• October 2026
    M T W T F S S
    « Sep    
     1234
    567891011
    12131415161718
    19202122232425
    262728293031  

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

MENJALIN TEMU KANGEN: REUNIAN KOMUNITAS RONGGOLAWE TUBAN

MENJALIN TEMU KANGEN: REUNIAN KOMUNITAS RONGGOLAWE TUBAN

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Artikel ini merupakan refleksi atas acara reunian yang diselenggarakan oleh Komunitas Ronggolawe atau Paguyuban Ronggolawe yang terdiri dari individu-individu yang lahir di Tuban dan kemudian menetap di luar Tuban, baik di Surabaya, Sidoarjo, Gresik, Malang, Pasuruan dan tempat lain di Jawa Timur termasuk di Jakarta dan kota-kota lainnya. Acara ini diselenggarakan di tempat rekreasi Banyulangse, Merakurak Tuban. Acara dilakukan pada hari Ahad, 08/01/23.

Acara ini  menarik karena menjadi ajang untuk temu kangen. Lalu, mereka menunjukkan bakat masing-masing. Nyanyi. Ada yang menyanyikan  lagu-lagunya Koes Plus, Dangdut, dan juga lagu-lagu campursari yang dilantunkan secara bersama-sama. Bahkan ada yang menyanyi sesuai dengan sekolah dan angkatannya, misalnya SMA Angkatan 70-an, STM 1970-an dan seterusnya. Nyanyi-nyanyi ini menjadi ritual wajib dalam acara yang diselenggarakan oleh Komunitas Ronggolawe.

Yang menarik bahwa hampir semua orang yang menjadi anggota komunitas Ronggolawe bisa menyanyi. Bahkan juga berjoget sesuai dengan irama lagunya. Saya juga didaulat untuk menyanyi pada acara ini. Dengan sangat terpaksa maka saya pun menyanyi lagu wajib yang sering kali saya lantunkan. Lagunya Rhoma Irama.  “Kegagalan Cinta”. Ternyata semua audience berjoget dengan lagu dangdut ini. Nyaris semuanya hafal syair lagu Bang Haji Rhoma Irama. Bang Haji rupanya popular di kalangan generasi “colonial” atau generasi “baby boomer”.

Ada sambutan dari Mas Sujarwoto, kawan lama yang menjadi panitia reunian ini. Beliau menetap di Tuban dan menjadi dosen pada salah satu universitas di sini. Lama sekali saya tidak bertemu dengan Mas Jarwoto. Tetapi sama sekali saya tidak lupa wajahnya. Beliau kelihatan masih muda. Diteruskan dengan sambutan Ketua Paguyuban Ronggolawe, Pak Soebijantoro, priyantun Tuban yang menetap di Surabaya. Pak Bijantoro juga “jago” menyanyi. Suaranya enak.

Saya juga diminta untuk memberikan sambutan untuk mewakili para anggota Paguyuban. Kemudian saya sampaikan tiga hal, yaitu: pertama,  bersyukur kepada Allah SWT, Tuhan Yang Maha Kuasa karena kita bisa dipertemukan dalam acara reuni dari para lulusan SMA atau sederajat lintas sekolah. Ada yang dari SMA, STM dan juga PGA 6 tahun. Kita bersyukur karena masih dikaruniai kesehatan. Jika ada di antaranya yang punya gangguan kolesterol,  asam urat, atau diabet, semoga Allah SWT memberikan keringanan sakitnya atau bahkan menghilangkan sakitnya. Semua di antara kita berharap menjadi tua tetapi sehat, segar dan bugar. Menjadi tua  memang kepastian, tetapi menjadi sehat adalah doa dan harapan. Setiap orang akan mengalami masa kanak-kanak, dewasa dan tua. Ini hukum alam yang tidak bisa dihindari.

Kedua, kita selalu berdoa bahwa di masa sekarang ini, usia senior bukan tua, tetapi menjadi orang yang selalu berada di dalam pesan doa kita, yaitu: “Allahuma thawwil umurona, wa  nawwir qulubana, wa ahsin ajsadana, wa tsabbit imanana”, yang artinya: “Ya Allah panjangkan usia kami, dan cahayailah hati kami, dan jadikan kebaikan pada jasad kami dan tetapkan keimanan kami”. Kita semua ingin panjang usia tetapi panjang usia yang bermanfaat. Panjang usia yang berada dalam kebaikan, panjang usia yang di dalamnya ada cahaya kebaikan dan panjang usia yang selalu berada di dalam ketaqwaan dan keimanan kepada Allah swt. Usia panjang itu bisa menjadi saat yang tepat untuk meminta kepada Allah akan kebaikan bagi diri kita, tidak hanya kebaikan di dunia tetapi juga di akhirat. Dunia itu jembatan untuk menuju akhirat. Kebahagiaan yang benar adalah kebahagiaan tidak hanya di dunia tetapi juga kebahagiaan di akherat.

Ketiga, kita sudah sepatutnya bersyukur kepada Allah karena terlahir sebagai bangsa Indonesia. Sebagai orang Jawa Timur dan secara khusus sebagai orang Tuban. Kita hidup dalam alam yang seimbang. Tidak panas dan tidak dingin. Jika panas juga tidak terlalu panas dan jika dingin juga tidak terlalu dingin. Sedang-sedang saja. Orang Eropa sekarang sedang susah, karena ketiadaan pasokan gas untuk mencukupi kebutuhan rumah tangga. Akibat perang di Rusia dan Ukraina, maka pasokan gas menjadi langka dan jika ada harganya mahal sekali. Biasanya dalam sebulan cukup dengan 10 Euro, maka pada masa sekarang menjadi 1000 euro  dalam sebulan. Mereka menjadi kedinginan karena tidak memiliki tungku pemanas ruangan. Tungku pemanas ruangan menjadi penting pada musim dingin kala suhu berada  di bawah 0 derajat.  Pemerintah di beberapa negara Eropa menyarankan kepada penduduk untuk memakai pakaian tebal. “jangan cengeng” katanya.

Gambaran seperti itu sangat jauh bagi masyarakat Indonesia. Meskipun tidak seluruh masyarakat Indonesia itu sejahtara karena keterbatasan pendapatan, akan tetapi tidak ada di antara kita yang kepanasan atau kedinginan. Semua ini adalah anugerah Tuhan Allah SWT kepada kita semua bangsa Indonesia. Pantaslah kalau kita bersyukur menjadi bangsa Indonesia, apalagi juga negeri ini aman dan damai.

Kita semua berdiri menyanyikan lagi kebangsaan “Indonesia Raya” dengan gegap gempita dan setelah selesai kemudian dengan tangan terkepal dan terangkat ke atas, kita bersama menyatakan “MERDEKA”.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

GREMET-GREMET ANGGER SLAMET: ETIKA  HIDUP ORANG JAWA

GREMET-GREMET ANGGER SLAMET: ETIKA  HIDUP ORANG JAWA

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Saya tidak tahu kenapa akhir-akhir ini saya begitu tertarik dengan unen-unen Jawa yang adiluhung. Orang Jawa memang memiliki sikap hidup yang tentunya berbeda dengan suku bangsa lain, bahkan sesama orang Indonesia. Orang Jawa begitu menghargai terhadap pepatah atau pedoman di dalam budayanya, sehingga sering kita dengar ungkapan durung Jowo, artinya dianggap belum menjadi orang Jawa dengan etiket dan kehidupan sebagai orang Jawa. Sebaliknya, wis jawani artinya sudah menjadi orang Jawa karena etiket dan kehidupannya sudah sebagaimana orang Jawa.

Di antara etiket Jawa yang sering disalahpahami adalah konsep “gremet-gremet angger slamet”. Ungkapan ini sering dipahami secara keliru sebab dianggap sebagai penyebab atas kelambanan dalam pekerjaan, lambat dalam penyelesaian pekerjaan atau tidak efektif dan efisien dalam bekerja. Dianggap oleh sebagian orang bahwa unen-unen ini tidak cocok dengan budaya modern yang sering dikaitkan dengan kecepatan, ketrengginasan, dan serba cepat yang dihadapi oleh manusia modern. Dan yang lebih menyedihkan kala dianggapnya Orang Jawa itu anti modernitas dan cenderung kolot atau tradisional.

Salah satu yang harus dipahami oleh orang lain adalah filsafat hidup gremet-gremet angger slamet itu titik tekan atau fokusnya justru pada keselamatan. Gremet memang berarti pelan atau gremet-gremet berarti pelan-pelan. Tetapi fokusnya bukan pada pelan dalam bekerjanya akan tetapi bekerjalah dengan kehati-hatian dan penuh pertimbangan dan diyakini akan kebenaran pada proses dan produknya. Gremet-gremet itu bukan pada dimensi kecepatan atau kelambanan akan tetapi pada kehati-hatian. Atau yang lebih tepat adalah bekerja dengan ketepatan atau presisi dalam menerapkan metode kerja atau cara kerja. Orang bekerja tidak hanya menggunakan akal pikirannya akan tetapi juga hati nuraninya. Gremet-gremet  sekali lagi merupakan langkah ke depan dengan memperhatikan pikiran, perasaan dan tindakan yang tepat untuk menuju kepada keselamatan.

Prinsip hidup orang Jawa adalah rukun, harmoni dan slamet. Ujung akhir dari semua tindakan adalah keselamatan. Keselamatan di atas segala-galanya. Percuma saja kita berhasil tetapi jika ujung akhirnya tidak selamat. Dengan demikian, keselamatan merupakan kunci yang sangat menentukan di dalam kehidupan. Bahkan Islam mengajarkan bahwa keselamatan itu tidak hanya di dunia tetapi juga keselamatan di akherat. Kehidupan di dunia itu sangat sementara, sedangkan kehidupan di akherat itu kekal atau abadi. Banyak ayat di dalam Alqur’an yang menjelaskan tentang hal ini. Misalnya pernyataan “kehidupan di akherat itu lebih baik dari pada kehidupan di dunia”.

Dewasa ini kita sedang hidup di era yang disebut sebagai era “kecepatan”. Bahkan juga ada ungkapan “siapa yang cepat siapa yang dapat”. Artinya memang sedang terjadi proses untuk adu kecepatan agar tidak tertinggal. Namun demikian, di dalam tradisi Jawa dinyatakan cepat saja tidak cukup jika tidak berujung pada keselamatan. Inilah bedanya filsafat etika Barat dengan filsafat etika  Jawa. Di Barat berpikir yang penting produk dicapai, sedangkan di Jawa produk memang harus dicapai tetapi ujung akhirnya keselamatan jua yang menentukannya.

Pada era seperti itu, banyak orang yang berpikir “menerabas” atau mental menerabas. Secara sosiologis, dinyatakan bahwa orang selalu bertindak dengan mengambil jalan tercepat agar sampai kepada tujuan. Bahkan ada yang menyatakan tujuan menghalalkan segala cara. Sebagaimana pemikiran Machiavelli. Yang seperti ini sungguh bertentangan dengan prinsip filsafati etika orang Jawa. Baginya, bahwa tujuan dan cara merupakan dua hal yang tidak dipisahkan, dan kedua-duanya harus benar. Caranya harus benar dan produknya juga harus benar. Jika tujuannya benar tetapi diperoleh dengan cara yang tidak benar, maka dipastikan akan terdapat masalah kelak yang kita tidak tahu kapan terjadinya.

Terjadinya tindakan koruptif di Indonesia selama ini, karena orang ingin “berlebihan” dalam kekayaan atau jabatan atau kekuasaan dengan cara yang tidak elegan atau tidak benar. Bisa jadi orang menjadi kaya, berkuasa dan memiliki jabatan akan tetapi jika dilakukan dengan cara yang salah atau tindakan koruptif, maka dalam waktu tertentu akan diketahui, dan dipastikan tidak selamat. Jadi tanpa disadari telah banyak orang yang berpikir Machiavellianisme di dalam kehidupan, yaitu tujuan menghalalkan segala cara. Sayangnya, bahwa tindakan koruptif semakin menjadi-jadi di bumi pertiwi ini, sehingga juga semakin banyak yang merasa dirugikan karena tindakannya yang seperti itu. Kita tentu berharap bahwa tindakan koruptif bisa dihentikan melalui penyadaran bagi siapa saja.

Orang Jawa memang sudah banyak yang kehilangan “kejawaannya”. “wis dudu wong Jowo” atau “wis lali Jawane”. Sudah bukan lagi Orang Jawa atau sudah lupa Jawanya. Oleh karena itu akan menjadi sangat penting untuk kembali mengingat unen-unen Jawa yang sesungguhnya memiliki makna adiluhung untuk kehidupan kita.

Alon-alon waton kelakon bukan filsafat etika untuk menghadang kemajuan, bukan sarana untuk terus terbelakang, tetapi merupakan prinsip etika Jawa yang menginginkan bahwa semua terukur, teratur dan ternilai sehingga proses dan produk harus diletakkan di dalam konsep keselamatan yang merupakan tujuan manusia di dalam kehidupan.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

 

 

 

SOPO SIRO SOPO INGSUNG: ETIKA HIDUP ORANG JAWA

SOPO SIRO SOPO INGSUNG

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Artikel ini merupakan bahan ceramah saya pada Masjid Al Ihsan Perumahan Lotus Regency Ketintang Surabaya. Seperti biasanya, ceramah itu dilakukan pada hari Selasa, 03/01/2023, bada Subuh setelah acara dzikir dan doa selesai. Sebagaimana biasa acara ini dilakukan melalui ceramah dan tanya jawab tentang tema yang dibahas. Kali ini saya membahas tentang filsafat Islam Jawa dengan tema:  “sopo siro sopo ingsung”. Yang sesungguhnya di dalam Islam termasuk kajian etika atau moralitas atau akhlak tentang menjaga diri agar tidak sombong.

Dunia filsafat Jawa atau katakanlah filsafat Jawa Islam memang memiliki kekhasannya sendiri terutama terkait dengan peribahasa, unen-unen, dan syair-syair Jawa dalam bentuk tembang, lagu dan lain-lain yang di dalam banyak hal terkait dengan rasa atau olah rasa. Orang Jawa memang dikenal sebagai manusia yang mengedepankan rasa baik dalam relasi antar manusia dan relasi dengan Tuhan atau Gusti Kang Akaryo Jagad. Di antara pandangan hidup tersebut tercakup dalam ungkapan: “sopo siro sopo ingsung”.

Di dalam ungkapan ini menggambarkan tentang sifat kesombongan yang seringkali dimiliki oleh manusia. Di dalam diri manusia itu terdapat dua sifat, yang selalu melazimi kehidupannya, yaitu sifat baik dan sifat jelek. Keduanya menyatu dan saling berebut untuk memenangkan di antara dua sifat manusia dimaksud. Adakalanya, sifat baik yang menang dan ada kalanya sifat yang jelek yang menang. Semuanya tergantung pada kesiapan manusia untuk menerima hidayah atau petunjuk dari Allah swt.

Di dalam ajaran Islam, ada beberapa factor yang mempengaruhi manusia untuk bersikap dan berperilaku sombong. Pertama, kelebihan ilmu pengetahuan. Kelebihan ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh seseorang akan dapat mengantarkannya menjadi sombong dengan menyatakan bahwa dirinya saja yang hebat di dalam ilmu dimaksud. Orang lain tidak memiliki kemampuan dan kapasitas ilmu sebagaimana dirinya. Apakah dengan pernyataan seperti ini mengharuskan kita tidak memiliki kelebihan akan ilmu pengetahuan? Tentu tidak. Sebab yang dilarang adalah kelebihan ilmu yang dijadikan sebagai instrument untuk menyombongkan diri. Orang yang polyglot kemudian menyatakan bahwa dirinya paling hebat. Atau orang yang polymath maka kemudian juga menyombongkan diri bahwa dirinya yang paling hebat. Jadi yang dilarang bukan memiliki kelebihan ilmu pengetahuan tetapi menyombongkan kelebihannya itu.

Kedua, kelebihan harta juga dapat menjadi instrument untuk menyombongkan diri. Orang yang berharta tentu akan dapat mencapai apa yang diinginkan. Apa yang ingin diraih tentu dapat diraihnya. Berkat harta yang banyak maka seakan-akan dunia dapat dibelinya.  Masih ingat cerita tentang Qarun sebagaimana diceritakan di dalam Alqur’an. Qarun adalah tokoh kapitalis pertama di dunia. Karena dia mengakumulasi uangnya untuk menjadi modal dan asset, sehingga kekayaannya tidak terukur. Begitu kayanya dia itu, maka kunci yang dimiliki tidak dapat diangkut dalam satu gerobak. Mungkin kalau sekarang tidak bisa diangkut dengan satu truck. Tetapi kekayaannya itu ternyata tidak mampu menolongnya di kala Allah mengadzabnya dengan gempa bumi dan seluruh hartanya tertimbun dalam tanah.

Ketiga,  kekuasaan yang besar. Orang yang mempunyai kekuasaan yang besar juga berkecenderungan untuk menyombongkan diri. Fir’aun menjadi penguasa yang dholim karena kekuasaannya yang besar. Dia lupa bahwa dirinya hanyalah manusia biasa dan bukan siapa-siapa. Karena kekuasaannya itu, maka dia meminta rakyatnya untuk menyembahnya. Tetapi besarnya kekuasaan tersebut tidak mengantarkannya untuk selamat di kala air laut menenggalamkannya. Di saat dia mengejar Nabi Musa dan kaumnya untuk menyebarangi Laut Merah, maka pada saat air laut Kembali sebagaimana semula, maka diapun mati. Dan kematiannya itu menjadi bukti ilmiah, bahwa Fir’aun ini memang mati tenggelam di dalam laut. Hasil kajian atas dirinya, menyebabkan Dr. Maurice Buchaille akhirnya memeluk Islam.

Ungkapan sopo siro sopo ingsung, biasanya dikaitkan dengan ungkapan ojo adigang, adigung, adiguno sopo siro sopo ingsung. Orang yang memiliki sikap adigang atau merasa kuat sendiri juga akan menyatakan siapa kamu, dan siapa saya. orang yang memiliki sikap adigung atau memiliki kekuasaan penuh juga cenderung menyatakan siapa kamu siapa saya, dan orang yang bersikap adiguno atau merasa yang paling bermanfaat juga akan menyatakan siapa kamu siapa saya.

Cerita ini akan menjadi lengkap dengan sejarah kesombongan iblis, di kala oleh Allah swt memintanya  untuk bersujud kepada Adam as. Sebagaimana di dalam surat Al Baqarah, ayat  34:  “waidz qulna lil malaikatis judu li Adama fasajadu illa Iblis. Aba wastakbara wa kana minal kafirin”.  Yang artinya: “dan ingatlah kala Aku (Allah)  meminta kepada Malaikat untuk bersujud kepada Adam, maka sujudlah kepadanya kecuali Iblis. Iblis menolaknya dan jadilah Iblis sebagai hamba yang ingkar (durhaka) kepada Allah”.

Kesombongan dari asal usul penciptaan bahwa manusia diciptakan dari tanah dan Iblis dari api, maka menyebabkan Iblis durhaka kepada Allah dengan jalan tidak mau mengikuti perintah Allah. Dari kata abaa ini kemudian di dalam Islam Jawa dikenal istilah abangan, atau orang yang mengaku  Islam tetapi tidak menjalankan perintah Allah. Na’udzu billahi min dzalik.

Wallahu a’lam bi al shawab.

ROH: MISTERI KEHIDUPAN

ROH: MISTERI KEHIDUPAN

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Artikel ini merupakan bahan ceramah saya pada jamaah Mushalla Raudhatul Jannah Dusun Semampir, Desa Sembungrejo, Kecamatan Merakurak Tuban. Ceramah ini dilaksanakan pada hari Kamis, 29 Desember 2022 ba’da Maghrib. Acara jamaah shalat maghrib ini diikuti oleh 30 orang lelaki dan perempuan. Ceramah diselenggarakan dengan menggunakan Bahasa Jawa sebab kebanyakan jamaah adalah orang-orang dewasa yang kebiasaan sehari-harinya  menggunakan Bahasa Jawa.

Islam mengajarkan bahwa ada yang bercorak materiil dan ada yang bercorak spiritual. Ada yang bercorak fisikal dan ada yang bercorak non-fisikal. Ada yang dhohir dan ada yang bathin. Ada yang jasmani dan ada yang rohani, serta ada yang hadir dalam fisik dan ada yang batin yang tidak nampak. Hukum berpasangan ini terus menyelimuti kehidupan manusia sepanjang sejarah kemanusiaan.

Allah SWT di dalam Alqur’an memberikan penjelasan tentang keberadaan hal-hal yang gaib. Di dalam surat Albaqarah dijelaskan tentang keberadaan alam gaib dan manusia memang harus mempercayainya. Ayat tersebut berbunyi: “alif lam mim, dzalikal kitabu la raiba fihi hudan lil muttaqin. Alladzina yu’minuna bil ghaibi wa yuqimunash shalata wa mimma razaqnahum yunfikun”. Yang artinya: “alif lam mim, inilah kitab yang tidak diragukan kebenarannya bagi orang mu’min. orang-orang yang mempercayai alam gaib dan mendirikan shalat dan menafkahkan rezekinya”.

Memang alam gaib merupakan bagian dari iman, misalnya keyakinan kepada keberadaan Allah, iman kepada  malaikat, iman takdir Allah, dan iman kepada kiamat atau hari akhir. Semua ini merupakan hal-hal gaib yang harus diyakini keberadaan dan kejadiannya. Kita hanya wajib percaya  secara keyakinan tetapi sungguh tidak mengetahui bagaimana wujud dan bentuknya. Sebagai umat Islam sekali lagi kita harus meyakininya. Jika kita meyakininya maka kita termasuk orang yang ingkar atas keimanan di dalam Islam.

Nabi Muhammad SAW sebagai manusia sempurna juga menyatakan tidak tahu tentang roh. Ketika ditanya oleh sahabat Nabi tentang roh, Nabi menyatakan bahwa roh adalah urusan Tuhan dan kita diberi ilmu pengetahuan tetapi sangat sedikit. Gambaran dari Nabi Muhammad saw ini merupakan suatu jawaban yang sangat jelas bahwa roh itu hanya Allah yang tahu, dan manusia tidak akan mengetahui bagaimana dzat dan sifatnya. Hanya Allah azza wa jalla saja yang mengetahuinya.

Manusia dengan kemampuan teknologi di bidang Kesehatan telah mengetahui banyak tentang dzat, sifat dan cara kerja masing-masing anggota tubuh. Misalnya dengan teknologi Kesehatan, maka manusia bisa melakukan kajian secara mendalam tentang jantung, paru-paru, empedu, pancreas, hati, otak, dan seluruh anggota tubuh lainnya. Teknologi Kesehatan telah mencapai derajat tertinggi dalam inovasinya untuk memahami seluk beluk Kesehatan manusia. Bahkan seorang dokter ahli berdasarkan kepakarannya dapat mencandra berapa lama manusia akan dapat bertahan hidup.

Tetapi sesungguhnya kecanggihan teknologi Kesehatan tidak bisa mendeteksi bagaimana roh tersebut, baik dzat, sifat dan cara kerjanya di dalam tubuh. Yang bisa diprediksi oleh dokter adalah melihat gejala-gejala fisikal, misalnya tingkat kerusakan tubuh akibat sakit atau lainnya dan kemudian memprediksi bagaimana peluang yang bersangkutan untuk tetap hidup. Misalnya orang yang terkena penyakit komplikasi maka peluang untuk hidup tentu menjadi lebih kecil. Namun demikian, segalanya masih sangat tergantung bagaimana Allah menentukan atas takdirnya.

Ada orang yang terkena kanker stadium empat, tetapi dengan terus melafalkan ayat Alqur’an selama sakit itu, maka Allah memberikan kesembuhan. Ada orang yang bersedekah dengan ukuran yang melebihi standart sedekah, lalu Allah mengangkat penyakitnya. Jadi, sesungguhnya takdir Allah lah yang menentukan tentang hidup dan matinya seseorang. Dokter atau  orang yang melakukan pengobatan hanyalah washilah yang mengantarai manusia di antara takdirnya.

Roh itu memiliki keabadian tingkat dua setelah keabadian Allah SWT. Allah itu abadi tanpa awal dan tanpa akhir. Huwal awwalu wal akhiru, Allah adalah Tuhan  yang awal tiada awalnya dan  yang akhir tiada akhirnya. Sedangkan roh itu ada awalnya karena roh adalah ciptaan Allah, dan roh juga berpeluang ada akhirnya karena roh adalah ciptaan Allah. Manusia tidak tahu kapan roh itu diciptakan dan kapan roh akan berakhir. Tetapi di dalam Islam diyakini bahwa ada alam roh, ada alam dunia, ada alam kubur dan ada alam akhirat. Roh itu tetap hidup di masing-masing alam sesuai dengan ketentuan Allah. Kita diberi ilmu yang sangat sedikit sehingga tidak mengetahui seluk beluk roh dimaksud.

Makanya saya membagi manusia dalam tiga unsur, yaitu unsur jasad yang berasal dari tanah dan akan Kembali ke tanah, unsur Roh atau unsur ketuhanan di dalam disi manusia. Artinya bukan tuhan berada di dalam diri manusia, akan tetapi roh itu adalah dzat yang ditiupkan Allah ke dalam diri manusia sehingga manusia bisa hidup, dan unsur jiwa yaitu sesuatu yang mengantarai antara jasad dan roh. Jiwa itu memihak kepada salah satu di antara keduanya. Bisa jadi lebih condong ke hewan atau kal hayawan atau condong ke roh atau kal malaikah.

Semoga para jamaah semua dapat mengikatkan diri di dalam kecondongan kepada kebaikan dan menghindari kecondongan kepada kejelakan.

Wallahu a’lam bi al shawab.

SEDEKAH UNTUK BAPAK: TRADISI ISLAM JAWA YANG UNIK

SEDEKAH UNTUK BAPAK: TRADISI ISLAM JAWA YANG UNIK

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Menjelang akhir tahun 2022, saya menyegerakan pulang ke Tuban tentu dengan maksud dan tujuan yang jelas. Saya pulang hari Selasa sore, 27 Desember 2022 setelah mengikuti acara Computer Assesment Test (CAT) dalam bidang profesionalitas kerja dan moderasi beragama. Saya pulang bersama keluarga, termasuk tiga bocah kecil (bocil): Si Vica, Arfa dan Echa. Sudah lama saya tidak pulang ke rumah Tuban untuk waktu yang lama. Tuntutan pekerjaan menyebabkan waktu yang sangat terbatas untuk bercengkerama di pedesaan.

Pada hari Rabo, 28 Desember 2022, sebenarnya masih ada dua acara di kantor, yaitu: mengajar pada program doctor Ekonomi Syariah dan menguji disertasi tahap tertutup untuk Chihwanul Kirom, akan tetapi karena ada acara penting di rumah Keluarga di Tuban, yaitu Khoul Bapak, maka saya harus pulang, maka acara tersebut dilakukan secara daring atau online. Tidak bisa diwakilkan kehadiran saya. Maklum sebagai anak tunggal, maka saya harus nyekar di kubur Bapak dan seluruh keluarga besar saya di Tuban, dan kemudian juga memimpin tahlilan. Sesuatu yang tidak bisa saya wakilkan.

Ada sejumlah nama yang menjadi bagian tidak terpisahkan dari acara khoul ini. Yaitu dapat dirunut dari Eyang canggah saya: Mbah Mohammad Salim dan Mbah Tarmi, Buyut Wagiman dan Buyut Sadirah, Mbah Ismail dan Mbah Sarijah, Bapak Sabar dan keluarga lainnya, yaitu Emak Hj. Muthmainnah, Bapak Amir, Bapak Ridlwan, Mbah Ngateman dan Mbok Fatah, serta Mbah Buyut Biah dan Mbah Hj. Rohmah.

Khoul ini tentu sangat sederhana. Tidak sebagaimana kyai-kyai besar yang memiliki pesantren atau Lembaga Pendidikan Islam. Khoul ini dilakukan hanya dengan sejumlah jamaah tahlil perempuan di desa Semampir Sembungrejo saja. Meskipun jumlah oleh-oleh atau “berkatan” untuk pelaku tahlilan cukup banyak, akan tetapi kebanyakan di antar dari rumah ke rumah. Para tetangga, para kerabat dan orang-orang yang dianggap tokoh agama pun mendapatkan jatah “berkat” yang sudah disiapkan.

Khoul para Kyai yang memiliki atau mendirikan pesantren biasanya dijadikan sebagai momentum untuk memanggil kembali kharisma yang dimiliki oleh kyai dalam peran pendidikan pesantren. Jika kharisma kyai-kyai keturunannya atau dzurriyahnya tidak sebesar atau tidak sekuat kharisma kyai pendahulunya, maka khoul dapat dijadikan sebagai instrument untuk membangun kembali kekuatan kharisma sebelumnya terutama untuk kepentingan pendidikan pesantren.

Khoul Bapak saya tentu jauh dari hiruk pikuk kepentingan seperti itu. Khoul ini diberlakukan hanya sebagai penanda atas kasih sayang anak dan keluarga atas roh almarhum.  Kita meyakini bahwa yang diharapkan oleh almarhum hanya doa, bacaan tahlil, bacaan surat Yasin dan sedekah yang pahalanya diwashilahkan kepadanya. Kita meyakini bahwa bacaan-bacaan yang ditujukan kepada almarhum melalui washilah Kanjeng Nabi Muhammad SAW tentu akan bisa disampaikan kepada yang bersangkutan. Ini persoalan keyakinan seseorang atau sekelompok orang yang memiliki pemahaman tentang ajaran Islam seperti itu. Tentu tdak layak dipersoalkan jika ada tafsir agama yang tidak sependapat dengan hal ini.

Sebagai tuan rumah, maka ada tiga hal yang saya sampaikan kepada para jamaah tahlil, yaitu: pertama, ucapan terima kasih yang sangat besar atas kehadiran para anggota jamaah tahlil, yang menyempatkan hadir dan sudi membaca tahlil untuk almarhum Bapak. Saya berkeyakinan bahwa dengan keikhlasan Ibu-ibu jamaah tahlil, maka bacaan tersebut akan bisa diterima oleh Allah SWT dan melalui Kanjeng Nabi Muhammad saw, maka pahala atas bacaan tersebut akan sampai kepada Bapak saya. saya meyakini. Bahwa amal kebaikan yang berupa bacaan tahlil dan doa akan sampai kepada almarhum yang ditujunya.

Kedua, saya memohon maaf atas segala kekurangan di dalam penyambutan kepada Ibu-Ibu Jamaah tahlil. Saya yakin keluarga saya sudah menyiapkan yang terbaik, terutama “berkat” yang akan dibawa pulang. Tetapi tentu saja tidak bisa memuaskan semuanya. “Berkat” itu hanya berisi nasi, lauk pauk dan buah seadanya. Bisa dinyatakan sederhana. Keluarga kami hanya bisa menyediakan “berkat” yang sesuai dengan kemaslahatan bagi semuanya. Oleh karena itu jika ada yang hal yang tidak sesuai dengan harapan para Ibu jamaah tahlil, sungguh saya memohon maaf yang sebesar-besarnya.

Ketiga, salah satu di antara dalil yang sudah sangat lazim didengar oleh Ibu-Ibu jamaah Tahlil adalah mengenai perlunya anak shaleh yang dapat mendoakan kepada orang tuanya dan bahkan kerabatnya. Hadits Nabi Muhammad SAW tersebut menyatakan bahwa: “Jika wafat anak-cucu Adam, maka akan terputus amalnya  kecuali tiga hal, yaitu: sedekah jariyah, atau ilmu yang bermanfaat dan anak shaleh yang mendoakan orang tuanya”.

Oleh karena itu, acara khoul ini mengandung dimensi sedekah anak untuk orang tuanya, doa anak pada orang tuanya, dan doa jamaah kaum muslimin kepada almarhum. Jadi sungguh merupakan amalan yang sangat luar biasa sebab memiliki dimensi yang luas dari sebuah acara khoul atas keluarga yang meninggal.

Tradisi ini sudah diwariskan oleh para ulama kita, khususnya ulama ahlu sunnah wal jamaah, yang telah mengajari kita untuk menjadi umat Islam yang penuh dengan saling tolong menolong, tidak hanya tolong menolong secara fisikal dan harta tetapi juga tolong menolong dalam doa kepada Allah swt.

Semoga Allah selalu membimbing kita semua untuk selalu berada di dalam koridor Islam yang memberikan kesejukan dan kasih saying, Islam yang memberikan pertolongan kepada sesama umat, dan juga menjadi orang Islam yang selalu berprinsip saling kasih sayang dan saling memberikan manfaat fid dini wa dunya wal akhirah.

Wallahu’ alm bi al shawab.