• June 2026
    M T W T F S S
    « May    
    1234567
    891011121314
    15161718192021
    22232425262728
    2930  

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

MAKNA PUASA DALAM PERSPEKTIF SOSIAL

MAKNA PUASA DALAM PERSPEKTIF SOSIAL

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Saya mendapatkan tugas untuk memberikan ceramah sesuai dengan jadwal saya, yaitu hari Ahad. Setiap hari Ahad saya harus menjalankan tugas ceramah tujuh menit (kultum) ba’da Shalat Isya’ sebelum shalat Tarawih di Masjid Al Ihsan, kali ini untuk tanggal 17/04/2022. Sebagaimana biasa ceramah ini saya mulai dengan membaca Surat Alfatihah, semoga dengan membaca Surat Alfatihah maka segala urusan kita dimudahkan oleh Allah dan diberikan berkah di dalam kehidupan kita. ‘ala hadiyin niyah wa ‘ala kulli niyatin shalihah alfatihah…

Ada tiga hal yang sampaikan di dalam ceramah ini, yaitu: pertama, marilah kita terus bersyukur atas nikmat Allah yang sedemikian besar untuk kita semua. Nikmat Allah yang besar adalah nikmat kesehatan,  sehingga kita bisa melakukan ibadah puasa dan juga dapat melaksanakan ibadah-ibadah lain sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Allah. Semoga dengan terus menerus bersyukur kepada Allah zhahiran wa bathinan kemudian Allah akan menambahkan nikmatnya untuk kita semua. Amin.

Kedua, puasa adalah pelatihan sosial untuk kita semua. Allah memang sengaja mengajari kita semua, umat Islam,  untuk berlatih mengembangkan paham, sikap dan tindakan sosial yang relevan dengan kebutuhan kita sebagai manusia. Allah menciptakan manusia sebagai makhluk sosial. Artinya, manusia merupakan makhluk yang memiliki kebutuhan sosial, selain kebutuhan fisik dan kebutuhan integrative. Kebutuhan sosial adalah kebutuhan untuk bersosialisasi diri dengan lingkungan sosial, sedangkan kebutuhan fisik adalah kebutuhan untuk memenuhi kepentingan fisik (biologis)  dan kebutuhan integrative (gabungan kedua kebutuhan fisik dan sosial) adalah kebutuhan untuk berkasih sayang, berketuhanan dan sebagainya.

Puasa merupakan ajaran untuk melatih manusia agar: 1) memiliki kepekaan sosial. Bisa dinyatakan bahwa puasa merupakan ajaran yang coraknya fisikal artinya menahan makan minum dan perbuatan seksual di siang hari. Selain tentu saja adalah larangan untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang bertentangan dengan tujuan puasa. Melalui puasa manusia diminta untuk merasakan bagaimana rasa lapar, haus dan menahan perbuatan-perbuatan yang bisa membatalkan puasa. Manusia akan merasakan jika pada waktu menjalankan puasa itu lapar dan dahaga, maka orang yang tidak bisa makan juga merasakan hal yang sama. Jika orang lain tidak bebas melakukan perbuatan-perbuatan yang semestinya bisa dilakukan, maka juga demikianlah yang dirasakan orang lain. Maka dengan puasa kita diajari agar memiliki kepekaan sosial. Pemahaman dan perasaan  kita menjadi peka atas penderitaan orang lain.

Jika pemahaman dan perasaan kita sudah peka atas penderitaan orang lain, maka:  2) kita akan memiliki kesadaran untuk membantu yang lain. Kita sadar bahwa di sekeliling kita masih ada banyak orang fakir dan miskin yang memerlukan bantuan kita. Jika hati dan perasaan kita sudah sadar, maka akan menimbulkan kesadaran untuk bertindak sesuai dengan kesadaran tersebut. Kita akan menyayangi orang lain. Kita akan merasakan penderitan orang lain. Kita  akan  berempati pada orang lain. Saya berkeyakinan bahwa puasa yang kita lakukan merupakan instrument untuk kita semua agar di dalam kehidupan ini kita saling menenggang rasa, saling menghargai, saling memberikan kasih sayang dan saling menjaga satu dengan lainnya. Kita merasakan dan menyadari ada orang yang belum beruntung di sekeliling kita. Berdasarkan kajian Badan Pusat Statistik (BPS) masih ada kurang lebih 16,5 juta orang Indonesia yang hidup dalam kemiskinan.

Dari dua hal, yaitu kepekaaan sosial dan kesadaran sosial akhirnya: 3) akan menghadirkan solidaritas sosial. Keunggulan ajaran Islam di antaranya adalah agar manusia memiliki solidaritas sosial. Tidak ada manusia yang bisa hidup sendiri di dunia ini. Setiap manusia pasti membutuhkan manusia lainnya. Jika kita akan minum air mineral dalam kemasan, maka coba dibayangkan bahwa ada ratusan orang yang terlibat di dalamnya sehingga air mineral tersebut hadir di tengah kita. Ada pekerja, ada perusahaan, ada distributor, ada suppliyer, ada pedagang dan seterusnya sehingga air hadir di depan kita dan kemudian kita bisa meminumnya. Manusia pasti akan membutuhkan pertolongan atas manusia lainnya. Makanya, Islam mengajarkan agar di antara kita saling membangun solidaritas sosial untuk kepentingan kita sendiri.

Ketiga, Islam mengajarkan agar kita saling menolong sebagaimana di dalam AlQur’an: “Ta’awanu ‘alal birri wat taqwa wa la ta’awanu ‘alal itsmi wal ‘udwan”(Surat Al Maidah, ayat 2). Yang artinya: “saling bertolong menolonglah kalian semua dalam kebaikan dan taqwa dan jangan saling bertolong menolong dalam dosa dan kejahatan”. Esensi puasa sesungguhnya adalah instrument untuk mengingatkan manusia agar memahami kembali jati dirinya sebagai makhluk sosial yang membutuhkan orang lain. Puasa  merupakan pelatihan agar manusia berbuat kebaikan, maka pada akhirnya juga menghasilkan manusia yang terus berada di dalam aura solidaritas sosial dalam kebaikan.

Sesungguhnya manusia sudah memiliki insting untuk saling menolong. Hanya saja karena pengaruh lingkungan sosial maka insting tersebut sering dikalahkan oleh kebutuhan-kebutuhan lainnya. Maka puasa sebenarnya merupakan salah satu cara yang diberikan Allah kepada manusia untuk membangkitkan kembali solidaritas sosial yang hilang tersebut.

Berbahagialah orang yang bisa mengingat kembali harkat dan martabat manusia untuk saling berbagi, saling memberi dan saling menerima di dalam proporsi yang memungkinkan. Di dalam ajaran puasa terkandung maksud agar manusia berada kembali dalam jalur solidaritas sosial yang merupakan ajaran agama Islam yang agung.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

PUASA DALAM PERSPEKTIF PENDIDIKAN

PUASA DALAM PERSPEKTIF PENDIDIKAN

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Jamaah Masjid Al Ihsan, saya kira sudah memahami makna puasa dan tujuan puasa. Puasa tentu dipahami sebagai suatu aktivitas menahan dari tindakan untuk makan, minum dan melakukan relasi seksual pada siang hari. Untuk melakukan puasa tersebut  harus dilakukan dengan sungguh-sungguh agar bisa memperoleh tujuan puasa yaitu untuk  memperoleh ketaqwaan. Yaitu menjadi orang yang selalu berada di dalam koridor untuk menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-larangannya. Kalimat ini yang saya sampaikan kepada para jamaah shalat Isya’ dan tarawih  Masjid Al Ihsan Perumahan Lotus Regency Ketintang Surabaya. Jamaah isya’ dan tarawih berjamaah ini dilaksanakan pada  8 April 2022.

Puasa atau shoum adalah ajaran Islam yang memiliki sejarah panjang di dalam kehidupan manusia. Puasa tidak hanya ajaran yang diperuntukkan pada umat Islam saja, akan tetapi juga diperuntukkan pada umat-umat sebelum datangnya Islam. Semua agama di dunia ini mengajarkan puasa dalam cara dan tradisinya masing-masing. Puasa merupakan ajaran yang sangat special. Puasa merupakan ajaran yang didesain oleh Allah sebagai medium pelatihan bagi manusia di dalam mengarungi hidupnya. Di sinilah relevansi antara puasa dengan pendidikan. Puasa bisa menjadi instrument dalam kerangka untuk mendidik manusia dalam kehidupan.

Pertama, mendidik kedisiplinan. Puasa yang kita jalani sekarang dapat menjadi pelatihan kedisiplinan, misalnya disiplin makan dan minum, relasi seksual dan perbuatan yang baik dan menghindari perbuatan jelek. Tanpa pengawasan siapapun maka seseorang tidak akan melakukan tindakan yang dapat membatalkan puasanya. Di mana saja dan kapan saja, maka orang yang puasa dipastikan tidak akan melakukan pelanggaran atas puasa yang dilakukannya tersebut. Jika biasanya tidak dalam keadaan berpuasa, maka makanan dan minuman apa saja bisa dimakan. Andaikan di meja terdapat makanan soto, sate, bakso, rawon, sate, dan dengan minuman es kopyor, es jeruk, es teler dan sebagainya, maka hal itu pasti disantap tanpa memperhatikan waktu kapan dan di mana. Tetapi dengan puasa maka semuanya itu tidak dilakukan. Sungguh luar biasa.

Kedua, puasa juga mendidik agar kita bertanggung jawab. Jika seseorang menjalani puasa, maka dipastikan bahwa dia akan bertanggung jawab atas apa yang dilakukannya. Dia akan bisa memilih apa yang bisa dilakukannya dan apa yang tidak bisa dilakukannya. Tanpa ada orang yang melihatnya, maka dia akan bertanggungjawab atas perbuatannya. Tanggung jawab tersebut tentu terkait dengan keyakinannya bahwa ada pengawas yang cermat atas apa yang dilakukannya. Diyakini bahwa Allah maha tahu atas semua perbuatannya. Melalui Malaikat Rakib dan Atid, maka semua amalnya akan dicatatnya dengan semestinya. Jadi ada semacam CCTV yang sangat besar untuk merekam jejak setiap orang di dalam kehidupannya. Jadi dipastikan tidak ada yang tertinggal di dalam rekam jejak dimaksud. makna puasa tentunya agar jika terdapat  tindakan yang tidak sesuai dengan ajaran Islam, maka Allah berkenan mengampuninya.

Ketiga, puasa juga bisa menjadi instrument melatih hawa nafsu agar semakin  baik. Dari banyak memiliki nafsu amarah dan lawwamah ke nafsu mutmainnah. Dari nafsu yang berselaras ke biologis ke nafsu yang berselaras ke spiritual. Manusia memang memiliki nafsu kebinatangan, sebab manusia sebenarnya binatang juga, hanya saja binatang yang bisa berpikir atau hayawanun natiq. Oleh karena itu maka dipastikan manusia juga memiliki nafsu yang berkaitan dengan nafsu binatang, misalnya makan, minum, relasi seksual dan nafsu lainnya. Namun demikian, nafsu hayawaniyah tersebut harus dimanej agar tidak jatuh kepada nafsu binatang yang sebenarnya. Nafsu biologis memang tidak harus dihilangkan sebab nanti akan kehilangan nafsu tersebut. Tetapi yang terpenting adalah mengatur agar nafsu tersebut bisa dimanej sesuai dengan ajaran Islam. Dan salah satu instrumennya adalah puasa.

Nafsu merupakan bagian dari sisi kehidupan manusia yang penting. Nabi Muhammad SAW menyatakan: “raja’tu min jihadil ashghar ila jihadil akbar”. Dan kala Nabi Muhammad SAW ditanya, maka Beliau menjawab: “jihadun nafs”. Artinya, “saya kembali dari jihad kecil menuju jihad besar”, yaitu: “jihad melawan hawa nafsu”. Dari hadits Nabi Muhammad SAW ini maka bisa dipahami bahwa jihad melawan hawa nafsu merupakan jihad yang besar. Perang Badar sebagai perang terbesar di dalam sejarah Islam ternyata bukan jihad yang terbesar, tetapi yang terbesar adalah jihad melawan hawa nafsu. Jadi puasa dapat dijadikan sebagai instrument untuk berperang melawan hawa nafsu.

Jika manusia bisa melakukannya, maka manusia akan dapat menjadi bagian dari Firman Allah, di dalam surat Al Fajar, ayat 27-30, yang artinya: “wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridai-Nya, maka masuklah ke dalam hamba-hamba-Ku dan masuklah ke dalam surga-Ku”. Puasa sebagaimana yang kita lakukan hakikatnya bisa menjadi medium untuk melatih diri agar bisa menjadi manusia yang memiliki nafsu muthmainnah, dan inilah yang menjadi indikasi kita menjadi hamba Allah yang akan memasuki surga-Nya.

Walllahu a’lam bi al shawab.

ISLAM ITU INDAH: MENJALIN SILATURRAHMI (4)

ISLAM ITU INDAH: MENJALIN SILATURRAHMI (4)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Di dalam pengajian yang diselenggarakan setiap hari Selasa atau pengajian Selasanan bakda subuh , maka secara sengaja saya menyampaikan satu tema tentang indahnya Islam karena Islam mengajarkan agar kita semua membangun relasi sosial yang akan membawa kepada kerahmatan bagi kehidupan kita semua. Sebelum mengaji marilah kita baca Surat Alfatihan semoga apa yang kita inginkan di dalam kehidupan diijabah oleh Allah swt. Syaiun lillah lahum alfatihah….

Salah satu keutamaan ajaran Islam adalah Islam sangat menganjurkan agar umatnya melakukan relasi sosial satu dengan lainnya. Tanpa harus membedakan apa warna kulitnya, bagaimana bentuk fisiknya, apa etnis dan golongan sosialnya dan bahkan apa agamanya. Di dalam hal ini, maka ajaran Islam menganjurkan agar manusia satu dengan lainnya melakukan hubungan sosial yang saling asah asih dan asuh. Relasi sosial yang seimbang, selaras dan menuju kepada keharmonisan dan kerukunan sosial.

Keragaman adalah sunnatullah yang kehadirannya merupakan keniscayaan. Jadi sebagai keniscayaan sosial. Tidak ada di dalam dunia ini masyarakat yang monokultur dan juga mono etnis. Dipastikan ada berbagai tradisi atau kebudayaan dan juga berbagai rasa atau kesukubangsaan. Allah memang menciptakan manusia dalam keragaman, bersuku-suku dan berbangsa-bangsa. Hikmah diciptakannya keragaman adalah agar satu dengan lainnya saling mengenal atau saling memahami. Alqur’an menjelaskan li ta’arafu, yang arti harfiahnya adalah untuk saling mengenal dan bahkan untuk saling memahami satu dengan lainnya.

Allah menciptakan hamparan dunia ini dengan berbagai ragam kehidupan. Ada manusia, hewan, binatang. Ada makhluk maujud secara fisikal dan ada juga makhluk non maujud atau non fisikal. Di samping manusia, Allah juga menciptakan jin sebangsa manusia tetapi tidak kasat mata. Tetapi harus diyakini keberadaannya. Bahkan ajaran Islam sesungguhnya harus dijadikan sebagai pedoman bagi jin dan manusia. Allah menyatakan: “wa ma khalaqtul jinna wal insa illa liya’budun”. Yang artinya: “tidaklah kami (Allah) ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah”.

Sesungguhnya Allah sudah memberikan potensi bagi manusia untuk membangun relasi sosial berbasis pada pemahaman tentang siapa manusia di sekeliling kita. Bahkan Allah juga mengajarkan kepada kita sebagaimana tercantum di dalam surat AlHujurat ayat 10: “innamal mu’minuna ikhwahtun fa ashlihu baina akhawaikum wat taqullahu la’allakum turhamun”, yang artinya secara harfiyah adalah: “Sesungguhnya orang mukmin itu bersaudara, maka lakukan ishlah atau damaikan (jika ada masalah) di antara kamu, dan bertaqwallah kepada Allah jika kamu ingin mendapatkan kerahmatan”. Melalui ayat ini, maka Allah telah memberikan alternatif jika ada di antara kita yang berselisih. Bisa karena selisih paham, selisih pilihan dalam kehidupan, perbedaan paham agama, perbedaan amal ibadah dan sebagainya.

Di dalam kehidupan ini dipastikan bahwa ada masalah yang bisa dialami siapa saja. Masalah itu berbasis pada   ketidaksamaan pemahaman tentang sesuatu hal, atau karena ketidakmengertian, atau perbedaan di antara kita. Perselisihan paham bisa berangkat dari misalnya urusan jabatan, urusan harta, urusan pekerjaan, urusan keyakinan beragama dan sebagainya. Maka jika terjadi seperti ini, maka instrumennya adalah ishlah. Konsep ishlah hakikatnya harus berangkat dari keinginan untuk saling memahami perbedaan, atau saling memahami tujuan dan kepastian hidup masing-masing. Selain itu juga harus ada orang yang bersedia untuk menjadi penengah atau pendamai. Yang bisa menjadi pendamai adalah orang yang memahami kepentingan kedua belah pihak sehingga akan bisa berposisi netral di dalam menentukan kepastian apa yang akan dijadikan sebagai penyelesaian masalah. Tentu saja, di dalam penyelesaian masalah haruslah ada kemauan untuk saling mengalah dan bukan saling menang. Dalam istilah saya nyatakan harus ada kemauan untuk maju selangkah dan mundur  selangkah. Tanpa adanya kemauan untuk bernegosiasi seperti ini, maka penyelesaian masalah dipastikan akan sulit dilakukan. Di sinilah diperlukan seorang negosiator yang andal dan juga open mind dari para pelaku yang berselisih.

Jika masalah tersebut masalah individu, maka masih mudah untuk diselesaikan. Yang rumit adalah di kala yang terjadi adalah perselisihan komunal. Bisa saja masalah tersebut berasal dari masalah individu yang kemudian menjadi masalah komunal, dan bisa juga memang masalah komunal. Jika ini yang terjadi maka diperlukan upaya untuk rekonsiliasi melalui resolusi konflik. Ada beberapa Langkah di dalam resolusi konflik, yaitu: pertama, diperlukan sebuah tim rekonsiliasi yang berada di dalam kawasan netral baik dalam pemikiran, sikap dan perilaku. Kedua, mengenal dengan jelas apa yang menjadi akar masalahnya, sehingga akan bisa menemukan solusi atas masalah dimaksud, ketiga, melakukan negosiasi dengan actor atau agen yang bermasalah, yaitu dengan media pertemuan tertutup untuk menyamakan wawasan, keempat, yang menjadi representasi dari dua kubu adalah orang yang benar-benar menjadi perwakilan di antara yang bermasalah. Kelima, diandaikan bahwa pertemuan itu akan terjadi berulang-ulang untuk menghasilkan kesepahaman, sehingga tercapai titik temu di antara yang bermasalah.   Keenam, adanya kesepakatan di antara dua kelompok yang berselisih untuk menentukan sendiri jalan apa yang ditempuh dalam penyelesaian masalah, dan ketujuh, menjalankan kesepakatan di antara mereka. Apa yang bisa dilakukan dan apa yang tidak bisa dilakukan.

Islam sangat menghargai kebaikan, menghargai persahabatan, menghargai kesepahaman, menghargai titik temu dalam problem kehidupan serta menghargai ukhuwah Islamiyah, bahkan ukhuwah wathaniyah dan ukhuwah basyariyah. Islam adalah agama damai, Islam adalah agama untuk membangun keteraturan sosial, dan Islam adalah agama yang sangat menunjung tinggi relasi sosial berbasis kesetaraan dan keadilan.

Jadi kita harus melakukan relasi sosial yang baik dan bermanfaat agar citra Islam yang sedemikian indah tidak tereduksi dengan pemahaman, sikap dan perilaku kita yang tidak menghargai keindahan Islam dimaksud. janganlah kita menodai kesucian Islam dengan perilaku kita yang tidak terpuji.

Wallahu a’lam bi al shawab.

INDAHNYA AJARAN ISLAM: MEMBERI MAKANAN ROHANI (3)

INDAHNYA AJARAN ISLAM: MEMBERI MAKANAN ROHANI (3)

Prof. Dr. Nur Syam, Msi

Sebelum memulai pengajian rutin selasanan bakda shubuh, marilah kita membaca shurat al fatihah, ummul Qur’an, semoga dengan membaca ummul kitab ini, maka kita akan selalu diberikan rasa tenteram, aman dan berbahagia serta dimudahkan seluruh urusan kita, baik di dunia maupun di akhirat.  Syaiun lillah lahum alfatihah…

Selama ini kebanyakan ahli membagi tentang manusia dalam dua unsur, yaitu rohani dan jasmani. Atau terkadang membaginya dengan jiwa dan raga. Pembagian ini sudah sangat lazim di dalam Bahasa Indonesia dan dipahami oleh kebanyakan masyarakat. Pembagian ini tentu bukan salah, hanya kiranya perlu dicermati lagi untuk mendalami apakah masih ada peluang untuk menilai ulang mengenai pengenalan unsur manusia yang hanya dua saja. Saya sering bertanya di dalam pikiran saya, mungkin masih ada unsur lain di dalam diri manusia, yang kiranya perlu untuk dipahami.

Saya membagi unsur di dalam tubuh manusia itu dengan tiga, yaitu: Roh, Jiwa dan Raga atau Roh, Jiwa dan jasad. Jika jasad tentu sudah dipahami adalah tubuh atau fisik manusia, misalnya kepala, tangan, kaki, punggung, jari, mata, telinga dan seluruh hal yang terkait dengan fisik. Baik yang kelihatan dengan mata  atau melalui pengindraan, atau yang diketahui melalui alat atau teknologi kedokteran, misalnya paru-paru, jantung, hati, syaraf dan sebagainya. Di dalam dunia ilmu pengetahuan bahwa tubuh atau jasad tersebut memiliki kebutuhan yang bercorak biologis, misalnya kebutuhan makan, minum, seksualitas dan sebagainya. Pokoknya semua kebutuhan yang terkait jasad. Karena jasad itu fisik maka juga membutuhkan hal-hal yang bercorak fisik.

Roh adalah sesuatu yang lain. Roh adalah barang sesuatu yang tidak bercorak bendawi, yang bisa menghidupkan fisik yang tak berdaya, membangkitkan kehidupan manusia dari seonggok daging dan darah untuk menjadi makhluk hidup dan roh merupakan tiupan Tuhan ke dalam diri manusia. Hingga hari ini ilmu pengetahuan tidak bisa menjelaskan secara memadai tentang apakah roh itu, bagaimana dzatnya, dan bagaimana unsur-unsurnya dan sejumlah pertanyaan lainnya. Roh itu urusan Allah SWT, dan Nabi Muhammad SAW juga tidak menjelaskannya. Urusan Roh adalah keyakinan dan menjadi misteri ketuhanan. Jadi jasad dan roh saya kira sudah jelas. Jasad bisa dikaji secara empiris, sedangkan roh tidak bisa dikaji secara empiris. Roh adalah sesuatu yang misterius.

Nah yang perlu penjelasan mendalam adalah jiwa atau dalam dalam Bahasa Arab disebut sebagai al-nafs. Jiwa adalah kecendenderungan untuk melakukan tindakan atau melakukan sesuatu. Di dalam diri manusia terdapat “segumpal daging” jika ia baik maka akan baik seluruh kehidupan manusia dan jika jelek akan jelek seluruh kehidupan manusia. Di dalam hadits Nabi dijelaskan “ala wa inna fil jasadi mudzghatan, wa idza shaluhat shaluhal jasaduhu kulluh, wa idza fasadat fasadat jasadu kulluhu, wa hiya qalbu”. Yang artinya: “ketahuilah bahwa sesungguhnya di dalam jasad terdapat segumpal darah, maka jika baik maka baiklah seluruh jasadnya, dan jika jelek maka jeleklah seluruh jasadnya, dan itu adalah hati”. Hati itu bisa berupa fisik yang bisa diketahui dengan teknologi kedokteran, tetapi juga bisa non fisik. Sama dengan otak yang bisa dikaji secara medis melalui teknologi kedokteran, dan tentu ada dimensi nonfisik yang misterius. Dan yang misterius itulah yang bisa disebut sebagai jiwa atau  disebut sebagai nafsu. Apa itu nafsu, maka ilmu psikhologi mengkaji aspek yang bisa diobservasi yaitu perilaku. Maka akhir-akhir ini psikhologi disebut juga sebagai ilmu perilaku.

Manusia dikaruniai jasad yang berasal dari unsur tanah atau sari pati tanah. Seluruh makanan dan minuman manusia tersebut bercampur menjadi satu kesatuan, dari unsur nabati dan unsur hewani, dan kemudian menjadi sari pati di dalam tubuh menjadi sperma. Jika sperma bertemu dengan ovum, maka jadilah gumpalan daging dan darah  kemudian ditiupkan roh kepadanya, dan menjadi hidup. Jelaslah bahwa roh itu adalah “sesuatu” yang diberikan oleh Allah kepada manusia untuk menghidupkannya. Jadi roh berbeda dengan jiwa atau nafsu. Pada tulisan sebelumnya saya nyatakan bahw roh itu adalah netral. Dan di dalam Bahasa Indonesia disebut sebagai nyawa. Roh atau nyawa ini yang menggerakkan tubuh.

Sedangkan nafsu adalah kecenderungan manusia kepada sesuatu, apakah kepada keduniawian atau keukhrawian.   Nafsu itu kecenderungan hati untuk melakukan, merasakan dan mengalami kehidupan.  Makanya, manusia bisa dilabel dengan kal malaikat atau seperti malaikat, yang selalu berkecenderungan untuk ibadah atau berlaku kebaikan, dan kal hayawan atau seperti hewan, yang selalu berkeenderungan memenuhi kebutuhan biologisnya. Jiwa dikenal memiliki unsur syahwat atau keinginan biologis, ghadhab atau nafsu kemarahan, nafsu untuk melakukan tindakan yang tak terkendali, dan nafsu natiqah yang terkait dengan nafsu kebaikan atau nafsu tenang dan dekat dengan dimensi ketuhanan.

Melalui gambaran seperti ini, maka kita sekurang-kurangnya bisa membedakan mana yang roh, mana yang jiwa dan mana yang jasad. Jika di dalam Lagu Kebangsaan Indonesia Raya dinyatakan “bangunlah jiwanya bangunlah badannya untuk Indonesia Raya”, maka terjemahannya adalah manusia memiliki dua hal penting, yaitu jiwa atau nafsu dan raga atau badan. Yang dibangun juga kesehatan raganya selain kesehatan jiwanya. Maka, janganlah memiliki jiwa keangkaramurkaan, karena hal ini bertentangan dengan pedoman dan ajaran agama dan juga kecintaan kepada Nusa dan bangsa.

Wallahu a’lam bi al shawab.

HEBATNYA AJARAN ISLAM; AJARAN MEMBERI MAKAN (2)

HEBATNYA AJARAN ISLAM; AJARAN MEMBERI MAKAN (2)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Sebelum kita melanjutkan pengajian selasanan bakda shubuh, maka marilah kita membaca shurat Alfatihah, ummul qur’an, semoga dengan terus membaca shurat Alfatihah, maka kita akan dimudahkan Allah dalam segala urusan dan diberkahi kehidupan kita dengan kebaikan-kebaikan di dunia dan akhirat. Syaiun lillah lahum alfatihah…

Hadits Nabi Muhammad itu berbunyi: “sami’tu Rasulullah SAW yaqulu: Ya ayyuhan nas  ‘afsyus salam wa ath’imuth tha’am, wa shilul arham, wa shallu   wan nasu tsiyamun, tadkhulul Jannata bis salam”. Rawahu Tirmidzi. Yang artinya secara umum adalah: “saya mendengar Rasulullah SAW berkata: Wahai manusia sebarkanlah salam, berikan makanan, sambunglah tali silaturrahmi, dan shalatlah  kala manusia tertidur, maka masuklah surga dengan selamat”. Hadits ini dinukil dari Kitab Riyadhus Shalihin, karya Imam Nawawi. Pada tulisan yang lalu sudah saya jelaskan tentang hebatnya salam.

Di dalam hadits ini dijelaskan mengenai ath’imuth tho’am atau dalam Bahasa Indonesia diterjemahkan dengan “berikan makan”. Secara tekstual, maka yang namanya makan tentu merupakan pemenuhan kebutuhan fisik. Jadi makan itu terkait dengan fisik atau pemenuhan kebutuhan biologis. Jadi jika menggunakan makna tekstual maka hadits ini memberikan arahan agar manusia memberikan makanan kepada manusia lainnya, atau bahkan tidak hanya manusia tetapi juga kepada makhluk Tuhan lainnya yang membutuhkan makan. Jadi secara etimologis, memberi makan itu artinya adalah dalam wujud makanan. Bisa nasi atau lainnya. Apa saja yang secara fisikal bisa mengenyangkan.

Namun saya berusaha untuk memahami secara terminologis makna dari memberi makan. Saya memahami bahwa memberi makan itu tidak terbatas pada pemberikan makan fisik dalam bentuk makanan yang mengenyangkan perut, tetapi bisa dimaknai lainnya, yaitu makanan fisik, makanan jiwa dan makanan rohani. Makanan fisik sudah jelas, tetapi makanan jiwa dan makanan rohani ini yang saya kira diperlukan penjelasan lebih lanjut.

Manusia memiliki tiga unsur, yaitu: unsur fisik atau biologis, unsur jiwa dan unsur roh. Di Indonesia hanya dikenal dua saja unsur dalam diri manusia, yaitu: jiwa dan raga. Jiwa di dalam Bahasa Arab disebut an nafs. Maka ilmu jiwa disebut sebagai ilmun nafs. Jadi jiwa itu bisa dipelajari. Ekspressi jiwa adalah perilaku. Dan perilaku bisa dikaji secara ilmiah. Sedangkan roh itu sesuatu yang tidak bisa dipelajari, karena roh itu ditiupkan Tuhan kepada manusia sehingga mengandung dimensi Ketuhanan atau aspek misteri ketuhanan. Hanya Allah saja yang tahu tentang roh, bahkan kala Nabi Muhammad SAW ditanya tentang roh, maka Nabi Muhammad SAW menyatakan roh itu urusannya Allah, dan kita tidak diberikan ilmu kecuali sedikit. “Wa yas’alunaka ‘anir ruh, kulir ruhi min ‘amri rabbi,  wa ma utitum minal ‘ilmi illa qalilan”, (Surat Al Isra’ ayat 85),  yang artinya kurang lebih: “dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh,  katakanlah: Roh itu termasuk urusan Tuhanku, Dan  tidaklah kamu  diberikan pengetahuan  kecuali sedikit”.

Lalu, apakah perbedaan antara roh dan jiwa. Jawabannya adalah roh itu merupakan “sesuatu” yang ditiupkan Allah kepada janin manusia. Dengan roh itulah maka manusia menjadi hidup. Sebelumnya masih merupakan gumpalan daging dan darah dan kemudian setelah ditiupkan roh oleh Allah, maka jasad tersebut bernyawa. Menjadi hidup. Lalu jiwa adalah yang mengantarai relasi atau hubungan antara badan atau jasad dengan roh. Secara skematis bisa digambarkan jiwa berada di tengah-tengah antara jasad dan roh. Jiwa berisi tentang kecenderungan untuk melakukan sesuatu. Jiwa atau nafs memiliki kecenderungan terkait dengan pilihan-pilihan di dalam kehidupan. sedangkan roh itu netral karena roh adalah tiupan  Allah pada diri manusia. Oleh karena itu, jiwalah yang memainkan peranan penting di dalam kehidupan ini. Adakalanya jiwa itu lebih dekat kepada dunia jasad atau mengikuti keinginan jasad atau nafsu biologis dan ada kalanya cenderung kepada roh atau dimensi ketuhanan. Di dalam konsepsi Islam, jiwa itu adakalanya seperti binatang atau kal hayawan dan adakalanya kal malaikat. Jiwa bisa dekat kepada roh dan bisa dekat ke jasad. Islam membagi nafsu itu bermacam-macam, yaitu: nafsul muthmainnah  atau jiwa yang tenang yang penuh dengan dimensi ketuhanan, dan ada nafsul lawwamah atau jiwa yang dekat kepada jasad penuh dengan keinginan-keinginan duniawi sehingga akhirnya menyesali kenyataan tersebut, dan nafsul ammarah atau jiwa yang selalu berkecenderungan untuk memenuhi hasrat hidup dalam segala aspek dengan kekuasaan dan  kekuatan.  Jiwa yang tenang penuh dengan sifat-sifat kebaikan, akan mengantarkan manusia untuk dekat dengan Tuhan, sementara itu jiwa yang penuh dengan nafsu keduniawian dalam segala aspeknya akan mendekatkan kepada kehidupan biologis dan menjauhkannya dari Tuhan, sementara itu jika kemudian ada penyesalan atas kesalahan yang dilakukan maka dia memasuki jiwa penyesalan, bisa kepada kebaikan atau sebaliknya.

Sesungguhnya Allah SWT sudah memberikan kepada manusia cara untuk memasuki nafsu mutmainnah melalui makanan jiwa atau asupan jiwa. Asupan jiwa tersebut dapat berupa mengamalkan kebaikan-kebaikan sesuai dengan ajaran Islam, misalnya mendengarkan pengajian, mengaji Alqur’an, atau melakukan dzikir secara terstruktur dan amalan-amalan shalih lainnya yang jumlahnya sangat banyak. Asupan jiwa dapat diperoleh melalui kehadiran guru atau belajar sendiri (otodidak) dari sumber-sumber yang diyakini kesahihannya.

Dari penjelasan ini, maka ath’imuth tho’am  itu tidak hanya bermakna makanan fisik dalam bentuk makanan atau minuman, atau lainnya yang bersifat jasadiyah, akan tetapi juga pemberian atau pengisian batin atau jiwa dengan amalan-amalan kebaikan, yang dipastikan akan menjadikan kita akan lebih baik dan lebih baik lagi.

Wallahu a’lam bi al shawab.