• May 2026
    M T W T F S S
    « Apr    
     123
    45678910
    11121314151617
    18192021222324
    25262728293031

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

AJAKAN PADA KEBENARAN DAN KESESATAN (20)

AJAKAN PADA KEBENARAN DAN KESESATAN (20)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Bismillahir Rahmanir Rahim.

Sebagai pedoman di dalam kehidupan umat manusia, maka agama selalu menganjurkan kepada perbuatan yang baik dan melarang perbuatan yang buruk. Sisi  kehidupan manusia yang  mondar-mandir di dalam dua hal ini. Ada kalanya manusia tertarik kepada perbuatan yang baik dan ada kalanya tertarik pada perbuatan yang buruk. Tarik menarik antara kebaikan dan keburukan merupakan dinamika di dalam kehidupan manusia.

Ada manusia yang selalu berada di dalam perilaku kebaikan dan ada manusia yang berada di dalam perilaku keburukan. Para Nabi adalah jenis manusia yang selalu melakukan kebaikan sesuai dengan perintah Allah dan ada manusia yang selalu berada di dalam kejelekan karena pilihan perilakunya. Para Nabi seperti Nabi Ibrahim, Nabi Musa, Nabi Isa dan Nabi Muhammad SAW adalah teladan dalam berperilaku baik. Sementara itu seperti Firaun, Nebukadnezar, Donald Trump dan Benyamin Netanyahu adalah contoh manusia yang dinyatakan berbuat kejahatan. Orang-orang yang haus darah.

Sesungguhnya agama apapun selalu diwarnai dengan perintah menjalankan  kebajikan. Agama mengajarkan tentang keadilan, kesetaraan dan ketiadaan diskriminasi. Agama mengajarkan tentang kerukunan dan kasih sayang. Agama mengajarkan agar manusia berperilaku yang tidak bertentangan dengan cinta dan perdamaian. Agama merupakan pedoman tentang bagaimana membangun relasi yang baik dengan Tuhan, Alam dan Manusia.

Tetapi manusia kemudian membuat penafsiran tersendiri atas perintah kebaikan dengan melakukan kesebalikannya. Dunia yang seharusnya penuh dengan canda dan tawa, dengan rasa senang dan bahagia, dengan  rasa estetika dan etika, lalu pecah genderang perang.  Dunia menjadi hancur berantakan, luluh lantak tak beraturan dan kiamat seakan telah datang. Demikianlah silih berganti sang pemenang menjadi pecundang dan sang pecundang menjadi pemenang.

Dalam sejarah kehidupan dijumpai misalnya Fir’aun yang merasa menjadi titisan dewa Matahari, Nebukadnezar yang menjadi representasi dewa, raja-raja Romawi yang menjadi legenda karena kekerasan di dalam kekuasaannya. Mereka mengajarkan agar manusia menyembah patung yang dibuatnya sendiri. Di dalam proses pencarian Tuhan, pesan Sang Nabi tidak diindahkan atau tidak dihiraukan. Nabi-Nabi dihina, dilecehkan bahkan dibunuh. Nabi Yahya  dipenggal kepalanya, Nabi Isa  akan dibunuh hingga diangkat ke Langit dan yang menyerupainya lalu disalib di tiang gantungan, Nabi Muhammad juga harus berhijrah dari Makkah ke Madinah.

Oleh karena itu, Allah begitu menghargai atas orang yang mengajak kepada kebaikan dengan ungkapan dan perilakunya. Bukan hanya di ucapannya saja tetapi juga di dalam tindakannya. Mereka adalah orang yang bertanggung jawab atas ucapan dan perilakunya. Orang yang tidak ada sedikitpun keraguan untuk menyebarkan kebenaran dan menghindari keburukan. Mereka adalah para ulama, para da’i dan para guru serta para pengambil kebijakan negara yang menyerukan kebaikan dan bukan taghut atau kebijakan yang mengajarkan kepada kejahatan.

Alqur’an menjelaskan sebagaimana di dalam Surat An Nahl: 125 dinyatakan: “serulah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik”. Atau di dalam Surat Al Maidah: 2, dinyatakan: “dan tolong menolonglah kamu  dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa”. Lalu di dalam Surat Ali Imran: 104, dinyatakan: “dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan”.

Di dalam hadits Nabi Muhammad SAW sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud ‘Uqbah bin Amr al Anshari bahwa Rasulullah bersabda: siapa saja yang menunjukkan (mengajak) kepada kebaikan, maka ia mendapat pahala seperti pahala orang yang mengerjakan kebaikan itu”. Hadits Riwayat Imam Muslim. Kemudian hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, bahwa Rasulullah bersabda: “siapa saja yang mengajak kepada kebaikan, maka dia memperoleh pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya tanpa dikurangi sedikitpun. Dan siapa yang mengajak kepada kesesatan, maka dia  mendapat dosa seperti dosa yang mengerjakannya tanpa dikurangi sedikitpun”. Ada juga sebuah hadits, seperti yang diriwayatkan oleh Anas bahwa Rasulullah berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya saya ingin ikut berperang tetapi tidak mempunyai bekal. Rasulullah bersabda:  datanglah kepada si Fulan karena ia sudah mempersiapkan tetapi ia sakit. Kemudian pemuda itu datang kepada Fulan dan berkata, Rasulullah mengucapkan salam untukmu. Kemudian melanjutkan perkatannya: berikanlah perbekalan perangmu untukku. Kemudian si Fulan itu berkata:   wahai istriku, berikanlah perbekalan yang sudah aku siapkan dan jangan kamu simpan sedikitpun. Demi Allah, jangan kamu simpan sedikitpun bekal yang sudah aku persiapkan, karena hal itu pasti akan membawa berkah bagi dirimu”.

Dari Alqur’an dan hadits Nabi Muhammad SAW ini, maka ada beberapa hal yang dapat digambarkan.

Pertama,  terbayang bagi kita betapa banyaknya pahala yang mengalir kepada para penyebar Islam di berbagai wilayah belahan dunia. Jika saya berziarah ke makam para waliyullah, maka saya terbayang bagaimana cahaya di alam kubur karena kehadiran para peziarah yang selalu membacakan ayat Alqur’an, wirid atau dzikir yang memuja-muji Tuhan seru sekalian alam. Mereka adalah orang yang mengabdikan hidupnya untuk kejayaan Islam dan hasilnya dapat dilihat dan dirasakan sekarang. Subhanallah.

Kedua, terbayang juga di benak kita betapa banyaknya siksaan yang dirasakan oleh orang-orang yang selalu mengajak kepada kejahatan atau keburukan. Para raja thaghut, pemimpin harus darah dan kehidupannya bersimbah dengan kekerasan dan kekejaman, maka mereka akan merasakan dosanya sendiri dan dosa orang yang terperosok ke dalam jalan kejelekan sebagaimana yang dianjurkannya. Mereka yang seperti ini tentu alam kuburnya menjadi gelap pekat dan penuh dengan kejadian yang menyedihkan.

Ketiga,  kita pantas bersyukur sebab tidak menjadi orang dalam kategori penyesat orang lain. Kita meskipun hanya sedikit tentu sudah beramal kebaikan dan mengajak orang untuk berbuat baik dengan cara yang bisa kita lakukan. Kita yakin bahwa Allah akan memberikan pertolongan.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

Categories: Opini
Comment form currently closed..