• October 2026
    M T W T F S S
    « Sep    
     1234
    567891011
    12131415161718
    19202122232425
    262728293031  

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

PAK WAHID DAN CAPAIAN DOKTOR

PAK WAHID DAN CAPAIAN DOKTOR
Pada suatu siang hari, Pak Wahid (Kakanwil Kemenag Sulawesi Selatan) datang ke ruang saya bersama isterinya. Akhir-akhir ini memang isteri Pak Wahid selalu mengantarkannya ke mana saja Beliau pergi. Maklum Pak Wahid memang terkena stroke ringan beberapa saat yang lalu. Beliau datang untuk menyampaikan undangan menguji disertasinya di Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar.
Saya harus menyatakan siap untuk menjadi penguji eksternal atas Ujian Terbuka atau Promosi Doktor Pak Wahid. Hal ini tentu didasari karena penghargaan saya atas usaha keras Pak Wahid untuk studi doctor dan menyelesaikannya tepat waktu. Selain itu juga ada pertimbangan khusus, bahwa Pak Wahid terkena stroke ringan tersebut setelah mengantarkan saya ke Palopo beberapa saat yang lalu. Perjalanan 9 (Sembilan) jam dari Palopo ke Makassar pada malam hari dengan kondisi jalan yang rusak sepanjang 90 kilo meter, tentu sangat melelahkan. Dan sesuai dengan informasi yang saya terima bahwa Pak Wahid memang tidak istirahat pasca perjalanan jauh tersebut. Ada beberapa acara yang harus dihandle pada hari Sabtu dan Ahad setelah perjalanan Palopo-Makassar tersebut.
Makanya, di saat Pak Wahid menyatakan keinginannya agar saya mengujinya dalam acara ujian terbuka, maka saya langsung menyatakan siap untuk melakukannya. Itulah sebabnya saya senang dan bersyukur bisa mengantarkan Pak Wahid untuk meraih gelar doctor dengan menjadi external examiner dalam ujian terbuka dimaksud.
Berlaku sebagai penguji ialah Prof. Dr. H. Basri Modding, SE., MSi., Prof. Dr. H. Mappanganro, MA., Dr. Andi Bunyamin, MPd., Prof. Dr. H. Nur Syam, Drs., MSi., Prof. Dr. H. Baharuddin, Prof. Dr. H. Azhar Arsyad, MA., Prof. Dr. H. Syaharuddin Usman, MA dan Dr. H. Muh. Arief Halim, MA. Sedangkan sebagai Promotor ialah Prof. Dr. H. Basri Modding, SE, MSi., Prof. Dr. H. Mappanganro, MA dan Dr. Andi Bunyamin, MPd.
Disertasi Pak Abdul Wahid yang dipertahankan di depan Sidang Ujian Terbuka (20/11/2017) berjudul “Pengaruh Manajemen Sumber Daya Pendidikan terhadap Prestasi Siswa Madrasah Aliyah Negeri di Sulawesi Selatan”. Dari kajian dengan menggunakan metode kuantitatif dengan sampel sebesar 240 orang (10% dari jumlah populasi), dengan 6 (enam) variabel yang diuji, yaitu: 1) Manajemen standart isi pendidikan, 2) Manajemen Standart Proses, 3) Manajemen Pendidik dan Tenaga Kependidikan. 4) Manajemen Sarana dan Prasarana. 5) Manajemen Pembiayaan Pendidikan yang diperlakukan sebagai variabel bebas dan 6) Prestasi Siswa Madrasah Aliyah Negeri yang diperlakukan sebagai variabel terikat.
Dari 5 (lima) variabel bebas yang dianalisis dengan menggunakan rumus regressi diketahui bahwa manajemen standart isi mempengaruhi terhadap prestasi siswa madrasah negeri. Kemudian, manajemen standart proses pendidikan juga mempengaruhi terhadap prestasi siswa Madrasah Aliyah Negeri. Lalu, manajemen pendidik dan tenaga kependidikan juga mempengaruhi terhadap siswa Madrasah Aliyah Negeri. Demikian pula, manajemen sarana prasarana juga mempengaruhi terhadap prestasi siswa Madrasah Aliyah Negeri. Dan, manajemen pembiayaan pendidikan juga berpengaruh terhadap prestasi siswa Madrasah Aliyah Negeri.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa 5 (lima) variabel yang dikaji berpengaruh secara signifikan terhadap prestasi belajar Siswa Madrasah Aliyah Negeri. Pengaruh tersebut dapat dilihat secara sendiri-sendiri maupun secara keseluruhan. Jadi, manajemen sumber daya pendidikan berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa Madrasah Aliyah Negeri. Penelitian ini memberikan makna bahwa sumber daya pendidikan yang dimenej secara memadai ternyata memiliki pengaruh terhadap prestasi siswa Madrasah Aliyah Negeri di Sulawesi Selatan.
Ujian terbuka merupakan ujian untuk mempromosikan calon doctor dari sebuah perguruan tinggi. Itulah sebabnya, ujian terbuka sudah tidak lagi mempermasalahkan aspek-aspek metodologis dan teroretik, akan tetapi lebih merupakan ujian tentang wawasan kandidat doctor dalam bidang studi yang dikajinya.
Berangkat dari pemikiran seperti itu, maka saya menanyakan dua hal penting terkait dengan signifikansi sosial penelitian ini bagi dunia pendidikan. Pertanyaan pertama, melihat hasil penelitian promovendus, maka rasanya pendidikan kita sudah baik dan berkualitas. Namun demikian, jika dilihat dari ranking Educational Development Index (EDI) dan juga lainnya tetap menggambarkan bahwa pendidikan kita belum maju. Jadi, bagaimana korelasi hasil penelitian ini dengan situasi umum pendidikan di Indonesia?. Lalu, pertanyaan kedua, guru merupakan kunci sukses pendidikan di Indonesia, artinya bahwa guru yang berkualitas tentu akan berpengaruh terhadap kemampuan siswa. Jadi apa kiranya sumbangan penelitian ini di dalam kerangka untuk memajukan pendidikan Indonesia, khususnya para pendidik?
Saya kira jawaban dari promovendus cukup memadai, artinya bahwa pendidikan Indonesia akan maju jika seluruh program penguatan pendidikan memperoleh tempat yang mendasar dari pengambil kebijakan di seluruh Indonesia. Semua daerah memiliki kepedulian terhadap pendidikan yang bertujuan untuk mengembangkan dan memperkuat kualitas pendidikan. Makanya, kontribusi penelitian ini ialah memberikan penjelasan bahwa semakin baik kualitas manajemen sumber daya pendidikan di Indonesia tentu akan semakin berpengaruh terhadap prestasi pendidikan itu sendiri.
Wallahu a’lam bi al shawab.

MENJAGA AGAR REKRUITMEN CPNS KEMENAG BEBAS KKN

MENJAGA AGAR REKRUITMEN CPNS KEMENAG BEBAS KKN
Saya tentu bersyukur bahwa rekruitmen CPNS kita tahun ini berjalan lancar. Dengan menggunakan metode Computer Assested Test (CAT) sangat memunginkan ketiadaan KKN di dalam menentukan kelulusan uji kompetensi tertulis. Meskipun masih ada yang meragukan tentang keakuratan dan ketepatan alat ukur ini, akan tetapi saya menjamin bahwa dengan CAT yang mengembangkan transparansi dan akuntabilitas, maka pelaksanaan CAT dan hasil yang dipublish pasti sesuai dengan tingkat kelulusannya.
Saya bersyukur bahwa penyelenggaraan test CPNS di Kemenag sudah memenuhi syarat yang distandarisasi oleh Kemenpan & RB. Sungguh kita sudah melakukan semua hal yang terkait dengan upaya membangun rekruitmen CPNS yang bebas korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN). Tanpa sedikitpun ada upaya untuk melakukan perubahan score untuk meluluskan orang yang diinginkan. Semua berjalan sesuai dengan prosedur tetap dan standart baku yang sudah disepakati sebelumnya.
Kita sudah melalui proses awal test kompetensi yang meliputi Test Inteligensi Umum (TIU), Tes Wawasan Kebangsaan (TWK) dan Tes Karakteristik Pribadi (TKP). Tes ini mutlak diselenggarakan oleh Kemenpan & RB dan hasilnya langsung diketahui saat itu juga. Sungguh sangat transparan dan tidak ada sedikitpun yang bisa dimanipulasi. Saya tahu, sebab ada salah seorang kolega yang bisa mencatat masing-masing score yang diperoleh calon PNS dan berapa rangking yang bersangkutan. Jadi kalau ada penyimpangan dipastikan akan bisa diketahui. Kita sudah melewati tahap pertama dengan tanpa ada sedikitpun cacat di dalamnya. Saya menjamin bahwa yang lulus tahap uji kompetensi, pastilah yang sesungguhnya memang lulus. Bukan direkayasa atau dimanipulasi.
Sekarang kita memasuki test kemampuan bidang atau disebut sebagai Seleksi Kemampuan Bidang (SKB). Beberapa saat yang lalu muncul berita di media bahwa satu aspek yang krusial dan memungkinkan terjadinya KKN ialah test wawancara atau SKB ini. Pemikiran seperti ini sesungguhnya berawal dari keraguan apakah kita bisa menjalankan amanat untuk rekruitmen CPNS dengan adil, dan bertanggungjawab. Pantaslah keraguan itu muncul, sebab bangsa ini memang sedang berada di titik terendah dalam hal menjaga kejujuran. Ada banyak korupsi, kolusi dan nepotisme yang terus dipelihara dan bahkan dikembangkan dengan cara-cara yang makin canggih. Kita sedang berada di dalam situasi bernegara dan berbangsa yang carut marut karena perilaku koruptif.
Makanya, sekaranglah saatnya, kita harus membuktikan bahwa di dalam rekruitmen CPNS, maka kejujuran menjadi taruhannya. Kita harus membuktikan kepada public bahwa sesungguhnya masih ada harapan untuk melakukan yang terbaik bagi bangsa ini. Kita harus meyakinkan bahwa para penyelenggara negara ini masih memiliki kejernihan hati dan integritas yang tentu diharapkan oleh masyarakat kita.
Hari Rabu, 22/11/2017, saya mendapatkan kesempatan untuk memonitor pelaksanaan wawancara yang dilakukan di UIN Sumatera Utara. Seluruh pejabat terkait memang diterjunkan untuk memantau terhadap pelaksanaan wawancara itu. Kemenag sudah mengantisipasi terhadap penyelenggaraan wawancara yang bebas dari KKN. Maka selain ada petugas yang menunggui pelaksanaan wawancara di seluruh titik diselenggarakannya wawancara untuk Seleksi Kompetensi Bidang, maka juga ditempatkan pada seluruh titik tersebut seorang petugas dari inspektorat jenderal Kemenag. Pak Pramono dari inspektorat investigasi Kemenag yang hadir di Medan.
Para auditor memang sengaja dilibatkan di dalam pelaksanaan wawancara sebagai salah satu upaya untuk menjaga terhadap ketiadaan peluang terjadinya penyelewengan dari para pewawancara. Namun demikian saya yakin bahwa para professor dan doctor serta dosen yang diminta untuk menjadi pewawancara adalah orang-orang yang sudah teruji integritasnya. Mereka adalah para dosen senior yang selama ini sangat dikenal sebagai orang yang sangat dihormati dan berjiwa besar. Mereka memiliki integritas yang tidak diragukan.
Dengan menyertakan para auditor dari itjen, tentu akan menambah kekuatan para penguji untuk berbuat yang terbaik bagi PTKN. Para dosen yang diamanahkan untuk menguji juga merasa mendapatkan kepercayaan dari negara untuk berbuat baik dan membuktian bahwa rekruitmen CPNS harus dijaga kewibawaannya dan kejujurannya.
Mereka telah dibekali dengan seperangkat instrument untuk menjaring tidak hanya kemampuan mengajarnya, melalui penyajian bahan ajar mata kuliah, akan tetapi juga diuji integritas dan rekam jejaknya. Melalui uji rekam jejak, maka akan diketahui siapa calon CPNS tersebut. Hal ini telah dimandatkan dalam pertemuan rector PTKN dan juga tim penyusun instrument beberapa saat yang lalu. Rekam jejak dianggap sangat penting agar kita bisa menghasilkan CPNS yang memiliki komitmen terhadap kenegaraan dan kebangsaan.
Jika da calon CPNS yang tidak loyal kepada Pancasila, UUD 1945, dan NKRI serta Keberagaman, maka pewawancara akan bisa mempunishnya. Selain itu, tim rekruitmen CPNS kemenag juga bisa melakukan uji rekam jejak sesuai dengan prosedur dan cara-cara yang benar.
Kita berharap agar pelaksanaan wawancara dalam SKB akan menjadi barometer bagi kemenag, bahwa kejujuran itu masih ada. Dan yang kita lakukan semuanya memiliki tanggungjawab tidak hanya di dunia tetapi juga di akherat kelak.
Wallahu a’lam bi al shawab.

KE NEGERI TIRAI BAMBU: BERBURU MAKANAN HALAL (10)

KE NEGERI TIRAI BAMBU: BERBURU MAKANAN HALAL (10)
Jika anda Muslim, jangan takut datang ke Cina. Khususnya di Guangzhou dan Beijing Ada banyak makanan khas untuk umat Islam. Meskipun Cina bukan negara yang mengakui keberadaan agama-agama, tetapi umat beragama dibiarkan berkembang dengan daya dan kemampuannya sendiri. Makanya, umat Buddha, umat Islam dan juga agama lainnya juga berkembang.
Akan tetapi jangan samakan dengan Indonesia yang umat beragamanya sering melakukan show of force, di Cina nyaris tidak dijumpai perhelatan agama yang dilakukan secara besar-besaran. Semuanya dilakukan dengan simbol-simbol budaya dan bukan simbol agama. Memang, misalnya di dalam perayaan Imlek atau Goh Chi Fat Chai ada arak-arakan, akan tetapi hal itu haruslah dianggap sebagai pawai budaya dan bukan pawai agama. Warisan leluhur yang berupa kepercayaan Shinto, Tao, Konghucu, bahkan Islam dan Buddha dijadikan sebagai kekayaan budaya bagi pemerintah Cina, dan tempat-tempat ibadah dijadikan sebagai ikon dan cagar budaya di sini.
Sebagai orang Islam, saya tentu harus memakan makanan yang halal. Bagaimanapun juga saya harus menemukan makanan halal tersebut. Maklumlah bahwa ajaran agama Islam memang mewajibkan umatnya untuk memakan makanan yang halal saja. Makanan yang tidak halal harus kami hindari. Seluruh makanan dan minuman yang mengandung unsur babi harus kami jauhi. Makanya, selama di Guangzhou dan Beijing kami harus berburu restorant halal yang khusus menyajikan makanan bagi muslim.
Kami tentu sangat beruntung sebab dipandu oleh orang-orang yang sudah paham tentang kuliner di Guangzhou dan Beijing. Kala di Guangzhou dipandu oleh Pak Piyandi dan Edward sehingga dengan mudah dapat menemukan restorant halal dan ketika di Beijing dipandu oleh Hutomo. Makanya perjalanan kuliner tidaklah masalah bagi kami. Tinggal minta restorant halal, maka sopir akan mengarahkan ke tempat tujuan.
Di Guangzhou kami sempatkan untuk makan malam di restorant halal di wilayah pertokoan. Rumah makan berlantai dua ini sangat ramai dikunjungi oleh masyarakat Cina. Kelihatannya bukan hanya umat Islam yang makan di sini akan tetapi juga orang Cina pada umumnya. Kami harus antri untuk dapat tempat duduk. Akhirnya kami pun makan nasi goreng khas Cina, daging kambing manis dan juga ikan gindara yang dimasak berbumbu kuning. Sayangnya, saya tidak mencatat nama-nama makanan yang lezat itu. Ludes seluruh pesanan makanan karena lezat dan memang kami semua sedang lapar. Kami juga makan di restorat persis di depan masjid Xiangdongyin. Restorant ini dikelola oleh Orang Uighur. Sebagaimana diketahui bahwa orang Uighur memang kebanyakan beragama Islam. Makanannya juga sangat lezat. Terutama nasi gorengnya. Rasanya seperti nasi goreng di rumah makan Dim Tai Fung di beberapa Mall di Jakarta. Ikan yang dimasak agak pedas dengan bumbu kental juga sangat lezat. Tidak salah kita memilih rumah makan ini.
Di Beijing kami juga menemukan makanan halal. Selepas dari perjalanan panjang ke Great Wall dan masjid Niujie dan Kuil Liu Rang, maka kami sempatkan makan siang di Kampus Universitas Haopan. Di sini memang disediakan khusus restorant halal yang disajikan untuk para mahasiswa muslim yang jumlahnya cukup banyak. Menurut Tomi, bahwa ada banyak kawannya dari Timur Tengah yang ketika rindu kampung halamannya, maka mereka menyempatkan makan di restoran ini. Sama dengan menu makanan di restorant muslim lainnya, maka menunya juga bervariasi. Dari mie Hainan, nasi goreng, ikan goreng, gulai kambing, ikan berbumbu kental dan banyak lainnya.
Yang sungguh menarik adalah cerita Tomi tentang masakan khas Indonesia di Beijing. Malam terakhir di Beijing tentu kami sangat berminat untuk mencicipi masakan Khas Indonesia sebagaimana yang diceritakan Tomi. Kami secara sengaja datang ke restoran ini. Sebelumnya sudah dipesan bahwa kami tamu dari Jakarta akan makan makan malam di restoran Nom Nom. Maka, kami agak santai sedikit menuju restoran. Ternyata restoran ini penuh sesak dengan peminat. Maklum restoran ini memang berada di ruko, sehingga jumlah tempat duduknya hanya terbatas. Sementara yang berminat makan di resto ini cukup banyak. Di sini makanan khas Indonesia itu tersaji. Nasi goring khas Indonesia, bakso, ayam penyet, ayam geprak, ayam kremes, hingga pecel dan tahu lontong.
Resto ini dikelola oleh pasangan suami isteri, perempuan Indonesia dan lelaki Cina. Tampaknya dikelola sendiri. Dikelola berdua, tanpa pembantu. Memasak sendiri dan melayani sendiri. Yang menyenangkan karena lambang-lambang Indonesia ada di tempat ini. Mulai dari tulisan “Aku Cinta Indonesia”, Gambar Lambang Garuda Pancasila sampai tempelan gambar bajay yang khas Jakarta. Yang datang untuk makan di resto ini kebanyakan adalah mahasiswa Indonesia di Beijing. Terbukti nyaris semua yang ada di warung ini mengenal Tomi.
Saya harus antri kira-kira 1 (satu) jam untuk mendapatkan tempat duduk di dalam ruangan makan. Dengan jumlah 5 (lima) meja dan hanya 20-25 kursi, maka sungguh resto ini tidak sanggup menampung jumlah pecinta masakan Indonesia itu untuk langsung duduk di dalam. Makanya harus sabar untuk bisa memperoleh pelayanan di resto ini. Dan sebagaimana biasanya, para mahasiswa itu juga tidak langsung cabut begitu makannya selesai. Ngobrol dulu.
Saya makan nasi dan ayam geprak, sedangkan lainnya makan nasi dan ayam kremes. Lezat juga rasanya. Ada khas Indonesianya. Karena memang lapar dan menunggu cukup lama, maka makanan itu terasa lezat. Kami tentu menikmati berbagai kuliner di Beijing dan juga Guangzhou. Selama masih ada makanan yang cocok, maka kerasanlah saya di tempat itu. Dan Cina memenuhi syarat untuk kerasan itu.
Wallahu a’lam bi al shawab.

KE NEGERI TIRAI BAMBU: GREAT WALL MONUMENTAL (9)

KE NEGERI TIRAI BAMBU: GREAT WALL MONUMENTAL (9)
Di seputar Beijing –dulu disebut Peking—adalah wilayah pegunungan. Meskipun seharusnya sekarang musim gugur akan tetapi di perbukitan-perbukitan sekitar Beijing masih cukup menghijau. Memang sudah ada beberapa jenis pepohonan yang mulai mengering memasuki musim gugur dan beberapa bunga sudah mulai layu dan berguguran, akan tetapi sebagai wilayah pegunungan subur, maka di lereng-lereng perbukitan itu masih menghijau pepohonannya.
Jika saya mengamati dari dekat, wilayah ini mirip dengan wilayah menuju Thaif di Arab Saudi, daerah bergunung-gunung dan berngarai-ngarai, akan tetapi bedanya di Arab Saudi merupakan wilayah kering –bahkan wilayah gurun—akan tetapi di Cina merupakan wilayah yang subur. Bahkan di sisi kiri dan kanan jalan yang merupakan pinggiran bukit ternyata menjadi tempat pepohonan yang tentu sangat menghijau di musim semi.
Untuk sampai ke Great Wall atau Tembok Cina yang monumental ini, maka saya harus menyusuri jalan turun naik. Akan tetapi karena sudah merupakan jalan bebas hambatan, maka tentu lancar saja. Hanya pada saat tertentu saja jalan ini penuh sesak dengan kendaraan. Semua tentu akan melihat kehebaran Great Wall. Bertepatan sekarang sedang sepi, sehingga perjalanan dari Hotel Nikki New Century Beijing ke Great Wall terasa lebih cepat. Beruntunglah kami semua.
Great Wall dibangun selama tiga kali pemerintahan. Pada pemerintahan Qing, An dan Ming sekitar abad ke 7 (tujuh). Panjangnya 5.000 KM untuk tembok besarnya dan ada tambahan bangunan yang menyebutkan bahwa jumlah keseluruhan adalah 8.850 KM. Sebuah bangunan yang sangat panjang. Jika dihitung dengan bangunan sekarang maka bisa dipastikan bahwa biaya yang diperlukan tentu sangat besar dan tenaga kerja yang dibutuhkan juga sangat banyak.
Dalam benak saya, rasanya tidak mungkin atau sulitlah kiranya membangun tembok di atas bukit seperti itu ditengah issu tenaga kerja mahal dan juga bahan bangunan mahal serta biaya transportasi untuk mengangkat bahan baku bangunan ke atas bukit. Hanya negara yang berkekuasaan besar dan tidak terbatas atau otoriter dan negara yang kaya yang bisa membangun seperti tembok Cina ini.
Saya kemarin mengagumi bangunan jalan tol lintas Mekkah-Thaif yang juga menjelajahi perbukitan di Arab, akan tetapi tentu tidak seperti di zaman dahulu. Sekarang sudah ada alat-alat seperti crane yang bisa menembus ketinggian tertentu, sehingga membangun gedung tinggi bisa dibantu dengan alat ini. namun demikian di masa lalu kiranya hanya tenaga manusia saja yang bisa mengangkat bahan-bahan bangunan itu ke atas bukit. Kiranya tingkat kesulitannya hampir sama dengan pembangunan piramida di Mesir. Hal ini hanya bisa dilakukan oleh negara yang berkuasa penuh dan kaya.
Konon katanya, membangun Tembok Cina ini juga tidak sekaligus. Berhenti di kala pasokan bahan baku atau tenaga kerja tidak memungkinkan dan diteruskan di kala semua factor terpenuhi. Tapi factor kekuasaan raja yang absolut pastilah menjadi ukuran keberhasilan membangun peradaban agung di masa lalu yang masih kita bisa nikmati sampai sekarang. Saya kira ini adalah cerita sukses sebuah dinasti untuk menunjukkan bahwa melalui kekuasaan yang powerfull maka segala sesuatu bisa dilakukan.
Di sebuah negara yang demokratis seperti sekarang, rasanya akan sulit diperoleh goresan peradaban agung seperti ini. Terlalu banyak factor yang mempengaruhi program pembangunan fisik monumental yang hebat. Di era sekarang bukan lagi era “Sabda Raja atau Ratu adalah Sabda Tuhan”, yang terjadi sekarang adalah “Sabda Rakyat adalah Sabda Tuhan” atau “Vox Populi Vox Dei”, maka untuk membangun Great Wall atau Piramida, bahkan mungkin membangun Candi Borobudur tentu harus memperoleh “persetujuan rakyat”. Jika rakyat tidak setuju, maka pasti tidak akan berdiri bangunan yang adiluhung tersebut.
Dengan dalih untuk mempertahankan kerajaan, maka raja dapat memaksa warganya untuk melaksanakan bangunan sesuai dengan rencananya. Yang menolak tentu bisa disingkirkan dengan cara-cara yang lazim digunakan pada saat itu. Makanya, di dalam pembangunan Benteng Cina ini, maka juga terdapat pemberontakan yang dilakukan oleh rakyat, khususnya para petani yang menolak terhadap program pembangunan benteng.
Bahkan pembangunan Benteng Cina ini juga mengalami beberapa penghentian. Tentu bisa disebabkan oleh SDM yang kurang atau tidak mendukung secara total terhadap pembangunan Benteng atau juga karena factor anggaran yang tidak diperoleh. Anggaran negara di kala itu tentu diambil dari pajak dan juga rampasan-rampasan perang, selain dari factor perdagangan melalui jalur sutra.
Oleh karena itu pantaslah jika pembangunan Great Wall ini membutuhkan waktu yang panjang dan berliku sampai tiga kekaisaran. Yang jelas bahwa dengan benteng ini dapat dipastikan bahwa Kekaisaran di Cina memperoleh cara menanggulangi musuh karena benteng ini memang diciptakan untuk melindungi kerajaan dan penduduknya dari serangan musuh yang bisa datang kapan saja.
Wallahu a’lam bi al shawab.

KE NEGERI TIRAI BAMBU: MENGUNJUNGI MASJID DAN PAGODA (8)

KE NEGERI TIRAI BAMBU: MENGUNJUNGI MASJID DAN PAGODA (8)
Setelah kami melihat Great Wall atau Tembok Cina, maka saya sempatkan untuk berkunjung ke Masjid Niujie di Beijing. Masjid ini didirikan oleh Nasuruddin, seorang ulama dari Arab Saudi, pada tahun 996 M. Masjid ini juga disebut sebagai “Libaisi” oleh Kaisar pada tahun 1474 M.
Masjid ini sangat indah dilihat dari ornamennya. Dengan ornament berciri khas merah, maka kelihatan betul bahwa masjid ini merupakan masjid di Cina dengan keagungan pahatannya. Bangunan masjid ini merupakan gabungan dari tradisi arsitektur Arab dan Cina. Itulah yang menyebabkan bangunan masjid ini sangat khas tidak sebagaimana masjid di Arab atau Indonesia.
Sebagaimana bangunan di Cina, maka masjid Niujie ini memiliki kekhasan yang mirip dengan bentuk bangunan Pagoda di Cina. Ada tiga bangunan yang mirip pagoda, yaitu di sebelah utara, depan dan selatan. Atap bangunan itu berundag dua, dengan cat warna-warni, meskipun warna merah yang dominan. Bangunan berundag atau pavilion selatan dibangun pada tahun 1496 M di dalam inskripsi dalam bahasa Cina dan Persi. Lalu Menara yang dibangun oleh ulama Muslim pada tahun 1068-1077, disebut sebagai “Xuanlilou” yang digunakan sebagai tempat untuk memanggil akan datangnya waktu shalat atau adzan. Paviliun utara dibangun pada tahun 1496 M. Dan ada juga ruang-ruang kelas yang saya perkirakan sebagai tempat untuk belajar Al Qur’an.
Bangunan tiangnya ditambah dengan asesori yang berwarna merah menyala dan warna kuning. Karpetnya berwarna hijau dan di tempat imam juga terdapat pahatan kayu atau kaligrafi tulisan Arab berwarna kuning yang sangat khas. Itulah saya rasa sebagai cita rasa arsitektur berkhas Cina. Mimbarnya juga sangat khas, dengan tongkat dari kayu yang memiliki lekuk-lekuk indah. Sayang saya tidak bisa menanyakannya secara mendalam tentang kayu apa yang digunakan untuk tongkat Sang khotib.
Jika menilik terhadap tahun berdirinya masjid ini, maka artinya bahwa masjid ini didirikan pada tahun yang hampir sama dengan didirikannya masjid-masjid di Guangzhou atau dulu disebut sebagai Canton. Rupanya, para Dai yang datang ke Cina ini dalam waktu yang bersamaan. Dalam pikiran saya, bahwa Sahabat Nabi Sa’ad bin Abi Waqqas datang ke Guangzhou, sementara itu Nusuruddin datang ke Beijing, atau disebut Peking di masa lalu.
Canton memang telah menjadi pusat perdagangan dan kota internasional di zaman Kekaisaran Tang. Jadi, di masa persebaran Islam di masa lalu, Canton sungguh sudah merupakan daerah perdagangan. Jika menyebut jalur sutra, maka Canton merupakan salah satu tujuannya. Sedangkan Peking menjadi wilayah ibukota kekaisaran Cina, terbukti dengan Benteng Cina atau Great Wall yang luar biasa panjangnya itu, 8000 KM lebih.
Masjid Niujie di Beijing ini sungguh menarik dan memiliki daya tarik yang khas. Jika kita shalat di dalamnya, maka akan merasakan kesyahduan yang luar biasa. Saya bersyukur bisa shalat jama’ ta’khir qasar untuk Shalat Dzuhur dan Ashar. Karena saya yang lebih tua maka saya harus menjadi imam, sementara Fery, Jemi dan Desmon menjadi makmumnya.
Saya lalu ingin bercerita tentang Pagoda di Beijing. Tidak seperti di negeri kita, yang masjid dan vihara bisa ada di mana-mana, dibangun dan didirikan di mana-mana, maka di Guangzhou dan Beijing hanya ada beberapa vihara atau pagoda. Kalau tidak salah di Guangzhou hanya ada 2 (dua) pagoda saja dan Beijing juga sama. Tetapi tentu ada beberapa bangunan yang biasa digunakan untuk penyembahan kepada Yang Maha Suci secara individual. Sebagaimana di Thailand maka di beberapa tempat ada kuil-kuil yang dijadikan sebagai tempat untuk persembahan saja.
Pagoda ini didirikan pada tahun 420-479 M pada zaman kekaisaran Song. Artinya Temple Liu Rang ini sudah berumur lebih dari 1500 tahun.
Di dalam pagoda Liu Rang terdapat beberapa bangunan, yang menggambarkan tentang tempat persembahan bagi dewa-dewa di dalam agama Buddha. Misalnya ada tempat ibadah berdasarkan atas Arca Dewi Kwan Im, dan ada beberapa tempat persembahan bagi dewa-dewa lainnya. Semestinya ada 6 (enam) pohon yang disebut sebagai 6 (six) Banyan Tress di dalam pagoda ini, akan tetapi yang direnovasi hanya 3 (tiga) saja. Tiga bangunan persembahan ini yang terus dipenuhi dengan umat Buddha di dalam persembahyangannya.
Namun demikian ada hall utama yang dijadikan sebagai tempat sembahyang. Hall ini dijaga oleh para pendeta Buddha, yang betugas mengawasi terhadap individu yang melakukan sembahyang. Mereka berpakaian coklat tua, ada lelaki dan perempuan. Orang yang akan ibadah juga dipandu untuk mengenakan pakaian serupa, meskipun bisa juga tidak menggunakannya. Bedanya, jika para pendeta atau bhiksu itu semuanya gundul, maka yang bersembahyang tentu tidak seperti itu. Banyak warga yang melakukan ritual di hall ini.
Yang menarik bagi kami bahwa untuk memasuki pagoda ini harus membayar. Jadi, baik yang akan melakukan sembahyang atau sekedar rekreasi juga dikenai ticket. Saya dan kawan-kawan tentu juga harus membayarnya. Rasanya ticket ini memang diperlukan sebagai bagian dari upaya untuk perawatan terhadap vihara ini. Jika di dalam Islam tidak dikenai ticket, akan tetapi secara suka rela membayar infaq dan shadaqah.
Selain itu, ada satu hal yang juga menarik untuk dikaji lebih jauh ialah adanya “kesamaan” dalam gerakan ritual. Misalnya ada gerakan membungkuk atau rukuk dalam Islam dan juga ada gerakan yang menyerupai sujud. Saya kira menarik dikaji dari perspektif adanya persamaan gerakan dalam ritual yang bisa jadi juga memiliki “kesamaan” makna di dalamnya.
Wallahu a’lam bi al shawab.