• June 2026
    M T W T F S S
    « May    
    1234567
    891011121314
    15161718192021
    22232425262728
    2930  

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

PULKAM: TRADISI YANG MENYEJARAH (1)

PULKAM: TRADISI YANG MENYEJARAH (1)
Tahun lalu, 1 Syawal 1438 H/2017 M., saya melakukan shalat Id di Surabaya. Saya masih ingat, saya melakukan shalat di dekat rumah di Ketintang Selatan. Setelah shalat ‘id saya bergegas ke Tuban untuk sungkem kepada Emak saya, dan bersilaturahim dengan tetangga dan sahabat saya di masa lalu. Karena saya datang di hari pertama idul fithri, maka banyak anak-anak kecil yang datang ke rumah. Ingin berkah uang baru yang masih lurus. Belum lusuh sebagaimana uang yang biasa kita pegang.
Tahun ini, 1439 H/2018 M., saya secara sengaja melakukan shalat Id di Masjid Istiqlal setelah sore hari sebelumnya mengikuti acara Sidang Itsbat. Dan tahun ini pula saya menyelenggarakan acara open house, yang pada tahun-tahun sebelumnya tidak saya lakukan. Tahun ini adalah tahun terakhir pengabdian saya sebagai pejabat structural, Sekretaris Jenderal Kementerian Agama, dan akan kembali mengabdi sebagai professor pada UIN Sunan Ampel Surabaya.
Yang menjadi khatib pada shalat ‘id ialah AA. Gym. Meskipun Khutbah AA Gym hanya sekali saja, biasanya 2 (dua) kali khutbah, tetapi saya tentu mengapresiasi terhadap isi khutbah AA Gym yang saya rasa bisa memberikan spirit bagi kehidupan kita sebagai bangsa. Beliau bercerita tentang kejujuran, bahwa kejujuran adalah kata kunci di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Diharapkan bahwa kejujuran menjadi focus dalam penyelenggaraan negara, sehingga korupsi, nepotisme, kolusi dan sebagainya akan bisa dihilangkan dari bumi Indonesia. Selain itu, Beliau juga berharap bahwa kerukunan dan harmoni di dalam kehidupan beragama juga terus diupayakan. Indonesia harus menjadi contoh di dalam kehidupan yang aman dan damai dan bisa memberikan kontribusi bagi peradaban dunia.
Hadir di dalam shalat Id tersebut ialah Pak HM. Jusuf Kalla (Wakil Presiden RI), Pak Zulkifli Hasan (Ketua MPR), Pak Rudiantara (Menkoinfo), Prof. Nasaruddin Umar (Imam Besar Masjid Istiqlal), Pak Bahrul Hayat, Pak Muhammadiyah Amin, dan sejumlah pejabat lainnya. Sebagaimana biasanya, maka masjid Istiqlal ini penuh dengan jamaah Shalat Id. Bahkan meluber sampai di halaman. Di seputar Masjid Istiqlal juga penuh dengan kendaraan roda empat dan menimbulkan kemacetan di saat memasuki atau keluar dari Masjid Istiqlal.
Sebagaimana usulan para staf saya, maka saya tentu menyambut gembira usulan untuk open house ini. Bagi saya tidak ada baiknya menyelenggarakan acara kekeluargaan antar sesama ASN Kemenag, mulai dari para pejabat tinggi sampai para staf out sourcing. Dengan mengadakan acara open house ini, maka silaturrahim dengan mereka bisa terselenggara.
Saya juga menghadiri acara open house yang diselenggarakan oleh Pak Menteri Agama, Pak Lukman Hakim Saifuddin, di rumah Dinas Menteri, di Widya Candra Jakarta. Saya datang agak lebih awal, sebab saya juga mempertimbangkan bahwa di rumah dipastikan juga akan hadir sejumlah pejabat dan staf yang memerlukan datang untuk acara di Rumah Dinas, Jl. Indramayu 14, Menteng, Jakarta Pusat.
Saya menyaksikan para tokoh agama sudah hadir di rumah Dinas Pak Menteri. Ada dari Katolik, Hindu, Budha, Khongkucu dan lainnya. Kaum agamawan ini, sebagaimana biasanya memang menyempatkan datang di acara open house yang diselenggarakan Pak Menteri.
Setelah saya dan keluarga berfoto bersama dengan Pak Lukman Hakim Saifuddin dan Ibu Tresna Willy Lukman Hakim, maka saya kembali ke rumah. Sebagaimana diketahui bahwa di rumah juga ada acara open house yang semestinya dimulai jam 13.00 WIB. Akan tetapi, setelah shalat Id, Pak Tarmidzi, Prof. Gunaryo dan Pak Amri sudah datang ke rumah. Pak Tarmidzi, yang sama-sama bertempat tinggal di Wisma Kemenag dengan Jemmy, lalu digoda: “ayo sarapan dulu”.
Saya bersyukur sebab banyak pejabat yang hadir di acara ini. Pak Thomas Fentury, Pak Binsasi, Pak Caliadi, Pak Nurkholis Setiawan, Pak Muhammadiyah Amin, Pak Sukoso, Pak Oman Fathurahman, Pak Janedri, Pak Syafrizal, Pak Mudhofier, Pak Choiruddin, Pak Buchori, Pak Mastuki, Pak Saiful Mujab, Pak Ahmadi, Pak Ali Irfan, Pak Abdurahman, Bu Aminah, Pak Mohsen, Pak Yan Kadang, Pak Pontus, dan Pak Juraidi. Selain itu juga banyak pejabat eselon III yang hadir di dalam acara ini. Yang juga menggembirakan karena ada beberapa tokoh agama lain yang hadir. Pak Uung dan pengurus Matakin juga hadir.
Salah satu makna yang bisa kita ambil di dalam acara halal bil halal atau open house ini ialah kehadiran berbagai penganut agama. Saya kira hal ini merupakan contoh yang sangat baik bagi dunia kerukunan umat beragama. Tradisi halal bil halal seperti ini merupakan teladan bagi dunia, bahwa Indonesia sesungguhnya merupakan miniature kerukunan umat beragama.
Di forum seperti ini, maka kita bisa bicara bersama, bisa bercanda bersama dan bahkan juga berfoto bersama. Tidak ada lagi sekat yang menghalangi relasi di antara kita. Saya sering menggoda kawan-kawan dari agama selain Islam: “saya di surga bertemu dengan Pak Binsasi, cuma saya lihat rambutnya berbeda. Rambutnya menjadi lurus”. Kita bisa tertawa lepas bersama-sama.
Jika kita ingin melihat bagaimana sesungguhnya membangun harmoni dan kerukunan beragama, maka lihatlah bagaimana relasi kita di Kemenag. Kita terbiasa untuk saling memahami tentang siapa kita. Saya kira relasi itu terbangun bukan hanya karena sesama pejabat, akan tetapi memang di dalam hati sudah tertanam perasaan ke-Kita-an dan bukan ke-Aku-an.
Jika apa yang tersaji di dalam relasi antar umat beragama ini bisa dilakukan juga di masyarakat luas, saya berkeyakinan bahwa kerukunan umat beragama akan sungguh menjadi realitas di dalam kehidupan kita. Dan kita sudah menyaksikannya juga di tengah kehidupan masyarakat kita.
Wallahu a’lam bi al shawab.

PUASA MENUMBUHKAN INTELIGENSI SPIRITUAL

PUASA MENUMBUHKAN INTELIGENSI SPIRITUAL

Salah satu keunggulan manusia dibandingkan dengan makhluk Allah lainnya ialah kelengkapan inteligensi yang dimilikinya. Manusia oleh Allah diberikan 4 (empat) kecerdasan sekaligus, yaitu: rational intelligent, emotional intelligent, social intelligent dan juga spiritual intelligent. Dengan kemampuan seperti ini, maka pantaslah jika Allah memilih manusia menjadi khalifahnya di muka bumi.
Ketika semua makhluk Allah diberi peluang untuk menjadi khalifah Allah, maka semua menolaknya. Bahkan malaikat juga menolak untuk menjadi khalifah Allah di muka bumi. Allah lalu menyatakan akan menciptakan manusia yang kelak akan menjadi khalifah-Nya. Malaikat pun bertanya, apakah manusia mampu untuk menjadi khalifah Allah di bumi? Maka, Allah dengan kekuasaannya membuktikan kepada para malaikat, bahwa manusia memiliki kemampuan untuk menjadi khalifah Allah tersebut. Manusia diberi kemampuan inteligensi yang tidak dimiliki oleh makhluk Allah lainnya.
Dengan rational intelligent, maka manusia memiliki kemampuan untuk berpikir dan memahami kehidupan ini berdasarkan atas prinsip rasional, misalnya pemikiran untung dan rugi, baik dan buruk, bermanfaat atau tidak dan segala hal yang terkait dengan kemampuan rasionalnya. Melalui inteligensi rasional ini, maka manusia memiliki kemampuan untuk memilah dan memilih untuk dirinya dan juga komunitasnya. Di dalam banyak hal, akan selalu dipilih yang terbaik untuk dirinya.
Berbekal emotional intelligent, manusia bisa merasakan dan menghayati kebaikan dan keburukan bagi kehidupan diri dan komunitasnya. Manusia akan bisa membedakan mana yang berseberangan dan selaras dengan hati dan perasaannya. Manusia diberikan hati nurani untuk merasakan kebaikan dan kemanfaatan kebaikan bagi diri dan masyarakatnya. Manusia memiliki kemampuan untuk merasakan penderitaan dan kesenangan yang dialami dirinya dan juga masyarakatnya.
Melalui social intelligent, manusia akan memiliki simpati dan juga empati. Manusia dapat bersimpati dan berempati dengan dunia sekelilingnya. Dia akan merasa senang jika ada orang lain senang dan merasa sedih jika ada orang lain sedih. Mereka akan berupaya untuk berada di dalam suatu momentum “empati” dengan orang lain. Mereka akan menyatakan: “bagaimana jika hal ini menimpa saya atau keluarga saya”. Dengan pikiran, sikap dan tindakan seperti itu, maka mereka telah menempatkan dirinya dalam diri orang lain. Jika ada manusia yang sudah tidak lagi bisa berempati atau bersimpati, maka yang bersangkutan telah kehilangan inteligensi sosialnya itu.
Lalu, manusia juga memiliki kemampuan yang disebut sebagai spiritual intelligent. Yaitu inteligensi ketuhanan yang sungguh menjadi ciri khas kemanusiaan. Manusia memiliki basis spiritualitas yang menjadi bagian di dalam kehidupannya. Saya kira tidak ada manusia di dunia ini yang sama sekali lepas dari dimensi spiritualitas itu. Manusia primitive –yang di dalam banyak hal—masih sangat sederhana di dalam kehidupannya ternyata juga mengenal Tuhan sesuai dengan kapasitas spiritualnya.
Tiada makhluk di dunia yang diberikan kemampuan untuk mengenal dan memahami Tuhan dan bahkan merasakan kehadiran Tuhan di dalam kehidupannya kecuali manusia. Meskipun manusia hanya diberi ilmu sedikit saja tentang kehidupan ini, akan tetapi di antara ilmu yang sedikit itu ialah manusia diberi oleh Allah kemampuan untuk mengenal dan memahami Tuhan. Sungguh salah satu karunia Allah kepada manusia yang tiada taranya ialah hakikat mengenal dan memahami keberadaan Allah ‘azza wa jalla.
Melalui kemampuan yang hebat ini, maka manusia bisa menjadi cerdas kapasitas otaknya, memiliki rasa kasih sayang, rasa persaudaraan, simpati dan empati serta memiliki kemampuan untuk mencari dan menemukan Tuhannya di dalam kehidupannya. Oleh karena itu, saya berhipotesis bahwa sampai kapanpun manusia akan selalu memiliki keyakinan tentang Tuhan dalam varian-varian yang relevan dengan kapasitas untuk mengenalnya.
Dengan kapasitas spiritualnya itu, manusia dapat menemukan berbagai cara untuk mendekati, menyembah dan mematuhi serta meninggalkan semua perintah-Nya. Manusia sungguh memiliki kelengkapan yang luar biasa untuk bisa menemukan kehidupan yang lebih baik, dalam berhubungan dengan sesama manusia, sesama lingkungan dan dengan Tuhannya.
Islam mengajarkan 3 (tiga) konsepsi tentang bagaimana merajut kehidupan berbasis hablum minallah, hablum minan nas dan hablum minal ‘alam. Manusia melakukan peribadahan kepada Allah dalam kerangka memenuhi kebutuhan spiritual ketuhanan, manusia melakukan hubungan baik dengan sesama manusia karena kebutuhan sosialnya dan juga melakukan pemenuhan kebutuhan dengan alam, di mana manusia hidup bermasyarakat.
Sesungguhnya, manusia sudah diberikan kemampuan spiritual semenjak masih berada di alam ruh atau alam di mana kehadiran manusia di dunia sudah disiapkan, akan tetapi belum memiliki washilah untuk hadir di alam dunia. Ketika Allah menyatakan: “alastu birabbikum, Qalu bala syahidna” (Surat Al A’raf, 172). Terjemahannya ialah “Bukankah aku ini Tuhanmu? Mereka menjawab: Benar (Engkau Tuhan kami) dan kami menjadi saksi”. Ayat ini memberikan gambaran terang bagi manusia, bahwa semenjak di dalam alam ruh, manusia sudah dibekali dengan kemampuan spiritual itu, yaitu kemampuan untuk mengenal dan bersaksi tentang keberadaan Allah swt.
Ketika manusia lahir ke dunia, Allah memberikan tuntunan berupa agama dengan berbagai ajaran normatifnya. Setiap agama yang hadir di dunia memiliki jalan atau cara untuk mengenal Tuhannya secara lebih mendalam atau bercorak essensial atau esoteric. Di dalam Islam dikenal ajaran tasawuf sebagai salah satu cara untuk mengenal dan memahami Tuhan secara lebih mendalam. Manusia diajarkan untuk mengenal hakikat Allah dan ma’rifat Allah. Manusia diajarkan agar bisa melakukan pencarian pada Tuhan, sebagai misteri keagamaan yang sangat menantang. Bahkan ada di antara manusia yang bisa sampai kepada suatu keadaan di mana tidak lagi terdapat hijab antara dirinya dengan Tuhannya.
Ada banyak cara yang dimiliki manusia untuk sampai kepada pemahaman dan pengenalan terhadap Tuhan yang bersifat esoterik. Mereka dapat memiliki kemampuan untuk mengembangkan cara-cara berdekatan dengan Tuhan sesuai dengan pedoman beragama yang sudah diberikan oleh Rasulullah Muhammad saw. Memang ada banyak cara yang telah dikembangkan oleh manusia untuk mengembangkan potensi berketuhanan, dengan varian metodologi, konten dan spiritualitas di dalamnya. Misalnya gerakan tarekat yang sekarang menjamur di Indonesia.
Di dalam Islam juga dikenal ada banyak cara untuk sampai kepada pemahaman dan pengenalan Tuhan tersebut. Di antara cara yang lazim dilakukan untuk mengenal Allah ialah dengan puasa. Puasa merupakan ibadah fisikal dan non fisikal sekaligus. Hampir semua ibadah kepada Allah selalu memiliki dimensi fisikal dan non fisikal. Shalat selalu menggunakan gerakan-gerakan fisik dan juga spiritual sekaligus. Seluruh bacaan di dalam shalat adalah doa-doa dan ungkapan-ungkapan spiritual yang luar biasa. Bagi yang menghayati doa dan ungkapan dalam shalat pastilah merasakan bahwa semuanya memiliki dimensi spiritualitas yang sangat tinggi.
Demikian pula puasa. Secara lahir puasa hanya dikaitkan dengan larangan makan, minum, relasi seksual dan larangan-larangan lain yang membatalkan atau mengurangi pahala puasa. Namun sesungguhnya puasa merupakan cara Allah mengajari hambanya agar senantiasa menumbuhkan berbagai inteligensi yang dimilikinya. Menahan lapar dan minum untuk mempertajam social intelligent, menahan hawa nafsu agar manusia mengoptimalkan emotional intelligent, dan menahan relasi seksual dan perbuatan lainnya untuk memaksimalkan emotional dan social intelligent.
Lalu, dengan melakukan semua itu, maka akan memunculkan sikap sabar dan tawakkal kepada Allah. Karena hanya kesabaran yang bisa menjadi ujung tombak manusia untuk bisa sampai kepada capaian tertinggi, maqam spiritual intelligent. Dengan kesabaran akan bisa mengalahkan seluruh nafsu biologis dan non biologis lainnya. Hanya orang yang sabar yang bisa mencapai hakikat puasa sebagai ibadah yang istimewa. Jadi kesabaran merupakan instrument akhir untuk menggapai keridhaan Allah.
Puasa merupakan saat yang paling tepat untuk muhasabah atau mengintrospeksi diri. Puasa bisa menjadi instrumen penting untuk menilai ulang terhadap cara dan tujuan kita semua di dalam membangun kebersamaan dengan Allah, sesama manusia dan juga alam. Puasa menjadi cara yang mendasar untuk menilai kembali hubungan dengan Allah dengan perilaku yang sesungguhnya sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh Allah. Dengan cara seperti ini, maka kita akan sampai kepada makna puasa yang berupa kesabaran.
Di samping itu juga menjadi medium untuk membangun ketawakalan kepada Allah. Puasa bisa menjadi instrumen agar kita menyerahkan seluruh urusan kehidupan hanya kepada Allah semata. Kehidupan kita keseluruhan adalah milik Allah, sehingga sangat pantas jika kita menyerahkan seluruh urusan itu hanya kepada Allah. Jadi, ketika puasa sudah kita lakukan, membangun kesabaran sebagai fondasi kehidupan sudah diselesaikan, maka gilirannya ialah bertawakkal kepada Allah, menyerahkan hasil akhir dari perbuatan kita kepada Allah.
Inti dari tawakkal itu dapat disimak dari doa yang kita panjatkan kepada-Nya. Ketika kita mengucapkan doa berbuka puasa: “Allahumma laka Shumtu” yang artinya “Ya Allah hanya untuk-Mu puasaku” maka di sinilah buah kesabaran dan tawakkal itu akan bermakna. Puasa yang dilakukan itu hanya khusus untuk Allah, sehingga Allah akan menerima puasa tersebut. Puasa merupakan sebuah ibadah khusus yang pahalanya akan langsung berada di sisi Allah. Hal ini merupakan janji Allah sendiri. Bahkan janji yang lebih tinggi lagi bagi orang yang puasa, yakni akan memperoleh 2 (dua) kebahagiaan: kebahagiaan ketika berbuka dan kebahagiaan ketika bertemu Allah swt.
Namun demikian, tentu juga ada individu-individu yang berpuasa, akan tetapi puasanya hanya memperoleh balasan yang bercorak duniawi. Mereka memang berniat puasa, tetapi hanya tidak makan, minum dan bersenggama di siang hari. Mereka hanya mementingkan puasa secara fisikal saja, tanpa dibarengi dengan upaya untuk menjaga puasanya dari perbuatan-perbuatan yang dapat merusak puasa itu. Dimensi batiniah puasa tidak dilakukannya. Yang demikian ini, maka mereka juga hanya akan mendapatkan apa yang dilakukannya itu.
Sebagaimana yang diberitakan oleh Rasulullah Muhammad saw, bahwa di antara kita itu ada yang puasanya hanya memperoleh lapar dan dahaga. Nabi Muhammad saw menyatakan: “Kam min shaimin laisa lahu min shiyamihi illal Ju’u wa al ‘athasy” (Hadits Riwayat Imam An Nasai dan Ibn Majah). Artinya: “berapa banyak orang yang puasa, akan tetapi tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya, kecuali lapar dan dahaga”.
Puasa yang hanya mendasarkan diri pada larangan biologis belaka. Jadi, puasanya belum sampai kepada hati, pikiran, perasaan dan tindakan. Di dalam diri yang bersangkutan masih ada perasaan, pikiran, hati dan tindakan yang belum berkontemplasi kepada Allah semata. Artinya, bahwa puasanya masih sekedar memuasakan dimensi lahiriyah saja. Padahal totalitas puasa itu jika seseorang bisa memuasakan fisiknya dan juga memuasakan batinnya.
Bukankah masih sering kita dengar, misalnya ungkapan “puasa itu siang hari, kalau malam tidak”. Lalu diteruskan: “kalau berpikir dan melakukan kejelekan pada malam hari tidak apa-apa. Yang begini ini tidak membatalkan puasa”. Ungkapan seperti ini adalah contoh bagaimana individu memisahkan antara dunia puasa yang tidak boleh berpikir dan melakukan kejelekan dengan dunia nonpuasa yang boleh berpikir dan melakukan kejelekan. Padahal, sesungguhnya puasa merupakan instrument agar orang selalu berpikir positif kapan dan di manapun juga. Puasa sesungguhnya justru merupakan wahana untuk mencegah perbuatan yang negatif menuju kepada perbuatan positif kapan dan di mana saja.
Manusia yang bisa berpuasa sebagaimana ajaran puasa, yang tidak hanya mencegah makan, minum, relasi seksual dan lainnya serta dengan kesadaran penuh untuk lebih jauh mengenal Tuhannya, maka dia sesungguhnya sudah berusaha untuk mengoptimalkan spiritualitasnya. Puasa seperti ini adalah puasa yang dilakukan oleh para perindu puasa dan bukan hanya puasanya orang awam, yang hanya memenuhi beban minimal yang dimukallafkan kepadanya.
Dengan memahami berbagai penjelasan di atas, maka kiranya dapat dinyatakan bahwa terdapat kategori berpuasa, yaitu: Pertama, puasa berbasis kecerdasan rasional. Kecerdasan rasional ditempatkan dalam konteks pemikiran kebutuhan biologis. Puasa yang dilakukan hanya dengan mencegah kebutuhan biologis (makan, minum, dan relasi seksual) pada siang hari. Puasa yang seperti ini tentu juga berpeluang mendapatkan pahala. Harus diyakini bahwa Allah pasti akan memberikan pahala meskipun hanya sebesar biji dzarrah terhadap amal ibadah hambanya.
Kedua, puasa berbasis kecerdasan emosional dan sosial. Puasa yang diindikasikan sudah memanfaatkan seluruh kemampuannya, yaitu mencegah makan, minum, relasi seksual dan juga hal-hal yang membatalkan puasa lainnya, seperti tidak berkata yang jelek, tidak melakukan perbuatan yang tercela, tidak melakukan amalan-amalan syubhat yang mengarah kepada kejelekan, tidak menggunjing, mengumpat, melecehkan dan perbuatan lainnya yang bisa merusak pahala puasa. Puasa yang didasari oleh kemampuan memilah dan memilih mana perbuatan yang baik dan buruk dalam relasinya dengan keabsahan puasa.
Ketiga, puasa berbasis kecerdasan spiritual. Yaitu puasa yang dilakukan dengan menahan kategori pertama, dan kedua serta memperbanyak amalan yang mengarahkan kepada semakin membengkaknya pahala puasa. Amalan-amalan seperti dzikir, wirid, tadarrus al Qur’an, memberi ceramah agama yang menyejukkan, memberikan sedekah, infaq dan amalan lainnya yang akan memberikan sejumlah tambahan pahala untuk para pelaku puasa.
Jika dilihat dari kategorisasi seperti ini, maka tentu yang diharapkan ialah melaksanakan puasa dalam kategori kedua dan ketiga. Jika kategori yang ketiga itu adalah puasa yang hanya bisa dilakukan oleh orang-orang khusus, maka sekurang-kurangnya ialah dapat berpuasa dalam kategori yang kedua. Yang sejauh-jauhnya harus dihindari ialah puasa dalam kategori pertama, sebab yang bersangkutan tentu tidak akan memperoleh kebaikan-kebaikan di dalam melaksanakan puasanya tersebut.
Dengan demikian, sesungguhnya puasa akan dapat mengintervensi seluruh tampilan pikiran, sikap dan perbuatan kita agar relevan dengan tujuan puasa, yaitu mencetak manusia yang paripurna dalam pikiran, sikap dan tindakan kapan dan di mana saja.
Wallahu a’lam bi al shawab.

PUASA DAN SPIRITUALITAS USAHA

PUASA DAN SPIRITUALITAS USAHA

Puasa merupakan ibadah rutin yang kita lakukan setiap tahun, pada Bulan Ramadlan. Puasa merupakan ibadah yang sedikit berbeda dengan ibadah lainnya di dalam Islam. Puasa mengharuskan kita menahan semua yang terkait dengan kebutuhan biologis untuk disalurkan pada siang hari dan diperkenankan untuk dilakukan di malan hari.
Ada sejumlah pedoman atau norma yang harus dijadikan sebagai rujukan di dalam melaksanan puasa. Makna fisikal puasa itu ialah menahan makan dan minum serta perbuatan seksual pada siang hari.
Islam membatasi tiga perilaku biologis itu pada siang hari saja, dan memberikan kewenangan melakukannya pada malam hari dari semenjak tenggelamnya matahari sampai waktu shubuh di pagi hari.
Tuhan mengajarkan agar manusia melakukan dekonstruksi perilaku biologis ini. Jika pada bulan lain, manusia bisa melakukan apa saja dalam kaitannya dengan perilaku biologis tersebut, maka di bulan Ramadlan, Allah memberikan kewenangan untuk perilaku bialogis itu pada malam hari saja. Tuhan mengajarkan agar tidak semua hak yang dimiliki manusia, dilakukannya dengan sesuka hatinya.
Islam mengajarkan agar manusia yang berpuasa dapat dan menjadi orang yang bertaqwa. “La’alakum tattaqun”. Dengan demikian, tujuan akhir puasa ialah menjadi orang yang taqwa. Orang yang menjaga amal perbuatannya dan juga menjaga pikiran dan sikap-sikapnya sesyau dengan norma atau kaidah agama. Dia selalu terikat dengan Tuhannya, menjaga manusia dan masyarakatnya agar selalu berada di dalam koridor kebaikan dan juga menjaga alam lingkungannya agar selaras dengan kebaikan dan kemaslahatan.
Orang yang bertaqwa adalah mereka yang terus menjaga tali relasi dengan Tuhannya, membangun relasi yang baik dengan sesama manusia dan menjaga dan mengembangkan alam sesuai dengan dimensi keseimbangan mikro dan makro kosmos. Kekuatan ibadah tidak hanya ditujukan kepada Tuhan, tetapi juga harus diselaraskan dengan relasi yang baik dengan sesama manusia dan dengan alam semesta.
Ketaqwaan sesungguhnya adalah tujuan akhir dari semua prosesi ibadah yang kita lakukan. Salah satu instrument untuk sampai kepada tujuan utama ibadah –tentu termasuk di dalamnya ialah puasa—ialah kepasrahan atau tawakkal. Tawakkal merupakan suatu kondisi kepasrahan secara total atau keadaan berserah diri sepenuhnya kepada Allah dalam menghadapi atau menunggu hasil suatu pekerjaan atau menanti akibat dari suatu keadaan”.
Saya menyatakan bahwa kepasrahan itu adalah instrument untuk memperoleh ketaqwaan. Menjadi taqwa adalah hak Tuhan dan agar hak Tuhan itu bisa mengeksis dalam diri manusia, maka dibutuhkan upaya yang kuat atau kerja keras dan ibadah yang kuat. Tugas manusia dengan berbagai upayanya ialah untuk memperoleh produk ketaqwaan tersebut. Jadi jembatan untuk menjadi taqwa ialah melalui kepasrahan. Pasrah dalam setiap usaha yang dilakukan baik untuk kepentingan duniawi maupun ukrawi merupakan instrument untuk menggapai ketakwaan.
Puasa yang baik dalam konteks ini, adalah puasa yang dilakukan dengan totalitas pikiran, hati dan emosi. Puasa yang menghadirkan seluruh jiwa dan raga, seluruh pikiran dan emosi, seluruh sikap dan tindakan merupakan puasa yang memiliki hirarkhi tinggi dalam perolehan ketakwaan.
Menurut Imam An Nawawi dalam Hadits Arbain pada bab awal membahas niat, maka beliau menyatakan bahwa ada 3 (tiga) niat manusia di dalam berhubungan dengan Allah atau beribadah kepada Allah. Yang pertama, ialah ibadahnya kaum budak. Dia melakukan sesuatu dengan rasa ketakutan. Tidak ada yang diniatkan di dalam ibadahnya itu kecuali takut akan siksa Allah swt. Begitu takutnya terhadap neraka seakan-akan nerakalah yang ditakutinya. Padahal sesungguhnya Allahlah penentu segalanya. Jadi seharusnya bukan rasa khauf yang dikembangkannya, tetapi harus terfokus kepada Allah saja.
Kedua ialah ibadahnya kaum pedagang. Ibadah dianggap sebagai sarana barter dengan Allah. Mereka melakukan ibadah dengan tujuan untuk mendapatkan surganya Allah swt. Jadi ibadah yang dilakukannya tidak ada lain ialah agar memperoleh balasan Allah yang berupa surga.
Ketiga ialah ibadahnya orang yang mencari ridlanya Allah swt. Tidak ada kata lain yang diinginkan di dalam beribadah kecuali ingin mendapatkan keridlaan Allah swt. Tidak ingin memperoleh surga atau takut dengan neraka akan tetapi ingin memperoleh keridlaan Allah, sebab jika Allah ridla maka tidak ada sesuatu yang menyebabkannya menjadi menderita dan susah. Dengan bersama Allah karena ridlanya itu maka seseorang akan memperoleh kebahagiaan.
Dengan uraian penjelasan dari Imam An Nawawi ini, maka kita akan dapat menilai di posisi manakah puasa yang kita lakukan. Dan dengan menganalisis puasa kita itu kita akan bisa memaknai puasa kita dengan sebenarnya.
Wallahu a’lam bi al shawab.

MERESPON RADIKALISME DI MASJID (3)

MERESPON RADIKALISME DI MASJID (3)
Janganlah ada di antara kita yang menyatakan ada masjid radikal. Yang terjadi adalah terdapat individu atau sekumpulan individu di masjid yang terpapar virus radikalisme lalu menyebarkannya melalui masjid. Saya khawatir jika kita menyatakan bahwa ada masjid radikal, maka akan terdapat sejumlah orang yang terbiasa berjamaah di masjid itu dan sama sekali tidak terkait dengan gerakan radikalisme akan menjadi terusik. Itulah sebabnya tulisan saya berupa respon terhadap gerakan radikalisme di masjid, dan bukan masjid radikal.
Saya tetap berkeyakinan bahwa di antara masjid yang digunakan untuk menyebarkan paham radikal –khususnya Islam khilafah—tidak seluruh jamaahnya meyakini hal tersebut sebagai kebenaran. Bahkan juga ada yang sangat antipati terhadap cara-cara berkhutbah atau berceramah dengan menggunakan konsepsi anti negara dan anti pemerintah.
Kita sungguh beruntung memiliki Kementerian Agama dengan Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam, dan juga agama-agama lainnya. Kita juga beruntung memiliki Dewan Masjid Indonesia, yang diketuai oleh Bapak HM. Jusuf Kalla. Kita juga memiliki Majelis Ulama Indonesia (MUI) dengan Kyai Ma’ruf Amin sebagai ketuanya. Kita memiliki Nahdlatul Ulama (NU) dengan Prof. Dr. Said Aqil Siradj, kita juga memiliki Muhammadiyah yang diketuai oleh Dr. Haedar Nashir.
Kita semua merasakan bahwa perangkat institusional kita itu sudah sangat relevan untuk mendukung terhadap berkembangnya Islam wasathiyah. Aparat negara dengan institusinya juga mengajak untuk beragama secara wasathiyah dan seluruh organisasi besar Islam juga memiliki paham yang sama.
Dengan mengetahui realitas empiris ini, maka sebenarnya kita bisa membangun sinergi yang lebih baik. Oleh karena itu, saya kira yang diperlukan sekarang ialah membangun sinergi di antara organisasi tersebut. Ada beberapa hal yang saya kira bisa dilakukan:
Pertama, membangun data base masjid untuk kepentingan memetakan aktivitas dan kegiatan masjid, takmir dan tokoh agama yang terlibat di dalamnya dan juga para remaja masjidnya, dan jejaring masjid tersebut dengan masjid atau organisasi Islam lainnya serta potensi masjid tersebut bagi peningkatan kualitas kehidupan umat Islam.
Kedua, masing-masing bisa berbagi tugas. Ditjen Bimas Islam bisa bekerja sama dengan Balitbangdiklat untuk melakukan pemetaan tentang kegiatan dan aktivitas masjidnya. Jika diperlukan bisa juga menggunakan kankemenag kabupaten/kota dengan KUA dan penyuluh agama. DMI bisa melakukan pemetaan tentang takmir masjid dan tokoh-tokoh agamanya, lalu MUI bisa melakukan pemetaaan para khatib dan da’i di seluruh Indonesia. lalu organisasi NU dan Muhammadiyah bisa melakukan pemetaan jejaringnya.
Saya kira pemetaan semacam ini bisa dilakukan baik secara keseluruhan oleh satu institusi atau dibagi-bagi habis. Yang penting harus ada koordinasi yang kuat untuk tujuan mulia seperti ini. Harus diupayakan bahwa sinergi antar institusi baik pemerintah maupun masyarakat berjalan sesuai dengan rencananya.
Ketiga, kita sudah memiliki SIMAS atau System Informasi Manajemen Masjid yang mestinya bisa digunakan untuk menjaring profil masjid di seluruh Indonesia. Dengan system aplikasi ini, maka secara elektronik akan bisa dilakukan dengan lebih mudah. Seandainya seluruh KUA sudah terjaring dalam system aplikasi ini, maka dengan mudah untuk mengisi berbagai format yang dibutuhkan untuk membuat profile masjid. Saya kira yang diperlukan ialah kesamaan langkah dengan berbagai institusi yang memiliki keterkaitan dengan masjid. Buatlah aplikasi yang bisa melacak posisi masjid-masjid tersebut dalam peta Indonesia secara elektronik.
Keempat, sebagai lembaga pemerintah, maka Kemenag bisa menganggarkan baik di pusat maupun di daerah. Tahun 2019 harus sudah dianggarkan untuk kepentingan ini. Harus ada pemihakan anggaran dalam kerja besar ini. Untuk kepentingan ini, Ditjen Bimas Islam harus memiliki keperdulian dan pemihakan yang jelas dalam kerangka kerja besar untuk merumuskan peta masjid secara konprehensif.
Kelima, buatlah perencanaan yang konprehensif dengan kebutuhan anggaran dan waktu yang diperlukan. Saya kira membutuhkan waktu 3 (tiga) tahun untuk menghasilkan profile masjid yang konprehensif dimaksud. Saya kira memang dibutuhkan SDM yang memadai untuk kepentingan penyusunan pemetaan masjid yang konprehensif.
Saya kira sudah bukan waktunya untuk mendiskusikan secara terus menerus tentang kebutuhan ini. Kita perlu kerja dan kerja. Kita butuh gerakan yang jelas dengan tujuan yang tegas. Semuanya diupayakan dalam kerangka memperkuat peran masjid di dalam kerangka pembangunan umat di dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Wallahu a’lam bi al shawab.

MERESPON RADIKALISME DI MASJID (2)

MERESPON RADIKALISME DI MASJID (2)
Pada zaman Rasulullah Muhammad saw., masjid memang bisa dijadikan sebagai tempat untuk mengatur strategi peperangan melawan kaum kafirin dan kaum musyrikin. Masjid memang dapat difungsikan untuk kepentingan politik yang memang relevan di kala itu. Rasulullah sedang berperang melawan kaum kafir dan musyrik.
Pertanyaannya ialah apakah dewasa ini, di saat Indonesia sudah memiliki pemerintah yang sah dan juga memberikan peluang bagi Islam untuk eksis dan berkembang, lalu masjid bisa difungsikan untuk kepentingan menyusun dan mengembangkan peperangan melawan pemerintah yang sah atau negara yang sudah dianggap final dalam bentuk dan fungsinya. Jawabannya tentu tidak. Ada beberapa alasan bahwa masjid tidak bisa dijadikan sebagai tempat untuk mengobarkan semangat anti negara.
Pertama, Negara Indonesia dengan dasar Pancasila dan bentuk NKRI sudahlah final sebab sudah disepakati oleh para pendiri bangsa. Berdasarkan musyawarah yang menjadi ciri khas keindonesiaan, maka seluruh perwakilan dan tokoh agama-agama menyepakati pada tanggal 18 Agustus 1945 bahwa dasar negara kita adalah Pancasila. Negara ini tidak menjadikan agama sebagai dasar negara, sebab akan terjadi permasalahan yang tidak mudah untuk diselesaikan. Indonesia yang terdiri dari multiagama, tentu tidaklah cocok dan tepat menggunakan agama tertentu untuk menjadi dasar negara.
Kedua, pilihan terhadap Pancasila sebagai dasar negara adalah pilihan cerdas yang dilakukan oleh para pendiri bangsa. Pilihan sebagai negara Berketuhanan yang Maha Esa dan bukan negara agama atau negara sekuler tentu merupakan pilihan yang harus diapresiasi dengan sepenuh hati. Sangat bermakna bagi kelangsungan negara ini, hingga saat ini dan seterusnya.
Ketiga, sebagai konsekuensi terhadap pilihan sebagai negara berketuhanan, maka hubungan antara negara dan agama ialah dalam coraknya yang simbiosis mutualisme. Negara membutuhkan agama sebagai panduan moralitas penyelenggaraan negara dan agama membutuhkan negara agar pelayanan dan penyebaran agama dapat berjalan sesuai dengan regulasi yang mengaturnya. Jadi bukan pilihan yang separated atau secular dan juga bukan integrated atau menyatu antara agama dan negara.
Keempat, Indonesia adalah satu-satunya negara yang memberikan peluang bagi setiap agama untuk merayakan hari-hari besarnya dengan gegap gempita. Hanya Indonesia yang merayakan hari besar Islam di Istana negara dan dihadiri oleh Presiden dan Wakil Presiden. Hanya Indonesia yang menjadikan hari besar agama sebagai hari libur nasional. Dan hanya Indonesia yang memberikan peluang bagi warga negara untuk beribadah secara aman dan damai bagi seluruh warga negaranya.
Kelima, Indonesia sudah teruji dalam puluhan tahun mengelola perbedaan dan membangun perdamaian berdasarkan atas Pancasila sebagai dasar negara. Meskipun negara kita bukan berdasar atas Islam, akan tetapi kita menjadi pengirim jamaah haji terbesar di dunia, 221.000 orang, dengan aman dan damai. Pemerintah memberikan cuti bersama untuk merayakan Hari Raya Idul Fithri, melebihi negara lainnya. Indonesia telah menjadi contoh yang baik bagi kerukunan dan keharmonisan umat beragama.
Apakah masih ada orang yang meragukan tentang Indonesia sebagai negara paripurna di dalam membangun keberagamaan yang damai dan harmonis. Saya kira kita perlu merenungkan sejarah bangsa-bangsa di dunia ini. Manakah negara yang bisa dijadikan contoh lebih baik dari Indonesia di dalam mengelola perbedaan antar agama. Jika masih terdapat riak-riak kecil pertentangan dan rivalitas antaragama, akan tetapi hal itu tidak merusak terhadap keseluruhan bangunan harmoni yang sudah diciptakan.
Saya kira negara sebesar Indonesia ini tidak bisa dijadikan sebagai eksperimen yang belum tentu akan lebih baik hasilnya. Saya sebagai elemen bangsa ini tidak merelakan Indonesia dijadikan sebagai eksperimen dengan berbagai dasar negara yang belum tentu bisa menyatukan Indonesia yang beragam.
Bentuk negara seperti khilafah, komunisme atau lainnya tidak bisa dijadikan sebagai eksperimen untuk mengubah Pancasila sebagai dasar negara. Makanya, bagi semua elemen bangsa harus memahami bahwa Pancasila adalah satu-satunya dasar negara yang cocok bagi Indonesia.
Untuk kepentingan ini, maka para penyiar agama haruslah menjadi garda depan bagi bangsa ini untuk menebarkan Indonesia yang damai dan harmonis dengan mengedepankan kerukunan bangsa.
Wallahu a’lam bi al shawab.