• June 2026
    M T W T F S S
    « May    
    1234567
    891011121314
    15161718192021
    22232425262728
    2930  

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

TRAGEDI  LOS ANGELES: KAUM TEOLOGIAN, SEKULARIS  DAN HUMANIS

TRAGEDI  LOS ANGELES: KAUM TEOLOGIAN, SEKULARIS  DAN HUMANIS

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Berita tentang kebakaran super hebat yang menimpa Los Angeles di Amerika Serikat sungguh menarik untuk dicermati. Ada yang bisa dikategorikan hoaks dan ada yang diperkirakan benar dan ada yang memang benar-benar apa adanya. Saya tentu tidak menilai secara lebih mendalam tentang macam-macam berita tersebut, akan tetapi saya kira juga pantas kalau saya juga terlibat dalam jagat meramaikan tentang media social tentang kebakaran di Amerika Serikat yang menyedot pemberitaan dan respon yang luar biasa dimaksud.

Ide tulisan ini sesungguhnya muncul dari jamaah yang tergabung dalam Komunitas Ngaji Bahagia (KNB) yang menyelenggarakan pengajian pada Hari Selasa yang lalu. Tepatnya pada tanggal 14 Januari 2024. Sebagaimana biasa bahwa ngaji ini bercorak interaktif, yaitu tidak hanya melulu dari penceramah tetapi juga terdapat pembahasan dari audience. Setelah Ustadz Sahid Sumitro, trainer Pengembangan SDM, lalu saya memberikan ulasan sekenanya, maka Pak Mulyanta menanyakan tentang kebakaran di Los Angeles yang memantik banyak respon dari netizen, baik yang bercorak memberikan gambaran tentang balasan Tuhan, atau yang tidak menganggap bahwa kebakaran tersebut bukan punishment dari Allah SWT.

Di dalam penjelasan saya, kemudian saya sampaikan ada tiga kelompok masyarakat atau netizen yang memberikan respon atas peristiwa dimaksud. Kebakaran ini memang peristiwa yang luar biasa baik dalam cakupan peristiwanya, tingkat keparahannya dan daya kerusakan yang diakibatkannya. Bisa dibayangkan bahwa kerugian yang ditimbulkan oleh kebakaran ini mencapai angka Rp2400 trilyun. Lebih besar dari APBN Pemerintah Indonesia, yang hanya Rp2.300 trilyun. Belum lagi hilangnya nyawa yang makin bertambah, dan yang terparah adalah rusaknya insfrastruktur sejarah Los Angeles sebagai kota peradaban  dan maju di Amerika. Banyak orang kaya, artis, pesohor dan tokoh-tokoh dunia yang berada dan hidup di kota yang bersejarah dimaksud.

Pertama, respon kaum theologian yang menyatakan bahwa kebakaran hebat di Los Angeles merupakan azab Tuhan kepada Presiden terpilih Donald Trump yang akan menjadikan Gaza sebagai neraka. Selama ini dukungan Amerika atas Israel memang luar biasa. Tidak hanya kebijakan double standart atau double speaks, akan tetapi juga bantuan militer yang nilainya sangat luar biasa. Amerika selama ini memperlakukan Israel dengan kebijakan yang memihaknya. Nyaris tidak ada kesalahan dalam semua Tindakan Israel atas pendudukan Jalur Gaza, sementara tidak ada benarnya sedikitpun atas Tindakan Palestina untuk mempertahankan wilayahnya. Yang dilakukan Israel dalam kerangka untuk memburu dan menihilkan terorisme. Bangsa Palestina sama dengan kaum teroris. Yang dilakukan oleh Israel adalah Tindakan de-terorisme. Inilah yang disebut sebagai state terrorism.

Kebakaran di Los Angeles adalah kutukan Tuhan atas kesombongan seorang Donald Trump yang akan menghancurkan bangsa Palestina. Sebuah genosida yang direncanakan. Di dalam media social dapat diketahui tentang unggahan yang menggambarkan pandangan tersebut. Ada yang memang realistis dan ada yang hoaks. Keduanya bercampurbaur dalam tayangan media. Tayangan di media social tersebut menggambarkan kegeraman atas prilaku Amerika yang arogan. Di dalam pidato dinyatakan akan membangun peacefull jihad, akan tetapi di tangannya menggenggam bom yang siap diledakkan. Di tengah media social yang deras seperti sekarang, maka masyarakat tidak lagi dapat diperbodoh oleh ucapan-ucapan yang retorikanya  seakan-akan melakukan kebaikan, padahal sesungguhnya hal tersebut hanyalah ungkapan belaka.

Kedua, respon kaum sekularis bahwa tragedy Los Angeles tidak ada hubungannya dengan agama atau teologi. Peristiwa ini merupakan peristiwa alam yang memang terjadi dan tidak ada campur tangan agama. Hanya sebuah peristiwa alam yang terjadi sebagaimana peristiwa-peristiwa alam yang terjadi di tempat lainnya. Jika kemudian tragedy ini menjadi semakin membesar dan meluas, maka penjelasannya adalah karena factor alam yang memang seperti itu. Dipastikan ada penyebab alam dan akibat yang ditimbulkannya. Berdasarkan hukum alam, bahwa di mana terjadi kebakaran, maka akan menimbulkan angin kencang dan itu akan menjadi penyebab mengapa terjdi perluasan wilayah yang terbakar. Pernyataan Trump itu berdiri sendiri dan peristiwa kebakan juga berdiri sendiri-sendiri. Di sini tidak terdapat keterkaitan antara peristiwa alam tersebut dengan kutukan atas nama Tuhan.

Sebagaimana pandangan kaum sekularis dalam melihat relasi antara agama dan realitas social, maka mereka berpandangan bahwa agama memiliki otoritasnya sendiri dan realitas social juga memiliki realitasnya sendiri. Masing-masing berdiri sendiri-sendiri  dan tidak saling berhubungan. Manusia dewasa ini hidup dalam dunia realitas social dan bukan hidup di era metafisika apalagi teologia. Bagi kaum kesularis bahwa setiap peristiwa aalam akan dapat dijelaskan dengan hukum alam. Jadi tidak bisa djelaskan dengan pandangan metafisi atau dibalik peristiwa apalagi pandangan teologis yang menyandarkan semuanya pada Tuhan.

Ketiga,  respon kaum humanis yang secara prinsip memadang bahwa musibah tentu tetap sebagai musibah dan yang sesungguhnya menderita adalah manusia yang terkena musibah dimaksud. Makanya, merekalah yang sesungguhnya perlu untuk diperhatikan di dalam musibah ini. Tidak perduli apakah yang terkena musibah tersebut orang yang beragama dengan varian agamanya, atau bahkan orang atheis, akan tetapi dipastikan bahwa musibh merupakan penderitaan yang tidak terkira. Kepada merekalah manusia harus memberikan simpatinya dengan harapan ketabahan akan tetap menjadi bagian dari kehidupannya.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

 

 

DAKWAH YANG MENCERAHKAN (BAGIAN KETIGA)

DAKWAH YANG MENCERAHKAN (BAGIAN KETIGA)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Kita sungguh beruntung dapat menjadi bagian dari umat Islam. Masih banyak orang yang tidak bisa menjadi bagian dari umat Islam itu. Meskipun cerita tentang kebenaran Islam itu sudah didengar dan dipahami, akan tetapi ternyata tidak semuanya mendapatkan hidayah. Ada kalanya didapati orang yang memperoleh hidayah tanpa berusaha dengan keras untuk mendapatkannya dan ada yang berusaha dengan keras sehingga mendapatkan cahaya hidayah dari Allah SWT.

Dakwah yang efektif adalah dakwah dengan menggunakan ilmu pengetahuan. Yaitu dakwah yang dilakukan dengan memberikan gambaran tentang relasi antara agama dan sains. Selama ini terdapat pandangan bahwa antara sains dan agama merupakan dua entitas yang tidak bisa bertemu. Keduanya tidak bisa didialogkan apalagi diintegrasikan. Keduanya memiliki otoritasnya masing-masing. Agama dengan otoritas keagamaan dan ilmu dengan otoritas keilmuannya.

Namun demikian, akhir-akhir ini terdapat sejumlah kajian yang menghasilkan  kebenaran ajaran Islam. Jika selama ini, ada banyak yang dinyatakan sebagai mu’jizat Nabi-Nabi, maka kemudian bisa dibuktikan secara sains. Semua membuka cakrawala tentang kebenaran Islam yang tidak terbantahkan. Benarkah kiranya, suatu konsep di dalam ajaran Islam bahwa agama adalah akal dan jika tidak masuk akal bukanlah agama.

Tentu saja ada dimensi agama yang bisa dikaji dengan akal,  akan tetapi juga ada ajaran agama yang tidak dapat dinalar oleh kemampuan akal manusia. Yang seperti itu rasanya sampai kapanpun akan tetap menjadi misteri di dalam agama-agama. Ada hal-hal yang gaib yang akan tetap menjadi kegaiban sampai kapanpun tetapi juga terdapat hal-hal yang tidak masuk akal di masa lalu dan kemudian menjadi masuk akal di masa sekarang.

Tentang eksistensi Tuhan sebagai rabb dan mulk  atas tata surya dan alam seluruhnya, tidak bisa dihadirkan keberadaannya secara akal. Namun demikian dengan petunjuk tentang “keteraturan” alam di dalam tata surya ini,  akhirnya menyibak suatu hipotesis bahwa “tidak” mungkin keteraturan pada alam semesta itu terjadi dengan sendirinya, tanpa ada desain agung yang berpikir dan mewujudkannya. Yang mewujudkannya itulah yang kemudian dikenal sebagai pencipta alam dan pemeliharan alam yang sangat super, yang dikenal sebagai Super Reality atau Supreme Being.

Namun demikian ada dunia keyakinan yang semula dianggap di luar nalar, akan tetapi berdasarkan kemajuan ilmu pengetahuan akhirnya tersibak pembenarannya. Kehadiran para saintis yang melakukan kajian atas keyakinan di dalam ajaran Islam, akhirnya membuka mata para saintis tentang kebenaran ajaran Islam, khususnya teks Suci Al qur’an. Dari tangan para saintis itulah kemudian banyak menarik minat orang-orang yang selama ini meragukan kebenaran agama dan akhirnya meyakini kebenarannya.

Dakwah Islam tentang teks Suci Alqur’an akhirnya menemui masa kesahihannya. Dakwah Islam melalui pembenaran teks suci dapat menjadi substansi secara ilmiah, bahwa Alqur’an memang kitab Suci yang diturunkan oleh Allah melalui Nabi Muhammad SAW. Kehadiran Nabi Muhammad SAW yang ummi, diartikan sebagai seseorang yang buta huruf, juga merupakan desain Allah untuk menjawab atas tuduhan kaum kafir bahwa Muhammad SAW membaca teks-teks agama sebelumnya. Dengan posisi Nabi Muhammad SAW yang ummi, maka memberikan kepastian bahwa Nabi Muhammad tidak membaca kitab-kitab suci sebelumnya.

Kebenaran kematian Fir’aun di Laut Merah, Kebenaran tentang kereta perang dan tulang belulang di dasar laut atas tentara Mesir yang mengejar Nabi Musa, temuan-temuan atas teks-teks dan artefaks di Gua di tempat tidurnya Ashabul Kahfi, tentang bulan terbelah di zaman Nabi, tentang proses penciptaan bumi, tata surya, manusia dan sebagainya, akhirnya membuka mata tentang kebenaran Alqur’an sebagai kitab Suci yang diwahyukan oleh Kreator Agung kepada Nabi Muhammad SAW. Pembenaran atas teks-teks tersebut akhirnya menjadi pengungkit masuk Islamnya para ahli sains di dalam Islam. Sungguh menarik tindakan para saintis untuk menemukan kebenaran Islam.

Dakwah bisa menjadi pencerah atas orang-orang akademis yang selalu berpikir tentang kebenaran akal, kebenaran rasional dam kebenaran etis, akan tetapi dengan penemuan para ahli ini, akhirnya membuka cakrawala bahwa Islam itu memang luar biasa. Islam tidak hanya berisi ajaran doktriner teologis,  akan tetapi juga ajaran rasional empiris. Dengan kenyataan tersebut, maka akan menjadi bukti bahwa kebenaran Islam sungguh tidak dapat dibantah dan diingkari.

Dakwah tentu memperoleh lahan baru yang mencerdaskan manusia. Melalui serangkaian kajian para ahli sains tentang kebenaran Islam dengan firman Allah SWT,  maka mendakwahkan Islam di kalangan masyarakat akademis maupun masyarakat umum akan memperoleh momentum penting.

Kebenaran ayat Alqur’an secara ilmiah  benar-benar dapat dijadikan konten yang mencerahkan bagi masyarakat. Melalui kajian yang membenarkan atas firman Allah SWT tersebut, maka benar-benar terdapat manfaat untuk mendakwahkan Islam secara rasional. Dan ini yang sesungguhnya dapat dijadikan untuk menjawab atas keraguan orang atas rasionalitas Islam.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

 

DAKWAH YANG MENCERAHKAN (BAGIAN KEDUA)

DAKWAH YANG MENCERAHKAN (BAGIAN KEDUA)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Sebagaimana telah umum diketahui bahwa melalui dakwah Islam yang dilakukan oleh para da’i, di Jawa dikenal dengan sebutan Walisanga, maka Islam berhasil menjadi agama mayoritas, dan tidak hanya di Jawa tetapi juga di seluruh Nusantara. Islam disebarkan dengan cara-cara yang berbasis hikmah atau kebijaksanaan yaitu dengan nasehat yang baik dan berdebat dengan penuh pemahaman dan kearifan. Semua ini menggambarkan bahwa dakwah tidak dilaksanakan dengan kekerasan tetapi dengan kelemahlembutan dan kasih sayang.

Dakwah menjadi awal dalam proses islamisasi. Tanpa adanya dakwah maka tidak akan didapati masyarakat Islam sebagaimana yang dapat dilihat sekarang. Perkembangan Islam yang sangat cepat di dunia tentu karena dakwah yang dilakukan oleh para da’i yang bekerja keras untuk mengabarkan tentang kebaikan Islam. Islam yang pada kelahirannya berada di wilayah gurun pasir, Saudi Arabia, akhirnya bisa memasuki seluruh benua. Benua Eropa, Amerika, Afrika dan Australia. Islam berkembang pesat di benua Eropa dan Amerika yang selama ini menjadi wilayah agama-agama lainnya. Kekosongan spiritualitas yang terjadi di Eropa dan Amerika akhirnya dapat diisi oleh spiritualitas Islam.

Islam yang semula asing, tetapi lambat tetapi pasti akhirnya bisa menjadi agama yang dipeluk oleh umat manusia di dunia barat. Orang Eropa yang sebelumnya menjadi penganut agama lain, akhirnya dengan dakwah yang dilakukan oleh para da’i yang dengan tulus ikhlas akhirnya terjadi proses Islamisasi dalam damai. Islam tidak disiarkan dengan kekerasan tetapi dengan perdamaian. Peacefull jihad. Jihad dengan perdamaian. Dakwah dengan cara kekerasan justru akan menjauhkan Islam dari umat manusia.

Dakwah Islam pernah diganggu oleh tindakan kaum teroris yang melakukan tindakan kekerasan dan mematikan, yaitu pengeboman beberapa wilayah di dunia. Pasca pengeboman World Trade Centre (WTC), maka imaje Islam menjadi sangat hancur, sebab yang melakukan tindakan pengeboman tersebut adalah oknum yang beragama Islam. Mereka melakukan tindakan teroris yang justru merusak nilai-nilai kebaikan universal di dalam Islam. Imaje Islam sepertinya hancur luluh karena tindakan kekerasan dimaksud.

Namun akhirnya, orang Barat justru dapat menilai mana orang Islam yang benar dan mana orang Islam yang salah. Mana pemeluk Islam yang bersearah dengan perdamaian dan keselamatan dan mana pemeluk Islam yang bersearah dengan kekerasan dan kehancuran. Justru dengan memahami Islam yang mengembangkan jihad dalam perdamaian itulah maka mereka menjadi bersimpati terhadap ajaran  Islam dan kemudian memantapkan imannya di dalam Islam. Jika kemudian Islam menjadi pilihan keyakinan di Inggris, misalnya tentu disebabkan oleh kesadaran mereka tentang ajaran Islam yang mengedepankan perdamaian.

Islam memang sedang menapaki perkembangannya di negara-negara barat, dengan perkembangan yang sungguh menakjubkan. Tetapi di bagian lain, Islam masih berada di dalam nuansa saling berebut otoritas penafsiran keagamaan. Islam di negara-negara yang mayoritasnya umat Islam dengan pemahaman beragama yang kebanyakan adalah Islam ahlu sunnah wal jamaah, maka sesungguhnya sedang terjadi kontestasi. Dua kelompok ini saling berebut wacana di dalam dakwah khususnya di media social. Antara yang satu dengan lainnya saling mengklaim kebenaran. Yang satu menyatakan kebenaran mutlak atas tafsir keagamaannya, dan yang lainnya juga menyatakan klaim kebenaran atas tafsir agamanya. Yang satu menyerang dan yang lain bertahan. Konsekuensinya tentu menjadikan wacana Islam ramai dengan pernyataan yang saling merendahkan dan saling menyalahkan.

Islam sebagai agama tentu mengalami fase pemahaman yang berkembang. Para ulama yang menjadi penafsir atas ajaran agama juga mendasarkan tafsir agamanya sesuai yang diterima dan dinyatakan benar oleh ulama-ulama sebelumnya. Jika pada masa sahabat, maka jika ada masalah yang terkait dengan tafsir keagamaan, maka bisa ditanyakan kepada para sahabat Nabi Muhammad SAW, jika ada masalah yang terjadi pada masa tabiin, maka bisa ditanyakan kepada tabiin. Para tabiin adalah orang yang pernah hidup sezaman  dengan para sahabat, dan tabiit tabiin adalah orang yang pernah hidup sezaman dengan para tabiin.

Oleh karena itu jika terjadi perbedaan penafsiran tentang agama, maka mereka bisa bertanya kepadanya. Itulah sebabnya, di saat muncul masalah di dalam tafsir agama maka rujukannya jelas. Hal ini tentu berbeda dengan zaman sekarang. Jarak waktu dengan Nabi Muhammad SAW selama 1446 tahun. Jarak yang sangat lama, sehingga dipastikan akan terjadi varian-varian tafsir atas agama. Di tengah banyaknya tafsir agama tersebut kemudian terdapat da’i yang mendakwahkan bahwa hanya fatsir ulamanya saja yang benar dan yang lain semuanya salah. Di sini terjadi truth claimed yang berlebihan. Keyakinan bahwa hanya tafsir agamanya saja yang benar itu berarti memutlakan kebenaran tafsir.

Kaum salafi, misalnya menyatakan bahwa hanya tafsir ulamanya saja, seperti Syekh Nashiruddin Albani, Syekh Abdullah bin Baz, atau Syekh Utsaimin saja yang dinyatakan memiliki kemutlakan dalam penafsiran ajaran Islam. Mereka adalah ulama yang paling otoritatif dalam penafsiran ajaran agama. Selain yang dari tafsirannya adalah kesalahan. Misalnya, membaca lailaha ilallah ba’da shalat secara berjamaah adalah bidh’ah, membaca doa bersama setelah shalat adalah bidh’ah, dan membaca dzikir bersama setelah shalat juga bidh’ah. Itulah sebabnya orang yang melakukannya dianggapnya pasti akan masuk neraka. Baginya, yang berhak masuk surga adalah kelompoknya sesama kaum Wahabi.

Inilah sekelumit dakwah yang sementara ini sedang dinikmati oleh masyarakat Indonesia. jika di negara-negara lain sedang terjadi upaya untuk mengislamkan orang non-muslim, maka di sini para da’inya sibuk untuk menyalahkan amalan umat Islam. Pertarungan menjadi semakin menguat melalui pasukan cyber yang dimilikinya.

Untuk itu, diperlukan dakwah yang bisa mencerahkan umat Islam untuk memahami Islam secara arif dengan cara menurunkan ego claimed kebenaran yang dapat menyesakkan relasi social antar umat beragama.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

DAKWAH YANG MENCERDASKAN (BAGIAN PERTAMA)

DAKWAH YANG MENCERDASKAN (BAGIAN PERTAMA)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Dakwah tentu bertujuan untuk mencerdaskan masyarakat khususnya dalam bidang pemahaman dan perilaku keagamaan serta kecerdasan yang terkait dengan kehidupan pada umumnya. Cerdas dalam kependidikan, perekonomian, perpolitikan, bahkan keamanan, social dan budaya.

Tetapi adakah dakwah yang tidak mencerdaskan? Jawabannya tentu saja ada. Tetapi dakwah yang seperti ini tidak selayaknya disebut dakwah, mungkin lebih tepat disebut sebagai propaganda saja. Jadi lingkupnya pada hal-hal yang bersifat “negative” atau menyebabkan “kenegatifan” bagi kehidupan masyarakat. Yang seperti ini tentu tidak disebut sebagai dakwah Islam yang mencerahkan.

Secara terminologis, dakwah itu ajakan kepada kebaikan yang bersearah dengan firman Tuhan dan sabda Nabi Muhammad SAW. Lazim disebut sebagai amar ma’ruf nahi munkar. Dinyatakan searah yaitu upaya untuk mengintegrasikan antara paham keagamaan dengan amalan keberagamaan. Tidak ada gap antara pemahaman dan pengamalan beragama. Ada banyak orang yang memahami agama tetapi dengan pengamalan yang berbeda dengan paham keagamaannya, tetapi juga ada yang pemahaman agamanya cenderung pas-pasan saja tetapi perilaku keagamaannya sangat memadai. Ada juga yang paham agamanya itu cenderung dan bahkan mengandung unsur kekerasan, sehingga perilaku keberagamannya cenderung dan bahkan merusak alam dan kemanusiaan.

Tugas dakwah dan para da’i adalah menyebarkan kebaikan. Khair atau kebaikan yang mengandung dimensi profanitas atau keduniawian dan ada yang ma’ruf atau kebaikan yang mengandung dimensi sakralitas atau keukhrawian. Dakwah tentu harus mengayuh di antara keduanya atau bahkan mengintegrasikan di antara keduanya. Dakwah yang profan yes, dan dakwah  untuk sakralitas oke. Keduanya harus seimbang, sebab kehidupan manusia memang berada di dua alam, sekarang di dunia dan kelak di akhirat.

Roh manusia itu hidup dalam empat alam yang berbeda. Di alam roh, alam dunia, alam kubur dan alam akherat. Menurut kaum tarekat disebutkan alam roh adalah alam perjanjian antara roh dengan Tuhan, alam dunia merupakan alam melaksanakan janji antara Tuhan dan Manusia, alam kubur adalah alam penantian untuk mengetahui bagaimana kelak di akhirat dan alam akhirat adalah alam menerima hasil kelakuan dalam fase melaksanakan janji kepada Allah SWT. Sekarang kita yang hidup ini sedang melaksanakan janji kita kepada Allah untuk melaksanakan ajaran agama sebagai konsekuensi atas keyakinan kita tentang keberadaan Allah SWT. Kita telah menyaksikan bahwa Allah adalah Tuhan kita dan sekarang kita melaksanakan janji dimaksud.

Tugas dakwah adalah untuk mengingatkan kembali atas keyakinan yang berisi janji kita kepada Allah dimaksud. Oleh karena itu dakwah dimaksudkan sebagai upaya cerdas untuk memahami ajaran agama yang akan membawa kita kepada amal kebaikan. Jadi pesan dakwah adalah pesan agar manusia kembali kepada fitrahnya untuk meyakini akan kebenaran Allah dan Rasulnya melalui ajaran agama yang diturunkan kepada Nabi-Nabi dimaksud.

Dakwah itu pesan agama yang substansinya adalah mengajak kepada kebaikan. Sekali lagi yang diajarkan kepada manusia adalah kebaikan. Inti dari kebaikan adalah bagaimana kita membangun relasi yang baik dengan Allah melalui ibadah-ibadah yang kita lakukan. Kita diminta untuk melaksanakan ajaran Islam sebagaimana hadits Nabi Muhammad SAW, yang berupa rukun Islam, yaitu; syahadat, shalat, zakat, puasa dan haji bagi yang mampu secara ekonomi dan kesehatan. Syahadat adalah pengakuan bil lisan wa bil qalbi atau pengakuan dengan lisan dan hati bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad sebagai utusannya. Pengakuan untuk kembali kepada janji kita kepada Allah. Tuhan di alam roh menyatakan: “apakah Aku ini Tuhanmu, kami semua menyaksikannya”. Jadi tidak ada roh yang di masa lalu tidak mengakui akan eksistensi Allah. Kehadiran Nabi kepada manusia untuk mengingatkan kembali kepada janji dimaksud.

Sebagai konsekuensi atas keyakinan tersebut, maka manusia harus melakukan ibadah demi ibadah yang diwajibkan maupun yang disunnahkan. Semuanya sudah dicontohkan oleh Rasulullah SAW maupun yang dipahami oleh ulama yang memiliki sejumlah pengetahuan yang memadai dalam memahami Alqur’an dan hadits. Ada pesan yang umum dan pesan yang khusus. Ada pesan yang perlu penjelasan dari rasul yang kemudian dikenal sebagai hadits-hadits Nabi Muhammad SAW dan ada yang karena kepentingan pengembangan Islam dan umat Islam kemudian para ulama memberikan fatwa sebagai pedoman yang dapat dilakukan oleh umat Islam untuk melakukan ajaran Islam.

Tidak hanya shalat yang diwajibkan tetapi juga membayar zakat sesuai dengan prinsip-prinsip di dalam Islam sebagaimana dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW dan juga penafsiran para ulama tentang zakat. Di masa lalu hanya dikenal zakat fitrah dan zakat mal seperti emas, zakat ternak, zakat pertanian, zakat hasil-hasil usaha atau perdagangan di dalam bidang pertanian, perikanan, dan perkebunan, kemudian berkembang menjadi zakat profesi dan hasil-hasil perdagangan dan sebagainya.

Semua ini dipahami dari ajaran Islam yang shahih fi kulli zaman wa  makan atau relevan dengan waktu dan tempat. Lalu juga puasa yang sudah ada ketentuannya di dalam Islam, yaitu puasa wajib selama satu bulan di bulan Ramadlan dan juga puasa sunnah sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW. Yang tidak kalah penting juga kewajiban haji bagi yang mampu melakukan, yaitu orang yang memiliki harta untuk perjalanan ke Mekkah dan juga sehat fisiknya untuk melakuka ibadah haji yang bersifat fisikal.

Semuanya ini merupakan pesan umum di dalam dakwah. Tentu saja Islam sudah memiliki pedoman umum, khusus dan lebih khusus, maka semuanya harus dipahami secara arif dan penuh dengan kebijaksanaan, sehingga Islam yang maknanya adalah kedamaian tidak menjadi ajaran yang mengandung unsur kekerasan.

Wallahu a’lam bil shawab.

BULAN RAJAB SEBAGAI BULAN MENANAM KEBAIKAN

BULAN RAJAB SEBAGAI BULAN MENANAM KEBAIKAN

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Salah satu kebahagiaan yang dinantikan oleh para anggota Komunitas Ngaji Bahagia (KNB) pada Masjid Al Ihsan Perumahan Lotus Regency Ketintang Surabaya adalah jika datang hari Selasa pada waktu ada acara mengaji Selasanan. Ngaji rutin dengan tema-tema yang actual, dipandu oleh Ustadz Dr. Cholil Umam, Ustadz Sahid Sumitro dan saya. Pak Cholil biasanya yang mengaji dengan tema-tema keagamaan “murni”, sedangkan Pak Sahid sering memberikan pengajian dengan tema-tema motivasi keagamaan, sedangkan  saya memberikan materi kekinian, mencoba untuk menemukan relasi antara ajaran agama dan kehidupan social sehari-hari.

Pada Selasa, 07/01/2025, datanglah lengkap jamaah ngaji Bahagia ba’da shubuh. Dan yang saya meminta untuk memberikan ceramah adalah Ustadz Sahid. Dan sebagaimana biasanya, setelah Ustadz Sahid memberikan ceramah, maka saya memberikan tambahan sekedarnya. Pak Sahid, begitulah saya biasa memanggilnya, memberikan ceramah terkait dengan keutamaan Bulan Rajab. Di dalam Islam terdapat empat bulan yang sungguh dimuliakan oleh Allah, yaitu Bulan Rajab, Sya’ban, Ramadlan dan Dzulhijjah.

Bulan-bulan ini disebut sebagai asyhurul hurum atau bulan-bulan haram, yaitu bulan yang manusia dilarang untuk melakukan Tindakan kesalahan dan dosa dan dilarang perang. Pada bulan Rajab itu terdapat peristiwa yang sangat penting yaitu peristiwa Isra’ dan Mi’raj, yang diyakini terjadi pada tanggal 27 Rajab. Meskipun ada beberapa pendapat, akan tetapi yang banyak diikuti adalah terjadinya Isra’ dan Mi’raj Nabi Muhammad SAW pada tanggal tersebut.

Peristiwa Isra’ dan Mi’raj merupakan peristiwa yang menjadi mu’jizat Nabi Muhammad SAW karena tentu tidak masuk akal, bahwa Nabi Muhammad SAW melintasi perjalanan dari Masjidil Haram ke masjidil Aqsha dalam waktu semalam dan dilanjutkan dalam perjalanan ke Sidratul Muntaha, Mustawa dan kemudian bermuwajahah dengan Allah SWT. Perjalanan ke Sidratul Muntaha dibersamai oleh Malaikat Jibril, namun Jibril terhenti di situ karena tidak kuasa untuk meneruskan perjalanan bertemu Allah tersebut. Hanya Nabi Muhammad SAW seorang insan kamil mutlak yang diberi kekuatan dan kekuasaan oleh Allah untuk menjumpainya dan menerima perintah shalat sebanyak lima kali sehari. Di antara umat Nabi Muhammad SAW yang langsung percaya atas peristiwa ini adalah Abu Bakar Ash shiddiq.

Doa kita pada saat bulan Rajab adalah “Allahumma bariklana fi Rajab wa Sya’ban wa ballighna Ramadlan”, yang artinya: “Ya Allah berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban dan pertemukan kami dengan Bulan Ramadlan”. Bulan Rajab adalah bulan menanam kebaikan dan dilanjutkan dengan Bulan Sya’ban dan kemudian akan dipanen pada Bulan Ramadlan. Rasanya tidak ada orang yang akan panen, jika tidak menanam dulu. Maka marilah kita menanam kebaikan, agar kita bisa panen kebaikan pada bulan Ramadlan. Jika kita melakukan kebaikan, maka kita akan dilipatgandakan pahalanya, maka jika kita melakukan kejelekan juga akan dilipat gandakan kejelekannya.

Bulan Rajab adalah bulan berdoa, bulan permohonan ampunan dan bulan larangan melakukan perbuatan kejelekan dan berperang. Makanya disebut sebagai bulan haram atau bulan larangan.  Jika kita ingin dikabulkan do akita oleh Allah, maka pada bulan inilah Allah akan mengabulkannya doa tersebut. Oleh karena itu, marilah kita berlomba-lomba untuk berdoa kepada Allah SWT, semoga doa kita dikabulkan oleh Allah. Pasti Allah mendengarkan doa tersebut. Tidak ada sesuatu yang terlepas dari Allah. Hanya pengabulan doa tersebut yang terkadang bisa tertunda. Semoga doa kita pada bulan ini terkabul. Allahumma amin.

Pada kesempatan ini saya memberikan sedikit tambahan atas pernyataan Pak Sahid. Saya nyatakan bahwa yang terpenting pada bulan-bulan yang disebut sebagai asyhurul hurum atau bulan-bulan yang disucikan Allah dan dilarang untuk melakukan perbuatan dosa dan peperangan, maka kita perlu meningkatkan rasa cinta. Bulan-bulan suci dan bulan larangan melakukan Tindakan tercela termasuk peperangan, maka yang diagungkan adalah meningkatkan rasa cinta kepada Allah SWT, cinta kepada Nabi Muhammad SAW dan juga mencintai istri atau suami dan keluarga. Ini yang disebut sebagai trilogy cinta. Pak Mulyanta menimpali: “bukan cinta segitiga ya Prof”.

Mengapa kita harus mencintai Allah dan Rasulnya, yang artinya mencintai ajaran-ajarannya, sebab Islam itu agama yang turun terakhir dan yang paling sempurna. Pada saat haji wada’ Rasulullah menyatakan: “Inni akmaltu lakum dinakum wa atmamtu ‘alaikum nikmati wa radhitu lakumul  isalama dina” , yang artinya kurang lebih: “sesungguhnya aku telah menyempurnakan agama untukmu dan telah mencukupkan nikmatku kepadamu dan meridhai Islam sebagai agamamu” (Surat Al Maidah, ayat 3).

Ayat ini memantik perbedaan pandangan. Pertama, Ada yang menyatakan bahwa agama Islam itu telah sempurna dan tidak perlu dan tidak boleh ditambah-tambah, baik dalam ritual-ritualnya maupun aturan-aturannya. Sudah komplit, sehingga yang menambah ritual atau aturannya dianggap sebagai orang yang melakukan bidh’ah. Yang termasuk di sini adalah kaum tekstualis atau kelompok yang hanya menterjemahkan teksnya tanpa mempertimbangkan aspek-aspek perubahan-perubahan social yang terjadi.

Kedua, Kemudian ada kelompok yang menterjemahkan teks dengan menyesuaikan dengan konteks zaman atau waktu dan makan atau tempat. Islam itu selalu relevan dengan zaman, sehingga diperlukan reaktualisasi ajarannya dalam ruang dan waktu. Di zaman Nabi Muhammad SAW, pada saat jumlah jamaah haji sedikit, maka Mina itu sudah ditentukan batas-batasnya, tetapi di kala jumlah jamaah haji mencapai jutaan orang, maka Mina yang ditentukan oleh Nabi itu sudah tidak mampu memuat, maka dikalangan ulama lalu dibuatlah fatwa tentang Mina jadid atau Mina baru yang diperluas. Atau di zaman Nabi tidak terdapat pekerja perempuan yang bekerja di luar negeri, maka di saat banyak perempuan yang bekerja di luar negeri, maka diperlukan reaktualisasi ajaran Islam melalui fiqih perempuan dan sebagainya. Kelompok ini disebut sebagai kelompok kontekstualis.

Ketiga, Lalu juga terdapat orang-orang yang tidak termasuk kaum tekstualis dan kontekstualis, mereka adalah kelompok penganut atau kaum ittibais atau orang yang mengikuti mana yang dianggap paling baik dan sesuai dengan keyakinannya. Kita ini bisa masuk di sini, sebab kita tidak memiliki sejumlah pengetahuan yang memadai untuk menjadi penafsir ajaran Islam. Makanya apa yang kita yakini benar dan sesuai dengan amalan-amalan ulama yang alim, maka itulah yang menjadi dasar pemahaman dan pengamalan di dalam beribadah.

Wallahu a’lam bi al shawab.