• October 2017
    M T W T F S S
    « Sep    
     1
    2345678
    9101112131415
    16171819202122
    23242526272829
    3031  

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

DOCTOR HONORIS CAUSA SEBAGAI PENGHARGAAN (3)

DOCTOR HONORIS CAUSA SEBAGAI PENGHARGAAN (3)
Menjadi doctor tentu idaman bagi mereka yang bisa dikategorikan sebagai well educated. Apapun akan ditempuh oleh seseorang yang memang memiliki kapasitas dan kemampuan untuk meraihnya. Terutama bagi kaum akademisi, maka status menjadi doctor seakan merupakan kewajiban untuk meraihnya. Tidak hanya membahagiakan bagi diri dan keluarganya, akan tetapi juga bagi mahasiswa, kolega dan institusinya.
Gelar doctor merupakan gelar tertinggi dalam dunia akademik dan merupakan pengakuan akan kapasitas dan kapabilitas yang bersangkutan dengan keilmuan yang mumpuni. Saya kira mereka yang memperoleh gelar doctor melalui jalur akademik perkuliahan tentu tidak diragukan kapasitasnya sebagai seorang doctor. Tidak hanya menguasai disiplin keilmuan yang dikajinya tetapi juga kemampuan metodologis yang baik.
Makanya, ketika saya menjadi Rektor di IAIN Sunan Ampel (kini UIN), maka program yang saya tekankan adalah agar para dosen memperoleh gelar doctor itu dengan memberikan sumbangan pendidikan, sekurangnya-kurangnya untuk 8 (delapan) semester. Minimal mereka tidak mencari-cari uang untuk membayar SPP karena lembaga sudah menyediakannya. Dengan program itu, maka sekarang UIN Sunan Ampel panen doctor sesungguhnya, sebab jumlah doktornya mencapai angka 150 orang lebih. Sekali lagi menjadi doctor bukan hanya kepuasan pribadi (personal satisfaction), tetapi juga kepuasan kelembagaan (institutional satisfaction).
Memang ada 3 (tiga) cara untuk menjadi doctor. 1) Melalui program perkuliahan secara terstruktur yang ditempuh dalam waktu selambat-lambatnya 12 semester atau 6 (enam) tahun. 2) Melalui program by research atau program penelitian, yang tentu juga dengan cara terstruktur. 3) Gelar Doctor yang diberikan oleh Perguruan Tinggi sebagai penghargaan.
Dalam hal terkait dengan gelar Doctor Honoris Causa (DR. Hc.), maka tentu juga terdapat persyaratan secara normative. Persyaratan itu ialah sumbangsihnya bagi kemanusiaan, kemasyarakatan dan kebangsaan. Di dalam konteks ini, maka penghargaan itu diberikan sebagai akibat dari sumbangsihnya bagi masyarakat dalam bidang sosial, budaya, politik, ekonomi, keagamaan dan lain-lain. Ada kerja dan produk kerja yang menghasilkan perubahan baik secara organisasional maupun kemasyarakat dan kebangsaan. Saya ingin mengambil contoh Pak Kyai Hasyim Muzadi yang memperoleh penghargaan Doctor Honoris Causa dari IAIN Sunan Ampel di bawah kepemimpinan Prof, Dr. HM. Ridlwan Nasir, MA. Maka yang sangat menonjol dari Pak Hasyim adalah bagaimana Beliau memodernisasikan NU dari organisasi kaum Sarungan yang tradisional dalam lokalitas Indonesia menjadi organisasi modern bertaraf internasional. Beliaulah yang membawa NU ke dunia internasional dengan slogan Islam Rahmatan lil Alamin. Islam damai yang saya kira menjadi wacana dan mempengaruhi terhadap pemahaman dunia internasional tentang Islam. Di saat Islam diterpa issu sebagai agama yang menginspirasi terorisme, maka beliau dengan gagahnya menyatakan bahwa Islam itu agama yang memberikan kerahmatan bagi semua umat manusia.
Kemudian saya ingin menganalisis terhadap Kyai Sahal Mahfudz yang memperoleh gelar Doktor Honoris Causa di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dengan pemikiran dan aplikasi Fiqh Sosial. Selama ini belum ada ulama yang menggagas dan mengaplikasikan tentang fiqh sosial. Selama ini fiqh selalu dikaitkan dengan hukum-hukum agama yang lebih terkait dengan persoalan ibadah atau ritual. Namun di tangan Kyai Sahal, bahwa Fiqh juga bisa dijodohkan untuk membahas persoalan-persoalan keumatan. Bisa terkait dengan ekonomi, sosial, politik dan sebagainya. Perkembangan tentang fatwa-fatwa terkait dengan aspek sosial ekonomi, tentu saja sebagai kelanjutan dari gagasan fiqh sosial yang ditawarkan oleh Kyai Sahal.
Lalu, saya juga ingin memberikan gambaran tentang Pak Kyai Ma’ruf Amin, yang memperoleh gelar Doctor Honoris Causa dari UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Sungguh kalau saat ini kita mencari orang yang memiliki sumbangan terbesar dalam pengembangan fatwa-fatwa di bidang ekonomi syariah, maka jawabannya pasti satu, Kyai Ma’ruf Amin adalah orangnya. Beliau adalah figure yang sangat mumpuni terkait dengan ekonomi syariah. Sebagai ketua Dewan Syariah Nasional, maka beliau memang memiliki keahlian yang luar biasa. Pengakuan ini pernah disampaikan oleh Prof. Nasaruddin Umar, yang saya kira Beliau memiliki pengetahuan yang sangat mendasar mengenai Kyai Ma’ruf Amin. Jadi kalau UIN Malang memberikan gelar DR.Hc kepada Pak Kyai, pastilah bukan sesuatu yang keliru, sebab Beliau memang layak mendapatkannya.
Nah, untuk yang lain yang juga mendapatkan gelar DR. Hc., kiranya juga harus merasakan bahwa kehadirannya di dalam bidang yang tengah disandangnya memang kontributif bagi pembangunan bangsa atau pembangunan masyarakat. Jika memang ada sumbangan signifikan bagi kehidupan sosial, ekonomi, politik , kemasyarakatan dan keagamaan maka tentu absahlah yang bersangkutan memperoleh penghormatan melalui pengukuhan Doktor Honoris Causa.
Saya kira yang menilai layak atau tidaknya tidak hanya Kaum Senator di perguruan tinggi, akan tetapi juga kaum akademisi, kaum intelektual, kaum professional dan bahkan masyarakat. Jadi berbahagialah bagi mereka yang mendapatkan penghargaan gelar Doctor Honoris Causa (DR. Hc) karena memang layak mendapatkannya.
Wallahu a’lam bi al shawab.

Categories: Opini
Comment form currently closed..