MERENDAHKAN DIRI DI HADAPAN KAUM MUKMIN (71)
MERENDAHKAN DIRI DI HADAPAN KAUM MUKMIN (71)
Prof. Dr. Nur Syam, MSi
Bismillahir Rahmanir Rahim.
Di dunia ini penuh dengan kisah-kisah orang yang sombong, orang yang merasa dirinya paling hebat dan beranggapan bahwa dirinya merasa tidak ada tandingannya. Bahkan ada di antaranya yang menganggap dirinya menjadi Tuhan. Kekuasaan duniawi yang diraihnya mengarahkan pikiran dan hatinya bahwa dirinya adalah yang paling berkuasa. Ada Fir’aun dari Mesir, ada Nebukadnezar dari Babilonia baru, ada Namrud dari Babilonia Kuno, dan lainnya. Lalu ada orang yang merasa paling kaya, Qarun, yang hartanya kemudian ditelan bumi.
Ada yang tidak mencapai derajat merasa sebagai Tuhan, akan tetapi kesombongannya luar biasa, misalnya Abu Jahal dan Abu Lahab yang menjadi representasi manusia sombong pada zaman Nabi Muhammad SAW. Di kala diajak untuk masuk Islam, maka mereka menentang Nabi Muhammad SAW dan bahkan akan mencelakakannya. Tipologi manusia dengan perilaku kejahatan yang luar biasa. Tidak hanya mengingkari kebenaran, akan tetapi juga ingin melenyapkannya.
Raja Fir’aun, Raja Namrud dan Nebukadnezar adalah contoh penguasa di zaman kerajaan kuno yang karena kekuasaannya, maka merasa bukan hanya raja tetapi Tuhan. Mereka adalah orang-orang kuno yang merepresentasikan tentang keyakinan tentang kekuatan dan kekuasaan dirinya, sehingga berkeyakinan bahwa dirinya adalah Tuhan. Mereka membuat patung dirinya besar-besar untuk disembah oleh rakyatnya. Jika menentang, maka akan dilenyapkan.
Begitulah di dunia ini, banyak orang yang merasakan dirinya paling segalanya. Padahal sesungguhnya jika yang bersangkutan sedikit saja menggunakan pikiran dan kesadaran dirinya akan betapa kecilnya manusia itu dibandingkan dengan alam dan segala atribusinya di dunia ini. Seandainya kita berada di bibir jurang yang dalam dan memandang ke bawah, betapa kita merasa kecil. Karena di kala kaki kita terpeleset, maka dipastikan akan hancur tubuh kita. Jika kita menyeberang di atas jembatan kaca di Grand Canyon di Amerika, dan kita memandang ke bawah, maka hati kita akan ciut sebab betapa dalamnya dan betapa kecilnya diri kita itu. Itulah sebabnya manusia harus merasa bukan siapa-siapa di bawah kekuasaan Allah yang Maha Perkasa, sehingga harus merasa rendah diri atas kekuasaan-Nya. Dan juga rendah diri di hadapan orang mukmin.
Syekh Imam An Nawawi, menukil banyak ayat Alqur’an dan Hadits Nabi Muhammad SAW tentang manusia harus merendahkan diri (tawadlu’) di hadapan orang mukmin. Sebuah petuah tentang bagaimana manusia jangan merasa paling segalanya. Harus rendah diri di hadapan manusia lainnya yang mukmin.
Di dalam Surat Al Hijr: 88, Allah SWT berfirman: “…dan berendah dirilah kamu terhadap orang-orang yag beriman”. Di dalam Surat Lain, Al Maidah: 54, bahwa Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, barang siapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir”.
Hadits Nabi Muhammad SAW sebagaimana diceritakan oleh Iyadh bin Himar, RA., bahwa Rasulullah SAW bersabda: “sesungguhnya Allah telah memberikan wahyu kepadaku, hendaklah kalian bersikap tawadhu’ (merendahkan diri) sehingga tidak ada seseorang yang membanggakan dirinya atas orang lain dan tidak ada seseorang yang menganiaya orang lain”. Hadits riwayat Imam Muslim.
Rasulullah juga bersabda sebagaimana diceritakan oleh Abu Hurairah, RA., bahwa Rasulullah SAW bersabda: “tidak berkurang harta karena sedekah dan pasti Allah akan menambah kemuliaan seorang hamba yang suka memaafkan. Dan tidaklah seseorang itu bersikap tawadhu’ karena Allah, melainkan Allah mengangkat derajad orang itu”. Hadits Riwayat Imam Muslim. Di dalam hadits lain, sebagaimana diceritakan oleh Al Aswad RA., dia berkata: “saya bertanya kepada Aisyah RA., tentang kebiasaan yang dilakukan Nabi SAW ketika di rumahnya, lalu Aisyah menjawab: “Beliau senantiasa melayani keluarganya, yaitu membantu pekerjaan keluarganya. Kemudia apabila datang waktu shalat, Beliau keluar untuk mengerjakan shalat”. Hadits Riwayat Imam Bukhari.
Dari penjabaran tentang merendahkan diri di hadapan kaum mukmin, maka dapat digambarkan tiga hal, yaitu:
Pertama, Rasulullah, SAW., mengajarkan agar manusia tidak menyombongkan diri di hadapan manusia yang beriman kepada Allah. Apalagi sombong di hadapan Allah. Jangan pernah merasa bahwa dirinya dapat berpengaruh atas orang lainnya. Orang yang memiliki sikap seperti ini, maka akan menyatakan orang lain sebagai rendah dan kecil. Hanya dirinya yang hebat dan besar. Tipe representatif atas orang seperti ini, adalah Donald Trump, Presiden Amerika, yang merasa dirinya sebagai penentu policy dunia. Dia merasa bahwa dunia berada di tangannya, sehingga bisa melakukan tindakan-tindakan di luar nalar manusia yang waras. Bersama Netanyahu, PM Israel, melakukan pengeboman atas institusi pendidikan yang di dalamnya terdapat anak-anak perempuan yang sedang belajar, sehingga semuanya wafat karena tindakan mereka ini. Kesombongan seperti ini yang dilarang oleh Islam. Apapun agamanya, manusia harus saling menghormati dan menyayangi sehingga akan tercipta perdamaian dunia.
Kedua, Islam menganjurkan agar manusia saling bertawadlu’ atau saling merendahkan diri. Bukan minder atau perasaan rendah diri, akan tetapi merasa perlu untuk merendahkan sifat dan perilakunya di hadapan umat Islam lainnya. Setiap orang memiliki kekurangan dan kelebihan. Tidak ada manusia yang memiliki kelebihan saja tanpa kekurangan. Kecuali para Nabi yang hidupnya dipandu oleh wahyu, maka selain itu dipastikan terdapat kelebihan dan kekurangan. Soekarno, Presiden Pertama RI, adalah manusia hebat, akan tetapi membutuhkan Moh. Hatta, sebagai Wakil Presiden. Soekarno mampu menjadi public orator yang hebat, akan tetapi membutuhkan Moh. Hatta, sebagai policy maker.
Oleh karena itu, manusia harus saling menerima kelebihan dan kekurangannya agar kehidupan yang seimbang akan dapat dilakukan. Jika orang hanya melihat kemampuan dia sendiri yang hebat dan yang lain tidak, maka akibatnya akan terjadi ketidakseimbangan. Dia akan dikucilkan oleh khalayak karena ketidakmampuannya untuk mengenal dirinya. Jadi kiranya yang diperlukan adalah mengenal siapa dirinya di dalam kehidupan, sehingga akan menempatkan dirinya dalam dinamika masyarakat yang bervariasi kapasitas dan kemampuannya.
Ketiga, jika Allah dan Rasulnya menganjurkan kita untuk merendahkan diri di hadapan orang beriman, dipastikan ada hakikat mendasar di dalam pesan ini. Dan di antara pesan pentingnya adalah janganlah manusia merasa hebat sendiri dan tidak ada orang lain yang melampauinya. Di atas langit ada langit, artinya ketika seseorang diberikan kelebihan oleh Allah, maka sesungguhnya ada orang lain yang diberikan kelebihan dibandingkan dengan dirinya. Jika seseorang bisa memahami hal ini, maka tidak ada manusia yang akan berani menyatakan bahwa dirinya yang paling hebat.
Wallahu a’lam bi al shawab.
