• October 2019
    M T W T F S S
    « Sep    
     123456
    78910111213
    14151617181920
    21222324252627
    28293031  

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

KEMBALI MENGABDI SEBAGAI DOSEN (5)

KEMBALI MENGABDI SEBAGAI DOSEN (5)
Ada yang menarik dari berita Jawa Pos, Ahad, 09/09/2018, tentang Jack Ma, yang sering saya kutip di dalam tulisan dan ceramah-ceramah saya. Jack Ma, founder Alibaba.com, yang sangat terkenal ternyata memilih pensiun dari CEO Alibaba.com dan akan mengabdikan dirinya untuk pendidikan.
Sungguh berita ini membuat saya merenung, bahwa orang yang sangat terkenal dengan perusahaan dan kekayaannya ternyata justru di saat tertentu justru akan mengabdikan dirinya untuk kepentingan pendidikan. Lalu ada apa? Pertanyaan ini yang kiranya menarik untuk disimak dan dicoba untuk ditafsirkan terkait dengan tantangan pendidikan dewasa ini.
Pernyataan Jack Ma yang baru saja terlibat di dalam penutupan Asian Game ke 18 di Jakarta itu sungguh menarik untuk direnungkan. Bukan kekayaannya yang patut diperbincangkan, akan tetapi minatnya untuk mendidik dan mengabdikan kekayaannya untuk pendidikan. Apa yang disampaikan Jack Ma adalah sebuah kesadaran tentang betapa pendidikan harus diutamakan terutama di era digital atau era industry 4.0.
Pernyataan ini sungguh bukan hanya sensasi dan pencarian citra, akan tetapi merupakan kesadaran yang didasari oleh keinginan untuk menjawab tantangan pendidikan yang semakin berat di masa yang akan datang. Bagi yang memiliki kesadaran mendasar, bahwa tantangan era industry 4.0 bukanlah hal yang mudah diselesaikan akan tetapi harus dijawab oleh para pendidik dengan segenap kemampuan, tidak hanya kemampuan fisik, ide dan pemikiran, akan tetapi juga harta dan jiwa sekaligus.
Saya merasa bahwa kegalauan saya itu tidak seharusnya terjadi. Setelah membaca pernyataan Jack Ma ini, maka rasa kegalauan di dalam melaksanakan program pendidikan yang akan datang tentu tidak boleh terjadi lagi. Kegalauan itu bukan karena ketidakmampuan untuk mengajar akan tetapi terkait dengan bagaimana menjawab tantangan pendidikan yang sungguh luar biasa. Kegalauan yang saya rasakan –sebagaimana tulisan saya sebelumnya—bahwa di era Industri 4.0 ini—maka tantangan terbesar ialah bagaimana kita menyiapkan generasi muda yang siap untuk hidup di era yang akan datang.
Kita akan menghadapi era Generasi Emas Indonesia pada tahun 2030-2045, artinya bahwa bonus demografi itu tentu tidak boleh sia-sia. Mereka haruslah menjadi bonus demografi yang memberikan keuntungan bagi bangsa dan negara ini. Mereka harus menjadi generasi yang siap untuk menerima estafeta kepemimpinan nasional dan juga sebagai penerus bangsa. Mereka harus menjadi generasi yang dapat dan memiliki kemampuan untuk hidup dalam kehidupan Indonesia yang akan datang.
Mereka harus menjadi orang Indonesia yang tangguh, profesional, bermoral dan berkepribadian Indonesia. Itulah sebabnya pendidikan memiliki potensi yang besar untuk mengembangkan mereka kepada tujuan menjadi warga negara Indonesia.
Ada 3 (tiga) hal yang kiranya bisa disiapkan untuk generasi yang akan datang, yaitu: pertama, menyiapkan pendidikan yang berkualitas. Tantangan kita ialah bagaimana menghadirkan pendidikan yang memiliki kompetensi dan distingsi yang jelas. Tidak hanya akreditasi prodi yang bernilai baik, akan tetapi harus menyiapkan program-program yang relevan dengan tuntutan zaman. Alumni PTKIN harus memiliki sejumlah keahlian yang relevan dengan tuntutan zaman.
Kedua, harus menyiapkan program-program pendidikan vokasi yang lebih banyak dalam kerangka menyiapkan generasi terampil di era teknologi informasi. Selama ini kita lebih banyak menyiapkan calon sarjana Strata I dengan keahlian yang kiranya memerlukan sentuhan pendidikan berbasis praktis. Artinya, harus disiapkan sejumlah keahlian tambahan untuk menjembatani antara pengetahuan teoretis dengan pengetahuan praktis. Saya kira sudah saatnya untuk memikirkan basis keahlian tambahan atau kemampuan professional sesuai dengan basis keahlian yang dimiliki oleh para mahasiswa. Bisa saja hard skilled alumni adalah ilmu fiqih atau ilmu tafsir, akan tetapi mereka harus memiliki sejumlah kemampuan soft skilled yang relevan dengan tuntutan era sekarang ini. Pemikiran yang pernah saya tuangkan dalam beberapa tahun terakhir ini saya kira tetap relevan untuk diimplementasikan.
Ketiga, era milenial memerlukan 4 keahlian yang harus disemai di PTKIN, yaitu competency professional, competensi komunikasi, kompetensi net working dan competency kolaboratif. Empat hal ini yang seharusnya menjadi pertimbangan bagi para pimpinan dan dosen PTKIN, bahwa ke depan kita harus membangun kemampuan untuk mencetak generasi yang memiliki kompetensi professional. Di dalam hal ini maka yang dibutuhkan ialah keahlian dalam konteks hard skilled dan soft skilled. Lalu kemampuan membangun jejaring. Mereka harus diajari tentang bagaimana membangun kemampuan menciptakan jejaring untuk kepentingan membangun kemampuan professional dimaksud. Lalu juga harus mempertimbangkan untuk membangun kemampuan berkomunikasi dengan baik. Siapa yang memiliki kemampuan komunikasi, maka dia yang akan menguasai belantara kehidupan ini, dan yang terakhir ialah kemampuan kolaboratif atau koordinasi. Tidak ada kesuksesan yang dibangun sendirian, sebab setiap kesuksesan pastilah berbasis pada kerja sama.
Kemampuan soft skilled inilah yang kiranya perlu diperkuat untuk menyongsong pendidikan di era sekarang dan akan datang. Sekali lagi kita harus menyiapkan generasi yang siap untuk berkompetisi tetapi berbasis persahabatan.
Wallahu a’lam bi al shawab.

Categories: Opini
Comment form currently closed..