MELAKSANAKAN PERJANJIAN DAN MENEPATI JANJI (86)
MELAKSANAKAN PERJANJIAN DAN MENEPATI JANJI (86)
Prof. Dr. Nur Syam, MSi
Bismillahir Rahmanir Rahim
Janji harus ditepati. Itulah jargon yang sering kita dengar di dalam kehidupan. Janji adalah pernyataan dalam bentuk perkataan yang diucapkan oleh seseorang yang akan melakukan sesuatu untuk orang lain, atau untuk Tuhan dan juga untuk alam semesta. Jadi terdapat dimensi Alam, Tuhan dan Manusia (ATM) di dalam janji dimaksud. Janji terhadap alam, misalnya akan memperlakukan alam dengan sebaik-baiknya. Janji terhadap Tuhan misalnya dalam ucapan akan memperlakukan kehidupannya berdasarkan atas perintah Tuhan, atau janji kepada manusia dengan ucapan akan berbuat kebaikan demi kemanusiaan.
Janji kepada Tuhan adalah janji tertinggi. Di dalam teks Alqur’an dinyatakan bahwa manusia di saat berada di alam roh, maka pernah berjanji untuk mengesakan Allah. Alastu birabbikum? Qalu bala syahidna”. Allah berfirman: “Apakah Aku ini Tuhanmu?. Mereka menjawab: “Iya Engkau Tuhan kami”.
Berdasarkan teks Alqur’an bahwa manusia sesungguhnya di masa berada di dalam alam roh atau manusia masih berupa roh, maka berjanji akan mengesakan Tuhan, namun ketika manusia sudah lahir ke dunia, maka ada yang beriman dan ada yang mengingkarinya. Ada yang mu’min dan ada yang kafir. Meskipun sudah diturunkan Nabi dan Rasul untuk membimbingnya, akan tetapi tetap saja ada yang beriman dan ada yang ingkar tentang keesaan Allah SWT.
Secara sosiologis, bahwa manusia memang memiliki kecenderungan untuk berpikir bebas. Dengan kemampuan akalnya, manusia bisa mempertanyakan tentang Tuhan. Manusia bisa bertanya apakah memang Tuhan itu ada. Tetapi dengan memikirkan tentang keteraturan alam yang luar biasa, ada juga yang berkeyakinan bahwa alam yang teratur itu bukan terjadi dengan dirinya sendiri, akan tetapi ada Kreator Agung, yang Maha Kuasa, Maha Sempurna, dan itulah yang disebut sebagai Tuhan. Islam menyebut sebagai Allah.
Alqur’an di dalam Surat An Nahl: 91, bahwa Allah berfirman: “dan tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kamu berjanji…”. Di dalam Surat lain Al Maidah: 1, difirmankan, yang artinya: “Hai orang beriman, penuhilah akad-akad itu…”. Dan di dalam Surat As Shaf: 2-3 difirmankan: “wahai orang-orang yang beriman, kenapakah engkau mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Sangat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan yang tidak kamu kerjakan.”
Hadits Nabi SAW sebagaimana diceritakan oleh Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW bersabda: “tanda orang munafik itu ada tiga, (yaitu) jika berbicara, ia berbohong, jika berjanji dia mengingkari, dan jika diberi amanat, ia mengkhianatinya”. Hadits Mutafaq alaih. Hadits dari Abdullah bin Amr bin Ash, sesungguhnya Rasulullah bersabda: “empat hal yang jika seseorang memilikinya, maka ia benar-benar termasuk orang munafik yang sejati. Dan barang siapa ada padanya salah satu dari sifat ini, maka ia memiliki salah satu ciri orang munafik sampai ia meninggalkannya. (yaitu) jika diberi kepercayaan ia mengkhianati, jika berjanji ia melanggarnya, dan jika bertikai (bermusuhan) ia berlaku curang”. Hadits Mutafaq alaih.
Dari penjelasan di atas, maka dapat digarisbawahi tiga hal mendasar, yaitu:
Pertama, kita hendaknya tidak mengumbar janji. Sedikit-sedikit menyatakan akan melakukan suatu tindakan yang ternyata tindakan tersebut tidak mampu dilaksanakan. Kita nyatakan oke jika memang mampu melakukannya, dan kita nyatakan insyaallah jika kita masih ragu apakah mampu melakukan atau tidak. Atau bahkan yang terbaik adalah katakan yang sebenarnya apakah oke atau tidak dengan jelas. Orang itu memang mudah sekali untuk berjanji padahal di dalam hati sesungguhnya tidak yakin akan mampu memenuhi janji dimaksud. Nabi Muhammad SAW bahkan memberi label orang yang berjanji dan mengingkarinya dengan sebutan sebagai munafik atau orang yang tidak bisa dipegang janjinya. Di dalam peribahasa Jawa disebut sebagai “esuk tempe sore kedele”. Orang yang tidak konsisten di dalam janji yang diucapkan. Selain itu juga orang yang kala diberi amanah dia berkhianat dan di kala bertikai maka dia curang. Jika ada salah satu saja dari ketiga tanda tersebut, maka jadilah kita orang yang munafik sampai hal-hal tersebut tidak kita lakukan.
Kedua, sekarang ini banyak terjadi perkataan bohong. Berkata bohong bukan aib tetapi sudah dianggap biasa saja. Di dalam dunia politik disebut sebagai kebohongan publik. Janji politik kepada publik untuk melakukan tindakan yang baik ternyata tidak dilakukan. Berjanji akan memberantas korupsi tetapi tidak dapat dilakukannya. Cuma dalam retorika saja. Juga disebut sebagai Pemberian Harapan Palsu atau PHP. Dewasa ini kebohongan merajalela. Hampir di semua tingkatan masyarakat terdapat ucapan dan tindakan kebohongan. Bohong telah menjadi kebiasaan. Di dalam Islam diajarkan agar jangan berbohong. Jika berkata sesuatu dalam kebohongan, maka itu pertanda sebagai indikator orang yang munafik.
Ketiga, munafik adalah tindakan yang akan diganjar dengan neraka. Di dalam sejarah Islam, orang munafik itu pada zaman Nabi Muhammad SAW berada di Madinah. Ada orang yang menyatakan masuk Islam dan mendukung Rasulullah SAW, akan tetapi dia berkhianat dengan mendukung terhadap musuh Islam. Orang munafik pertama adalah Abdullah bin Ubay bin Salul. Dia hampir saja diangkat menjadi raja untuk menyatukan Bani Aus dan Bani Khadraj akan tetapi gagal. Ia pura-pura masuk Islam akan tetapi bersekongkol dengan orang orang munafik lainnya untuk melawan Nabi Muhammad SAW.
Kita semua merasa berbahagia karena masuk dalam jajaran orang-orang yang sedapat-dapatnya bisa menepati janji. Meskipun dengan kadar yang minimal, akan tetapi kita sudah berusaha untuk menjadi orang yang dapat menepati janji. Oleh karena itu jangan berbohong, jangan mengkhianati kepercayaan, jangan mencederai janji. Jika hal-hal ini dapat dimenej sedemikian rupa, insyaallah kita akan memperoleh reward surganya Allah SWT.
Wallahu a’lam bi al shawab.
