• June 2026
    M T W T F S S
    « May    
    1234567
    891011121314
    15161718192021
    22232425262728
    2930  

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

MENAHAN DIRI DARI YANG MENYAKITKAN (76)

MENAHAN DIRI DARI YANG MENYAKITKAN (76)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Bismillahir Rahmanir Rahim.

Salah satu kesulitan yang dihadapi oleh seseorang adalah bagaimana menahan untuk terus berbuat baik sebab  yang dilakukan itu tidak mendapatkan respon yang memadai dari orang yang telah dilakukan kebaikan. Alih-alih memberikan respon positif, bahkan yang terasa janggal adalah menduga perbuatan itu dilakukan sebab ada motif-motif tersembunyi di dalamnya.

Memang di dalam kehidupan sosial itu selalu ada intensi atau maksud yang diinginkan oleh orang yang melakukan tindakan tersebut. Manusia dipastikan memiliki keinginan tertentu di dalam kehidupannya, terutama tindakan yang ditujukan kepada orang lain. Tetapi tidak semua intensi itu jelek, bahkan ada tujuan yang baik. Misalnya memberi pertolongan tanpa pamrih apapun. Sebuah pemberian yang dilakukan dengan ikhlas, tanpa ada keinginan yang dapat merusak niat baik dimaksud.

Sesungguhnya manusia itu memiliki kebutuhan akan mengakuan. Yaitu pengakuan yang diberikan oleh seseorang yang baginya pernah melakukan kebaikan. Apapun dan seberapapun kebaikan tersebut. Makanya di kala seseorang telah melakukan kebaikan kemudian nyaris tidak diakuinya, bahkan dituduh sebagai upaya untuk tujuan tertentu, maka akan menyakitkannya.

Memang juga tidak dapat diabaikan bahwa seseorang melakukan kebaikan itu karena ada tujuan tertentu. Di dalam peribahasa disebut “ada udang dibalik batu”. Ada maksud dan tujuan tertentu tersembunyi yang diinginkannya. Jadinya, pantas juga kalau orang yang diberi kebaikan itu lalu menimbang apa yang menjadi penyebab kebaikannya. Ada motif untuk memperoleh keuntungan dari tindakan tersebut yang bermakna duniawi.

Bahkan ada yang berpikir, di kala ada orang yang tiba-tiba berbuat baik, justru diupayakan kewaspadaan. Jangan-jangan ada maunya. Begitulah manusia dengan keanekaragaman keinginan, kebutuhan dan tujuan hidup yang memang terkadang sedemikian misterius, sebab memang manusia dengan kehidupannya, hati dan pikirannya, tidak dapat dipahami sedemikian gampang. Jadi memang diperlukan kehati-hatian.

Ayat Alqur’an yang dikutip oleh Syekh Imam An Nawawi adalah Surat Ali Imran: 134, yang menyatakan: “… dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang, Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan”. Di dalam Surat Asy Syuara’: 43 dinyatakan: “Namun orang yang bersabar dan memaafkan, sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan”.

Juga terdapat beberaoa hadits, sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Hurairah bahwa seseorang mengadu kepada Rasulullah SAW: ‘sesungguhnya saya mempunyai kerabat. Saya selalu menyambung hubungan dengan mereka, tetapi mereka memutuskannya. Saya selalu berbuat baik kepada mereka tetapi mereka membalasnya dengan berbuat jahat. Saya selalu menyantuni mereka tetapi mereka tidak tahu diri’. Kemudian Beliau bersabda: “seandainya kamu seperti yang kamu katakan, maka seolah-olah kamu menaburkan  abu panas kepada mereka dan kamu akan selalu mendapat pertolongan Allah ta’ala  karena perbuatan mereka, selama kamu masih tetap mengerjakan hal yang demikian”. Hadits diriwayatkan oleh Imam Muslim.

Dari beberapa ayat Alqur’an dan hadits yang dinukil oleh Syekh Imam An Nawawi, kiranya dapat dijelaskan di dalam tiga hal, yaitu:

Pertama, Islam mengajarkan agar kita melakukan kebaikan bukan untuk tujuan duniawi semata, akan tetapi justru untuk kepentingan ukhrawi. Kepentingan ukhrawi itu jauh lebih penting. Kepentingan akhirat itu lebih baik dan abadi. Dunia itu hanya tempat singgah sementara, rata-rata manusia hidup di dunia itu kira-kira 80 tahun. Memang ada yang melebihi 100 tahun, akan tetapi jumlahnya sangatlah sedikit. Padahal kehidupan akherat itu selama-lamanya. Ada yang menyatakan kekal tetapi tidak sebagaimana kekekalan Allah SWT yang tidak terhingga. Oleh karena itu jika kita berbuat baik, maka agar diupayakan bahwa kebaikan tersebut bukan untuk dibayar dengan sanjungan atau pujian di dunia oleh manusia lainnya. Janganlah bangga disanjung orang dengan kebaikan yang bisa kita lakukan.

Kedua, sanjungan kepada kebaikan kita itu akan menjadikan kita merasa tersanjung dan lama-kelamaan akan menyebabkan adanya kesombongan yang tersembunyi. Lama kelamaan juga akan menjadi “penyakit hati”. Ada riya jahr dan ada riya sirr atau kesombongan ekspresif dan kesombongan tersembunyi. Inilah yang mesti kita sadari. Kita Harus hati-hati agar kebaikan tersebut akan memiliki makna spiritual atau makna ketuhanan.

Di dunia ini tentu ada orang yang “gila” hormat, “gila” pujian, “gila” pengakuan. Serba aku. Semua yang berhasil diakui sebagai produknya. Padahal sesungguhnya tidak ada keberhasilan atau kesuksesan yang datang dari orang perorang. Yang ada adalah keberhasilan karena kebersamaan. Succeding together. Jadi ada working together dan kemudian succeding together. Filsafat togetherness.  Para waliyullah adalah orang yang menyembunyikan diri. Kewaliannya tidak ditampakkan. Makanya, la ya’riful waliy illal waliy.  Tidak mengetahu siapa yang wali kecuali para wali. Jika kita berada di ruang begini, terkadang merasakan ketakutan, jangan-jangan kita termasuk orang yang suka menampakkan kebaikan dan keberhasilan

Ketiga, Allah sangat menyukai orang yang dapat menahan amarah dan suka berbuat kebaikan. Oleh karena itu, janganlah kita menjadi orang yang sedikit-sedikit marah. Jika ada orang yang bekerja dengan standar kurang lalu marah. Mari kita pahami, bahwa tidak semua orang dapat bekerja seperti kita. Ada yang cepat dan ada yang lambat. Tidak semua orang secerdas kita, tidak semua orang sehebat kita. Maka marilah kita pahami bahwa tugas kemanusiaan kita adalah memahami agar kita tidak salah di dalam menilai orang lain. Jika kita bisa memahami orang lain, maka akan meluncur sikap dan perilaku untuk memaafkan yang kurang dan memuji yang berhasil dengan catatan tidak berlebihan agar tidak menimbulkan kesombongan baru.

Wallahu a’lam bi al shawab.

Categories: Opini
Comment form currently closed..