Sekarang ini memang lagi dibicarakan secara terus menerus mengenai pendidikan yang bersearah dengan dunia lapangan pekerjaan. Melalui program pendidikan yang dinamakan Community College, maka diharapkan bahwa kesenjangan antara dunia pendidikan dengan dunia pekerjaan akan dapat dikurangi sedikit demi sedikit.
Melalui program pendidikan ini, maka gap antara dunia pendidikan dengan dunia kerja akan dapat direduksi sedemikian rupa. Selama ini ada tudingan bahwa lembaga pendidikan tidak menyediakan tenaga yang siap bekerja. Pendidikan akademis yang banyak diselenggarakan di Indonesia tidak memberikan jaminan bahwa yang bersangkutan siap bekerja atau ready for use.
Kenyataannya bahwa di Indonesia memang lebih banyak pendidikan dengan jenjang akademis ini. Hampir semua universitas menyelenggarakan pendidikan akademis. Kecuali institut yang memang didesain untuk kepentingan menyelenggarakan pendidikan vokasional, seperti beberapa institut tekonologi yang memang diperuntukkan bagi pengembangan kapasitas berpekerjaan.
Pendidikan yang baik saya rasa adalah pendidikan yang bisa mengembangkan dua hal sekaligus, yaitu mengembangkan kapasitas kemampuan yang relevan dengan tuntutan dunia pekerjaan, dan kemudian juga mampu mengembangkan kapasitas kemanusiaan. Pengembangan kapasitas kerja tentu bisa dilaksanakan dengan menggenjot hadirnya lembaga-lembaga pendidikan vokasional yang akan menjadikan para mitra didik untuk menjadi ahli di bidangnya. Jika yang dibidik adalah ahli komputer, maka disediakan lembaga pendidikan yang akan menjadikan mereka sebagai ahli komputer, baik untuk pemrograman atau lainnya. Jika yang dibutuhkan adalah ahli teknik industri sandang, maka disiapkan lembaga pendidikan untuk kepentingan tersebut. Jika yang dibutuhkan ahli teknologi pangan, maka didirikan lembaga pendidikan yang cocok dengan kebutuhannya. Begitu seterusnya.
Jika pendidikan hanya didesian seperti ini, maka yang dihasilkan oleh lembaga pendidikan hanyalah tukang-tukang. Misalnya tukang komputer, tukang sandang, tukang pangan, tukang industri dan sebagainya. Sesungguhnya yang dibutuhkan bukan sekedar tukang akan tetapi adalah orang yang memiliki hakikat kemanusiaan dengan visi dan misi pengembangan dunia keperjaan yang digelutinya.
Makanya dunia pendidikan, apapun jenjang dan bentuknya harus menghasilkan kapasitas kemanusiaan yang unggul. Yaitu manusia yang memiliki visi untuk membawa kepentingan pekerjaannya dalam kepentingan kemanusiaan yang jauh lebih luas. Jadi pendidikan harus diarahkan tidak hanya menjadi tukang, akan tetapi menjadi manusia yang utuh di dalam pekerjaannya.
Tukang hanya pekerja. Yang ingin diciptakan oleh dunia pendidikan adalah seorang tukang yang memiliki wawasan kebudayaan keindonesiaan yang memadai. Jadi bukan tukang yang tanpa visi kebudayaan, akan tetapi tukang yang memiliki visi kebangsaan yang jelas. Jadi pendidikan mestilah diarahkan untuk mengembangkan manusia Indonesia yang memiliki kemampuan vokasional yang baik, akan tetapi juga memiliki karakter dan kepribadian Indonesia yang luhur.
Pendidikan bangsa memang menjadi tugas pemerintah, masyarakat dan dunia usaha. Oleh karena itu, maka pendidikan di Indonesia harus didesain agar bisa merengkuh dua kapasitas sekaligus, yaitu sebagai manusia yang memiliki kemampuan profesional sesuai dengan bidangnya akan tetapi berbasis pada kebudayaan bangsa yang memang harus dikembangkannya.
Jika dunia pendidikan tidak mengarahkan dirinya seperti ini, maka dikhawatirkan bahwa pendidikan hanya menghasilkan tukang yang siap mengabdi kepada siapa saja tanpa memiliki identitas sebagai bangsa Indonesia yang besar dan adiluhung.
Makanya pendidikan karakter bangsa, pendidikan berbasis kebudayaan bangsa dan pendidikan berbasis religiositas yang moderat kiranya menjadi pekerjaan rumah bagi kita semua untuk mendesainnya.
Wallahu a’lam bi al shawab.
Jika kita cermati, sebenarnya tujuan kemerdekaan itu adalah untuk membebaskan masyarakat dari ketidakbebasan menuju kepada kebebasan. Lalu kebebasan macam apa yang sesungguhnya diinginkan? Tentu adalah kebebasan yang di dalamnya tidak ada penindasan, tidak ada kebodohan dan tidak ada ketidakadilan dan sebagainya.
Kali ini saya ingin menuangkan pemikiran saya tentang pendidikan yang membebaskan sebagai tujuan kemerdekaan. Di dalam pembukaan UUD 1945 secara cerdas dirumuskan bahwa kemerdekaan bertujuan dan terkait dengan mencerdaskan kehidupan bangsa. Jadi memang sejak semula bahwa bangsa ini sudah didesain untuk menjadi bangsa yang cerdas.
Kecerdasan sebuah bangsa tentu tidak hanya diukur dari kecerdasan intelektual, akan tetapi adalah kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual. Kecerdasan intelektual saja tentu tidak cukup sebab harus dibarengi dengan kecerdasan emosional. Kecerdasan intelektual dan emosional saja juga tidak cukup sebab harus memiliki kecerdasan spiritual. Kecerdasan konprehensif inilah yang sebenarnya menjadi keinginan dan cita-cita bangsa Indonesia di dalam merengkuh kemerdekaan.
Kepintaran saja tidak cukup untuk membangun negeri ini. Banyak orang yang pintar, akan tetapi jika dasar filsafat kehidupannya berbasis pada materialisme dan kapitalisme, maka juga tidak akan mampu membangun negeri ini menjadi lebih baik. Makanya dibutuhkan orang yang memiliki basis kecerdasan yang konprehensif, yaitu cerdas tetapi memiliki basis religiositas yang memadai.
Saya kira apa yang diinginkan oleh WR Soepratman ketika menciptakan lagu Indonesia raya adalah gambaran yang jelas mengenai arah dan tujuan bangsa ini, yaitu membangun jiwa dan membangun badan atau raga. Pembangunan spiritualitas dan materialitas. Jadi membangun bangsa itu harus dalam dua sisi sekaligus, yaitu membangun jiwa dan membangun raga atau membangun rohani dan jasmani. Dua hal yang tidak bisa dipisahkan di dalam kehidupan bangsa Indonesia.
Ketika menciptakan lagu kebangsaan ini, saya yakin bahwa penciptanya menghayati betul tentang kehidupan bangsa ini, yaitu bangsa yang religius. Bangsa yang begitu sadar akan arti pentingnya spiritualitas dan kerohanian. Makanya kemudian dirumuskan lagunya yang mengkover dua hal sekaligus, yaitu jiwa dan badan.
Pendidikan seharusnya juga menjadikan dua aspek ini sebagai pijakannya. Yang diajarkan tidak hanya pendidikan “kebadanan” akan tetapi juga “kejiwaan”. Pendidikan yang mengarahkan pada aspek ilmu pengetahuan sosial, dan ilmu alam yang akan menjadikan mitra didik untuk memahami tentang dunia kerja dan pekerjaan, akan tetapi juga mengasahnya dengan pendidikan tentang humaniora dan agama. Sebagai bangsa yang religius, kita tidak boleh salah di dalam mengajarkan tentang pendidikan “kejiwaan”. Jika salah, maka akan menjadikan bangsa ini sebagai bangsa yang sekuler. Dan jika kemudian yang diajarkan hanyalah pendidikan “kejiwaan” saja tanpa memberikan pendidikan “keragaan” maka akan menjadikan insan yang fundamentalis.
Sungguh suatu kecerdasan yang sangat konprehensif ketika bangsa ini memilih lagu kebangsaan, bentuk negara dan dasar negara sebegaimana yang kita lihat sekarang. Melalui tiga hal yang cocok dan berbasis pada kehidupan bangsa itulah maka bangsa Indonesia akan bisa eksis di tengah kehidupan yang modern, demokratis dan kompetitif. Melalui pendidikan yang seimbang antara jasmani dan rohani, maka bangsa ini akan dapat meraih kebebasan dalam artian yang sangat mendasar. Bangsa yang modern tetapi religius, bukan bangsa yang modern tetapi sekular.
Arah pendidikan Indonesia ke depan dengan demikian adalah untuk mencetak generasi Indonesia yang moderen berbasis religiositas, cerdas dan kompetitif yang berbasis pada bingkai humanitas dan nilai-nilai spiritual yang tinggi.
Wallahu a’lam bi al shawab.
Ketika terjadi perubahan nomenklatur kementerian dari Kementerian Pendidikan Nasional menjadi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, maka orang yang pertama senang adalah Prof. Daoed Yoesoef, sebab beberapa bulan sebelumnya beliau mengkritik dengan tegas, bagaimana pemerintah memisahkan pendidikan dan kebudayaan dan memasukkan kebudayaan ke dalam kementerian Pariwisata. Beliau mengkritik bahwa memisahkan pendidikan dan kebudayaan adalah sesuatu yang tidak mungkin. Kebudayaan jangan direduksi menjadi produk budaya yang berupa seni, dan sebagainya.
Kebudayaan itu lebih dari sekedar produk budaya, sebab ia merupakan seperangkat pengetahuan yang dijadikan sebagai referensi di dalam melakukan tindakan. Kebudayaan merupakan keseluruhan dari pengetahuan manusia yang dijadikan sebagai pedoman di dalam menginterpretasikan tindakan-tindakannya. Sebagai seperangkat pengetahuan, maka kebudayaan berfungsi sebagai referensi dan interpretasi tindakan. Tidak hanya baik dan buruk, akan tetapi juga tentang keindahan, keadilan, kebahagiaan dan sebagainya yang dapat dirasakan oleh manusia di dalam kehidupannya.
Dengan memasukkan kebudayaan kembali berdampingan dengan pendidikan, maka ajakan untuk membangun pendidikan berkebudayaan akan kembali terajut. Artinya bahwa pendidikan dan kebudayaan memang sesuatu yang tidak bisa dipisahkan, sebab pendidikan adalah proses transformasi kebudayaan yang paling tepat. Kebudayaan tidak akan dapat diwariskan kepada generasi yang akan datang melalui pariwisata, akan tetapi hanya dapat diwariskan melalui pendidikan.
Pendidikan merupakan wahana yang paling tepat untuk mewariskan nilai nilai kebudayaan pada warga bangsa. Pendidikan yang berhasil adalah pendidikan yang tidak mencerabut akar kebudayaan yang selama ini menjadi pegangan dan pedoman untuk melakukan tindakan.
Sekarang ini banyak kita jumpai pendidikan yang tercerabut dari akar kebudayaan bangsa. Banyak pendidikan yang mengejar label internasional, sekolah unggulan dan perguruan tinggi unggulan yang kemudian mencerabutkan dirinya dari akar budaya bangsa dan nilai-nilai kebudayaan yang agung. Pendidikan apapun status dan labelnya harus menjadi wahana bagi pengembangan dan penumbuhan budaya bangsa yang adiluhung.
Di kota-kota besar menjamur lembaga pendidikan yang mengusung label internasional. Dan kemudian menjadi idola masyarakat yang juga sesungguhnya lagi demam dengan kosa kata internasional. Pokoknya kalau ada label internasionalnya, maka dianggapnya sebagai kebanggaan dan harga diri. Jadi, semua beranggapan bahwa kata internasional adalah jaminan bagi yang bersangkutan untuk beridentitas modern dan manusia global.
Kita sungguh merasakan bahwa kata global yang berarti menginternasional sudah menyihir semua masyarakat untuk terlibat di dalamnya. Globalisasi tentu tidak akan bisa dilawan. Kita hanya akan mengikuti dengan pasrah atau sedikit kritis. Sebagai bangsa dengan harga diri yang jelas, maka mestinya kita melakukan kekritisan terhadap semua yang berlabel internasional ini.
Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan menganalisis apakah pendidikan dengan label internasional ini bisa menjadi wahana bagi penumbuhan dan pengembangan nilai budaya bangsa. Jangan sampai sebuah lembaga pendidikan didirikan di Indonesia, akan tetapi kemudian menjadi agen bagi pengembangan budaya asing yang mencerabut masyarakat Indonesia dari budayanya sendiri.
Negara ini harus kuat untuk melakukan tindakan yang seharusnya diambil dalam kerangka menyelamatkan bangsa dan negara ini dari rongrongan dan penetrasi nilai budaya asing yang secara terstruktur dilakukan di negeri ini. Makanya harus ada ketegasan bahwa semua lembaga pendidikan di Indonesia harus menumbuhkan dan mengembangkan budaya Indonesia yang secara terstruktur dan kultur mengembangkan hal tersebut.
Kiranya memang diperlukan usaha secara terencana untuk menjadikan semua pendidikan di Indonesia untuk kembali menjadikan budaya Indonesia sebagai basis dan pigura di dalam pengembangan sumber daya manusia Indonesia yang memiliki jiwa keindonesiaan.
Wallahu a’lam bi al shawab.
Sebagaimana yang sering saya ungkapkan bahwa seharusnya pasca sertifikasi guru dan dosen, maka kualitas lembaga pendidikan atau bahkan kualitas pendidikan seharusnya meningkat. Hal itu tidak lain disebabkan oleh kenyataan bahwa kesejahteraan tenaga pendidik sudah relatif baik dibandingkan dengan sebelumnya.
Banyak asumsi yang menyatakan bahwa kesejahteraan Omar Bakri lah yang menyebabkan pendidikan di Indonesia tidak pernah beranjak meningkat. Stagnasi kualitas pendidikan di Indonesia itulah yang kemudian seharusnya bisa dijawab melalui keberhasilan pemerintah di dalam program sertifikasi tenaga pendidik.
Kualitas pendidikan Indonesia sebagaimana diketahui masih jauh dari harapan. Artinya bahwa di dalam banyak hal, maka pendidikan di Indonesia kalah jauh dibandingkan dengan negara lain. Misalnya di Asia Tenggara. Makanya dengan meningkatkan kesejahteraan guru dan dosen atau tenaga pendidik, maka diharapkan bahwa kualitas pendidikan akan bisa jauh meningkat.
Pemerintah sudah cukup responsif terhadap problem pendidikan ini. Bayangkan bahwa melalui rencana Inpres 2012, maka seluruh lembaga pendidikan dasar di Indonesia, baik sekolah dasar dan sekolah menengah pertama atau madrasah ibtidaiyah dan madrasah tsanawiyah akan runtas direhab tahun ini, sehingga tidak ada lagi lembaga pendidikan dasar yang ruangannya rusak berat. Kepedulian pemerintah semacam ini tentu harus dibaca sebagai bagian dari tingginya program yang pro pendidikan.
Meskipun demikian, kenyataannya bahwa problema pendidikan adalan problema yang sistemik, sehingga ketika satu masalah diselesaikan tidak serta merta menyelesaikan problem lainnya. Sehingga, di dalam praktiknha tetap saja dunia pendidikan akan tetap berkutat dengan masalahnya yang kompleks.
Terkait dengan hal ini, maka pasca direhabilitasinya seluruh lembaga pendidikan pada tinkatan pendidikan dasar, maka yang tidak kalah penting adalah bagaimana melakukan pembenahan komitmen para tenaga pendidikan untuk menyukseskan gerakan peduli pendidikan.
Saya kira bahwa problem mendasar yang dihadapi oleh para tenaga pendidik adalah tentang komitmen untuk mengembangkan pendidikan di Indonesia ini. Para tenaga pendidik tidak hanya berhak untuk menuntut tunjangan fungsionalnya saja, akan tetapi juga harus mengembangkan dunia pendidikan untuk tujuan peningkatan kualitas pendidikan Indonesia.
Caranya adalah dengan meningkatkan kedisiplinan secara terus menerus. Tidak ada kata berhenti di sini. Artinya bahwa para guru dan dosen harus secara terus menerus berdisiplin diri di dalam mengembangkan pendidikan. Untuk kepentingan ini, maka tenaga pendidik haruslah terus menerus memperbaiki komitmennya di dalam menjalankan profesinya.
Itulah sebabnha di dalam UUGD dijelaskam bahwa prinsip pertama profesionalisme guru dan dose adalan adanya komitmen pada profesi yang ditekuninya. Untuk memiliki komitmen tersebut maka orang harus bekerja sesuai dengan bakat dan minatnya. Bagaimana sebuah komitmen akan dapat dibangun jika di dalam diri orang yang bekefja tidak ada minat untuk bekerja di situ.
Makanya korelasi antara minat dan komitmen menjadi sangat kuat. Jika minatnya kuat, maka akan dapag dipastikan bahwa yang bersangkutan akan memilikk komitmen tentan apa yang dikerjakannya. Dan kemudian keduanya akan bertali temali dengan tanggungjawabnya sebagai tenaga pendidik yang profesional.
Wallahu a’lam bi al shawab.
Memang harus diakui bahwa di era modern dan era teknologi informasi ini, maka sumber belajar itu menjadi sangat bervariasi. Artinya sumber belajar itu tidak hanya guru akan tetapi juga internet dengan segala kehebatan dan kekurangannya.
Di era teknologi informasi ini, maka internet menjadi dewa baru di dalam kaitannya dengan sumber pengetahuan. Melalui teknologi ini maka dengan sangat mudah dan cepat orang akan dapat mengakses informasi. Makanya bisa dinyatakan bahwa internet is the power. Internet di dalam dirinya terdapat kekuasaan. Yaitu kekuasaan untuk menjadi sumber informasi yang cepat dan mudah.
Akan tetapi disebabkan oleh realitas bahwa internet adalah sesuatu yang impersonal, maka kehadiran internet terkadang membawa masalah. Dengan demikian, maka kehadiran internet harus diikuti dengan kesepahaman tentang kemadaratan internet tersebut. Jangan sampai teknologi informasi ini justru menjadi penyebab bagi kemadaratan bagi sebuah generasi.
Tenaga pendidik adalah orang yang memiliki kesadaran untuk mengembangkan pendidikan. Bahkan secara ekstrim saya nyatakan bahwa maju atau mundurnya kualitas lembaga pendidikan, akan sangat tergantung kepeda para tenaga pendidiknya. Disebabkan oleh pandangan semacam ini, maka posisi tenaga pendidik menjadi sangat strategis.
Di antara alasan mengapa tenaga pendidik memiliki peran strategis adalah: pertama, mitra didik tidak hanya membutuhkan informasi yang dibutuhkan, akan tetapi juga bagaimana memilah dan memilih mana informasi yang relevan dengan kepentingan pendidikan dan pengajaran. Ada banyak informasi yang berseliweran di sekeliling kita, akan tetapi harus diambil mana informasi yang paling usefullness. Sebab tidak semua informasi bermanfaat dan berguna bagi masyarakat pembelajaran. Tenaga pendidiklah yang kemudian menjadi mediator untuk memberikan justifikasi bagi kepentingan perolehan informasi tersebut.
Kedua, tenaga pendidik adalah motivator penting di dalam proses pembelajaran. Di dalam hal ini, maka peran guru atau dosen menempati posisi sentral di dalam proses pembelajaran. Jika diibaratkan, maka seorang murid adalah seorang pendaki yang belum tahu arah mana yang akan dilalui. Ketika kemudian mereka tidak memiliki guider yang baik maka dia akan bisa saja tersesat. Maka agar tidak tersesat, maka dia membutuhkan seorang pemandu yang profesional agar dengan mudah akan dapat sampai kepada tujuan pendakian. Tenaga pendidik dengan demikian memiliki fungsi yang sangat strategis agar para muridnya akan dapat cepat dan tepat sampai kepada tujuan yang diinginkan.
Oleh karena itu, guru yang baik adalah motivator yang baik. Yang dengan kemampuannya itu, maka dia akan dapat dengan mudah memberikan pendidikan dan pengajaran yang relevan dengan kebutuhan para muridnya.
Guru di dalam bahasa aslinya memang berarti seorang pembimbing dan bukan hanya seorang transformer pengetahuan. Di dalam konsep guru, maka dia adalah pembimbing untuk sampai kepada tujuan yang diinginkan bersama-sama. Tidak hanya keinginan muridnya akan tetapi juga keinginan gurunya. Itulah sebabnya seorang guru harus memiliki visi seperti apa murid yang diinginkannya di masa yang akan datang. Tanpa hal ini maka jangan pernah berharap bahwa pendidikan akan menjadi lahan pembebasan manusia di era sekarang dan yang akan datang.
Guru di dalam konteks pendidikan menempati posisi yang sangat mendasar, sebab tidak hanya sebagai penyampai pengetahuan akan tetapi juga sebagai pembimbing ke arah pengetahuan. Jika ini yang menjadi kesadaran guru, maka tentu guru akan terus berdisiplin dan bertanggungjawab ke arah peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia.
Wallahu a’lam bi al shawab.