• September 2026
    M T W T F S S
    « Aug    
     123456
    78910111213
    14151617181920
    21222324252627
    282930  

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

MAKRUH MAKAN DENGAN BERSANDAR (108)

MAKRUH MAKAN DENGAN BERSANDAR (108)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Bismillahir Rahmanir Rahim.

Setiap agama memiliki nilai atau norma yang menjadi pedoman di dalam kehidupan manusia. Semua agama dipastikan akan mengatur kebaikan perilaku dan kejelekan prilaku. Ada indikator yang terkait dengan perilaku kebaikan dan ada indikator perilaku kejelekan. Bagi yang melakukan kebaikan,  maka akan mendapatkan pahala atau reward dan yang melakukan kejelekan akan mendapat punishment atau hukuman.

Di dalam ajaran seperti ini, khususnya, dalam relasi antar manusia, betapa pentingnya menjaga kebaikan dan menjauhi kejelekan. Setiap agama mengajarkan misalnya tentang keadilan, kesetaraan, kebahagiaan dan sebagainya yang merupakan ajaran inti di dalam kehidupan khususnya di dalam relasi sosial. Katakanlah orang itu atheis, tidak percaya keberadaan Tuhan, akan tetapi di dalam relasi sosial mereka dipastikan mengenal mana yang baik dan mana yang buruk dalam kehidupannya. Manusia dikaruniai akal untuk memilah dan memilih prilaku mana yang dipilihnya. Termasuk juga dalam pemenuhan kebutuhan biologisnya, terutama dalam pemenuhan kebutuhan fisiknya. Kebutuhan makan.

Sebagai agama yang sedemikian jelas dan tegas dalam mengatur kehidupan, maka Islam memberikan pedoman yang lengkap dalam kaitannya dengan relasi antar manusia, dan juga etika terkait dengan diri, sikap dan perilaku dalam menghadapi kehidupan. Sedapat-dapatnya, sebagai umat Islam mestilah menjadikan ajaran tentang relasi diri dengan masyarakat dalam bentuk ucapan, sikap dan perilaku yang juga menggambarkan keluhuran akhlak. Makarimal akhlak.

Termasuk yang diatur oleh Islam adalah mengenai tata cara makan. Pada bab-bab sebelumnya sudah dijelaskan tentang tata cara makan, misalnya harus memulainya dengan berdoa, membaca basmalah dan jika lupa harus membaca “bismillahi awwalahu wa akhirahu”. Artinya dengan doa tersebut, Allah mengajari kepada kita supaya di dalam makan selalu mengedepankan asma Tuhan. Dengan Asma Allah yang rahman dan rahim.

Sesungguhnya, setiap bagian dari kehidupan manusia ternyata memiliki tradisinya sendiri. Di dalam setiap suku bangsa memiliki tradisi yang bisa berbeda dengan suku bangsa lainnya. Dalam banyak hal, termasuk di dalam tradisi makan.

Pada masyarakat Barat yang menggunakan tradisi sendok dan garpu dan juga kebebasan untuk makan. Bisa dengan tangan kiri atau tangan kanan, bisa sambil duduk atau berdiri. Sementara itu tradisi di Jepang, China dan Korea makan dengan sumpit sebab yang dimakan kebanyakan adalah mie sehingga lebih mudah menggunakannnya. Jika makan nasi pun juga menggunakan alat makan dimaksud. Sedangkan di dalam tradisi Jawa maka makan itu menggunakan lima jari sekaligus. Hal ini karena yang dimakan adalah jagung atau beras yang dimasak. Tenti lebih efektif menggunakan tangan. Orang Jawa yang modern sudah menggunakan garpu dan sendok, sementara orang Arab menggunakan tiga jari dalam makan apapun.

Syekh Imam An Nawawi menukil hadits sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Juaifah Wahb bin Abdullah RA., Rasulullah bersabda: “Aku tidak makan sambil bersandar”. Al Khattabi berkata: “bersandar di sisi kasurnya adalah duduk bersandar di atas kasur yang berada di bawahnya. Ia berkata: “maksudnya adalah Beliau tidak duduk di atas kasur dan bantal (sandaran) seperti  yang dilakukan oleh orang=orang yang ingin banyak makan. Bahkan beliau duduk dengan sikap siaga bukan dengan cara yang santai, dan beliau makan dengan secukupnya. Inilah perkataan Al Khattabi. Sedangkan yang lain mengisyaratkan  bahwa bersandar di sini maksudnya adalah duduk miring di atas sisi tubuhnya.

Anas RA, berkata aku melihat Rasulullah SAW duduk di atas pantat kemudian menegakkan betisnya sambil memakan kurma”. Hadits Riwayat Imam Muslim.

Dari hadits Nabi SAW dan penjelasan sosiologis sekedarnya, maka dapat dijelaskan tiga hal mendasar, yaitu:

Pertama, makan merupakan kebutuhan fisik yang tidak bisa ditunda. Misalnya orang sama sekali tidak makan. Kebutuhan biologis makan tersebut ada kaitannya dengan kesehatan badan. Jika makanannya memenuhi standart kesehatan, maka yang bersangkutan akan sehat. Ada keseimbangan antara kebutuhan protein,  karbohidrat dan mineral. Jika terjadi ketidakseimbangan, mungkin akan ada potensi tidak sehat. Memang ada orang-orang khusus yang bisa puasa Dawud atau puasa selang-seling, atau ada juga orang yang memiliki kemampuan puasa-puasa lain misalnya puasa mutih, puasa ngrowot, dan lainnya dalam tradisi Jawa, akan tetapi yang terbaik adalah puasa sebagaimana anjuran Rasulullah SAW. Apapun puasanya, akan tetapi butuh berbuka atau makan pada waktunya.

Kedua, makan ternyata ada tata caranya. Misalnya dimakruhkan untuk makan sambil bersandar di tempat tidur atau di atas bantal. Makan di tempat tidur tentu tidak etis sebab tempat tidur bukanlah tempat makan. Tempat tidur adalah tempat untuk istirahat tidur. Bahkan dicontohkan Nabi SAW itu kalau makan dengan badan tegap sambil  duduk dan betisnya ditegakkan. Jadi bukan dengan cara bersandar pada apapun. Atau kira-kira seperti orang yang duduk bersila atau duduk dalam tasyahud. Yang dilihat oleh para sahabat adalah di kala Nabi makan sambil duduk. Sama juga halnya, jika makan di atas meja juga agar badannya ditegakkan dan kaki menjulur ke bawah dengan santai.

Ketiga,  Nabi SAW sungguh sangat mendalam ajarannya tentang cara makan itu. Jangan mendominasi pengambilan makanan, jangan mengambil makanan yang jauh dari tempatnya dan jangan makan sambil bergurau. Diupayakan makan itu dengan tata cara yang benar. Dimulai dengan basmalah dan diakhir dengan hamdalah. Baik makan dalam keadaan sendirian maupun makan secara bersama-sama, maka tata cara makan itu tetaplah sama. Ada etika makan.

Zaman boleh berubah. Realitas budaya boleh berubah dan realitas sosial boleh juga berubah akan tetapi dalam ajaran Islam yang baku, maka perubahan itu tidak boleh menyentuh substansinya. Jenis makanan bisa berubah, asalkan halalan dan thayyiban, akan tetapi tata cara makan yang substansial tidak boleh berubah. Dan kita harus melakukannya sesuai dengan etika sebagaimana diajarkan oleh Nabi SAW.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

Categories: Opini
Comment form currently closed..