Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

SOM-MABIMS DAN GERAKAN ANTI EKSTRIMISME (1)

SOM-MABIMS DAN GERAKAN ANTI EKSTRIMISME (1)
Senior of Meeting (SOM) Menteri Agama Negara Malaysia, Brunei, Indonesia dan Singapura disingkat MABIMS telah menyelesaikan agenda Mesyuarat ke 42 di Jogyakarta, yang diikuti oleh 4 (empat) Negara, yaitu Kerajaan Malaysia, Kerajaan Brunei Darussalam, Republik Indonesia dan Republik Singapura. Acara ini dilaksanakan pada tanggal 26-28 Oktober 2017.
Sesuai dengan kertas tema yang disepakati pada waktu pertemuan di Malaysia tahun lalu (2016), maka SOM kali ini mengambil tema “Menanggulangi Ekstrimisme melalui Media Teknologi Informasi”. Saya kira tema ini relevan dengan kenyataan sosial-politik yang terus berubah dewasa ini di tengah globalisasi yang semakin kuat cengkeramannya.
Saya kira tidak ada yang meragukan tentang bagaimana tingkah polah kaum ekstrimis yang semakin mencemaskan. Misalnya, tiba-tiba saja di Filipina Selatan bergejolak dengan hadirnya pembangkangan politik dengan keinginan untuk mendirikan negara sendiri yang merdeka. Daerah ini yang dahulu cukup kondusif untuk kehidupan warganya, lalu menjadi medan perang yang luar biasa.
Adalah Hapilon dan Maute yang mendalangi serangkaian keganasan politik tersebut. Dan sebagaimana biasanya, ketika tema yang diusung mereka adalah mendirikan negara Islam, maka berbondong-bondong datang para jihadis untuk memperkuatnya. Maka banyak orang Indonesia yang dahulu berjuang di Afghanistan dan juga Iraq dan Syria, lalu bergabung dengan mereka di Marawi ini.
Untungnya bahwa Hapilon dan Maute sudah menjadi martir di dalam gerakan ekstrimisme ini. mereka berdua sudah meninggal dalam serangan militer Filipina beberapa saat yang lalu. Hanya yang dikhawatirkan adalah antek-anteknya yang bisa saja memasuki wilayah, khususnya Indonesia yang berbatasan langsung dengan Mindanao dan tentu juga banyak jalan tikus yang bisa dilaluinya. Pergerakan dari Marawi ke Indonesia ini yang saya kira sudah disadari oleh militer Indonesia, sehingga penjagaan di wilayah yang berbatasan dengan Filipina akan menjadi prioritas pengawasan.
Ekstrimisme memang telah menjadi fenomena dunia. Tidak hanya di negara-negara Asia, akan tetapi juga di Eropa dan Amerika. Beberapa peristiwa yang terjadi di Perancis, Jerman dan beberapa negara lain lalu bisa dikaitkan dengan kekerasan yang dilakukan oleh Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) karena mereka telah terdesak di Iraq dan Syria. Pertahanan mereka terakhir di Raqqa juga sudah jatuh ke tangan pemerintah Syria. Makanya, kemudian bisa saja mereka kemudian menyebar di seluruh dunia dan membuat kegaduhan di beberapa tempat.
Semenjak dideklarasikannya ISIS, maka banyak mantan kombatan dari Indonesia yang menyatakan kesetiaan kepada Abu Bakar Al Baghdadi, yang menganggap dirinya sebagai Khalifah dalam kekhilafahan ISIS. Di antara mereka ialah Abu Bakar Baasyir dengan Jamaah Ansharud Tauhid (JAT) dan berafiliasi kepada Gerakan Salafi Jihadi yang berbasis pada Al Qaeda, dan Aman Abdurahman melalui Jamaah Ansharud Daulah (JAD) yang berafiliasi kepada gerakan Takfiri atau ISIS. Meskipun keduanya berbeda dalam basis gerakannya, akan tetapi keduanya menyokong terhadap Abu Bakar Al Baghdadi dengan ISIS-nya.
Pasca kehancuran ISIS, maka orang Indonesia yang terpengaruh oleh garakan ini lalu berkeinginan kembali. Menurut penuturan Jenderal Mohammad Tito Karnavian, bahwa ada sebanyak 678 orang yang kembali ke Indonesia, lalu sebanyak 97 orang yang tewas dan 66 orang yang digagalkan keberangkatannya ke Iraq dan Syria. Mereka ini yang harus diawasi dengan seksama pergerakannya. Berbeda dengan Singapura yang sangat keras, sehingga begitu mereka datang langsung dijemput untuk ditangkap, maka di Indonesia tidak didapati hal seperti ini. Makanya, banyak alumni dari gerakan ekstrim ini yang kemudian membangun jejaring baru dan melakukan terror bom di berbagai tempat.
Gerakan terror melalui bom di Mapolres Solo, bom kompleks pertokoan Sarinah Jakarta, dan beberapa rencana pengeboman di Istana Negara dan lain-lain adalah mereka yang dijadikan sebagai “pengantin” bom bunuh diri yang dipengaruhi oleh mereka yang balik kembali dari Afghanistan atau ISIS. Dengan demikian, gerakan-gerakan ekstrim kiranya akan selalu eksis, jika tidak dilakukan gerakan membasmi mereka secara memadai. Densus 88 saya kira sudah tepat di dalam melakukan upaya untuk mengendus dan memata-matai gerakan-gerakan seperti ini.
Berbeda dengan Singapura yang memiliki prinsip “layu sebelum berkembang” atau basmi secepatnya sebelum mereka melakukan terror, maka pemerintah Singapura memang sangat keras terhadap gerakan-gerakan ekstrim ini.
Di dalam acara SOM, semua negara memaparkan tentang “pengalaman” yang dilakukannya di dalam mengkounter terhadap gerakan ekstrimisme. Dan saya merasa sangat bergembira bahwa semua negara anggota MABIMS memiliki kesepahaman di dalam kerangka melawan terhadap gerakan ekstrimisme.
Di tengah gempuran media teknologi informasi, maka negara memang harus hadir di dalam memberikan pencerahan untuk kepentingan penanggulangan atau pembasmian terhadap kaum ekstrimis agar kehidupan negara bangsa akan selalu aman dan tenteram
Sungguh melalui SOM-MABIMS ini kita mendapatkan pengalaman dan sekaligus juga kesepakatan untuk terus melawan ekstrimisme khususnya melalui teknologi informasi.
Wallahu a’lam bi al shawab.

MENGOTIMALISASIKAN POTENSI MAHASISWA PTKIN (2)

MENGOTIMALISASIKAN POTENSI MAHASISWA PTKIN (2)
Saya terus terang memiliki concern khusus terhadap dunia pendidikan tinggi, sebab saya adalah bagian tidak terpisahkan dari dunia ini. Itulah sebabnya saya selalu merasa tertantang ketika diundang oleh perguruan tinggi untuk memberikan presentasi atau apapun, sebab bagi saya seperti menuai kembali dunia akademis yang selama ini saya tinggalkan.
Saya selalu menyatakan di setiap momentum bertemu dengan para dosen dan juga mahasiswa bahwa lembaga pendidikan tinggi merupakan proyek ambisius untuk melahirkan orang-orang hebat dalam sejarah kemanusiaan. Perguruan tinggi merupakan kawah condrodimuko untuk menggembleng calon-calon pemimpin bangsa yang tentu memiliki kelebihan dalam banyak hal dibandingkan dengan masyarakat pada umumnya.
Di perguruan tinggilah kita akan dapat menyemai talenta-talenta di dalam berbagai hal untuk menjemput masa depan bangsa yang lebih hebat dan gemilang. Jadi, di perguruan tinggilah sesungguhnya tempat yang paling ideal untuk mencetak manusia yang unggul dan kompetitif di era milenial yang penuh tantangan dan prospektif ini. Lalu, siapa yang bertanggungjawab atas semua ini, tentu adalah institusi pemerintah, institusi pendidikan, dan semua yang memiliki semangat untuk mengembangkan potensi bangsa.
Bagi PTKIN, tentu Kementerian Agama memiliki tanggungjawab untuk mengoptimalkan anggaran bagi kesempurnaan PT. Bagi institusi pendidikan, seperti pimpinan lembaga (rector dan jajarannya), dosen sebagai tenaga pendidik, dan mahasiswa tentu memiliki peran yang sangat signifikan untuk menggapai semua ini. Tidak bisa dibebankan tugas ini kepada orang lain, akan tetapi kita sebagai warga institusi pendidikanlah yang bertanggung jawab.
Saya ingin memperdalam tulisan saya sebelumnya, yang menggagas pentingnya ”sekolah-sekolah” dalam institusi pendidikan. Mungkin ada di antara kita yang bertanya, apa perlunya “sekolah-sekolah” dalam lembaga pendidikan. Bukankah lembaga pendidikan sudah sekolah itu sendiri. Yang saya maksudkan dengan “sekolah-sekolah” ini sesungguhnya ialah lembaga-lembaga yang secara khusus akan menghandle tentang dimensi “student interest” yang akan dipilih para mahasiswa.
Misalnya, “school of research”, maka sekolah ini adalah tempat untuk memperdalam ketertarikan mahasiswa untuk belajar lebih mendalam berbasis pada research sungguhan terkait dengan kehidupan masyarakat. Jika di dalam system perkuliahan, mahasiswa sudah diperkenalkan tentang riset dan seluk beluknya, maka di dalam “school of research” inilah mereka akan dilatih lebih mendalam dengan pengalaman-pengalaman riset di sekelilingnya.
Mahasiswa akan dilatih kepekaan untuk membaca situasi sosial, setting sosial, dan agenda-agenda ke depan untuk membangun kehidupan yang lebih baik. Jadi mereka tidak hanya hafal prosedur riset, akan tetapi bagaimana riset itu dilakukan. Dengan begini maka mereka akan memiliki kecenderungan untuk “lebih” cerdas dalam membaca situasi sosial dan berbagai aspeknya sehingga benar-benar dia akan menjadi orang yang memahami riset dan aplikasinya.
Jika merunut pada pengalaman saya, maka sesungguhnya saya memiliki kecendrungan yang sangat kuat di bidang riset karena pengalaman yang saya dapatkan di kala saya menjadi mahasiswa. Pada tahun 1981-1984, saya terlibat di dalam penelitian yang diselenggarakan oleh Yayasan Kependudukan Indonesia (YASIKA) di bawah koordinasi Prof. Dr. Burhan Magenda dari UI, dan di Jawa Timur dikoordinasi oleh Dr. MS. Abbas, dan saya menjadi group leader dari para pewawancara di kala itu. Lalu juga penelitian dari Bank Dunia, dengan tema “Kampung Improvement Program” atau KIP di Surabaya. Dari pengalaman inilah yang kemudian menjadikan saya memiliki concern untuk melakukan penelitian lapangan sebagai suatu kapasitas yang terus saya kembangkan.
Dari pengalaman ini, maka saya kemudian menekuni dunia penelitian, sehingga menghasilkan beberapa karya yang berbasis pada penelitian lapangan. Jadi, bekal pengalaman lapangan dalam suatu bidang itu tentu sangat penting untuk mengantarkan yang bersangkutan agar memiliki kepekaan dalam bidang yang ingin digelutinya.
Oleh karena itu, saya kira bahwa “school of research” akan menjadi sangat bermakna dalam kerangka untuk mengantarkan mahasiswa memiliki kapasitas lebih yang disebabkan oleh keterlibatnnya di dalam pengalaman-pengalaman lapangan. Mereka akan mendapatkan sertifikat dan juga bisa mengunggah hasil penelitian lapangannya di media yang harus kita rancang untuk kepentingan mereka.
Untuk melakukan semua ini, saya kira memang butuh pengorbanan. Jadi para dosen harus dipacu agar terus mengobarkan semangat untuk menemukan atau to discover dalam kehidupannya. Jadi para dosen tidak hanya menuntut tunjangan sertifikasinya agar dibayarkan tepat waktu, akan tetapi juga berwakaf dalam bidang ilmu yang diajarkannya lebih dari sekedar mengajar dengan jumlah satuan kredit semester (sks), sejumlah 13 sks.
Alangkah ironinya jika dosen hanya berpikir untuk dirinya sendiri, sementara tugas untuk mendidik anak bangsa agar dapat mengemban tugas Indonesia Emas, 2045, justru terabaikan.
Wallahu a’lam bia al shawab.

MENGOPTIMALISASIKAN POTENSI MAHASISWA PTKIN (1)

MENGOPTIMALISASIKAN POTENSI MAHASISWA PTKIN (1)
Di dalam kunjungan saya ke UIN Sunan Ampel Surabaya dalam kerangka monitoring Pelaksanaan Seleksi Calon Pegawai Negeri Sipil, khusus untuk rekruitmen dosen, maka saya berkesempatan untuk menghadiri forum Seminar Nasional yang diselenggarakan oleh Fakultas Dakwah dan Komunikasi pada UIN Sunan Ampel Surabaya, 25/10/2017. Acara ini digelar di Ruang Amphitheater UIN Sunan Ampel Surabaya di Lantai 2 yang ruangannya sangat baik dan berkualitas.
Acara ini dihadiri oleh Rektor UIN Sunan Ampel Surabaya, Prof. Dr. Abdul A’la, yang baru saja menerima penghargaan sebagai Santri Berprestasi di bidang pendidikan dalam rangka peringatan Hari Santri Nasional, Prof. Dr. H. Moh. Ali Aziz, dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi yang berkeliling dunia memperkenalkan “Terapi Shalat Bahagia”, Dr. Rr. Suhartini, Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi, Prof. Dr. Aswadi, Drs. Isa Anshori, MSi, para dosen, dan mahasiswa program Strata 1 maupun program magister. Acara ini dipandu oleh Dr. Agus Santoso, Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi pada UIN Sunan Ampel Surabaya.
Acara di Surabaya tentu merupakan acara yang bagi saya bernilai nostalgia, sebab di tempat ini, saya dibesarkan dan menggapai asa menjadi pimpinan tertinggi (rector) selama 3 (tiga) tahun. Masa-masa yang sangat indah dan penuh tantangan. Ada capaian keberhasilan dan ada proyek rintisan yang berhasil diraih pada saat kepemimpinan tahap berikutnya. Dan nanti kalau sudah saatnya tiba, artinya tidak lagi menjabat dalam jabatan structural, maka tentu akan kembali mengabdikan diri sebagai dosen di perguruan tinggi ini.
Tema yang diusung di dalam Seminar nasional ini ialah “Masa Depan Alumni Fakultas Dakwah dan Komunikasi di Era Milenial”. Suatu tema yang sangat prospektif, tetapi juga penuh tantangan dan hambatan untuk menjawabnya. Tentu saja saya merasa juga tertantang untuk menghadirkan presentasi yang memadai di kampus ini. Apalagi di antara mahasiswa tentu berharap bahwa akan didapatkan solusi yang memadai tentang apa dan bagaimana mereka ke depan harus menghadapi era milenial yang penuh dengan “ketidakpastian” dan tantangan tersebut.
Di dalam kesempatan ini, maka saya gambarkan ada 2 (dua) pertanyaan yang tentunya harus kita jawab secara optimal. Pertama, mengapa kita harus memperkuat pendidikan di Indonesia? Saya sering menyatakan bahwa pendidikan merupakan kata kunci untuk mengembangkan SDM Indonesia. Jika pendidikannya baik, maka akan bisa dipastikan bahwa SDM kita juga baik. Pendidikan merupakan instrument terbaik bagi bangsa ini untuk mengentaskan diri dari keterpurukan, keterbelakangan dan keterpinggiran. Jika kita tidak ingin berkubang di dalam hal ini, maka kuncinya ialah memperbaiki kualitas pendidikan kita.
Dewasa ini, Indeks Pengembangan Manusia (IPM) kita turun, yang pada tahun 2015 berada di peringkat 110 dari 188 Negara di dunia, maka sekarang IPM kita menduduki peringkat 113 dunia. Jauh dibandingkan dengan Thailand yang sudah memasuki peringkat 89 dunia. Itu artinya, bahwa kita memang masih berada di level negara berkembang dan belum beranjak untuk menjadi negara maju. Akan tetapi kita merasa bergembira karena kualitas manusia Indonesia semakin baik, sebab perkembangannya secara kualitatif memang memadai.
Saya tekankan bahwa kita memang tidak tepat membandingkan negeri ini dengan Negara Singapura, sebab sebagai Negara Kota, maka jumlah penduduknya sangat kecil dan luas wilayahnya juga terbatas. Namun demikian, cara Singapura mengembangkan SDM-nya tentu bisa dijadikan sebagai contoh yang baik.
Lalu dari sisi Indeks Kompetisi Global (IKG) atau Global Competition Index (GCI), kita bersyukur bahwa GCI kita meningkat dari tahun sebelumnya, yaitu terdapat lompatan 5 (lima) digit, dari peringkat 39 ke peringkat 34. Suatu pertanda baik, bahwa di tengah kompetisi global dalam berbagai aspek kehidupan ini, kita bisa merangsek ke posisi yang lebih tinggi.
Kita harus menyadari bahwa di era globalisasi ini, maka kata saktinya ialah kompetisi. Sebab tidak ada negara yang tidak terus menerus berupaya agar kompetisi bangsanya bisa meningkat. Kita akan menghadapi persaingan antar bangsa yang sangat ketat. Kita akan semakin berebut pasar dunia, baik pasar kerja maupun komoditas. Di dalam bursa kerja, maka akan terjadi persaingan yang sangat ketat, sebab setiap negara akan berupaya untuk menjadi negara yang bisa menguasai pasar kerja internasional. Demikian pula pasar komoditas, juga akan terjadi kompetisi yang sangat keras untuk saling menguasai, saling mendominasi dan saling berebut keuntungan secara finansial. Jadi kita semua harus melakukan kerja besar dalam kerangka untuk membangun kemampuan kompetisi di era yang makin kompleks ini.
Kedua, lalu apa yang bisa kita lakukan? Saya kira jawaban yang tepat ialah bahwa kita harus mengoptimalkan potensi yang kita miliki, jangan hanya penguatan potensi intelektual (intellectual intelligent) saja, akan tetapi juga harus mengoptimal potensi sosial (social intelligent), potensi emosi (emotional intelligent) dan bahkan juga potensi spiritual (spiritual intelligent). Jika kita bisa mengoptimalkan 5 (lima) potensi ini sekaligus, maka kita akan menuai keberhasilan di dalam kompetisi global yang sedang berlangsung. Jangan hanya ranah akal saja yang diperkuat, akan tetapi juga ranah lainnya. Jangan hanya menghasilkan anak cerdas secara intelektual saja, akan tetapi juga harus cerdas lainnya.
Di sinilah letaknya sinergi antara dosen dan mahasiswa. Makanya, ada 2 (dua) hal yang harus diperhatikan, yaitu: 1) Dosen tidak hanya sebagai penyebar pengetahuan—sebab ini juga bisa didapatkan dari internet—akan tetapi justru mengembangkan 3 (tiga) potensi lainnya itulah yang merupakan tugas dosen yang hakiki yang tidak bisa didapatkan dari internet. Saya selalu memandang bahwa kelebihan dosen ialah tentang bagaimana para dosen menjadikan mahasiswanya sebagai makhluk yang hebat dengan menemuan dan upaya untuk terus berkarya. 2) saya kira bahwa mahasiswa harus dibekali dengan optimalisasi kapasitasnya. PT perlu menyediakan berbagai program untuk mengembangkan kapasitas ini. Jadi yang disentuh di dalam program pembelajaran bukan hanya potensi intelektualnya, akan tetapi juga keahlian dan ketrampilan. Mahasiswa harus dididik agar mengenali dirinya dan potensi atau kapasitas dirinya. Lalu, mereka diberikan pilihan, misalnya akan menjadi akademikus, menjadi pengusaha, menjadi manager, menjadi pemimpin atau menjadi apa saja yang dihendakinya. Jadi menurut saya harus ada “sekolah kepemimpinan”, “sekolah pengusaha”, “sekolah manager”, “sekolah menulis”, “sekolah kepribadian”, “sekolah produk halal”, “sekolah riset”, dan sebagainya yang dikelola secara baik dan terukur. Dari sini akan menghasilkan sertifikat-sertifikat yang akan bisa dijadikan sebagai jalan untuk menuju kehidupan yang sesungguhnya.
Untuk program ini, maka PT bisa melakukannya sendiri dengan bekerja sama dengan lembaga yang accredited sehingga akan memperoleh recognition yang memadai atau akan dilakukan oleh pihak lain melalui kerja sama. Saya kira ada banyak pilihan yang bisa dilakukan dalam kerangka memperkuat mahasiswa ini, agar ke depan mereka akan mampu bersaing dengan dunia yang makin sempit dan kompleks ini.
Wallahu a’lam bi al shawab.

SANTRI DAN TANTANGAN EKONOMI KEUMATAN (4)

SANTRI DAN TANTANGAN EKONOMI KEUMATAN (4)
Ada yang menarik di dalam peringatan Hari santri tahun 2017 ialah acara NU untuk mengumpulkan “Semilyar Shalawat Nariyah” sebagai salah satu cara untuk memperingati Hari Santri. Bagi saya ini merupakan peristiwa yang unik dan beginilah cara warga Nahdliyin untuk mengenang peristiwa agung dalam sejarah Indonesia, yaitu “Resolusi Jihad” yang dikumandangkan oleh Hadratusy Syekh KH. Hasyim Asy’ari, yang sekarang diperingati sebagai Hari Santri.
NU memang memiliki tradisi religiusitas yang unik khas Nusantara, dengan acara tahlilan, yasinan, dzibaan, serta nariyahan yang selama ini sudah sangat membudaya di antara mereka. Seluruh acara misalnya Lailatul Ijtima’ yang diselenggarakan sampai di desa-desa juga diisi dengan acara-acara unik ini. Arab Saudi yang dijadikan sebagai referensi keagamaan (baca Islam) bagi umat Islam sedunia, tentu tidak memiliki kegiatan seperti ini.
Bagi saya inilah keunikan NU dengan berbagai varian tradisi keagamaannya–genuine, khas Nusantara—yang memang dikembangkan oleh para penyebar Islam generasi terdahulu dalam kerangka mengislamkan Nusantara. Kemampuan mengakomodasi terhadap tradisi dan budaya local merupakan kekuatan NU yang tiada taranya. Di dalam buku saya “Islam Pesisir” saya jelaskan bagaimana NU mengislamkan tradisi-tradisi nyadran (sedekah bumi di sumur), atau manganan (sedekah bumi di Kuburan) lalu menjadi Islami merupakan tradisi yang sagat unik. Jika di masa lalu di sumur diselenggarakan acara tayuban atau sindiran (acara khas Jawa yang di dalamnya ada acara menari dan menyanyi dengan music Jawa), maka lalu berganti menjadi Thoyiban. Saya yakin bahwa acara tayuban adalah tradisi masa lalu yang digunakan oleh para penyebar Islam generasi awal, yang bisa diubah oleh NU menjadi sebagaimana hakikat semula.
Makanya tidak mengherankanj jika di dalam acara peringatan Hari Santri, maka NU juga melakukan kegiatan penumpulan “Semilyar Shalawat Nariyah” sebagaimana yang sekarang dilakukan oleh warga NU. Nyaris semua masjid yang takmirnya orang NU, maka dipastikan menggelar acara baca Shalawat Nariyah ini. Suatu tradisi yang sangat baik dalam kerangka untuk melestarikan tradisi mempertahankan Islam dengan cara-cara yang unik.
Di sisi lain, juga terdapat new initiative, yang dikembangkan oleh kelompok Islam, yang menganggap dirinya paling puris –kelompok 212—yang juga mengembangkan upaya baru untuk “melawan” terhadap dominasi ekonomi yang sangat gigantic seperti Alfa Mart, Indo Mart, dan Mart-Mart lainnya yang menguasai dunia ekonomi retail di Indonesia. Mereka mengumpulkan “Semilyar Uang” dari jamaah-jamaah masjid untuk dijadikan sebagai saham, lalu mereka membuat Mart baru. Sesuai dengan gerakan ini, maka Mart itu dinamakan 212 Mart, atau Koperasi 212.
Hal ini saya kira merupakan upaya yang juga menarik untuk dicermati di dalam kerangka gerakan Islam, yang sekarang mulai sadar tentang “dominasi” ekonomi yang semakin menjauh dari umat Islam.
Jadi, ada gerakan yang stabil untuk memperkuat spiritualitas melalui Gerakan “Semilyar Shalawat Nariyah” yang diselenggarakan oleh warga NU, dan di sisi lain terdapat Gerakan “Semilyar Uang” untuk penguatan ekonomi umat melalui pengembangan potensi masjid untuk menjadi kekuatan ekonomi yang ke depan diharapkan akan bisa menjadi “penjawab” terhadap kegalauan “dominasi” ekonomi kapitalis yang sudah berakar sangat kuat di Indonesia.
Bagi saya memang tantangan yang sangat berat bagi kaum santri ialah bagaimana menyadarkan kaum santri agar seirama dengan perubahan-perubahan dan perkembangan ekonomi yang makin kompleks. Saya kira, tradisi pesantren berupa tahlilan, yasinan, dzibaan dan berbagai lainnya, tentu harus tetap lestari, karena itulah kekuatan Islam Nusantara. Akan tetapi yang tidak kalah menarik ialah bagaimana memberdayakan ekonomi santri ini untuk menjawab terhadap “kegalauan” sebagian umat Islam tentang “dominasi’ ekonomi kapitalis.
Saya melihat bahwa alumni pesantren kebanyakan menjadi kyai pada levelnya masing-masing. Tentu juga ada yang menjadi takmir masjid, pimpinan lembaga pendidikan dalam berbagai levelnya dan sebagainya, Inilah sesungguhnya yang menjadi kekuatan kaum santri atau menjadi modal sosial kaum santri.
Hanya sayangnya bahwa mereka belum terkoneksi secara memadai dengan berbagai program penguatan kelembagaan ekonomi. Nyaris mereka tidak memiliki jaringan untuk mengembangkan aspek program ekonomi umat itu. Mereka hanya berkutat dengan dengan kegiatan-kegiatan rutin yang terus menerus dilakukan, yaitu acara-acara religiositas yang sudah berlaku turun menurun hingga sekarang. Nyaris mereka tidak tersambungkan dengan upaya-upaya untuk pengembangan ekonomi keumatan ini.
Makanya diperlukan gerakan untuk mengembangkan ekonomi santri, sebagaimana yang dilakukan oleh Pondok Pesantren Sidogiri, yang asetnya telah trilyunan rupiah. Para alumni Sidogiri yang tersebar di seluruh Indonesia telah disadarkan akan pentingnya memperkuat gerakan ekonomi santri. Oleh karena itu banyak santri Pondok Pesantren Sidogiri yang kemudian bergerak di bidang ekonomi santri tanpa menghentikan gerakan religiositas yang sudah mendarah daging.
Saya kira kita semua harus belajar dari teladah hasanah dalam mengembangkan ekonomi santri dari pondok pesantren Sidogiri ini, sehingga para santri kemudian memiliki kesadaran sepenuhnya untuk mengurangi “dominasi” ekonomi kapitalis yang terus menggurita di negeri ini.
Masih ada peluang untuk bergerak, senyampang masih ada kesempatan untuk melakukannya. Dan sekali lagi semua ini tergantung dari kesadaran kaum santri untuk terus berubah dan berubah.
Wallahu a’lam bi al shawab.

SANTRI DAN TANTANGAN PERGULATAN MODERNISASI PENDIDIKAN (3)

SANTRI DAN TANTANGAN PERGULATAN MODERNISASI PENDIDIKAN (3)
Di dunia ini nyaris tidak ada sebuah institusi, tentu termasuk institusi pendidikan pesantren, yang terlepas dari tantangan modernitas, yaitu modernisasi pendidikan. Kata yang menurut saya tidak bisa dilawan dewasa ini ialah modernisasi dalam berbagai aspek kehidupan. Yang bisa dilakukan hanyalah menyikapi secara arif terhadap gerakan modernisasi itu agar tetap bermanfaat bagi warga masyarakat dan bangsa.
Modernisasi itu ibarat angin puting beliung yang bisa menerjang apa saja, dan yang tidak kuat akan roboh dan yang kuat akan tetap tegak berdiri. Ibarat pergulatan survival of the fittest maka hanya yang kuat saja yang akan bertahan dan kemudian berkembang atau mengembangkan diri, sementara itu yang lemah akan tergilas dan hilang dalam pusaran sejarah. Maka bisa kita lihat, mana institusi yang akan terus eksis di tengah pergulatan itu dan mana institusi yang kemudian hilang tidak berbekas.
Dunia pesantren, sejauh yang kita lihat tetap eksis. Dunia pesantren sebagai institusi yang bergerak di bidang pendidikan Islam, ternyata memiliki daya tahan yang sangat kuat untuk menanggulangi terhadap banjir bandang atau tiupan prahara badai dan angin kencang yang terus menerus menerjang dirinya. Pesantren memiliki kekuatan yang sangat hebat di dalam kerangka mempertahankan diri di tengah goncangan modernisasi yang tidak bisa dihadang lajunya.
Di antara variabel yang menyebabkan mengapa pesantren dengan kyai dan santrinya itu mampu bertahan ialah: pertama, dari aspek kepemimpinan. Pesantren dapat mengikuti perubahan yang terus terjadi. Misalnya, di masa lalu kepemimpinan bercorak kharismatis, akan tetapi seirama dengan sulitnya kepemimpinan kharismatis tersebut muncul, maka pesantren berkembang dengan kepemimpinan tradisional, yaitu kepemimpinan didasarkan atas “keturunan” dan di kala modernisasi juga masuk ke dunia pesantren, maka kemudian muncullah kepemimpinan legal formal, yaitu kepemimpinan yang bercorak kebersamaan dan pembagian tugas yang jelas. Kepemimpinan pesantren menjadi kepemimpinan yang modern dengan segala kelebihannya.
Kedua, dari aspek kelembagaan pendidikan. Dunia pesantren adalah dunia yang adaptif terhadap perubahan. Konsep yang selalu digunakan ialah “al muhafadlatu ‘ala al qadimish al shalih wa al akhdzu bi al jaded al ashlah”. Melalui konsep “menjaga terhadap hal-hal yang baik di masa lalu dan mengambil hal-hal yang terbaik yang bermanfaat di masa sekarang dan akan datang” maka pesantren memiliki kelenturan. Jika di masa lalu hanya sebagai pendidikan pesantren dengan pengajian kitab kuning saja, dengan system tradisional (bandongan, wetonan dan sorogan), maka kemudian menjadi madrasah dengan system klasikal dengan mengadaptasi kurikulum yang lebih luas. Kemudian berkembang menjadi sekolah yang selain menggunakan system klasikal juga menggunakan kurikulum nasional dan ilmu-ilmu non keislaman.
Kelenturan dunia pesantren ini yang kemudian menjadi contoh, bagaimana lembaga pendidikan Islam dapat bertahan dengan berbagai goncangan yang hebat. Pesantren lalu menjadi seperti mall atau toko swalayan yang menyediakan berbagai menu pendidikan, sehingga kita tinggal memilih mana yang kita inginkan dan kita beli, dan akhirnya menjadi pilihan utama di dalam pendidikan anak-anak.
Pesantren sungguh dapat menempatkan diri di dalam bursa pendidikan yang sangat inspiratif di dalam membendung pengaruh modernisasi yang datang kepadanya. Dengan kata lain, yang lain boleh berubah seratus persen, tetapi pesantren akan tetap hidup dengan cara dan dinamikanya sendiri sambil mengambil secara adaptif, mana yang baik dan mana yang harus ditinggalkan.
Ketiga, kemampuan adaptasi yang sangat tinggi. Harus diakui bahwa lembaga pendidikan yang sungguh-sungguh sangat adaptif ialah lembaga pendidikan pesantren. Nyaris tidak masuk dalam pikiran kita, bagaimana pesantren dengan cepat bisa mengambil peran pendidikan umum di dalamnya. Jika selama ini, dunia sekolah itu identic dengan lembaga pendidikan “secular” karena dilakukan oleh kaum penjajah di masa lalu dan diselenggarakan oleh lembaga-lembaga pendidikan di Barat, maka pesantren pun dapat mengadaptasinya. Bahkan dengan kemampuannya yang menakjubkan, mereka “mengislamkan” lembaga pendidikan “secular” tersebut di dalam pesantren dan menjadikannya sebagai bagian tidak terpisahkan. Kira-kira slogannya “ lembaga boleh apa saja namanya, akan tetapi isinya harus tetap Islami”. Boleh saja sekolah, boleh saja madrasah dan bahkan juga pesantren salafiyah, akan tetapi kontennya tetap saja Islam yang rahmatan lil alamin. Substansi menjadi sangat penting di dalam konteks perubahan tersebut.
Kita tidak pernah membayangkan sebuah pesantren di Lombok Tengah, di bawah kepemimpinan Kyai TG. Hasanain, ternyata siswanya dapat merakit computer dalam waktu kurang dari 20 menit dan semua santrinya belajar dengan menggunakan media teknologi informasi. Kita juga tidak membayangkan bahwa di Pesantren Lirboyo, lembaga pendidikan di dalamnya adalah Lembaga Pendidikan Negeri, dan pesantren lain, seperti Pesantren Tebuireng yang pada tahun 60-an sudah mengajarkan Bahasa Inggris. Dan kemudian beberapa pesantren lainnya bahkan mewajibkan santrinya untuk belajar Bahasa Mandarin.Lalu Pesantren Nurul Iman di Parung yang didirikan oleh Habib Assegaf dan kini diasuh oleh Bu Nyai Waheeda dengan 20.000 santri justru mengembangkan pendidikan umum seluruhnya.
Semua ini merupakan bagian dari moralitas mengedepankan “menjaga hal-hal di masa lalu yang baik, dan mengambil hal-hal terbaik di masa sekarang”. Jadi prinsip ini saya kira lebih hebat dibandingkan dengan teori ilmu sosial “continuity within change” yang dicetuskan oleh para ahli di bidang ilmu sosial.
Wallahu a’lam bi al shawab.