• October 2026
    M T W T F S S
    « Sep    
     1234
    567891011
    12131415161718
    19202122232425
    262728293031  

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

MUSIM DINGIN

MUSIM DINGIN
Andaikan bisa memilih mana yang dilakukan berkunjung ke negeri Belanda di masa musim semi atau musim dingin, maka pilihannya tentu musim semi. Konon katanya, musim semi adalah musim yang paling mengagumkan dari semua musim di negeri Eropa, khususnya Belanda. 
Minggu pagi, 2 Desember 2012, kami memang sengaja untuk melihat Belanda di waktu pagi hari dan kemudian jalan-jalan ke beberapa tempat yang dianggap sebagai tempat rekreasi. Sebagaimana musim dingin di Eropa, maka pagi itu suasananya dingin sekali, kira-kira 2 derajat di atas nol. Apalagi juga terjadi hujan  yang bercampur dengan salju. Saya tentu senang melihat hujan salju di negeri Belanda ini. Bukan apa-apa, hanya bisa menjadi pengalaman merasakan hujan salju di negeri orang. 
Pagi itu kami menelusuri sejarah Konferensi Meja Bundar atau yang dikenal sebagai KMB yang dilakukan sekian puluh tahun yang lalu, ketika terjadi konferensi untuk menentukan nasib Indonesia sebagai negara merdeka. Hotel yang dijadikan sebagai tempat konferensi itu memang sangat indah. Ornamen dan arsitekturnya sangat menakjubkan. Hotel itu memang didesain sebagai hotel mewah yang menjanjikan keasyikan dan kekaguman bagi yang sempat menghuni. 
Ketepatan pagi itu ada jamuan makan pagi yang diikuti oleh staf KBRI di Belanda dengan pimpinan ABRI, saya lupa kalau tidak salah dari Pangdam Bukit barisan,  yang sedang mengunjungi negeri Belanda. Saya tidak sempat bertanya agendanya apa, tetapi yang jelas memperoleh sambutan yang luar biasa dari  staf kedutaan RI di belanda. Saya tentu menangguk untung. Maksud saya hanya untuk melihat dan foto di hotel bersejarah bagi bangsa Indonesia itu, ternyata ada jamuan makan pagi, sehingga kami pun bisa mengikutinya.
Selepas mengikuti acara jamuan pagi, maka kami pergi ke pantai untuk melihat keindahan pantai yang terdapat juga berbagai souvenir dan juga variasi makanan. Rupanya pantai ini menjadi tempat bagi para pelancong untuk mendatanginya. Meskipun tidak indah, akan tetapi karena kekuatan imej yang diciptakan, maka jadilah Ia sebagai tempat jujugan para turis dari luar negeri. Di sinilah orang bisa berfoto dengan tradisi pakaian orang Belanda. Pakaian warna merah dengan sepatu kayu menjadi salah satu sasaran foto para wisatawan. Para wisatawan difoto dengan seakan-akan sedang bermain musik. Alat musik masa lalu tentu saja.
Wilayah ini memang didesain untuk menjadi pusat perbelanjaan barang-barang souvenir. Ada berbagai barang souvenir, misalnya jam burung, kaos, jaket, syal, top, barang-barang dari keramik, gantungan kunci dan sebagainya. Semua dipajang agar bisa menarik para pembeli. Para turis datang dari berbagai negara. Adam dari Asia, misalnya cina, Taiwan, Korea selatan, Turki dan sebagainya. Akan tetapi juga ada turis yang datang dari negara-negara Eropa sendiri, misalnya Spanyol, Perancis dan sebagainya. 
Sebagai wilayah pantai, maka yang menarik adalah banyaknya burung yang terdapat di pantai. Burung belibis, begitu saja saya menyebutnya, berjumlah ribuan untuk bermain di pinggiran pantai. Bisa jadi burung ini memang mencari makan atau memang berada di air laut untuk menghangatkan tubuhnya. burung-burung itu terasa menikmati air laut, sehingga berjam-jam berada di situ. Rupanya habitat burung itu justru di laut.
Kami juga mengunjungi tempat rekreasi di dekat kincir angin Belanda yang sangat monumental. Kincir angin yang dibikin abad 17-an itu masih berdiri tegak dan menjadi ikon wisatawan di negeri Belanda. Di empat ini ada aneka barang yang seluruhnya adalah sepatu kayu dengan berbagai ukurannya. Toko itu memang secara khusus menjajakan produk sepatu kayu. Sepatu kayu dengan berbagai ukuran tersedia di sini. Ada yang ukuran gantungan kunci dan ada juga yang sebesar kaki raksasa. Begitu besarnya ukuran sepatu kayu itu. Seringkali raksasa digambarkannya sebagai makhluk yang besar melebihi ukuran tubuh manusia. Di tempat ini, juga orang bisa dibuatkan kalender dengan fotonya sendiri.
Jarak antara Amsterdam dengan Denhagg memang cukup jauh. Kira-kira 70 km. Akan tetapi karena seluruh jalannya adalah jalan tol, maka tidak ada kesulitan untuk mencapai jarak itu. Hanya dengan waktu 45 menit, maka kita akan sampai Denhagg dari amsterdam. Jumlah kendaraan yang lalu lalang di jalan juga tidak banyak. Makanya hampir tidak dijumpai kemacetan selama perjalanan di Belanda ini. 
Pengaturan jalan yang bagus, kemudian tata kota yang terencana ternyata menjadi faktornya penting bagi keteraturan di jalanan. Jalan yang luas dan penataan jalan yang rapi, maka membuat siapa saja yang melancong di negeri Belanda akan merasa nyaman. 
Kita tentu tidak akan pernah membayangkan bahwa pengaturan kota Jakarta akan seperti di Belanda. Perkembangan kota di indonesia tanpa perencanaan yang matang dan perkembangan masyarakat dengan pemukiman ya juga lebih dulu ada. Makanya, tentu agak sulit membangun kota-kota di Indonesia sebagaimana kota-kota di Eropa. 
Kalau di Belanda kita melihat keteraturan, maka di Indonesia terdapat kesemrawutan. Akan tetapi anehnya adalah bahwa kita masih bisa hidup nyaman di tengah kesemrawutan itu. Manusia memang mempunyai daya untuk menyesuaikan diri dengan tantangan a’lam dan itu yang sudah kita buktikan bertahan-tahun.
Wallahu a’lam bi AL shawab.

BELANDA SEBAGAI NEGERI SEPEDA

BELANDA SEBAGAI NEGERI SEPEDA
Salah satu yang menari bagi saya adalah banyak ya pengendara yang menggunakan sepeda sebagai sarana transportasi di negeri Belanda. Tidak salah jika saya menyebut Belanda sebagai negeri sepeda. Sebagai negeri moderen tentu saja sarana transportasi sudah sedemikian maju. Ada taksi, kereta listrik dan juga bus yang lalu lalang di negeri ini. 
Hal ini tentu sangat berbeda dengan negara Indonesia yang saya menyebutnya sebagai negara sepeda motor. Hampir setiap ruas jalan di negeri ini, kecuali jalan tol pastilah penuh terisi sepeda motor. Jika saat para pekerja akan masuk kantor di pagi hari dan saat pulang di sore hari, maka akan dapat dipastikan semua ruas jalan terisi penuh dengan sepeda motor. 
Konsep sepeda motor memang berbeda antara di negeri Belanda dengan di negara Indonesia. Di negeri ini apapun sepeda yang bermesin penggerak dan berapapun cc-nya maka disebut sebagai sepeda motor. Akan tetapi di negeri Belanda, sepeda motor hanya khusus untuk sepeda motor dengan cc besar, di atas 100 cc atau kalau di Indonesia disebut sebagai motor gede atau moge. Disebabkan oleh pertimbangan konseptual seperti itu, maka sepeda motor yang hanya memiliki cc 100 atau kurang dari 100 disebut sebagai sepeda saja. Akibatnya maka jalur yang dapat ditempuh juga jalan khusus bagi pengendara sepeda. Sedangkan moge bisa melintasi jalur yang dipakai oleh mobil atau transportasi lainnya. 
Hampir seluruh jalan di belanda, kecuali jalan tol luar kota, memiliki jalan rute khusus bagi pengendara sepeda. Baik di Denhaag maupun di Amsterdam dan juga kota lainnya memiliki rute khusus ini. Makanya bersepeda di negeri ini juga nyaman. Meskipun musim dingin sedang menggigit, akan tetapi juga kita dapati lelaki dan perempuan asyik menggenjot sepeda. 
Bersepeda memang telah menjadi tradisi di sini. Bahkan perdana menteri Belanda juga bersepeda. Pernah ada kejadian perdana menteri Belanda datang ke kedutaan Indonesia dengan bersepeda. Tanpa pengawalan dan langsung menyandarkan sepedanya di di Depan kantor. Maka oleh satpam diusir. Untunglah ada yang tahu bahwa yang datang itu adalah perdana menteri Belanda, sehingga dia diperkenankan masuk dan  memperoleh penghormatan yang wajar. 
Bersepeda memang telah menjadi tradisi di negeri ini. Oleh karena itu, bersepeda tidak mengenal strata sosial. Siapapun bisa bersepeda tanpa harus merasa malu melakukannya. Bisa mahasiswa, dosen, buru besar, pekerja hingga perdana menteri bisa bersepeda. Karena ada jalur khusus bersepeda, maka orang juga tidak takut akan tersenggol mobil ketika melaju dengan kencang memakai sepeda. Kalau mereka mau berhenti untuk suatu urusan, maka ya berhenti saja. Ditaruh sepeda itu di situ. Makanya hampir setiap kantor atau toko pastilah terdapat sekumpulan sepeda yang ditinggalkan oleh pemiliknya. Ada yang memang disediakan parkir oleh Pemerintah dan ada juga yang hanya ditinggalkan begitu saja. Ada yang dikunci dan ada yang tidak. Jika sepeda itu dalam waktu lama tidak diambil oleh pemiliknya, maka dinas ketertiban akan mengambilnya dan kemudian di lelang. Makanya juga banyak toko yang menjual sepeda bekas yang konon katanya adalah berasal dari barang lelangan tersebut.
Di antara sepeda yang bermerek adalah sepeda dengan merk Gazelle. Saya telah mengenal merk ini semenjak saya usia sekolah dasar. Bahkan saya juga menggunakan sepeda dengan merk ini sampai saya memasuki jenjang pendidikan menengah. Bapak saya memang menggemari sepeda dengan merk ini. Makanya sepeda yang dibanggakannya juga bermerek Gazelle. Sepeda laki-laki dengan tinggi maksimal ini memang seharusnya cocok untuk ukuran orang Eropa, akan tetapi masih juga bisa dipakai oleh orang Indonesia bahkan ketika saya berusia belasan tahun sudah menggunakannya. Sepeda Gazelle ini pula yang membuat saya terjatuh dua kali semasa saya berada di SMEPN Tuban. 
Tentu ada banyak merek dan inovasi tentang model sepeda. Di negeri Belanda yang dianggap sebagai pusatnya sepeda, maka dapat dijumpai berbagai variasi model dan merk sepeda. Semuanya tentu menggambarkan bahwa ada inovasi dan kreasi tentang sepeda di sini. 
Satu hal yang barangkali bisa diasumsikan adalah sampai kapan tradisi bersepeda ini akan terus berlangsung. Menilik infrastruktur yang disiapkan khusus oleh Pemerintah Belanda, maka saya berkeyakinan bahwa bersepeda akan tetap menjadi tradisi yang akan terus dipertahankan di negeri ini.
Wallahu a’lam bi al shawab.

KE BELANDA

KE BELANDA
Setelah berada di lapangan terbang London, kurang lebih 5 jam, akhirnya kami naik pesawat ke Belanda. Kira-kira jam lima waktu setempat kami meninggalkan bandara London yang indah itu. Bandara ini memang didesain sebagai pusat bisnis dan juga transportasi. Sebagaimana bandara moderen di negara maju, maka bandara ini juga menjadi pusat bisnis yang riuh rendah. Segala merk produk terkenal bisa dikenali di tempat ini. Produk merk tas dan parfum terkenal, seperti Dior, Chanel, Armani dan sebagainya juga dapat ditemui dengan mudah. Bandara yang terkenal sibuk di dunia ini memang benar-benar didesain untuk kenyamanan bagi kaum konsumtif untuk memanjakan dirinya dengan belanjaan aneka ragam.
Saya juga menikmati pusat belanja di bandara ini. Bukan untuk beli, akan tetapi untuk mengetahui seberapa banyak dan variasi apa saja di dalamnya. Ternyata memang lengkap. Mulai dari makanan, minuman sampai pakaian dan tas dengan berbagai mereknya. Sungguh bagi orang yang memiliki banyak uang akan dapat belanja apa saja di tempat ini.
Pesawat air bus yang membawa saya ke Belanda itu ternyata diawaki oleh para pensiunan. Ada dua orang awak pesawat yang melayani dengan sangat cekatan. Menyediakan makan kecil dan minuman bagi para penumpang. Dua orang lelaki usia diatas parah baya itu ternyat dengan telaten dan cepat dapat menyajikan berbagai kepentingan para penumpang. tidak seperti di Indonesia yang kebanyakan petugas pesawatnya adalah perempuan, maka di pesawat ini adalah para lelaki dengan usia yang sudah tidak muda lagi. 
Di dalam perjalanan udara kira-kira 1,5 jam maka sampailah saya di bandara internasional sckippol di Amsterdam. Bandara terluas yang pernah saya lihat. Begitu luasnya bandara ini, maka saya membayangkan bahwa bandara internasional seharusnya memang berada di dalam lahan yang cukup. Bandara udara Juanda saya kira jauh dari ketercukupan lahan untuk bandara internasional. 
Sebagaimana konsep bandara internasional, maka bandara ini juga merupakan paduan antara  sarana transportasi dengan pusat perbelanjaan. Sayangnya bahwa saya hanya numpang lewat di bandara ini, sehingga saya tidak sempat melihat kekayaan produk yang dijual di bandara ini. Tetapi saya yakin bahwa soal pajangan produknya tentu tidak kalah dengan bandara internasional London atau lainnya.
Perjalanan dari pintu keluar dengan taksi cukup jauh. Tetapi karena kami dijemput oleh staf KBRI, maka semuanya menjadi mudah. Pemeriksaan terhadap penumpang luar negeri atau orang asing juga tidak rumit. Saya pernah mengalami hal-hal sulit ketika berkunjung ke Amerika Serikat sekian tahun yang lalu. Di Chicago pemeriksaan luar biasa ketat. Saking ketatnya, sampai saya berpikir bahwa negara sebesar Amerika Serikat ternyata menerapkan standard yang rumit bagi warga negara asing yang akan masuk ke negerinya.
Karena dijemput, maka perjalanan ke hotel juga tidak mengalami gangguan apapun. Hujan rintik-rintik di musim dingin memang menjadikan hawa semakin dingin. Untungnya sudah disiapkan berbagai kepentingan untuk mengusir hawa dingin yang memang akan menerpa tubuh ini. Jarak antara Amsterdam ke Denhagg tentu tidak jauh. Kira-kira 60 km. Akan tetapi karena jalan tol, hampir seluruh jalanan di Belanda adalah jalan tol, maka perjalanan terasa sangat nyaman. Luas jalan dengan jumlah kendaraan yang melintang sangat seimbang, sehingga tidak ada kemacetan yang terjadi. Nyamanlah berkendaraan di sini.
Di sepanjang jalan banyak tetumbuhan yang hidup. Akan tetapi karena musim dingin maka kelihatan seperti tumbuhan yang meranggas. Seperti pohon kering akan tetapi hidup. Saya jadi teringat pohon jati ketika musim kemarau di Indonesia, di mana dedaunannya jatuh dan tinggal batang dan rantingnya saja. Di negeri bermusim dingin, maka tetumbuhan juga sama seperti itu. Ketika musim dingin, pohon tidak mengambil Sari makanan dai tanah sehingga daunnya rontok dan meranggas. Seperti pohon mati tetapi hidup. Saya jadi teringat bahwa pohon pun mengenal puasa. Puasa sampai kemudian muncul masa musim semi, di mana pohon yang meranggas seakan mati tersebut hidup kembali untuk mempersiapkannya masa keindahan, yaitu masa di mana bunga berkembang dengan warna warnanya. Belanda dikenal dengan bunga tulip yang warna warni dengan keindahannya.
Belanda adalah negeri yang indah. Bangunan tuanya terpelihara dengan sangat baik. Bangunan tua menjadi cagar budaya. Keindahan bangunan kuno itu masih tampak dengan nyata. Negeri Belanda yang pernah kaya karena sistem penjajahan dan penguasaan perdagangan di masa lalu masih kelihatan dari keunikan dan kecantikan bangunannya. Gedung-gedung indah masih tampak berdiri dengan kokoh. Di Denhagg dan Amsterdam, misalnya dengan mudah diketahui bangunan kuo nan kokoh yang berdiri dengan tegaknya. Bangunan dengan seni pahat dan ukiran yang cantik terdapat di mana. Tidak seperti sekarang yang di dalam banyak hal menerapkan konsep arsitektur minimalis, maka bangunan di Belanda adalah berarsitektur sangat tinggi dan juga cita rasa budaya yang adiluhung. 
Siapapun yang datang ke Belanda akan mengagumi bangunan bersejarah dan bangunan gedung-gedung tuanya. Rasanya kita berada di negeri dengan cita rasa budaya yang tinggi terutama dari aspek arsitekturnya.
Negeri bekas penjajah memang pernah memperoleh kesempatan emas untuk memperoleh kesejahteraan ekonomi dalam relasi perdagangan internasional. Pada abad ke 17 hingga abad ke 20, negeri ini memperoleh keuntungan ekonomi dari perdagangan internasional yang dikuasainya. Negeri Belanda menangguk keuntungan dari perdagangan rempah-rempah yang didapatnya dari negeri jajahannya. Maka masyarakatnya juga memeroleh keuntungan secara ekonomi melalui penguasaan monopoli terhadap barang-barang atau komoditi perdagangan internasional tersebut.
Keindahan arsitektur belanda, saya asumsikan tentu berasal dari melimpahnya kekayaan negeri itu, sehingga dapat diinvestasikan ke dalam berbagai infrastruktur yang sekarang dapat dinikmati dengan baik. Dapat dilihat dengan mudah mana bangunan yang semi minimalis sebagai bangunan baru dan mana bangunan dengan arsitektur tinggi yang merupakan bangunan kuno. 
Saya tentu bersyukur bisa berkunjung ke negeri tulip yang indah itu. Selain ada manfaat akademis yang akan saya peroleh tentu juga ada manfaat rekreasional yang bermanfaat bagi pengembangan mimpi tentang dunia berbeda di belahan lain.
Wallahu a’lam bi AL shawab. 

AKHIRNYA KE EROPA

AKHIRNYA KE EROPA
Sejak lama sesungguhnya saya menginginkan untuk mengunjungi beberapa negara Eropa. Di antara belahan benua di dunia ini memang yang belum saya kunjungi adalah benua Eropa. Mungkin saja sebuah keterlambatan mengingat bahwa seharusnya kunjungan ke Eropa atau negara-negara Eropa semestinya sudah saya lakukan jauh sebelumnya. Tahun lalu ketika saya masih menjadi rektor IAIN Sunan Ampel juga seharusnya ada kesempatan untuk datang ke Eropa. Akan tetapi peluang itu tidak saya ambil. 
Akhirnya di penghujung tahun 2012, Pak Menteri Agama mengizinkan saya untuk mengunjungi negara Eropa, khususnya Belanda dalam rangka untuk membangun kerjasama di dalam mengembangkan pendidikan Islam di tanah air. Kunjungan ini terasa sangat spesial sebab harus dilakukan di saat pekerjaan kantor juga sangat banyak. Akan tetapi persiapan yang sudah sedemikian matang dan didukung oleh tim kerja kementerian yang sangat baik, maka penyelesaian pekerjaan tentu tidak akan menganggu hal-hal mendasar di kantor.
Kunjungan ke Eropa ini juga terasa sangat panjang dan melelahkan. Bukan karena jaraknya yang memang jauh, Akan tetapi karena harus memutar melewati banyak tempat. Karena menggunakan pesawat Qatar Air, maka konsekuensinya harus melewati Doha, ibukota Qatar. Tidak lama memang transit di Doha. Kira-kira satu jam. 
Bendera internasional Qatar memang besar, jika dibandingkan dengan bandara internasional lainnya, misalnya dengan bandara internasional Juanda di Surabaya. Sebagai bandara transit di berbagai belahan dunia lain, misalnya ke wilayah Afrika dan Eropa, terasa bahwa bandara Internasional Qatar memang menyediakan fasilitas yang cukup baik. Saran transportasi yang disediakan juga tertata rapi dan tepat waktu. Penggunaan transportasi bus juga menggunakan sistem antrean yang baik. Ada dua tempat berhenti, yaitu di arrival pasenger dan transite pasenger. Meskipun jaraknya tidak jauh, akan tetapi cukup tertata kehadiran dan pemberangkatan para penumpangnya.
Sebagaimana jadwal yang sudah tertera, maka pesawat Qatar Airline yang akan membawa kami ke London juga sudah siap. Melalui pemeriksaan yang ketat, kami berangkat ke London. Perjalanan yang sangat jauh. Kira-kira tujuh jam. Badan terasa capek sekali sebab malam sebelumnya hampir tidak dapat memejamkan mata. Karena pesawat dari Jakarta berangkat jam 24.00 atau tengah malam, maka seharusnya begitu naik pesawat lalu biasa tidur. Hanya sayangnya kelemahan saya yang satu ini memang tidak biasa dihindari. Nyaris tidak dapat tidur dalam perjalanan Jakarta Doha tersebut. Saya biasanya menyiapkan animo atau bahkan obat tidur sebangsa CTM jika ingin bepergian ke luar negeri. Akan tetapi kali ini tidak menyiapkannya.
Kepergian ke Eropa ini terkesan sangat kurang di dalam persiapannya. Biasanya saya selalu well-prepare jika akan melakukan perjalanan ke luar negeri. Akan tetapi kali ini memang benar-benar serba mendadak. Malam hari akan ke Belanda, maka pagi harinya harus mewakili Pak Menteri Agama dalam acara di Pondokan Pesantren Sunan Drajat diLamongan Jawa Timur dalam acara rembuk nasional pimpinan Pondokan Pesantren SE Indnesia dalam tema Pengembangan Ekonomi Pesantren yang digagas oleh Kementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat bekerja sama dengan Kementerian agama dan kementrian terkait. Makanya kami juga harus mendadak kembali ke Jakarta untuk urusan kepergian ke Belanda tersebut. 
Meskipun harus berlari-lari tetapi saya merasa sangat gembira sebab saya bisa mewakili PAN Menyeri Agama dalam acara yang sangat penting, yaitu pembicaraan tentang masa Depan pesantren sebagai lembaga keagamaan yang tidak hanya menyajikan menu mengaji kitan dan pembelajaran keagamaan lainnya, akan tetapi juga mencandra peran pesantren yang lebih luas, yaitu pesantren sebagai pesat pengembangan ekonomi kerakyatan.
Perjalanan ke London tentu sangat melelahkan sebab selain memang waktunya panjang juga badan terasa sangat lelah. Sebagaimana yang sering saya tulis bahwa kelemahan saya yang mendasar dalam perjalanan ke luar negeri adalah karena kesulitan untuk tidur atau istirahat di pesawat. Saya menjadi teringat ketika harus perjalanan panjang ke Canada sekian tahun yang lalu dan juga ke Amerika Serikat tahun belakangan, maka sepanjang perjalanan juga tidak bisa memejamkan mata. Itulah sebabnya ada perasaan malas ketika harus bepergian ke luar negeri. 
Namun demikian kunjungan ke luar negeri tentu harus dilakukan, sebab sebagaimana sering saya nyatakan bahwa kunjungan ke luar negeri sesungguhnya memanggul makna penting yaitu untuk mengembangkan mimpi. Bukankah mimpi adalah sesuatu yang sangat penting bagi seorang pemimpin. Siapa yang memiliki mimpi, maka dialah yang akan bisa mengembangkan dunia ini. Hanya melalui mimpi yang bisa direalisasikan saja yang akan selalu leading di Depan, bisa menjadi one Step ahead. 
Kami sampai di bandara London kira-kira jam Satu siang waktu setempat. Akan tetapi pesawat yang akan mengangkut kami ke Amsterdam kira-kira jam 17 waktu setempat. Makanya kami juga harus menunggu di bandara kira-kira 4 jam. Alhamdullilah, bahwa bandara ini sangat baik untuk istirahat. Pertokoan yang baik di sini tentu menjadi daya tarik tersendiri bagi para penumpang yang sedang menunggu ke perjalanan ke tempat lain. 
Di dalam bandara yang sangat luas, ternyata memang didesain dengan berbagai pertokoan besar maupun kecil, mulai dari toko yang menyediakan bahan makanan dan minuman sampai toko barang-barang branded. Tas dengan berbagai merk juga ada di sini. Mulai merek Dior sampai Prada atau lainnya. Konon katanya juga harganya lebih murah dibanding dengan harga di Indonesia. Tas perempuan Prada yang di Plaza Indonesia seharga 40 juga dihargai hanya 20 juta. Apakah batangnya genuin atau asli. Tentu pasti. Barang-barang yang dijual di sini tidak ada barang yang berstatus kualitas dua atau tiga. Semuanya adalah barang yang memang memiliki mutu yang standard.
Sayangnya badan yang tidak mendukung untuk sekadar jalan-jalan, maka saya hanya memanfaatkan waktu menunggu dengan duduk dan ngobrol saja. Untung di dalamnya ada Cafe Starbuck yang memang di Indonesia sering saya kunjungi. Cokelat panas Starbuck adalah yang sangat saya sukai. Saya menyukai cokelat semenjak kedatangan saa ke Canada sekian tahun yang lalu. Minuman cokelat panas menjadi minuman favorit saya.
Makanya ketika saya melihat ada Cafe Starbuck, maka sesegera mungkin saya mengunjunginya. di Cafe ini maka tidak menerima uang cash. Semuanya harus menggunakan credit card. Untunglah memang saya menyiapkan kartu kredit di dalam bepergian ini. Makanya, kartu kredit ada juga gunanya di dalam perjalanan ke luar negeri. Padahal, harga satu gelas ukuran grande atau medium size, kira-kira sama dengan di di Cafe Starbuck di Jakarta. Satu gelas tersebut seharga 3,5 dolar euro atau setara 50 ribu rupiah. Samalah  harganya dengan satu gelas yang sama di Jakarta atau Surabaya. 
Dunia ini memang sudah menjadi satu kesatuan atau dalam bahasa akademisnya disebut dunia global atau dunia tanpa batas. Dulu tentu tidak kita bayangkan bahwa kita akan bisa meminum cokelat di berbagai negara dengan rasa dan juga harga yang hampir sama. Tetapi kini di zaman moderen ini, maka orang bisa meminum teh, cokelat, kopi dengan tante yang sama dan harga yang relatif sama. 
Saya merasakan betapa mudahnya kita mengakses apa saja di tengah dunia global ini. Jadi kita tentu juga bisa untuk melihat belahan dunia lain yang disebabkan oleh mudahnya mengakses apa saja di dunia ini. 
Sungguh saya beruntung sebab bisa mengakses dunia lain tersebut dengan kekuasaannya yang diberikan oleh Allah kepada saya. Impian untuk menjejakkan kaki di negeri Belanda, negeri bunga tulip yang warna warni bisa saya lakukan. Hanya sayangnya bahwa kunjungan kali ini di musim dingin, sehingga keindahan bunga tulip itu belum saya rasakan.
Wallahualam a’lam bi al shawab.

PILLAR OF GOOD GOVERNANCE IN ISLAMIC EDUCATION

We have four categories for Islamic Higher Education. Under MORA, we have the first is State Islamic University (UIN), State Institute of Islamic Studies (IAIN), Islamic College (STAIN) and Private Islamic Higher Education (PTAIS).  91 percent is private Islamic higher educations and only 9 percent is state Islamic higher education. We have 35.000 lecturer in various area of study and we have 570.067 students  in various area of study. Majority was a student of Islamic education in faculty of tarbiyah or Islamic education.

We have the vision: to create the Islamic generation base on akhlak al karimah, smart and competitive. As base of behavior, al akhlak al karimah is character of human being base on Islamic ethics. Akhlak al karimah is not only for the relation between Allah and man, or between one man and another but also the relation between man and the social and physical environment. Not only the relation between muslim and muslim but also between muslim and the other non muslim. I would like to give the information that competition is not base by the materialistic perspective but by the togetherness. Like the smart is not only for intellectual quotient but for emotional and spiritual quotient.

To enhance the good governance, we need some supports. We have at minimum five pillar for that. The support of operational policy that can be implemented, supporting of effective management, supporting of system of accountability, and the implementing program.

The first, The system of management and governance principally depend on the empowering of organization. As the centralization of bureaucracy, MORA is different with  MONE. In this case, MONE has one function for education only but MORA has various functions and one of them was Islamic education. Gradually and technically, that governance of Islamic educations in Directorate General of Islamic education than implementation of Islamic education in  the level of province and the last is the implementation of Islamic education in local government and the unite of educations.

So the problem is very much. Not only because of the center and local, for example was about budgeting and the limitation of budget but about the distance between one and another base on the implementation of policy.

The second is regulation. Regulation is very importance for basic implementation of Islamic education. For educations we have the System of National education regulations or Undang-Undang Sisdiknas number 20 year 2003. And we have the teacher and lecture regulations. And also many of regulations as Peraturan Pemerintah number 55 year 2007 and the other. All of the regulation implemented for the development of educations at all.

The goals of certification program is to up the teacher and lecturer welfare. By this program, government want to improve the welfare of economic condition in order to Guru and dosen can concentrate to their works and duties. By this regulation, we all hope the improvement of education in various grade and level.

The third, human resource development. The position of HRD is very important. In the case of Indonesia, we have not good rank in the HRD progress. In the Islamic higher education the indicator for knowing the development of HRD is how many doctors of philosophy and professor they have.

The fourth, Monitoring and evaluation. A good program must be evaluated by the monitoring and evaluation. We don’t know the program bad or good in the implementation if it is no monitoring and evaluation.

The Fifth, data and information. For knowing about the development of Islamic higher education, so we have an EMIS or electronic management of Islamic School. This program is funded by budgeting of MORA. By this program we know about the data of Islamic education from Madrasah Ibtidaiyah or Elementary school until Islamic higher education.

 The sixth, quality assurance. All of our educations institution have the internal quality assurance by the name Kantor Jaminan Mutu or the Office of Quality Assurance. This office has program for ensure that their quality is good or bad. They have indicators for assure the quality of the study program not only about processing of learning by lecture and student, but the quality of institutions at all.

The seventh, accountability of program implementation. Now we live in the era of transparency. We have the regulation for ensuring that the process and product of our program can be evaluated by the other institution for example NGO or the other. Because of that, all of the institution must be avoid about the deviation for using budget and so on.