• May 2026
    M T W T F S S
    « Apr    
     123
    45678910
    11121314151617
    18192021222324
    25262728293031

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

MEMULIAKAN KELUARGA NABI MUHAMMAD SAW (43)

MEMULIAKAN KELUARGA NABI MUHAMMAD SAW (43)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Bismillahir Rahmanir Rahim.

Pada Bab 43, Syekh Imam An Nawawi menjelaskan tentang “Memuliakan Baytnya Rasulullah SAW Dan Menerangkan Keutamaan Mereka”. Di dalam artikel ini saya rumuskan judul “Memuliakan Keluarga Rasulullah”. Dengan catatan bahwa keluarga Rasulullah SAW memiliki keutamaan yang tidak dimiliki oleh orang lain, sebab di dalam tubuhnya terdapat garis keturunan Nabi Muhammad SAW. Ada dua garis keturunan Nabi Muhammad SAW, yaitu garis keturunan biologis dan ada garis keturunan ideologis. Jika bayt Nabi adalah keturunan Muhammad SAW, secara genealogi biologis  dan sekaligus juga ideologis, sedangkan selain itu adalah genealogi ideologis.

Sesungguhnya, setiap orang memiliki kelebihan yang sudah diberikan oleh Allah kepada hambanya. Kelebihan yang berupa fisikal, misalnya ketampanan dan kecantikan sesuai dengan konstruksi sosialnya, dan ada kelebihan spiritual yang juga diberikan oleh Allah kepada hambanya. Semuanya merupakan karunia Allah atas manusia di dalam kehidupannya di dunia. Allah sesungguhnya tidak membedakan manusia dari asal usul, dari latar belakang sosialnya, latar belakang etnisnya dan sebagainya. Di dalam pandangan Allah, maka semuanya sama. Dan yang dibedakan adalah ketaqwaannya. Maka, siapa yang paling bertaqwa itulah yang terbaik.

Nasab Nabi Muhammad SAW sering diperdebatkan. Benarkah seseorang merupakan bagian dari nasab Rasulullah ataukah itu claimed pribadi dan kelompoknya untuk mengangkat citra diri atau kelompok bahwa mereka memiliki genealogi nasab dengan Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Terhadap keturunan Nabi Muhammad SAW tentu saja kita harus menghormati dan memuliakannya. Keturunan Nabi Muhammad SAW tentu adalah orang yang dapat menjadi contoh dalam tampilan perilaku keberagamaannya. Mereka dapat menjadi contoh dalam ketauhidan, peribadahan dan akhlaknya. Bagi kita, rasanya ada sebuah kebenaran jika menyatakan bahwa keturunan Rasulullah dipastikan dapat menjadi contoh kehidupan di masa lalu, sekarang dan akan datang.

Di dalam Surat Al Ahzab: 33, menjelaskan bahwa: “…sesungguhnya Allah hanya bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlil bayt dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya”. Di dalam Surat Al ahzab: 32, dijelaskan: “demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketaqwaan hati”.

Kemudian terdapat hadits Nabi Muhammad SAW, yang diceritakan oleh Ibnu Umar dari Abu Bakar As Shiddiq  dalam hadits  mauquf alaih , bahwa dia berkata: “peliharalah kehormatan Nabi Muhammad SAW yaitu dengan memuliakan ahlinya (kluarganya). Hadits Riwayat Imam Bukhari.

Berdasarkan atas ayat Alqur’an dan Hadits Nabi Muhammad SAW, maka dapat dipahami tentang bagaimana yang dapat dilakukan terhadap keturunan Rasulullah SAW. Perilaku tersebut adalah menghormati dan memuliakannya. Ada tiga hal yang dapat dijelaskan, yaitu:

Pertama, kita tentu tidak dapat dengan mudah memahami siapakah keturunan Rasulullah tersebut. Pada akhir-akhir ini terdapat perdebatan yang cukup keras tentang siapa sesungguhnya keturunan Rasulullah, khususnya yang di Indonesia. Kaum Ba’alawi yang bersikeras sebagai keturunan Rasulullah SAW. Lalu muncul tandingan yang menyatakan bahwa Kaum Ba’alawi di Indonesia bukanlah keturunan Rasulullah SAW. Mereka yang menolak itu menggunakan pendekatan saintific dengan pembuktian haplogroup. Dan diketahui berdasarkan uji DNA bahwa kelompok Ba’alawi tidak bersambung dengan DNA keturunan Rasulullah. Kaum Ba’alawi memiliki haplogroup H, sedangkan keturunan Rasulullah berdasarkan atas kepastian keturunan, Raja Abdullah Yordania, berhaploproup J.  Pertentangan ini mengeras, dan tidak dapat dipertemukan. Menyikapi atas hal ini, maka yang beralaku  adalah Islam mengajarkan untuk menghormati dan memuliakan atas orang-orang yang telah menjadi tulang punggung penyebaran Islam di Indonesia. Prinsipnya adalah kita harus menghormati terhadap siapa saja orang Islam yang menjadi contoh dalam keislamannya.

Kedua, kita diwajibkan untuk memuliakan Nabiyullah Muhammad SAW. Dan di antara sarananya adalah dengan memuliakan keturunannya. Bahkan di kala kita membaca shalawat, maka diteruskan dengan “Allahummas shalli ‘ala sayyidina Muhamaad wa ala ali sayyidina Muhammad”. Semoga keselamatan tercurah kepada Nabi Muhammad SAW dan atas keluarga Nabi Muhammad SAW. Tidak hanya keluarga dekatnya tetapi juga keluarga jauhnya, yang bersambung tali secara genealogis dengan Nabi Muhammad SAW. Ayatullah Ali Khamanei, syahid dalam perang Iran versus Amerika dan Israel, merupakan keturunan secara genealogis dan ideologis pada Nabi Muhammad SAW.

Sebagai orang awam, maka jika ada seseorang yang mengaku sebagai keturunan Rasulullah yang patut dimuliakan adalah jika ucapan, sikap dan perilakunya itu berselaras dengan ikatan genealogis dan ideologis Nabi Muhammad SAW. Jika tidak maka secara awam dapat “diragukan” sebagai bagian dari ikatan genealogis Nabi Muhammad SAW.

Ketiga, Nabi Muhammad SAW adalah satu-satunya manusia yang diberi otoritas oleh Allah SWT untuk memberikan syafaat pada hari kiamat. Oleh karena itu kita harus mendekat kepada Rasulullah dengan cara membaca shalawat kepada Nabi Muhammad SAW sebanyak-banyaknya dan diikuti dengan keimanan yang benar dan ibadah yang benar dan berakhlak yang benar. Jika bisa seperti ini, rasanya kita akan bisa mendekat kepada Rasulullah SAW. Kalau tidak ring satu paling tidak  ring sepuluh, 20, 30 dan seterusnya.  Subhanallah.

Wallahu a’lam bi al shawab.

Categories: Opini
Comment form currently closed..