• June 2026
    M T W T F S S
    « May    
    1234567
    891011121314
    15161718192021
    22232425262728
    2930  

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

MENJAGA KEINDONESIAAN DI PTKIN (2)

MENJAGA KEINDONESIAAN DI PTKIN (2)

Ada yang menarik disampaikan oleh Prof. Dr. Muhibbin Syah, MEd., dari Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung dalam seminar Nasional yang diselenggarakan oleh IAIN Pontianak, 19/11/2018. Beliau menyatakan: “Khilafah itu artinya system pemerintahan. Jadi ada system pemerintahan kerajaan, system demokrasi dan Indonesia itu sistemnya ialah Khilafah NKRIyah. Jadi jangan berebut mau membikin khilafah Islamiyah dan seterusnya, karena bentuknya malah tidak jelas. Di Arab Saudi system khilafah Islamiyahnya itu berbentuk kerajaan, di Mesir itu sistemnya jumhuriyah, dan seterusnya. Jadi tidak usah berusaha untuk membuat sesuatu yang tidak jelas arahnya”. Begitu penjelasannya.

Penjelasan seperti ini menjadi menarik di tengah adanya upaya-upaya kalangan tertentu untuk mendirikan khilafah Islamiyah seperti yang digerakkan oleh HTI dan sebagian kecil masyarakat Indonesia lainnya. Saya sangat sependapat dengan pandangan Beliau sebab memang jangan sampai ada keinginan untuk menjadikan Indonesia yang besar ini sebagai eksperimen untuk mendirikan negara baru, yang justru bukan untuk membangun kesejahteraan tetapi justru untuk membuat konflik atau peperangan.

Di dalam seminar ini ada pertanyaan menarik dari dosen, Pak Syahrani, yang menanyakan: “sekarang ini terjadi ketiadaan tabayyun terhadap gerakan yang dilakukan oleh FPI. Selama ini yang diberitakan tentang FPI bukan yang baik tetapi yang jelek-jelek. Padahal FPI banyak melakukan kegiatan yang positif misalnya memberikan bantuan pada masyarakat, memberikan donasi untuk korban gempa dan sebagainya. Mengapa yang diberitakan yang jelek-jelek saja. Mestinya harus ada keseimbangan supaya masyarakat tahu juga kalau FPI bukan gerakan kejelekan. FPI itu untuk amar ma’ruf nahi mungkar. Saya ini FPI tetapi NU kultural.” Tegasnya.

Pertanyaan ini sangat menarik. Secara kelakar saya sampaikan bahwa: “hari ini saya menemukan judul penelitian menarik, yaitu bagaimana proses orang NU menjadi FPI dan bagaimana pengaruh FPI terhadap orang NU”. Saya tegaskan bahwa menjadi anggota organisasi apapun, selain yang dilarang oleh pemerintah, itu boleh. Undang-Undang dan HAM membolehkannya. Hanya saja yang penting bahwa di dalam organisasi itu jangan ada keinginan untuk mengganti Pancasila dan NKRI. Jangan ada keinginan untuk mendirikan negara baru di atas NKRI. Kalau itu yang dilakukan namanya sudah makar. Bisa diamankan. Saya berharap agar FPI jangan sampai menjadi kuda tunggangan oleh organisasi lain yang berkeinginan berbeda dengan masyarakat dan pemerintah Indonesia. Ingin mendirikan khilafah Islamiyah atau sejenisnya. Ini yang harus diwaspadai.

Saya tetap beranggapan bahwa FPI itu Islam ala ahli sunnah wal jamaah. Tetapi kalau misalnya unjuk rasa lalu yang tampil bendera hitam bertuliskan kalimat tauhid, yang itu adalah bendera ISIS atau bendera HTI dan orasinya menyebut akan mendirikan negara khilafah Islamiyah, lalu apa jadinya. Inilah yang harus menjadi perhatian semuanya. Jangan sampai kita itu melakukan sesuatu yang sesungguhnya bertentangan dengan kehendak masyarakat Indonesia. Ini yang harus diwaspadai dengan seksama oleh komponen dan eksponen organisasi FPI. Sederhana saja, hilangkan aura dan warna menentang NKRI dan Pancasila, maka semuanya selesai.

Yang juga menarik ialah pertanyaan mengenai apa peran PTKIN di tengah misalnya persoalan perbatasan, masalah hubungan antara suku dan agama di Kalimantan Barat, serta masalah pendidikan bagi anak-anak Indonesia di era sekarang ini?. Pertanyaan ini sangat bagus, dan saya ingin memberikan gambaran bahwa masalah perbatasan merupakan masalah yang kompleks dan haus menjadi perhatian kita semua. Beberapa tahun yang lalu saya menyampaikan konsep wilayah perbatasan sebagai halaman depan NKRI. Jadi halaman depan NKRI bukanlah Jakarta, yang selama ini menjadi rujukan untuk melihat kemajuan Indonesia. Tetapi sebenarnya halaman depan itu adalah wilayah perbatasan tersebut. Padahal di wilayah perbatasan masih terdapat sejumlah desa-desa tertinggal. Masih ada sebanyak 180-an desa-desa tertinggal. Makanya pemerintah harus mengedepankan pembangunan wilayah perbatasan. Inilah yang sekarang dikonsepsikan oleh Pak Jokowi dengan membangun mulai dari pinggiran.

Pertanyaan lain dari Bu Direktur PPs, yang menyatakan bahwa perlu juga IAIN Pontianak menjadi bagian dari upaya untuk membangun kekuatan bela negara, sebab di dalam forum di Jakarta, bahwa IAIN Pontianak akan dijadikan mitra oleh Kemenhankam untuk bekerja sama dalam mengembangkan bela negara. Selain itu juga diperlukan wadah untuk membangun kesepahaman antar warga Kalimantan Barat agar terus membina kerukunan bermasyarakat dan beragama.

Saya sampaikan bahwa kekuatan kita itu ialah pada kemampuan untuk bekerja sama antar etnis, agama dan suku. Kita ini terdiri dari 1340 suku bangsa dan 546 bahasa, dan juga agama yang bervariasi, akan tetapi kita bisa menjalin hidup yang damai tanpa kekerasan. Bayangkan di Afghanistan itu hanya ada sebanyak tujuh suku bangsa saja, tetapi perangnya tidak usai hingga hari ini.

Di dalam konteks ini, maka IAIN Pontianak bisa menjadi pusat-pusat kajian dan aksi, misalnya membangun Center of Religious Harmony, membangun Center of Development of Periphery Area, Center of defend the country, dan sebagainya. Kita pasti bisa melakukannya, sebab kita memiliki modalitas yang cukup. Modalitas budaya, modalitas politik, modalitas kearifan local, modalitas kerjasama dan sebagainya. Saya yakin kita bisa asalkan kita mau bergerak dan tidak diam seribu bahasa.

Wallahu a’lam bi al shawab.

MENJAGA KEINDONESIAAN DI PTKN (1)

MENJAGA KEINDONESIAAN DI PTKN (1)

Di dalam acara Seminar Nasional yang digelar oleh IAIN Pontianak, saya diminta untuk menjadi narasumbernya. Selain saya, juga hadir Prof. Dr. Muhibbin Syah, MEd, dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Acara ini dibaeri tajuk “Isu-Isu Pendidikan pada Abad ke 21”. Sebuah acara yang menarik karena mengusung tema pendidikan, sebuah program pemerintah yang tidak lelah untuk dibicarakan, dibedah dan dicari solusinya.

Acara ini dibuka oleh Rektor IAIN Pontianak, DR. Syarif, dan diikuti oleh sejumlah mahasiswa Pascasarjana IAIN Pontianak, para pejabat dan segenap tenaga kependidikan. Hadir Dr. Misdah, MPd. (Direktur PPs), Dr. Syamsul Hidayat (Wadir PPs), Dr. Saifuddin Herlambang (Wakil Rektor II), Dr. Saifullah (Kaprodi EI PPs), Dr. Hariansyah, MPsi., (Kapro PAI PPs), Dr. Rahmad, MAg., (Sekpro EI PPs), Dr. Wahab (Sekpro PAI PPs), Dr. Ahmad Hasan, MAg. (Ka LPM) dan Kepala Perpustakaan.

Di dalam pengantarnya, Rektor menyatakan bahwa ada banyak mimpi yang diinginkannya, misalnya ialah IAIN Pontianak menjadi pusat kajian yang unggul dan kompetitif dalam bidang keilmuan Islam multidisipliner, pusat kajian pembangunan masyarakat berbasis kearifan lokal, keinginan untuk memperkuat digitalisasi pelayanan public dan lainnya. Tahun depan harus sudah ada system presensi berbasis finger print untuk mahasiswa. Sekarang sudah dilakukan untuk pegawai, maka ke depan harus diberlakukan untuk mahasiswa. Selain itu tugas kita ialah memperkuat basis keagamaan mahasiswa yang porsinya masih 80 peren berasal dari lembaga pendidikan umum, dan hanya 20 persen saja yang berasal dari Madrasah Aliyah. Di dalam acara ini saya sampaikan beberapa hal, yaitu:

Pertama, kita hidup di era yang disebut sebagai era millennial. Di era inilah teknologi informasi mencapai titik tertinggi dalam pengaruhnya terhadap manusia. Era yang disebut sebagai Revolusi Industri 4.0. Era ini ditandai dengan hadirnya Artificial intelligent (AI) yang sangat tinggi kualitasnya dan luar biasa pengaruhnya bagi manusia, khususnya dunia kerja.

Robot adalah salah satu di antara yang dikhawatirkan akan mengganti posisi manusia ke depan terkait dengan dunia kerja. AI tersebut sesungguhnya ada beberapa macam, yaitu: computer game, jaringan saraf, jaringan fuzzy, robot dan system pakar. AI ialah system kecerdasan yang ditambahkan ke dalam computer atau barang melalui system ilmiah. Jadi, robot bukan satu-satunya AI di era sekarang. Sistem pakar dan system fuzzy sudah digunakan oleh dunia perusahaan untuk memperkuat pengambilan keputusan, terutama yang berbasis data yang kompleks.

Sebagai bagian dari high information technology, maka juga tumbuh berkembang dengan pesat smart phone, yang dapat dijadikan sebagai sarana bermedia sosial. Dewasa ini kemampuan manusia untuk bermedia sosial tersebut luar biasa, dan hal ini dipicu oleh kepemilikan media sosial yang sangat tinggi. Di Indonesia jumlah kepemlikan HP sebesar 361,7 juta orang. Angka yang sangat tinggi dibandingkan dengan jumlah penduduk yang berjumlah 236 juta atau sebesar 142 persen.

Oleh karena itu menjadi wajar jika medsos menjadi sangat ramai di tengah cyber war. Bisa dibayangkan bagaimana di tengah cyber war ini terjadi pertarungan antar calon persiden dan wakil presiden yang sangat mengedepan. Media sosial menjadi hiruk pikuk karena semakin mendekatnya tahun politik. Tanggal 17 April tentu semakin dekat.

Kedua, Lalu, apa yang menjadi tantangan pendidikan tinggi kita sekarang dan yang akana datang? Kita sekarang sedang berada di era yang tidak pernah kita bayangkan, yaitu era AI dan dipastikan akan sangat mempengaruhi terhadap masa depan generasi muda Indonesia. berdasarkan beberapa survey bahwa AI akan berpengaruh terhadap dunia pekerjaan dan diperkirakan akan terdapat sebanyak 800 juta pekerjaan yang akan digantikan dengan AI atau robot pintar. Kemudian yang tidak kalah penting juga mengenai tantangan pemahaman keagamaan yang cenderung keras. Sehingga melahirkan pemikiran untuk mengganti Pancasila dengan ideology lain, khususnya ideology khilafah Islamiyah. Makanya, yang harus dipikirkan ialah bagaimana kita harus melakukan berbagai tindakan agar kekuatan anti-Pancasila tidak semakin membesar dan semakin menguat. Jangan berikan peluang kepada mereka melakukan “makar” terhadap pemerintah yang absah.

Ketiga, Tantangan berikutnya terkait dengan cyber war yang sekarang juga menuai kebangkitan yang luar biasa. Sebagaimana diketahui bahwa menjelang pemilu dipastikan hoax dan ujaran kebencian akan merajalela. Dan kenyataan di lapangan sudah membuktikan bahwa hoax semakin meningkat jumlah dan kualitasnya. Demikian pula ujaran kebencian, disinformasi, character assassination dan sebagainya. Oleh karena itu, para mahasiswa dan civitas academika IAIN Pontianak harus cerdas untuk menyikapi terhadap era cyber war ini terutama menjelang pemilu yang sebentar lagi akan menghampiri kita semua.

Berangkat dari tantangan ini, maka ada beberapa hal yang harus dilakukan sebagai harakah dan bukan hanya menjadi halaqah, yaitu: melakukan perubahan untuk menyongsong era digital atau era AI. Kita harus membangun kurikulum yang memadai untuk menyambut kehadirannya. Misalnya ialah dengan memberikan porsi yang cukup untuk memperuat basis pengetahuan dan keterampilan IT sehingga para mahasiswa akan melek teknologi informasi untuk kepentingan kebaikan. Agar diupayakan review kurikulum dengan mempertimbangkan lingkungan sosial dan perubahan dunia yang sedemikian dahsyat.

Kemudian, juga memberikan benteng moral dan pengetahuan yang cukup kepada mahasiswa agar tidak terjebak pada pikiran dangkal untuk mengikuti ajakan yang tidak cocok bagi masyarakat Indonesia yang plural dan multicultural dengan pemahaman agama yang wasathiyah. Masyarakat Indonesia yang multi etnis dan multiagama tentu sangat cocok dengan agama yang wasathiyah ini. Selalu menempuh jalan damai dan bukan jalan konflik apalagi peperangan. Jangan jadikan Indonesia sebagai Afghanistan, Iraq, Syria dan sebagainya.

Lalu, agar semuanya memperkuat terhadap kualitas pendidikan sebab tahun depan sudah akan dimulai rencana baru pembangunan nasional dan di antara yang mendasar ialah pendidikan berkualitas. Makanya, semua civitas akademica agar berpikir dan memantapkan tujuan agar pendidikan di Indonesia menjadi lebih bermutu, baik dosen, mahasiswa, program pembelajaran, penelitian, pengabdian masyarakat dan sebagainya. Hanya dengan cara seperti ini maka kita akan bisa bersaing di masa depan.

Wallahu a’lam bi al shawab.

MAULID NABI MAULID KITA

MAULID NABI MAULID KITA

Tidak terasa Maulid Nabi sudah berada di pelupuk mata. Hari ini (19/11/18) kita akan memperingati kelahiran Manusia Agung, Nabi Muhammad sallalahu alaihi wasallam (saw), yang jatuh pada hari Senin, 20 November 2018. Beliau dilahirkan pada tanggal 12 Rabiul Awal tahun Gajah atau bertepatan tanggal 22 April tahun 571 M.

Setiap tahun kita memperingati hari Kelahiran Nabi Muhammad saw, artinya bahwa setiap tahun pula kita bersentuhan dengan hari bersejarah di dalam kehidupan ini. Lalu apa sesungguhnya makna memperingati Kelahiran Nabi Muhammad saw itu bagi kehidupan kita? Masih relevankah memperingati hari itu sebagai penanda kita sebagai umat Islam? Pertanyaan ini rasanya penting untuk dikemukakan dalam kaitannya dengan upaya perbaikan kualitas kehidupan kita, tidak hanya dari dimensi kepatuhan kepada ajarannya, akan tetapi juga kualitas kehidupan kita secara umum.

Jika kita lacak secara tekstual, maka kehadiran Nabi Muhammad saw adalah untuk memperbaiki akhlak manusia, “innama buistu liutammima makarim al akhlaq” atau arti secara generalnya ialah “sesungguhnya aku diutus oleh Allah untuk memperbaiki keutamaan akhlaq manusia.” Betapa agungnya Allah menurunkan Nabi Muhammad saw itu dengan tujuan untuk memperbaiki kualitas akhlak manusia yang diketahui jelek dan bahkan diprediksi juga akan jelek. Makanya, kehadirannya sebagai penanda hadirnya pedoman untuk membangun akhlak yang hebat, akhlak yang terpuji.

Sebagai pedoman bagi tindakan, agama memang dihadirkan untuk menjadi tolok ukur bagi perilaku manusia, sehingga ada yang disebutnya sebagai “ashab al yamin” da nada “ashab al syimal”. Manusia yang digolongkan sebagai “orang yang baik dilambangkan dengan kanan, dan orang yang jahat yang dilambangkan dengan kiri”. Manusia yang baik adalah mereka yang saleh secara teologis atau saleh ritual dan juga saleh sosial. Digambarkan bahwa manusia tidak cukup saleh ritual saja, hidupnya hanya untuk Tuhan saja, dan melupakan terhadap kehidupannya sendiri. Orang yang baik ialah yang bisa menyeimbangkan antara saleh ritual dan saleh sosial tersebut.

Makanya, agama mengajarkan agar dalam harta, misalnya, tidak menumpuk dalam diri satu atau dua orang atau satu kelompok orang, atau akumulasi modal yang bisa disebut sebagai bentuk kapitalisme. Harta harus diberikan kepada yang juga berhak menerimanya, sebab ada hak yang melekat pada orang lain. Inilah di dalam Islam disebut sebagai zakat yang memang harus ditunaikan sebagai pertanggungjawaban atas harta yang dimilikinya.

Jadi di dalam agama ini diajarkan tentang bagaimana kesalehan ritual dalam menjalankan agamanya itu berimbas pada kesediaan untuk berbagai dengan orang lain dan memberikan hak kepada orang lain yang memang memilikinya. Di sinilah makna penting bagaimana seseorang bisa menjaga relasi dengan Tuhan dan sekaligus juga membangun relasi dengan sesama manusia.

Agama ini mengajarkan agar selalu menebar keselamatan. Di dalam teks disebutkan “afsyus salam” atau arti generiknya ialah “tebarkanlah kedamaian atau keselamatan”. Dengan demikian, agama ini mengajarkan agar hamba Nabi Muhammad saw selalu menebarkan keselamatan kepada seluruh alam. Artinya tidak hanya keselamatan sesama manusia akan tetapi juga keselamatan bagi seluruh makhluk dan alam di sekeliling kita.

Manusia tidak akan bisa selamat dengan cara alam ini kita rusak. Kerusakan ekosistem akan sangat berpengaruh terhadap kehidupan manusia. Sebagai contoh ketika ular diburu untuk dimusnahkan, dan burung-burung pemakan tikus juga diburu untuk diperdagangkan, maka jumlah tikus akan merajalela, sehingga akan merusak pertanian kita dan itu artinya ekosistem tidak terjaga dengan baik dan akan berpengaruh terhadap kehidupan manusia. Allah sudah membuat alam ini dengan keseimbangan yang sangat rapi dan semuanya diperuntukkan bagi kebaikan manusia.

Di kala hutan dirusak dengan illegal logging, maka juga dipastikan akan terdapat kerusakan ekosistem sebab hutan merupakan penyangga air tanah yang sangat baik. Jika hutan rusak, maka akan terjadi ketidakseimbangan ekosistem yang akan berakibat kerusakan sumber mata air dan juga akan terjadi banjir bandang yang bisa merusak kehidupan manusia. Jadi sebenarnya Tuhan sudah mengatur segala sesuatu dengan desain dan manajemen yang sangat rapi dan baik. Jika manusia tidak melakukannya sesuai dengan pedoman ajaran agamanya dipastikan alam akan menjadi rusak dan manusia jualah yang akan menanggung akibatnya.

Ini hanya sebagian kecil saja dari bagaimana kita dalam hal yang sangat elementer harus menjadikan ajaran Nabi Muhammad saw sebagai pedoman di dalam menjalankan kehidupan. Padahal seluruh kehidupan ini sudah ditata dengan desain dan manajemen kehidupan yang rapi dan sempurna. Jika kita tidak menjalankannya dengan sebaik-baiknya berarti kita tidak melakukan yang terbaik bagi kehidupan ini.

Memperingati kelahiran Nabi Muhammad saw, sesungguhnya adalah sarana bagi kita untuk merefleksikan kehidupan ini apakah sudah sesuai dengan ajaran Nabi Muhammad saw ataukah belum. Yang diharapkan dari peringatan itu bukan hanya dengan ritual yang kita kenal selama ini, tetapi dengan mencoba mereview kehidupan kita, sudahkah kita meneladani perilaku dan tindakan Nabi Muhammad saw. Dan itu adalah tugas kita semua.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

MEMETAKAN ISU PENDIDIKAN DI ERA MILENIAL

MEMETAKAN ISU PENDIDIKAN DI ERA MILENIAL:

Problema dan Solusi Bagi PTKIN[1]

 

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si[2]

 

 

Pendahuluan

Rasanya, globalisasi itu baru saja datang di tengah kehidupan kita, yang ditandai dengan ditemukannya computer, email, ATM, mesin cerdas generasi pertama dan sebagainya. Tetapi dengan cepat kemudian terjadi lompatan yang luar biasa, yaitu ditemukannya artifisial intelligent dengan segala kosekuensinya. Era high information technology seakan menghapus sedemikian mudah terhadap temuan-temuan masa lalu di awal-awal globalisasi dengan menemukan teknologi tinggi yang luar biasa pengaruhnya.

Sesungguhnya kita hidup di era dunia maya yang meniscayakan kita untuk dapat berkomunikasi dengan segenap lapisan masyarakat di seluruh dunia. Bagi mereka yang bergerak di bidang usaha high information technology, maka nyaris seluruh kehidupannya berurusan dengan informasi yang lalu lalang di dunia maya. Kita tidak kenal secara pribadi tetapi seseorang bisa menjadi kolega kita yang setia. Misalnya orang yang bekerja di e-commerce, maka nyaris seluruh waktunya digunakan untuk hidup di dunia maya, dan basis kerjanya ialah membangun trust atau kepercayaan. Jika kepercayaan sudah ada, maka kesepakatan berbisnis bisa dilakukan dan itu artinya adalah pekerjaan.

Di tengah semaraknya gambaran tentang artifisial intelligent atau AI di tengah era Revolusi Industri 4.0., maka sebagian masyarakat di dunia ada yang merasa khawatir, ada juga yang merasa perlu direspon dengan cerdas, dan ada juga yang merasa seperti tidak sedang terjadi apa-apa. Life must go on like before. Posisi ini yang saya kira perlu untuk kita petakan, kira-kira bagaimana response kita terhadap perkembangan terbaru ini, dan terutama ialah bagaimana Pendidikan Tinggi dengan core bisnis ilmu agama ini. Tantangan inilah yang sepertinya harus direspon dengan cerdas agar kita tidak termasuk orang yang merugi di masa depan.

 

 

Dimana kita sekarang berada?

Selama ini kita memahami artifisial intelligent itu hanya robot, padahal artifisial intelligent itu sesungguhnya sangat variatif. AI itu didefinisikan sebagai “kecerdasan yang ditambahkan kepada suatu sistem yang bisa diatur dalam konteks ilmiah”. Kecerdasan diciptakan dan dimasukkan dalam suatu mesin (computer) agar dapat melakukan pekerjaan seperti yang dilakukan oleh manusia. AI tersebut meliputi sistem pakar, permainan computer (games), logika fuzzy, jaringan saraf tiruan dan robot. (id.m.wikipedia.org).

AI dalam konteks sistem pakar ialah sejumlah data yang tersimpan di dalam sistem computer dan dengan data tersebut kemudian memberikan kemudahan untuk merumuskan kesimpulan. Infomasi-informasi yang didapatkan dan saling dihubungkan dan dibandingkan akan dapat memberikan petimbangan di dalam penarikan kesimpulan. Lalu, permainan games dengan computer saya kira sudah sangat lazim di dalam dunia kita, misalnya game sepakbola, game catur –bahkan pada tahun 1998, Garry Kasparov, berhasil dikalahkan oleh mesin catur dalam permainan enam babak. Logika fuzzy pada dasarnya dapat digunakan untuk memberikan pertimbangan di dalam merumuskan kesimpulan berbasis data di tengah ketidakpastian masalah. System fuzzy banyak digunakan oleh perusahaan untuk menjadi bahan pertimbangan di dalam suasana yang tidak pasti, tidak jelas dan sulit. Sedangkan jaringan saraf ialah kemampuan yang ditambahkan pada mesin dengan tujuan untuk melakukan pengenalan kepada obyek yang harus dikenali. Sekarang sudah mulai dirancang rumah cerdas yang semua sistemnya dikendalikan dengan mesin, mulai membuka pagar sampai masuk ke dalam toilet dan tempat tidur bahkan juga penyediaan meja makan dan seterusnya.

Dewasa ini kita sedang berada di suatu era yang penggunaan teknologi informasi luar biasa dahsyat. Saking dahsyatnya, maka kita seperti sedang berada di dunia maya yang menyajikan ragam informasi yang sangat variatif baik dari sisi content maupun kuantitasnya. Teknologi informasi sebagai dunia maya itu seperti pasar raya informasi. Apapun bisa diakses dan apapun bisa diunduh atau diunggah. Nyatalah bahwa kita seperti hidup di alam maya yang penuh dengan gegap gempita informasi.

Tentu, saja teknologi informasi selalu memiliki dua matra, yaitu positif dan negative. Ada sangat banyak yang positif dan ada juga yang sangat banyak yang negative. Di antara yang positif ialah digunakannya teknologi tersebut untuk kepentingan perdagangan atau e-commerce, ada yang untuk berdakwah atau e-preaching, ada untuk pesantren atau e-pesantren atau pesantren online, ada juga untuk pendidikan atau e-education, dan ada juga untuk pemerintah atau e-government dan seterusnya.

Coba kita lihat perkembangan e-commerce yang sekarang sedang menuai hasil optimal dari penggunaan aplikasi teknologi informasi. Amazon.com, Alibaba.com, Go-Jek, Grab, Bukalapak, Sophie, Shahnaz Shop, dan hampir seluruh produsen dan pengusaha menggunakan aplikasi untuk kepentingan perdagangan. Lalu, misalnya juga birokrasi juga sudah menggunakan e-government seperti Pusat Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP), elektronik-KTP, e-perizinan, dan sebagainya. bahkan dunia pesantren dan organisasi sosial keagamaan juga sudah menerapkan hal ini, seperti NU online, pesantren online, e-zakat, e-wakaf, dan sebagainya.

Kemudian tentu ada yang negative ialah dengan kehadiran hoax di era cyber war. Era ini ditengarai dengan digunakannya media sosial sebagai sarana untuk melakukan perang non-militer. Cyber war itu bukan perang fisik tetapi perang untuk mengalahkan lawan dengan kekuatan media, misalnya hate speech, disinformasi, berita bohong, pembunuhan karakter dan sebagainya. Bisa juga kekerasan dan terorisme juga menggunakan media informasi untuk merekrut anggota baru jihadis untuk berjuang bersamanya.

Di dalam cyber war, maka every body can be a journalist. Semua bisa menjadi jurnalis, sehingga mereka juga merasa bahwa segala sesuatu yang dipikirkan, diterima dan diperoleh akan dapat untuk dishare ke semua lapisan masyarakat yang memiliki jejaring dengannya. Coba kita lihat tentang semakin memanasnya pertarungan politik untuk memperebutkan posisi presiden dan wakil presiden sekarang. Kita sedang melihat theatre atau pertunjukan “perang media sosial” untuk saling menjatuhkan dan mengungguli. Kala Pak Jokowi menyebutkan adanya politikus sontoloyo dan politik genderuwo, maka sontak seluruh lawan politiknya mencibir, mencaci, menghancurkan dengan kekuatan media sosial. Di televisi, media dan media sosial kita bisa melihat bagaimana realitas pertarungan itu sedemikian keras. Kala juga Pak Prabowo yang keseleo Pancasila, sebab salah dalam mengungkapkan sila ke empat, maka sontak juga mendapatkan serangan yang hebat, dan juga ketika Sandi melangkahi kubur Kyai terkenal, maka juga sontak terjadi pembulian yang keras.

Sedemikian kuat pengaruh teknologi informasi tersebut tentu terkait dengan begitu kuatnya kepemilikan media sosial tersebut di Indonesia. Indonesia menempati peringkat ke enam pengguna hand phone terbanyak dengan jumlah sebesar 236 juta. (idntime.com diunduh 16/11/2018). Data terakhir 2017, pengguna HP sebanyak 371,4 juta atau sebsar 142 persen dan kaum urban sebsar 55 persen. Dari total populasi. Sedangkan pengguna internet ialah 132,7 juta, pengguna media sosial aktif 106 juta, pengguna media sosial mobile aktif 92 juta. (katadata.co.id diunduh 16/11/2018). Maka wajarlah bila medsos itu begitu merajai di dalam percaturan informasi di Indonesia. Ada informasi yang sedemikian viral di tengah masyarakat terutama issu politik, agama dan sosial. Di sini terjadi banjir hoax di mana-mana. Bencana pun bisa dijadikan sebagai bahan hoax. Bahkan hoax sudah menjadi industri, sebab ada yang membutuhkan dan ada yang memproduksinya.

Di tengah suasana seperti ini, para mahasiswa kita itu belajar. Para generasi milenial yang sekarang sedang beranjak dewasa berada di era proxy war atau cyber war yang tidak akan berakhir sampai tujuan untuk memenangkan pertarungan terwujud. Generasi Y yang seharusnya memperoleh penanaman nilai-nilai kebaikan, kemanusiaan dan kebangsaan lalu harus berhadapan dengan hoax di dalam media sosial yang terkadang pengaruhnya lebih besar dibandingkan dengan program pendidikan yang diajarkan oleh lembaga pendidikan. Jadi, pertarungan generasi sekarang untuk mencari jati diri sungguh-sungguh berat. Dan yang diharapkan ialah agar mereka bisa menjadi pemenang atau to be the winner di tengah pertarungan proxy war dan mereka tetap berada di jalur yang benar, yaitu menjadi warga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Tantangan Pendidikan Tinggi

Sesungguhnya ada banyak tantangan pendidikan Islam, seperti tantangan internal (institusional, kelembagaan) dan tantangan eksternal, seperti tantangan sosial, politik dan budaya. Tantangan sosial, politik dan budaya tentu juga sangat banyak. Misalnya tangan politik identitas, tantangan radikalisme dan ekstrimisme, tantangan dunia pekerjaan di masa depan, tantangan budaya permissiveness, tantangan narkoba dan pornografi, tantangan media sosial di era cyber war dan sebagainya.

Saya akan memfokuskan diri pada tantangan eksternal ini, tentu dengan dasar pemikiran bahwa ke depan memang kita harus berhadapan dengan realitas sosial yang kompleks dengan plus minus keilmuan yang kita miliki.

Pertama, tantangan radikalisme dan ekstrimisme. Tantangan ini terus eksis di tengah semangat keterbukaan dan demokratisasi. Ia akan terus hidup meskipun pemerintah telah menghentikan atau membubarkan HTI, akan tetapi semangat untuk melakukan fundamental terhadap negara dan sistem negara itu akan terus ada. Mereka bekerja seperti sel yang akan terus hidup selama sel-sel tersebut masih memiliki lahan untuk hidup. Gerakan khilafah itu tidak akan berhenti di tengah pemrakarsanya telah dimatikan. Institusi dan struktur boleh mati tetapi kultur dan mindset tidak bisa dimatikan.

Kedua, tantangan cyber war atau media sosial juga akan semakin menguat di era yang akan datang. Dengan semakin kuatnya pengembangan teknologi informasi akan semakin besar tantangan yang kita hadapi. Sekarang saja perkembangan media sosial itu nyaris tidak terkontrol. Berbagai macam situs dengan aneka ragam pesan dan content sudah sampai pada situasi mengkhawatirkan. Di tengah tahun politik perkembangan media sosial sungguh perlu untuk dicermati sedemikian mendasar. Agar semua institusi, secara khusus institusi pendidikan melakukan pencermatan terhadap perkembanan isu-isu di dalam media sosial agar kita tidak ketinggalan dalam berperan serta untuk menanggulanginya.

Ketiga, tantangan hard skilled dan soft skilled. Kita sedang berada di era revolusi industry 4.0., di mana kecerdasan artifisial menjadi sangat kuat. Diperkirakan bahwa ke depan mesin-mesin atau robot-robot akan menggantikan posisi pekerjaan manusia. Berdasarkan ramalan bahwa tahun 2030 akan terdapat 800 juta jenis pekerjaan di dunia yang akan diambil alih oleh robot atau mesin pintar. Ini adalah tantangan riil kita di masa yang akan datang. Makanya, institusi pendidikan tentu harus terlibat di dalam menyiapkan generasi hebat agar di masa depan tidak terpinggirkan karena kehadiran mesin pintar itu.

Perguruan tinggi diharapkan untuk menyiapkan manusia Indonesia yang cerdas, kompetitif dan berakhlakul karimah. Artinya, bahwa yang harus disiapkan tidak hanya ana-anak yang cerdas dalam konteks kecerdasan rational, akan tetapi juga cerdas sosial, cerdas emosional dan bahkan cerdas spiritual. Manusia yang bisa kompetitif di masa depan ialah yang memiliki sekurang-urangnya tiga kecerdasan dan yang paling hebat jika memiliki empat kecerdasan tersebut. Manusia seperti ini yang kiranya akan dapat mengalahkan kecerdasan buatan, yang hanya efektif dan efisien tetapi tidak memiliki kemampuan yang lebih dari itu.

Manusia sebagai makhluk Tuhan yang paling sempurna akan selalu mampu untuk melakukan adaptasi dan kolaborasi. Makanya yang diperlukan ke depan ialah kemampuan 4 (four) C plus 1 (one) S, yaitu competent, collaborative, communication and creativity plus spirituality. Hanya dengan empat kemampuan ini, kita akan mampu melawan persaingan di tengah dunia global. Siapa yang memiliki empat kemampuan itu maka dialah yang akan mampu bertahan dan berkembang.

Keempat, ialah penguatan kelembagaan dan kemampuan akademis berbasis pada hard skilled dan soft skilled yang hebat. Kita harus memperkuat terhadap lembaga pendidikan ini, dengan akreditasi yang baik, dosen yang berkualitas, sarana dan prasarana pendidikan yang bagus dan juga kemampuan akademik yang memadai. Tugas lembaga pendidikan ialah menyiapkan generasi mendatang untuk hidup pada zamannya.

 

Solusi Yang Diperlukan

Makanya, harus disiapkan berbagai solusi untuk mempersiapkan generasi hebat untuk Indonesia ke depan. Yaitu:

Pertama, generasi yang melek teknologi informasi untuk kepentingan kebangsaan, ke-Indonesia-an dan ke-Islam-an. Di dalam konteks ini para mahasiswa harus memiliki kemampuan literasi media, baik untuk kepentingan pengetahuan ataupun untuk kepentingan kerja dalam bidang teknologi informasi. Saya berharap agar literasi media dijadikan sebagai salah satu komponen di dalam program pembelajaran baik secara integrated maupun parsial. Tujuan pembelajaran ini agar para mahasiswa tidak terjebak dengan pegaruh negative media sosial di dalam era cyber war.

Kedua, mahasiswa harus didorong untuk membangun pemahaman agama yang wasathiyah atau beragama yang moderat. Yaitu beragama sesuai dengan penafsiran agama yang dilakukan oleh para ulama kita di masa lalu maupun sekarang dengan mengacu pada tafsir agama yang jauh dari konsepsi ekstrimisme dan juga liberalisme. Kita semua harus membendung gerakan Islam tekstual yang mengancam terhadap keberlangsungan NKRI dan kebangsaan kita. sesungguhnya kita menginginkan Indonesia yang modern, Islamis tetapi tetap berada di dalam kerangka menegakkan Pilar consensus kebangsaan.

Ketiga, PTKIN harus tetap mengajarkan value, berpikir independen, kemampuan kerja sama dan peduli pada orang lain. Nilai akan dapat dijadikan sebagai pedoman untuk melakukan tindakan, dengan berpikir independen bukan pemikiran bebas, maka akan dihasilkan kreativitas dan inovasi, dengan bekerja sama akan dihasilkan sikap dan tindakan saling menolong dan dengan peduli pada orang lain akan menghasilkan tindakan kasih sayang di antara sesama.

Kita telah memiliki modalitas semuanya. Spiritualitas yang baik berbasis pada nilai keagamaan, kita juga dikenal sebagai bangsa yang suka menolong, dikenal sebagai bangsa yang suka bersedekah. Berikut adalah data yang menggambarkan hal ini, yaitu:

Di antara 20 negara yang menjadi top twenty dalam hal Giving Index ialah dengan urutan: Indonesia, Australia, New Zealand, USA, Singapore, Kenya, Myanmar, Bahrain, Netherland, UAE, Norway, Haiti, Canada, Nigeria, Iceland, Malta, Liberia dan Sierra Leon.

Indonesia menempati posisi pertama dalam The CAF Giving Index dengan score 59, Helping a Stranger dengan score 46, Donating money dengan score 78 dan Volunteering time dengan score 53. Berdasarkan laporan Charities Aid Foundation (CAF) 2017 tersebut Indonesia menempati ranking pertama dibanding Australia, maka donating money kita sebesar 78 sementera Australia hanya 71, dan Volunteering time kita berscore 53 sementara Aurtralia sebesar 40. Kita hanya kalah dibandingkan dengan Australia dalam hal helping a stranger, yaitu Indonesia sebesar 46, sementara Australia sebesar 65. Oleh karena itu yang ke depan perlu untuk diperkuat ialah bagaimana agar kita lebih care terhadap orang asing yang ada di Indonesia. Di posisi ini kita kalah dengan Australia, yang ternyata tingkat caritasnya terhadap orang asing jauh lebih tinggi.

Lalu simak apa yang akan dilakukan Universitas Airlangga (Jawa Pos, 14/11/2018) dalam menghadapi era Revolusi Industri 4.0, yaitu:

  1. mengubah kurikulum sesuai dengan kebutuhan industry 4.0
  2. sejak awal mahasiswa didorong untuk membuat inovasi
  3. tugas akhir berbasis inovasi atau temuan-temuan baru untu solusi permasalahan bangsa
  4. pemanfaatan teknologi dalam perkuliahan, sebanyak 20 persen e-learning dan sisanya tatap muka.
  5. Menyiapkan mahasiswa untuk masuk ke dalam industr kreatif.

Bagaimana dengan STAIN, IAIN atau UIN yang basis keilmuannya adalah ilmu agama atau ilmu sosial atau sains dan teknologi, maka yang sesungguhnya dibutuhkan ialah menyiapkan mahasiswa untuk menghadapinya dengan sejumlah keahlian yang mendampingi hard skilled. Dan saya kira kita bisa melakukannya.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

 

 

 

[1] Makalah disampaikan di dalam acara Diskusi pada Program Pasca sarjana IAIN Pontianak, pada tanggal 19 Nopember 2018.

[2] Guru Besar Sosiologi pada UIN Sunan Ampel Surabaya. Menyelesaikan program sarjana di Fakultas Dakwah IAIN Sunan Ampel, Program PPs Universitas Airlangga dan program Doktor pada PPs Universitas Airlangga. Pernah menjadi Rektor IAIN Sunan Ampel tahun 2009-2012, Dirjen Pendidikan Islam Kemenag 2012-2014 dan Sekjen Kemenag 2014-2018. Aktif pada organisasi sosial keagamaan seperti Badan Wakaf Indonesia, Masyarakat Ekonomi Syariah dan juga Dewan Pengawas Syariah Bank Jatim Syariah.

MENGAJI KEBANGSAAN PADA KELOMPOK LINTAS AGAMA

MENGAJI KEBANGSAAN PADA KELOMPOK LINTAS AGAMA

Saya memperoleh kesempatan langka dalam kerangka membangun relasi antar umat beragama di Surabaya. Akhir-akhir ini saya banyak berbicara di dalam forum yang terkait dengan kerukunan beragama. Bukan suatu hal yang baru tentu saja. Sebab selama ini saya memang banyak bergaul dengan banyak tokoh lintas agama, baik sebagai pembicara maupun terlibat di dalam kegiatan-kegiatannya.

Pertemuan di Klenteng Parisandha Buddha Dharma Niciren Sosyu Indonesia (NSI di Kompleks Ruko Wonokitri Indah Blok S-48, Surabaya tentu hal yang khusus sebab saya bisa bertemu dengan Maha Pandita Utama, Suhadi Senjaya, Ketua Niciren Sosyu Indonesia, kawan lama saya pada saat saya berada di Jakarta. Banyak acara dengan beliau terkait dengan upaya membangun umat beragma. Acara ini memng dihadiri oleh banyak tokoh agama, misalnya KH. Drs. Ahmad Suyanto, Ketua Umum Forum Beda tetapi Mesra (FBM), Pandita Robert Siahaan, Dhiman Abror, Staf Khusus bidang Komunikasi, Zulkifli Hasan, Ketua MPR, Djohan Limanto, Ketua Niciren Sosyu Jawa Timur, dan para ulama atau kyai di Surabaya. Acara ini dibuka dengan doa yang dipimpin oleh Pak Suhadi dan ditutup dengan doa bersama yang dipimpin oleh kyai.

Pada acara ini ada tiga pembicara, yaitu: saya, Pak Suhadi dan Pak Dhimam Abror. Warga Surabaya tentu saya kenal dengan Pak Dhimam Abror, sebab Beliau adalah mantan wartawan Jawa Pos, dan juga mantan Ketua PWI Jawa Timur, lama saya tidak bertemu, jadi rasanya seperti reunian saja. Acara ini juga diisi dengan sambutan, misalnya Ketua Umum Forum Beda Tapi Mesra (FBM), Kyai Ahmad Suyanto. Beliau menyatakan bahwa Forum Beda tapi Mesra (FBM) diharapkan menjadi wadah penyemaian semangat kebersamaan, kerukuna dan harmoni. FBM adalah rumah bersama bagi pemeluk lintas agama.

Dhimam Abror menjadi pembicara pertama, dan beliau menyatakan bahwa Indonesia adalah contoh kerukunan umat beragama. Indonesia merupakan negara dengan multi suku, etnis dan bahasa yang sangat luar biasa, tetapi hingga hari ini, masih bisa bertahan karena memiliki Pancasila sebagai common platform kebersamaan. Rusia sebuah negara adidaya, dengan kekuatan senjata dan tentara yang hebat ternyata harus terpecah-pecah karena ketiadaan kebersamaan. Komunisme yang dipaksakan ternyata tidak bisa bertahan. Berbeda dengan Pancasila yang yang hadir sebagai milik bersama. Oleh karena itu jangan menjadi Afghanistan yang hanya terdiri dari tujuh suku bangsa, tetapi perang tidak selesai.

Pak Suhadi menjadi pembicara kedua, beliau sampaikan bahwa sangat mengapresiasi terhadap forum ini, sebab ini merupakan contoh kongkrit bagaimana kita membangun kerukunan dan harmoni. Kita bersyukur sebab memiliki Persatuan Bersama (PBM) Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri No. 8 dan 9 untuk mengatur kehidupan beragama terutama menyangkut pendirian tempat ibadah. Dengan jumlah pengikut sebanyak 90 orang kita bisa mendirikan tempat ibadah. Jika di suatu kecamatan tidak cukup, bisa mengangkat se kabupaten, dan sekabupaten tidak bisa maka diangkat se provinsi. Jika masih tidak cukup tentu tidak usah mendirikan tempat ibadah. Lalu juga dirikan tempat ibadah secukupnya. Kalau kebutuhannya 100 maka dirikan yang relevan dengan itu.

PBM itu dirumuskan untuk memberikan solusi atas kesulitan-kesulitan kita selama ini, misalnya umat Islam sulit mendirikan masjid di Papua, orang Buddha sulit mendirikan tempat ibadah di tempat lain, demikian pula yang lain. Maka dengan PBM ini akan dapat menjadi solusi atas masalah tersebut.

Beliau berharap bahwa jangan hanya toleransi yang dikembangkan, sebab toleransi itu masih menyisakan jarak antara satu dengan yang lain. Yang harus dikembangkan ialah persaudaraan. Di Buddha, di Islam, dan semua agama terdapat konsep-konsep persaudaraan. Islam sangat menekankan persaudaraan tidak hanya sesama umat Islam, tetapi untuk persaudaraan kebangsaan dan bahkan untuk seluruh alam.

Saya menjadi pembicara ketiga. Saya sampaikan tiga hal yang mendasar. Pertama, saya mengapresiasi atas acara yang diselenggarakan oleh FBM, sebab inilah rumah bersama dan di tempat ini selalu ditekankan pentingnya persaudaraan dan kebangsaan. Maka saya menyebut acara ini sebagai “Mengaji Kebangsaan”. Pada waktu mengaji di Gedung Pondok Daud Jl. Taman Prapen Indah Blok C 6-7 Surabaya, beberapa saat yang lalu, hadir Pak Bambang DH dan bu Indah Kurnia, dan sekarang yang datang Pak Dhimam Abror. Kita semua tahu datang dari mana mereka ini. Jadi, PBM ini merangkul semua dan dirangkul semua. Indah. Sebuah Taman Sari akan menjadi indah dan asri, jika terdapat banyak bunga yang warna-warni. Maka di dalam kehidupan ini juga indah jika terdapat warna-warna di dalamnya. Yang penting bagaimana memanej waran-warni tersebut menjadi serasi, harmoni dan indah.

Kedua, saya sampaikan kita sekarang sedang memasuki tahun politik, di mana tanggal 17 April 2019 akan terjadi pilihan presiden dan wakil presiden. Pada tahun politik tersebut dipastikan akan terjadi gesekan-gesekan yang tinggi. Akan terjadi saling kontestasi yang terkadang juga mengusung isu politik identitas dan politisasi agama. Kita sudah merasakan pertarungan itu sekarang. Di era cyber war yang menggunakan media sosial itu, maka hal-hal yang sebenarnya tidak masalah menjadi masalah, hal-hal yang sepele menjadi kompleks. Itulah sebabnya hoax menjadi bahan pemberitaan yang luar biasa pengaruhnya. Orang terbiasa untuk membunuh karakter lawan politiknya, orang terbiasa menyebarkan isu-isu yang merusak persaudaraan dan sebagainya.

Hal ini tentu ditunjang dengan kepemilikan hand phone atau smartphone yang sangat tinggi di Indonesia. dari sejumlah 236 juta penduduk, jumlah pemilik HP sebesar 371,4 juta orang atau 142 persen. Dan Indonesia menjadi negara nomor enam dalam kepemilikan HP setelah China, India, Amerika Serikat, Brazil, Rusia dan Indonesia. Apalagi mayoritas HP itu memiliki jaringan internet.

Makanya, kita yang termasuk generasi senior ini perlu untuk menjaga agar generasi muda kita yang berada di dalam kelompok generasi Y, akan dapat menggunakan smart phone untuk kepentingan positif dan bukan untuk kepentingan negative. Di era tahun politik, saya kira kita harus mengajarkan kepada anak-anak untuk bagaimana menggunakan media sosial yang benar.

Ketiga, kita ini bersyukur karena terlahir di Indonesia dan menjadi bangsa Indonesia. Kalau kita lahir lima jam saja setelah itu, maka kita lahir di Afghanistan yang perang terus menerus. Kalau kita lahir 13 jam maka kita akan lahir di Iraq atau Syria, maka juga akan terus berada di dalam suasana perang, dan seterusnya. Itulah yang mengharuskan kita bersyukur dan menghargai terhadap usaha para pendiri bangsa yang menjadikan negeri ini sebagai negara berdasar atas Pancasila. Melalui empat pilar consensus kebangsaan, yaitu: Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Kebinekaan, maka kita bisa memastikan bahwa negara kita dalam keadaan aman dan damai. Kita ingin ke depan, generasi muda kita itu seperti kita yang berkomitmen menjaga pilar consensus kebangsaan tersebut. Jika sekarang para founding fathers negeri ini tersenyum di alam kuburnya karena kita menjadi penyangga NKRI, maka kita ingin ke depan juga bisa tersenyum di alam kubur karena generasi yang kita tinggalkan tetap mempertahankan empat pilar consensus kebangsaan tersebut.

Wallahu a’lam bi al shawab.