• July 2024
    M T W T F S S
    « Jun    
    1234567
    891011121314
    15161718192021
    22232425262728
    293031  

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

BERDOALAH MUMPUNG MASIH ADA WAKTU

BERDOALAH MUMPUNG MASIH ADA WAKTU

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Selain berusaha, manusia disunnahkan untuk berdoa. Perintah berdoa itu tidak hanya berupa deskripsi pentingnya berdoa, akan tetapi diberikan contoh tentang bagaimana para Nabiyullah itu melakukannya. Semua Nabiyullah mengajarkan untuk berdoa sebagaimana yang diceritakan di dalam Teks Suci Al Qur’an. Nabi Ibrahim, Nabi Yunus, Nabi Zakariya dan Nabi Muhammad SAW semuanya mengajarkan berdoa sebagaimana tertuang di dalam teks Alqur’an.

Tentu masih ingat yang pernah saya tuliskan trilogy usaha, doa dan tawakkal. Manusia memang wajib berusaha, tetapi juga harus berdoa dan hasilnya diserahkan kepada Allah yang berupa tawakkal dimaksud. Sesungguhnya berdoa merupakan salah satu usaha manusia agar upaya atau ikhtiar yang dikerjakan itu berhasil. Tetapi di dalam kehidupan ini selalu ada dua potensi yang mengiringi kehidupan tersebut, yaitu sukses atau gagal. Dan efeknya, jika berhasil menjadi gembira dan jika gagal menjadi sedih. Inilah dunia kehidupan manusia di dalam kehidupannya.

Nabi sebagai manusia terpilih yang selalu mengemban wahyu Allah saja masih berdoa kepada-Nya. Kurang apa Nabi Muhammad SAW sebagai manusia yang paling sempurna dan Nabi yang menjadi kekasih Allah, yang diberikan kewenangan atau otoritas untuk memberikan syafaat kepada umatnya, ternyata masih memerlukan berdoa kepada Allah. Di antara doa yang paling sering dibaca oleh Nabi Muhammad SAW adalah “Rabbana atina fid dunya hasanah wa fil akhirati hasanah wa qina ‘adzaban nar”. Yang artinya adalah: “Ya Allah Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akherat dan selamatkanlah kami dari siksa neraka”. Banyak ahli fiqih yang menjelaskan hal ini. Salah satunya adalah Sayyid Sabiq di dalam bukunya Fiqih Sunnah.

Nabi Yunus yang terkenal sebagai Nabi yang pernah ditelan oleh Ikan di kala kapal yang ditumpanginya itu harus mengorbankan seseorang karena kapal kelebihan muatan, dan terpilihlah Nabi Yunus. Di dalam perut ikan itulah Nabi Yunus berdoa: “la ilaha illah anta subhanaka inni kuntu minadh dhalimin”. Yang artinya: “tidak ada  Tuhan kecuali Engkau Ya Allah, Maha Suci Engkau Ya Allah,   seungguhnya aku termasuk orang-orang yang dhalim”. Semuanya memang takdir Allah, kenapa yang terpilih dari sejumlah penumpang kapal itu untuk dilemparkan ke lautan, dan kenapa Nabi Yunus harus ditelan Ikan, dan bagaimana prosesi doanya, dan seterusnya tentu merupakan kerahasiaan Allah SWT. Tetapi yang jelas Alqur’an menjelaskan bahwa Nabi Yunus berdoa kepada Allah di kala mengalami yang tidak mengenakkan tersebut.

Doa Nabi Ibrahim di kala dibakar oleh Raja Namrudz, doa Nabi Ibrahim adalah: “hasbunallahu wa ni’mal wakil”. Artinya: “Cukuplah Allah bagi kami karena Dia sebaik-baik penolong”. Doa Nabi Ibrahim ini dikabulkan oleh Allah, sehingga api yang memiliki sifat membakar menjadi tidak membakarnya. Api yang panas kehilangan sifat panasnya dan  menjadi dingin. Allah menolong Nabi Ibrahim dengan kemahabesaran kekuasaannya dan kemahabesaran kekuatannya. Hanya dengan kalimat “kun fayakun”, maka api yang sungguh sangat panas dan membakar apa saja yang ada di dalamnya atau di tengahnya lalu menjadi dingin. Nabi Ibrahim selamat dari kobaran api dahsyat yang membakarnya. Semua karena Allah ingin menunjukkan kepada kaum Nabi Ibrahim, bahwa ada kekuatan lain yang berada di belakang utusannya tersebut.

Di dalam tradisi agama lain, misalnya Hindu juga didapati cerita tentang seseorang yang tidak terbakar kala dimasukkan di dalam api. Di dalam episode Ramayana, misalnya Dewi Sinta, istri Ramawijaya, yang diculik oleh Rahwana dan dicurigai oleh Ramawijaya bahwa Dewi Sinta sudah tidak lagi suci, maka Dewi Sinta meminta agar dibakar. Jika api membakar tubuhnya berarti dia sudah tidak suci lagi, tetapi jika api tidak membakarnya, maka dia masih suci sebagaimana sediakala sebelum diculik oleh Rahwana. Dewi Sinta tidak terbakar dan terjawablah bahwa Dewi Sinta memang suci tak tersentuh siapapun. Saya tidak tahu apa doa Dewi Sinta kala itu. Pengetahuan saya tentang hal ini hanya saya dapatkan dari cerita pewayangan saja.

Begitulah dahsyatnya doa. Namun demikian, belum semua doa dikabulkan oleh Allah. Ada kalanya doa tersebut dikabulkan di dunia, ada yang bisa jadi akan dikabulkan di akherat dan ada doa yang memang belum saatnya dikabulkan. Namun demikian kita tidak boleh suudz dzan kepada Allah. Kita harus selalu husnudz dzan kepada Allah. Artinya kita tidak boleh lelah di dalam berdoa, kapan dan di manapun. Doa boleh dilantunkan ba’da shalat, di tempat pekerjaan, di dalam perjalanan, di mall, di café dan lainnya. Di manapun kita dapat berdoa kepada Allah SWT.

Kita boleh berdo’a sebanyak-banyaknya. Berdoa yang banyak boleh tetapi jangan meminta yang banyak. Demikianlah ungkapan KH. Zainuddin MZ.  Artinya, kita disunnahkan untuk berdoa kepada Allah dengan sebaik-baik dan sebanyak-banyaknya untuk kebaikan kehidupan kita. Sekali lagi berdoalah untuk kebaikan. Allah meminta kepada kita untuk berdoa dalam kebaikan dan bukan berdoa di dalam kejelekan.

Jika kita berdoa, maka mintalah rizki yang halal, mintalah ilmu yang bermanfaat, mintalah kesehatan yang bermanfaat dan mintalah iman yang benar. Empat rangkaian doa ini saya kira bisa menjadi panduan bagi kita di dalam kehidupan. Marilah kita berdoa kepada Allah mumpung masih ada waktu untuk itu.

Wallahu a’lam bi al shawab

 

 

Categories: Opini
Comment form currently closed..