• May 2026
    M T W T F S S
    « Apr    
     123
    45678910
    11121314151617
    18192021222324
    25262728293031

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

ISTIQAMAH (8)

ISTIQAMAH (8)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Bismillahir Rahmanir Rahim.

Istiqamah merupakan istilah yang sudah sangat kita kenal. Istiqamah biasanya dikaitkan dengan ibadah kepada Allah SWT. Istiqamah merupakan suatu konsep yang mengacu kepada keberlanjutan dan kepatuhan tiada henti kepada Allah tanpa jeda dengan menjalankan secara rutin untuk beribadah kepada-Nya. Orang yang dinyatakan sebagai istiqamah adalah orang yang beribadah kepada Allah tanpa jeda, terus menerus, continue. konsisten dan rutin.

Istiqamah sesungguhnya memiliki makna yang lebih luas. Dapat diartikan sebagai keteguhan di dalam keyakinan atau mengesakan Allah tanpa batas, membela keyakinannya tanpa batas, dan mematuhi akan perintahnya tanpa batas. Tidak ada dinding sekat yang bisa mengurangi keyakinannya tersebut. Semua diberikannya kepada Allah SWT. Selain itu juga istiqamah di dalam menjalankan ajaran Allah melalui Nabi Muhammad SAW. Tidak berkurang sedikitpun untuk beribadah di mana saja dan kapan saja. Juga terus menerus atau rutin berbuat baik, sebagai manifestasi keyakinannya kepada Allah SWT. Diyakini bahwa Allah Maha Baik dan akan memberikan balasan atas amal kebaikannya.

Ada banyak contoh, misalnya keteguhan iman Masyitah pada zaman Fir’aun. Dia diancam dan dimasukkan ke dalam bak berisi air mendidih dan tidak goyang sedikitpun keimanannya. Atau Aisyah istri Fir’aun yang memiliki keteguhan hati tidak mau menuruti perintah Fir’aun bahkan di kala akan disetubuhinya. Allah menyelamatkan Aisyah dengan mengirim Jin yang dapat menyerupai Aisyah sehingga Aisyah selamat dari hubungan seks yang tidak akan dilakukannya di dalam menjaga imannya. Sahabat Bilal yang disiksa oleh orang-orang Quraisy agar murtad dan tidak dilakukannya. Bilal akhirnya menjadi muadzin Rasulullah yang luar biasa. Subhanallah.

Allah SWT di dalam Surat Hud: 112,  menyatakan: “Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar sebagaimana diperintahkan kepadamu”. Di dalam Surat lain, Al Ahqaf: 13-14, dinyatakan: “sesungguhnya orang-orang yang mengatakan Rabb kami ialah Allah, kemudian mereka tetap istiqamah, maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula)  berduka cita. Mereka itulah penghuni-penghuni surga, mereka kekal di dalamnya, sebagai balasan atas apa yang mereka lakukan”.

Dua ayat ini memberikan kabar gembira kepada umat Islam, bahwa pahala tertinggi bagi orang yang istiqamah adalah dapat memperoleh surganya Allah. Mereka akan kekal di dalam surga tersebut dengan berbagai fasilitas yang menyenangkan. Catatannya bahwa manusia tersebut harus melakukan kebaikan secara terus menerus, continue dan rutin. Rutinitas atas amalan kebaikan yang akan menjadikannya terpelihara dari perbuatan jelek yang menyesatkan.

Di dalam hadits Nabi Muhammad SAW, sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Amir, ada yang menyatakan dari Abu Amrah Sufyan bin Abdullah, dia berkata: “Saya bertanya Wahai Rasulullah:   katakanlah kepadaku suatu ucapan dalam ajaran Islam yang saya tidak dapat menanyakannya tentangnya selain Engkau, Beliau menjawab: katakanlah saya beriman kepada Allah kemudian berlaku istiqamahlah”. Hadits  diriwayatkan oleh Imam Muslim.

Pada hadits lain, sesuai dengan Riwayat Abu Hurairah, Dikatakan: berkata Rasulullah: “dekatkan dan tepatilah oleh kalian. Dan ketahuilah, tidak ada seorangpun di antara kalian yang selamat karena amal perbuatannya. Para sahabat bertanya: tidak juga Engkau Wahai Rasulullah? Beliau menjawab: tidak juga saya, melainkan jika Allah meliputiku dengan Rahmat dan karunianya”.

Istiqamah secara istilah adalah sikap teguh pendirian, konsisten dan selalu dalam menjalankan kepatuhan atau ketaatan kepada Allah SWT dalam keyakinan atau ketauhidan atau akidah, peribadahan atau penyembahan dan ritual kepada Allah serta berakhlak sesuai dengan nilai-nilai di dalam Islam. Dengan demikian istiqamah merupakan perilaku yang secara konsisten dilakukan oleh seorang hamba baik dari sisi teologis, ritual dan akhlak. Selain itu juga berupaya untuk dapat menjauhi larangan-larangan Allah SWT secara konsisten.

Bagaimana caranya kita membangun istiqamah, yaitu:

Pertama,  menjaga imannya kepada Allah SWT. Tidak pernah ragu akan keyakinannya tersebut. Tidak mempertanyakan tentang kekuasaan Allah sebagai pencipta dan pemelihara. Kita diperbolehkan untuk merenungkan dan memikirkan ciptaan Allah tetapi tidak boleh menanyakan tentang dzat Allah. Maka ungkapan yang benar adalah saya beriman kepada Allah dan akan konsisten dengannya. Kita harus meyakini bahwa Allah SWT mengetahui yang lahir dan batin, meskipun itu di dalam kejauhan batin kita.

Kedua, menjaga ibadah kepada Allah melalui sunnah Rasulullah SWT. Apa yang dilakukan oleh Rasulullah adalah apa yang kita lakukan. Ada sesuatu yang konsisten tidak berubah dan ada yang bisa berubah tetapi tidak bertentangan dengan ajaran Nabi Muhammad SAW. Ada substansi ajaran Rasul dan ada yang assesori yang sesungguhnya tidak bertentangan dengan ajaran Rasul. Misalnya substansi haji adalah muqim di Arafah,  tetapi cara untuk sampai di situ ditentukan oleh factor kezamanannya. Jangan menambah shalat wajib, jangan menambah syahadat, jangan menambah hari di dalam ibadah ramadlan, harus sebulan. Adapun cara untuk memahami kapan hilal sudah eksis atau belum adalah kawasan tafsir para ulama.

Ketiga, menjaga akhlak agar selalu berada di dalam kaidah-kaidah di dalam Islam. Misalnya dalam relasi social, maka gunakan qaulan layyinan atau tutur kata yang lembut, gunakan qaulan kariman atau pernyataan yang menyenangkan, dan sebagainya. Jangan menyakiti orang lain, karena suatu ketika kita akan disakiti. Di dalam konsepsi Jawa disebut ngunduh wohing pakarti atau memanen atas apa yang dilakukan.

Keempat, menjaga hablum minallah atau hubungan yang mesra dengan Allah SWT. Tuhan itu kekasih yang tidak ada bandingannya. Maka manusia harus berlaku sebagai seorang kekasih yang patuh dan setia atas apa yang dimintanya dan memenuhi semua tuntutannya. Kemudian menjaga relasi atau hablum minan nas. Hubungan manusia yang dikehendaki oleh Islam adalah hubungan yang selaras, serasi dan seimbang. Di dalam konsepsi Jawa dinyatakan “aja sapa sira sapa ingsung” atau menganggap diri paling hebat, paling bermanfaat, paling benar dan sebagainya. Dan tidak kalah penting juga menjaga alam atau hablum minal alam atau berbuat baik kepada sesama ciptaan Allah, jangan hanya memanfaatkan alam tetapi juga memberikan kehidupan yang layak bagi alam.

Kelima, menjaga marwah dan martabat sebagai orang beragama. Orang beragama akan dilihat oleh orang lain atas apa yang menjadi performance-nya. Apa yang dilakukan dan apa yang disuguhkan dalam relasi social. Jangan sampai ada tindakan kita yang merugikan orang lain. Harus diupayakan agar tindakan kita menggembirakan orang lain. Sudahkah kita seperti ini.

Wallahu a’lam bi al shawab.

Categories: Opini
Comment form currently closed..