MEMBERI NASEHAT DAN MELAKUKANNYA SECARA SIMPEL
MEMBERI NASEHAT DAN MELAKUKANNYA SECARA SIMPEL
Prof. Dr. Nur Syam, MSI
Bismillahir Rahmanir Rahim.
Memberi nasehat merupakan keharusan bagi sesama umat manusia. Nasehat tersebut bisa terkait dengan masalah kehidupan secara umum ataukah nasehat yang terkait dengan keagamaan. Manusia memiliki kecenderungan untuk memberi dan menerima nasehat. Jika ada manusia yang tidak mau menerima nasehat, maka sesungguhnya hatinya telah bebal karena menganggap bahwa dirinya yang paling benar dan yang paling baik. Perasaan seperti ini yang bisa mengarahkan seseorang untuk tergelincir di dalam jurang kehidupan yang bermasalah dan tidak kunjung selesai.
Sesungguhnya hati manusia memiliki kecenderungan untuk melakukan kebaikan. Di dalam kedalaman hati seseorang terdapat dorongan untuk melakukan kebaikan. Jiwa kebaikan sebenarnya ada pada semua manusia. Akan tetapi jiwa kebaikan tersebut terkadang tertutupi oleh faktor eksternal yang tidak mampu dikendalikan. Makanya, faktor eksternal tersebut harus dimenej sehingga seseorang bisa menyeimbangkan antara tekanan eksternal dan dorongan internal yang berkaitan dengan jiwa kebaikan.
Ada sebuah contoh yang datang dari Nabiyullah Ibrahim AS. Sebagai seorang Nabi, maka Nabi Ibrahim pun mendapatkan ujian di dalam kehidupannya. Menurut riwayat bahwa Nabi Ibrahim AS tidak memiliki putra sampai kemudian menikahi putri dari Mesir, Hajar, yang kemudian ditempatkan di dekat Makkah. Menginjak remaja, Ismail putranya diminta oleh Allah untuk dikorbankan. Ujian kepatuhan yang sangat berat, akan tetapi jiwa Nabi Ibrahim membenarkan perintah tersebut. Jiwa kenabiannya sungguh luar biasa, akan tetapi datanglah setan sebagai penggoda, godaan eksternal ini dapat dilampauinya, sehingga ujian tersebut dapat ditunaikan. Allah memberikan reward atas kepatuhan tersebut dengan mengganti Ismail yang dikorbankan dengan seekor domba dari Surga. Jadi Nabi Ibrahim berhasil. Jiwa kebaikan dapat mengalahkan tekanan eksternal, godaan setan.
Adakah nasehat di dalam peristiwa ini? Kita meyakini pasti ada nasehat. Nasehat itu datang dari putranya, Ismail, dan ibundanya, Hajar. Keduanya memberikan support yang hebat mendukung agar Nabi Ibrahim melaksanakan upacara keagamaan dimaksud. Andaikan keluarganya menolak, maka dunia keyakinan kita akan sedikit terusik. Nabi Ibrahim AS mengorbankan putranya tanpa persetujuan anak dan istrinya. Oleh karena itu, nasehat sungguh diperlukan oleh manusia, kapan dan di manapun.
Syekh Imam An Nawawi di dalam Kitab Riyadus Shalihin menukil ayat Alquran dan hadits Nabi SAW tentang memberikan nasehat dan pentingnya nasehat dimaksud. Allah SWT di dalam Surat An Nahl: 125 menyatakan: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan mau’idhoh yang baik”.
Hadits Nabi sebagaimana diceritakan oleh Abu Wa’il Syaqiq bin Salamah RA., berkata: “dahulu ibnu Mas’ud RA., biasa menasehati kami setiap hari kamis. Lalu seorang laki-laki berkata kepadanya: “wahai Abu Abdurrahman. Sungguh aku sangat menginginkan engkau menasehati kami setiap hari”. Dia pun berkata: “sesungguhnya yang mencegahku untuk melakukan hal itu adalah karena aku tidak ingin membuat kalian bosan, sehingga aku memilih untuk menyampaikan nasehat kepada kalian secara berkala, sebagaimana Nabi SAW dahulu menyampaikan kepada kami dengan cara demikian karena khawatir kami merasa bosan”. Hadits Mutafaq alaih.
Dari ayat Alqur’an dan Hadits Nabi Muhammad SAW serta penjelasan rasional sosiologis dimaksud, maka dapat dijelaskan atas tiga hal, yaitu:
Pertama, tidak ada manusia yang benar 100 persen dan salah 100 persen. Dipastikan ada sisi kebaikan dan kejelekan meskipun sedikit. Hanya nabi dan rasul yang memiliki wahyu dari Allah saja yang bisa benar 100 persen. Meskipun demikian juga masih terdapat Nabi yang melakukan kekhilafan, misalnya Nabi Yunus, yang meninggalkan umatnya. Akhirnya mendapatkan pelajaran ditelan ikan yang besar, di laut, tetapi mendapatkan pertolongan Allah SWT. Cerita tentang malaikat adalah cerita tentang kepatuhan mutlak kepada Allah. Akan tetapi di kala ada sedikit perasaan kehebatan atas makhluk Tuhan lainnya, manusia, maka Malaikat Harut dan Marut diturunkan ke bumi dan diberikan sifat kemanusiaan. Akhirnya keduanya melakukan kesalahan sebagaimana manusia pada umumnya, dan hingga akhir zaman menjalani hukuman atas kesalahannya.
Kedua, sesungguhnya Allah itu Maha Rahman dan Rahim. Oleh karena itu, Allah memberikan piranti untuk melakukan pertobatan. Manusia diberinya kesempatan untuk bertaubat atas segala kekeliruannya. Untuk bertobat terkadang memerlukan nasehat orang lain. Bisa juga taubat itu datang dari kesadarannya sendiri, akan tetapi bisa juga nasehat menjadi instrumennya. Di antaranya adalah nasehat melalui ahli agama dalam ceramah lesan atau tulisan. Bisa juga nasehat itu datang dari membaca artikel, bahkan dari membaca pesan di media sosial atau mendengar unggahan di media sosial. Ada banyak piranti yang dapat dijadikan sebagai wahana untuk melakukan pertaubatan. Itulah sebabnya sangat penting untuk mendengarkan nasehat, membaca nasehat dan juga merenungkan atas kelemahan manusia dibandingkan dengan kekuasaan Allah yang Maha Kuasa.
Ketiga, Islam sangat menekankan kepada kepenasehatan. Bahkan Rasulullah SAW bersabda yang intinya bahwa agama adalah nasehat untuk Allah, untuk rasulnya dan untuk umat manusia. Bukan dimaknai Allah membutuhkan nasehat akan tetapi agama itu isinya adalah nasehat tentang kebaikan dari Allah, kebaikan dari Rasul yang semuanya diperlukan untuk umat manusia. Kata lillahi artinya adalah nasehat agamawi sebagaimana diajarkan oleh Allah. Kata lirasulihi artinya nasehat yang sesuai dengan ajaran rasul, dan li aimmatil muslimin artinya bahwa nasehat yang sesuai dengan ajaran Allah dan rasulnya itu untuk seluruh umat Islam.
Alangkah indahnya makna sabda Nabi Muhammad SAW ini. Nasehat sesungguhnya adalah cara untuk saling mengingatkan. Watawa shaubil haq, watawa shaubis shabri. Saling tolong menolong hakikatnya bukan hanya menolong dengan harta dan kekayaan, akan tetapi menolong di dalam kebaikan untuk selalu berada di jalan Allah SWT.
Wallahu a’lam bi al shawab.
