Mengapa Berubah
Dari sisi historis, bahwa ada perkembangan menarik tentang metodologi penelitian dalam sejarah perkembangan ilmu pengetahuan. Yang menganggap metodologi penelitian sebagai arus penting, maka ada anggapan bahwa tanpa metodologi penelitian, maka perkembangan ilmu pengetahuan tidak akan secepat sebagaimana dilihat sekarang. Namun demikian, sesungguhnya bahwa terdapat beberapa pandangan tentang metodologi penelitian, apakah sebagai persyaratan mutlak dalam pengembangan metodologi penelitian atau bukan.
Di antara ahli ilmu penetahuan yang beranggapan bahwa metodologi sebagai persyaratan ilmu pentetahuan maka akan selalu menyatakan bahwa ilmu hanya bisa berkembang melalui penelitian. Di dalam hal ini misalnya dapat diketahui dari pandangan kaum Chicago School yang beraliran metodologi kuantitatif dan pandangan lain yang anti metodologi sebagaimana Fayerabend, yang memandang bahwa ilmu pengetahuan dapat berkembang tanpa harus tergantung kepada metodologi penelitian. Persetan dengan metodologi penelitian. Kira-kira seperti itu pandangannya.
Jika kaum Chicago School sangat mengagungkan metode penelitian, khususnya metode penelitian kuantitatif, sampai-sampai di gerbang Perguruan Tinggi ini didapati tulisan, “Jika tidak bisa dilakukan pengukuran, maka hasilnya bukanlah ilmu pengetahuan”, maka sebaliknya Fayerabend dan koleganya justru menyatakan yang penting memenuhi persyaratan logika. Selama logis, maka cukup menjadi justifikasi status hasil kajian tersebut sebagai produk kajian ilmiah.
(more..)
Pendahuluan
Penelitian merupakan bagian tak terpisahkan dari dunia akademis. Jika dirunut dari konsep Tri Dharma Perguruan Tinggi, maka darma-darma tersebut sesungguhnya merupakan bagian tidak terpisahkan antara satu dengan lainnya. Darma pendidikan merupakan proses transformasi konsep dan teori-teori atau pengetahuan ilmiah yang menjadi fokus kajian atau bidang ilmu yang ditekuni di sebuah lembaga pendidikan tinggi.
Konsep atau teori dalam bidang keilmuan tersebut tentunya dihasilkan melalui penelitian yang dilakukan secara sungguh-sungguh melalui medium penelitian yang dilakukan oleh civitas akademika perguruan tinggi dimaksud. Jadi, ada keterkaitan antara pendidikan dan penelitian yang bercorak sistematik. Kemudian, kedua hal tersebut juga memiliki relasi dengan darma pengabdian masyarakat yang merupakan aspek penerapan ilmu-ilmu yang dikembangkan.
(more..)
Pendahuluan
Kyai dan tokoh pesantren sering kali menjadi lahan sasaran para politisi dalam membangun basis dukungan politik. Pada setiap Pemilihan Umum (Pemilu) maka suara kyai dan santri selalu diperebutkan bukan saja oleh partai-partai politik berbasis Islam saja melainkan juga partai-partai politik berbasis nasionalis. Dalam upaya meraup simpati dari kalangan Islam yang menjadi pengikut setia kyai, banyak partai politik yang menempatkan kyai dan tokoh pesatren pada jajaran pengurus partai dengan harapan dapat menjadi vote getter dalam pemilu.
Kecenderungan ini di satu sisi memperluas akses politik kalangan Islam. Sedikit banyak hal ini tentu juga memberikan perluasan pengaruh Islam pada berbagai kelompok politik, sebagaimana ditandai dengan munculnya sayap Islam dalam PDIP. Di sisi lain, situasi ini juga melahirkan fragmentasi politik yang unik di kalangan umat Islam sendiri, berupa terulangnya oportunisme politik di kalangan tokoh-tokoh politik Islam sebagaimana pengalaman era 1950-an. Pergulatan politik antar tokoh Islam sendiri memperlihatkan kuatnya oportunisme di kalangan politisi muslim. Perbedaan afiliasi politik menjadikan mereka nyaris tidak pernah satu suara dalam menyikapi berbagai persoalan politik.
(more..)
Sebagai sebuah negara demokrasi, maka Pemilihan Presiden (pilpres) adalah suatu keniscayaan. Hampir semua negara di dunia yang mengembangkan sistem demokrasi, pastilah di dalamnya terdapat pemilihan umum (pemilu) dalam berbagai levelnya. Setiap pelaksanaan pemilu, maka hal yang selalu krusial adalah bagaimana menyelenggarakan kampanye damai namun dinamis dan tetap memiliki greget sebagai sebuah pesta demokrasi.
Kampanye merupakan ritual penting di dalam kehidupan politik. Sebagai sebuah ritual, setiap kampanye tentunya melibatkan pelaku, simbol, dan keyakinan yang kuat. Itulah sebabnya setiap kampanye pastilah terdapat simbol partai atau simbol calon yang akan berkompetisi, keyakinan bahwa calonnya yang akan menang dan juga seperangkat ide atau gagasan yang dijadikan sebagai conten kampanye.
(more..)