• January 2020
    M T W T F S S
    « Dec    
     12345
    6789101112
    13141516171819
    20212223242526
    2728293031  

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

KE NEGERI TIRAI BAMBU: MENDISKUSIKAN ROHANIWAN BUDDHA (4)

KE NEGERI TIRAI BAMBU: MENDISKUSIKAN ROHANIWAN BUDDHA (4)
Memang agak malam saya datang ke Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Guangzhou. Kami dating ke sini setelah melakukan acara ziarah ke Makam Keramat Sayyed Sa’ad bin Abi Waqqas, sahabat dan Paman Nabi Muhammad saw dan juga shalat jama’ ta’khir di Masjid Abi Waqqas.
Saya merasa bergembira sebab tentu kedatangan kami sudah dibicarakan oleh Pak Komeng atau Pak Hotma Napitupulu dengan pimpinan beliau. Hari itu Pak Konjen memang sedang tidak ada di tempat. Ada acara yang tidak bisa ditinggalkan. Akhirnya saya bertemu dengan Pak Wicaksono dan Pak Taufiq. Pak Wicaksono ini sebelumnya bertugas di Beijing dan sudah 2 (dua) tahun berada di Guangzhou. Sedangkan Pak Taufiq baru 2 (dua) bulan berdinas di KJRI Guangzhou.
Kami dating di KJRI pada jam 17.30. sudah sangat sore dan seharusnya Konjen sudah tutup. Tetapi lagi-lagi saya beruntung sebab Pak Wicaksono akan pulang malam, sebab harus mempersiapkan naskah atau bahan-bahan terkait dengan Ibu Ratu Silvy Gayatri (Konjen RI di Gunagzhou) akan pulang ke Indonesia. Tentu saja ada beberapa hal penting yang diperlukan untuk dituliskan sebagai laporan kepada Bu Menlu.
Dengan diantarkan oleh Romo Piyandi, kami datang di Konjen RI di Guangzhou. Kami tentu merasa lebih aman bersama beliau, sebab kami yang hadir ke Cina ini tidak ada satupun yang bisa berbahasa Mandarin. Makanya kehadiran Pak Piyandi tentu sangat membantu kami yang datang ke sini. Oleh petugas KJRI –tepatnya satpam—kami diiizinkan untuk masuk ke ruangan dalam. Bertepatan di dalam ruang tamu ada beberapa mahasiswa Indonesia yang akan berkonsultasi. Rupanya, KJRI memang masih terbuka untuk tamu dan juga para pendatang dari Indonesia pada sore hari itu.
Disambutlah saya oleh Pak Komeng yang datang terlebih dahulu. Mobil van yang kami tumpangi tidak memuat seluruhnya, sehingga kami dengan Pak Piyandi ke Makam dan Masjid Abi Waqqas dan sementara Pak Komeng langsung ke KJRI. Kami disuruh masuk lalu beberapa saat kemudian datang Pak Wicaksono –priyantun Yogyakarta—dan Pak Taufiq untuk menemui dan berbincang dengan kami.
Tentu kami tidak langsung to the point mengenai apa yang kami akan bicarakan. Kami “gegojekan” atau bercandaria terlebih dahulu, misalnya tentang relasi Cina dan Indonesia. Kami bercerita tentang perkembangan Cina yang sangat pesat, padahal ini adalah negara Komunis. Bagaimana Cina bisa memanej 1,5 Milyard penduduknya, dan bagaimana luas kota Guangzhou yang 11 kali lipat dibanding luas Jakarta dan juga penduduknya yang 200 juta orang. Kami bercerita tentang kereta cepat Cina yang luar biasa hebat mengalahkan kereta cepat Jepang dan Jerman.
Sampailah kami secara formal menyampaikan maksud dan kedatangan kami di Cina, khususnya bertemu dengan Pak Wicaksono dan Pak Taufiq. Saya sampaikan ucapan terima kasih yang tidak terkira karena kami diterima di saat seharusnya kantor sudah tutup dan Jum’at malam yang seharusnya Pak Wicaksono harus pulang untuk bersama keluarga. Saya ucapkan juga selamat menempati kantor yang hebat, 1 (satu) lantai Hotel bintang 5 (lima). Makanya, kemudian saya sampaikan agar Pak Supriyadi dan Pak Ferry menyampaikan maksud dan tujuannya mendatangi KJRI ini.
Pak Supriyadi (Direktur Urusan Agama dan Pendidikan Buddha, Kemenag) menyatakan bahwa salah satu yang menjadi masalah yang tidak mudah diselesaikan ialah terkait dengan banyaknya para Bhiksu palsu yang datang ke Indonesia. Mereka datang dengan menggunakan jubbah Bhiksu padahal sesungguhnya bukan bhiksu. Mereka adalah orang yang sengaja datang ke Indonesia dan kemudian mengaku sebagai Bhiksu untuk mencari uang.
Yang menyulitkan adalah mereka ini terorganisir dan datang secara bersamaan lalu menyebar di seluruh wilayah di Indonesia. Mereka datang dengan visa on arrival bahkan mungkin dengan pakaian tidak resmi dan sebagaimana turis pada umumnya. Akan tetapi setelah sampai di bandara kemudian berganti pakaian jubbah dan mengaku sebagai bhiksu. Mereka datang ke vihara-vihara atau ke umat Buddha dan meminta sedekah atau uang untuk kehidupannya selama di Indonesia.
Pernah ada yang kita tangkap lalu kita serahkan ke Kepolisian untuk diusut, lalu dideportasi kembali ke Cina. Namun demikian karena jumlahnya banyak tentu menjadi problem kami yang tidak mudah diselesaikan. Itulah yang kami mintakan kepada KJRI untuk bisa membantu kami di dalam menanggulangi pemalsuan Bhiksu di Indonesia. Demikian penjelasan Pak Supri.
Pak Wicak—begitu panggilan akrabnya—menyatakan ucapan terima kasihnya kepada kami semua atas kedatangan ke Cina dan terutama informasi penting tentang pemalsuan Bhiksu yang datang ke Indonesia. Menurut beliau bahwa dewasa ini memang sulit untuk melakukan pengawasan kepada para warga Cina yang datang ke Indonesia. Semenjak pemerintah Cina membuka pintu bagi warganya ke negara lain, dengan memberlakukan visa on arrival, maka gelombang orang Cina yang datang ke Indonesia juga sangat banyak.
Pemerintah Indonesia juga memberlakukan hal yang sama dengan dalih untuk meningkatkan kunjungan wisata ke Indonesia. Di tengah keinginan untuk menambah jumlah wisatawan luar negeri, maka pemerintah juga membuka kerannya lebar-lebar untuk menerima kunjungan warga negara lain. Semenjak Cinda dan Indonesia sama-sama membuka keran kunjungan ke luar negeri dengan sistem visa on arrival, memang kunjungan ke masing-masing negara ini menjadi meningkat.
Oleh karena itu, ada hal yang harus dilakukan, yaitu Pak Sekjen bisa berkirim surat kepada kami untuk memberi penjelasan tentang keadaan ini dan meminta agar KJRI terlibat di dalam menangani atau mengawasi para Bhiksu palsu yang akan datang ke Indonesia. Kami akan bekerja sama dengan imigrasi Cina untuk mencoba memberikan pengawasan yang lebih ketat kepada para pengunjung atau wisatawan yang akan pergi ke Indonesia, terutama yang berpotensi menjadi bhiksu.
Meskipun hal ini agak sulit dilakukan, tetapi tidak ada salahnya jika kita semua melakukan upaya agar hal-hal seperti ini tidak terus terjadi. Dan saya juga menyampaikan bahwa yang harus melakukan pengawasan ketat ialah para pimpinan vihara di Indonesia. Jika ada yang datang ke viharanya, maka agar segera berkoordinasi dengan para pembimas di Kanwil atau para penyuluh agama agar segera memperoleh penanganan yang memadai.
Juga saya nyatakan, masyarakat Buddha juga harus melakukan kewaspadaan, jangan setiap orang yang memakai jubbah kebesaran para Bhiksu lalu dianggap sebagai bhiksu. Masyarakat juga harus aware atas masalah ini dan jika ada bhiksu yang datang kepadanya dan melakukan tindakan yang tidak terpuji dengan meminta-minta uang, maka harus dilakukan pengecekan secara memadai. Harus check and recheck. Tanyakan dan sampaikan kepada para penyuluh atau pembimas Buddha tentang siapa sesungguhnya mereka ini. Jadi memang diperlukan kebersamaan.
Wallahu a’lam bi al shawab.

Categories: Opini
Comment form currently closed..