• May 2026
    M T W T F S S
    « Apr    
     123
    45678910
    11121314151617
    18192021222324
    25262728293031

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

BERDOALAH UNTUK  AMPUNAN ALLAH: RENUNGAN RAMADLAN (8)

BERDOALAH UNTUK  AMPUNAN ALLAH: RENUNGAN RAMADLAN (8)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Saya akan melanjutkan ceramah yang sudah disampaikan oleh Gus Khobir al hafidz beberapa saat yang lalu tentang apa persyaratan agar kita menjadi  itqun minan nar atau tubuh kita tidak tersentuh oleh api neraka. Ada lima hal yang perlu diketahui, yaitu bersyahadat, beristighafar, bermohon ridlo,  memperoleh  surganya Allah dan dijauhkan dari api neraka.

Kalimat ini yang saya sampaikan dalam ceramah menjelang shalat Tarawih di  Masjid Al Ihsan Perumahan Lotus Regency E 8 Ketintang Surabaya. Shalat jamaah Isya’ dan tarawih ini diikuti oleh sejumlah lelaki dan perempuan, anak-anak dan orang dewasa. Mereka adalah jamaah tetap Masjid Al Ihsan dan orang-orang yang memakmurkan Masjid Al Ihsan. Mereka adalah orang-orang yang mengikuti acara-acara yang dilakukan di Masjid Al Ihsan.

Di dalam kesempatan ini, saya sampaikan tiga hal yaitu: pertama, bersyukur kepada Allah atas nikmat kesehatan lahir dan batin, sebab tanpa keduanya tentu kita tidak bisa hadir dalam acara ritual shalat berjamaah dan mendengarkan ceramah agama seperti malam ini. Suatu kenikmatan yang besar adalah kita dikaruniai kesehatan. Semoga kita terus sehat sampai akhir Ramadlan dan bertemu dengan Ramadlan tahun depan.

Kedua,  betapa pentingnya syahadat. Kalimat syahadat adalah kalimat pengakuan dan persaksian bagi seorang muslim bahwa tiada Tuhan kecuali Allah dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah. Asyhadu anla ilaha illallah wa asyhadu anna Muhammadar Rasulullah. Kita dinyatakan sebagai orang muslim karena kita bersaksi bahwa tidak ada Tuhan atau illah selain Allah SWT  dan Nabi Muhammad SAW adalah utusan-Nya,  sebagai nabi dan rasul terakhir. la nabiyya ba’dahu.  Kata kunci menjadi orang Islam adalah dengan pengakuan ini. Dhahir dan bathin kita meyakinya. Tashdiqu bil lisan wa tashdiqu bil qalbi.  Ucapan yang keluar dari lesan kita meyakini Allah adalah satu-satunya Tuhan yang wajib disembah dan hati kita juga meyakininya seperti itu. Jangan sampai lisan  kita menyatakan percaya tetapi batin kita mengingkarinya. Nu’udzu billahi min dzalik. Jauhkan kami ya Allah dari hal-hal tersebut.

Sebagai umat Muhammad SAW, maka setiap hari kita mesti membaca syahadat. Di dalam shalat maka sekali shalat kita akan membaca syahadat 2 kali. Jadi sehari semalam ada sebanyak 10 kali kita membaca syahadat. Jika kita shalat rawatib dan shalat sunnah lainnya, maka setiap hari kita akan membaca banyak persaksian tentang keesaan Allah, pernyataan bahwa satu-satu yang dapat disembah adalah Allah SWT. Subhanallah betapa kita menjadi orang yang beruntung karena telah menjadi umat Islam dan menyadari akan betapa pentingnya shalat sebab di dalamnya terdapat pengakuan lahir dan batin, pikiran dan perasaan bahwa kita hanyalah makhluk dan kewajiban makhluk adalah mempersaksikan akan keagungan, kebesaran dan kemulyaan Allah SWT sebagai Tuhan Rabbul izzati.

Kala hidup di dunia, sebagai alam ngelakoni janji, maka kita sesungguhnya diminta oleh Allah untuk beribadah. Kita diingatkan agar kita menepati janji kita kepada Allah pada masa alam roh, bahwa kita sudah menyatakan alastu birabbikum qalu bala syahidna, yang artinya: “apakah aku ini Tuhanmu, maka mereka menyatakan ya kami menyaksikannya”. Oleh karena itu berbahagialah orang yang di masa lalu, di alam roh,  sudah berjanji kepada Allah dan di alam melaksanakan janji, alam dunia,   bisa menepati janji. Alhamdulillan wa syukrillah.

Ketiga, kita sudah diajari oleh ulama kita sebuah doa yang merupakan ekspresi atas lima hal di atas. Doa itu adalah “asyhadu anla ilaha illahllah, astagfirullah. Nas aluka ridhaka wal Jannah, wa naudzubika min sakhawatika wan nar. Allahumma innaka ‘afuwwun karim tuhibbul afwa fa’fuanna ya karim”.  Yang artinya: “kami bersaksi tiada Tuhan kecuali Allah. Ya Allah ampuni dosa, kekhilafan dan kesalahan kami, kami  meminta ridla-Mu Ya Allah, kami meminta surga-Mu Ya Allah, dan jauhkan kami dari api neraka. Ya Allah Engkau adalah pemberi ampunan, wahai Yang Maha Mulya, Yang Maha Agung. Engkau Ya Allah menyukai orang yang memohon ampunan, wahai Yang Maha Mulya dan Agung”.

Sebuah doa yang indah. Sebuah doa yang jika direnungkan mengandung permohonan, mengandung sanjungan dan menunjukkan betapa manusia membutuhkan Allah SWT. Kitalah yang membutuhkan Allah dan bukan sebaliknya. Tetapi Allah mengajari kita agar kita selamat. Slamet ing donyo lan slamet ing akherat. Di dalam Islam disebut sebagai sa’idun fid daraini. Di dalam doa,  bukan hanya di perkataan kita melantunkanya, akan tetapi juga batin kita bersepakat dan mengiyakannya. Perpaduan antara kalimat dalam ungkapan dhahir  wa ungkapan di dalam qalbi sangat menentukan atas keberterimaan doa  kita oleh Allah SWT.

Tetapi sebagai umat Islam apapun kita sudah beruntung. Mungkin doa kita baru sampai pada tahapan  kalam fi dhahiriyah belum kalam fi bathiniyah akan tetapi Allah itu Maha Rahman dan Rahim, maka kita meyakini bahwa pada akhirnya Allah akan memberikan rahmatnya kepada kita agar kita dapat memasuki surga yang dijanjikannya. Ya Allah tetap turunkan rahmat-Mu di tengah ibadah kami yang belum kaffah  agar kami bisa menjadi penghuni surga-Mu.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

 

JANGAN  BERPUASA UNTUK INSTRUMEN KEDUNIAAN: RENUNGAN RAMADLAN (7)

JANGAN  BERPUASA UNTUK INSTRUMEN KEDUNIAAN: RENUNGAN RAMADLAN (7)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Di masa lalu, orang-orang tua kita mengajarkan tentang pentingnya puasa untuk mencapai tujuan di dalam kehidupan. misalnya jika kita akan ujian, maka orang tua mengajak kita untuk berpuasa. Tujuannya adalah agar lulus. Bahkan ada yang lebih ekstrim lagi, misalnya agar memiliki kesaktian, maka ada orang yang puasa di atas pohon dengan tangan mendekap ranting kayu dan bahkan kalau ingin menjadi ahli santet orang juga berpuasa dengan teknik dan metodanya. Inilah pembukaan ceramah pemantik diskusi yang disampaikan oleh Dr. Sahid pada acara ceramah ba’da Shubuh di Masjid Al Ihsan pada Rabo, 29/03/2023. Ceramah yang biasanya hari Selasa pagi dicancel menjadi hari Rabo.

Selanjutnya dinyatakan bahwa Islam mengajarkan atau tepatnya mewajibkan umat Islam untuk puasa sebagai umat manusia di masa lalu agar manusia menjadi orang yang bertaqwa kepada Allah SWT. Puasa menjadi cara agar kita menjadi orang yang bertaqwa kepada Allah, yaitu orang yang terus mengerjakan amal shaleh dan meninggalkan amalan yang jelek. Terus menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangannya. Allah menyatakan bahwa pada bulam puasa ini, maka siang hari diperintah man shoma ramadlana dan jika malam kita diminta man qama ramadlona.  Jadi pada siang hari berpuasa dengan keimanan dan penuh perhitungan agar kita menjadi bertaqwa dan jika malam kita qiyamul lail juga dengan keimanan dan perhitungan yang matang agar kita menjadi orang yang bertaqwa.

Ditambahkan bahwa ada empat kategori orang yang berpuasa: pertama, orang yang merasa puasa menjadi beban. Misalnya pernyataan yang berbunyi, “walah sudah puasa lagi”. Jadi ada nuansa tidak gembira dengan datangnya puasa. Kedua, orang yang biasa-biasa saja dalam menghadapi puasa. Hadir atau tidak bulan puasa itu berarti sama saja. Tidak senang dan juga tidak susah. Biasa saja. Ketiga, orang yang dalam berpuasa itu ritmenya naik turun. Ada kalanya bersemangat dan ada kalanya biasa saja bahkan tidak bersemangat. Keempat, orang puasa dengan sangat serius untuk menggapai keridlaan Allah swt.  Dia lakukan puasa secara sungguh-sungguh, tarawih, tadarrus Alqur’an dan menjalani dzikir yang sebanyak-banyaknya. Nah, kita masuk di mana. Semoga masuk kategori yang keempat.

Saya lalu melanjutkan pembahasan tentang berpuasa sebagai pendalaman atas materi yang sudah dibicarakan. Saya menggambarkan  bahwa ada tiga konsep besar yang bisa dijadikan sebagai analisis atas perilaku puasa kita: pertama, Puasa instrumental. Puasa  sebagai instrument dunaiwi. Atau saya sebut sebagai puasa instrumental. Puasa yang digunakan untuk memenuhi tujuan hidup duniawi. Misalnya untuk kepentingan kesaktian, menemukan orang yang dicintai, atau hal lain yang erat kaitannya dengan dunia. Oleh karena itu, jika kita puasa, maka cantolkan niat kita kepada tujuan menuju Allah, jangan hanya untuk kepentingan dunia. Innamal a’malu bin niyat. Sesungguhnya setiap amal tergantung niatnya. Makanya marilah kita berniat puasa untuk kepentingan duniawi bernuansa ukhrawi.

Kedua, puasa transcendental. Puasa yang dimaksudkan sebagai upaya agar kita dapat bertaqarrub ilallah. Yakni sebagai upaya agar kita dapat  berdekatan kepada Allah. Dalam dunia tasawwuf, maka puasa itu akan dapat menarik kemanusiaan kita menuju Allah SWT. Sering disebut sebagai alam lahut. Atau diri manusia diserap oleh kekuatan Allah SWT. Yang bisa seperti ini tentu adalah orang yang mengabdikan dirinya hanya kepada Allah saja. Puasa khas seperti ini akan dapat dilakukan sejauh kita sudah memasuki ibadah yang hanya ditujukan kepada Allah semata. Rasanya masih sulit bagi orang awam untuk memasuki dunia puasa transcendental dimaksud.

Ketiga, puasa imanental. Puasa yang sungguh sangat khas dan hanya, sekali lagi hanya,  dapat dilakukan oleh orang-orang yang masuk atau dalam Bahasa Jawa disebut manjing dalam kedirian Tuhan dan manusia. Tuhan terserap di dalam keduniaan manusia. Inilah yang di dalam tradisi Islam Jawa disebut sebagai manunggaling kawulo lan Gusti atau kemenyatuan antara manusia dengan Tuhan. Orang yang bisa melakukan ritual seperti ini bisa dianggap sebagai penyelewengan dari aqidah atau syariah, karena kehidupannya memang sudah memasuki alam “kegaiban” yang tidak banyak manusia yang bisa memahaminya.

Di dalam  Islam dikenal ada konsep takhalli atau menjauhi segala yang bisa merusak relasi manusia dengan Tuhan, tahalli atau memasuki pintu dan menyelami relasi dengan Tuhan secara spesifik, dan akan terwujud tajalli atau Tuhan bersama kita atau yang juga sering disebut sebagai masuknya dunia manusia  kepada Tuhan atau masuk dalam alam lahut, manusia terserap ke dalam Tuhan atau bertaqarrub ilallah, dan ada konsep masuk dalam alam nasut atau Tuhanlah yang terserap dalam diri manusia yang spesifik dan bahkan kemudian menghasilkan pernyataan  anal haq. Sebagaimana Al Hallaj, Syekh Lemah Abang atau Syekh Abdul Jalil dan sebagainya.

Orang awam seperti kita memang sulit bisa masuk dalam taqarrub ilallah sebagaimana para ahli tasawuf yang memang fisiknya, perasaannya dan dzauqnya dan kapasitas yang diri dimilikinya memang sudah mencapai maqam seperti itu. Sebuah maqam yang tidak sembarangan diamanahkan  oleh Allah kepada semua manusia.

Yang penting janganlah kita jadikan puasa sebagai instrument untuk kepentingan duniawai semata, tetapi marilah kita jadikan puasa sebagai instrument untuk lebih dari itu, dengan cara meniatkan puasa kita untuk Allah saja.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

BERSUJUDLAH MUMPUNG ADA WAKTU: RENUNGAN RAMADLAN (6)

 

BERSUJUDLAH MUMPUNG ADA WAKTU: RENUNGAN RAMADLAN (6)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Lagunya Ebit G Ade, “Masih Ada Waktu” yang dinyanyikan puterinya, Shanna Shanon masih terus saya putar. Bukan untuk kepentingan jumlah viewer, tetapi kandungan lagu itu sungguh luar biasa. Melebihi dakwah bil lisan, yang terkadang tidak menyentuh jiwa. Bahkan membuat gelisah dan perasaan tidak nyaman. Lagu itu sungguh memiliki kandungan makna mendalam yang patut direnungkan.

Benarkah kita perlu sujud? Pertanyaan yang sangat penting untuk dijawab. Dan lagu ini menjawabnya dengan mendasar dan berada di dalam relung hati yang paling mendalam. Kita sungguh tidak tahu kapan ajal akan tiba. Kita tidak tahu kapan sisa usia kita. Hari ini, pekan ini, bulan ini atau tahun ini. Tak seorangpun yang tahu. Persoalan usia adalah haknya Allah SWT. Hanya Allah yang tahu. Orang yang secara medis diketahui oleh dokter, hanya tinggal beberapa bulan tetapi ternyata masih bisa hidup tahunan. Kalaupun diprediksi sesuai dengan ilmu oleh ahlinya, tetapi dokter juga tidak tahu kapan kepastiannya akan meninggal. Jam berapa, menit berapa dan hari apa. Kematian adalah sesuatu yang misterius dan biarkan menjadi misteri di dalam kehidupan.

Kita masih diberi waktu. Di dalam Islam, waktu itu begitu sentral. Waktu itu dijadikan oleh Allah SWT untuk bersumpah. Hal ini menandakan betapa pentingnya waktu di dalam kehidupan manusia. Manusia hidup di dunia itu hanya seperti orang mampir minum lalu melanjutkan perjalanan. Di dalam tradisi Jawa disebut sebagai mampir ngombe. Berhenti sejenak untuk minum. Dibandingkan dengan kehidupan dalam alam Roh, alam Barzakh dan alam Akherat, maka kehidupan di dunia itu hanya sebentar. Rata-rata 70 tahun dari jutaan tahun dalam kehidupan lainnya. Itulah sebabnya Allah memperingatkan agar waktu yang pendek itu digunakan untuk efektif antara bekerja dan beribadah.

Allah menyatakan di Surat Al Ashr ayat 1-3: “Wal ashr. Innal insana lafi khusr. Illal ladzina amanu wa amilush shalihati  wa tawa shaubil haqqi wa tawa shaubish sabr”. Yang artinya: “Demi Waktu. Sesungguhnya manusia dalam kerugian. Kecuali orang yang beriman dan beramal shaleh, yang saling berwasiat tentang kebenaran dan kesabaran”. Waktu itu seperti pedang. Al waqt kasy syaif”.  Maknanya bahwa waktu yang sudah berlalu tentu tidak bisa dikembalikan dan akan berlalu begitu saja. Jadi kita menjalani waktu yang terus berkurang, menit, jam, hari, bulan dan tahun. Semakin besar semakin berkurang usia. Demikian pula semakin tua juga semakin berkurang usia tersebut. Bahkan terkadang ada ungkapan yang tidak mengenakkan yaitu sudah bau tanah. Pernyataan untuk orang tua.

Itulah sebabnya Alqur’an menyatakan bahwa waktu itu penting. Orang yang tidak bisa memanfaatkan waktu yang baik, maka dia akan merugi. Mungkin dia untung di dunia tetapi rugi di akherat. Tetapi bisa juga rugi di dunia tetapi untung di akherat. Yang benar adalah untung di dunia dan untung di akherat. Orang yang bisa beruntung di dunia dan akherat adalah orang yang beriman kepada Allah SWT dan beramal shaleh, yaitu perbuatan baik kepada Allah dengan mengamalkan segala perintah Tuhan dan menjauhi larangannya, dan juga berbuat baik kepada sesama manusia yaitu tidak membuat orang lain menderita, kecewa dan terpinggirkan.   Yang dilakukan justru  menghargai manusia apa adanya. Selain itu juga orang yang bisa berwasiat tentang kebaikan untuk sesama manusia.

Mumpung masih ada waktu. Yang sebaiknya dilakukan adalah segera bersujud. Bersujud adalah lambang penghambaan dan pengabdian kepada Allah SWT. Tidak ada yang dijadikan sebagai Rab dan Ilahnya kecuali Allah. Tiada yang pantas disembah dan diturut perintahnya selain Allah. Prototipenya adalah Nabiyullah Ismail, yang bersedia akan disembelih untuk menuruti perintah Tuhan. Saya tidak membayangkan bahwa ada anak yang baru baligh lalu memiliki pandangan yang sedemikian jernih dalam kepercayaan, pengabdian dan kepasrahannya kepada Allah SWT.

Mungkin kita akan menyatakan bahwa pantaslah Nabi Ismail begitu, kan Beliau akan menjadi Rasulullah. Beliau sudah disiapkan sebagai orang yang memiliki keyakinan, penghambaan dan kepasrahan yang luar biasa. Namun perlu diingat bahwa yang dilakukan oleh para Nabi adalah ibrah bagi kita. Teladan bagi manusia. Nabiyullah itu adalah uswah tentang bagaimana seharusnya manusia merajut kehidupannya di hadapan Allah SWT.

Keteladanan dalam mengabdikan diri dan ketawakwaanya  di hadapan Allah yang dilambangkan dengan sujud merupakan tradisi para Nabi yang mesti harus diikuti. Dan sebagai umat Muhammad SAW sudah tentu kita harus melakukannya. Ada banyak ayat yang memerintahkan kita bersujud. Semuanya menggambarkan tentang bagaimana kepatuhan manusia terhadap Tuhan itu diekspresikan.  Di dalam Surat Al Hajj ayat 77 dinyatakan: “Ya ayyuhal ladzina amanur ka’u was judu wa’budu rabbakum waf ‘alul khoiro la’alakum tuflihun”. Yang artinya: “wahai orang-orang yang beriman, rukuklah  dan sembahlah Tuhanmu dan berbuatlah kebaikan, agar kamu beruntung”.

Dengan demikian, manusia memang diberikan waktu oleh Allah untuk bersujud kepada-Nya, rukuk kepada-Nya, dan menyembah hanya kepada-Nya dan diminta untuk berbuat baik. Dan dengan cara itu maka manusia akan memperoleh kebahagiaan. Jika tidak melakukannya maka manusia berada di dalam kerugian. Kita semua sudah melakukannya, dan semoga kita akan menjadi hambanya yang bertaqwa kepada-Nya.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

 

 

 

 

ISTIGHFARLAH MUMPUNG ADA WAKTU: RENUNGAN RAMADLAN (5)

ISTIGHFARLAH MUMPUNG ADA WAKTU: RENUNGAN RAMADLAN (5)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Saya bersyukur karena bisa pulang ke Tuban untuk menjenguk Emak dan menyelesaikan beberapa urusan di rumah Tuban. 27/03/2023. Dan seperti biasanya, maka saya bisa memberikan ceramah ba’da shalat Isyak sebelum melaksanakan shalat tarawih berjamaah. Saya beruntung karena Mushalla Raudlatul Jannah itu tepat berada di depan rumah, sehingga bisa melaksanakan shalat jamaah dengan mudah. Tidak perlu pergi ke tempat lain. Jamaahnya relative banyak. Lelaki dan perempuan. Sebelum ceramah saya mulai, maka saya minta kepada para jamaah untuk membacakan Surat Al Fatihah, kepada dua orang jamaah Mushallah Raudlatul Jannah, yaitu Pak Haji Marwan, yang meninggal tiga bulan yang lalu, dan yang baru beberapa hari lalu, Pak Kasang. Syaiun lillah. Lahuma al Fatihah…

Sebagai penceramah, maka saya sampaikan tiga hal, yaitu: pertama, bersyukurlah.  Kita harus bersyukur kehadirat Allah SWT karena masih diberi waktu untuk bisa bertemu dengan puasa tahun ini. Sebagaimana doa kita beberapa bulan terakhir, seperti Allahumma bariklana fi rajaba wa sya’ban wa ballighna ramadlan. Yang artinya: Ya Allah berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban dan sampaikan usia kami pada bulan Ramadlan. Alhamdulillah, kita bisa sampai di bulan Ramadlan. Suatu kenikmatan yang luar biasa, kita bisa menikmati berpuasa pada tahun ini. Kita tetap berharap bahwa kita akan bisa bertemu dengan bulan Ramadlan tahun depan.

Kedua, mumpung masih ada waktu. Kita  ini masih diberi waktu untuk  beribadah kepada Allah SWT. Masih diberi peluang untuk hidup. Coba dibayangkan bahwa tiba-tiba Allah memanggil kita. Seperti saudara-saudara kita yang tiba-tiba meninggal. Inilah peluang bagi kita untuk beribadah semampu kita. Semaksimal dan sebanyak-banyaknya. Terutama pada bulan ini, kita bisa berpuasa. Yang diharapkan tentu adalah dapat menjalankan puasa dengan keimanan yang sepenuhnya dan dengan keikhlasan yang sangat tinggi. Sebab dengan keikhlasan dan keimanan yang sungguh-sungguh, maka Allah akan mengampuni dosa yang pernah kita lakukan. Sebagaimana Sabda Nabi Muhammad SAW: “man shoma ramadlona imanan wa ihtisaban ghufira lahu ma taqaddama min dzanbihi. (Riwayat Bukhori). Yang artinya: “Sesiapapun melakukan puasa Romadlon dengan keimanan dan keikhlasan, maka  akan diampuni dosanya di masa yang lalu”. Subhanallah.

Oleh karena itu, kita harus melaksanakan puasa dengan sungguh-sungguh agar kita diampuni dosa kita oleh  Allah, baik dosa di masa lalu, sebanyak apapun dosa yang pernah kita lalukan,    sehingga nanti kita akan menjadi orang yang suci. Setelah selama sebulan berpuasa dan diikuti dengan zakat fitrah, maka kita akan menjadi manusia yang fitri. Jika dosa-dosa kita diampuni oleh Allah, maka hal itu  merupakan kebahagiaan yang tidak terhingga.

Manusia adalah tempatnya salah dan lupa. Al insanu mahalul qatha’ wan nisyan. Oleh karena itu, sudah sepantasnya jika kita terus menerus untuk memohon ampunan Allah SWT karena kita merasakan betapa kita memiliki kesalahan dan dosa. Bisa saja kesalahan itu disebabkan karena kita ghibah atau menggunjing orang. Biasa saja sebab terkadang kita tidak merasa ternyata kita melakukan tindakan yang kurang etis tersebut. Sebagai makhluk sosial, maka di dalam relasi kita dengan orang lain terkadang tanpa disadari ada pernyataan yang tidak tepat. Itulah sebabnya kita harus terus menerus untuk memohon ampunan kepada Allah SWT atas kekhilafan yang kita lakukan.

Ketiga, pada bulan Ramadlan,  Allah menurunkan banyak pahalanya kepada manusia yang menjalankan puasa dan beribadah lainnya, maka sudah sepantasnya kita memohon ampunan kepada Allah. Itulah sebabnya kita diminta berdoa kepada Allah dengan doa sebagai berikut: “Allahumma inni as’alukal ‘afwa  wal ‘afiyah fid dini, waddunya wal akhirah”. Yang artinya: “Ya Allah sesungguhnya saya memohon kepadamu ampunan dan kesehatan di dalam agama, dunia dan akhirat”. Amin.

Doa ini merupakan doa yang sangat perlu untuk dilantunkan. Doa ini sangat luar biasa. Sebagai manusia yang dipastikan ada kekhilafan, kealpaan dan dosa, maka sangat penting untuk membaca do’a yang hebat ini. Doa ini merupakan doa ampunan sapu jagad. Semuanya mengena di dalam doa yang agung ini. Itulah sebabnya sungguh sangat diperlukan untuk membacanya di saat-saat yang diperlukan. bahkan kita juga terbiasa setelah shalat tarawih, kita lalu berdoa kepada Allah: Allahumma innaka ‘afuwwun karim, tuhibbul ‘afwa fa’fu anna Ya Karim”, yang aartinya: “Ya Allah, sesungguhnya Engkau adalah Maha Pemaaf dan menyukai orang yang memohon ampunan, wahai Yang Maha Agung”.

Kita berdoa agar dosa-dosa kita diampuni, tidak hanya sekedar diampuni tetapi masih ada catatannya, akan tetapi diampuni dan dihapus catatannya. ‘Afwan atau maaf itu lebih mendasar dibandingkan dengan maghfirah atau ampunan. Dan selain itu juga memohon agar kita sehat. Sehat di dalam kehidupan keberagamaan  di dunia untuk  akherat. Melalui fisik kita yang sehat dan juga batin kita yang sehat, maka kita bisa bersyukur, bersabar, bertawakkal, berkasih sayang dengan sesama manusia dan memanusiakan manusia.

Jika kita bisa seperti itu, maka inilah makna kebahagiaan yang kita inginkan. Kebahagiaan bukan karena harta kita yang melimpah, bukan karena uang kita banyak, bukan karena pangkat dan jabatan kita yang tinggi, bukan karena status sosial kita yang hebat, akan tetapi karena ketercukupan kita dalam melakukan pengabdian kepada Allah SWT. Siapa yang besar ibadahnya, maka besar pula peluangnya untuk mendapatkan rahmatnya Allah SWT.  Dan dengan rahmat yang besar, maka peluang untuk masuk surga juga besar.

Puasa sebagai bulan penuh ampunan sudah selayaknya dipenuhi dengan bacaan istighfar. Kita tahu bahwa dengan membaca istighfar sebanyak-banyak, maka peluang untuk mendapatkan ampunan dan maaf dari Allah juga sangat besar. Marilah kita beristighfar dan sekaligus berdoa dengan doa ampunan sapujagad, insyaallah kita akan mendapatkan ampunan, kemaafan dan surganya Allah SWT.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

 

 

 

PUASA YANG MENCERAHKAN EMOSI: RENUNGAN RAMADLAN (4)

PUASA YANG MENCERAHKAN EMOSI: RENUNGAN RAMADLAN (4)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Sebagai makhluk social, maka manusia memiliki kemampuan untuk mengembangkan relasi sosialnya, baik dalam relasi khusus maupun relasi pada umumnya. Relasi khusus misalnya dalam hubungan keluarga atau kerabat dan relasi umum terkait dengan masyarakat di sekelilingnya maupun masyarakat secara lebih luas. Seirama dengan kemajuan teknologi informasi, maka manusia juga mengembangkan relasi virtual. Di dalam relasi virtual ini, maka jarak tidak menjadi kendala di dalam relasi social.

Di dalam relasi social tersebut,  manusia tidak hanya menggunakan kemampuan akalnya atau rational intelligent, tetapi juga menggunakan perasaannya atau emotional intelligent. Di dalam dunia psikhologi bisa disebut sebagai kemampuan emosional atau di dalam dunia inteligensi disebut sebagai emotional intelligent. Manusia memiliki kemampuan melebihi makhluk Tuhan lainnya, terutama di dalam konteks kepemilikan emosi atau perasaan, misalnya senang, sedih, susah, marah dan ngambek. Binatang, misalnya tidak memiliki perasaan seperti ini. Sejauh yang dimiliki adalah insting, misalnya mencarikan makan untuk anaknya, melindungi anaknya atau kebutuhan keselamatan untuk dirinya dan harus memenuhi kebutuhan fisiknya.

Manusia sungguh ciptaan Tuhan yang kompleks. Ada kemampuan rasional dan logis yang bersumber dari otak. Ada perasaan yang bersumber dari hati dan ada kemampuan spiritual yang bersumber dari dimensi ketuhanan. Inilah sesungguhnya yang membedakan manusia dengan makhluk paling hebat sekalipun di dunia. Hewan hanya memiliki insting, yang dengan instingnya itu hewan mempertahankan dirinya dan mengembangkan keturunannya. Tetumbuhan juga bisa mengembangkan dirinya melalui biji  yang sengaja ditanam atau tumbuh sendirinya. Binatang atau tetumbuhan bisa bertahan hidup dan mengembangkan keturuan karena ketersediaan bahan makanan sebagai asupan untuk kehidupannya.

Ada sesuatu yang lebih hebat lagi dibandingkan dengan makhluk hidup lainnya adanya sifat kasih sayang yang dimiliki oleh manusia. Kasih sayang manusia sesungguhnya bersumber dari sifat kasih sayang yang dilabelkan kepada sifat Allah SWT, al Rahman  dan  al Rahim. Allah memiliki sifat yang melazimi seluruh sifat lainnya yaitu sifat kasih sayang kepada hambanya. Allah memiliki sifat-sifat lainnya tetapi pada akhirnya yang dominan adalah sifat kasih sayangnya. Bi ismillah al Rahman al Rahim. Dengan Nama Allah yang maha pengasih dan penyayang. Sifat kasih sayang merupakan pangejawantahan sifat Allah SWT yang ditiupkan kepada umat manusia.

Dalam pandangan saya, bahwa sifat dasar manusia sesungguhnya adalah kasih sayang. Jika kemudian di dalam perjalanan hidup terdapat sifat-sifat yang mengeliminasinya, maka hal tersebut dipengaruhi oleh banyak hal, misalnya factor lingkungan, kepentingan dan pertarungan hidup yang keras di dunia yang semakin kompleks. Tekanan demi tekanan kehidupan menyebabkan tergusurnya sifat kasih sayang menjadi kecemburuan, kebencian, dan kemarahan yang menyebabkan terjadinya disharmoni di dalam kehidupan.

Islam mengajarkan agar manusia saling mengasihi dan saling menyayangi. Tidak terbersit di dalam dirinya untuk memusuhi apalagi mencelakannya. Jika kita resapi akan ajaran kasih sayang itu, maka seakan-akan betapa dholimnya jika kita menyakiti atas orang lain. Bahkan terhadap binatang sekalipun kita tidak boleh semena-mena. Jika kita harus menyembelih hewan untuk kepentingan manusia, maka cara dan metodenya juga diajarkan agar tidak menyakiti. Subhanallah.

Di dalam realitas social, ada banyak orang yang bermusuhan, bahkan membunuh karena kepentingan. Bisa karena pangkat dan jabatan, harta dan kekayaan orang bisa saling berseteru. Bisa karena ketersinggungan masalah individual, lalu a bisa menjadi masalah komunal dan khirnya menjadi masalah masyarakat.

Itulah sebabnya puasa itu mengajarkan agar manusia bisa menjaga hawa nafsunya. Nafsu amarah dan nafsu lawwamah. Menjaga detakan jantungnya. Coba perhatikan jika orang marah pasti jantungnya berdebar-debar. Artinya ada relasi antara detakan jantung, dengan nafsu amarah atau  kemarahan. Puasa itu menjaga agar detak jantung sebagai instrument nafsu amarah bisa terkendali. Islam mengajarkan jika kita marah. Jika kita sedang berdiri, maka agar kita duduk, jika dengan duduk marah kita masih bersemanyam di dalam diri, maka kita diminta berwudlu. Di dalam Hadits Nabi, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Ahmad, dinyatakan: “sesungguhnya amarah itu dari setan dan setan diciptakan dari api. Api akan padam dengan air.  Apabila  salah seorang dari kalian marah, hendaknya berwudlu”. Ini merupakan penjabaran dari hukum berpasangan di dalam Islam. Ada api ada air. Kala api kemarahan berada di dalam diri, maka air wudlu yang akan menihilkannya.

Puasa yang kita lakukan adalah untuk membangkitkan kembali perasaan kasih dan sayang. Untuk menghindari nafsu kebinatangan dan nafsu kemarahan. Untuk memperteguh rasa kemanusiaan.  Rasa yang pasti ada di dalam diri manusia. Tidak ada manusia yang tidak memiliki rasa kasih dan sayang meskipun sangat kecil. Puasa merupakan upaya untuk menyemai dan menumbuhkan kembali perasaan manusia yang fitri, yang selaras dengan sifat Tuhan Yang Rahman dan Rahim.

Jika kita dapat  menjadikan puasa sebagai pelatihan jiwa agar berselaras dengan perintah Tuhan, maka manusia dapat menjadi seperti Malaikat atau kal malaikat. Tetapi jika tidak maka kita akan terus berkutat dengan nafsu yang merusak karena sifat kebinatangan dan keamarahan yang tidak terkendali, dan jika seperti ini maka kita akan kal hayawan. Mari kita renungkan mumpung kita masih diberi waktu.

Wallahu a’lam bi al shawab.