BANYAK JALAN KEBAIKAN (13)
BANYAK JALAN KEBAIKAN (13)
Prof. Dr. Nur Syam, MSi
Bismillahir Rahmanir Rahim.
Pintu kebaikan itu terbuka lebar dan sangat banyak variasinya. Bukan hanya banyak tetapi sangat banyak. Di dalam slogan sering dinyatakan “banyak jalan menuju Roma” atau “banyak jalan menuju surga”. Allah memang memberikan jalan seluas-luasnya, selebar-lebarnya, sebanyak-banyaknya kepada umat Islam untuk mencari dan menemukan jalan kebaikan, melaluinya dan sampai pada tujuan akhirnya. Di dalam Kitab Riyadhus Shalihin, Karya Syekh Imam An Nawawi disebutkan “Bab Penjelasan Banyaknya Jalan Kebaikan”.
Jalan untuk menuju kepada Tuhan itu banyak sekali, yang kemudian dikenal sebagai jalan kebaikan. Ada yang mencarinya melalui jalan ibadah mahdlah atau ibadah yang ditujukan kepada Allah SWT, seperti shalat, Haji, Puasa dan amalan dzikir yang istiqamah atau konsisten. Ada yang melalui jalan zakat, infaq, sedekah, wakaf dan ibadah ghairu mahdlah. Ibadah yang manfaatnya untuk kemanusiaan. Mendekati Tuhan bisa melalui jalan yang ramai, banyak dilihat orang, sehingga amalan ibadah itu diketahui sebagai jalan jahriyah. Ibadah yang bisa dilakukan secara bersama-sama dalam banyak variannya, dan ada jalan sunyi, sebagaimana yang dilakukan oleh para sufi di dalam mendekati Tuhan atau jalan sirriyah. Keduanya jika dilakukan dengan mujahadah atau sungguh-sungguh, maka akan menemukan jalan yang lurus, jalan yang benar, yang akan mengantarkannya sampai kepada Allah SWT.
Ada banyak ayat Alqur’an yang menyatakan jalan menuju Tuhan tersebut. Di antara ayat tersebut adalah Surat Al Baqarah: 215, yang artinya: “dan apa saja kebaikan yang kamu perbuat, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya”. Di ayat lain, Surat Al Baqarah: 19, artinya: “Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya”. Di dalam Surat Al Zalzalah: 7, dinyatakan: “barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya”.
Hadits Nabi Muhammad SAW yang terkait dengan hal ini juga banyak, di antaranya adalah sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Dzarr Junduh bin Junaidah, Rasulullah bersabda: “Wahai Rasulullah, amalan apakah yang paling utama? Beliau menjawab: “beriman kepada Allah dan berjihad di jalannya”. Saya bertanya lagi, “memerdekakan hamba sahaya yang bagaimana yang lebih utama”? Beliau menjawab: “sangat disayang pemiliknya dan yang paling mahal harganya”. Saya bertanya lagi: “seandainya saya tidak mampu mengerjakan demikian, maka apakah yang dapat saya lakukan”? Beliau bersabda: “kamu membantu orang yang bekerja atau kamu menyibukkan diri agar hidupmu tidak sia-sia”. Saya bertanya lagi: “Wahai Rasulullah, bagaimana jika saya tidak mampu melakukan sebagian pekerjaan itu”? Beliau menjawab: “janganlah kamu berbuat kejahatan kepada sesama manusia, karena sesungguhnya yang demikian itu termasuk sedekah untuk dirimu”. (Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim).
Ada lagi hadits yang sangat mendasar sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Dzar bahwa sesungguhnya Rasulullah bersabda: “setiap pagi ruas tulang kalian terdapat sedekah. Setiap ucapan tasbih (subhanallah) adalah sedekah. Setiap ucapan Tahmid (alhamdulillah) adalah sedekah. Setiap ucapan tahlil (la ilaha illallah) adalah sedekah, setiap ucapan takbir (Allahu Akbar) adalah sedekah, memerintah kebaikan adalah sedekah, mencegah perkara mungkar adalah sedekah. Dan dua rakaat yang dikerjakan dalam shalat dhuha telah mencakup segalanya”. (Diriwayatkan oleh Imam Muslim).
Hadits yang panjang tetapi sarat makna. Dengan ayat Qur’an dan hadits ini, maka kita menjadi sadar bahwa begitu banyaknya jalan menuju kebaikan. Di dalam memahami teks-teks ini, maka ada beberapa hal, yaitu:
Pertama, Allah SWT memberikan banyak jalan kepada kita untuk melakukan kebaikan, sebagai jalan menuju Allah. Kita bisa memilih mana yang bisa dilakukan. Tetapi dilakukan secara konsisten dan penuh kesungguhan. Bil istiqamah wal mujahadah. Harap dipahami bahwa amalan yang disukai oleh Allah adalah amalan yang dilakukan secara mudawamah atau istiqamah. Bukan amalan sekali banyak, tetapi Allah suka amalan sedikit tetapi konsisten. Amalan kebaikan itu lalu terus ditingkatkan. Thabaqan an thabaq. Setahap demi setahap dan akhirnya menjadi banyak. Bahkan dinyatakan oleh Nabi Muhammad SAW bahwa membuang benda di jalan yang bisa membahayakan orang lain itu merupakan sedekah. Tersenyum dan membuat orang lain tertawa adalah sedekah. Seorang pelacur yang menolong anjing kehausan dan kelaparan, lalu Allah mengganjar dengan surga. Di saat itu, ada keikhlasan yang tidak terhingga dari pelacur itu, sehingga Allah SWT dengan sifat ketidakterhinggaannya dapat bertemu dan memaafkan semua kesalahannya.
Kedua, ada amalan ibadah yang biasa kita lakukan sebagaimana dicontohkan oleh para ulama, sebuah bacaan: “subhanallah walhamdulillah wa la ilaha illallah wallahu akbar”. Ternyata bacaan ini adalah bacaan yang berdimensi sedekah. Jadi ada sedekah bacaan lesan dan hati dan ada sedekah bil fi’li atau perbuatan. Biasanya kita berpikirnya yang menguntungkan. “saya sudah bersedekah sebagaimana hadits Nabi Muhammad SAW, maka tidak perlu sedekah bil fi’li”. Inilah pemikiran yang keliru, sebab Nabi Muhammad SAW tidak hanya melakukan amal ibadah dengan pikiran, lesan dan hati tetapi juga amalan shalihan, amalan yang nyata dalam bentuk benda, uang atau jasa.
Ketiga, betapa banyak hal yang dapat kita lakukan. Ada banyak menu, ada banyak merek ibadah yang dapat dilakukan. Kita tinggal memilih mana yang terbaik kita lakukan dan kemudian dikerjakan dengan Ikhlas. Ikhlas, Sabar dan Syukur adalah trilogy dalam perilaku kita di dalam beragama. Jika kita dapat melakukannya, maka insyaallah kita akan menjadi orang yang bahagia fiddini, wad fiddunya wal fil akhiarah.
Wallahu a’lam bi al shawab.
