Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

KUNCI SURGA DI TANGAN KITA: KASIH SAYANG RASULULLAH

KUNCI SURGA DI TANGAN KITA: KASIH SAYANG RASULULLAH

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Saya ingin menuliskan ceramah Ustadz Dr. Cholil Uman, MPdI, dosen Prodi Bimbingan dan Konseling Islam, FDK UINSA, pada acara ceramah Maulid Nabi Muhammad SAW di Masjid Al Ihsan di Perumahan Lotus Regency Ketintang Surabaya, Sabtu, 13/09/2025. Acara peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang diikuti oleh warga Lotus Regency, Jamaah Ngaji Bahagia dan para undangan lainnya.

Acara ini diramaikan dengan tetabuhan Rebana untuk melantunkan lagu-lagu sanjungan kepada Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Dipastikan juga ada acara mahalul qiyam dengan bacaannya yang khas: “rabbi faghfirli dzunubi Ya Allah bibarkatil Hadi Muhammad Ya Allah. Lantunan doa yang menggambarkan kepasrahan diri untuk memperoleh ampunan Allah dan berkah Nabi Muhammad SAW.

Ada tiga hal yang disampaikan oleh Ustadz Cholil di dalam ceramahnya, yaitu: pertama, mengapa kita mencintai Rasulullah dengan menyelenggarakan acara maulid Nabi Muhammad SAW? Jawabannya tidak sulit tetapi juga tidak mudah. Ada yang menjawab karena Muhammad SAW adalah utusan Tuhan, ada yang menjawab: karena ada hadits yang menyatakan bahwa Rasulullah menyayangi orang yang melakukan acara untuk memperingati hari kelahirannya. Tetapi jawaban yang mudah karena Rasulullah Muhammad SAW sudah memberikan kunci kepada umatnya agar Bahagia di akherat atau di Surga. Kunci itu adalah kalimat tauhid “La ilaha illallah” yang artinya tidak ada Tuhan selain Allah. Miftahul Jannah la ilaha illallah. Jika kita mengamalkan bacaan kalimat tauhid, kapan dan di mana saja maka kita dipastikan akan masuk surganya Allah. Kita harus optimis. Kita harus husnuddhon kepada Allah, bahwa Allah itu maha Rahman dan Rahim. Dengan kasih sayang Allah itulah kita akan menjadi penghuni surga. Jangan pessimis. Harus optimis. Harus yakin dengan bekal kalimat tauhid kita akan mendapatkan Rahman dan rahimnya Allah SWT.

Di kalangan Masyarakat Islam di Indonesia terdapat kegiatan tahlilan, yang intinya adalah berkumpul untuk melantunkan kalimat tauhid. Di desa-desa, di kampung-kampung dan bahkan pada Masyarakat perkotaan terdapat aara tahlilan atau acara membaca kalimat thayibah, la ilaha illallah. Setiap hari Kamis malam Jum’at kita dengarkan di masjid-masjid, di mushallah-mushalla terdapat orang yang membaca tahlil. Jika kita membaca tahlil itu di masjid, maka ada banyak tetangga kita yang mendapatkan manfaatnya. Tetangga itu sebanyak 40 tetangga. Jadi tetangga kanan sebanyak 40 tetangga, tetangga kira sebanyak 40 tetangga muka dan belakang juga masing-masing 40 rumah. Inilah kehebatan ajaran Islam yang dapat memberkahi kepada umat Islam yang menjadi tetangga kita.

Kedua, pada suatu Ketika, Aisyah ditanya oleh sahabat Nabi, dan ditanyakan bagaimanakah akhlak Rasulullah itu. Aisyah bingung mau menjawab dari mana, sebab akhlaknya Rasulullah itu sangat luar biasa baiknya dan banyak sekali yang pantas menjadi teladan dari umat Islam. Aisyah diam dalam waktu sejenak, dan kemudian menyatakan bahwa akhlaknya Rasulullah itu adalah Alqur’an. Apa yang ada di dalam Alqur’an itu adalah apa yang menjadi akhlak Rasulullah Muhammad SAW.

Jika kita sarikan, maka da tiga akhlak Rasulullah Muhammad SAW, yaitu: 1) fi ahsani taqwim. Rasulullah itu selalu berpenampilan terbaik. jadi bukan hanya diciptakan sebagai makhluk terbaik, akan tetapi sosok Nabi yang selalu berpenampilan baik. Nabi itu pakaiannya necis. Bukan pakaian sembarangan. Tidak harus berbahan mahal, bahannya sederhana tetapi menunjukkan gaya berpakaian yang baik. di dalam tradisi Jawa ada pepatah menyatakan: ajining diri ono ing pribadi, lan ajining saliro ono ing busono. Harga diri itu ada di kepribadian, harga badan itu ada pada pakaian. Rasulullah itu paham betul tentang penampilan yang baik. beliau lemah lembut jika berbicara, tidak pernah marah, tidak pernah berbuat yang membuat orang lain tidak nyaman. Pernah suatu Ketika, Nabi Muhammad itu diberi makanan. Meskipun rasanya tidak enak, maka semuanya di makan. Hal ini untuk menyenangkan pada orang yang memberinya. Bahkan pada sahabat pada heran, sebab biasanya kalau Nabi Muhammad diberi makanan, maka dibaginya dengan para sahabat. Tetapi kali ini lain. Makanan itu dihabiskannya sendiri. ada sahabat yang tanya, mengapa makanan itu tidak dibagi kepada para Sahabat, karena Nabi Muhammad khawatir jika ada sahabatnya yang kecewa dan mencaci makanan. Begitulah akhlak Rasulullah tidak pernah mencaci makanan yang dihidangkan.

2) Nabi Muhammad itu ahsanil qaul atau teladan dalam ucapan. Nabi itu orang yang berkata dengan lemah lembut atau berkata dengan qaulan layyinan. Nabi itu berkata dengan qaulan balighan perkataan yang jelas dan apa adanya. Nabi itu berkata dengan qaulan kariman atau perkataan yang memuliakan. Semua perkataan Nabi adalah sebagaimana yang dinyatakan di dalam Alqur’an. Ini yang disebut akhlaknya Nabi adalah Alqur’an. Terhadap makanan saja Nabi tidak pernah mencela apalagi terhadap sesama manusia.

3) Nabi Muhammad SAW itu Ahsanul khaliqin sebaik-baik akhlak. Nabi Muhammad adalah teladan manusia. Sebagaimana dinyatakan di dalam Alqur’an bahwa “sesungguhnya bagimu pada diri Nabi Muhammad adalah teladan yang baik” atau uswah hasanah. Dengan meneladani Nabi Muhammad SAW di dalam kehidupan, maka kita akan menjadi selamat. Melalui peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW, maka marilah kita baca shalawat sebanyak-banyaknya, mari kita lakukan sunnah-sunnahnya, dan mari kita teladani akhlaknya yang agung.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

JADIKAN NABI MUHAMMAD SAW BERADA DI TENGAH KEHIDUPAN

JADIKAN NABI MUHAMMAD SAW BERADA DI TENGAH KEHIDUPAN

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Di dalam Komunitas Ngaji Bahagia (KNB), selalu ada hal-hal yang membuat semua peserta pengajian tertawa. Bagi jamaah Ngaji Bahagia bahwa ngaji merupakan medium untuk membuat hati gembira atau happy dan bahagia. Tidak ada salahnya kalau komunitas ini menyebutnya sebagai Komunitas Ngaji Bahagia. Itu juga yang didapati pada saat melaksanakan pengajian pada Selasa, 09/09/2025.

Saya sebagaimana biasanya diminta untuk menjadi pengantar diskusi. Pengajian ini benar-benar pengajian interaktif, sebab semua peserta pengajian mendapatkan peluang untuk mengajukan pertanyaan atau memberikan bahasan atas ceramah yang dilakukan ba’da shubuh tersebut. Kali ini saya memberikan pengantar tentang betapa hebatnya Kanjeng Nabi Muhammad SAW sehingga di kala Beliau di suatu tempat, maka tidak akan pernah Allah SWT memberikan bencana kepada manusia di tempat tersebut. Ada tiga hal yang saya sampaikan, yaitu:

Pertama, ada di dalam Alqur’an, Surat Al Anfal, ayat 33 yang menyatakan: “wa ma kanallahu liyu’adzdzibahum wa anta fihim, wa ma kanallahu mu’adzdzibahum wa hum yastaghfirun”. Yang artinya: “tetapi Allah tidak akan menghukum mereka, selama engkau (Muhammad) berada di antara mereka, dan tidaklah (pula) Allah akan menghukum mereka, sedang mereka (masih) memohon ampunan”.

Ayat ini mengandung makna fisikal artinya di kala Nabi Muhammad SAW bersama orang-orang Quraisy di masa lalu, atau saat masa kenabian, maka di kala Nabi Muhammad secara fisikal hadir di tengah-tengah umatnya, maka Allah tidak akan memberikan adzab (hukuman) kepada masyarakat di tempat tersebut. Maknanya, kehadiran Nabi Muhammad SAW menjadi jaminan bahwa Allah tidak akan menghukum umat yang sedang bersama Nabi Muhammad SAW. Demikian pula di kala umat tersebut masih menggemakan permohonan ampunan, maka Allah juga tidak akan mengadzabnya atau menghukumnya. Yang demikian ini tentu saja menggambarkan betapa Allah itu memberikan kepada Nabi Muhammad SAW itu suatu kelebihan dibandingkan dengan manusia lainnya. Allah menjamin bahwa siapapun yang berada di sekitar Nabi Muhamad SAW maka akan memperoleh keselamatan.

Kedua, lalu bagaimana dengan manusia yang hidup di masa sekarang, 1447 setelah hijrahnya Nabi Muhammad SAW? Secara fisik Nabi Muhammad SAW sudah wafat, dan secara rohani bahwa Nabi Muhammad SAW sudah berada di alam lain atau alam barzakh, bukan alam dunia.  Nabi Muhammad SAW memang hidup pada tanggal 12 Rabiul Awal  tahun Gajah atau tanggal 29 Agustus 581 M dan ada yang menyatakan tahun 571 M, wafat pada tanggal 8 Juni 632 M atau 12 Rabiul Awal tahun 11 H. Artinya, bahwa orang Quraisy dan umat Islam bersama Beliau secara fisikal, kejiwaan da rohaniyah. Nabi Muhammad hadir secara utuh.

Namun demikian, pada saat sekarang yang ada adalah ajarannya sesuai dengan Kitab Suci Alqur’an dan sunnahnya.

Di dalam konteks ini, maka yang bisa menyambungkan umat Islam dengan Nabi Muhammad SAW adalah pengamalan ajaran Islam sebagaimana ajarannya. Dan di antara yang dapat menjadi washilah adalah bacaan shalawat yang ditujukan kepadanya. Sebagaimana diketahui bahwa Allah SWT mengajarkan kepada umat manusia agar membaca shalawat, sebab Allah dan para Malaikat juga membacanya. “Innallaha wa malaikatahu yushalluna ‘alan Nabi, ya ayyuhal ladzina amanu shallu ‘alaihi wa sallimu Taslima”. Begita kecintaan dan kasih sayangnya Allah kepada Nabi Muhammad SAW, maka Allah sendiri dan para Malaikat juga membaca shalawat kepada Nabi Muhammad SAW.

Tentu seharusnya umat Islam membaca shalawat ini. Ini ajaran fundamental di dalam Islam. Nabi Muhammad SAW diberikan oleh Allah SWT otoritas untuk memberikan syafaat dan berkah. Jadi, kalau kita memerlukan syafaat dan berkahnya Kanjeng Nabi Muhammad SAW, maka salah satu kata kuncinya adalah membaca shalawat. Syafaat dan berkah bisa diberikan oleh Nabi Muhammad, sedangkan Rahman dan Rahim adalah haknya Allah SWT.

Di dalam tradisi membaca shalawatan, maka ada satu moment yang disebut sebagai mahalul qiyam, yang isinya membaca shalawat sebuah doa. Bunyi doa tersebut adalah “Rabbi Faghfirli dzunubi Ya Allah, bibarkati Hadi Muhammad Ya Allah”. Yang artinya: “Ya Allah ampuni dosa kami, dengan berkah petunjuk Nabi Muhammad Ya Allah”. Jika seseorang yang dapat membacanya dengan sepenuh jiwa dan raga, maka orang tersebut akan bisa meneteskan air mata, bisa menangis.

Ketiga, kita, para jamaah Ngaji Bahagia ini insyaallah sudah melakukannya. Kita sudah bersama Rasulullah karena kita sudah mengamalkan ajaran Islam, dan juga sudah membaca suratul Fatihah, membaca ayat kursi dan membaca shalawat. Dan kita juga sudah membaca dan melafalkan kalimat tauhid, kunci surga, miftahul Jannah, la ilaha illallah. Jika kita merenungkan hal ini, maka kita bisa optimis bahwa kita akan bisa bersama Nabi Muhammad SAW.

Meskipun kita belum optimal di dalam mengamalkan ajaran Islam atau beragama kita masih minimalis, akan tetapi rasanya masih pantas untuk optimis bahwa surga insyallah ada di dalam kehidupan kita kelak.

Wallahu a’lam bi al shawab.

INDIKATOR PENGHUNI SURGA: ORANG MUTTAQIN

INDIKATOR PENGHUNI SURGA: ORANG MUTTAQIN

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Salah satu kebahagiaan di dalam acara Komunitas Ngaji Bahagia (KNB) adalah bisa belajar Alqur’an, bisa memperoleh pemahaman tentang ayat yang dibaca dan tentu saja adalah bisa tertawa atau tersenyum dengan kebahagiaan. Di antara yang mengikat para jamaah adalah ketiga hal tersebut.

Pada Selasa, 09/09/2025, tahsinan Alqur’an sudah masuk Surat Adz Dzariyat, ayat yang terkait dengan tandzir bagi orang kafir dan tabsyir bagi orang mukmin. Surat ini menjelaskan tentang angin dahsyat, angin yang dapat menerbangkan apa saja,   yang dapat menjadi penanda bagi orang-orang yang mendustakan agama, tetapi tidak berpengaruh terhadap  orang mukmin.

Ada di dalam ayat, 15, yang berbunyi: “innal muttaqina fi Jannati wa ‘uyun, yang artinya: “sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa berada di dalam taman-taman surga dan mata air”. Dan sebagai kelanjutan atas indicator orang yang muttaqin tersebut adalah: pertama, orang-orang yang muhsinin, yaitu orang Ikhlas beribadah kepada Allah atau beribadah dengan keyakinan penuh bahwa Allah adalah sesembahan atau rabb bagi seluruh alam dan isinya. Tidak hanya sesembahan manusia, akan tetapi juga binatang, tetumbuhan, jin dan seluruh apa yang ada di alam ini. Mereka adalah orang yang berada di dalam jalan Tuhan dan mengambilnya sebagai jalan kehidupannya.

Kedua, orang yang menyedikitkan tidur malam, artinya menjadikan malamnya sebagai wahana untuk beribadah. Orang yang melakukan qiyamul lail. Menjalankan shalat tahajjud atau shalat hajad, melakukan shalat taubat, berdzikir sesuai dengan kemampuan. Lebih baik jika dzikir yang dibaca itu berdasarkan atas tuntunan guru spiritual. Berbeda rasanya menjalan wirid atas sepengetahuan para ulama ahli agama dengan menjalankan sendiri tanpa bimbingan guru spiritual. Bacalah kalimat thayyibah yang dapat menjadi jaminan agar bisa menjadi hamba Allah yang muttaqin. Shalat qabliyah shubuh dan shalat shubuh berjamaah. Subhanallah. jika kita dapat  melakukannya maka kita akan memperoleh kebahagiaan.

Ketiga, di dalam waktu malam itu, sepertiga malam, digunakan untuk beristighfar kepada Allah, memohon ampun kepada Allah. Jika kita dapat  melakukannya, maka ini juga merupakan kebahagiaan. Doa seperti “Allahumma inni as’alukal ‘afwa wal  ‘afiyah fi ddini wad dunya wal akhirah” atau doa sebagaimana dibaca oleh Nabi Adam AS “Rabbana dhalamna ‘anfusana wa in lam taghfirlana wa tarhamna lanakunanna minal khasirin” atau doa Nabi Yunus, “la ilaha illa anta subhanaka inni kuntu minadh dhalimin”. Atau doa “Allahumma inni as’aluka ridhaka wal Jannah wa na’udzu bika min sakhatika wan nar”.  Atau doa: “Allahumma innaka ‘afwun karim tuhibbul a’fwa wa’fu’anna ya karim”.

Keempat, memberikan sebagian kecil hartanya kepada kaum fakir, miskin atau kaum dhu’afa. Mereka itu adalah orang yang menyadari bahwa sebagian kecil hartanya itu adalah hak orang lain. Orang mukmin  harus memberikan haknya kepada orang yang miskin, faqir dan kaum dhu’afa. Hak mereka harus dipenuhi dan itu menandakan diri sebagai orang-orang yang muttaqin.

Ada banyak orang yang memiliki kekayaan, misalnya Elon Mask dengan hartanya sebanyak Rp6.813,69 Triliun,  Jeff Bezoss dengan harta Rp3.792 triliun. Jika itu 2,5 persennya saja yang akan dijadikan sebagai hak orang mustadh’afin.  Philantropinya seharusnya dikeluarkan oleh Jeff Bezoss, kurang lebih Rp92,500 milyar. Sayangnya kita tidak tahu berapa Zeff Bezoss mengelurkan philantropinya. Andikan banyak orang yang memiliki kekeyaan seperti ini dan didarmabhaktikan kepada kaum mustadh’afin maka inilah hakikat ajaran agama itu di dalam kehidupan manusia.

Contoh yang paling nyata adalah penebusan dosa karena melupakan shalat pada waktu ashar yang disebabkan oleh kelalaiannya merawat kuda-kudanya, maka Nabi Sulaiman mengorbankan kuda-kudanya untuk disembelih dan dagingnya diberikan kepada kaum fakir dan miskin. Tidak tanggung-tanggung 1000 unta sekaligus. Agama sesungguhnya sudah mengajarkan philantropi tersebut dalam bentuk zakat, infaq, sedekah dan wakaf. Keempatnya adalah ajaran Islam yang luar biasa. Dari semua agama memiliki ajaran philantropi itu. Misalnya di dalam Kristen dan Katolik ada dana kolekte, di dalam agama Hindu ada dana punia, dan di dalam agama Buddha ada ajaran darma yang wujudnya adalah memberikan dana philantropi untuk orang lain.

Dari indicator-indikator ini, rasanya jamaah Ngaji Bahagia sudah melakukannya meskipun dalam kadar yang belum maksimal. Bukankah kita sudah amantu billahi tsummas taqim. Sudah beriman kepada Allah dan telah melakukan amal ibadah sesuai dengan ajarannya, sudah melakukan shalat, puasa, zakat dan juga melakukan kebaikan kepada orang lain, sesama manusia. Kita juga sudah melaksanakan qiyamul lail dalam kapasitas yang kita mampu, kita juga sudah melakukan mohon ampun kepada Allah, baik langsung maupun melalui washilah Kanjeng Nabi Muhammad SAW, dan kita juga sudah melakukan perbuatan yang terbaik untuk Allah, manusia dam juga alam. Hablum minallah, hablum minan nas dan hablum minal alam.

Mari kita jaga ketiganya agar kita menjadi hamba Allah yang pada akhirnya akan memperoleh kebahagiaan fi dini, wad dunya wal akhirah. Innal muttaqina fi jannatiw wa’uyun.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

MENGHENTIKAN KORUPSI: ANTARA TUNTUTAN DAN SISTEM POLITIK

MENGHENTIKAN KORUPSI: ANTARA TUNTUTAN DAN SISTEM POLITIK

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Pengajian pada Selasa pagi, 09/07/2025, sungguh Istimewa. Bukan karena penceramahnya tetapi karena diskusi yang disajikannya. Sebagaimana biasanya, pengajian ini diselenggarakan dengan diskusi antara narasumber sebagai pemantik pembahasan dengan audience yang aktif berpendapat. Tema kita pada pagi itu, sesungghnya di seputar relasi antara agama dan negara tetapi dalam level pembahasan yang berada di permukaan. Tidak masuk di dalam kedalaman pembahasan yang benar-benar mendasar. Hanya kulitnya saja.

Ada tiga pembahasan terkait dengan tema ini, yaitu: pertama, Indonesia, sesungguhnya berada di dalam konteks relasi antara agama dan negara yang simbiotik mutualisme. Yaitu negara membutuhkan agama sebagai dasar moralitasnya, dan agama membutuhkan negara untuk mengatur relasi antar warga beragama. Jadi bukan hubungan antara agama dan negara yang bercorak menyatu, misalnya sebagaimana di Iran, yang termasuk negara Islam. Di Timur Tengah banyak negara yang berada di dalam negara Islam, sebab antara agama dan negara merupakan satu kesatuan. Indonesia juga pasti bukan negara sekular karena tidak memisahkan sedemikian kuat atau terdapat garis demarkasi yang memisahkan antara agama dan negara. Negara-negara di Eropa banyak yang menggunakan konsep negeri secular. Agama berada di dalam ruang private dan negara berada di ruang public. Indonesia menempatkan agama di ruang public artinya agama dijadikan sebagai panduan moralitas di dalam bernegara.

Kedua, Indonesia jelas merupakan negara yang berketuhanan artinya bukan negara agama dan juga bukan negara secular. Sebab agama dijadikan sebagai basis moralitas dan bahkan di dalam kehidupan bernegara dan bermasyarakat. Berbeda dengan Singapura merupakan negara secular yang memisahkan urusan agama dan negara. Di Indonesia bahkan didapatkan beberapa undang-undang dan peratruran daerah yang menjadikan agama sebagai basisna, misalnya ada Perda-Perda Syariah, selain Undang-Undang yang terkait dengan pengamalan agama, misalnya Undang-Undang Zakat, Undang-Undang Wakaf, Undang-Undang Perkawinan dan sebagainya.

Indonesia adalah negara yang berdasarkan atas Ketuhanan Yang Maha Esa, akan tetapi terdapat paradoks yang sangat luar biasa, yaitu masih terjadinya korupsi yang nyaris sudah memasuki semua elemen masyarakat. Mulai dari selevel Menteri sampai selevel kepala desa dan bahkan melibatkan masyarakat. Apparat pemerintah bahkan juga orang swasta. Dari dunia birokrasi sampai  pihak pengusaha.

Sampai di sini, maka diskusi terjadi. Pak Dr. Wardi, salah seorang dosen di Universitas Tujuh Belas Agustus Surabaya, menyatakan bahwa “di Indonesia itu agama tidak dijadikan sebagai dasar untuk melakukan tindakan yang benar. Buktinya, banyak sekali korupsi yang dilakukan oleh masyarakat yang sesungguhnya kaum beragama.  Kalau melihat korupsi di Indonesia rasanya sangat sulit diberantas, sebab korupsi itu sudah menjamah semua elemen masyarakat Indonesia, terutama terkait dengan perilaku politik. Sekarang ini orang tidak malu untuk melakukan tindakan menyimpang. Orang tidak malu melakukan korupsi. Jadi dianggap hal yang biasa saja. Sebenarnya dari undang-undang atau regulasi sudah ada semua hal untuk menghentikan korupsi, akan tetapi selalu lemah di dalam implementasinya. Undang-undang atau regulasi hanya di atas kertas belaka tetapi tidak di dalam pelaksanaannya. Law enforcement tidak terdapat di negeri ini”.

Kemudian, Pak Abdullah, Kejaksaan Tinggi Jawa Timur, juga menyatakan bahwa “korupsi yang paling parah sebenarnya ada di wilayah politik. Bisa dibayangkan bahwa biaya politik untuk menjadi Bupati dan Wakil Bupati itu sebesar Rp70 Miliar. Jika misalnya Yang Calon Bupati mengeluarkan lebih sedikit, misalnya Rp10 milyar dan Wakil Bupatinya mengeluarkan Rp60 miliar, maka dipastikan akan terjadi masalah. Karena masing-masing akan mencari jalan agar biaya politik tersebut tertutupi. Untuk mengembalikan biaya politik tersebut dapat melalui pengangkatan jabatan, pendapatan daerah dan proyek-proyek pemerintah. Jika seperti ini, maka dipastikan akan terjadi rebutan lahan proyek. Yang paling repot adalah bawahan bupati dan wakil bupati, sebab akan terkait kepada siapa kepatuhan akan diberikan. Itulah sebabnya di dalam banyak kasus korupsi pada pemerintah daerah terkait dengan pengangkatan jabatan dan pengadaan barang dan jasa dalam proyek-proyek di pemerintah daerah.”

Ketiga, Orde Reformasi memang bertujuan untuk melakukan koreksi atas penyelewengan di masa Orde Baru, di antaranya adalah koreksi atas penyelenggaraan negara yang dinilai telah melenceng dari tujuan kemerdekaan. Makanya dilakukan perubahan atas Undang-Undang Dasar 1945 dengan melakukan revisi secara mendasar. Di antara yang mendasar adalah perubahan terkait dengan system pemilihan presiden dan wakil presiden dari system pemilihan perwakilan dan permusyawaratan oleh MPR menjadi demokrasi langsung. Tujuannya tentu jelas agar tingkat elektabilitas dan akseptabilitasnya semakin kuat. Tidak dibayangkan bahwa pilihan langsung akan mengarah ke pilihan bebas yang mengandung bias, misalnya politik uang.

Dan itulah yang terjadi sekarang, sebab melalui money politics akan menyebabkan terjadinya korupsi yang semakin transparan. Di dalam pilihan DPRD atau DPR, maka setiap caleg harus merogoh koceknya untuk membeli suara rakyat. Dan rakyat pun merespon dengan menerima uang dari caleg dengan catatan mereka akan memilih yang terbesar. Bagi calon yang tidak membeli suara, maka jangan harap akan memperoleh suara rakyat. Itulah sebabnya  sekarang terjadi pandangan bahwa yang melakukan korupsi adalah rakyat.

Itulah sebabnya ada keinginan sementara para ahli agar kembali kepada Undang-Undang Dasar 1945 yang asli sebab telah terjadi kesalahan arah di dalam demokrasi di Indonesia. Telah terjadi disorientasi politik bagi bangsa Indonesia, yang ditandai dengan paradoks demokrasi. Jauh panggang dari api.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

SYARRUL BARIYYAH: MANUSIA YANG TIDAK BERUNTUNG

SYARRUL BARIYYAH: MANUSIA YANG TIDAK BERUNTUNG

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Sungguh selain ada manusia yang diharapkan atau beruntung atau khairul bariyyah atau manusia terbaik, juga ada manusia yang dinyatakan sebagai tidak diharapkan atau disebut syarrul bariyyah. Yaitu manusia yang tidak akan pernah memperoleh keuntungan di dalam kehidupan akherat karena mengingkari keberadaan Tuhan. Mereka dilabel sebagai orang yang akan masuk neraka kelak di akherat.

Inilah kata kunci di dalam ceramah saya di Mushallah Raudhatul Jannah di Dusun Semampir, Desa Sembungrejo, Kecamatan Merakurak, Tuban, Ahad, 06/07/2025. Masjid tersebut berada di depan rumah, masjid wakaf, yang menyelenggarakan shalat wajib berjamaah. Ceramah ini saya sampaikan pada waktu ba’da shubuh berjamaah kepada jamaah mushallah yang aktif melakukan shalat berjamaah di Mushallah Raudhatul Jannah. Mereka aktivis masjid.

Sebagaimana biasa, saya sampaikan tiga hal terkait dengan ceramah ini, yaitu: pertama, tidak bosan-bosannya saya menyampaikan dan mengajak agar para jamaah Mushallah Raudhatul Jannah untuk bersyukur kepada Allah SWT. Sebagaimana yang pernah saya sampaikan bahwa kesyukuran kita yang tertinggi adalah disebabkan karena Allah SWT sudah memberikan hidayah untuk beriman kepada-Nya. Nikmatul udzma. Nikmat terbesar, sebab tidak semua manusia di dunia ini memperoleh nikmat menjadi umat Islam yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Iman itu kunci beragama, jika imannya baik maka rumah agama akan menjadi baik, dan sebaliknya. Kita bisa melaksanakan shalat tentu karena ada iman di dalam pikiran dan hati kita. Ashshalatu ‘imaduddin. Shalat itu tiang agama. Jadi dengan mendirikan shalat berarti rumah agama akan menjadi kuat atau menjadi kokoh.

Kedua, di dalam Alqur’an dijelaskan selain ada khairul bariyyah juga ada syarrul bariyyah. Yang Khairul bariyyah adalah orang yang beruntung dan yang syarrul bariyyah adalah orang yang celaka. Tentu kita semua tidak ada yang berkeinginan untuk menjadi manusia yang celaka. Baik celaka di dunia maupun celaka di akherat. Semua di antara kita ingin menjadi manusia yang beruntung dan bahagia, baik di dunia maupun di akherat.

Alqur’an menjelaskan bahwa orang yang kafir yang terdiri dari ahli kitab dan kaum musyrik itu akan menjadi penghuni neraka selamanya. “Innal ladzina kafaru min ahli kitabi wal musyrikina fi nari jahannama khalidina fiha abada ulaika hum syarrul bariyyah”. Yang artinya: “sesungguhnya orang kafir dari golongan ahli  kitab dan golongan musyrik ada di dalam neraka selama-lamanya, dan mereka adalah orang yang sengsara.” Yang disebut sebagai ahlu kitab adalah orang yang tidak mempercayai kebenaran Alqur’an sebagai kitab suci yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Bahkan mereka juga tidak mempercayai akan kenabian Nabi Muhammad SAW. Mereka adalah orang Nasrani dan Yahudi. Termasuk tentu saja adalah orang beragama lain yang tidak mempercayai atas kesucian Kitab Suci Alqur’an. Jika manusia itu berjumlah enam milyar, maka yang satu milyar adalah umat Islam, dan yang lima milyar lainnya beragama selain Islam.

Orang musyrik adalah orang yang menyekutukan Tuhan. Yang menyatakan bahwa Allah bukan Tuhan Yang Maha Esa atau Maha Tunggal. Di kala orang menyembah selain kepada Allah, maka orang tersebut juga menyekutukan Allah. Misalnya orang yang bersesaji dengan harapan yang diberi sesaji adalah yang akan mengabulkan keinginan atau harapannya, maka yang bersangkutan itu dinyatakan sebagai musyrik. Dengan demikian, indicator orang yang disebut syarrul bariyyah adalah orang yang menjadi ahli kitab dan orang yang musyrik.

Ketiga, semua agama memiliki klaim kebenaran atau pernyataan kebenaran yang mutlak. yang tidak boleh ditawar. Kebenaran iman. Keyakinan akan ketuhanan itu sedemikian mendasar bagi semua agama. Seseorang tidak akan beribadah kepada Tuhan jika tidak memiliki iman yang kuat. Ada banyak orang yang menyatakan beriman kepada Allah tetapi tidak melakukan amal ibadah. Ada di semua agama. Di dalam Islam ada, di dalam Nasrani ada dan di dalam Yahudi juga ada.

Kita sungguh bersyukur mendapatkan hidayah dari Allah karena factor keturunan dan lingkungan. Orang tua dan seterusnya ke atas beragama Islam, dan lingkungan kita beragama Islam, maka kita menjadi beragama Islam. Ada banyak orang yang berusaha secara mati-matin untuk menjadi Islam. Misalnya Ustadz Waloni, yang baru saja wafat, maka dia menjadi Islam karena mempelajari semua kitab suci dan akhirnya menemukan kebenaran di dalam agama Islam. Ada juga orang Barat, Namanya Fritjof Schuon, yang menjadi muslim setelah mempelajari Alqur’an dan menemukan kebenaran di dalamnya. Bahkan menjadi pengikut tasawuf.

Sesungguhnya untuk menjadi muslim atau lainnya itu sudah ada takdirnya atau ketentuannya. Takdir tersebut sudah terekam di alam roh atau alam azali. Jadi sudah ada ketentuannya. Makanya, kita semua ini beruntung karena mendapatkan takdir yang baik, sebab menjadi muslim semenjak awal. Kita lahir sudah menjadi muslim, bahkan sudah dibacakan adzan dan iqamah. Hal ini yang harus menjadikan kita bersyukur kepada Allah SWT.

Dengan menambah kesyukuran kepada Allah, insyaallah kita akan mendapatkan semakin banyak kenikmatan yang tidak terhingga. Dan kita telah mendapatkannya.

Wallahu a’lam bi al shawab.