• June 2026
    M T W T F S S
    « May    
    1234567
    891011121314
    15161718192021
    22232425262728
    2930  

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

ISLAMIC HIGHER EDUCATION PROFESSOR SUMMIT 2018 (1)

ISLAMIC HIGHER EDUCATION PROFESSOR SUMMIT 2018 (1)

Islamic Higher Education Professor (IHEP) Summit 2018 yang ke 2 dilaksanakan di Bandung. Acara ini diselenggarakan melalui kerja sama dengan UIN Sunan Gunung Djati (UIN SGD) Bandung dan dilaksanakan di Hotel Holiday Inn Bandung.

Hadir kira-kira 100 orang professor dari seluruh PTKIN di Indonesia. Para professor yang hadir adalah yang berkontribusi dengan karya tulis sebagaimana persyaratan IHEP Summit 2018. Tidak semua professor hadir di tempat ini. Seharusnya sebanyak 518 professor yang terlibat di dalam acara ini, akan tetapi memang tidak semua professor berkesempatan menulis atau karena tugas lain yang tidak kalah pentingnya.

Saya berkesempatan untuk diundang dan saya menghadirkan tulisan yang berjudul “Merumuskan Kebijakan Pendidikan Islam berbasis Kebangsaan pada Era Revolusi Industri 4.0”. Tema ini saya kira sangat penting di era sekarang sebab kita memang sudah berada di dalam era ini yang ditandai dengan semakin menguatnya penggunaan teknologi informasi dan juga artificial intelligent (AI). Jangan sampai kita sama sekali tidak terpikirkan dengan kebaharuan mendasar dari kehidupan yang berubah dengan cepat ini.

Saya tentu mengapresiasi terhadap acara IHEP Summit di akhir tahun ini, sebagai perwujudan bagi Ditjen Pendidikan Islam Kemenag untuk mendengarkan apa sesungguhnya yang menjadi “rerasanan” atau “gerundelan” para professor di dalam kehidupan akademik yang juga sedang mengalami perubahan yang cepat. Ada tiga hal yang ingin saya ungkapkan di dalam tulisan ini, yaitu:

Pertama, forum IHEP Summit adalah forum yang sangat bergengsi sebab yang hadir adalah para professor yang selama ini menjadi ikon pendidikan tinggi. Saya kira forum ini menjadi forum tertinggi dalam dunia akademik, sebab kehadiran para professor dalam berbagai bidang keilmuan yang terdapat di PTKIN akan dapat menjadi penanda bagi kegairahan akademik di institusi pendidikan tinggi.

Gairah untuk pertemuan juga sangat tinggi terbukti dengan semangat untuk menyampaikan gagasan dan pemikiran dari para professor. Bahkan acara yang seharusnya selesai jam 22.00 WIB terpaksa harus molor sampai jam 22.30 WIB karena semangat para professor untuk mengaktualisasikan gagasannya. Rasanya forum seperti ini bisa menjadi factor sublimasi bagi gagasan para professor yang selama ini mungkin “tersendat”.

Kedua, saya juga mengapresiasi apa yang direncanakan dan apa yang sudah dilakukan oleh Ditjen Pendidikan Islam. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Prof. Dr. Kamaruddin Amin, bahwa geliat penguatan kualitas pendidikan Islam sudahlah dilakukan. Dalam kerangka penguatan kelembagaan, maka transformasi kelembagaan pendidikan tinggi Islam tentu hal yang sangat mendasar. Transformasi ini juga diikuti dengan penguatan infrastruktur kelembagaannya. Dengan skema IsDB dan juga SBSN, maka infrastruktur kelembagaan menjadi semakin berkualitas. Hal ini juga diikuti dengan penguatan SDM melalui program 5.000 doktor, Program Magister Langsung Doktor (PMLD), program penelitian kolaboratif, program penelitian mandiri, penguatan jurnal internasional, berbagai forum penguatan institusi, SDM dan juga lainnya.

Yang dirasakan lambat pengembangannya ialah mengenai jumlah guru besar. Selama 7 (tujuh) tahun terakhir, kiranya ada penambahan sebanyak 12 orang professor. Hal ini tentu harus menjadi perhatian kita semua. PTKIN harus mencetak banyak professor untuk kepentingan akreditasi. Apalagi kita sedang bergerak untuk menggapai Akreditasi Internasional Perguruan Tinggi (AIPT) padahal selama ini hanya ada sebanyak 3 (tiga) PTKIN yang terakreditasi A, yaitu UIN Jakarta, UIN Jogyakarta, UIN Malang. Padahal apa yang kurang dari UIN Surabaya, UIN Makasar, UIN Bandung, UIN Riau dan sebagainya. Makanya yang dibutuhkan ialah pendampaingan agar yang sudah B gemuk akan bisa bergerak menjadi A di tahun 2019.

Kelambatan pencapaian gelar professor tentu terkendala dengan jurnal internasional, misalnya Scopus. Makanya, kita juga melakukan pendampingan untuk percepatan guru besar dengan penguatan tulisan di jurnal internasional. Jumlah terbitan di Kemenag harus ditingkatkan dan yang sudah berpotensi meningkat indeksnya harus didorong secara lebih kuat. Kita sudah memiliki 130 jurnal lebih dan ini berpotensi untuk ditingkatkan peringkatnya di SINTA Kemenristek Dikti untuk menuju menjadi jurnal internasional.

Ketiga, pendidikan Islam memiliki cakupan yang sangat luas, mulai dari Raudlatul Athfal sampai Pendidikan Tinggi Islam. Kita memiliki pesantren, madrasah, dan pendidikan tinggi. Kita memiliki pendidikan formal, pendidikan non formal dan pendidikan informal. Kita memiliki Ma’had Ali dengan segala varian keilmuan yang dikembangkannya, kita memiliki program Muadalah, dan juga penyiapan santri berprestasi. Kita memiliki guru-guru agama di sekolah-sekolah umum dan kita sedang menggarap daerah pinggiran atau program Guru Kawasan Perbatasan, kita punya program robotic di madrasah dengan prestasi internasional, ada program Beasiswa Santri Berprestasi dan sebagainya. Jika kita buka website Ditjen Pendidikan Islam, maka kita akan mengetahui betapa banyak program inovasi yang sudah dilakukan. Semua ini dibuat dalam kerangka untuk memperkuat pendidikan Islam di masa depan.

Dan para professor diharapkan akan dapat mengisinya dengan semangat yang tinggi sebab di pundak para guru besar asa dan harapan tersebut diletakkan.

Wallahu a’lam bi al shawab.

MENGGAGAS PRAKTIKUM FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI

MENGGAGAS PRAKTIKUM FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI

Dalam 2 (dua) hari, saya terlibat di dalam acara Focused Group Discussion (FGD) yang diselenggarakan oleh Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN Sunan Ampel Surabaya, 4-5/12/2018. Acara ini merupakan kelanjutan dari acara di Tretes tentang workshop kurikulum FDK UIN Sunan Ampel Surabaya.

Acara ini menghadirkan, KH. Jaziri, yang ahli di dalam menegemen masjid dan juga Tarmidzi Tohor, Sekretaris Ditjen Bimas Islam Kemenag. Seluruh pejabat di Fakultas Dakwah dan Komunikasi hadir di acara ini. Dr. Abd. Halim, Dekan, Dr. Muhammad Arif, Wadek I, Dr. Luluk Firkriyah, Wadek II, Dr. Agus Santoso, wadek III, dan segenap ketua dan sekretaris jurusan. Juga hadir Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, MAg dan Prof. Dr. Aswadi, MAg.

Acara yang perlu diapresiasi terutama di dalam kaitannya dengan upaya untuk mengembangkan model dan pola praktikum yang lebih baik di masa depan. Harus disadari bahwa tantangan kita semakin besar dan kita semua tentu harus proaktif untuk menjawabnya sebagai bagian dari tanggung jawab kita kepada stakeholder yang selama ini menjadi mitra di dalam program pendidikan.

Drs. Tarmidzi Tohor, MAg menyatakan bahwa kita sekarang sangat kekurangan tenaga Penyuluh Agama Islam (PAI). Kita hanya memiliki 50.000 tenaga PAI dengan komposisi 5000 PNS dan 45.000 honorer. Padahal kita ini memiliki jumlah umat Islam sebesar 211 juta orang. Hal ini belum lagi bicara sebaran PAI yang tidak merata di seluruh Indonesia. PAI sebenarnya memiliki tugas garda depan, sebab yang bersangkutan tidak hanya menjadi penyuluh agama, tetapi juga penyiar agama, pendidik agama dan bahkan Pembina kehidupan masyarakat secara umum.

Makanya, diperlukan sertifikat bagi mereka ini agar kualitas mereka menjadi semakin baik. Untuk itu maka kerja sama antara Fakultas Dakwah dan Komunikasi dengan Ditjen Bimas Islam menjadi sangat urgen. Beliau menyatakan: “agar ke depan dirumuskan MoU antara Ditjen Bimas Islam dengan Fakultas Dakwah dan Komunikasi untuk membicarakan dengan serius tentang program sertifikasi PAI tersebut”.

Saya juga menyampaikan beberapa gagasan terkait dengan pengembangan praktikum prodi-prodi di FDK. Saya sampaikan tiga hal, yaitu: Pertama, bahwa kita sedang menghadapi tantangan yang luar biasa ialah tantangan mengajar dan mengembangkan SDM di era Revolusi Industri 4.0 atau era disruptif suatu era ketidakmenentuan. Kita harus memiliki 4 (empat) C dan 1 (satu) S yaitu: Competency, Communications, Collaborations, Creatifity dan Spiritualism. Hanya orang yang memiliki hal ini yang mampu berkompetisi di era yang akan datang. Jika kita ingin menjadi tuan rumah di negeri sendiri, maka kita harus menguasai kemampuan atau kapasitas ini. Tantangan internal kita ialah rendahnya penguasaan teknologi informasi (TI), sementara itu kita hidup di era IT yang sangat tinggi atau high level serta kurangnya kapasitas keilmuan dan praksis untuk menjadi orang dengan kemampuan hard skills dan soft skills yang baik sesuai dengan bidang keilmuan.

Kedua, FDK harus menjadi institusi yang memanggul tugas memberikan sertifikasi baik internal maupun eksternal. Secara internal kita harus memberikan sertifikat kepada para alumni kita dalam banyak hal sebagai tuntutan memenuhi soft skills. Di antara sertifikat tersebut ialah sertifikat Community Development untuk jurusan PMI, sertifikat penyuluh agama Islam untuk jurusan BKI, sertifikat Manajemen untuk jujuran manajemen dakwah, sertifikat muballig untuk jurusan KPI, sertifikat jurnalistik untuk jurusan Komunikasi. Selain sertifikat yang sudah ada selama ini, misalnya sertifikat bahasa asing (Arab dan Inggris), sertifikat komputer dasar dan lain-lain yang masuk dalam Surat Keterangan Pendamping Ijazah (SKPI). Semua ini dibutuhkan untuk mencapai 4 (empat) C dan 1 (satu) S dimaksud.

Jika competency dipenuhi melalui Hard Skills atau kelulusan seluruh mata kuliah atau Standart Kompetensi Lulusan (SKL), lalu untuk memenuhi Communications dan Collaborations lewat soft skills atau sertifikat-sertifikat soft skills, sedangkan untuk creativity bisa dipenuhi dari berbagai macam upaya memberikan peluang untuk berpikir independent atau berpikir kritis positif. Dan untuk pemenuhan standart spiritualitas maka ilmu agama menjadi andalannya.

Ketiga, standarisasi sertifikasi menjadi penting. Menurut saya, ada tiga aspek yang perlu dipenuhi ialah kemampuan ilmu agama yang cukup. Standart ini sangat mendasar, sebab untuk menjadi penyuluh, penyiar, pendamping dan sebagainya di dalam masyarakat Islam maka penguasaan teks-teks keislaman harus standart. Jadi perlu didiskusikan seberapa banyak sks yang diperlukan. Kemudian penguasaan keilmuan, metodologi dan teknik bidang yang dikaji. Ada yang akan bergerak dari knowledge menjadi science dan ada yang dari know how menjadi skills. Untuk kepentingan ini juga harus dipertimbangkan berapa sks yang diperlukan. Selanjutnya, penguatan soft skills untuk memenuhi kemampuan komunikasi dan kolaborasi.

Jadi, perubahan kurikulum menjadi mendasar sebab dari sini muara untuk membangun kapasitas mahasiswa itu akan dilakukan, dan kemudian juga merancang praktikum baik praktikum mata kuliah terintegrasi maupun mata kuliah praktikum terpisah yang juga harus dirancang. Kita harus sadar betul bahwa ilmu dakwah dan komunikasi itu merupakan ilmu yang applied science maka membangun praktikum yang andal tentu sangat penting.

Saya kira diperlukan gerakan untuk memetakan secara mendalam apa masalah kita terkait dengan program perkuliahan di FDK ini dan kemudian memecahkan masalahnya satu persatu untuk mencerahkan seluruh civitas akademika FDK. Dan ini merupakan tugas kolaboratif kita semua.

Wallahu a’lam bi al shawab.

MANAJEMEN MASJID

MANAJEMEN MASJID:

Dari Yang Kecil Menuju Yang Besar

 

Hari selasa kemarin, 04/12/2018, saya hadir dalam acara yang diselenggarakan oleh Fakultas Dakwah dan Komunikasi dalam rangka untuk Focused Group Discussion (FGD) tentang Laboratorium Dakwah dan Komunikasi, yang dilakukan secara internal diikuti oleh dosen Fakultas Dakwah dalam berbagai jurusan dan program studi.

Acara ini menghadirkan KH. Jaziri, Takmir Masjid Jogokaryan Jogyakarta, yang selama ini sukses membangun manajemen masjid tidak hanya sukses di dalam negeri tetapi juga di Singapura dan Malaysia. Hadir di dalam acara ini, Prof. Dr. Moh, Ali Azis, MAg., Dr. Abd. Halim, MA dan seluruh pejabat dan dosen pada Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Ampel Surabaya.

Sebuah acara yang menarik sebab menghadirkan orang yang memang tepat berbicara tentang manajemen masjid bukan dari teori-teori yang hebat, akan tetapi dari pengalaman yang dilakukan dalam memenej masjid, mulai dari yang sangat mendasar sampai yang berupa pengembangan dan kerja sama luar negeri. Pak Jaziri membahas manajemen dakwah tersebut dari pengalaman yang sangat elementer sampai yang kompleks dan berdaya guna. Semua menggambarkan tentang mekanisme dan dinamika pengembangan manajemen masjid yang fundamental.

Pertama, disampaikan tentang sejarah masjid di Jogokaryan yang berada di kampung komunis. Sebagaimana diketahui bahwa Desa Jogokaryan itu wilayah komunis yang kuat. Bahkan beberapa tokoh komunis pernah hadir pada acara-acara komunis di desa tersebut. Makanya, untuk menghancurkan komunisme itu, maka Jogokaryan dijadikan sebagai medan oleh tentara untuk melawan PKI. Tokoh-tokoh PKI ditangkap di Jogokaryan. Makanya, kampung ini disebut sebagai Kampung Merah alias Kampung PKI.

Lalu dari beberapa tokoh agama di desa itu berkeinginan untuk mendirikan masjid, yang semula agak masuk ke dalam, akan tetapi berkat upaya gigih dari tokoh agama di situ akhirnya bisa mendapatkan tanah yang lebih strategis karena di pinggir jalan. Sebagai Kampung Merah tentu semula jamaah masjid tersebut sangat sedikit. Itupun terbatas pada tokoh-tokoh agama yang terdapat di desa itu. Tetapi kita beruntung sebab banyak mahasiswa yang mau mengabdikan diri di lembaga-lembaga keagamaan, termasuk masjid. Dulu banyak aktivis mahasiswa IAIN Sunan Kalijaga Jogyakarta yang mau menjadi merbot di masjid. Mereka dapat tempat untuk bertempat tinggal dan bertugas untuk membersihkan masjid dan juga menjadi imam atau penceramah agama.

Beruntunglah masyarakat di sekitar kampus IAIN kala itu sebab mendapatkan aktivis masjid yang memiliki pemahaman dan pengamalan agama yang baik dan juga keinginan untuk mengembangkan ekonomi syariah. Jika di masa lalu para aktivis mahasiswa dapat berperan dalam mengembangkan Islam, maka tentu bisa dinyatakan peran tersebut sangat signifikan bagi masyarakat.

Suatu kesempatan diperlukan takmir masjid di Jogokaryan, maka dibuatlah pemilu yang diikuti oleh semua elemen masyarakat di Jogokaryan yang sudah mukallaf dan melalui pendataan kemudian diketahui jumlahnya dan akhirnya dengan system pemilihan tersebut terpilihlah Pak Jaziri untuk menjadi ketua takmir masjid. Hal ini dilakukan agar otoritas ketua takmir masjid tersebut menjadi lebih besar karena dipilih langsung oleh masyarakat. Dari sinilah sebenarnya pengembangan manajemen masjid tersebut terkonstruksi. Mulai dari hal-hal kecil, misalnya pelaksanaan shalat jamaah sampai penyelenggaraan shalat subuh berjamaah. Semua dibuatkan GBHN, sehingga rencana setiap tahun itu diketahui secara jelas, mana yang berhasil dan mana yang belum berhasil.

Kedua, saya kira hal yang sangat mendasar ialah kreativitas. Melalui pemikiran kreatif, maka muncullah banyak inovasi, misalnya membantu beras untuk jamaah miskin, memberikan makan setiap siang hari Jumat, toilet VIP, kamar singgah yang umum dan VIP dan menjadi destinasi wisata ziarah. Prinsip yang dikembangkan ialah zero infaq bagi masjid. Setiap ada uang segera dibelanjakan untuk kepentingan masjid dan jamaah.

Sekarang sudah dikembangkan diseminasi ke masjid-masjid lain baik dalam kegiatan maupun penganggaran. Ada masjid yang menjadi induk dan ada yang diasuhnya. Semuanya dilakukan untuk satu prinsip memperkuat manajemen masjid. Bahkan juga kemudian banyak yang mempercayakan pengelolaan masjidnya sebagaimana yang dilakukan di Jogokaryan.

Upaya keras Pak Jaziri ialah dengan mengembangkan semakin banyak jejaring dengan berbagai pihak, misalnya dengan MUIS di Singapura dan JAKIM di Malaysia. Dengan MUIS misalnya terkait dengan pengelolaan hewan korban pada hari Raya Idul Adha dan dengan JAKIM terkait dengan pengembangan kapasitas kemasjidan.

Di dalam forum ini saya nyatakan bahwa saya dan Pak Jaziri, sama –sama membaca bukunya Drs. Sidi Gazalba, “Masjid sebagai Pusat Ibadah dan Kebudayaan Islam”, Pak Jaziri bisa mengambil inspirasi dari buku itu untuk mengembangkan manajemen dakwah, sementara saya harus berada di dunia yang lain. Tetapi yang jelas, bahwa apa yang disampaikan oleh Pak jaziri, saya kira perlu untuk ditulis sebagai proses untuk menemukan teori manajemen masjid dan jika diperlukan Pak Jaziri bisa diberikan gelar Doktor Honoris Causa (Dr.Hc) untuk kepentingan kelembagaan, bahwa kita punya ikon atau prototype ahli manajemen dakwah yang kelak tentu dibutuhkan untuk membangun kekuatan prodi manajemen dakwah.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

AGENDA PENELITIAN ISLAMIC STUDIES BIDANG SOSIAL, EKONOMI, PENDIDIKAN DAN HUKUM

Download Full Text

PENELITIAN ANTROPOLOGIS BIDANG PENDIDIKAN DAN HUKUM

MENGEMBANGKAN TATA KELOLA PTKN DI ERA PERUBAHAN

MENGEMBANGKAN TATA KELOLA PTKN DI ERA PERUBAHAN[1]

 

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si[2]

 

Pengantar

Kita tidak bisa terus menerus mengelola lembaga pendidikan tinggi sebagaimana masa lalu. Kita sudah mengalami banyak perubahan, baik dari sisi manajerial, sistem pendidikan, dan tuntutan masa depan yang lebih realistis. Kita sudah memasuki era yang tidak kita sangka-sangka sebelumnya –karena kita berada di ruang yang kedap perubahan—sehingga nyaris kita tidak merasakan bahwa di depan ada tantangan yang luar biasa besar.

Kita sedang berada di era highly information technology. Dan rasanya kita bisa tertinggal di tengah yang lain-lain yang terus menerus mengejarnya. Di era ini, banyak hal yang kemudian dilabel dengan konsep disruptif: “era yang tidak menentu, yang tiba-tiba berubah, yang tidak mudah untuk diikuti”. Sungguh di era inilah kita harus mengembangkan perguruan tinggi yang tantangannya tentu sangat mendasar dan sangat variatif.

Perguruan tinggi memang memanggul tugas untuk mengembangkan sumber daya manusia (SDM) terbaik di masa depan. Makanya, diperlukan kesiapan yang ekstra keras untuk menggapai tujuan pendidikan, yaitu menghasilkan manusia Indonesia yang cerdas, kompetitif dan berbudi luhur.

 

Era Disruptif

Perubahan sosial sebenarnya berjalan sangat cepat. Jika di masa lalu, perubahan sosial itu bercorak evolusioner –perlahan-lahan tetapi pasti—akan tetapi sekarang justru sebaliknya, perubahan itu terjadi secara revolusioner –sangat cepat dan nyaris tidak terkendali—sehingga jika kita tidak siap maka bersiap-siaplah untuk ditinggalkan oleh perubahan tersebut.

Salah satu yang berkembang sangat cepat ialah teknologi informasi. Kita rasanya baru saja menikmati telepon konvensional –dari rumah ke rumah—lalu berubah menjadi telepon genggam atau hand phone, yang memberikan kemudian dalam berkomunikasi, dan pada masa awal hanya memiliki dua aplikasi saja yaitu untuk berbicara dan mengirim short massage, tanpa aplikasi lainnya.

Saya masih ingat pada tahun 2000an masih ada desa-desa yang tidak terjangkau dengan listrik dari Telkom, tetapi dua tahun kemudian sudah muncul telepon genggam, dan bisa digunakan untuk melakukan kontak personal dan mengirimkan berita melalui short messenger dan beberapa tahun kemudian muncul aplikasi-aplikasi baru misalnya untuk main game, untuk mengirim gambar dan sebagainya.

Dan beberapa tahun kemudian, dengan ditemukannya system android, maka muncullah berbagai hal yang revolusioner tentang kegunaan telepon genggam itu. Sekarang kita bisa mengenal ada sedemikian banyak aplikasi yang ditawarkan oleh smart phone, termasuk untuk digital money, elektronik perdagangan atau e-commerce, transfer uang dan bahkan untuk membangun persahabatan dan juga permusuhan.

Teknologi informasi juga berkembang dengan cepat, misalnya di tahun 90-an hanya terdapat telegram, fotocopi dan faximile, lalu berembang ke email yang bisa menjadi percepatan untuk mengirimkan surat atau berita atau lainnya terutama dalam menggantikan informasi atau surat yang dikirim secara konvensional. Jadi, terdapat perubahan yang sangat cepat pada tahun 2000-an dan sekarang berkembang lebih dahsyat lagi dengan adanya berbagai system aplikasi yang sangat cepat berkembang. Misalnya WA, Skype, Instagram, twitter dan sebagainya. Dengan perkembangan ini , maka sudah tidak ada lagi jarak antara satu wilayah dengan wilayah lainnya, karena dunia sudah tersambungkan dengan sedemikian rupa. Sungguh kita berada di dalam dunia yang tanpa jarak. No distance disebabkan hadirnya dunia maya dewasa ini.

Jika dunia dengan perubahannya itu sedemikian cepat, lalu apa yang akan terjadi jika para pengelola pendidikan tinggi tidak melakukan banyak perubahan untuk mengejar dan atau bersama-sama dengan perubahan tersebut dalam mengelola institusi pendidikannya. Di sinilah sesungguhnya kita semua ditantang untuk terus berkarya dan berubah dalam rangka untuk memperoleh produk pendidikan yang berdaya guna di masa depan.

 

Tantangan Pendidikan Tinggi

Saya mencoba untuk memetakan problem mendasar, terutama lembaga Pendidikan Tinggi Kristen. Pendidikan Tinggi Kristen memang tergolong masih muda usianya dibandingkan dengan lembaga Pendidikan Tinggi Islam. Itulah sebabnya masih banyak tantangan dan kendala yang dihadapinya sebagai bagian dari problem umum di lembaga pendidikan tinggi.

Pertama, tantangan manajemen berbasis kepuasan pelanggan. Sebagai lembaga pendidikan tinggi, rasanya kita masih mengelola apa adanya. Tata kelola yang kita kembangkan masih menggunakan cara lama, yaitu manajemen tahun 80-an, yaitu planning, organizing, actuating and controlling. Jadi pokok pangkal dari menejemen itu membuat perencanaan, mengorganisasikan bagian-bagian yang akan mengerjakannya, melakukan pekerjaan sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya dan kemudian melakukan pengawasan.

Di dalam perencanaan juga tidak menggunakan basis kebutuhan, analisis situasi sosial dan pemilihan alternatif-alternatif dan memutuskan alternatif mana yang sangat urgen, akan tetapi “copy paste’ terhadap program dan kegiatan sebelumnya dan dijadikan sebagai pedoman menyusun anggaran. Jadi banyak pikiran-pikiran kreatif dan visioner yang tidak tertampung di dalam perencanaan.

Lalu, pengorganisasian sesungguhnya juga tidak diperlukan sebab secara organisatoris sudah didapatkan fungsi dan perannya masing-masing. Setiap lembaga pemerintah sudah memanggul tugas yang jelas sesuai dengan ketentuan regulasi yang mengaturnya. Jadi begitu ada perencanaan yang implementable semestinya semua bergerak untuk melaksanakannya.

Evaluasi sesungguhnya juga pekerjaan yang compatible pada unit masing-masing dengan bidang tugas atau tupoksinya. Tidak lagi diperlukan monitoring dan evaluasi secara khusus sebab pengawasan itu melekat pada tupoksinya. Hanya saja memang diperlukan evaluasi secara structural dari bawahan kepada atasannya, dalam kerangka melakukan pengecekan secara berkala tetapi sistematis.

Kedua, SDM yang dirasakan masih kurang dan jika terdapat SDM dirasakan belum memenuhi standart dan kualifikasi yang seharusnya dimilikinya. Harus diakui bahwa SDM kita sangat kurang. Jumlah pendidik dan tenaga kependidikan kita masih pincang. Belum didapatkan keterlengkapan SDM sesuai dengan standart dan kualifikasi yang memadai. Akibatnya, banyak dosen yang harus mengajar tidak sesuai dengan keahliannya dan hanya memenuhi ketercukupan beban kerja yang dibebankan kepadanya. Problem ini tentu bertali temali dengan masih rendahnya kualitas pendidikan yang diinginkan oleh semua pihak, yaitu pendidikan berkualitas sesuai dengan harapan nusa dan bangsa.

Ketiga, problem infrastuktur akademis. Harus dinyatakan bahwa anggaran pendidikan kita memang sangat terbatas. Rasanya belum cukup untuk membanun infrastuktur akademis. Misalnya laboratorium, pusat-pusat keunggulan, jurnal terindeks internasional, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat dan sebagainya. Ada banyak riset tetapi tidak bisa tertampung di dalam jurnal nasional terakreditasi atau bahkan jurnal internasional. Bisa dihitung dengan jari, jurnal di PTKN yang terakreditasi di SINTA Kemenristekdikti. Meskipun standart IV atau V. Ada berapa banyak pusat keunggulan yang kita miliki sebagai jawaban atas tantangan masa depan bangsa dan negara ini. Belum lagi tantangan akreditasi yang ke depan mestilah menjadi tolok ukur kualitas pendidikan. Kita harus memenuhi Sembilan standart kualifikasi pendidikan tinggi, sesuai dengan regulasi baru dari BAN PT.

Keempat, tantangan era digital yang sudah di pelupuk mata kita, dan bahkan sudah berada di tengah-tengah kehidupan kita. Sekarang sudah bukan lagi saatnya untuk menyatakan: “kami di daerah, dan itu hanya terjadi di pusat saja” atau pernyataan: “itu urusan orang kota besar, kita kan di daerah saja”. Penggunaan media sosial sudah menjadi bagian tidak terpisahkan di dalam kehidupan kita. Sekarang berdasarkan data (2017), bahwa pengguna telepon genggam itu di perkotaan 55 persen dan pedesaan 45 persen. Artinya, sudah tidak ada lagi perbedaan perkotaan dan perdesaan dalam penggunaan media teknologi informasi.

Tantangan ini sedemikian serius. Sebab di era sekarang ini kita sedang berhadapan dengan artificial intelligent (AI) yang sungguh dahsyat pengaruhnya bagi dunia pendidikan terutama dalam penyiapan tenaga terdidik untuk dunia pekerjaan. Dan kita tidak bisa melawan terhadapnya, dan kita hanya bisa menyiapkan diri sambil mengembangkan pendidikan dengan basis pengetahuan, ilmu dan keterampilan yang baik. Terutama yang sangat merasa terpukul ialah tentang penyiapan tenaga kerja di masa yang akan datang.

Dunia pendidikan tinggi akan merasakan tekanan AI ini dengan harap-harap cemas. Sebab AI itu luar biasa dilihat dari kekuatan, kecepatan dan keakuratannya. Manusia dengan kemampuan apapun tidak akan mampu melawannya. Manusia tidak bisa bekerja 24 jam apalagi lebih, akan tetapi robot akan bisa bekerja sesuai dengan saat kapan dia akan berhenti bekerja. Makanya, kita harus menyiapkan mitra didik kita secara baik agar ke depan dapat melakukan kompetisi di tengah era disruptif dan AI ini.

 

Beberapa Catatan Alternative.

Dari tantangan di atas kiranya ada beberapa catatan yang perlu diperhatikan, yaitu:

Pertama, mengembangkan manajemen kinerja yang berbasis pada kepuasan pelanggan. Para stakeholder kita harus memberikan apresiasi atas program dan pelayanan program pendidikan yang kita berikan. Dengan demikian, cara kita memanej harus diubah menjadi lebih baik. Kita tinggalkan POAC diganti dengan PDCA atau plan, do check, action. Begitu perencanaan berbasis kebutuhan bisa dihasilkan, maka segera laksanakan sesuai dengan tupoksi masing-masing, lakukan pengawasan internal atau pengawasan melekat dan setelah itu dibenahi mana yang belum berhasil atau tidak sesuai dengan tujuan. Total quality Management (TQM) menjadi ciri khas di dalam manajemen kinerja ini.

 

Managemen pemerintah di era sekarang sudah menerapkan manajemen kinerja, itu artinya kita harus menyelenggarakan tata kelola pendidikan tinggi dengan menerapkannya secara memadai.

Kedua, kita sadar keterbatasan pemerintah di dalam menyediakan SDM yang andal sebagai akibat keterbatasan anggaran. Tetapi juga menjadi perhatian juga bahwa di saat pemerintah membuat regulasi standarisasi kelulusan CPNS ternyata hanya terisi 4 persen dari seluruh kebutuhan. Itu artinya ada kesenjangan antara apa yang diminta dengan ketersediaan SDM yang kuat. Oleh karena itu dunia pendidikan tinggi juga harus menyiapkan SDM yang bagus dalam hal Test Inteligensi Umum (TIU), Test Wawasan Kebangsaan (TWK) dan juga Test Kemampuan Pribadi (TKP). Di dalam konteks ini, maka kita tentu bisa menyiapkan tenaga-tenaga yang baik ke depan agar siap untuk berkompetisi.

Ketiga, menyiapkan program pendidikan lanjut, menyiapkan jurnal berkualitas, menyiapkan program pembelajaran yang memadai, perbaikan kualitas akreditasi dan sebagainya menjadi tanggungjawab semua civitas akademika. Peran kepemimpinan menjadi penting, tetapi keterlibatan semuanya juga sangat dibutuhkan.

Keempat, harus ada keberanian untuk melakukan review curriculum di era sekarang ini di dalam menghadapi era teknologi informasi. Boleh saja, hard skillednya ahli di bidang agama, tetapi pengetahuan dan keterampilan di bidang teknologi informasi tidak boleh rendah. Siapkan semua elemen untuk mendukung hal ini karena tantangan ke depan luar biasa beratnya.

Kita tidak boleh pessimis sebab Tuhan menganugerahkan kemampuan manusia lebih dari sekedar benda atau lainnya. Manusia memiliki kecerdasan yang luar biasa dan tinggal bagaimana kita mengembangkannya untuk kepentingan yang lebih unggul di masa depan. Kiranya diperlukan “literasi media” atau “literasi digital” untuk menjawab tantangan yang hebat ini. Dan saya yakin kita semua bisa.

Wallahu a’lam bi al shawab.

[1] Makalah disampaikan di dalam Seminar Nasional yang diselenggarakan oleh Sekolah Tinggi Agama Kristen Negeri (STAKN) Kupang, tanggal 22 Nopember 2018.

[2] Guru Besar Sosiologi pada UIN Sunan Ampel Surabaya. Menyelesaikan S1 pada Fakultas Dakwah IAIN Sunan Ampel, menyelesaikan program master dan doctor di Universitas Airlangga Surabaya. Pernah menjadi Rektor IAIN Sunan Ampel, Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kemenag 2012-2014, Sekretaris Jenderal Kemenag 2014-2018.