Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

KE ROMA; MENDISKUSIKAN MODERASI AGAMA (7)

KE ROMA; MENDISKUSIKAN MODERASI AGAMA (7)
Sessi berikutnya ialah pemaparan tiga narasumber, yaitu: Prof. Philip Widjaja, (Buddha), Brigjen Wahyu Tenaya (Hindu) dan Romo Sunarko (Katolik). Acara ini dimulai pada pukul 13.30 Waktu Italia. Acara ini dipandu oleh Romo Leo Mali. Beliau ini adalah seorang Romo yang jenaka di dalam membawakan acara dialog.
Pak Philip adalah akademisi yang aktif di dalam banyak kegiatan di dalam agama Buddha. Bagi Pak Philip, bahwa konflik bernuansa agama selalu terjadi. Konflik intern agama terkadang jauh lebih keras, dibandingkan dengan konflik antar umat beragama. Meskipun tidak mesti seperti itu. Konflik bisa disebabkan oleh kepentingan kelompok tertentu dan terkadang juga ada kelompok yang memelihara konflik dan sebaliknya.
Ada sebanyak 6 (enam) hal untuk mengeliminasi konflik beragama, yaitu: jangan ada ekspansi, ekspansi dapat digunakan sebagai penarik konflik antara kelompok yang berbeda. Ekspansi dimaksudkan untuk menambah jumlah umat dibandingkan dengan pengembangan kualitas umat. Lalu jaga pernyataan kita. Jangan ungkapkan hal-hal sensitive sehingga melukai orang lain. Jangan membuat hoax dan jangan gunakan kata-kata yang bisa merusak komunitas.
Kemudian, kita harus mengenal satu dengan lainnya. Konflik terjadi disebabkan karena ketidakmengertian tentang alasan mengapa sekelompok komunitas melakukannya. Untuk memahami yang lain, maka ita harus memulai lainnya, dan menghormati dan toleran atas dasar pemahaman satu atas lainnya.
Selanjutnya, jangan sentuh area sensitif, seperti teologi dan ritual. Teologi berbicara tentang Tuhan dan ritual tentang tata cara beragama. Jangan saling menyalahkan. Terus yang penting juga terkait dengan pelayanan sosial dan saling membantu kepada yang lain. Untuk Indonesia, misalnya saling membantu terhadap sekelompok orang yang memang membutuhkan bantuan seperti orang jompo, kaum disable dan sebagainya.
Beragama Buddha berarti berkesadaran. Harus disadari bahwa kehidupan itu berwarna-warni dan tidak satu warna. Ada beberapa prinsip yang penting ialah tidak perlu menambah jumlah pengikut. Kebenaran tidak hanya ada di dalam ajaran agama Buddha. Dan yang paling penting ialah membuat semua makhluk berbahagia.
Narasumber lainnya ialah Brigjen Wisnu Tenaya. Di dalam sessi ini, Pak Wisnu mengungkapkan harapannya bahwa kita semua harus beragama dengan mengembangkan kerukunan dan keharmonisan. Ada banyak tantangan yang terjadi, misalnya adanya sikap dan tindakan yang tidak mengindahkan nilai-nilai agama. Manusia banyak yang melakukan tindakan yang bertentangan dengan norma-norma agama. Kita mestilah membangun keseimbangan kehidupan. Makanya manusia harus memiliki keimanan di tengah perubahan dan kekuasan, harta dan lainnya. Manusia banyak yang menggunakan cara-cara yang tidak relevan dengan tujuan beragama. Kita harus mengajak manusia untuk melakukan kebaikan, rasa sayang, rasa asih dan asuh sehingga kemudian kita akan menghasilkan kebaikan-kebaikan. Jika kita bisa melakukan seperti ini, maka anak cucu kita akan berada di dalam darma yang baik.
Di Indonesia kita sudah memiliki Pancasila yang tentu harus dijaga keberadaannya. Sila-sila di dalam Pancasila menggambarkan tentang bagaimana kita sebagai masyarakat Indonesia harus mengamalkan agama kita, memperkuat kemanusiaan kita, membangun kesatuan dan persatuan bangsa, mengembangkan demokrasi sesuai dengan bangsa dan masyarakat Indonesia dan membangun keadilan sosial bagi seluruh masyarakat Indonesia.
Pembicara ketiga ialah Mgr. Andrianus Sunarko dari Katolik. Beliau memaparkan tentang Dialog Agama: Berlandaskan Pancasila Menuju Indonesia Adil dan Makmur. Di dalam setiap tahun ada pertemuan dari sebanyak 36 keuskupan, yang biasanya disebut sebagai keprihatinan dan penyelesaian masalah di kalangan Katolik.
Ada yang menarik dari hasil pertemuan umat beragama yang dilakukan oleh Utusan Khusus Presiden bidang Kerukunan Umat Beragama dan Peradaban, yaitu; pemeluk agama harus berkeyakinan bahwa pemeluk agama adalah saudara sebangsa.
Makanya, di antara Nota Pastoral, bahwa gereja adalah bagian dari negara Kesatuan Republik Indonesia. gereja berpandangan bahwa sejarah bangsa harus terus diupayakan secara optimal, lalu menjadikan Indonesia sebagai rumah bersama bagi seluruh anak bangsa.
Selain itu juga ada beberapa masalah yang kita hadapi, yaitu: pemahaman Pancasila yang masih rendah dan belum dipahaminya Pancasila sebagai dasar dan falsafah bangsa, munculnya radikalisme yang menginginkan perubahan dasar negara, perkembangan teknologi informasi yang sangat pesat akan tetapi merusak sendi-sendi kehidupan bangsa. Lalu suhu politik yang dipastikan meningkat pada tahun 2019.
Di antara penyebabnya ialah kesadaran sejarah yang rendah sehingga masa lalu tentang Pancasila mengalami disinformatif, kemudian peralihan dari orde baru ke orde reformasi tentu membawa dampak apa saja yang dihasilkan ole horde baru dianggap salah, dan semakin menguatnya gerakan radikalisme yang juga dipicu oleh tumbuhnya teknologi informasi. Lalu factor lainnya ialah krisis keteladanan. Dan juga kemiskinan dan ketidakadilan.
Usaha-usaha pemerintah tentu perlu diapresiasi misalnya terbentuknya Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), munculnya regulasi-regulasi yang memihak kepada rakyat, pembangunan jalan tol dan infrastruktur lainnya untuk kepentingan rakyat dan juga BBM satu harga dan sebagainya.
Di dalam konteks ini diharapkan gereja akan memainkan peranan penting untuk membangun kehidupan masyarakat yang lebih baik dan adil. Termasuk juga pembinaan pendidikan. Yang juga penting ialah meningkatkan kerja sama antar agama dan komunitas agama lain. Dan juga meningkatkan kegiatan kekeluargaan dan kemanusiaan. Juga menyerukan penggunaan media sosial sebagai sarana untuk memperkokoh kebersamaan dan persaudaraan antar anak bangsa dan menyebarkan hidup penuh kasih.
Di dalam konteks ini, maka revitalisasi Pancasila menjadi sangat mendasar. Pancasila harus dijalankan dan bukan hanya didiskusikan. Kita berharap bahwa dengan revitalisasi Pancasila maka ke depan akan dapat dihasilkan pemahaman dan pengamalan Pancasila yang lebih berkeadilan dan berkeadaban.
Wallahu a’lam bi al shawab.

KE ROMA; MENDIALOGKAN MODERASI AGAMA (6)

KE ROMA; MENDIALOGKAN MODERASI AGAMA (6)
Ada sesuatu yang menarik di meja narasumber yang berbunyi “Centro Congressi Villa Aurelia”. Artinya ialah Pusat Kongres Villa Aurelia. Untuk arti pernyataan ini, maka saya harus tanyakan kepada Pak Markus Solo. Acara kita untuk Dialog Antar Agama Masyarakat Indonesia di Eropa tepat dimulai pada pukul 09.00 Waktu Italia. Acara ini dibuka oleh Pak Dubes, Agus Sriyono. Hari ini ada tiga sessi, yang masing diisi oleh Prof. Dr. Abdul A’la, Pak Uung Senjaya, Pak Prof. Dr. Philip Widjaja, Brigjen Wisnu Bawa Tenaya, Mgr. Sunarko, Bu Henriette dan pada sessi malam akan dilakukan diskusi antara nara sumber dengan seluruh peserta.
Selanjutnya acara diskusi dipimpin oleh Romo Purnama. Sebagai pembicara pertama ialah Prof. A’la. Beliau adalah akademisi UIN Sunan Ampel dan mantan Rektor UIN Surabaya. Di dalam sambutannya, Prof. A’la menyatakan bahwa di aras kita semua bahwa sudah tidak ada masalah. Semua kita memahami relasi antar Islam, Katolik, Kristen, Hindu, Buddha dan Khonghucu. Namun demikian, di aras masyarakat masih ada tantangan. Sebenarnya semua agama mengajarkan kasih sayang, namun demikian ternyata masih ada masalah, misalnya bom bunuh diri di Surabaya, di Jakarta dan sebagainya.
Di masa lalu, orang mengucapkan salam kepada orang non-muslim atau mengucapkan selamat Natal tidak masalah akan tetapi sekarang bisa menjadi masalah. Mungkin karena media sosial. Masalah tersebut tidak hanya antar agama tetapi juga antar etnis dan intern umat beragama. Kasus misalnya Syiah di Sampang, relasi Dayak dan Madura dan sebagainya.
Agama sebenarnya juga momot nilai-nilai budaya. Misalnya cara berpakaian, cara menggunakan lambang-lambang keagamaan dan sebagainya. hendaknya agama dijadikan pedoman atau etika di dalam kehidupan, termasuk kehidupan politik. Jangan melakukan politisasi agama, tetapi jadikan sebagai etika berpolitik. Meskipun kemudian banyak yang menyatakan bahwa pemikiran ini dianggap telah keluar dari frame islam minded. Islam adalah pedoman yang menyelimuti seluruh kehidupan. Jadi pemikiran menjadikan agama hanya sebagai etika politik dianggap sebagai kesalahan.
Oleh karena itu, kita harus meneguhkan komitmen untuk menjaga kerukunan dan keharmonisan bangsa melalui berbagai dialog berkesetaraan. Dan yang penting ialah menyelenggarakan dialog untuk masyarakat akar bawah, dengan mengedepankan keindonesiaan. Jadi harus menjadikan Islam itu Islam Indonesia, Katolik Indonesia, Kristen Indonesia, Buddha Indonesia, Hindu Indonesia, Khonghucu dan kita harus menjadi agen-agen kerukunan umat beragama.
Pembicara berikutnya ialah Ibu Henriette, Pendeta Kristen Toraja dan sekarang menjabat sebagai ketua PGI. Beliau menyatakan bahwa semua di antara kita lahir dari Rahim yang sama. Rahim Ibu Pertiwi. Oleh karena itu, kita harus menjadikan kemajemukan sebagai rahmat Tuhan. Hal ini adalah anugerah Allah kepada kita semua. Untuk ini harus ada sikap tenggang rasa atau toleransi. Jangan lakukan pemutlakan keyakinan sebab dengan cara ini kita sudah melakukan reduksi terhadap rahmat Tuhan tersebut. Sehingga kita harus terus merawat tenggang rasa itu sebagai kewajiban kita semua.
Menurutnya, bahwa ajaran Kristen yang berdasar atas Kitab Injil, maka persaudaran merupakan hal yang sangat mendasar. Di dalam menjalin hubungan kerja sama tersebut semestinya jangan menggunakan label-label yang tidak relevan dengan semangat kemanusiaan. Untuk kepentingan itu, maka yang perlu dibangun ialah semangat persatuan di tengah kemajemukan. Pancasila harus menjadi rumah bersama untuk semua umat beragama di Indonesia.
Untuk kepentingan ini, maka dialog harus digunakan untuk merespon tantangan bersama, yaitu prejudice (pranggapan negative), eksklusivisme (fanatisme, rdikalisme dan intolerance) serta ketidaktahuan atau cultural and religius illiteracy). Ada sebuah pengalaman ketika Bu Henriette diminta untuk memberikan khutbah dalam acara Paskah yang dihadiri oleh banyak orang, tidak hanya Kristen tetapi juga ada masyarakat Muslim. Maka ketika ada adzan terdengar, maka saya berhenti sebentar dan kemudian saya sampaikan bahwa adzan adalah panggilan untuk kita beribadah meskipun dalam agama yang berbeda. Ada kritik menarik dari Bu Henriette, tentang pendidikan di sekolah yang dianggapnya memecah belah agama. Pendidikan agama harus menjadi pendidikan etika beragama. Jangan digunakan untuk membuat kotak-kotak agama tersebut. Buatlah pendidikan agama berbasis pada kemajemukan. Perlu ada gerakan 1821, yaitu jam 18 sampai jam 21 dilarang untuk memegang gadget.
Pembicara berikutnya ialah Pak Uung Senjaya. Ketua Matakin. Beliau menyatakan bahwa agama Khonghucu itu pernah mengalami masa peminggiran. Dan kita bersyukur bahwa di era Gus Dur sebagai Presiden Hak agama Khonghucu dipulihkan. Ada banyak tokoh agama yang mendukung pemulihan hak ini. di dalam agama Khonghucu, semuanya berasal dari Yin Yang. Di dalam Yin ada unsur Yang dan di dalam Yang ada unsur Yin. Manusia sesungguhnya memiliki beinh-benih kebaikan yang berupa cinta kasih, dan kebijaksanaan dan nafasu yang berpa gembira, marah dan sedih. Manusia itu hidup dengan jasmani dan rohani.
Tugas masyarakat Khonghucu ialah membawa jalan tengah atau cung he. Manusia harus memilih jalan suci. Manusia itu sederajat dan setara. Makanya umat Khonghucu tidak memandang manusia lainnya dengan pandangan yang tidak sederajat. Kesejahteraan hanya akan dapat diperoleh melalui jalan tengah dan bukan ekstrim.
Masyarakat Indonesia harus terus mempertahankan Pancasila sebagai dasar negara karena Pancasila adalah pilihan founding parents yang tepat bagi Indonesia. Jika kemudian ada orang yang memilih selain Pancasila sebagai dasar negara, maka tamatlah Indonesia. Makanya umat Khonghucu sangat mendukung PBNU (Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, NKRI dan UUD 1945). Modalitas Empat Konsensus Nasional inilah yang harus diperjuangkan secara terus menerus.
Mendengarkan terhadap paparan para nara sumber ini, maka ada satu kata kunci yang penting ialah bagaimana masyarakat Indonesia harus mempertahankan dan mengembangkan kehidupan berdasarkan agama yaitu beragama yang moderat atau di dalam program disebut sebagai Gerakan Moderasi Agama. Boleh juga disingkat GEMA (Gerakan Moderasi Agama).
Wallahu a’lam bi al shawab.

KE ROMA; MEMBANGUN MODERASI AGAMA (5)

KE ROMA; MEMBANGUN MODERASI AGAMA (5)
Yang tidak kalah menarik ialah pembicara ketiga dan keempat. Sebagai pembicara ketiga di dalam sessi pembukaan ialah Pak Muhammad Rifqi Muna. Beliau adalah asisten pada Utusan Khusus Presiden bidang Dialog Antar Umat Beragama dan Peradaban dan pembicara keempat ialah Prof. Dien Syamsuddin, Utusan Khusus Presiden bidang Dialog Antar Umat Beragama dan Peradaban.
Di dalam sambutannya, Pak Rifqi menyampaikan paparan bahwa masyarakat Indonesia itu sangat majemuk. Keberagaman masyarakat Indonesia itu luar biasa. Bandingkan dengan Afghanistan yang hanya terdiri dari tujuh suku bangsa saja ternyata konfliknya tidak bisa dihentikan. Indonesia dengan suku bangsa lebih dari 500 ternyata bisa membangun kedamaian dan ketentraman. Indonesia yang majemuk ini bisa memanej perbedaan dan menemukan solusi yang tepat untuk menyelesaikan berbagai konflik yang terjadi. Secara internasional, Indonesia telah menjadi Anggota Tidak Tetap Dewan Keamanan PBB, yang tentu saja akan memiliki peran yang signifikan di dalam membangun peradaban dunia yang lebih adil dan bermartabat. Melalui keanggotaan ini, maka Indonesia akan bisa mengajak seluruh dunia untuk mengatasi persoalan radikalisme dan terorisme yang sekarang sedang semarak di beberapa tempat.
Indonesia memiliki modal yang sangat kuat dalam membangun kerukunan umat beragama. Kita selalu bisa menyelesaikan konflik sosial bernuansa agama dengan baik. Semua ini tentu berkat pemahaman beragama yang saling menghargai dan mendamaikan. Indonesia juga menjadi negara middle country. Dengan posisi Indonesia yang sekarang sebagai negara dengan kekuatan ekonomi yang semakin membaik dan juga pembangunan bangsa yang semakin kuat, maka Indonesia tentu akan bisa memainkan peran penting di dalam hubungan antar bangsa.
Acara pemaparan tiga narasumber ditindaklanjuti dengan sessi tanya jawab. Ada pertanyaan dan pembahasan yang menarik dari Ayang Utriza Yakin, anak muda NU yang berposisi sebagai pengurus PCI NU di Belgia dan sekaligus juga Ketua Lembaga Takmir Masjid di PBNU. Dia menyatakan bahwa tahun 2019 adalah tahun politik, tentu diharapkan agar para kontestan tidak menggunakan agama dan symbol agama di dalam pilpres. Dewasa ini terdapat sekelompok penggiat dialog antar umat beragama di Belgia yang sedang membuat film tentang kerukunan umat beragama. Dan Indonesia dijadikan sebagai salah satu contoh kerukunan beragama. Lalu dipilih Ambon sebagai setting film tersebut. Juga dinyatakannya bahwa Islam Indonesia itu luar biasa. Tidak ada di negara lain yang kebebasan beragama itu sebagaimana terjadi di Indonesia. Hak-hak perempuan diberikan secara utuh. Para perempuan bisa mengekspressikan kehidupan secara sangat memadai dan tidak ada pandangan yang berbeda. Mereka terkagum-kagum melihat Islam Indonesia yang sedemikian hebat dan menjanjikan. Dia berharap agar Indonesia harus menjadi Rumah Bersama. Jika ada masalah domestic jangan keburu dibawa ke dunia internasional. Hal ini akan menyebabkan pandangan yang keliru tentang Indonesia.
Kemudian juga pembahasan dari Romo Junar yang berasal dari Spanyol. Baginya, bahwa sekarang ini semakin menguat pandangan tentang The Otherness. Di masa lalu, kita itu saling memahami dan menjaga. Misalnya orang Katolik bisa merayakan hari raya umat Islam, tetapi sekarang suasananya menjadi lain. Rasanya ada upaya untuk memisahkan kebersamaan kita itu.
Sebagai pembicara terakhir, Pak Dien Syamsudin banyak menguraikan tantangan Keindonesiaan kita. Ada beberapa pikiran yang beliau sampaikan: pertama, kemajemukan ialah sunnatullah, hukum Allah. Oleh karena itu, kemajemukan merupakan keniscayaan tetapi juga sekaligus ujian bagi kita semua. Apakah kita bisa mempertahankan kemajemukan itu sebagai kekuatan atau justru sebagai kelemahan. Kedua, kita harus memperkuat persatuan dalam kemajemukan. Jangan hanya mendasarkan persaudaraan itu atas dasar agama. Atau di dalam Islam disebut sebagai ukhuwah Islamiyah saja, tetapi justru ukhuwah insaniyah atau ukhuwah basyariyah. Persaudaraan berbasis biologis. Kita sama keturunan Nabi Adam dam keturunan Nabi Ibrahim. Jika kita ada yang Islam atau Kristen sebenarnya karena Nabi Ibrahim memiliki dua isteri yang menyebabkan kita berbeda. Tetapi meskipun berbeda tetapi sesungguhnya kita adalah satu kesatuan. Yaitu kesatuan biologis atau persaudaran biologis.
Ketiga, Indonesian Nationalism itu bisa rapuh jika terhadap generasi muda tidak dididik mengenal dan memahami sejarah. Jika anak-anak muda melupakan sejarah bangsa ini, maka akan terpecah belah. Yang menjadikan kita sebagai bangsa itu bukan karena kesamaan ras, suku dan budaya akan tetapi kesamaan penderitaan karena dijajah. Maka melestarikan perasaan seperti ini menjadi penting. Kita harus terus bersatu untuk menjaga kebersamaan sebagai bangsa. Kita tidak boleh bereuforia dengan globalisasi sebab globalisasi juga akan memunculkan pluralisasi. Akan hadir perasaan-perasaan sebagai suku, agama dan juga ras yang makin kuat di tengah globalisasi tersebut.
Keempat, kita perlu merevitalisasi makna Pancasila. Selama ini Pancasila bisa menjadi modalitas bangsa yang sangat baik. Bahkan banyak negara yang memuji kita karena Pancsila, tetapi di dalam negeri justru dicaci maki karena kita menggunakan Pancasila sebagai dasar negara. Kita harus melihat relevansi antara Pancasila dan Undang-Undang Dasar kita dengan peraturan perundang-undangan di bawahnya. Jangan sampai ada gap diantaranya. Pancasila harus diwujudkan dalam kerja nyata dan bukan hanya dibicarakan. Pancasila harus diterjemahkan di dalam system ekonomi, system politik dan juga system sosial. Jangan ada perbedaan antara Pancasila dengan system-sistem ini.
Namun demikian, kita masih optimis bahwa bangsa ini akan dapat melakukan yang terbaik bagi kelangsungan persatuan dan kesatuan bangsa.
Wallahu a’lam bi al shawab.

KE ROMA: MEMBANGUN MODERASI AGAMA (4)

KE ROMA: MEMBANGUN MODERASI AGAMA (4)
Acara pembukaan Dialog Antar Agama Masyarakat Indonesia di Eropa diselenggarakan tepat waktu, yaitu pukul 17.00 Waktu Italia, 30/06/2018. Acara ini dipimpin oleh Bapak Markus Solo, orang Nusa Tenggara Timur (NTT) yang telah lama mengabdi di Keuskupan Takhta Suci Vatican. Acara dimulai dengan menyanyikan Lagu Indonesia Raya yang dilakukan bersama-sama.
Acara dibuka oleh Duta Besar untuk Takhta Suci Vatican, Bapak Antonius Agus Sriyono, yang hadir bersama Ibu Agus Sriyono. Di dalam kesempatan ini beliau menyatakan bahwa tujuan Dialog Antar Agama Masyarakat Indonesia di Eropa ialah untuk saling memahami tentang hubungan antar agama di Indonesia. Oleh karena itu, hadir di forum ini para narasumber yang terdiri dari berbagai agama. Dari Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha dan Khonghucu. Mereka ini akan berdiskusi dengan kita semua agar pemahaman tentang hubungan antar agama itu menjadi semakin baik. Tentu yang diharapkan ialah agar dialog itu tidak hanya bercorak elitis saja, dialog dengan sesama tokoh agama saja, akan tetapi dialog antar umat beragama. Beliau juga mengapresiasi terhadap kehadiran para pemuda di dalam acara ini. Para pemudalah yang ke depan akan menjadi tulang punggung bagi kehidupan beragama yang damai, tenteram, rukun dan harmonis.
Giliran berikutnya yang menjadi narasumber ialah Ibu Dewi Sawitri Wahab, Staf Ahli Menteri Luar Negeri Bidang Sosial Budaya dan Pemberdayaan Masyarakat Indonesia di Luar Negeri. Di dalam pemaparannya, dinyatakan bahwa program Dialog Antar Agama Masyarakat Indonesia di Eropa ini tentu sangat tepat dan strategis. Program ini sangat relevan dengan kebijakan pemerintah untuk terus menerus menggerakkan dialog antar umat beragama. Dan hal ini sejalan dengan program untuk membangun beragama yang Moderat, misalnya Islam wasathiyah untuk mewujudkan Islam rahmatan lil alamin. Kita sudah berhasil untuk melakukan Konsultasi Tingkat Tinggi Tokoh-tokoh Agama se Dunia, dan juga trilateral meeting antara Indonesia, Pakistan dan Afghanistan. Kita berharap agar Afghanistan segera dapat menyelesaikan urusan internalnya, sehingga bisa tercapai perdamaian yang diharapkan.
Lalu, perlu untuk menggerakkan masyarakat Indonesia di luar negeri, khususnya di Eropa. Para diaspora ini diharapkan juga terlibat di dalam upaya untuk membangun kehidupan beragama yang moderat, anti kekerasan dan membangun kedamaian. Yang tidak kalah menarik bahwa Indonesia sudah menjadi Anggota Tidak tetap Dewan Keamanan Persatuan Bangsa-Bangsa (DK-PBB). Maka keinginan pemerintah ialah keterlibatan kita semua untuk memerangi radikalisme, ekstrimisme dan terorisme di tingkat global. Indonesia harus berperan aktif untuk menjaga perdamaian.
Kemudian, juga diharapkan agar para diaspora terlibat di dalam menjaga keharmonisan antar agama dan antar bangsa terutama terkait dengan tahun politik tahun 2019. Dinamika politik akan meningkat di saat itu, dan para diaspora harus menjadi mediator untuk membangun kedamaian dan keharmonisan di antara kita semua. Oleh karena itu diharapkan agar meeting ini akan menghasilkan rekomendasi yang bermanfaat bagi masyarakar dan bangsa Indonesia. Tujuan kita semua ialah menjaga persatuan dan kesatuan bangsa.
Sebagai pembicara ketiga, maka saya sampaikan beberapa hal. Pertama ialah ucapan terima kasih kepada semua yang terlibat di dalam acara penting ini, khususnya Pak Dubes RI di Vatican yang menjadi host dalam acara Dialog Antar Agama Masyarakat Indonesia di Eropa. Kita bersykur sebab acara ini disemangati oleh dialog dan persahabatan untuk menukar gagasan, pikiran dan ide-ide dalam melangsungkan kerukunan umat beragama.
Kedua, dialog ini tentu dimaksudkan sebagai wahana untuk mempromosikan nilai-nilai harmonis antar umat beragama dan antar bangsa. Kita sangat menyadari bahwa perdamaian antar umat beragama dan bahkan juga perdamaian antar bangsa hanya akan dapat dibangun melalui prinsip persaudaraan, keadilan, persamaan dalam satu kesatuan yang utuh. Melalui semangat kebersamaan dalam menghadapi tantangan umat beragama dalam bentuk gangguan harmoni dan kerukunan, maka kita harus menguatkan komitmen untuk menangani hal tersebut secara bersama-sama.
Ketiga, sekarang sedang berkembang gerakan transnasional, yang sayangnya mengambil jalur yang tidak tepat, yaitu gerakan radikalisme dan ekstrimisme bahkan terorisme. Gerakan ini akan sangat mengganggu terhadap kerukunan dan harmoni antarumat beragama. Kita tidak bisa memungkiri bahwa gerakan ini berkembang di Indonesia dan memperoleh respon yang cukup signifikan dari sebagian kecil masyarakat Indonesia. Oleh karena itu kita harus mengembangkan paradigm humanis di dalam beragama. Yaitu sikap beragama yang moderat dengan indikasi beragama yang santun dan seimbang, santun dalam menjalankan agamanya dan dalam interaksi sosial. Seimbang di dalam memenuhi kebutuhan material dan spiritual, individual dan sosial, serta dalam berhubungan dengan Tuhan, manusia dan lingkungan alam. Mereka yang moderat diharapkan tidak mudah terhasud, mudah marah, suka menuduh atau memaksa. Agama harus dijadikan sebagai modal sosial untuk membangun kehidupan yang rukun, harmoni dan damai.
Keempat, kita perlu melakukan Gerakan Moderasi Agama. Yaitu membangun kehidupan beragama yang mengayuh di antara dua ekstrimisme, kiri dan kanan. Yang kiri, yang sangat liberal dan yang kanan yang sangat radikal harus dikembalikan ke tengah menjadi moderat. Pemerintah di dalam hal ini Kementerian Agama telah mengembangkan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) di seluruh Indonesia. Sebuah forum yang dapat dijadikan sebagai tempat untuk saling berdialog dalam kerangka membangun kerukunan dan keharmonisan dalam beragama. Jika kita menghadapi konflik antar umat beragama, maka forum ini yang diharapkan dapat menjadi tempat untuk saling bertukar pikiran untuk menyelesaikannya. Makanya pemerintah memberikan dukungan secara optimal terhadap berbagai forum dialog antar umat beragama maupun intern umat beragama untuk membangun kebersamaan dalam membina keharmonisan dan kerukunan beragama. Sungguh diperlukan langkah-langkah kultural untuk membangun perdamaian antar warga bangsa, antar masyarakat dan juga bahkan antar bangsa. Indonesia sungguh bisa menjadi contoh yang baik dalam membangun kerukunan umat beragama.
Kita semua yakin bahwa kerukunan umat beragama akan tetap bisa dijadikan sebagai modal dasar di dalam membangun masyarakat Indonesia yang semakin sejahtera di masa depan.
Wallahu a’lam bi al shawab.

KE ROMA: PENGALAMAN MENJEJAKKAN KAKI DI ITALIA (3)

KE ROMA: PENGALAMAN MENJEJAKKAN KAKI ITALIA (3)
Saya datang di Bandar Udara Roma pada pukul 10,00 Waktu Italia atau pukul 15.00 WIB. Perbedaan antara Waktu Indonesia Bagian Barat (WIB) dengan Roma Italia kira-kira 5 (lima) jam. Perjalanan yang cukup panjang jika dihitung dari Jakarta, kira-kira selama 13 jam. Tentu terhitung dengan jam transit di Bandar Udara Turki.
Meskipun badan capai, tetapi hati tentu senang, sebab ini merupakan perjalanan pertama saya ke Italia. Negeri spaghetti, negeri mode dan negeri sepak bola. Siapa yang tidak kenal dengan mode-mode dari Italia, makanan spaghetti dan juga pemain-pemain sepak bola dan klub-klubnya. Saya pernah mengidolakan AC Milan ketika trio Belanda, Ruud Gullit, Marco van Basten dan Frank Rijkard bermain bersama di AC Milan dan klub ini menjuarai berbagai event internasional, termasuk juara Piala Champion, lalu Piala Toyota melawan juara Piala Libertadores dari zona Amerika Latin. Sayangnya saya lupa nama klub dari Amerika Latin tersebut.
Saya bersyukur sebab dijemput oleh Staf Kedutaan, Pak Rusli, orang Sunda yang sudah 32 tahun bekerja di Italia, sebagai staf kedutaan Besar RI di Vatican. Berkat Beliau maka urusan di bandara menjadi lebih mudah. Kala pemeriksaan paspor, maka ada sedikit masalah, sebab kami ditanyai tentang surat undangan dari Kedutaan Besar RI di Vatican. Padahal kami berempat tidak membawa undangan tersebut. Untunglah dengan keberadaan Pak Rusli, maka bisa dijelaskan secara lebih detil mengenai kunjungan saya dan kawan-kawan.
Ripanya Pak Dubes, Pak Agus Sriyono, yang orang Solo itu, juga menjemput saya dan kawan-kawan. Kami sangat bergembira bisa bertemu dengan Beliau di Roma setelah beberapa bulan yang lalu Beliau bertamu ke ruang saya di Sekretariat Jenderal Kemenag. Tanpa basa-basi maka saya mengucapkan terima kasih atas undangannya untuk mengikuti acara Dialog Umat Beragama yang diselenggarakan di Vatican. Dengan mobil dinasnya, saya diantar oleh sopirnya untuk menuju ke tempat penginapan di Villa Aurelia, Accomadation and Meeting Roma.
Sepanjang jalan saya mengamati terhadap sekitar jalan yang kami lewati. Pepohonan yang menghijau, jalanan yang mulus dan mobil yang tidak terlalu sesak di jalanan tentu menjadikan perjalanan di Roma, dari bandara ke wisma, menjadi lebih cepat. Kira-kira 45 menit kami sampai di hotel. Kami harus menunggu lama di lobby sebab Pak Fery Meldy dan Pak A’la ternyata belum sampai di hotel. Kami bertemu dengan Pak Haryanto, orang Malang yang sudah 53 tahun lebih berada di sini. Semenjak usia 19 tahun beliau menetap di Vatican. Seluruh anaknya lahir di sini dan kemudian menikah dengan orang Italia.
Sekarang di Italia lagi musim panas. Kira-kira 28 derajat. Jadi termasuk cuaca yang cukup panas. Itulah sebabnya ketika berada di sini, rasanya seperti berada di Indonesia, sebab udaranya yang panas dan juga tanaman yang menghijau dan lebat. Dari pesawat juga bisa dilihat bagaimana tanaman yang menghijau dan juga yang baru saja dipanen. Kelihatan dengan jelas tetumbuhan di wilayah yang dilewati oleh pesawat terbang.
Saat makan siang, saya bertemu dengan Pak Wisnu Tenaya, dari Agama Hindu, Prof. Philip Widjaja dari Buddha dan staf Pak Fery Meldy di PKUB. Saya dengan Pak Philip sudah sangat lama berteman. Tentu saat saya menjadi rector IAIN Sunan Ampel, kini menjadi UIN Sunan Ampel. Beliau adalah aktivis Forum Kerukunan Umat Beragama. Kami juga pernah bertemu dengan Pak Wisnu Tenaya, saat kami sama-sama menjadi nara sumber di dalam acara Seminar Nasional di Institut Agama Hindu Dharma Negeri (IHDN). Tema seminar kala itu ialah tentang “membangun kerukunan umat beragama dalam menghadapi gerakan radikalisme”. Sebuah tema yang saya kira ada hubungannya dengan tema meeting di Vatican ini.
Kami berbincang tentang agama-agama di Indonesia dan bagaimana kerukunan beragama menjadi tema yang menarik untuk diperbincangkan. Sambil makan “nasi khas Italia” yang saya rasa sangat berbeda dengan nasi khas Indonesia, dan masakan daging sapi, saya kira makanan Italia ini enak juga. Nasinya memang sudah diberi bumbu sehingga terasa lebih asin. Dengan campuran sambal khas Italia dan merica yang sudah dimasak, maka terasa lezat juga makanan special ini.
Kami sempatkan istirahat sebentar setelah makan siang, sebab jam 17.00 waktu Italia, acara pembukaan Pertemuan Dialog Antar Agama akan dimulai. Hari ini adalah acara pembukaan, yang akan diisi dengan beberapa sambutan. Yaitu dari Kementerian Agama, yang akan saya sampaikan, lalu dari Kementerian Luar Negeri dan juga dari Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP). Menurut Pak Dubes, bahwa semua peserta dari 22 negara di Eropa sudah datang. Termasuk yang akan hadir juga Prof. Dien Syamsudin, Staf Khusus Presiden untuk Dialog Kerukunan Antar Umat Beragama dan Peradaban, yang sesuai rencana akan memberikan sambutan juga pada acara ini.
Meeting tentang Dialog Antar Agama ini tentu sangat penting di dalam kerangka untuk menyamakan wawasan dan pemahaman tentang relasi agama-agama di Indonesia. Acara ini sekaligus juga sebagai ajang untuk memberikan informasi secara langsung kepada warga Indonesia yang berada di Eropa tentang apa yang sesungguhnya terjadi di Indonesia.
Jika selama ini mereka hanya mendengarkan berita-berita di televisi dan media sosial lainnya, maka melalui pertemuan ini tentu mereka akan mendapatkan informasi dari para tokoh agama tentang relasi agama-agama di Indonesia. Kita berharap melalui forum ini akan melahirkan visi dan missi Indonesia ke depan yang lebih damai, harmonis dan berkesejahteraan.
Wallahu a’lam bi al shawab.