• May 2026
    M T W T F S S
    « Apr    
     123
    45678910
    11121314151617
    18192021222324
    25262728293031

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

GUS MUS DAN PENYEJUK JIWA

Saya merasa harus mengapresiasi tulisan Gus Mus di Jawa Pos, 25/01/2011 dengan judul “Akar Masalah”. Tulisan ini merupakan refleksi beliau tentang fenomena yang mengedepan pada minggu-minggu akhir ini, yaitu tentang gerakan para tokoh lintas agama tentang “fatwa  kebohongan”.

Sebagaimana kita ketahui bahwa “fatwa kebohongan” yang diusung oleh para tokoh lintas agama tersebut ditujukan khususnya kepada pemerintah yang dianggap oleh para pengusungnya untuk memberikan evaluasi dan peringatan kepada pemerintah –khususnya Presiden SBY—agar melakukan tindakan yang benar sesuai dengan koridor aturan perundang-undangan dan selebihnya mengelola negara dengan transparan.

Sebagaimana yang saya tulis beberapa hari yang lalu, bahwa “kata kebohongan” memang selalu memiliki makna negative, sehingga yang tergambar di dalam fatwa kebohongan juga terkait dengan tindakan negative pemerintah tentang beberapa hal yang dianggap penting, misalnya tentang hukum, kesejahteraan, agama, politik dan sebagainya.

Gus Mus –secara tidak langsung—menyatakan bahwa sumber masalah sebenarnya adalah kepentingan. Kepentinganlah yang memang abadi,  sebagaimana perubahan yang juga abadi. Tiada kawan yang abadi,  yang ada adalah kepentingan yang abadi. Jadi kepentinganlah yang sesungguhnya menjadi sumber masalah. Jika Gus Mus menyatakan penyebab masalah adalah kepentingan materi, maka sesungguhnya itu hanya salah satu sumber atau akar masalah.

Memang Gus Mus tidak menyebut secara keseluruhan tentang akar masalah itu. Beliau hanya menyebutkan bahwa perubahan orientasi tentang materi di kalangan masyarakat kitalah yang kemudian menjadikan bangsa Indonesia seperti ini. Sering menjadi ungkapan, misalnya kuliah cepat, kerja cepat, kaya cepat. Semuanya ingin diraih dengan cepat.

Disebabkan oleh menonjolnya keinginan memperoleh sesuatu dengan cepat tersebut, maka kemudian moralitas tidaklah menjadi panduan penting. Moral adalah sesuatu yang berdiri sendiri dan mencari materi adalah sesuatu yang berdiri sendiri pula. Keduanya merupakan sesuatu yang bercorak asimetris. Antara moralitas dan kekayaan adalah seperti rel kereta api, dari jauh seperti bertemu dalam satu titik, akan tetapi ketika didekati ternyata berbeda dan berjajar.

Di sekeliling kita sesungguhnya juga banyak pelajaran, bagaimana orang bisa cepat menjadi kaya padahal instrumen untuk menjadi kaya itu nyaris tidak ada. Jika seorang pengusaha, maka cepat menjadi kaya merupakan sesuatu yang tingkat probabilitasnya sangat besar. Akan  tetapi jika yang cepat menjadi kaya itu adalah pegawai negeri,  maka tentunya bisa dipertanyakan dari mana kekayaannya.

Itulah sebabnya pada masa lalu orang akan bisa membayar berapapun agar bisa menjadi pimpinan proyek. Orang pada berebut untuk menjadi pejabat. Orang berebut untuk menempati pos-pos jabatan yang basah. Maka, orang rela untuk mengeluarkan uang terlebih dahulu agar bisa meraih jabatan strategis. Kalau ada pejabat yang miskin,  maka dianggap tidak wajar dan bahkan bisa dianggap gila.

Di era sekarang “kegilaan” terhadap harta dianggap lebih proporsional dibanding dengan “kegilaan” untuk hidup sederhana. Makanya semuanya berebut untuk menjadi kaya meskipun dengan cara yang tidak wajar dan menyalahi aturan.

Apakah kita benar-benar telah menjadi masyarakat yang memiliki mental menerabas. Lalu apapun kita terabas agar tujuan kita menjadi tercapai. Rasanya juga banyak drama yang dipertontonkan di era akhir-akhir ini. Ada drama “Gayus”, ada drama “Ayin”, ada drama “Urip”, ada drama “PSSI” dan sebagainya.

Sebagai masyarakat religious, kita seringkali mencela tindakan Machiavelisme. Tujuan menghalalkan segala cara. Jika demikian, maka benar-benar telah menjadi kenyataan bahwa memang sudah ada reduksi makna agama. Kita adalah bangsa yang religious di tempat ibadah, akan tetapi menjadikan Machiavelisme sebagai dasar untuk mencapai semua tujuan hidup.

Sebagai tokoh-tokoh agama, maka saya berkeyakinan bahwa para tokoh lintas agama menyuarakan sesuatu dari “hati nurani”. Akan tetapi saya rasa juga penting mengembangkan gagasan Gus Mus untuk melakukan gerakan pro hidup sederhana. Sehingga bidikan kita tidak dimaknai politis,  sebab gerakan pro hidup sederhana memiliki cakupan yang lebih luas.

Wallahu a’lam bi al shawab.

Categories: Opini