• May 2026
    M T W T F S S
    « Apr    
     123
    45678910
    11121314151617
    18192021222324
    25262728293031

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

NASEHAT KEBAIKAN (23)

NASEHAT KEBAIKAN (23)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Bismillahir Rahmanir Rahim.

Pada Bab 22, Syekh Imam An Nawawi menuliskan Bab Nasehat. Kemudian di dalam artikel ini, secara sengaja saya tambahkan ungkapan “Nasehat Kebaikan”. Hanya sekedar untuk menta’kidkan saja, menegaskan maksudnya. Bukan untuk yang lain-lain. Seorang muslim memiliki kewajiban untuk memberikan nasehat untuk kebaikan. Sudah sangat dipahami tentang prilaku kepenasehatan ini. Allah menganjurkan agar saling menasehati atas kebenaran dan menasehati atas kesabaran.

Pilar Islam dalam kepenasehatan adalah wasiat atas kebenaran dan kesabaran. Mengapa kebenaran, sebab kebenaran adalah kunci dalam membangun relasi social. Truth atau kebenaran akan dapat menjadi kunci bagi kepercayaan atas kita. Tanpa kebenaran, maka tidak akan terdapat keterpercayaan. Lalu yang tidak kalah mendasar adalah pesan kesabaran. Sabar juga kata kunci di dalam relasi social. Orang yang sabar merupakan seseorang yang memiliki ketahanan mental dalam menghadapi kehidupan. Dengan kesabaran,  maka kesulitan dan keruwetan akan bisa diuraikan.

Allah SWT berfirman di dalam Surat Al Hujurat: 10, bahwa “sesungguhnya hanya orang-orang yang beriman yang disebut bersaudara”. Di ayat lain, Al A’raf: 68, dinyatakan: “…Aku hanyalah pemberi nasehat yang terpercaya bagimu”. Demikian pula di dalam Surat Hud: 62, dinyatakan: “…dan aku memberi nasihat kepadamu”.

Di dalam hadits Nabi Muhammad SAW, sebagaimana diriwayatkan oleh Abi Ruqayyah Tamim bin Aus Addari, Rasulullah bersabda: “Agama itu nasihat. Kami Bertanya: untuk siapa? Bagi Allah, bagi kitabnya, bagi rasulnya , bagi pemimpin-pemimpin kaum Muslimin umumnya”. Riwayat Imam Muslim. Kemudian hadits Nabi Muhammad SAW dari Anas, Nabi Muhammad SAW bersabda: “tidaklah sempurna iman seseorang di antara kalian, hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri”. Hadits Riwayat Mutafaq alaihi.  Dan satu lagi hadits penting, sebagaimana diriwayatkan oleh Jarir bin Abdullah, Nabi SAW bersabda: “saya berbaiat kepada Rasulullah SAW untuk senantiasa menegakkan shalat, menunaikan zakat, dan memberi nasehat kepada setiap muslim”. Hadits Riwayat Mutaffaq alaihi.

Betapa indahnya ajaran Islam yang memberikan pedoman agar sesama umat Islam saling menasehati. Saling berlaku kebaikan dan saling menyanyangi atau saling berkasih sayang. Adakah yang lebih indah dibandingkan dengan pesan tersebut. Konsep dasar Islam itu cinta dan kasih sayang. Sebagaimana dijelaskan oleh hadits Nabi Muhammad SAW., bahwa belumlah sempurna iman seorang muslim jika belum mencintai saudaranya itu. Jadi  mencintai keluarga dan orang lain adalah pertanda kesempurnaan iman.

Dari ayat Alqur’an dan hadits Nabi Muhammad SAW, maka dapat didalami pemahamannya, sebagai berikut:

Pertama, memberikan nasehat kepada sesama umat Islam merupakan kewajiban syaksiyan. Kewajiban individual. Nasehat itu tidak mesti diberikan setiap hari, kecuali para penceramah agama, akan tetapi kewajiban itu dapat berlaku kapan saja dan tidak terikat berapa kali jumlahnya.  Mungkin hanya sekali saja selama hidupnya. Bisa juga berkali-kali sesuai dengan kemampuannya. Memberikan nasehat adalah agar seseorang yang dinasehati selalu berada di jalan Allah SWT. Jika ada seseorang yang melakukan kemungkaran, maka seseorang  berkewajiban untuk mengingatkannya. Jangan dibiarkan seseorang berada di dalam kubangan kejelekan. Akan tetapi harus diingatkan. Orang yang tersesat harus ditunjukkan pada jalan yang benar.

Kedua, umat Islam harus menjaga keluarganya dari api neraka. Artinya, setiap anggota keluarga harus memiliki kesadaran untuk saling mengingatkan. Seseorang tidak boleh egois dalam menjalani kehidupannya. Harus ada kesadaran untuk saling menasehati. Harus ada kerelaan untuk saling berbagi masalah, sehingga dapat dipecahkan bersama. Nasehat itu dimulai dari dalam keluarga. Lalu menyebar ke tetangga, kepada komunitas dan kepada masyarakat luas.

Nasehat yang benar bukan hanya nasehat yang berangkat dari lesan, akan tetapi yang terbaik berasal dari pengalaman kehidupan yang baik yang pantas untuk dinasehatkan. Allah akan memberikan punishment atas orang yang memberi nasehat keagamaan, padahal nasehat tersebut tidak dilakukannya. Apa yang diucapkan adalah apa yang dilakukan. Ada kesesuaian antara ucapan dan perilaku.

Ketiga, Islam mengajarkan nasehat yang baik atau mauidzah hasanah. Jadi ukuran atau indikatornya adalah kebaikan. Bukan sembarang nasehat, akan tetapi nasehat yang dipedomani oleh ajaran Islam. Bingkainya adalah ajaran Islam dan substansinya  adalah kebaikan. Ada trilogy penting, yaitu: nasehat, kebaikan dan kemaslahatan. Nasehat yang tidak berbasis kepada kebaikan untuk membangun kemaslahatan bukanlah nasehat yang diajurkan oleh ajaran Islam.

Kita semua bersyukur bahwa trilogy: nasehat, kebaikan dan kemaslahatan  tersebut sudah menjadi pengetahuan dan perilaku kita, dan kita meyakininya bahwa kebaikan yang kita nasehatkan merupakan amalan yang dipastikan mendapatkan reward  dari Allah SWT. Tidak ada perbuatan baik yang kita lakukan terkecuali dijanjikan oleh Allah akan Rahmatnya  kelak di surga.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

Categories: Opini
Comment form currently closed..