• October 2026
    M T W T F S S
    « Sep    
     1234
    567891011
    12131415161718
    19202122232425
    262728293031  

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

JADIKAN NABI MUHAMMAD SAW BERADA DI TENGAH KEHIDUPAN

JADIKAN NABI MUHAMMAD SAW BERADA DI TENGAH KEHIDUPAN

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Di dalam Komunitas Ngaji Bahagia (KNB), selalu ada hal-hal yang membuat semua peserta pengajian tertawa. Bagi jamaah Ngaji Bahagia bahwa ngaji merupakan medium untuk membuat hati gembira atau happy dan bahagia. Tidak ada salahnya kalau komunitas ini menyebutnya sebagai Komunitas Ngaji Bahagia. Itu juga yang didapati pada saat melaksanakan pengajian pada Selasa, 09/09/2025.

Saya sebagaimana biasanya diminta untuk menjadi pengantar diskusi. Pengajian ini benar-benar pengajian interaktif, sebab semua peserta pengajian mendapatkan peluang untuk mengajukan pertanyaan atau memberikan bahasan atas ceramah yang dilakukan ba’da shubuh tersebut. Kali ini saya memberikan pengantar tentang betapa hebatnya Kanjeng Nabi Muhammad SAW sehingga di kala Beliau di suatu tempat, maka tidak akan pernah Allah SWT memberikan bencana kepada manusia di tempat tersebut. Ada tiga hal yang saya sampaikan, yaitu:

Pertama, ada di dalam Alqur’an, Surat Al Anfal, ayat 33 yang menyatakan: “wa ma kanallahu liyu’adzdzibahum wa anta fihim, wa ma kanallahu mu’adzdzibahum wa hum yastaghfirun”. Yang artinya: “tetapi Allah tidak akan menghukum mereka, selama engkau (Muhammad) berada di antara mereka, dan tidaklah (pula) Allah akan menghukum mereka, sedang mereka (masih) memohon ampunan”.

Ayat ini mengandung makna fisikal artinya di kala Nabi Muhammad SAW bersama orang-orang Quraisy di masa lalu, atau saat masa kenabian, maka di kala Nabi Muhammad secara fisikal hadir di tengah-tengah umatnya, maka Allah tidak akan memberikan adzab (hukuman) kepada masyarakat di tempat tersebut. Maknanya, kehadiran Nabi Muhammad SAW menjadi jaminan bahwa Allah tidak akan menghukum umat yang sedang bersama Nabi Muhammad SAW. Demikian pula di kala umat tersebut masih menggemakan permohonan ampunan, maka Allah juga tidak akan mengadzabnya atau menghukumnya. Yang demikian ini tentu saja menggambarkan betapa Allah itu memberikan kepada Nabi Muhammad SAW itu suatu kelebihan dibandingkan dengan manusia lainnya. Allah menjamin bahwa siapapun yang berada di sekitar Nabi Muhamad SAW maka akan memperoleh keselamatan.

Kedua, lalu bagaimana dengan manusia yang hidup di masa sekarang, 1447 setelah hijrahnya Nabi Muhammad SAW? Secara fisik Nabi Muhammad SAW sudah wafat, dan secara rohani bahwa Nabi Muhammad SAW sudah berada di alam lain atau alam barzakh, bukan alam dunia.  Nabi Muhammad SAW memang hidup pada tanggal 12 Rabiul Awal  tahun Gajah atau tanggal 29 Agustus 581 M dan ada yang menyatakan tahun 571 M, wafat pada tanggal 8 Juni 632 M atau 12 Rabiul Awal tahun 11 H. Artinya, bahwa orang Quraisy dan umat Islam bersama Beliau secara fisikal, kejiwaan da rohaniyah. Nabi Muhammad hadir secara utuh.

Namun demikian, pada saat sekarang yang ada adalah ajarannya sesuai dengan Kitab Suci Alqur’an dan sunnahnya.

Di dalam konteks ini, maka yang bisa menyambungkan umat Islam dengan Nabi Muhammad SAW adalah pengamalan ajaran Islam sebagaimana ajarannya. Dan di antara yang dapat menjadi washilah adalah bacaan shalawat yang ditujukan kepadanya. Sebagaimana diketahui bahwa Allah SWT mengajarkan kepada umat manusia agar membaca shalawat, sebab Allah dan para Malaikat juga membacanya. “Innallaha wa malaikatahu yushalluna ‘alan Nabi, ya ayyuhal ladzina amanu shallu ‘alaihi wa sallimu Taslima”. Begita kecintaan dan kasih sayangnya Allah kepada Nabi Muhammad SAW, maka Allah sendiri dan para Malaikat juga membaca shalawat kepada Nabi Muhammad SAW.

Tentu seharusnya umat Islam membaca shalawat ini. Ini ajaran fundamental di dalam Islam. Nabi Muhammad SAW diberikan oleh Allah SWT otoritas untuk memberikan syafaat dan berkah. Jadi, kalau kita memerlukan syafaat dan berkahnya Kanjeng Nabi Muhammad SAW, maka salah satu kata kuncinya adalah membaca shalawat. Syafaat dan berkah bisa diberikan oleh Nabi Muhammad, sedangkan Rahman dan Rahim adalah haknya Allah SWT.

Di dalam tradisi membaca shalawatan, maka ada satu moment yang disebut sebagai mahalul qiyam, yang isinya membaca shalawat sebuah doa. Bunyi doa tersebut adalah “Rabbi Faghfirli dzunubi Ya Allah, bibarkati Hadi Muhammad Ya Allah”. Yang artinya: “Ya Allah ampuni dosa kami, dengan berkah petunjuk Nabi Muhammad Ya Allah”. Jika seseorang yang dapat membacanya dengan sepenuh jiwa dan raga, maka orang tersebut akan bisa meneteskan air mata, bisa menangis.

Ketiga, kita, para jamaah Ngaji Bahagia ini insyaallah sudah melakukannya. Kita sudah bersama Rasulullah karena kita sudah mengamalkan ajaran Islam, dan juga sudah membaca suratul Fatihah, membaca ayat kursi dan membaca shalawat. Dan kita juga sudah membaca dan melafalkan kalimat tauhid, kunci surga, miftahul Jannah, la ilaha illallah. Jika kita merenungkan hal ini, maka kita bisa optimis bahwa kita akan bisa bersama Nabi Muhammad SAW.

Meskipun kita belum optimal di dalam mengamalkan ajaran Islam atau beragama kita masih minimalis, akan tetapi rasanya masih pantas untuk optimis bahwa surga insyallah ada di dalam kehidupan kita kelak.

Wallahu a’lam bi al shawab.

INDIKATOR PENGHUNI SURGA: ORANG MUTTAQIN

INDIKATOR PENGHUNI SURGA: ORANG MUTTAQIN

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Salah satu kebahagiaan di dalam acara Komunitas Ngaji Bahagia (KNB) adalah bisa belajar Alqur’an, bisa memperoleh pemahaman tentang ayat yang dibaca dan tentu saja adalah bisa tertawa atau tersenyum dengan kebahagiaan. Di antara yang mengikat para jamaah adalah ketiga hal tersebut.

Pada Selasa, 09/09/2025, tahsinan Alqur’an sudah masuk Surat Adz Dzariyat, ayat yang terkait dengan tandzir bagi orang kafir dan tabsyir bagi orang mukmin. Surat ini menjelaskan tentang angin dahsyat, angin yang dapat menerbangkan apa saja,   yang dapat menjadi penanda bagi orang-orang yang mendustakan agama, tetapi tidak berpengaruh terhadap  orang mukmin.

Ada di dalam ayat, 15, yang berbunyi: “innal muttaqina fi Jannati wa ‘uyun, yang artinya: “sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa berada di dalam taman-taman surga dan mata air”. Dan sebagai kelanjutan atas indicator orang yang muttaqin tersebut adalah: pertama, orang-orang yang muhsinin, yaitu orang Ikhlas beribadah kepada Allah atau beribadah dengan keyakinan penuh bahwa Allah adalah sesembahan atau rabb bagi seluruh alam dan isinya. Tidak hanya sesembahan manusia, akan tetapi juga binatang, tetumbuhan, jin dan seluruh apa yang ada di alam ini. Mereka adalah orang yang berada di dalam jalan Tuhan dan mengambilnya sebagai jalan kehidupannya.

Kedua, orang yang menyedikitkan tidur malam, artinya menjadikan malamnya sebagai wahana untuk beribadah. Orang yang melakukan qiyamul lail. Menjalankan shalat tahajjud atau shalat hajad, melakukan shalat taubat, berdzikir sesuai dengan kemampuan. Lebih baik jika dzikir yang dibaca itu berdasarkan atas tuntunan guru spiritual. Berbeda rasanya menjalan wirid atas sepengetahuan para ulama ahli agama dengan menjalankan sendiri tanpa bimbingan guru spiritual. Bacalah kalimat thayyibah yang dapat menjadi jaminan agar bisa menjadi hamba Allah yang muttaqin. Shalat qabliyah shubuh dan shalat shubuh berjamaah. Subhanallah. jika kita dapat  melakukannya maka kita akan memperoleh kebahagiaan.

Ketiga, di dalam waktu malam itu, sepertiga malam, digunakan untuk beristighfar kepada Allah, memohon ampun kepada Allah. Jika kita dapat  melakukannya, maka ini juga merupakan kebahagiaan. Doa seperti “Allahumma inni as’alukal ‘afwa wal  ‘afiyah fi ddini wad dunya wal akhirah” atau doa sebagaimana dibaca oleh Nabi Adam AS “Rabbana dhalamna ‘anfusana wa in lam taghfirlana wa tarhamna lanakunanna minal khasirin” atau doa Nabi Yunus, “la ilaha illa anta subhanaka inni kuntu minadh dhalimin”. Atau doa “Allahumma inni as’aluka ridhaka wal Jannah wa na’udzu bika min sakhatika wan nar”.  Atau doa: “Allahumma innaka ‘afwun karim tuhibbul a’fwa wa’fu’anna ya karim”.

Keempat, memberikan sebagian kecil hartanya kepada kaum fakir, miskin atau kaum dhu’afa. Mereka itu adalah orang yang menyadari bahwa sebagian kecil hartanya itu adalah hak orang lain. Orang mukmin  harus memberikan haknya kepada orang yang miskin, faqir dan kaum dhu’afa. Hak mereka harus dipenuhi dan itu menandakan diri sebagai orang-orang yang muttaqin.

Ada banyak orang yang memiliki kekayaan, misalnya Elon Mask dengan hartanya sebanyak Rp6.813,69 Triliun,  Jeff Bezoss dengan harta Rp3.792 triliun. Jika itu 2,5 persennya saja yang akan dijadikan sebagai hak orang mustadh’afin.  Philantropinya seharusnya dikeluarkan oleh Jeff Bezoss, kurang lebih Rp92,500 milyar. Sayangnya kita tidak tahu berapa Zeff Bezoss mengelurkan philantropinya. Andikan banyak orang yang memiliki kekeyaan seperti ini dan didarmabhaktikan kepada kaum mustadh’afin maka inilah hakikat ajaran agama itu di dalam kehidupan manusia.

Contoh yang paling nyata adalah penebusan dosa karena melupakan shalat pada waktu ashar yang disebabkan oleh kelalaiannya merawat kuda-kudanya, maka Nabi Sulaiman mengorbankan kuda-kudanya untuk disembelih dan dagingnya diberikan kepada kaum fakir dan miskin. Tidak tanggung-tanggung 1000 unta sekaligus. Agama sesungguhnya sudah mengajarkan philantropi tersebut dalam bentuk zakat, infaq, sedekah dan wakaf. Keempatnya adalah ajaran Islam yang luar biasa. Dari semua agama memiliki ajaran philantropi itu. Misalnya di dalam Kristen dan Katolik ada dana kolekte, di dalam agama Hindu ada dana punia, dan di dalam agama Buddha ada ajaran darma yang wujudnya adalah memberikan dana philantropi untuk orang lain.

Dari indicator-indikator ini, rasanya jamaah Ngaji Bahagia sudah melakukannya meskipun dalam kadar yang belum maksimal. Bukankah kita sudah amantu billahi tsummas taqim. Sudah beriman kepada Allah dan telah melakukan amal ibadah sesuai dengan ajarannya, sudah melakukan shalat, puasa, zakat dan juga melakukan kebaikan kepada orang lain, sesama manusia. Kita juga sudah melaksanakan qiyamul lail dalam kapasitas yang kita mampu, kita juga sudah melakukan mohon ampun kepada Allah, baik langsung maupun melalui washilah Kanjeng Nabi Muhammad SAW, dan kita juga sudah melakukan perbuatan yang terbaik untuk Allah, manusia dam juga alam. Hablum minallah, hablum minan nas dan hablum minal alam.

Mari kita jaga ketiganya agar kita menjadi hamba Allah yang pada akhirnya akan memperoleh kebahagiaan fi dini, wad dunya wal akhirah. Innal muttaqina fi jannatiw wa’uyun.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

MENGHENTIKAN KORUPSI: ANTARA TUNTUTAN DAN SISTEM POLITIK

MENGHENTIKAN KORUPSI: ANTARA TUNTUTAN DAN SISTEM POLITIK

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Pengajian pada Selasa pagi, 09/07/2025, sungguh Istimewa. Bukan karena penceramahnya tetapi karena diskusi yang disajikannya. Sebagaimana biasanya, pengajian ini diselenggarakan dengan diskusi antara narasumber sebagai pemantik pembahasan dengan audience yang aktif berpendapat. Tema kita pada pagi itu, sesungghnya di seputar relasi antara agama dan negara tetapi dalam level pembahasan yang berada di permukaan. Tidak masuk di dalam kedalaman pembahasan yang benar-benar mendasar. Hanya kulitnya saja.

Ada tiga pembahasan terkait dengan tema ini, yaitu: pertama, Indonesia, sesungguhnya berada di dalam konteks relasi antara agama dan negara yang simbiotik mutualisme. Yaitu negara membutuhkan agama sebagai dasar moralitasnya, dan agama membutuhkan negara untuk mengatur relasi antar warga beragama. Jadi bukan hubungan antara agama dan negara yang bercorak menyatu, misalnya sebagaimana di Iran, yang termasuk negara Islam. Di Timur Tengah banyak negara yang berada di dalam negara Islam, sebab antara agama dan negara merupakan satu kesatuan. Indonesia juga pasti bukan negara sekular karena tidak memisahkan sedemikian kuat atau terdapat garis demarkasi yang memisahkan antara agama dan negara. Negara-negara di Eropa banyak yang menggunakan konsep negeri secular. Agama berada di dalam ruang private dan negara berada di ruang public. Indonesia menempatkan agama di ruang public artinya agama dijadikan sebagai panduan moralitas di dalam bernegara.

Kedua, Indonesia jelas merupakan negara yang berketuhanan artinya bukan negara agama dan juga bukan negara secular. Sebab agama dijadikan sebagai basis moralitas dan bahkan di dalam kehidupan bernegara dan bermasyarakat. Berbeda dengan Singapura merupakan negara secular yang memisahkan urusan agama dan negara. Di Indonesia bahkan didapatkan beberapa undang-undang dan peratruran daerah yang menjadikan agama sebagai basisna, misalnya ada Perda-Perda Syariah, selain Undang-Undang yang terkait dengan pengamalan agama, misalnya Undang-Undang Zakat, Undang-Undang Wakaf, Undang-Undang Perkawinan dan sebagainya.

Indonesia adalah negara yang berdasarkan atas Ketuhanan Yang Maha Esa, akan tetapi terdapat paradoks yang sangat luar biasa, yaitu masih terjadinya korupsi yang nyaris sudah memasuki semua elemen masyarakat. Mulai dari selevel Menteri sampai selevel kepala desa dan bahkan melibatkan masyarakat. Apparat pemerintah bahkan juga orang swasta. Dari dunia birokrasi sampai  pihak pengusaha.

Sampai di sini, maka diskusi terjadi. Pak Dr. Wardi, salah seorang dosen di Universitas Tujuh Belas Agustus Surabaya, menyatakan bahwa “di Indonesia itu agama tidak dijadikan sebagai dasar untuk melakukan tindakan yang benar. Buktinya, banyak sekali korupsi yang dilakukan oleh masyarakat yang sesungguhnya kaum beragama.  Kalau melihat korupsi di Indonesia rasanya sangat sulit diberantas, sebab korupsi itu sudah menjamah semua elemen masyarakat Indonesia, terutama terkait dengan perilaku politik. Sekarang ini orang tidak malu untuk melakukan tindakan menyimpang. Orang tidak malu melakukan korupsi. Jadi dianggap hal yang biasa saja. Sebenarnya dari undang-undang atau regulasi sudah ada semua hal untuk menghentikan korupsi, akan tetapi selalu lemah di dalam implementasinya. Undang-undang atau regulasi hanya di atas kertas belaka tetapi tidak di dalam pelaksanaannya. Law enforcement tidak terdapat di negeri ini”.

Kemudian, Pak Abdullah, Kejaksaan Tinggi Jawa Timur, juga menyatakan bahwa “korupsi yang paling parah sebenarnya ada di wilayah politik. Bisa dibayangkan bahwa biaya politik untuk menjadi Bupati dan Wakil Bupati itu sebesar Rp70 Miliar. Jika misalnya Yang Calon Bupati mengeluarkan lebih sedikit, misalnya Rp10 milyar dan Wakil Bupatinya mengeluarkan Rp60 miliar, maka dipastikan akan terjadi masalah. Karena masing-masing akan mencari jalan agar biaya politik tersebut tertutupi. Untuk mengembalikan biaya politik tersebut dapat melalui pengangkatan jabatan, pendapatan daerah dan proyek-proyek pemerintah. Jika seperti ini, maka dipastikan akan terjadi rebutan lahan proyek. Yang paling repot adalah bawahan bupati dan wakil bupati, sebab akan terkait kepada siapa kepatuhan akan diberikan. Itulah sebabnya di dalam banyak kasus korupsi pada pemerintah daerah terkait dengan pengangkatan jabatan dan pengadaan barang dan jasa dalam proyek-proyek di pemerintah daerah.”

Ketiga, Orde Reformasi memang bertujuan untuk melakukan koreksi atas penyelewengan di masa Orde Baru, di antaranya adalah koreksi atas penyelenggaraan negara yang dinilai telah melenceng dari tujuan kemerdekaan. Makanya dilakukan perubahan atas Undang-Undang Dasar 1945 dengan melakukan revisi secara mendasar. Di antara yang mendasar adalah perubahan terkait dengan system pemilihan presiden dan wakil presiden dari system pemilihan perwakilan dan permusyawaratan oleh MPR menjadi demokrasi langsung. Tujuannya tentu jelas agar tingkat elektabilitas dan akseptabilitasnya semakin kuat. Tidak dibayangkan bahwa pilihan langsung akan mengarah ke pilihan bebas yang mengandung bias, misalnya politik uang.

Dan itulah yang terjadi sekarang, sebab melalui money politics akan menyebabkan terjadinya korupsi yang semakin transparan. Di dalam pilihan DPRD atau DPR, maka setiap caleg harus merogoh koceknya untuk membeli suara rakyat. Dan rakyat pun merespon dengan menerima uang dari caleg dengan catatan mereka akan memilih yang terbesar. Bagi calon yang tidak membeli suara, maka jangan harap akan memperoleh suara rakyat. Itulah sebabnya  sekarang terjadi pandangan bahwa yang melakukan korupsi adalah rakyat.

Itulah sebabnya ada keinginan sementara para ahli agar kembali kepada Undang-Undang Dasar 1945 yang asli sebab telah terjadi kesalahan arah di dalam demokrasi di Indonesia. Telah terjadi disorientasi politik bagi bangsa Indonesia, yang ditandai dengan paradoks demokrasi. Jauh panggang dari api.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

SYARRUL BARIYYAH: MANUSIA YANG TIDAK BERUNTUNG

SYARRUL BARIYYAH: MANUSIA YANG TIDAK BERUNTUNG

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Sungguh selain ada manusia yang diharapkan atau beruntung atau khairul bariyyah atau manusia terbaik, juga ada manusia yang dinyatakan sebagai tidak diharapkan atau disebut syarrul bariyyah. Yaitu manusia yang tidak akan pernah memperoleh keuntungan di dalam kehidupan akherat karena mengingkari keberadaan Tuhan. Mereka dilabel sebagai orang yang akan masuk neraka kelak di akherat.

Inilah kata kunci di dalam ceramah saya di Mushallah Raudhatul Jannah di Dusun Semampir, Desa Sembungrejo, Kecamatan Merakurak, Tuban, Ahad, 06/07/2025. Masjid tersebut berada di depan rumah, masjid wakaf, yang menyelenggarakan shalat wajib berjamaah. Ceramah ini saya sampaikan pada waktu ba’da shubuh berjamaah kepada jamaah mushallah yang aktif melakukan shalat berjamaah di Mushallah Raudhatul Jannah. Mereka aktivis masjid.

Sebagaimana biasa, saya sampaikan tiga hal terkait dengan ceramah ini, yaitu: pertama, tidak bosan-bosannya saya menyampaikan dan mengajak agar para jamaah Mushallah Raudhatul Jannah untuk bersyukur kepada Allah SWT. Sebagaimana yang pernah saya sampaikan bahwa kesyukuran kita yang tertinggi adalah disebabkan karena Allah SWT sudah memberikan hidayah untuk beriman kepada-Nya. Nikmatul udzma. Nikmat terbesar, sebab tidak semua manusia di dunia ini memperoleh nikmat menjadi umat Islam yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Iman itu kunci beragama, jika imannya baik maka rumah agama akan menjadi baik, dan sebaliknya. Kita bisa melaksanakan shalat tentu karena ada iman di dalam pikiran dan hati kita. Ashshalatu ‘imaduddin. Shalat itu tiang agama. Jadi dengan mendirikan shalat berarti rumah agama akan menjadi kuat atau menjadi kokoh.

Kedua, di dalam Alqur’an dijelaskan selain ada khairul bariyyah juga ada syarrul bariyyah. Yang Khairul bariyyah adalah orang yang beruntung dan yang syarrul bariyyah adalah orang yang celaka. Tentu kita semua tidak ada yang berkeinginan untuk menjadi manusia yang celaka. Baik celaka di dunia maupun celaka di akherat. Semua di antara kita ingin menjadi manusia yang beruntung dan bahagia, baik di dunia maupun di akherat.

Alqur’an menjelaskan bahwa orang yang kafir yang terdiri dari ahli kitab dan kaum musyrik itu akan menjadi penghuni neraka selamanya. “Innal ladzina kafaru min ahli kitabi wal musyrikina fi nari jahannama khalidina fiha abada ulaika hum syarrul bariyyah”. Yang artinya: “sesungguhnya orang kafir dari golongan ahli  kitab dan golongan musyrik ada di dalam neraka selama-lamanya, dan mereka adalah orang yang sengsara.” Yang disebut sebagai ahlu kitab adalah orang yang tidak mempercayai kebenaran Alqur’an sebagai kitab suci yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Bahkan mereka juga tidak mempercayai akan kenabian Nabi Muhammad SAW. Mereka adalah orang Nasrani dan Yahudi. Termasuk tentu saja adalah orang beragama lain yang tidak mempercayai atas kesucian Kitab Suci Alqur’an. Jika manusia itu berjumlah enam milyar, maka yang satu milyar adalah umat Islam, dan yang lima milyar lainnya beragama selain Islam.

Orang musyrik adalah orang yang menyekutukan Tuhan. Yang menyatakan bahwa Allah bukan Tuhan Yang Maha Esa atau Maha Tunggal. Di kala orang menyembah selain kepada Allah, maka orang tersebut juga menyekutukan Allah. Misalnya orang yang bersesaji dengan harapan yang diberi sesaji adalah yang akan mengabulkan keinginan atau harapannya, maka yang bersangkutan itu dinyatakan sebagai musyrik. Dengan demikian, indicator orang yang disebut syarrul bariyyah adalah orang yang menjadi ahli kitab dan orang yang musyrik.

Ketiga, semua agama memiliki klaim kebenaran atau pernyataan kebenaran yang mutlak. yang tidak boleh ditawar. Kebenaran iman. Keyakinan akan ketuhanan itu sedemikian mendasar bagi semua agama. Seseorang tidak akan beribadah kepada Tuhan jika tidak memiliki iman yang kuat. Ada banyak orang yang menyatakan beriman kepada Allah tetapi tidak melakukan amal ibadah. Ada di semua agama. Di dalam Islam ada, di dalam Nasrani ada dan di dalam Yahudi juga ada.

Kita sungguh bersyukur mendapatkan hidayah dari Allah karena factor keturunan dan lingkungan. Orang tua dan seterusnya ke atas beragama Islam, dan lingkungan kita beragama Islam, maka kita menjadi beragama Islam. Ada banyak orang yang berusaha secara mati-matin untuk menjadi Islam. Misalnya Ustadz Waloni, yang baru saja wafat, maka dia menjadi Islam karena mempelajari semua kitab suci dan akhirnya menemukan kebenaran di dalam agama Islam. Ada juga orang Barat, Namanya Fritjof Schuon, yang menjadi muslim setelah mempelajari Alqur’an dan menemukan kebenaran di dalamnya. Bahkan menjadi pengikut tasawuf.

Sesungguhnya untuk menjadi muslim atau lainnya itu sudah ada takdirnya atau ketentuannya. Takdir tersebut sudah terekam di alam roh atau alam azali. Jadi sudah ada ketentuannya. Makanya, kita semua ini beruntung karena mendapatkan takdir yang baik, sebab menjadi muslim semenjak awal. Kita lahir sudah menjadi muslim, bahkan sudah dibacakan adzan dan iqamah. Hal ini yang harus menjadikan kita bersyukur kepada Allah SWT.

Dengan menambah kesyukuran kepada Allah, insyaallah kita akan mendapatkan semakin banyak kenikmatan yang tidak terhingga. Dan kita telah mendapatkannya.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

KHAIRUL BARIYYAH: SOSOK MANUSIA YANG BERUNTUNG

KHAIRUL BARIYYAH: SOSOK MANUSIA YANG BERUNTUNG

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Saya sungguh-sungguh bersyukur dapat memanfatkan waktu di rumah  Tuban. Saya bisa setiap pagi memberikan ceramah agama kepada para jamaah shalat shubuh.  Para  jamaah yang usianya sudah tidak lagi dapat disebut sebagai muda. Ada kawan-kawan saya semasa di Sekolah Dasar Negeri (SDN) Sembungrejo, dan ada sebagian lainnya yang adik kelas saya bahkan yang jauh lebih muda. Lelaki dan Perempuan. Ceramah ini diselenggarakan pada Sabtu, 05/07/2025.

Di dalam ceramah kali ini saya menyampaikan tiga hal yang penting terkait dengan ciri-ciri orang yang disebut sebagai khairul bariyyah, atau orang yang beruntung. Ternyata ada orang yang beruntung dan ada orang yang tidak beruntung di dalam pandangan agama Islam. Ada tiga hal yang saya sampaikan, yaitu:

Pertama, insyaallah kita semua adalah orang yang mendapatkan kebaikan dari Allah SWT, karena kita telah menjadi orang yang beriman dan melakukan amal kebaikan sebesar apapun kebaikan yang kita lakukan tersebut. Salah satu di antara bukti bahwa kita adalah orang baik adalah kita melaksanakan shalat shubuh berjamaah. Suatu waktu yang bagi orang lain berat untuk melangkahkan kaki ke masjid atau mushallah,  akan tetapi kita semua dapat melakukan shalat shubuh berjamaah. Apalagi kita juga melaksanakan shalat sunnah qabliyah shubuh sebanyak dua rakaat. Dengan bukti-bukti seperti ini, maka sama sekali tidak diragukan bahwa kita adalah orang yang beruntung. Sungguh tidak banyak orang yang seperti kita. Iman kepada Allah dan juga melaksanakan amal ibadah sebagaimana yang diwajibkannya atau disunnahkannya. Alhamdulillah.

Kita ini juga sudah melakukan amal kebaikan, misalnya dengan menggembirakan sesama umat Islam, sesama saudara dalam Islam atau berada di dalam ukhuwah Islamiyah. Kita sudah menjaga mulut kita, agar tidak melukai seseorang. Saya yakin tidak ada di antara jamaah shalat shubuh yang suka mengolok-olok orang. Bahkan di dalam setiap bertemu saling memberikan support untuk sehat agar dapat melakukan ibadah dengan baik,  dalam kadar yang dapat kita lakukan.  Kita  sudah bersedekah dan berinfaq atas harta yang kita miliki. Kalaupun tidak memiliki uang,  maka kita sudah saling menyenangkan hati sesama sahabat.

Kedua, Alqur’an menjelaskan tentang khairul bariyyah. Yaitu orang dengan indicator “manusia yang beriman dan beramal kebaikan”. Memang hanya dua indicator tetapi indicator iman itu tidak sederhana. Iman itu menuntut kepatuhan total tanpa tanda tanya. Yang boleh dipikirkan dan direnungkan adalah ciptaan Tuhan. Orang yang mengedepankan ratio tidak akan menemukan Tuhan,  sebab Tuhan itu berbasis pada spirit atau keyakinan mendalam bahwa Tuhan itu eksis di dalam kehidupan manusia. Tuhan adalah dunia spiritual atau keyakinan yang mendalam dan bisa merasakan kehadiran Tuhan bagi yang mampu memahami kehadiran Tuhan. Iman itu menuntut keyakinan total dan kepatuhan mutlak. Ada banyak orang yang semula iman kepada Allah, lalu justru kemudian mengingkarinya. Ada   seorang ahli agama Islam, pernah belajar di Mesir dan Saudi Arabia, dia penduduk Saudi Arabia, yang semula mempelajari Islam secara tuntas, tetapi akhirnya menjadi kafir atau atheis. Namanya Abdullah al Qarni. Di penghujung hidupnya terkena kanker dan akhirnya meninggal dalam suul khatimah, mati dalam kekafiran. Tetapi juga ada orang yang semula kafir lalu menjadi beriman kepada Allah setelah mempelajari kebenaran ajaran Islam. Misalnya Angelina Sondakh, Ratu Kecantikan Indonesia, yang kemudian menjadi Muslimah, atau Dondy Tan yang menjadi muallaf karena mempelajari kebenaran Alqur’an.

Ketiga,  indicator yang kedua adalah mengamalkan ajaran Islam yang berupa kelakuan yang baik. Amalan shalihan. Perbuatan baik yang relevan dengan ajaran Islam yang dipastikan diterima oleh Allah. Standart utamanya adalah iman. Jadi perbuatan yang tidak didasari oleh iman hanya menjadi amalan perbuatan duniawi atau kebaikan duniawi. Sedangkan amalan baik yang didasari oleh iman kepada Allah adalah perbuatan baik yang mendapatkan pahala dari Allah SWT dan mendapatkan kebaikan di dunia. Jika seseorang menjalankan perintah amalan baik yang wajib atau sunnah, maka yang bersangkutan  tentu sudah masuk dalam kategori beramal kebaikan. Pasti.

Ada banyak ragam amalan kebaikan, misalnya memberikan gagasan atau ide untuk mengamalkan kebaikan, melaksanakan amalan kebaikan dan membantu orang lain untuk berbuat kebaikan. Dan juga menolong orang lain agar tidak melakukan kejelekan atau kejahatan. Semua ini dapat dimasukkan dalam amalan shalihan. Sesungguhnya peluang untuk mengamalkan kebaikan itu banyak sekali. Selama perbuatan tersebut merupakan perintah berbuat baik dan melarang berbuat jelek dan hal tersebut dilakukan, maka hal itu disebut sebagai amal kebaikan.

Ayat tentang khairul bariyyah merupakan ayat tabsyir atau memberikan kabar kegembiraan. Orang yang melakukan dua hal ini dijanjikan oleh Allah akan memasuki surga selama-lamanya. Surga itu digambarkan sebagai tempat yang menyenangkan fisik dan batin. Misalnya terdapat air mengalir dengan air yang kejernihannya tidak terukur, atau pun didapatkan minuman yang rasanya tidak terperikan, dan juga kenikmatan lainnya sebagaimana digambarkan di dalam Alqur’an.

Kita sungguh beruntung sebab telah menjalankan ajaran Islam yang luar biasa. Indicator atau tanda pertama, iman, sudahlah kita yakini kebenarannya, lalu indicator kedua atau amalan shalihan juga sudah kita lakukan. Semoga kita menjadi orang yang khusnul khatimah atau wafat dalam kebaikan.

Wallahu a’lam bi al shawab.