• April 2025
    M T W T F S S
    « Mar    
     123456
    78910111213
    14151617181920
    21222324252627
    282930  

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

LEBARAN DALAM PERSPEKTIF SOSIOLOGIS (2)

LEBARAN DALAM PERSPEKTIF SOSIOLOGIS (2)
Meskipun melaksanakan shalat id, baik id al fithri maupun id al adha itu sunnah saja, tetapi menjalankan dua shalat ini bagi masyarakat Islam Indonesia menempati posisi penting. Bahkan terkadang ada orang Islam yang tidak melakukan shalat lima waktu secara rutin, akan tetapi menjalankan shalat id menjadi penting baginya. Itulah sebabnya mushalla, masjid dan lapangan yang dijadikan sebagai tempat shalat id akan penuh sesak dengan manusia.
Memang harus diakui bahwa kemeriahan hari raya id al fithri maupun id al adha itu melebihi perayaan-perayaan keagamaan lainnya. Sudah menjadi tradisi di kalangan masyarakat Islam Indonesia untuk menggelar berbagai kegiatan keagamaan di bulan puasa, semacam tarawih, tadarrus al Qur’an, sampai I’tikaf di masjid yang dilakukan secara berjamaah. Mereka memang memiliki kerinduan yang sangat tinggi terhadap kehadiran bulan puasa.
Bahkan bagi mereka yang memiliki uang, maka tidak cukup bagi mereka untuk I’tikaf di masjid di Indonesia, akan tetapi justru pergi ke tanah suci, Makkah al Mukarramah. Mereka mengikuti paket umrah bulan Ramadlan. Kalau sempat melihat program televisi di layar Saudi Al Qur’an, maka akan dilihat betapa penuh sesaknya orang melakukan ibadah thawaf. Seperti musim haji saja.
Kerinduan beribadah itu seperti ditumpahkan kala bulan Ramadlan tiba. Saya yakin bahwa mereka yang datang ke Ka’bah akan merasakan nuansa kebatinan yang luar biasa. Memang harus diakui bahwa berdoa, membaca al Qur’an dan juga melakukan ibadah yang lain di arena Ka’bah itu memiliki sensasi religiositas yang luar biasa. Itulah sebabnya mengapa orang berkeinginan untuk datang berkali-kali ke rumah Allah yang suci ini.
Ada misteri religiositas yang tidak bisa digambarkan dengan akal pikiran dan hanya bisa dipahami dengan hati nurani saja. Kala orang memandang ka’bah, maka aura religiositas itu akan muncul seketika dan orang bisa terharu, menangis, bahkan bisa terisak-isak karena bisa memandang rumah Allah yang suci itu. Bagaimana pun juga ka’bah adalah lambang rumah Allah yang suci dalam pengertian tempat menyatunya seluruh ibadah yang dilakukan di muka bumi. Ka’bah adalah pusat dan sumber spiritualitas yang sangat menarik bagi perindu Tuhan.
Setahun sekali umat Islam menyelenggarakan acara shalat Id dengan segala asesorisnya. Makanya, kala untuk shalat id lalu tidak bersamaan waktunya, maka terasa ada yang kurang relevan dengan semangat peringatan hari raya. Andaikan dilakukan survey tentang apa yang diinginkan oleh umat Islam terkait dengan hari raya, maka jawabannya pastilah “ingin shalat id bersamaan waktunya”.
Yang penting bukan tumbuhnya rasa pemahaman tentang perbedaan antara umat Islam, tetapi yang lebih mendasar adalah bagaimana membangun kebersamaan intern umat Islam di dalam penyelenggaraan ibadah di dalam hari raya. Mungkin kita merasa biasa, akan tetapi dilihat dari sisi dunia internasional, lalu menjadi aneh bahwa umat Islam di dalam satu Negara, tetapi menyelenggarakan acara hari raya berbeda waktunya.
Jika ditilik dari konsepsi ajaran Islam pada waktu hari raya tiba, maka diharamkan melakukan puasa, artinya semua harus berbuka, lalu masih ada umat lainnya yang melakukan puasa karena anggapan bahwa tanggal 1 Syawal belumlah tiba. Ini menurut saya adalah ironi yang seharusnya tidak boleh terjadi. Meskipun kita memahami perbedaan sebagai rahmat Tuhan, namun hal ini hanya aneh saja. Itulah sebabnya saya nyatakan “apakah menjalankan shalat id termasuk yang ditanyakan oleh Malaikat di alam kubur”. Apakah malaikat akan bertanya” anda dari golongan mana? Sebab kalau ada yang haram dan ada yang tidak haram dalam menjalankan puasa, pastilah akan menimbulkan kerumitan di dalam penilaiannya. Untunglah bahwa malaikat tentu sudah dibekali dengan ilmu yang sangat mumpuni untuk mendeteksi semuanya. Pertanyaan-pertanyaan liberal semacam ini akan muncul manakala kita terus berbeda di dalam penentuan awal puasa, akhir puasa dan juga awal Dzulhijah.
Bagi masyarakat Islam Indonesia, sesungguhnya para pimpinannya yang menjadi referensi di dalam tindakannya. Oleh karena itu, beban yang dipanggul oleh pimpinan umat tidaklah ringan. Merekalah yang akan mempertanggungjawabkan terhadap hal-hal strategis dan pasti termasuk di dalam penentuan hari raya ini.
Makanya, para pimpinan NU, pimpinan Muhammadiyah dan pimpinan organisasi Islam lainnya yang masih silang sengkarut tentang metode penentuan bulan Qamariyah, hendaknya berpikir arif untuk secara bersama-sama duduk menyelenggarakan mudzakarah agar memperpendek jarak perbedaan di antara mereka.
Di pundak para pimpinan organisasi Islam itulah sesungguhnya kualitas dan kuantitas umat Islam Indonesia akan diarahkan. Jika para pimpinannya masih memiliki semangat untuk berbeda, maka juga jangan pernah berpikir akan terjadi kesatuan dan persatuan umat Islam. Masih jauh rasanya kita berbicara persatuan umat Islam Indonesia secara kaffah.
Wallahu a’lam bi al shawab.

Categories: Opini
Comment form currently closed..