• November 2026
    M T W T F S S
    « Oct    
     1
    2345678
    9101112131415
    16171819202122
    23242526272829
    30  

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

HAKIKAT SYUKUR  PADA MANUSIA

HAKIKAT SYUKUR  PADA MANUSIA

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Syukur dengan ungkapan alhamdulillah mungkin sudah menjadi kebiasaan kita. Nyaris setiap hari kita bersyukur kepada Allah, terutama dalam bentuk ungkapan atau bacaan alhamdulillah. Kita masuk rumah dari bepergian jauh atau dekat, maka kita mengucapkan syukur dengan ungkapan alhamdulillah. Selesai menyelesaikan tugas baik yang ringan maupun yang berat, maka mulut kita juga berucap alhamdulillah. Selesai makan atau minum juga mengucapkan alhamdulillah. Demikian pula selesai melakukan ritual, maka kita juga mengucapkan alhamdulillah. Pokoknya serba alhamdulillah.

Syukur memang kebanyakan diungkapkan dengan lesan. Dengan ucapan. Bahkan ada orang yang sedikit-sedikit alhamdulillah. Semua itu menggambarkan bahwa ucapan Syukur telah menjadi kelaziman di dalam kehidupan kita semua. Memang syukur kebanyakan diungkapkan di kala mendapatkan kesenangan atau mendapatkan kenikmatan, baik kenikmatan fisik atau kenikmatan jiwa. Kenikmatan fisik adalah kebaikan yang dirasakan secara fisikal sedangkan kenikmatan jiwa dirasakan dalam bentuk ketenangan, rasa damai, rasa senang dan sebagainya melalui instrument hati.

Kenikmatan atau ketenangan merupakan suatu system yang menyelimuti fisik dan jiwa. Senang adalah gabungan antara dunia fisikal dan dunia kejiwaan. Biasanya diawali dengan kenikmatan fisik dan kemudian menjalar ke dalam jiwa. Di dalam Islam terdapat sebuah ungkapan bahwa jiwa atau hati yang senang berada di dalam fisik yang senang, atau jiwa yang sehat berada di dalam tubuh yang sehat. Relasinya memang timbal balik. Di dalam jiwa yang senang terdapat fisik yang sehat dan di dalam fisik yang sehat juga terdapat mental yang sehat. Hati merupakan sumber mental  dan jiwa yang merupakan satu kesatuan.

Syukur sesungguhnya tidak hanya di dalam ucapan atau yang disebut sebagai syukur secara lesan. Tetapi juga harus terdapat juga syukur secara hati atau jiwa. Dan lebih dari itu syukur juga berupa kelakuan atau tindakan. Marilah kita bahas syukur tersebut, yaitu:

Pertama, Syukur secara lesan adalah wujud syukur yang bercorak individual. Atas nama capaian pribadi yang berhasil, maka kita menyatakan syukur secara lesan. Demikian pula syukur dengan jiwa, juga kebanyakan syukur yang dilakukan secara lesan karena prestasi individu atau capaian individu. Bisa juga kesenangan secara individual atau kenikmatan yang dirasakan secara individu. Ucapan-ucapan syukur berada di dalam kawasan dimaksud.

Kedua, Syukur yang dilakukan dengan amalan shalihan. Syukur dalam bentuk prilaku inilah yang merupakan syukur dalam kategori terbaik. Bersyukur tidak hanya dalam ungkapan dan batin atau hati atau jiwa akan tetapi dengan amalan nyata. Syukur dalam bentuk ini merupakan bentuk syukur yang ditujukan kepada orang lain, agar orang lain juga bisa bersyukur atas kenikmatan Allah. Memberi makan orang miskin, memberi makan kepada orang yang sedang berada di jalan Allah, memberikan minum kepada orang yang haus dan memberikan pertolongan kepada orang yang membutuhkan merupakan bentuk syukur yang tertinggi.

Di Gapura Makam Kanjeng Eyang Syekh Ibrahim Asmaraqandi terdapat ungkapan di dalam Bahasa Jawa yang bunyinya: “wenehono  mangan marang wong kang keluwen, wenehono klambi wong kang kawudan, wenehono payung wong kang kepanasan”, yang artinya: “berikan makan kepada orang yang kelaparan, berikan baju atas orang yang telanjang dan berikan payung kepada orang yang kepanasan”. Betapa mendalamnya ajaran Kanjeng Eyang Syekh Ibrahim Asmaraqandi ini. Inilah sesungguhnya perwujudan rasa syukur dengan cara memberi  kepada orang lain.

Ketiga, Di dalam ajaran Islam terdapat sebuah konsep yang patut menjadi perhatian kita semua. Dinyatakan di dalam Hadits yang diriwayatkan oleh Imam At Tirmidzi, sebagai berikut: wa man lam yaskurin nas, lam yaskurillah, yang artinya: “barang siapa yang tidak bersyukur kepada manusia, maka tidak bersyukur kepada Allah”. Mengapa kita harus bersyukur kepada manusia dan kenapa tidak cukup bersyukur kepada Allah? Inilah hakikat dari rasa syukur. Allah memang dipastikan akan memberi rezeki kepada semua hambanya. Apapun hambanya. Tetapi rezeki tersebut terkadang harus melalui perantara atau washilah orang lain. Ada orang yang mendirikan Perusahaan dan kita bekerja di dalamnya, kita mendapatkan gaji untuk menghidupi keluarga. Maka sudah sepantasnya kita bersyukur kepada orang tersebut. Maksudnya berterima kasih, dan dari rasa terima kasih tersebut hakikatnya adalah bersyukur kepada Allah.

Ucapan terima kasih memiliki power yang luar biasa dalam relasi social. Seseorang akan merasa terhormat karena pekerjaannya atau usahanya lalu dihargai orang meskipun hanya dengan ucapan terima kasih. Ucapan terima kasih secara psikhologis masuk dalam kebutuhan akan pengakuan atau rekognisi. Dengan memberikan ucapan terima kasih atas upaya atau pekerjaan orang yang terkait dengan diri kita, maka di situ akan terdapat rasa bahagia.

Di sinilah rahasia kenapa Allah melalui Nabi Muhammad SAW memberikan tekanan pada pentingnya bersyukur atau berterima kasih kepada sesama manusia. Bahkan dinyatakan jika kita tidak bisa berterima kasih kepada sesama manusia, maka hakikatnya kita tidak berterima kasih kepada Allah.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

JAGA AMAL SHALIH UNTUK JIWA

JAGA AMAL SHALIH UNTUK JIWA

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Lebih dari satu bulan, Komunitas Ngaji Bahagia (KNB) berhenti beraktivitas dalam bentuk pengajian rutin. Puasa tentu menjadi alasan untuk menghentikan sementara ngaji bahagia yang diikuti oleh para jamaah konsisten. Hal itu dilakukan sebab kalau malam sudah ada kuliah tujuh menit atau kultum menjelang shalat tarawih dan kalau pagi pada ngaji One Day One Juz. Alhamdulillah dua acara yaitu malam dan pagi hari tersebut dapat berjalan sebagaimana yang diharapkan.

Selasa, 08/04/2025 acara ngaji bahagia dimulai lagi. Dan sebagaimana biasa diikuti oleh jamaah yang berkomitmen untuk tersenyum dan tertawa, sambil memperkaya pengetahuan tentang ajaran Islam. Meskipun temanya bervariasi, akan tetapi tetap ada benang merahnya, bahwa yang dikedepankan oleh ngaji bahagia  lebih banyak aspek tabsyir atau kemudahan atau kebahagiaan di dalam beragama dan bukan semata-mata tandzir atau kesulitan dan kerumitan dalam beragama. Jadikan beragama secara aktivitas happy dan bukan beragama dengan nafsu kekakuan dan menyulitkan.

Untuk mengawali pengajian ini, maka saya yang menjadi pemantik diskusi. Agak berbeda dengan pengajian di masjid lain yang lebih bercorak monolog, maka pengajian di masjid ini lebih bercorak dialog. Jadi terkadang nara sumber berfungsi mengantarkan diskusi dan para jamaah bisa memberikan  penjelasan tambahan. Saya menyampaikan tiga hal, yaitu:

Pertama, kita adalah hamba Allah yang beruntung. Orang yang sudah bisa menyerasikan antara kesalehan ritual dan kesalehan social. Kesalehan ritual tersebut ditandai dengan selama satu bulan penuh kita menjalankan puasa dan melakukan amal kebaikan kepada sesama manusia. Pada bulan yang penuh dengan rahmat dan pengampunan tersebut, kita sudah melakukan hal-hal yang wajib dan juga hal-hal yang sunnah. Kehidupan kita benar-benar full ibadah. Memang harus tetap bekerja akan tetapi kita bersyukur bisa menyeimbangkan antara dunia kerja dengan dunia ibadah.

Selama bulan puasa seluruh keyakinan dan ritual telah kita lakukan. Semua sudah menjadi kelaziman. Tentu yang diharapkan adalah bagaimana sesudahnya. Apa kita masuk dalam kategori yang meningkat, yang biasa saja atau bahkan yang menurun. Ini yang harus menjadi atensi kita semua. Yang diharapkan tentu saja sekurang-kurang sama atau mungkin bahkan bertambah. Bulan Syawal itu maknanya meningkat atau peningkatan. Akan tetapi sekali lagi bahwa ibadah itu adalah kecenderungan jiwa, apakah akan bersearah dengan roh atau bersearah dengan jasad atau fisik.

Kedua, ada satu ayat Alqur’an di dalam Surat Al Fusshilat, ayat 46, yang teksnya berbunyi: “faman ‘amila  shalihan falinafsihi, wa man asaa fa’alaiha, fa ma Rabbuka bidhallami lil ‘abid”, yang artinya: “maka siapa yang beramal kebaikan maka untuk dirinya sendiri, dan yang melakukan kejelekan juga untuk dirinya sendiri, akan tetapi Tuhanmu tidak sekali-kali akan berbuat dhalim terhadap hambanya”. Terjemahan di dalam Alqur’an tarjamah nyaris semuanya sama menjelaskan bahwa fa linafsihi adalah untuk dirinya sendiri.

Akan tetapi saya mencoba untuk menjelaskan bahwa falinasihi itu titik tekannya pada dimensi kejiwaan. Diri sendiri yang terkait dengan dunia Jiwa. Jadi khitab atau obyek ayat ini adalah kepada jiwa. Nafsun secara bahasa  adalah jiwa. Di dalam diri seseorang terdapat tiga dimensi yang bercorak sistemik, yaitu raga atau fisik, jiwa atau nafs dan roh. Roh adalah milik Tuhan dan akan kembali kepada Tuhan. Sedangkan raga dan fisik akan kembali ke surga atau neraka. Tetapi kita yakin bahwa peluang ke surga sangat besar karena kasih sayang Allah SWT kepada hambanya.

Saya berpandangan bahwa yang akan mendapatkan kenikmatan atau kesengsaraan di alam akherat adalah jiwa dan raga. Sedangkan roh akan kembali kepada Tuhan. Mustahil Allah akan menyiksa kepada Roh yang merupakan bagian Tuhan. Allah meniupkan roh kepada manusia, artinya Roh adalah milik Tuhan yang abadi. Secara logika pernyataan ini benar, hanya saja tentu ada pro-kontra atas penjelasan teks seperti ini. Tetapi bisa juga dipahami diri sendiri itu dengan matra jasad, jiwa dan roh.

Ketiga, Jiwa memang harus dimanej. Jiwa  atau nafs akan dapat dipengaruhi oleh jasad atau oleh roh. Jika yang berpengaruh itu jasad atau aspek hayawaniyah, maka jadilah yang dominan adalah sifat hayawan. Makan yang serba enak, minum yang serba nikmat dan juga memanjakan syahwat lainnya. Tetapi jika yang berpengaruh adalah roh, maka akan berkecenderungan menyukai kebaikan dan kebenaran. Pengaruh agama di dalam kehidupan hakikatnya kala jiwa dipenuhi dengan roh yang merupakan percikan Tuhan.

Untuk memanej jiwa agar selalu berselaras dengan roh, maka Allah menurunkan agama sebagai pedoman untuk melakukan tindakan. Agama sebagai pattern for behaviour. Ada petunjuk untuk melakukan kebaikan baik vertical maupun horizontal. Yang vertical misalnya membaca shalawat. Ibadah lain itu masih berada di antara diterima atau ditolak, tetapi shalawat Nabi pasti diterima. Apalagi jika melakukannya dengan Ikhlas dan penuh pengharapan. Ada raja’ atau harapan di dalam membaca shalawat agar kita mendapatkan syafaat dari Kanjeng Nabi Muhammad SAW.

Kalimat thayyibah sangat besar pengaruhnya untuk memanej jiwa atau memanej hati. Maka secara proposisional bisa dinyatakan bahwa semakin banyak bacaan kalimat tahyyibah yang dilantunkan oleh seseorang, maka makin besar peluangnya untuk dapat menjaga hati atau jiwanya.

Kita harus yakin, bahwa bacaan kalimat thayyibah tersebut akan dapat menjadi perantara agar kita selalu berada di dalam naungan rahmat dan hidayah Allah SWT.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

 

 

JAGA KASIH SAYANG KEPADA LELUHUR

JAGA KASIH SAYANG KEPADA LELUHUR

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Salah satu di antara kegembiraan di dalam hari raya, terutama idul fitri, adalah acara silaturahmi keluarga besar. Acara informal ini telah menjadi tradisi baru di kalangan umat Islam di Indonesia. Banyak keluarga yang menyelenggarakannya. Inti dari acara ini adalah forum untuk saling memberi maaf antara satu dengan lainnya di dalam keluarga besar. Untuk menentukan siapa yang diundang biasanya ditentukan berdasarkan urutan kakek atau nenek. Tergantung siapa yang dituakan.

Pada hari Ahad, 06/04/2025, kami berkumpul sebanyak empat keluarga bardasarkan atas bapak atau Ibu dari keluarga di Surabaya dan Mojokerto. Sebenarnya juga ada keluarga yang di Jakarta dan Bandung, akan tetapi ada yang sudah kembali dan ada yang memang berhalangan hadir. Mereka melakukan acara silaturrahmi di Surabaya, tepatnya di Perumahan Lotus Regency E8 Ketintang Surabaya. Ada sebanyak 21 orang lelaki dan Perempuan, tua dan muda bahkan anak-anak. Mereka berkumpul untuk saling berbagi cerita dan bersenda gurau tentang banyak hal. Kelihatan ada kegembiraan di antara mereka bersaudara dimaksud.

Tidak ada acara yang khusus, hanya makan-makan bareng dengan sayur lodeh, kare ayam, lontong, rujak cingur dan minuman es buah. Acara lainnya yang special adalah melakukan acara tahlilan untuk seluruh anggota keluarga yang sudah wafat, dan dilanjutkan berdoa bersama. Acara tahlilan dan doa memang menjadi ciri khas setiap pertemuan yang dilakukan bersama. Saya dianggap sebagai yang tertua dari seluruh anggota keluarga yang hadir, sehingga saya yang memimpin tahlil dan doa, serta ucapan silaturahmi yang pendek saja. Secukupnya.

Pertama , pertemuan ini sangat bermakna bagi kita semua, sebagai wadah untuk silaturahmi antar keluarga. Keluarga kita yang sudah beranak pinak ini jangan sampai  tidak lagi mengenal satu dengan lainnya. Di masa lalu, anggota keluarga itu berada di dalam satu desa, atau sejauh-jauhnya tetangga desa. Tetapi sekarang anggota keluarga itu sudah saling berjauhan. Ada yang di Jakarta, Surabaya, Mojokerto, Bandung dan sebagainya. Jika tidak direkatkan dalam tali silaturahmi, maka akan terputus. Islam menjadikan silaturahmi sebagai wahana untuk menjalin tali persaudaraan antar keluarga.

Di dalam Islam ditegaskan sebagaimana  hadits Nabi Muhammad SAW: “barang siapa yang mempercayai Allah dan hari akhir, maka sambunglah tali silaturrahmi. Relasi antar keluarga di dalam Islam disebut sebagai dzawil qurba. Mereka ini bahkan dapat menjadi penerima zakat, jika keadaan ekonominya memang memungkinkan untuk menjadi bagian dari asnaf di dalam penerima zakat.

Kedua, di antara tujuan kita berkumpul dan silaturrahmi ini bukan sekedar ketemu fisik belaka. Bukan hanya sekedar tatap muka. Saling bertemu. Tetapi harus ada yang lebih spesifik dan unggul. Oleh karena itu silaturrahmi keluarga harus diisi dengan pemberian kasih sayang kepada para ahli kubur, leluhur kita. Mereka yang di alam barzakh harus diberikan kebahagiaan dengan cara yang paling mungkin kita lakukan, yaitu berkirim doa dan membacakan tahlil atau bacaan kalimat thayyibah kepada mereka semua.

Saya membayangkan bahwa para leluhur kita akan bahagia melihat atau mendengarkan bacaan kalimat thayibah dari anak cucunya. Mereka tidak lagi membutuhkan kiriman benda material, mereka tidak memerlukan jabatan kita, mereka tidak mengendaki kekayaan kita, tetapi yang dibutuhkan adalah doa dan bacaan kalimat thayyibah kita semua. Selama bulan puasa mereka menjadi arwah yang senang dan bahagia.

Di dalam acara ini, maka pertama saya bacakan surat Al Fatihan kepada Kanjeng Nabi Muhammad SAW, para isteri, anak-anak dan cucu-cucunya serta sahabat-sahabatnya. Lalu  saya bacakan Surat Al Fatihah kepada leluhur kita semua dari Emak, Bapak, Kakek, nenek, dan kerabat kita yang sudah wafat. Dan yang juga penting adalah bacaan Surat Al Fatihah untuk kepentingan atau kebutuhan kita.

Ketiga, kita harus meyakini bahwa dengan bacaan Surat Al Fatihah, bacaan tahlil dan doa yang kita washilahkan kepada Kanjeng Nabi Muhammad SAW, maka doa kita akan dikenali oleh teknologi tinggi milik Allah SWT. Sebagai Dzat yang tidak terhingga, maka dipastikan bahwa Allah akan mengenali doa-doa kita. Berapapun banyak doa yang dilantunkan oleh makhluk yang terhingga, maka Allah sebagai Dzat Yang Tidak Terhingga pasti akan menjawabnya. Apakah jawabannya langsung atau tidak langsung itu tentu haknya Allah SWT.

Jadi ada dua matra di dalam doa  itu. Doa dan bacaan tahlil itu akan diganjar dengan pahala oleh Allah untuk siapa yang membacanya. Kemudian doa dan bacaan tahlil itu juga pahalanya akan dapat diterima oleh para leluhur kita yang secara sadar dan Ikhlas melakukannya. Agama itu dunia keyakinan. Maka kita harus yakin bahwa Allah akan menerima doa dan bacaan tahlil kita yang dilakukan dengan hati yang bening.

Kita harus berhusnudh dhan kepada Allah. Dengan sepenuh keyakinan kita melakukan kebaikan untuk para leluhur. Jangan hiraukan ada sekelompok orang yang tidak menyukai dan bahkan mengharamkan apa yang kita lakukan. Kita percaya saja bahwa Allah Maha Baik, dan yakin Allah akan memberikan kebaikan.

Wallahu a’lam bi al shawab.

MENDAMBA SURGA, PANTASKAH?

MENDAMBA SURGA, PANTASKAH?

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Sering kali kita berdoa kepada Allah dengan ungkapan: “Allahumma inna nas aluka Ridhaka wal Jannah wa na’udzu bika min sakhawatika minan nar”. Yang artinya kurang lebih: “Ya Allah sesungguhnya kami memohon  kepada-Mu keridlaan dan surga dan memohon kepada-Mu hindarkan kami dari api neraka”. Doa yang sering kita baca setelah shalat rawatib dan kemudian menjadi kebiasaan kita setiap hari.

Lalu terkadang kita bertanya, pantaskah kita memohon surganya Allah di tengah banyaknya kesalahan, kekhilafan dan bahkan dosa?  Maka, ada dua jawaban, yaitu:

Pertama,  Jawaban teologis. Jawaban teologis ini memberikan gambaran bahwa Allah SWT memang menghendaki agar manusia berdoa kepada-Nya. Bahkan dimintanya untuk berdoa langsung kepada-Nya. “Ud’uni astajib lakum” yang artinya kurang lebih: “bermohonlah kepada-Ku, maka aku akan mengabulkannya untukmu”. Indahnya kalimat Allah ini. Suatu kalimat yang memberikan gambaran kepada umat manusia, betapa Allah akan mendengarkan dan mengabulkan doa-doa yang dilantunkan hambanya. Bagaimana Allah akan mendengarkan dan mengabulkan doa yang jumlahnya mungkin milyaran dari hamba-hambanya? Jika dihitung secara matematik, maka ada sebanyak satu milyard umat Islam, jika sehari berdoa lima kali setiap selesai shalat, maka akan terdapat doa sebanyak lima  milyar doa. Padahal permohonannya itu macam-macam. Tentu crowed sekali.

Bagi kita,  ingatlah bahwa Allah itu Dzat Yang Tidak Terhingga, sehingga betapapun  banyaknya yang terhingga atau dapat dikalkulasi dipastikan bahwa Allah memahaminya. Memahami tata surya yang kompleks saja Allah pasti bisa,  apalagi hanya doa yang jumlahnya bisa dikalkulasi. Tuhan itu Maha Tahu dan Maha Kuasa. Di dalam Bahasa sosiologis disebut sebagai Omni science dan Omni Potence. Keteraturan tata surya, yang beredar sesuai garis edarnya, pergantian siang dan malam yang teratur, perputaran bumi atas matahari yang sangat teratur, maka dipastikan bahwa ada Dzat yang Maha Kuasa atas segala sesuatu tersebut. Allah sudah menjelaskannya di dalam Alqur’an tentang hal ini.

Begitu banyaknya Allah mengajari hambanya untuk berdoa. Misalnya melalui doa-doa yang dibaca oleh Nabi dan Rasul-Nya. Ada doa Nabi Adam, ada doa Nabi Nuh, ada doa Nabi Yunus, ada doa Nabi Hud, ada Doa Nabi Yunus, ada doa Nabi Ibrahim, ada doa Nabi Ismail, ada doa Nabi Ishaq, ada doa Nabi Musa, ada doa Nabi Dawud, ada doa Nabi Sulaiman, ada doa Nabi Isa, dan ada doa Nabi Muhammad SAW. Semuanya terekam di dalam Alqur’an. Salah satu doa Nabi Adam kala diturunkan ke bumi, maka doa itulah yang dibaca. Dipastikan Nabi Adam tidak berdosa. Nabi Adam khilaf dan kemudian harus diturunkan ke bumi dengan Hawwa, dalam kerangka untuk memakmurkan muka bumi dan menyambungkan keturunannya di muka bumi.

Kedua,  alasan sosiologis. Manusia memiliki kesadaran atas mana tindakan yang benar dan yang salah. Tidak bisa diingkari bahwa hati manusia memiliki kemampuan untuk menyatakan mana yang benar dan mana yang salah. Hati merupakan pusat kesadaran. Lalu, dari kesadaran individul kemudian menjadi kesadaran komunal atau kesadaran social. Sumber utama kesadaran komunal dan kesadaran social adalah norma social atau norma agama atau norma social berbasis agama. Itulah sebabnya agama merupakan pedoman untuk menginterpretasikan perilaku manusia.  Untuk menemukan mana tindakan yang salah dan benar.

Adakah manusia yang menyatakan bahwa mencuri, membunuh, menggarong uang, merusak barang milik orang lain adalah kebenaran. Ajaran agama apapun dipastikan tidak akan menyatakan sebagai kebenaran. Akan tetapi kejujuran, keadilan, tanggungjawab, kebersamaan, kesetiakawanan yang serba baik adalah kebaikan. Tidak ada yang meragukannya. Ada kebaikan umum dan ada kebaikan khusus. Kebaikan umum terkait dengan perilaku komunal atau masyarakat yang berbasis kebaikan, dan ada kebaikan khusus orang perorang yang juga berbasis pada nilai-nilai yang dianggap kebenaran.

Dari dimensi social seperti ini, maka sesungguhnya manusia memiliki potensi untuk berdoa atau permohonan. Di dalam hukum duniawi, maka seseorang yang bersalah juga akan menerima hukuman dan berkat doa atau dukungan yang didapatkannya,  maka kemudian bisa dikurangi hukumannya. Jadi hakikatnya, setiap manusia memiliki potensi social untuk memohon atau berdoa atas kesalahan dan kekhilafan. Kesadaran seperti ini bisa difasilitasi oleh ajaran agama atau norma social yang dijadikan sebagai pedomannya.

Dalam relasi social, permohonan ampunan atau maaf juga diberlakukan. Tradisi dalam kehidupan social meniscayakan keberadaannya. Seorang anak meminta ampun pada orang tuanya. Seorang murid memohon ampun pada gurunya, seorang pejabat memohon ampun kepada atasannya. Ini merupakan tradisi yang dipelihara secara turun menurun. Lintas generasi. Diajarkan lewat proses enkulturasi dari generasi ke generasi.

Permohonan atau doa kepada Tuhan untuk memperoleh surga merupakan hal yang sangat wajar, sebab tidak hanya diajarkan oleh agama apapun dan manapun, akan tetapi juga memiliki basis social di dalam kehidupan masyarakat. Surga tentu ada di dalam ajaran setiap agama, dan Islam juga mengajarkan tentang surga sebagai tempat segala kebahagiaan.

Oleh karena itu, marilah kita lantunkan doa kepada Allah SWT dengan keikhlasan, kesabaran, kesyukuran dan penuh keimanan dan ketaqwaan, dan insyaallah Tuhan akan mengabulkan permohonan tertinggi kita.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

 

NIKMATNYA BISA BERIBADAH

NIKMATNYA BISA BERIBADAH

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Saya bersyukur karena bisa hadir kembali di Desa Sembungrejo Kecamatan Merakurak, Tuban dalam rangka untuk acara silaturahmi. Saya memang harus datang di desa ini sebab harus menjenguk Emak saya yang masih hidup. Meminta maaf dan sekaligus menyenangkan hatinya. Hanya saja saya memang agak terlambat hadir. Soalnya sederhana saja, sebab di tempat kelahiran saya sedang terdapat demam berdarah (DB) dan cukup banyak anak-anak yang terinfeksi nyamuk aides agipti tersebut.

Itulah sebabnya keberangkatan saya, anak-anak dan cucu agak sedikit mundur. Biasanya pada hari pertama hari raya atau bahkan sebelumnya, maka untuk idul fitri 1446 H atau 2025 terpaksa mundur sehari. Melakukan sterilisasi rumah dari nyamuk dengan menggunakan obat semprot nyamuk. Seluruh dalam rumah dan luarnya disemprot memakai obat nyamuk. Yang penting berusaha sebab Allah menyukai orang yang berusaha. Syukurlah semua teratasi. Hanya saja tidak bisa memperpanjang waktu di desa, biasanya sepekan, maka untuk tahun ini hanya rencananya  dua hari saja.

Meskipun demikian, saya masih menyempatkan diri untuk memberikan sedikit ceramah agama pada jamaah shalat shubuh di Mushalla Ruadlatul Jannah di depan rumah saya, di Dusun Semampir, Desa Sembungrejo, Kecamatan Merakurak, Tuban. Jamaah lelaki dan perempuan tidak banyak akan tetapi ada konsistensi di dalam melakukan shalat jamaah. Nyaris setiap hari mereka melakukan shalat subuh berjamaah. Ada tiga hal yang saya sampaikan, yaitu:

Pertama, kita bersyukur kepada Allah karena masih hidup. Batuk-batuk sedikit tidak apa-apa. Itu tandanya masih hidup. Dengan masih hidup, maka kita dapat melakukan shalat, berdzikir, dan masih bisa bersilaturahmi dengan sesama. Masih bisa menikmati kebersamaan dengan keluarga. Masih bisa meminta ampun kepada Allah atas semua dosa yang kita lakukan. Kita dapat melaksanakan puasa sebulan penuh. Tahun ini sebulan itu sama dengan 30 hari. Kadangkala sebulan itu hanya 29 hari. Kita dapat membaca Alqur’an setiap hari. Dan jangan lupa kita membaca Alqur’an tidak hanya untuk diri kita tetapi juga untuk arwah leluhur kita. Bapak, Ibu, saudara, kakek,  nenek, dan bahkan untuk umat Islam seluruhnya.

Itulah sebabnya saya sering berimajinasi bahwa para leluhur kita sangat berbahagia. Bahkan mereka selalu berharap datangnya bulan puasa. Pada bulan ini, maka kebanyakan umat Islam membaca surat Al Fatihah, membaca Surat Yasin, membaca Surat Al Waqi’ah yang juga ditujukan kepadanya. Inilah bulan kebahagiaan bagi para luluhur kita. Bulan yang penuh dengan Rahmat, ampunan dan dijauhkan dari api neraka.

Kedua, kita bersyukur karena bisa beribadah secara rutin. Bayangkan di sekeliling kita ada banyak orang yang tidak melakukan ibadah, khususnya shalat saja. Apalagi melakukan dzikir kepada Allah. Membaca shalawat kepada Nabi Muhammad dan membayar zakat, shadaqah, infaq dan seterusnya tidak dilakukannya. Mereka orang Islam yang pernah membaca syahadat. Paling tidak sewaktu menikah. Tetapi mereka tidak memahami apa yang dibacanya. Tidak tahu apa implikasi dari bacaan syahadatnya.

Kita sungguh bersyukur sebab sudah membaca syahadat, lalu kita mengamalkan ajaran Islam. Shalat sudah kita lakukan bahkan dengan shalat berjamaah. Shalat shubuh secara berjamaah ini luar biasa pahalanya. Apalagi kalau kita dapat melakukan  shalat malam. Bisa berdoa di sepertiga malam. Insyaallah kita akan menjadi hambanya Allah yang memperoleh rahmatnya kelak di alam mahsyar. Fi yaumil ma’ad.

Marilah kita Yakini bahwa yang kita lakukan itu dipastikan akan mendapatkan pahala dari Allah SWT. Tidak ada yang sia-sia atas amal baik yang kita lakukan. Semua amal baik sebesar biji dzarrah pun akan dicatat dalam rapor kehidupan kita. Oleh karena itu, mari kita berlomba untuk mengisi rapor kehidupan dengan amal-amal kebaikan secara sungguh-sungguh dan tidak sedikitpun keraguan di dalamnya.

Ketiga, bulan puasa merupakan bulan yang penuh Rahmat. Tidak hanya untuk yang hidup tetapi juga untuk yang sudah wafat. Bulan puasa itu juga dirindukan oleh para arwah leluhur kita. Hal ini karena pada bulan puasa itu kita meningkatkan amal ibadah, yang berupa doa, bacaan Alqur’an, bacaan tahlil, tahmid, dan shalawat yang biasanya kita tujukan kepada arwah para leluhur. Mereka merasakan manfaat lafadz-lafadz kalimat tayyibah dimaksud.

Jangan pernah ragu untuk mendoakan leluhur kita yang sudah mendahului kita. Yakinlah bahwa Allah akan menyampaikan amalan baik tersebut kepadanya. Betapa bahagianya leluhur kita yang merasakan hadirnya pahala dari anak cucunya. Sebagai anak cucunya, kita harus merasa berkewajiban untuk menjaga kebahagiaan leluhur. Dan salah satu cara yang murah adalah dengan membaca kalimat thayyibah. Bukan dilakukan selamatan besar-besaran, apalagi yang hadir tidak Ikhlas karena tidak diberikan sarung atau diberi bisyarah yang besar.

Kita anak cucunya yang berkewajiban untuk membahagiakannya. Bapak saya, embah saya, buyut saya, canggah saya dan bahkan guru-guru saya insyaallah saya bacakan kalimat thayyibah. Dan demikian pula leluhur kita semua. Mari kita berlomba, fastabiqul khairah, untuk membahagiakan leluhur kita.

Wallahu a’lam bi al shawab.