• October 2019
    M T W T F S S
    « Sep    
     123456
    78910111213
    14151617181920
    21222324252627
    28293031  

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

MEMAHAMI BUDAYA ORGANISASI

MEMAHAMI BUDAYA ORGANISASI
Oleh: Prof. Dr. H. Nur Syam, MSI
Guru Besar Sosiologi UIN Sunan Ampel Surabaya

Pengantar
Mungkin saja istilah yang lebih tepat ialah budaya berorganisasi. Dengan menggunakan istilah berorganisasi, maka jelaslah bahwa yang dijadikan sebagai sasaran ialah pelaku budaya dalam berorganisasi. Jadi bukan organisasinya akan tetapi para pelaku organisasi. Jadi yang sesungguhnya dikaji ialah perilaku orang dalam berorganisasi dilihat dari perspektif budaya.
Jika di dalam konteks ini menggunakan konsepsi budaya organisasi, saya kira ini adalah kelaziman yang sudah menjadi kebiasaan saja. Dengan demikian, memakai istilah budaya organisai atau budaya berorganisasi, hakikatnya memiliki kesamaan sebab yang dikaji hakikatnya ialah pelaku budaya organisasi. Saya tidak mempersoalkan istilah budaya organisasi atau budaya berorganisasi, yang penting kita memaklumi bahwa yang dijadikan sasaran kajiannya ialah para pelaku budaya atau manusia yang melakukan tindakan berorganisasi.

Konsepsi antropologis dan budaya organisasi
Di dalam buku saya: “Madzab-Madzab Antropologi” (LKIS, 2009), saya jelaskan bahwa dunia antropologi memiliki beberapa madzab atau aliran. Yang pertama ialah madzab evolusionisme yaitu bagian dari ilmu antropologi yang mengkaji perubahan-perubahan budaya di dalam suatu masyarakat. Misalnya mengkaji tentang perubahan budaya secara evolusioner, baik yang bercorak sinkronik maupun diakronik. Yang sinkronik, misalnya mengkaji budaya dengan mengkaji budaya yang sama pada waktu yang berbeda, sedangkan yang diakronik ialah mengkaji perubahan budaya dalam waktu yang sama dalam lokasi yang berbeda. Contoh untuk yang sinkronik ialah mengkaji budaya Jawa pada masyarakat Jawa pada kurun waktu tertentu dan membandingkannya dengan waktu yang berbeda. Sedangkan yang diakronik ialah mengkaji budaya dalam waktu bersamaan antara orang Jawa di Jawa dengan orang Jawa di luar Jawa.
Kedua, Madzab Kognitifisme ialah mengkaji pengetahuan budaya pada suatu masyarakat tertentu, misalnya mengkaji tentang pengetahuan budaya pada masyarakat Samin di Bojonegoro, Jawa Timur. Metode yang digunakan ialah dengan wawancara mendalam dan juga dimungkinkan dengan metode observasi terlibat.
Ketiga, Madzab Interpretif ialah mengkaji tentang makna kebudayaan dalam suatu komunitas atau masyarakat berdasarkan pattern for behavior atau pattern of behaviournya. Misalnya, makna agama Jawa atas penelitian yang dilakukan oleh Clifford Geertz. Jadi yang dikaji ialah bagaimana orang Jawa menggunakan pengetahuan budayanya yang berupa pattern for behavior dan kemudian dipadukan dengan pattern of behavior. Metode penelitian yang digunakan ialah wawancara mendalam dan observasi terlibat.
Budaya organisasi tentu memiliki rujukan dengan berbagai madzab di dalam antropologi ini. Oleh karena itu menjadi penting untuk memahami berbagai madzab antropologi dalam kerangka memperkaya wawasan. Untuk memahami mengenai budaya dan perilaku organisasi, maka yang bersangkutan harus paham benar mengenai pohon keilmuan seperti ini.

Budaya organisasi
Apa yang dimaksud dengan budaya organisasi? Pertanyaan ini mengacu kepada definisi yang diperlukan sesuai dengan pemahaman antropologi yang menjadi induknya. Bagi kita bahwa setiap definisi apapun tentang budaya harus selalu mengacu kepada pemahaman kita tentang madzab antropologi mana yang digunakan. Jadi, yang harus diperhatikan ialah aliran atau madzab mana yang diikutinya.
Saya mengartikan budaya organisasi dengan mengikuti cara kerja dan pemahaman Clifford Geertz tentang pengertian kebudayaan tersebut. Jadi saya akan menggunakan konsepsi Geertz tentang budaya, yaitu memiliki dua cakupan, kebudayaan sebagai pola bagi tindakan dan pola dari tindakan (Nur Syam, Madzab-Madzab Antropologi, 2009). Kita tentu bisa saja memilih mana yang dianggap relevan untuk merumuskan definisi yang dianutnya.
Dengan demikian, pengertian budaya organisasi ialah seperangkat pengetahuan yang dijadikan sebagai pedoman untuk melakukan interpretasi atas tindakan tentang organisasi sebagai wadah yang digunakan untuk mencapai tujuan kebersamaan. Seperangkat pengetahuan ini berisi norma, nilai, struktur dan sistem yang menjadi pedoman manusia untuk melakukan tindakan dalam organisasi dan apa yang menjadi kenyataan atau realitas yang dilakukan oleh manusia di dalam organisasi dimaksud.
Di dalam definisi ini, kiranya terdapat beberapa hal yang perlu diketahui, yaitu: pengetahuan manusia tentang norma, nilai, struktur dan sistem yang menjadi kesepahaman bersama, pengetahuan budaya tersebut dijadikan sebagai pedoman dalam melakukan tindakan, yang di dalam konteks ini ialah tindakan berorganisasi. Lalu, sebagai pedoman, maka manusia melakukan tindakannya akan bisa ditafsirkan dari pedomannya itu, sehingga untuk memahami apa tindakan tersebut haruslah dipahami dari subyek pelaku tindakan.
Sebagai interpretasi atas tindakan, maka pedoman atau pattern for behavior tersebut hanya dapat dipahami oleh subyek pelaku kebudayaan dalam berorganisasi, sehingga orang lain, misalnya peneliti atau pengkaji hanya dapat memahaminya apabila orang tersebut melakukan wawancara mendalam atau observasi terlibat. Di dalam konteks ini, sebagai seorang peneliti, kita tidak dapat u menafsirkan tindakan siapapun tanpa melakukan pengkajian mendalam dan memahami tindakannya berdasarkan atas pemahaman subyek pelaku organisasi.

Kajian terhadap budaya organisasi
Sebagaimana diketahui bahwa di dalam setiap organisasi dipastikan terdapat norma, nilai, struktur, sistem dan tindakan manusia di dalam organisasi. Oleh karena itu untuk mengkaji budaya organisasi mesti juga dengan melakukan kajian terhadap norma, nilai, struktur organisasi, sistem organisasi dan tindakan orang yang terlibat di dalamnya.
Untuk mengkaji struktur organisasi, maka yang diperlukan ialah mengkaji terhadap pertanyaan, seperti bagaimana nilai dan norma dibuat dan disepahami, bagaimana pedoman tersebut digunakan di dalam membuat struktur organisasi, bagaimana penentuan struktur dibuat, bagaimana penetapan struktur diberlakukan, dan bagaimana mereka menyusun struktur organisasi termasuk di dalamnya ialah hakekat makna struktur tersebut di dalam kerangka pencapaian tujuan bersama.
Kemudian, terkait dengan sistem organisasi maka pertanyaan yang bisa diajukan ialah bagaimana antar subsistem di dalam organisasi bisa bekerja untuk mencapai tujuan bersama, bagaimana sistem tersebut bekerja secara sendiri-sendiri di dalam sistem organisasi yang lebih besar, bagaimana mekanisme untuk membangun kebersamaan antar subsistem dan bagaimana makna sistem tersebut bagi pencapaian tujuan bersama.
Yang juga tidak kalah menarik untuk diperbincangkan ialah bagaimana organisasi tersebut bisa berkembang sebagai sarana atau institusi yang digunakan untuk mencapai tujuan bersama. Adakah mekanisme penyelesaian masalah atau berbagai pertentangan, rivalitas dan konflik di dalam organisasi. Termasuk di dalamnya ialah bagaimana organisasi tersebut survive di tengah berbagai perubahan sosial yang tentu terus terjadi.
Sebagai kajian yang bercorak interpretif, maka yang sangat mendasar ialah bagaimana orang yang berada di dalam organisasi tersebut memaknai tindakan-tindakannya di dalam keseluruhan struktur dan system organisasi dalam rangka mencapai tujuan kebersamaan dan produk kebersamaan. Jadi yang sesungguhnya ingin dipahami ialah bagaimana mereka memaknai tindakannya di dalam organisasi.

Refleksi
Secara konseptual dapat dinyatakan bahwa budaya organisasi sesungguhnya dapat dirunut pemahamannya dari antropologi interpretative yang berusaha untuk memahami budaya manusia dalam suatu institusi tertentu di dalam kerangka mencapai tujuan bersama.
Untuk memahami budaya organisasi maka yang dijadikan sebagai subyek kajian ialah individu di dalam organisasi di dalam memahami norma, nilai, struktur dan system organisasi yang didasarkan atas pemahaman para pelakunya. Para peneliti hanya dapat memahami tindakan pelaku organisasi jika yang bersangkutan melakukan wawancara mendalam atau observasi terlibat dengan para pelaku budaya organisasi.
Wallahu a’lam bi al shawab.

Categories: Opini
Comment form currently closed..