TANDA KECINTAAN ALLAH KEPADA HAMBANYA (47)
TANDA KECINTAAN ALLAH KEPADA HAMBANYA (47)
Prof. Dr. Nur Syam, MSi
Bismillahir Rahmanir Rahim.
Pad bab 47, Syekh Imam An Nawawi menjelaskan tentang “Tanda-Tanda Kecintaan Allah Kepada Seorang Hamba Dan Anjuran Untuk Berakhlak Demikian Serta Berusaha Mewujudkannya”. Di dalam artikel ini saya ringkas judulnya menjadi “Tanda Kecintaan Allah Kepada Hambanya”.
Kita itu hidup di dunia simbolik. Artinya bahwa ada tanda-tanda yang diberikan oleh Dzat yang Maha Kuasa untuk kita bisa memahami apa sesungguhnya yang disimbolkan dari kekuasaan Allah tersebut. Ada dunia fisik yang kasat mata, yang dapat diketahui dan secara rasional dapat dipahami dan ada dunia metaempiric atau metafisik yang tidak semua orang bisa memahami dan mengetahui. Pengetahuan dan pemahaman seperti itu hanya diberikan oleh Allah kepada hambanya yang dianggap khusus. Oleh karena itu terkadang kita harus bertanya kepada orang khusus yang memang dikaruniai kemampuan khusus oleh Allah SWT.
Ada orang awam yang hanya dapat membaca hal-hal yang empiris atau yang fisikal dan ada orang yang dapat membaca yang metaempiris atau metafisika. Tetapi tentunya setiap manusia memiliki potensi untuk menjadi metafisikawan, akan tetapi terkadang potensi tersebut tidak mampu diaktualkan. Makanya, ada orang yang bisa memasuki kemampuan khas atau ahli khawas karena kemampuannya untuk bisa menembusnya. Mimpi atau tanda-tanda alam terkadang menyiratkan sesuatu yang akan menjadi actual. Tetapi terkadang kita tidak memahami karena kemampuan kita yang terbatas. Jadi, terkadang untuk membaca yang metafisika kita memerlukan orang lain yang memiliki kapasitas untuk membacanya.
Di dalam Surat Ali Imran: 31 Allah berfirman: “Katakanlah jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku. Niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. Di dalam Surat Al Maidah: 54 Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, barang siapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintainya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yag bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad d jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikannya kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui”.
Hadits Nabi Muhammad SAW sebagaimana diceritakan oleh Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda: “Jika Allah ta’ala mencintai seorang hamba, maka Jibril memberitahukan bahwa Allah mencintai si Fulan, maka cintailah olehmu Si Fulan itu. Jibril lalu mencintainya, kemudian dia mengundang seluruh penghuni langit dan memberitahukan bahwa Allah mencintai si Fulan, maka cintailah olehmu semua si Fulan itu. Para penghuni langitpun lalu mencintainya. Setelah itu, kecintaan kepadanya diteruskan di kalangan penguhuni bumi”. Hadits Riwayat Mutafaq alaih.
Hadits lain menyatakan sebagaimana diceritakan oleh Aisyah bahwa Rasulullah mengutus seseorang untuk mengimami shalat pada suatu pasukan. Dalam shalatnya ia selalu menutup bacaannya dengan ucapan ‘qul huwallahu ahad’. Ketika mereka pulang mereka menceritakan hal yang demikian itu kepada Rasulullah SAW. Beliaupun bersabda: ‘tanyakan kepadanya, mengapa ia berbuat demikian?. Merekapun menanyakannya dan orang itu menjawab: ‘karena surat itu adalah sifat Dzat yang maha pemurah, maka saya senang membacanya. Setelah disampaikan kepada Rasulullah SAW, Beliau bersabda: ‘beritahukan kepadanya bahwa Allah Ta’ala mencintainya”. Hadits Riwayat Mutafaq alaih.
Dari pembahasan ini, maka dapat digaris bawahi tiga hal, yaitu:
Pertama, Allah sesungguhnya sangat mencintai hambanya, yaitu orang yang beriman dengan kesungguhan. Lahir dan batin. Tidak hanya diucapkan akan tetapi juga membenarkannya secara batiniah. Allah tidak perlu dibuktikan secara dzat-Nya, akan dapat dibuktikan melalui ciptaannya. Justru dengan mengetahui, memahami dan menghayati ciptaan Allah yang sangat sempurna tersebut, keimanan akan menjadi meningkat. Factor hidayah menjadi sangat mendasar. Ada orang yang memahami dan mengetahui tentang keteraturan alam dan seluruh isinya dengan pengetahuan yang sangat mendasar, tetapi tidak menjadikannya beriman kepada Allah SWT.
Allah itu sirrul asrar, rahasia di atas rahasia. Jadi potensi untuk memahaminya juga sangat tergantung kepada kesadaran tingkat tinggi untuk memahaminya. Allah sesungguhnya menyediakan roh bagi setiap manusia untuk bisa menjadi washilah atau perantara antara fisik, nafsu dan roh yang berada di dalam tubuh manusia untuk bisa merasakan kedekatan dengan Allah SWT. Tetapi karena roh manusia itu terbelenggu dengan jiwa dan jasadnya sehingga belum sanggup untuk menggapai kedekatan tersebut. Saya tidak berani menyatakan kemenyatuan dengan Allah. Ada orang yang bisa memasuki alam kasyaf atau terbukanya alam malakut dan kemudian masuk ke dalam alam lahut, sehingga garis roh manusia dengan Tuhan itu bisa menjadi sangat dekat. Bisa lebih dekat dengan urat nadi.
Kedua, secara fisikal Allah SWT sudah memberikan tanda-tanda orang yang akan dicintai oleh Allah, yaitu orang yang bersikap lemah lembut kepada orang lain, orang yang sangat menghargai terhadap manusia lain terutama sesama umat Islam, orang yang mencintai orang sebagai bagian dari ukhuwah kemanusiaan, orang yang tegas terhadap orang kafir dalam konteks toleransi ketauhidan meskipun bisa memiliki toleransi sosiologis, orang yang berjihad di jalan Allah, artinya orang hidupnya tidak sia-sia tetapi digunakan berjuang untuk meninggikan kalimat tauhid dengan berbagai caranya serta orang yang mengedepankan kesabaran, kesyukuran dan ketawakkalan kepada Allah meskipun dicela dan dipersalahkan atas keimanan kepada Allah SWT.
Ketiga, kasih sayang kita kepada Allah akan berdampak atas kasih sayang para malaikat dan para penghuni langit dan kemudian berimbas pada cinta kasih kepada kemanusiaan. Ada trilogy yang menarik bahwa cinta dan kasih sayang kepada Allah, cinta para malaikat dan penghuni langit serta cinta dan kasih sayang kemanusiaan. Cinta dan kasih sayang sistemik. Cinta kepada Allah, Malaikat dan kemanusiaan. Allah SWT akan menunjukkan bahwa orang yang mencintai manusia dengan segala kemampuannya merupakan tanda bahwa Allah dan para malaikat itu menyayanginya. Jika kita membenci kepada manusia lainnya, hakikatnya Allah menunjukkan kepada kita bahwa Allah dan penghuni langit tidak mencintai kita.
Wallahu a’lam bi al shawab.
