• June 2026
    M T W T F S S
    « May    
    1234567
    891011121314
    15161718192021
    22232425262728
    2930  

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

KEHARAMAN SOMBONG DAN BANGGA DIRI SENDIRI (72)

KEHARAMAN SOMBONG DAN BANGGA DIRI SENDIRI (72)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Bismillahir rahmanir Rahim.

Sombong merupakan  sikap dan Tindakan yang dilakukan oleh seseorang dalam relasinya dengan orang lain. Bahkan juga terhadap relasinya dengan Tuhan dan alam. Kesombongan terhadap Tuhan misalnya dalam bentuk meyakini bahwa dirinya adalah Tuhan. Sebuah perilaku yang tidak relevan dengan eksistensi manusia sebagai makhluk. Ada beberapa contoh manusia yang meyakini dirinya sebagai Tuhan, sehingga meminta umatnya untuk menyembahnya. Misalnya adalah Fir’aun dari Mesir, Nebukadnezar dari Babilonia, Namruz dari Babilonia, dan beberapa lainnya yang merasa memiliki kekuasaan dan kekuasaan itu didapatkan dari hasil kerjanya sendiri tanpa keterlibatan Tuhan.

Tindakan sombong terhadap manusia juga sangat luar biasa. Ada banyak perilaku sombong atas sesama manusia. Di dalam hal ini, ada sangat banyak kesombongan yang dilakukan oleh manusia dalam berbagai jenisnya. Misalnya merendahkan martabat manusia, merendahkan kehormatan manusia, menganggap orang lain tidak memiliki kapasitas yang tidak sesuai dengan kenyataannya, merasa paling hebat sendiri dan serba memiliki kelebihan. Indicator orang sombong itu bisa dilihat dari apa yang diungkapkan atau dinyatakan, misalnya: cara berbicara,  cara berjalan, cara untuk memandang orang lain, suka mencibir, suka bicara dengan kekerasan, suka untuk membuli orang lain, suka merendahkan derajat orang lain.

Belum lagi kesombongan terhadap alam dengan pemikiran bahwa alam adalah obyek dan manusia sebagai subyek. Sebagai subyek, maka manusia menjadi penentu segalanya atas alam. Sebagai obyek,  maka alam dapat diperlakukan sebagai benda yang tidak ada apa-apanya untuk dirusak dan dihancurkan. Hutan digunduli untuk kepentingan ekploitasi ekonomi, Sungai dicemari dengan berbagai sampah. Laut juga dicemari dengan bahan-bahan yang tidak bisa hancur, misalnya plastic. Hewan juga diperlakukan seenak hatinya. Kesombongan manusia tersebut yang juga akan berakibat atas dirinya. Di kala terjadi banjir, longsor, dan akibat serius yang diakibatkan oleh kerusakan alam,  barulah merasa bahwa alam pun bisa menghancurkan dirinya.

Syekh Imam An Nawawi, mengutip banyak  ayat Alqur’an dan hadits Nabi Muhammad SAW. Dalil naqli tersebut digunakan untuk memberikn peringatan bagi orang yang sombong di dalam kehidupannya. Di dalam Alqur’an dijelaskan sebagaimana tercantum di dalam Surat Al Qasshash: 83, bahwa “Negeri akherat itu, kamu jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa”. Di surat lain, Al Isra’: 37, bahwa: “Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong”.  Lalu di dalam Surat Lukman: 18 dinyatakan: “dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri”.

Hadits Nabi SAW sebagaimana diceritakan oleh Abdullah bin Mas’ud RA., Nabi SAW bersabda: “tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat sifat sombong, walaupun sebesar biji sawi”. Kemudian ada orang berkata: ‘sesungguhnya ada orang yang senang jika pakaiannya bagus dan sandalnya pun bagus’. Lalu Beliau bersabda: “sesungguhnya Allah itu Maha Indah dan mencintai keindahan. Kesombongan itu ialah menolak kebenaran dan merendahkan sesama manusia”. Hadits Riwayat Imam Muslim.

Di dalam hadits lain dinyatakan sebagaimana diriwayatkan oleh Haristah bin Wahab RA.,  ia berkata: ‘saya mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Maukah kalian aku beritahu, siapakah penghuni neraka? Mereka itu adalah orang-orang yang kejam, rakus, dan bersikap sombong”. Hasits Riwayat Mutafaq alaih.

Hadits lain menyatakan sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Hrairah RA., ia berkata, Rasulullah SAW bersabda: “ada tiga kelompok yang pada hari kiamat tidak akan diajak bicara, tidak disucikan dan tidak dilihat Allah, dan mereka akan mendapat azab yang pedih, yaitu: orang tua yang berzina, penguasa yang bohong dan fakir miskin yang sombong”. Hadits Riwayat Imam Muslim.

Hadits yang diriwayatkan oleh Salamah bin Akwa RA., ia berkata, Rasulullah bersabda: “jika seseorang senantiasa membanggakan dan menyombongkan dirinya, sehingga ia akan dicatat termasuk golongan orang-orang yang kejam lagi sombong, kemudian ia akan ditimpa apa yang biasa menimpa mereka”. Hadits Riwayat Imam Tirmidzi.

Dari penjelasan di atas, kiranya dapat dijelaskan tentang pemahaman jangan melakukan kesombongan di dalam kehidupan. Ada tiga hal yang dapat dijelaskan, yaitu:

Pertama, manusia itu sesungguhnya tidak memiliki kekuatan yang ekstra kuat. Manusia bahkan juga tidak tahu apa yang berada dibalik tembok, jika tidak tahu sebelumnya. Manusia tidak mampu untuk mengalahkan hewan-hewan buas,  jika tanpa senjata apapun. Manusia juga sangat kecil dibandingkan dengan keluasan dan kekuatan alam. Apalagi dibandingkan dengan kekuasaan Allah SWT. Sungguh manusia itu seperti debu dalam lautan pasir bahkan lebih kecil. Dari galaksi dan tata surya yang ada di dunia ini, maka hanya ada lima persen yang diketahui manusia meskipun menggunakan alat canggih sekalipun. Setiap ada instrument tehnologi baru, maka muncul temuan baru. Begitulah dinamika alam yang tidak terselami oleh manusia.

Kedua, Islam mengajarkan agar manusia meletakkan dirinya di dalam kekuasaan Allah. Karena betapa kecilnya kekuatan dan kekuasaan yang dimilikinya. Semuanya terjadi karena kekuasaan Allah. Manusia tidak akan mampu melawan ketuaan, melawan sakit dan melawan kematian. Semuanya ada batas kemampuannya. Manusia yang paling kaya dalam sejarah kemanusiaan, Qarun, tidak mampu melawan tanah longsor yang menyebabkan kematian dan hilangnya harta kekayaannya. Manusia yang merasa paling berkuasa, Firaun, mati di tengah samudra karena tidak kuasa untuk melawan takdir kematiannya. Dan contoh-contoh lainnya. Oleh karena itu, bagaimana manusia harus menyombongkan diri dan menganggap dirinya yang paling hebat.

Ketiga, Islam mengajarkan agar manusia tidak menyombongkan diri karena kekuasaan, kekuatan dan kekayaannya. Semua bisa punah. Itulah sebabnya Islam mengajarkan agar manusia merasa kecil di hadapan Allah. La haula wa la quwwata illa billah. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali milik Allah. Makanya ketika kaya, jangan meremehkan orang yang tidak punya, kaum fakir dan miskin.  Di  kala  berkuasa, jangan  membuat kebijakan dan perlakuan yang tidak sesuai dengan kaidah kemanusiaan. Dan di kala  kuat,  jangan sampai memperolok orang yang lemah dan bahkan menyakitinya. Tidak selamanya manusia  berkuasa, tidak selamanya manusia kuat.

Jika kita memahami tentang hal tersebut, maka sesungguhnya tidak pantas  orang  menyombongkan diri di tengah kehidupan yang serba dinamis. Marilah diyakini bahwa yang memiliki segalanya adalah Allah SWT.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

 

Categories: Opini
Comment form currently closed..