MANUSIA, DZIKIR DAN TIPOLOGINYA
MANUSIA, DZIKIR DAN TIPOLOGINYA
Prof. Dr. Nur Syam, MSi
Selasa, 27/10/2026, saya berkesempatan untuk mengisi acara pengajian Selasanan di Masjid Al Ihsan Perumahan Lotus Regency Ketintang Surabaya. Hadir sesama jamaah ngaji bahagia yang tergabung dalam Komunitas Ngaji Bahagia (KNB) yaitu para sahabat dari Perumahan Lotus Regency dan Perumahan Sakura, Ketintang Surabaya. Jangan dibayangkan jamaahnya banyak. Sedikit tetapi orang-orang khusus. Jamaah yang ingin menemukan kebahagiaan lewat tersenyum dan tertawa minimal 17 kali.
Pada ceramah kali ini, saya menyampaikan tiga hal, yaitu:
Pertama, kita telah terbiasa untuk mengamalkan dzikir, bahkan sudah rutin, misalnya dzikir ba’da shalat maktubah, khususnya shalat Maghrib, Isya’ dan Shubuh. Yaitu membaca suhanallah 33 kali, alhamdulillah 33 kali dan Allahu akbar 33 kali dan diikuti dengan bacaan lanjutannya, Allahu akbar akbira…. dan seterusnya. Para ahli, saya tidak menyebut namanya, bacaan lanjutan dzikir Allahu Akbar kabira wal hamdulillahi katsira… dan seterusnya itu untuk menggenapi angka 99 kali, sehingga menjadi 100 kali. Wallahu a’lam.
Dzikir itu dipahami sebagai aktivitas untuk mengingat Allah SWT dengan berbagai bacaan yang lazim digunakan. Akan tetapi tidak terstruktur oleh waktu, tanpa petunjuk para ahli atau guru yang didapatkan secara langsung. Misalnya saya mengamalkan dzikir yang waktunya terserah saya kapan saja. Itu disebut sebagai dzikir. Untuk mengingat Allah SWT, maka ada dua cara yaitu dengan membaca kalam Allah SWT atau Alqur’an dan bacaan-bacaan kalimat thayyibah. Selain itu juga ada cara lain yaitu melalui ayat atau tanda-tanda alam, seperti bagaimana bumi diciptakan, bagaimana gunung ditinggikan, bagaimana burung diterbangkan, bagaimana matahari terbit selalu dari arah timur, bagaimana bintang bulan dan planet-planet di dalam keteraturan dan sebagainya. Tujuan dzikir adalah untuk mengingat kebesaran atau keagungan Tuhan SWT.
Selain kata dzikir ada juga kata wirid, yang jama’nya aurad. Wirid artinya dapat dipahami sebagai ikhtiar untuk mendatangi Allah SWT. Bisa juga dipahami sebagai mendekati Allah SWT. Orang yang melakukan bacaan wirid berarti sedang melakukan pendekatan atau mendatangi Allah SWT. instrumen untuk mendatangi Allah SWT adalah melalui bacaan-bacaan terstruktur yang diajarkan oleh guru dalam waktu dan hitungan tertentu. Misalnya di kalangan ahlu thariqah Qadiriyah wa Naqsyabandiyah diharuskan untuk wirid kalimat tauhid sebanyak 165 kali ba’da shalat maktubah dengan teknik yang khusus. Wirid ini diajarkan oleh para guru yang memiliki kewenangan mengajarkannya.
Saya mencoba untuk membagi dzikir itu di dalam tiga kategori, yaitu:
Pertama, dzikrul asma, bisa disebut sebagai dzikrul lisan atau dzikrul jasad. Yaitu bacaan-bacaan kalimat thayibah apa saja yang diucapkan secara lisan. Bisa saja berupa kalimat tahlil, tasbih, tahmid dan takbir atau bahkan berdzikir dengan asma-asma Allah sejumlah 99 nama. Jika hal itu dilafalkan dengan lisan, maka hal itu dapat dikategorikan sebagai dzikrul lisan atau dzikrul asma.
Banyak di antara kita yang melakukan dzikir dalam level ini. Yaitu berdzikir dengan ucapan-ucapan lesan tanpa disertai memahami maknanya. Yang penting menyebut Asma Allah. Bahkan juga bisa membaca Alqur’an, atau membaca bacaan dzikir yang sudah diajarkan di dalam Alqur’an, Alhadits dan juga para ulama. Bisa juga membaca do’a yang disunnahkan oleh Rasulullah Muhammad SAW. Ada tradisi di kalangan orang NU, yang sering melakukan bacaan Surat Yasin atau disebut sebagai Yasinan, dan juga tahlilan yang bisa diidentifikasi sebagai bacaan atau dzikrul lisan atau dzikrul asma.
Kedua, dzikrul sifat atau disebut juga sebagai dzikrun nafsi, yaitu dzikir yang diikuti dengan kemauan batin untuk memenuhi sifat-sifat baik yang diinginkan. Jadi di dalam batin orang yang berdzikir itu meminta kepada Allah agar nafsul mutmainnahnya semakin meningkat, dan nafsu amarahnya semakin berkurang bahkan tidak ada. Demikian pula keinginan tentang kebaikan dapat dikabulkan oleh Allah SWT. Kebanyakan amal ibadah kita itu tergolong dalam level beragama transaksional atau kita berdzikir agar Allah membalasnya. Jika level ibadah kita seperti ini maka berarti kita masih pada level dzikrus sifat atau dzikrun nafs. Dzikir itu untuk memenuhi keinginan kita untuk memperoleh sesuatu dari Allah SWT. Tentu ini dasarnya, yang utama misalnya di dalam Surat Al Fatihah: iyyaka na’budu wa iyyaka nastain. Jelas dalilnya, bahwa Allah mengajarkan kepada manusia agar manusia menyembah Allah dan Allah akan memberikan pertolongan.
Ketiga, dzikrul Dzat atau dzikrur ruh atau dzikrul qalb yaitu dzikir dengan bacaan yang sesuai dengan ajaran Islam yang dilakukan semata-mata karena Allah SWT tanpa ada keinginan apapun, selain untuk mengabdi dengan mendatangi dan taqarrub kepada Allah. Dzikir yang dilakukan untuk mendatangi dan berdekatan dengan Allah tanpa ada maksud apapun. Tidak meminta kepada Allah SWT apapun. Dzikir dalam diam. Sepenuhnya konsentrasi dan fokus kepada Allah. Inilah yang di dalam tradisi Jawa sebagaimana filsafat Gamelan Jawa, maka terdapat bunyi ning neng ning gung atau hening atau wening, meneng atau diam, weninge hati dan menuju kepada yang Maha Agung.
Dzikir ini ditandai dengan keheningan, tanpa suara, yang ada hanya suara hati dan semuanya tertuju kepada Allah Yang Maha Agung. Tanpa keinginan, tanpa kemauan, yang ada hanya relasi manusia dengan Allah semata yang meresap mendalam menuju kemenyatuan rasa dengan Allah semata. Tetapi hanya orang-orang khusus yang bisa melakukannya. Sebagai orang awam, kita sudah bahagia bisa menjalankan perintah Allah untuk berdzikir kepadanya.
Wallahu a’lam bi al shawab.
