• October 2026
    M T W T F S S
    « Sep    
     1234
    567891011
    12131415161718
    19202122232425
    262728293031  

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

JAGA ISLAM AHLU SUNNAH WAL JAMAAH


JAGA ISLAM AHLU SUNNAH WAL JAMAAH

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Sebagaimana biasanya,  jika saya pulang ke Tuban, di Dusun Semampir, Desa  Sembungrejo, Kecamatan Merakurak,  Tuban, dipastikan dapat memberikan taushiyah Subuh di Mushalla depan rumah saya, Mushalla Raudlatul Jannah, Taman Surga, yang selama ini menjadi tempat jamaah shalat shubuh. 14/09/2026. Meskipun jumlahnya tidak banyak,  sebagaimana masjid-masjid besar di perkotaan, akan tetapi mereka adalah jamaah tetap yang nyaris pada waktu shubuh menjalankan shalat secara berjamaah.

Mereka adalah kawan-kawan saya di masa lalu. Teman sepermainan. Ada yang lebih tua dan ada yang lebih muda. Bapak-bapak dan ibu-ibu. Saya bersyukur masih bisa bertemu dengan sahabat-sahabat saya itu dan yang menggembirakan bahwa mereka masih sehat dan dapat menjalankan shalat berjamaah. Biasanya tiga waktu untuk shalat jamaah: shalat magrib, isya’ dan subuh. Maklum jika siang mereka bekerja sebagai petani.

Saya menyampaikan tiga hal mendasar, yaitu:

Pertama, ungkapan rasa syukur bahwa kita semua masih dalam kesehatan yang baik dalam ukuran sehatnya orang tua. Tetapi dengan masih bisa shalat berjamaah di mushallah ini tentu menggambarkan bahwa kita masih diberi kesehatan fisik  yang baik. Semoga kita akan dapat konsisten dalam melakukan shalat berjamaah. Tidak ada nikmat yang lebih besar dibandingkan dengan nikmat Iman dan Islam, yaitu percaya kepada Tuhan dan menjalankan ajarannya. Menjalankan shalat adalah amalan agama yang utama. Afdhalul a’mal as shalatu ‘ala waqtiha.  Sebaik-baik amal adalan menjalankan  shalat pada waktunya.

Kita semua insyaallah sudah menjadi orang yang bersyukur kepada Allah atas nikmat dan rahman rahimnya yang dibuktikan dengan telah menjalankan amalan ibadah yang sangat penting, yaitu menjalankan rukun Islam. Terutama kita telah melakukan shalat sebagaimana kapasitas yang kita miliki. Setiap datang waktu shalat dipastikan kita melakukan amalan shalat tersebut.

Kedua, sebagai umat manusia tentu kita gembira karena kita bisa menjadi bagian dari umat Islam. Umat Nabi Muhammad SAW. Umat yang menjadi pengemban Islam rahmatan lil alamin. Agama yang penuh kerahmatan. Kita ini adalah penganut Islam ahlu sunnah wal jamaah. Islam mayoritas di Indonesia. Yang termasuk Islam ahli sunnah wal jamaah adalah NU dan  Muhammdiyah, lalu Jam’iyatul Washliyah, Nahdlatul Wathan, PERTI dan beberapa lainnya. Mereka adalah umat Islam yang mengusung tema Islam rahmah.

Selain itu juga ada yang menyebut atau melabel kelompoknya dengan sebutan ahlu sunnah atau Islam ahli sunnah. Mereka tidak mau disebut sebagai kaum Salafi atau kaum Wahabi. Sebagai kaum ahlu sunnah maka mereka beranggapan bahwa hanya kelompoknya saja yang ahlu sunnah dan yang lain dinyatakan bukan. Orang NU, misalnya dianggap sebagai ahlu bidh’ah. Kelompok yang selama ini melangsungkan pelestarian atas tradisi yang tidak didapatkan sumber hukumnya, baik di Alqur’an maupun hadits-hadits Nabi Muhammad SAW.

Tradisi yang diamalkan oleh orang NU itu banyak sekali, misalnya melakukan wirid berjamaah di masjid atau mushalla ba’da shalat berjamaah. Orang NU juga melakukan bacaan Surat  Yasin bersama-sama yang dilakukan untuk kepentingan orang yang masih hidup atau sudah mati. Jika untuk orang yang sudah mati disebut sebagai fida’an. Yaitu kirim doa atau bacaan kalimat thayyibah yang dilakukan bersama-sama, baik di rumah-rumah atau masjid ba’da shalat. Misalnya Si Fulan minta bantuan kepada jamaah masjid semua untuk membacakan fatihah kepada ahli kuburnya. Perbuatan ini dianggap sebagai bidh’ah yang ditafsirkannya tidak ada dalilnya di dalam Islam. Orang NU juga membaca kitab Barjanzi untuk memuji kepada Nabi Muhammad SAW dengan membaca sejarah hidupnya sebagaimana yang diyakininya. Amalan begini juga bidh’ah karena dianggap Nabi Muhammad SAW tidak pernah melakukannya. Orang NU juga melakukan peringatan Maulid Nabi SAW yang juga dianggap bidh’ah sebab Nabi Muhammad tidak melakukannya. Apalagi upacara kematian dengan menghadirkan umat Islam untuk membacakan Surat Al-fatihah, Surat Yasin dan tahlil. Hal ini tidak pernah dilakukan Nabi Muhammad SAW sehingga juga dianggap bidh’ah. Yang melakukannya dipastikan akan masuk neraka. “kullu bidh’atin dhalalah, wa kullu dhalalh fin nar”.  “Setiap yang bidh’ah itu dhalalah dan setiap yang dhalalah itu di neraka”. Inilah tafsir mereka atas ajaran agama Islam dan yang penting bahwa yang tidak sesuai dengan tafsir ajaran agamanya dianggapnya sesat.

Ketiga, berdasarkan perbincangan di ceramah ini, ada jamaah yang menyatakan bahwa di Tuban sudah sangat banyak, di Kecamatan Merakurak juga banyak, dan di desa-desa juga sudah banyak yang menjadi pengikut Islam seperti itu. Mereka itu terpengaruh oleh para pendatang, yang mengamalkan Islam dengan menyalahkan umat Islam lain. Bahkan ada yang sangat keras pandangannya tentang amalan yang dianggapnya bidh’ah. Mereka ingin memberantasnya dengan kekuatannya.

Mereka itu ada yang membuat mushalla baru atau masjid baru terutama di perumahan-perumahan baru atau jika sangat diperlukan akan menguasai masjid-masjid yang selama ini menjadi pusat agama Islam kelompok NU. Jadi, mereka tidak akan berhenti sampai usahanya untuk memurnikan Islam dari kotoran bidh’ah yang dianggapnya sesa itu melakukan pertobatan. Mereka beranggapan bahwa pengalaman agama yang benar hanya yang ditafsirkan oleh kelompoknya. Tidak ada tafsir lain kecuali miliknya. Dan bahkan surga juga hanya miliknya sendiri.

Itulah sebabnya, mushalla ini harus kita pertahankan agar tetap menjadi mushallah yang di dalamnya mengajarkan dan mengamalkan Islam atas tafsiran para ulama yang kita yakini tidak salah. Oleh karena itu, jika kita mendengar pengajian secara langsung atau mendengarkan ceramah agama di media sosial, jika ada unsur menyalahkan pengamalan Islam yang dianggapnya bidh’ah dan sebagainya jangan didengarkan. Kita cukupkan pengamalan beragama sebagaimana  para ulama NU yang selama ini menjadi panutan kita.

Mari kita jaga Islam ahlu sunnah wal jamaah yang telah mendarah daging di dalam kehidupan kita semua.

Wallahu a’lam bi al shawab.

Categories: Opini
Comment form currently closed..