ANJURAN AGAR BANYAK YANG IKUT MAKAN (110)
ANJURAN AGAR BANYAK YANG IKUT MAKAN (110)
Prof. Dr. Nur Syam, MSi
Bismillah al rahman al rahim
Islam merupakan agama yang memberikan pedoman secara mendalam atas persoalan yang dihadapi oleh umat Islam. Islam tidak hanya mengatur hubungan antara manusia dengan Tuhan atau antara manusia dengan manusia dan antara manusia dengan alam, akan tetapi juga pedoman dalam hidup keseharian. Islam tidak hanya mengatur relasi antar manusia dalam konteks fiqih munakahat, fiqh muamalah, fiqih thaharah, fiqih shalat, fiqih zakat, fiqih haji dan fiqih tata negara, akan tetapi juga mengatur tentang tata cara makan, bahkan etika makan.
Islam itu agama yang kaffah artinya menyeluruh untuk seluruh perbuatan atau perilaku manusia. Bahkan terkesan detail atau mendalam. Memang Alqur’an hanya mengatur yang general atau mujmal, akan tetapi hadits Nabi SAW mengatur setiap perilaku manusia di dalam kehidupannya. Shalat misalnya tidak diatur secara mendalam di dalam Alqur’an, akan tetapi Hadits Nabi SAW yang menjelaskannya. Jumlah waktu shalat dan rakaat di dalam shalat dan yang mendasar tentang shalat dijelaskan di dalam hadits-hadits Nabi SAW. Yang dijelaskan secara mendalam adalah persoalan waris dan itupun juga diatur secara lebih mendalam di dalam hadits-hadits Nabi SAW. Tentang tata cara taharah juga diatur di dalam hadist-hadits Nabi SAW. Demikianlah seterusnya.
Yang unik juga Islam mengatur tentang tatacara makan dan etika makan dalam penjelasan yang mendasar. Mulai dari makanan yang halal dan haram, lalu makan yang thayyiban atau menyehatkan, tata cara makan, bagaimana memulai makan dan mengakhiri makan, keberkahan makanan, sunnah-sunnah di dalam makan, bahkan mengatur bagaimana ketercukupan makan untuk orang yang lebih banyak. Dilarang untuk menyisakan makanan, makanlah secukupnya, jangan berlebihan, bahkan menjilati bekas makan di tangan.
Syekh Imam An Nawawi menjelaskan mengenai anjuran untuk memperbanyak jumlah orang yang makan. Hadits yang dinukil adalah sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA., berkata Rasulullah SAW bersabda: “Makanan untuk berdua cukup untuk tiga orang, dan makanan bertiga cukup untuk empat orang”. Hadits Riwayat Mutafaq alaih. Jabir RA berkata, Aku telah mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Makan untuk satu orang, cukup untuk berdua, makanan untuk berdua cukup untuk tiga orang, makanan untuk bertiga cukup untuk empat orang dan makanan untuk empat orang cukup untuk delapan orang”. Hadits Riwayat Imam Muslim.
Dari penjelasan di atas, kiranya dapat dipahami tiga hal yang mendasar, yaitu:
Pertama, makan tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan biologis semata, tetapi juga untuk memenuhi anjuran untuk memakan makanan sebagaimana terdapat di dalam hadits-hadits Nabi SAW. Pemenuhan kebutuhan fisik atau biologis tentu dipastikan untuk memenuhi kebutuhan tubuh agar menjadi sehat. Qalbun salim fi jismin salim. Begitulah statemen para ulama dalam melihat arti pentingnya makan. Tetapi juga jangan berlebihan di dalam makan. Misalnya tidak mempertahankan komposisi makanan. Islam tidak menganjurkan sesuatu yang berlebihan. Misalnya komposisi makanan berlemak atau lemak jenuh atau makan bergula yang berlebihan tentu ada konsekuensinya. Lemak jenuh yang kebanyakan akan memicu atas penyakit kolesterol atau asam urat. Gula yang berlebihan akan memicu diabet dan masih banyak lagi. Di sini Nabi SAW menganjurkan agar segera berhenti makan sebelum kenyang. Ternyata dari dimensi kesehatan sangat mendasar sabda Nabi SAW tersebut.
Kedua, Nabi SAW menganjurkan agar mencukupkan makanan untuk lebih banyak orang. Jika makanan itu cukup untuk satu orang, maka dapat dimakan oleh dua orang. Jika makanan cukup untuk dua orang agar bisa dimakan untuk tiga orang, dan jika makanan cukup untuk tiga orang agar dapat dimakan untuk empat orang, dan jika makanan cukup untuk empat orang, maka makanan tersebut dapat dimakan untuk delapan orang. Sebuah konsep yang sangat mendasar tentang ketercukupan makan. Biasanya orang hanya melihat kuantitas makanan dan kuantitas orang yang makan. Jika makanan cukup untuk dua orang harus dimakan oleh dua orang saja, dan seterusnya. Akan tetapi Nabi SAW memiliki cara pandang berbeda dengan pengalaman manusia di dalam makan. Bahkan sekarang, makanan yang tampaknya berlebih juga hanya dimakan oleh orang tertentu saja. Perintah Nabi SAW itu berselaras dengan anjuran agar jangan makan berlebihan. Secukupnya. Jangan sampai terasa kenyang atau bahkan kekenyangan.
Ketiga, jumlah populasi penduduk semakin banyak. Jumlah penduduk mengikuti deret ukur (derat geometri), sementara itu jumlah bahan makanan mengikuti deret hitung (deret linear) atau dalil Malthusian. Artinya jumlah manusia terus bertambah dari tahun ke tahun. Sekarang populasi dunia mencapai angka 8,2 miliar. Sementara itu jumlah makanan mengikuti deret hitung. Bumi terbatas, kapasitas untuk menghasilkan makanan semakin terbatas. Penduduk yang semakin banyak tentu membutuhkan tempat tinggal, infrastruktur kehidupan, sementara bumi tetap dan tidak bertambah. Tempat tinggal yang banyak akan menyebabkan jumlah lahan pertanian dan perkebunan akan makin menyusut. Jadi akan terdapat mengurangan produk makanan yang ke depan akan luar biasa.
Di sinilah makna penting manusia mengerem nafsu makannya. Empat belas abad yang lalu Nabi SAW sudah mengingatkan akan bahaya makan berlebihan karena diprediksi bahwa jumlah populasi semakin banyak sementara itu lahan produksi makanan semakin berkurang. Andaikan dirumuskan hitungannya, maka akan terdapat efisiensi dalam kuantitas makan di tengah kehidupan yang semakin sulit.
Apa yang dinyatakan oleh Nabi SAW ternyata tidak hanya konsep yang utopis, akan tetapi merupakan konsep aplikatif yang sangat relevan dengan zaman. Ajaran Islam memang shahih fi kulli zaman wa makan. Ajaran yang benar sepanjang masa, dan benar dalam segala tempat.
Wallahu a’lam bi al shawab.
