• May 2026
    M T W T F S S
    « Apr    
     123
    45678910
    11121314151617
    18192021222324
    25262728293031

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

KEUTAMAAN BERBUAT BAIK (42)

KEUTAMAAN BERBUAT BAIK (42)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Bismillahir Rahmanir Rahim.

Pada Bab 42, Syekh Imam An Nawawi menjelaskan tentang “Keutamaan Berbakti Kepada Sahabat Ayah, Ibu, Kerabat, Istri, Dan Orang Lain Yang Sunnah Untuk Dimuliakan”.

Betapa Indahnya Islam, hingga kita diperintahkan oleh Rasulullah SAW untuk menghormati dan memuliakan kawan-kawan orang tua kita, ibu dan bapak, bahkan juga kepada kerabat, istri dan keluarga yang memang memiliki kemuliaan di mata Allah SWT.

Mungkin selama ini kita hanya terpikirkan bahwa menghormat dan memuliakan manusia terbatas kepada kedua orang tua, kakek, nenek, buyut, canggah, udeg-udeg, gantung siwur dan seterusnya. Dan ini sangat wajar sebab kita semuanya hadir di dalam kehidupan duniawi karena melalui mereka semua. Makanya, Islam mengajarkan agar kita terus menjaga penghormatan dan memuliakan mereka semua dengan mendoakannya, membaca kalimat tauhid, kalimah thayyibah agar mereka semua mendapatkan rahmat Allah SWT.

Ternyata, Islam juga mengharuskan kita menghormat kepada teman-teman ayah dan ibu dan kerabat lainnya bahkan juga teman-teman kita semua. Islam memang agama penuh dengan cinta dan kasih sayang kepada dunia kemanusiaan. Tidak dianggap beriman jika kita tidak menghormat atas eksistensi kemanusiaan. Cinta dan kasih sayang yang dapat dilakukan berbasis atas keimanan dan amal shaleh atau cinta dan kasih sayang berbasis rasa kemanusiaan. Jika kita mau berbuat baik, maka jangan tanyakan apa suku, etnis dan agamanya. Tolong menolonglah dengan keikhlasan dan kesabaran.

Ada hadits-hadits yang dinukil oleh Imam An Nawawi, yaitu sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Umar, bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda: “Sebaik-baik kebajikan adalah seseorang yang menyambung tali persaudaraan kenalan ayahnya”. Hadits Riwayat Imam Muslim. Di dalam hadist lain dinyatakan oleh Aisyah, bahwa: “Tidak pernah saya cemburu kepada seseorang melebihi kecemburuan saya kepada Khadijah. Padahal saya tidak pernah berjumpa dengannya, tetapi karena Nabi sering menyebut-nyebutnya  dan beliau sering menyembelih kambing kemudian memotong beberapa bagian  dan dikirimkan kepada teman-teman baik Khadijah. Pernah saya berkata kepada beliau: “seolah-olah di dunia ini tidak ada wania selain Khadijah. Maka Beliau menjawab ”sesungguhnya Khadijah itu begini dan begitu  dan hanya dengannya  aku dikaruniai anak”. Hadits Riwayat Mutafaq alaih.

Hadits yang diceritakan oleh Anas bin Malik, bahwa: “Aku keluar bersama Jabir ibnu Abdullah Al Bajali dalam suatu perjalanan. Ia selalu melayani saya, maka saya berkata kepadanya, “Kamu janganlah berbuat seperti itu. Ia menjawab sesungguhnya saya melihat sahabat Anshar senantiasa melayani Rasulullah SAW dalam segala hal, maka akupun bersumpah pada diriku untuk tidak berkawan dengan sahabat Anshar kecuali aku harus melayaninya”. Hadits Riwayat Mutafaq alaih.

Dari hadits-hadits yang dinukil oleh Syekh Imam Nawawi ini, maka dapat digarisbawahi dalam tiga hal, yaitu: pertama, sebagai konsekuensi Islam sebagai rahmatan lil alamin, maka teladan yang diberikan oleh Allah adalah Nabi Muhammad SAW. Nabi Muhammad SAW merupakan teladan dalam ilmu pengetahuan, sebab Beliau sangat menganjurkan agar umat Islam belajar sampai ke liang lahat atau belajar ilmu sampai di Cina. Nabi Muhammad SAW belum pernah ke China tetapi menganjurkan umatnya untuk belajar di China, karena beliau secara batin memahami bahwa China merupakan area yang memiliki banyak Kebajikan pada zamannya. Teks ini yang mengilhami para ilmuwan Islam pada waktu puncaknya Baitul Hikmah untuk belajar ilmu yang bersumber dari Persia, India, Romawi dan tempat-tempat lain. Karena keteladanan Nabi Muhammad SAW, maka Islam menggapai  puncak peradaban dunia.

Kedua, Islam mengajarkan tidak hanya ukhuwah Islamiyah, tetapi juga ukhuwah basyariyah. Ukhuwah Islamiyah, misalnya kesamaan agama dengan orang tua, dengan sahabat, dengan kerabat dan sebagainya menjadi tolok ukur bagaimana ekspresi keberagamaan kita. Contoh yang dekat dengan kita adalah KH. Hasyim Asyari dan KH. Ahmad Dahlan,  dua orang bersahabat yang tidak terkooptasi dengan pemahaman beragamanya. Jika KH. Hasyim Asy’ari akan datang di masjidnya KH. Ahmad Dahlan, maka dipasang beduk untuk tanda shalat, dan jika KH. Ahmad Dahlan akan berkunjung ke KH. Hasyim Asy’ari, maka bedug diturunkan. Dermikian pula sebaliknya.

Di era modern, maka kita mengenal Gus Dur sebagai tokoh toleransi sosiologis. Artinya yang diperbolehkan adalah melakukan toleransi dalam relasi sosial. Tidak toleransi teologis artinya bahwa secara teologis bisa saling dipertukarkan. Tidak boleh Tuhan itu disembah dalam cara dan metode yang sama. Yang beda jangan disamakan dan yang sama jangan dibedakan. Islam menganjurkan agar sesama manusia mengembangkan ukhuwah basyariyah atau ukhuwah insaniyah. Jadi tidak semata-mata ukhuwah Islamiyah akan tetapi juga ukhuwah basyariyah. Jadi, ukhuwah Islamiyah yes dan ukhuwah basyariyah okey.

Ketiga, kita diminta oleh Rasulullah SAW untuk menghormati orang tua, orang yang lebih tua, orang yang menjadi sahabat orang tua, orang yang menjadi sahabat kita, orang yang menjadi panutan kita, dan orang yang diperlukan untuk dimuliakan. Inilah keutamaan ajaran Islam yang memberikan ajaran yang momot dengan kecintaan dan kasih sayang. Tidak hanya diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW tetapi juga dipraktekkan oleh para ulama di Indonesia.

Ada banyak instrument untuk melakukan kebaikan, dan di antara kebaikan tersebut adalah memberikan penghormatan dan pemuliaan atas orang yang memang pantas untuk diperlakukan dengan perilaku tersebut. Insyaallah kita semua sudah menjadi bagian dari perilaku seperti ini. Yang baik kita teruskan, yang kurang kita perbaiki dan yang jelek kita tinggalkan.

Wallahu a’lam bi al shawab.

Categories: Opini
Comment form currently closed..