• October 2022
    M T W T F S S
    « Sep    
     12
    3456789
    10111213141516
    17181920212223
    24252627282930
    31  

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

SURGA YANG DIRINDUKAN SEMUA AGAMA

SURGA YANG DIRINDUKAN SEMUA AGAMA

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Ada sebuah pertanyaan menarik dalam pengajian hari Selasanan di Masjid Al Ihsan, Perumahan Lotus Regency  Ketintang Surabaya. Pengajian dilaksanakan pada 2 Agustus 2022 ba’da Shubuh. Pertanyaan tersebut adala: “apakah ada keselamatan lain, selain keselamatan yang diberikan oleh Allah SWT melalui ajaran Islam”. Pertanyaan ini tentu mengharuskan kita untuk menelaah dalil teologis untuk menjawabnya, selain juga membandingkan beberapa pemahaman tentang dalil keselamatan di surga atau ketidakselamatan di neraka.

Semua agama memang memiliki doktrin keselamatan. Semua dalil keselamatan tersebut diklaim berasal dari ajaran agama atau teks suci agama-agama. Islam menjanjikan bagi orang yang taat dalam beragama akan memperoleh balasan surganya Allah SWT.  Dalil di dalam Alqur’an (Surat Al Fajr: 27-30),  menyatakan: “ya ayyatuhan nafsul muthmainnah, irji’i ila rabbiki radhiyatan mardhiyah, fadhulii fi ‘ibadi wadhuli jannati”. Yang artinya kurang lebih: “wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan ridho dan diridhoi-Nya  dan masuklah ke dalam surgaku”. Jadi jelas secara teologis bahwa orang yang bisa masuk surga adalah orang yang jiwanya tenang. Ayat ini memberikan gambaran bahwa hanya orang yang hatinya tenang atau jiwa muthmainnah saja yang bisa masuk surga.

Di dalam suatu peristiwa, Nabi Muhammad SAW sangat sedih, karena pamandanya, Abu Thalib,  wafat. Padahal pamandanya merupakan  pembesar Qurays yang sangat disegani, dan Beliau wafat pada tahun bersamaan dengan wafatnya Sayyidah Khadijah al Bathul, sehingga tahun tersebut disebut sebagai “amul huzni” atau tahun kesedihan. Nabi Muhammad SAW sungguh-sungguh sudah meminta kepada Pamandanya, Abu Thalib, agar bersyahadat: “bahwa Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad Rasulullah”, tetapi hingga menghembuskan nafas terakhirnya, Abu Thalib, tidak melakukannya. Rupanya, sebagai pemegang kekuasaan atas Bani Qurays, maka Abu Thalib ingin mempertahankan keyakinan umatnya. Di tengah kesedihan, karena pamandanya tidak mengikuti keinginannya, maka Allah SWT menyatakan dalam Alqur’an (surat AlQashash (56):  “innaka la tahdi man ahbabta, walakinnallaha yahdi man yasa”. Yang artinya kurang lebih: “sesungguhnya kamu (Muhammad) tidak dapat memberikan petunjuk kepada orang yang engkau kasihi, akan tetapi Allah  memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya”.

Pemahaman atas ayat ini menggambarkan bahwa untuk memperoleh petunjuk Allah, maka itu adalah haknya Allah. Dari gambaran ini diketahui bahwa jalan keselamatan di akhirat adalah adanya pengakuan tentang keesaan Allah dan pengutusan Nabi Muhammad SAW sebagai Rasulullah. Tanpa pintu masuk ini, maka tiada jalan keselamatan. Dengan kata lain, bahwa selain umat Islam yang telah mengucapkan syahadat (kesaksian) dengan ucapan, hati dan pikiran, maka yang bersangkutan tidak memiliki hak keselamatan di dalam pandangan Allah SWT.

Dalil teologis berbeda dengan dalil rasional. Secara rasional, sebagaimana pertanyaan Ahmad Wahib dalam bukunya “Catatan Harian Ahmad Wahib”, dinyatakan secara sarkastis: “apakah Tuhan tega memasukkan para Romo yang sangat baik ini ke dalam neraka”. Dalam pengalamannya dengan para Romo di Yogyakarta, bahwa perilakunya sungguh mengedepankan humanisme atau rasa kemanusiaan yang sangat tinggi. Jika berbicara sangat santun dan tidak pernah menyakiti hati orang, maka secara logis Tuhan tidak akan memasukkanya di dalam neraka atau memperoleh siksaan.

Secara rasional, pernyataan ini sepertinya mengandung kebenaran karena terkait dengan “keadilan” Tuhan. Bahwa Tuhan menjadi tidak adil jika orang baik lalu justru dihukum. Penjelasan ini dipengaruhi oleh teologi Mu’tazilah yang memberikan “kebebasan” akal untuk bisa menjadi “pembenar” atas ayat-ayat Tuhan. Sama halnya dengan pemikiran bahwa orang  Islam yang berdosa besar, maka yang bersangkutan akan ditempatkan di Manzilah baina manzilatain, sebagai satu tempat di antara dua tempat, bukan surga dan bukan neraka. Dengan kata lain, bahwa pemikiran humanisme berpengaruh atas pemikiran peluang masuk surga bagi mereka yang non muslim.  Secara proposisional, bahwa peluang masuk surga bisa ditentukan oleh seberapa kebaikan seseorang apapun agamanya.  Dalil rasional sangat bertentangan dengan dalil teologis yang mensyaratkan bahwa untuk masuk surga harus orang Islam. Keyakinan seperti ini yang dijadikan sebagai dasar pemahaman di dalam aliran ahlu sunnah wal jamaah.

Mungkin juga ada dalil “persahabatan”. Dalil ini yang digunakan oleh penganut paham equity pluralism atau pluralisme negative atau pluralisme yang berpandangan bahwa semua agama sama. Semua agama benar. Padahal di dalam keyakinan agama sesuai dengan masing-masing keyakinan akan kebenaran kitab sucinya, maka mestinya “semua agama itu benar bagi penganutnya”. Dalam dalil “persahabatan” maka semua pemeluk agama berpeluang  masuk surga sesuai dengan apa yang dilakukannya. Pandangan ini tentu berlawanan dengan doktrin keselamatan masing-masing agama. Islam, Katolik, Kristen, Hindu, Buddha dan Konghucu tentu memiliki doktrinnya sendiri bahwa hanya agamanya yang benar dan hanya pemeluk agamanya yang akan memasuki Jannah, nirwana  atau surga.  Dalil inilah yang selama ini menjadi pegangan dasar umat beragama.

Jadi mengenai masuk surga, sebaiknya kita tetap harus meyakini sebagaimana ajaran agama dengan tetap berpikir bahwa masuk surga atau neraka adalah hak prerogative Tuhan. Manusia  tentu tidak tahu bagaimana akhirnya, kecuali nanti  akan merasakannya.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

Categories: Opini
Comment form currently closed..