MERENUNGKAN CIPTAAN ALLAH (9)
MERENUNGKAN CIPTAAN ALLAH (9)
Prof. Dr. Nur Syam, MSi
Bismillahir Rahmanir Rahim.
Pada bab ini, Syekh An Nawawi menjelaskan tentang tema yang penting, yang berjudul “Merenungkan tentang Keagungan Makhluk-Makhluk Allah dan Rusaknya Dunia dan Huru-Hara Akhirat dan Semua Perkaranya, Kelalaian Diri dan Mendidiknya serta Mengajaknya untuk Bersikap Istiqamah”. Karena panjangnya judul ini, maka saya buat judul yang lebih sederhana sebagaimana tercantum di atas.
Sebagaimana dijelaskan di dalam Surat As Saba’: 46, Allah berfirman: “…sesungguhnya aku hendak memperingatkan kepada suatu hal saja, yaitu supaya kamu menghadap Allah (dengan Ikhlas) berdua-dua atau sendiri-sendiri, kemudian kamu pikirkan (tentang Muhammad)”. Di dalam Surat Ali Imran: 190-191, Allah berfirman: “Sesungguhnya di dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. (Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata) , Ya Rabb kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”.
Di dalam Surat Al Ghasiyah: 17-21, Allah berfirman: “maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana Dia diciptakan, dan langit bagaimana ditinggikan. Dan gunung-gunung bagaimana Dia tegakkan. Dan bumi bagaimana Dia hamparkan? Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan”. Ada juga sebuah hadits, yang menyatakan: “orang yang cerdik ialah orang yang selalu memperhitungkan (muhasabah) keadaan dirinya”.
Islam adalah agama akal. Artinya Islam begitu menghargai akal manusia yang diciptakan Allah untuknya. Bukan akal yang statis tetapi akal yang dinamis. Akal statis adalah akal yang sama sekali tidak dipergunakan berpikir, sedangkan akal dinamis adalah akal yang selalu digunakan untuk berpikir tentang ciptaan Allah SWT. Islam menganjurkan agar kita berpikir tentang ciptaan Allah dan tidak berpikir tentang Dzat Allah. Manusia diberikan kesempurnaan akal atau inteligensi, yaitu rasional intelligent atau akal murni yang bisa berpikir tentang untung rugi, benar salah dan menentukan pilihan mana yang dipilih di atas beberapa pilihan yang diketahuinya. Berbeda dengan binatang yang hanya dilengkapi dengan insting saja. Insting atau naluri adalah perilaku bawaan sejak lahir yang tidak dipelajari, terjadi secara otomatis dan diturunkan secara genetik yang berguna untuk mempertahankan kehidupan. Manusia dan binatang memiliki kemampuan tersebut.
Manusia juga diberi emotional intelligent atau kecerdasan rasa. Manusia memiliki perasaan yang berbasis hari nurani yang memiliki kepekaan atas kenyataan keilahian dan kemanusiaan bahkan kepekaan kealaman. Kenyataan keilahian bisa hadir dalam diri manusia yang memiliki kecerdasan emosional yang tinggi, manusia juga memiliki kecerdasan atas perasaan kemanusiaan dan juga atas alam seluruhnya. Manusia juga diberikan kecerdasan sosial yang dapat mengantarkan pada akal sehat atas rasa kemanusiaan. Ada simpati dan empati. Ada rasa sayang dan setia, ada rasa cinta dan kebahagiaan. Dan yang tidak kalah penting, manusia diberikan kecerdasan spiritual, yaitu kecerdasan berbasis cita rasa ketuhanan. Manusia bisa berdekatan dengan Tuhan melalui terbukanya hijab yang menyelimuti relasi antara keduanya.
Melalui Alqur’an dan hadits, manusia dapat mendekati Allah dengan berbagai cara, yaitu:
Pertama, mendekati Allah dengan kemampuan ilmu pengetahuan. Allah melebihkan derajad orang-orang yang beriman. Orang yang menggunakan akal pikirannya untuk meneliti tentang eksistensi Tuhan. Orang yang pada tataran pikiran membenarkan tentang keyakinan bahwa ada Dzat Maha Agung yang merancang, mendesain, menciptakan dan memelihara alam yang sedemikian kompleks. Tidak mungkin alam yang teratur itu terjadi dengan sendirinya. Dipastikan ada Akal Agung yang menciptakannya. Asyhadu anla ilaha illallah. Tuhan yang menciptakan dan memelihara seluruh tata surya dengan kehidupannya. Di dalam teks suci dinyatakan agar manusia menggunakan akalnya untuk merenung dan berpikir tentang ciptaan Allah atau disebut berpikir tentang ayat-ayat kauniyah.
Kedua, orang yang mendekati Allah dengan mata batinnya. Allah itu ghaibul ghuyub atau sirrul asrar. Tuhan itu kegaiban dari yang paling gaib, dan rahasia dari yang paling rahasia. Makanya untuk bisa masuk ke dalamnya harus menggunakan pendekatan yang khas, yang disebut sebagai kasyaf atau tersingkapnya hijab antara kegaiban Tuhan dengan spiritualitas manusia. Tuhan telah membekali manusia dengan spiritual intelligent yang sangat unik, dan memberikan instrumen untuk menguasainya. Instrumen tersebut adalah dzikir atau wirid yang metodenya sudah diberikan oleh Rasulullah SAW dan ditafsirkan melalui otoritas para ulama yang hebat.
Ketiga, orang yang mendekati Allah dengan kemampuan yang terbatas. Orang awam tetapi selalu menjaga keimanannya dan ibadahnya. Orang yang di dalam keimanannya sangat sederhana tetapi meyakini dengan sepenuh hati tentang siapa Tuhannya. Sebagaimana seorang penggembala yang akan dibeli satu dombanya dan tidak usah bercerita kepada pemiliknya. Dirayu untuk memberikannya tetapi tetap pada keyakinannya. Di kala dinyatakan bahwa pemiliknya tidak tahu, maka si penggembala menyatakan fa ainallah. Lalu di mana Allah. Pemiliknya tidak tahu tetapi Allah mengetahuinya. Bagaimana dengan kita?
Wallahu a’lam bi al shawab.
