• June 2026
    M T W T F S S
    « May    
    1234567
    891011121314
    15161718192021
    22232425262728
    2930  

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

SEKALI LAGI KONSEP “DIAM” DALAM ISLAM

SEKALI LAGI KONSEP “DIAM” DALAM ISLAM

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Diam tentu konsep yang sangat penting di dalam Islam. Begitu pentingnya maka mendapatkan perhatian yang sangat mendasar di dalam berbagai kitab, salah satunya adalah Kitab yang dikaji oleh Pak Dr. Cholil, Nashaihul ‘Ibad, karya Imam Nawawi Al Bantani. Saya ingin membahas sekali lagi konsep ini, setelah kemarin saya bahas mengenai “Diam Sebagai Tindakan Kearifan”.

Sebagaimana Nabi Muhammad SAW telah menyatakan di dalam haditsnya bahwa: “Barang siapa mempercayai Allah dan hari kiamat, maka hendaknya berkata yang baik atau lebih baik diam”. Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Bukhori. Jadi yang dikehendaki oleh Allah adalah berkata yang baik, dan diam jika tidak dapat berkata yang baik. Tentunya ada kriteria perkataan yang baik dan ada perkataan yang jelek, atau ada kriteria dalam berkata dan ada kriteria diam. Hal ini agar kita tidak jatuh pada generalisasi bahwa semua perkataan jelek dan diam itu baik. Ada perkataan yang baik yang harus dilakukan dan ada perkataan jelek yang lebih baik diam.

Marilah kita bahas persoalan ini dalam tiga hal, yaitu: pertama, perkataan yang baik atau perkataan yang amar ma’ruf dan nahyi mungkar. Di sinilah tempat bagi kaum da’I dalam menyebarkan Islam. Tetapi harus tetap berada di dalam konteks menyatakan yang perlu dan yang perlu dinyatakan. Jangan sampai para da’I juga melakukan Tindakan menyebarkan ujaran kebencian, hoaks atau berkata yang berkepatutan  sesuai dengan prinsip komunikasi di dalam Islam. Prinsip misalnya qaulan layyinan atau berbicara dengan lemah lembut atau berkata qaulan kariman atau perkataan yang memuliakan manusia.

Perkataan atau pernyataan yang mengandung nilai-nilai keagamaan, seperti menjelaskan tentang keadilan, kesamaan, toleransi, kerukunan, dan keselamatan dan nilai kesopanan, keutamaan ajaran Islam dan sebagainya tentu dianjurkan, akan tetapi perkataan atau pernyataan yang mengandung kebencian, permusuhan, kebohongan, pembunuhan karakter, ghibah, mengumpat  atau perkataan dan pernyataan yang bertentangan dengan kemualiaan Islam tentu dilarang oleh Islam.  Beragama berarti mengusung bagaimana membangun relasi dengan sesama manusia dalam coraknya yang bisa membahagiakan orang lain. Jangan sampai kit aitu beragama tetapi kehidupan kit aitu menyusahkan orang lain. Saya sangat suka dengan konsep doa di dalam agama Buddha yang menyatakan “semoga semua makhluk Bahagia”. Konsep ini sama dengan doa di dalam agama Islam: Wahai Tuhan kami berikan kepada kami keselamatan di dunia dan akherat”. Jadi tekanannya kepada kami, kita semua, bukan aku.

Kedua, diam di dalam ajaran Islam ini bermakna jangan menyatakan atau mengatakan sesuatu ucapan atau tulisan yang bisa melukai manusia atau pemeluk agama lain, suku lain dan golongan social lain. Prinsip utamanya adalah bagaimana membangun relasi social melalui pernyataan atau perkataan yang membuat orang lain senang dan Bahagia. Bahkan Islam mengajarkan bahwa “senyuman itu sedekah”. Kalau kita berkata dan membuat pernyataan yang membuat orang lain tertawa dan Bahagia, maka hal itu adalah sedekah yang murah tetapi bermanfaat. Komunitas Ngaji Bahagia (KNB) di Masjid Al Ihsan Ketintang Surabaya itu memiliki visi “mewujudkan komunitas Ngaji yang berbahagia”. Oleh karena itu tema-temanya ajaran Islam yang dikemas dengan konten kebahagiaan. Dengan tertawa maka akan muncul parasaan Bahagia.

Bagi saya, bahwa selama seseorang masih bisa tertawa maka peluang kebahagiaan itu masih ada. Bandingkan dengan orang yang ketagihan narkoba, maka dipastikan bahwa hidupnya akan penuh dengan kesulitan, dan untuk memenuhi kebutuhan atas zat adiktif dimaksud, maka terpaksa harus menyayat tubuhnya sendiri, dan menghisap darahnya untuk memenuhi kebutuhan perasaannya. Mereka merasakan tidak ada lagi kesusahan atau kesedihan tetapi semu. Berbeda dengan orang yang bisa tertawa yang bisa menghasilkan kebahagiaan.

Ketiga, sekali lagi diam itu tidak dimaksudkan dalam kebaikan dan Upaya untuk melakukan kebaikan. Misalnya kita ngaji bareng-bareng bada subuh Surat Al Waqiah yang dibaca Bersama maka itu bukan menghasilkan kebisingan akan tetapi menghasilkan rasa damai sesudah membacanya. Bacaan keras ayat Al Qur’an itu akan turut serta didengarkan oleh alam sekeliling kita, sehingga alam pun merasa berbahagian. Sayang belum ada penelitian bahwa alam sekitar yang ikut mendengarkan bacaan alqur’an juga marasakan kebahagiaan. Terhadap tumbuhan saya kira sudah ada hasil penelitiannya. Demikian pula mengenai keajaiban air yang didoakan.

Oleh karena itu jangan khawatir bagi orang yang sering membaca Surat Yasin atau membaa kalimat thayibah bersama-sama, dipastikan bahwa apa yang kita baca tersebut akan lebih dapat didengarkan oleh alam sekeliling kita. Coba kita pikirkan, bagaimana orang kesurupan makhluk halus lalu dirukyah tiba-tiba menjerit dan merasakan kehadiran bacaan ayat-ayat Alqur’an atau doa-doa lainnya. Hal itu berarti makhluk selain manusia  itu mendengarkannya.

Jadi adakalanya, kita berdoa dengan diam dan ada kalanya kita berdoa dengan suara lantang. Keduanya sama pentingnya di Tengah kehidupan social yang sekarang sedang terjadi. Dan mari kita berkeyakinan bahwa keduanya akan sampai kepada Allah SWT asal kita berada di atas garis kehidupan yang berisi syukur, sabar, tawakkal dan yang baik-baik, dan bukan di bawah garis tersebut, misalnya tidak bersyukur, suka marah, egois, merasa paling hebat dan seabrek pemikiran, sikap dan Tindakan yang mendegradasi makna doa.

Wallahu a’lam bi al shawab.

DIAM SEBAGAI TINDAKAN KEARIFAN

DIAM SEBAGAI TINDAKAN KEARIFAN

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Sungguh menarik ceramah yang disampaikan oleh Pak Cholil Uman, Dr, MPdI., yang memberikan ceramah agama di Masjid Al Ihsan Perumahan Lotus Regency Ketintang Surabaya. Sebuah ceramah yang sangat menarik dengan tema pembahasan tentang “Diam dalam perspektif ajaran Islam”. Acara ini dilakukan pada Selasa, 06/05/2025, diikuti oleh Komunitas Ngaji Bahagia (KNB) gabungan peserta dari Masjid Ar Raudhah Perumahan Sakura Regency Ketintang Surabaya dan jamaah Masjid Al Ihsan Perumahan Lotus Regency. Ceramah Pak Cholil menggunakan referensi Kitab Nashaihul Ibad.

Di dalam ceramahnya ini Pak Cholil mengupas tentang manfaat diam dalam konteks ajaran Islam dan kehidupan manusia, khususnya masyarakat Islam. Ada tiga hal yang akan saya bahas tentang ceramah Pak Cholil dimaksud. Pertama, sebuah hadits Nabi Muhammad SAW memberikan gambaran tentang bagaimana seharusnya akhlak umat Islam di dalam kehidupannya untuk relasi social yang harus dilewatinya. Ternyata “diam” menjadi kata kunci penting di dalam kehidupan. Orang yang diam ternyata memperoleh apresiasi yang sangat tinggi di hadapan Allah SWT. Rasulullah SAW menjelaskan di dalam salah satu haditsnya: “barang siapa beriman kepada Allah dan hari kiamat, hendaknya berbicara yang baik atau lebih baik diam”. Islam mengajarkan agar umat Islam tidak banyak omongnya sehingga banyak kesalahannya. Katsir kalam dalam Bahasa Arab suqiyah, ternyata tidak dikehendaki di dalam ajaran Islam. Umat Islam hendaknya berkata-kata yang baik, jika tidak bisa melakukannya, maka hendaknya diam. Banyak kerja dan bukan banyak kata. Di dalam peribahasa Indonesia dinyatakan: “tong kosong nyaring bunyinya”. Artinya orang yang banyak omong itu menandakan bahwa ilmunya tidak dalam”. Masyaallah.

Kedua, ada sejumlah manfaat “diam” di dalam ajaran Islam, yaitu: diam adalah awal ibadah. Diam itu merupakan awalnya ibadah kepada Allah. Ibadah itu, misalnya shalat tentu yang diperkenankan untuk membaca bacaan yang jahr hanyalah imam saja, sementara itu makmumnya harus berada di dalam nuansa diam. Bayangkan jika di dalam shalat berjamaah lalu, terjadi kesamaan membaca doa dalam keras, maka tentunya akan terjadi crowded. Tentu akan tidak bisa konsentrasi. Ibadah di dalam diam itu untuk membangun konsentrasi di dalam ibadahnya. Konsentrasi atau focus atau khusyu’ merupakan persyaratan agar ibadah diterima oleh Allah. Tanpa kekhusyuan maka ibadah akan menjadi sia-sia.

Tidak hanya di dalam ibadah yang diharuskan untuk berada di dalam konsentrasi penuh, tetapi juga di dalam relasi social. Umat Islam  diminta untuk tidak melakukan Tindakan yang dapat menyebabkan adanya ketidakserasian social, misalnya banyak menggunjing, banyak membulli, dan banyak melakukan kebohongan atas apa yang diucapkan. Lakukan pembicaraan sesuai dengan kepentingannya, sesuai dengan keperluannya. Omong yang penting dan yang penting diomongkan. Bicara yang perlu dan dibicarakan yang perlu. Jika prinsip ini dapat dilakukan, maka keselamatan akan didapatkan. Adanya kesalahpahaman, yang paling banyak diakibatkan karena omongan yang salah. Lalu, diam itu meningkatkan ibadah. Sekali lagi bahwa jika tidak banyak mengumbar omongan, maka dampaknya adalah ibadah kita akan meningkat. Orang yang sudah memasuki dunia ibadah yang sungguh-sungguh, maka akan dapat menghasilkan perilaku yang menghargai orang, yang memanusiakan manusia. Para waliyullah atau walisongo itu adalah orang yang mengajarkan Islam dengan perilaku dan bukan hanya dengan ucapan. Perilakunya menjadi contoh. Itulah sebabnya, Allah mengingatkan di dalam Alqur’an, bahwa: “sebuah dosa bagi seseorang di sisi Allah tentang perkataan yang tidak dilakukannya”. Jadi berdakwah atau menyebarkan ajaran Islam itu akan lebih afdhal dengan kesesuaian antara perkataan dan pernyataan. Masyaallah.

Berikutnya, diam itu seutama-utamanya ibadah. Bahkan dinyatakan bahwa diam itu lebih utama dibandingkan shalat dan puasa. Bagaimana kita memahami pernyataan ini? Diam ternyata menjadi kunci ibadah, shalat dan puasa. Di dalam shalat harus focus dan itu artinya kita memanfaatkan batin dan ucapan yang seharusnya dibaca dengan batin dan pikiran atau hati. Jika kita tidak mampu melakukannya, maka shalat kit aitu akan sia-sia. Khusyu’ adalah persyaratan di dalam ibadah shalat. Demikian pula puasa. Di dalam puasa itu tidak boleh menggunjing, dan yang pasti menggunjing itu dengan ucapan. Tidak ada menggunjing yang dilakukan sendirian, pasti ada kawannya. Puasa itu perisai diri agar kita tidak melakukan Tindakan yang dapat merusak pahala puasa, dan salah satunya adalah menggunjing atau menggosip. Termasuk kala kita menunaikan haji, maka kita juga diminta untuk tidak melakukan gunjingan, berbuat kefasikan dan berdebat yang tidak ada manfaatnya. Jadi diam merupakan Tindakan yang sangat baik.

Kemudian, diam itu perhiasan bagi orang-orang alim. Orang yang berilmu itu orang yang memahami secara mendalam tentang pengetahuannya. Dan yang bersangkutan akan menjaga agar melakukan yang terbaik dengan ilmunya. Mereka akan menempatkan pembicaraan sesuai dengan maqam dan tempatnya. Tidak berbicara dengan ilmunya kecuali dalam keyakinan akan kebenaran apa yang disampaikannya. Mereka akan menyampaikan yang benar dan diyakini kebenarannya.

Ketiga, ajaran tentang diam, sebenarnya merupakan ajaran Islam yang sangat substansial. Nabi Muhammad SAW seakan telah memprediksi akan terdapat  suatu zaman dimana pergunjingan, bullying, gossip justru menjadi komoditas. Zaman itu adalah zaman sekarang, suatu zaman yang banyak hiruk pikuk tentang konten media social. Melalui media social maka terdapat komodifikasi yang luar biasa. Betapa berseliweran di Tengah media social tentang gossip, bergunjing, bullying yang seakan menjadi ruh media social. Bahkan agamapun bisa menjadi komoditas, karena di dalam media social tersebut terjadi proses untuk saling menyalahkan di ruang public.

Sungguh ajaran Islam ini patut menjadi renungan. Jika di masa lalu, mulutmu harimaumu, maka sekarang tanganmu menjadi harimaumu. Inilah realitas social yang sedang kita hadapi dewasa ini.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

MEMAHAMI PENGALAMAN RELIGIUS

MEMAHAMI PENGALAMAN RELIGIUS

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Artikel  ini merupakan tulisan lanjutan atas tulisan saya sebelumnya yang membahas tentang mati suri atau koma dengan judul “Pak Harun Dalam Pengalaman Religius Selama 11 Hari”.  Di dalam tulisan itu saya jelaskan tentang pengalaman religious yang bercorak individual. Ceramah ini saya sampaikan dalam pengajian Selasanan pada Komunitas Ngaji Bahagia (KNB) di Masjid Al Ihsan Perumahan Lotus Regency yang diikuti oleh jamaah Masjid Ar Raudhah dan masjid Al ihsan, 29/04/2025. Ada tiga aspek yang saya jelaskan, yaitu:

Pertama, pengalaman religious merupakan bagian dari kajian psikhologi agama yang menekankan pada aspek pengalaman individual dalam konteks the experience of the holy atau pengalaman beragama.  Artinya bahwa pengalaman itu tidak bisa diduplikasi bahkan oleh yang empunya pengalaman. Sangat individual. Kebanyakan orang yang memiliki pengalaman adalah orang yang memiliki “kedekatan” khusus dengan Dzat Yang Maha Gaib. Pengalaman religious hanya dapat diperoleh melalui “kesamaan” gelombang antara manusia dengan kekuatan gaib. Sama seperti Peter Carey kala ditanya adakah Kanjeng Nyai Roro Kidul, maka jawabannya bahwa tergantung pada gelombang yang sama. Jika gelombangnya sama maka akan merasakan kehadirannya. Tetapi yang tidak memiliki gelombang yang sama dipastikan tidak akan memperoleh pengalaman dimaksud.

Mati suri merupakan bentuk pengalaman religious yang unik. Pengalaman pribadi seseorang yang telah meninggal secara klinis dan  akhirnya hidup kembali. Orang bisa berada di dalam naunsa mati, belum titik, di dalam kehidupan dan merasakan berbagai pengalaman di masa lalu yang diputar ulang. Semua dipertunjukkan dan semua diputar seperti memutar film tentang masa lalu. Pengalaman tersebut berupa pengalaman yang menyenangkan dan bisa juga pengalaman yang menyesakkan. Dalam kasus Pak Harun, sebagaimana tulisan sebelumnya maka didapati pengalaman yang menyenangkan yaitu di kala melakukan relasi social yang baik, dan merasakan penyiksaan di kala melakukan relasi social yang jelek.

Kedua, berdasarkan realitas empiris, maka ada beberapa pendekatan dalam memahami pengalaman religious, termasuk mati suri. Pandangan kaum atheis atau gnostis. Di dalam pendangan filsafat materialism atau positivism ini, maka yang tidak bisa diinderakan tentu bukanlah sesuatu yang bisa dinyatakan sebagai kebenaran. Jadi mereka tidak percaya ada kekuatan yang berbasis pada pengalaman religious. Tuhan tidak ada, dan kegaiban juga tidak ada. Yang ada hanya materi. Jadi jika manusia mati, maka disebabkan oleh rusaknya bagian tubuh manusia, misalnya jantung, paru-paru, otak, dan sebagainya. Kerusakan pada salah satu dari organ tersebut menyebabkan kematian. jadi gak ada dimensi roh atau bahkan jiwa. Yang ada hanya fisik belaka.

Lalu pandangan kaum agamawan. Di dalam pandangan ini, bahwa manusia terdiri dari sekurang-kurangnya jiwa dan raga. Jiwa itu abstrak sedangkan raga itu fisikal. Saya menyatakan bahwa manusia memiliki tiga dimensi, yaitu fisik atau raga, jiwa atau nafsu dan roh. Orang dinyatakan mati jika rohnya, bukan jiawanya, yang meninggalkan fisik atau raganya. Roh itu datang dari Tuhan dan akan Kembali kepada Tuhan. Roh itu bagian dari Tuhan, saya tidak berani menyatakan secara lebih tegas, karena Roh adalah tiupan Tuhan di kala manusia masih berada di dalam Rahim ibundanya. Sebagai tiupan Tuhan maka ada yang ditiupkan dan itulah yang disebut sebagai roh. Orang yang kemampuan paru-parunya di bawah 30 persen, maka peluangnya untuk mati lebih besar. Bisa tetap hidup jika dilakukan Upaya untuk membantu pernafasan dan mempertahankan organ tubuh lainnya. Bahkan ada orang yang bertahun-tahun berada di dalam nuansa koma, tetapi hidupnya tergantung pada alat-alat yang dipergunakan untuk mempertahankan hidupnya.

Di dalam ajaran Islam, bahwa kematian adalah haq atau kepastian, kapan datangnya kematian tidak ada yang tahu. Kapan ajal akan datang tidak ada yang memgetahuinya. Itu adalah hak Allah yang bersifat azali. Bahkan kala Nabi Muhammad SAW ditanya tentang Roh, maka Nabi menyatakan bahwa Roh adalah urusan Tuhan, dan kita hanya dibekali ilmu yang sangat sedikit. Bagaimana dengan suntik mati untuk orang yang sudah tidak berpeluang hidup dengan baik, maka disitulah takdir itu berlaku. Sesuai dengan takdir Tuhan, maka instrument kematian itu terjadi.

Ketiga, tentang mati suri sebagaimana diceritakan oleh Pak Harun, kiranya bisa diambil Pelajaran bahwa ternyata manusia yang beriman atau tidak beriman sesungguhnya akan mengalami “kehidupan” sesudah kematian. di kala seseorang mati suri itu ditunjukkan bahwa ada pengalaman kehidupan yang bisa diputar ulang oleh alam gaibnya, dan hal tersebut nyata atau fakta empiris transcendental. Bukan hasil rekayasa seseorang tetapi benar-benar sebuah fakta yang meyakinkan tentang keberadaan kehidupan sesudah kematian.

Jika keyakinan kita seperti itu, maka saya menjadi teringat akan lagunya Ebiet G. Ade, yang berjudul “Masih ada Waktu”. (nursyamcentre 06/03/23). Sebuah lagu yang perlu untuk direnungkan. Mumpung masih ada waktu hendaknya kita “…mumpung masih ada lesempatan buat kita,  mengumpulkan bekal perjalanan abadi, kita mesti bersyukur bahwa kita masih diberi waktu entah sampai kapan tak ada bakal yang dapat menghitung… Yang terbaik hanyalah  segera bersujud mumpung kita masih diberi waktu”.

Wallahu a’lam bi shawab.

 

PAK HARUN DALAM PENGALAMAN BERAGAMA SELAMA 11 HARI

PAK HARUN DALAM PENGALAMAN BERAGAMA SELAMA 11 HARI

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Sayang sekali saya datang terlambat dalam acara yang sangat special yaitu ceramah yang dilakukan oleh Pak Dr. Harun, Mantan Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur, di Masjid Ar Raudhah, Perumahan Sakura, Ketintang Surabaya, 28/04/2025. Acara pengajian tersebut dilakukan secara rutin, hari Sabtu ba’da Shubuh, selama kurang lebih 90 menit dengan peserta jamaah Masjid Ar Raudhah dan juga Masjid Lotus.

Ceramah ini benar-benar khusus sebab mengupas pengalaman beragama yang sangat special, koma atau mati suri. Cerita tersebut terjadi pada tahun 2023 yang lalu. Acara ini dihadiri oleh Pak Mulyanta, ketua RW 08, Pak Abdullah, Ketua RT 02, Pak Bintara, Ketua Takmir Masjid Ar Raudhah, Pak Sahid Sumitro, trainer SDM, dan lainnya yang tidak saya sebutkan namanya. Saya mencoba memahami ceramah Pak Harun dalam tiga aspek, yaitu:

Pertama, bahwa pengalaman untuk mati suri atau koma itu bersifat khusus, tidak bisa diduplikasi oleh orang lain. Pengalaman ini begitu special sebab memberikan pelajaran khususnya terkait dengan apa yang sudah dilakukan di dalam kehidupan. Semua digambarkan dengan transparan, baik dan buruk. Sebuah pengalaman yang bisa diceritakan dan ada yang tidak bisa diceritakan. Ada yang bisa dijadikan pedoman oleh banyak orang dan ada yang khusus untuk pribadi. Pak Harun dinyatakan koma. Jika mati suri maka sudah dinyatakan mati secara klinis, tetapi jika koma itu masih dalam keadaan belum mati secara klinis.

Menurut Pak Harun, berdasarkan kenyataan, bahwa orang yang dimasukkan di dalam ruang utama atau ruang I di Intensive Care Unit, adalah mereka yang sudah tidak ada peluang untuk sembuh. Semuanya wafat. Memang yang dimasukkan di situ adalah orang yang sudah memiliki potensi kematian cukup besar. Di dalam ilmu kedokteran, gerak paru-parunya sudah di bawah 20 persen. tetapi dengan kondisi paru-paru yang seperti itu, maka lama kelamaan fungsi organ lainnya akan semakin menyusut. Makanya, lalu ditopang oleh alat pacu jantung, alat oksigen untuk membantu paru-paru agar tetap normal.

Di dalam 11 hari itulah semuanya dipertontonkan. Amal baik dan buruk ditunjukkan. Yang membuat sakit adalah kala amal kejelekan itu dipertontonkan. Maka terasa ada dentuman besar yang membuat manusia merasakan begitu beratnya. “saya merasakannya”, demikian penuturan Pak Harun. Ada suara bising, dentuman dan terasa fisik ditonjok-tonjok dengan keras. Sakit sekali. Sudah tidak bisa lagi digambarkan bagaimana tingkat kesakitannya. Jika ada orang datang, maka dapat diketahuinya. Bahkan orang bicara apa juga didengarnya. Tetapi badan sama sekali tidak bisa bergerak. Lumpuh. Mulut terkunci. Sepertinya roh sudah terlepas dari badan tetapi masih berada di dekat fisiknya. Itulah sebabnya roh masih bisa melihat apa yang diperlakukan orang terhadap dirinya.

Kedua, melalui mati suri atau koma ini kita dapat mengingat semua kejadian di masa lalu, semenjak kita sudah bisa menalar atau berkesadaran sebagai manusia. Tindakan terhadap kawan dan lawan semuanya dipertontonkan. Relasi social yang baik dan buruk juga tergambar dengan jelas. Yang paling sedih jika relasi kita jelek. Itulah yang terasa menyakitkan. Subhanallah betapa sakitnya kala hubungan sesama manusia jelek. Oleh karena itu jangan melakukan perbuatan jahat kepada sesama manusia.

Perkara hubungan dengan Allah dalam bentuk shalat atau dzikir itu urusan persoalan privat atau masalah pribadi kita kepada Allah, tetapi yang paling berat adalah masalah dengan sesama manusia. Makanya, berbuat baiklah kepada sesama manusia agar kita tidak merasakan masalah nantinya di alam kubur. Kita ini sudah melakukan ibadah kepada Allah semenjak kecil dan terus kita lakukan, tetapi hubungan dengan sesama manusia, hablum minallah, itu plus dan minus. Ada kalanya baik dan ada kalanya jelek. Hindari benar perbuatan yang jelek terhadap sesama manusia. Satu musuh terasa berat dibandingkan dengan 1000 kawan. Upayakan agar kita dapat  terus berbuat baik.

Ketiga, amalan terbaik di dalam kehidupan adalah sedekah. Jika kita orang yang rajin sedekah maka itulah yang akan menolong kita di alam kubur. Saya banyak dipertontonkan tentang amalan sedekah di dalam kehidupan. Makanya, ketika sadar, maka yang saya minta kepada istri adalah untuk mensedekahkan uang yang saya miliki. “jangan pulang sebelum uang itu habis untuk sedekah”. Sehari penuh istri saya bersedekah”. Demikian tukas Pak Harun.

Menurut Pak Harun, ada dua hal yang seharusnya dilakukan oleh manusia di kala hidup, yaitu berbuat baik kepada sesama manusia. Jangan ada kebencian, jangan ada rasa ingin menyakiti orang lain, jangan berprasangka buruk kepada orang lain. Hanya ada satu kata: “berbuatlah yang baik kepada sesama manusia”. Titik. Lalu yang sangat penting adalah sedekahlah. Jangan pelit untuk melakukan sedekah kepada orang lain, terutama orang yang tidak beruntung hidupnya. Upayakan untuk bersedekah. Inilah yang akan menolong manusia di alam kubur. Semua rekaman di dalam mati suri itu menggambarkan keduanya. Inilah kenikmatan yang dapat dirasakan. Sedangkan yang perilaku jelek itu juga dirasakan sakitnya.

Pengalaman religious atau di dalam Bahasa psikhologi agama disebut sebagai the experience of the holy memang bersifat individual. Ada orang yang mati suri hanya dalam beberapa jam, maka yang dirasakannya diajak pergi ke suatu tempat akan tetapi dapat kembali karena mendengar jeritan anaknya, dan ada juga yang dipesan agar jangan menyekutukan Tuhan. Jadi memang cerita tentang mati suri adalah cerita individual.

Namun demikian ada pelajaran penting dari peristiwa mati suri atau koma, bahwa dunia kegaiban yang berupa roh adalah realitas transcendental, bahwa pengalaman kematian ini memberikan realitas bahwa kenikmatan dan kesengsaraan bukanlah isapan jempol belaka, akan tetapi realitas empiris transcendental yang nyata adanya.

Jadi kita tidak boleh hanya menggunakan empiris sensual atau penginderaan saja untuk menemukan kebenaran, atau empiris rasional atau pemikiran saja, sebab ada juga kebenaran yang berbasis empiris transcendental yang bersumber dari dunia keyakinan. Alam selain alam dunia ternyata ada. Bukan sesuatu yang gaib, tetapi sesuatu yang nyata adanya. Hanya saja memang didahului oleh keyakinan.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

BERTERIMA KASIH KEPADA NON MUSLIM, BAGAIMANAKAH?

BERTERIMA KASIH KEPADA NON MUSLIM, BAGAIMANAKAH?

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Di dalam pengajian ini (Selasa, 22/04/2025), saya juga sempat menyampaikan bahwa berterima kasih itu tentu tidak hanya dikaitkan sengan sesama agama, yang tentu saja jawabannya sudah jelas. Harus dilakukan. Berterima kasih kepada sesama manusia, umat Islam, tentu perbuatan yang sangat terpuji di hadapan Allah SWT. Jika kita berterima kasih kepada manusia, khususnya kepada sesama umat Islam, tentu Allah sangat menyukainya.

Akan tetapi bagaimana dengan terima kasih kepada umat non muslim. Apakah juga harus dilakukan atau tidak boleh dilakukan. Maka menurut saya, bahwa konteks Hadits Nabi Muhammad SAW tersebut sangat umum. Konteksnya bersyukur kepada manusia, bukan hanya bersyukur kepada umat Islam saja. “Fa man lam yaskurin nas lam yaskurillah”. Khitab hadits ini adalah kepada manusia dan tidak hanya kepada umat Islam. Jadi bersyukur kepada umat non muslim diperbolehkan. Jika ada umat non muslim yang berbuat baik kepada kita maka kita harus mengucapkan terima kasih.

Di dalam pengajian yang diselenggarakan oleh Komunitas Ngaji Bahagia (KNB) di Masjid Al Ihsan Perumahan Lotus Regency Ketintang Surabaya, terdapat sebuah pertanyaan menarik dari jamaah, Pak Suryanto, terkait dengan  apakah mendoakan kepada non-muslim itu boleh atau tidak, sebab saya pernah mendengarkan pengajian bahwa mendoakan orang non muslim itu tidak diperbolehkan. Sebuah pertanyaan yang tidak mudah untuk menjawabnya.

Saya akan mencoba memberikan jawaban sesuai dengan nalar keagamaan yang saya miliki. Jangan dibayangkan saya akan menggunakan dalil-dalil agama yang tentu tidak mudah didapatkan. Setelah saya merenung sampailah saya pada jawaban, bahwa berdoa untuk orang non muslim itu boleh. Dengan catatan, yaitu mendoakan keselamatan untuk kehidupan yang bersifat duniawi tentu tidak ada halangan. Misalnya, selamat ulang tahun, selamat jalan, salam Bahagia, selamat menunaikan pernikahan, selamat memiliki putra atau putri, bahkan selamat beribadah. Yang bisa debatable adalah mengucapkan doa keselamatan untuk akherat, karena di sini ada masalah teologis yang jelas. Jadi misalnya mendoakan agar mereka mendapatkan keselamatan di akherat. Ini bisa jadi sebuah paradoks, sebab muslim dan non  muslim memiliki dimensi teologis yang membatasi dengan tegas, ini agamaku dan itu agamamu. Ini keyakinanku dan itu keyakinanmu. Lakum dinukum waliyadin.

Di dalam relasi antar umat beragama tentu yang dijadikan patokan adalah saling menghargai. Saya menghargai umat yang beragama lain dan umat beragama lain juga menghargai saya. Ini prinsipnya. Melalui cara penghormatan satu dengan lainnya, maka akan terbentuk sikap untuk tidak saling menyalahkan dan membenarkan diri sendiri. Beragama itu urusan keyakinan dan prinsip ini yang harus dipahami. Ada ruang secara internal membenarkan agamanya sendiri atau truth claimed, dan ada ruang eksternal yang kita harus bernegosiasi tentang kebenaran masing-masing. Di dalam ruang internum kita dapat  meyakini dan bahkan harus meyakini keyakinan kita secara bulat, akan tetapi di ruang eksternum maka kita dapat menghargai keyakinan orang lain.

Dengan cara seperti ini, maka kita dapat berkawan dengan siapa saja dan bisa bersahabat dengan siapa saja. Kita akan dapat membangun kehidupan dalam lintas agama, tanpa prasangka dan sikap yang berlebihan. Saya terbiasa untuk saling mengucapkan selamat hari raya, dan saya menjalaninya dengan enjoy saja. Tidak ada perasaan saya berkurang keimanan saya, dan saya juga merasa hal ini sebagai kewajiban kemasyarakatan kewajiban ijtima’iyah.

Mungkin ada di antara kita yang tidak setuju dengan pandangan ini. Bagi sekelompok orang tertentu yang beranggapan keabsolutan relasi social, maka hal seperti ini pasti merupakan kekeliruan berpikir. Tetapi bagi saya yang absolut itu dimensi teologis dan ritual, tetapi di dalam relasi social kemanusiaan tidak mutlak berlaku absoluditas keyakinan tersebut. Bagi saya bahwa umat Islam boleh berhubungan dengan sesama muslim dan tentu juga boleh berhubungan social dengan umat non muslim. Ada ukhuwah insaniyah atau persaudaraan sesama manusia yang  menjadi kewajiban kita.

Dimensi internum memang mutlak atau absolut, tidak boleh bergeser sedikitpun, akan tetapi di dalam relasi eksternum bisa plus dan minus. Ada ruang hablum minallah yang pasti tidak bisa digeser, dan ada ruang hablum minan nas yang bisa dilakukan negosiasi antar manusia. Orang bisa saling menghormati, orang bisa saling berterima kasih dan orang bisa saling berbagi kebaikan untuk kepentingan duniawi.

Inilah prinsip yang sebaiknya digunakan di dalam membangun persaudaraan sesama umat manusia. Islam  sudah mengajarkannya dengan sangat baik. Saya yakin bahwa dengan cara seperti ini, maka kehidupan di dunia akan penuh dengan kebaikan, kebahagiaan dan keselamatan.

Wallahu a’lam bi al shawab.