiaan ini untuk menjadi ritual dan bahkan rukun Islam. Haji adalah rukun Islam, setelah Syahadat, Shalat, Zakat, dan Puasa.
Ka’bah sebagai pusat ritual memang tidak pernah sepi dari pelaku-pelaku ibadah. Gerakan memutar ke kiri yang dilakukan oleh pelaku ibadah ini tampak begitu indah jika disiarkan oleh televisi Al Qur’an yang dipancarkan langsung dari Mekkah Al Mukarramah. Makanya, siapapun umat Islam yang pernah melakukan ritual haji atau ritual umrah pasti berkeinginan untuk datang dan datang lagi.
Ka’bah memang memiliki magnit yang sangat kuat bagi para perindu ibadah. Ka’bah akan selalu menjadi sumber inspirasi orang untuk berdoa dengan khusyu’ di dekatnya. Di kala kita berada di Hijir Ismail atau di Multazam, lalu tangan dan muka kita menempel ke dinding Ka’bah itu, maka rasanya seluruh doa ingin kita panjatkan kepada Allah. Kekhusyu’an dan keikhlasan berdoa akan terdapat di dalamnya, sehingga tanpa terasa air mata menjadi meleleh dalam butiran-butiran bening yang hadir dari dalam hati yang tulus berdoa kepada Allah. Ya Allah kabulkan doa hamba-Mu yang berdoa kepada-MU.
Di kala kita bisa menyelesaikan semua ritual, thawaf dan Sa’i, lalu kita bisa berdoa sambil bersimpuh di bukit Marwah, rasanya juga luar biasa. Kita bisa tumpahkan semua hal yang menjadi beban di dalam kehidupan, kita bisa pasrahkan semua kepada Dzat yang Maha Kuasa dan Dzat yang selalu mengabulkan doa dan permohonan hambanya.
Umat Islam, tentu merupakan umat yang sangat beruntung memiliki Nabi Muhammad SAW, memiliki Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail peletak ritual haji dan umrah, dan juga memiliki pusat ritual Ka’baitullah, Rumah Allah yang Suci, yang dengannya umat Islam dipersatukan tanpa membedakan asal usul, tradisi dan kebudayaan, warna kulit dan ras, pangkat dan jabatan. Semua sama tanpa perbedaan. Dan Allah menyatakan bahwa “yang paling muliah di hadapan Allah ialah yang paling taqwa”.
Wallahu a’lam bi al shawab.

KE ARAB SAUDI LAGI; LAPORAN PENYELENGGARAAN HAJI 2017 (5)

KE ARAB SAUDI LAGI; LAPORAN PENYELENGGARAAN HAJI 2017 (5)
Meeting ini menjadi panjang karena pembahasan yang sangat mendalam. Ada diskusi panjang yang kita lakukan di dalam hal ini. Selain paparan Pak Dumyati, juga mendengarkan laporan dari kabid-kabid dalam berbagai tugasnya. Evaluasi ini bisa menjadi ajang yang efektif untuk menemukan solusi sementara terkait dengan penyelanggaraan haji.
Beberapa issu yang dikemukakan, misalnya dari aspek pelayanan ibadah. Sebagaimana disampaikan oleh Pak Endang Jumali, bahwa pelayanan manasik diberikan di hotel-hotel dan juga maktab-maktab oleh pembimbing ibadah haji. Secara bergiliran mereka mendapatkan tambahan manasik terkait dengan bagaimana menjalankan sunah dan rukun haji. Makanya, ada di antara jamaah yang menginginkan agar tambahan manasik ini juga diberikan di Madinah. Hanya saja kendalanya di Madinah itu satu hotel diisi oleh jamaah haji negara lain. Berbeda dengan system full time di Mekkah yang jamaah haji Indonesia berada di dalam satu hotel yang sama. Mengefektifkan bimbingan ini penting sebab ditengarai masih ada jamaah haji kita yang belum memahami tentang tata cara ibadah haji.
Dari sisi transportasi, sebagaimana laporan Pak Jauhari, bahwa masih ada kendala terkait dengan transportasi Jemaah haji dari pemondokan ke Armuzna. Banyak jamaah haji kita yang diangkut dengan bis Hafil yang sangat tua, sehingga terkendala AC dan bahkan ada juga yang mogok. Padahal sebenarnya di dalam perjanjian akan diberangkatkan dengan bis-bis yang standart, karena sudah upgrade, akan tetapi ternyata tidak bisa dipenuhi oleh pemerintah Arab Saudi. Bisa saja karena factor jamaah haji yang jumlahnya meningkat tahun ini, sehingga penyediaan transportasi menjadi terkendala. Untuk bis shalawat sudah semuanya on the track dan tidak ada masalah yang berarti.
Pak Subhan, dari Kabid Katering juga melaporkan bahwa ada sedikit masalah terkait dengan catering, yaitu keterlambatan pasokan catering disebabkan oleh kendala air dan bahan baku. Tetapi secara keseluruhan tidak mempengaruhi terhadap pelayanan catering. Problem yang dialami oleh penyedia layanan catering ialah terkait dengan kurangnya tenaga Indonesia untuk catering. Ada kendala untuk mendatangkan ahli masak dari Indonesia. Ada kendala waktu dan juga kendala anggaran, misalnya pajak mendatangkan orang Indonesia.
Di dalam menanggapi persoalan ini, ada usulan yang menarik dari pak Syihab, yaitu agar ditemukan standart pelayanan yang terukur. Misalnya terkait dengan pelayanan trasportasi. Apa yang menjadi standart pelayanannya, lalu terkait dengan pelayanan catering, apa standart pelayanannya dan ukurannya. Jika bisa ditemukan hal ini, maka semua akan mengejar standart yang dibakukan itu, sehingga akan diketahui peningkatannya dari tahun ke tahun. Jadi yang diinginkan ialah solusi permanen atas masalah-masalah yang terjadi.
Pak Ali Rohmat menyoroti tentang penganggaran yang seharusnya dipikirkan lebih mendalam. Tentang anggaran badal haji, anggaran petugas, anggaran lainnya perlu didata secara lebih mendasar sehingga ketika kita meminta tambahan anggaran ke Kemenkeu dan Bappenas akan bisa direalisasi. Sebagai contoh, tentang anggaran petugas yang dibebankan kepada BA/BUN tahun ini, sebesar 39 Milyar rupiah. Seandainya tidak berhasil, maka kita akan kelabakan menyelesaikan urusan honor dan transportasi petugas. Mumpung sekarang masih dalam pembahasan anggaran maka kebutuhan itu harus fix, berapa sebenarnya yang diperlukan.
Dari berbagai usulan dan pembicaraan ini, maka saya sampaikan beberapa poin penting, yaitu: pertama, perlu kiranya dibuat standarisasi ibadah haji bagi para Jemaah haji. Rasanya sudah saatnya kita menerapkan sertifikasi jamaah haji berbasis pada penguasaan pengetahuan dan praktik haji. Jika di Malaysia bisa, saya yakin di Indonesia juga bisa. Mumpung waktunya panjang dalam penantian jatah keberangkatan, maka waktu panjang itu bisa digunakan untuk program ini.
Kedua, terkait dengan pemberian jatah makan. Apakah tidak mungkin dilakukan eksersais terkait dengan berapa kebutuhan konsumsi jamaah haji selama di Arab Saudi. Mereka harus dilayani makannya secara teratur. Tentu saja akan berakibat terhadap kenaikan BPIH, akan tetapi dengan pelayanan yang lebih baik mengapa tidak dilakukan. Jangan dibiarkan jamaah haji kita mencari makan di luar dengan standart kesehatan yang tidak baik. Dengan diberlakukannya hotel bintang tiga, maka tidak ada lagi peluang untuk masak atau membeli makanan di luar.
Ketiga, diperlukan pengawasan secara lebih mendasar terhadap KBIH agar supaya tidak terjadi perilaku yang kurang baik, misalnya menempatkan jamaahnya di haji regular dan sebagainya. Bahkan juga diperlukan standarisasi yang lebih ketat terhadap pelayanan jamaah haji plus iini, agar imaje jamaah haji semakin baik dan pemerintah juga memberikan control terhadap mereka ini.
Di sisi lain, Pak Dumyati juga menyampaikan bahwa tahun ini sudah dilakukan tambahan aplikasi baru terkait dengan pengawasan terhadap para petugas, SIMKOPPIH (Sistem Informasi Manejemen Koordinasi Panitia Penyelenggara Ibadah haji). Sistem komunikasi yang dilakukan dengan menggunakan system mekanisme control di Kantor TUH Jeddah itu dapat mendeteksi dan memberikan perintah kepada petugas haji untuk memberikan pelayanan kepada jamaah. Misalnya di kala ada laporan jamaah haji yang tersesat dari daerah tertentu, maka dengan system ini petugas yang berada di dekat kejadian akan bisa diperintahkan untuk mencarinya. Bahkan juga bisa mendeteksi terhadap siapa petugas yang off dan on pada saat tertentu.
Kita semua tentu berharap bahwa penyelenggaraan haji akan semakin baik dan hal itu tentu tergantung kepada kerja keras semua komponen kemenag yang terkait dengan penyelenggaraan haji. Jadi jika kita ingin memperoleh penilaian yang baik, maka solusinya ialah bekerja semakin optimal.
Wallahu a’lam bi al shawab.