Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

KALEIDOSKOP KEMENTERIAN AGAMA 2015 (2)

Saya akan melanjutkan tulisan saya kemarin terkait dengan Kaleidoskop Kementerian Agama (Kemenag) 2015 dalam acara Ensikla (Ensiklopedia dan Klasika) yang diselenggarakan oleh Kompas TV. Tulisan ini merupakan jawaban atas beberapa pertanyaan yang disampaikan oleh Permatasari Harahap, host acara Ensikla.

Kedua, beberapa kendala di dalam pelaksanaan program unggulan Kemenag. Sebagaimana diketahui bahwa satker Kemenag itu luar biasa banyaknya. Jika di Kementerian/lembaga lainnya terkadang ada yang satkernya kurang dari sepuluh, maka di Kemenag terdapat sebanyak 4484 satker. Bisa dibayangkan bagaimana tingkat koordinasi dan komunikasi yang harus dibangun dengan satker sebanyak itu. Tentu lebih sulit dibanding dengan yang satkernya hanya sedikit. Oleh karena itu, kendala atau hambatan yang dirasakan adalah bagaimana menyebarkan gagasan atau program yang lalu bisa ditangkap oleh seluruh satker dengan jumlah yang sangat banyak tersebut.

Misalnya, di dalam sosialisasi terhadap lima nilai budaya kerja, maka tentu membutuhkan ruang dan waktu yang cukup panjang. Mata rantainya adalah dari pusat ke daerah. Dari pejabat eselon satu sampai ke pejabat eselon empat di daerah dan dari pejabat structural dan fungsional di pusat lalu ke daerah. Makanya, problem sosialisasi untuk membangun integritas melalui lima nilai budaya kerja tentu bukanlah sesuatu yang gampang untuk diselesaikan.

Namun demikian kita merasa bergembira, sebab hampir seluruh satker Kemenag telah memiliki kesadaran untuk memahami mengenai lima nilai budaya kerja ini. Hampir di seluruh kantor Kemenag didapati pencanangan lima nilai budaya kerja, makanya kita berharap bahwa pada tahun 2016 akan didapati implementasi lima nilai budaya kerja yang makin baik.

Yang masih menjadi tantangan Kemenag adalah mengenai kerukunan umat beragama. Kita merasakan bahwa kerukunan umat beragama merupakan bagian yang sangat dinamis di dalam kehidupan masyarakat di Indonesia. Begitu dinamisnya, maka sering kali kita lebih bersikap responsive ketimbang proaktif di dalam persoalan kerukunan umat beragama. Kita tidak pernah membayangkan tiba-tiba muncul masalah Tolikara, dan tidak kita bayangkan tiba-tiba muncul persoalan Singkil dan sebagainya.

Akan tetapi, manakala terjadi masalah kerukunan umat beragama lalu dengan cepat bisa kita atasi. Kita tidak menginginkan masalah yang sesungguhnya sangat lokal itu lalu menjadi masalah nasional atau internasional. Dalam kasus Tolikara, maka sesegera mungkin kita terjunkah tim fact finding, lalu dengan cepat kita kerjasama dengan berbagai lembaga/kementerian untuk penyelesaian persoalan dimaksud.

Aparat Kemenag di daerah kita minta untuk bekerja sama dengan lembaga-lembaga pemerintah di daerah, seperti pemerintah daerah Kabupaten, Kepolisian, ABRI, para tokoh agama untuk bersama-sama menyelesaikan persoalan ini. Sedangkan di pusat kita lakukan koordinasi dengan Menkopolhukam, Kemensos, dan kementerian lain untuk menemukan solusi yang memadai. Berkat kesigapan kita semua, masalah Tolikara segera bisa diselesaikan dengan baik.

Kita juga memiliki perangkat structural terkait dengan bagaimana membangun kerukunan umat beragama, seperti kehadiran Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) yang di dalamnya merupakan kumpulan dari Majelis Agama-Agama. FKUB ini menyebar di seluruh provinsi dan kabupaten/kota. Lalu di pusat juga terdapat Forum Koordinasi Penyelesaian Masalah Kerukunan Umat Beragama, yang merupakan kumpulan dari berbagai instansi pemerintah, yaitu Kemenag, Kemendagri, Kemenkumham, Kemendikbud, Kemensos, Kemenkoinfo, BIN, Kejaksanaan, Kepolisian, dan sebagainya. Forum ini dapat dijadikan sebagai ajang untuk membangun kesepahaman mengenai penyelesaian masalah beragama.

Yang juga sering menjadi pemicu persoalan adalah mengenai mendirikan tempat ibadah. Masih ada beberapa persoalan terkait dengan mendirikan tempat ibadah di berbagai daerah. Bisa saja kesulitan mendirikan gereja, masjid atau lainnya. Berbagai problema ini yang kiranya memerlukan penyelesaian yang memadai sehingga ke depan tidak ada lagi hambatan atau masalah yang terkait dengan mendirikan tempat ibadah ini. Masyarakat sering salah menilai bahwa yang sulit hanya membangun gereja, padahal membangun masjid dan rumah ibadah lainnya juga mengalami kesulitan kala rumah ibadah tersebut didirikan oleh kelompok minoritas.

Mengenai pelayanan Haji kita sudah bisa bersyukur, sebab terdapat kenaikan yang signifikan terhadap pelayanan jamaah haji kita. Hanya yang menjadi problem adalah bagaimana memberikan layanan umrah yang lebih baik. Itulah sebabnya pada tahun 2016 akan diberlakukan penambahan satu direktorat yang khusus menangani umrah, yaitu Direktorat Penyelenggaraan Umrah. Direktorat ini akan mengurusi persoalan regulasi, dan pengawasan, sedangkan penyelenggaraan umrah tetap akan diselenggarakan oleh masyarakat. Dengan demikian tidak perlu ada kekhawatiran bahwa pemerintah akan mengambil alih penyelenggaraan umrah. Melalui direktorat ini, maka penyelewengan dan penyalahgunaan penyelenggaraan umrah akan bisa diselesaikan. Yang diharapkan agar masyarakat berada di dalam kepastian untuk melaksanakan umrah. Sudah dicanangkan Lima Pasti Umrah, yaitu kepastian biro travelnya, pasti paspornya, pasti visanya, pasti hotelnya, dan pasti berangkatnya.

Ke depan tentu kita harapkan bahwa kehadiran Kemenag semakin dirasakan oleh masyarakat dan hal itu akan dapat diketahui dari bagaimana integritas dibangun, bagaimana pelayanan KUA makin bersih dan melayani, bagaimana pelayanan haji makin transparan dan akuntabel, bagaimana reformasi birokrasi digalakkan dan yang sangat mendasar adalah bagaimana kerukunan umat beragama makin baik.

Kita selalu mengharap bahwa Indonesia menjadi laboratorium kerukunan umat beragama. Jika ada orang bertanya, di mana contoh kerukunan umat beragama mewujud, maka jawabannya “Lihatlah Indonesia”.

Wallahu a’lam bi al shawab

KALEIDOSKOP KEMENTERIAN AGAMA 2015 (1)

Saya merasa beruntung diundang oleh Kompas TV (29/12/2015) di dalam kerangka membahas tentang program Kementerian Agama (Kemenag) di akhir tahun 2015 dalam moment acara Ensikla (Ensiklopedia dan Klasika), yang diproduseri oleh Pak Erick dan dengan host Permatasari Harahap. Acara yang dikemas di dalam tiga segmen ini membahas tentang program-program unggulan Kemenag selama tahun 2015.

Kegembiraan itu tentu terkait dengan acara ini diselenggarakan oleh Kompas TV yang saya yakin memiliki segmen pemirsa yang variatif dan menyebar di seluruh Indonesia, sehingga acara ini juga memiliki pengaruh yang cukup signifikan di kalangan masyarakat Indonesia. Acara yang dipandu oleh Permatasari ini tentu menarik sebab membicarakan beberapa issu yang selama ini banyak menyita perhatian masyarakat Indonesia, misalnya mengenai kerukunan umat beragama.

Ada dua hal yang saya sampaikan terkait dengan acara Ensikla di Kompas TV ini, yaitu: pertama, tentang program unggulan Kementerian Agama tahun 2015. Ada lima atau enam program unggulan Kemenag yang menjadi andalan Kemenag ialah: membangun integritas Kemenag, membangun kerukunan umat beragama, menjadikan KUA bersih dan melayani, Pelayanan Haji yang transparan dan akuntabel, dan reformasi birokrasi. Ada yang belum saya sampaikan secara mendalam adalah mengenai program pendidikan agama dan keagamaan yang berkualitas.

Lima atau enam program ini merupakan program unggulan Kemenag pada tahun 2015. Mengenai Integritas ASN Kemenag merupakan program utama. Program ini dikaitkan dengan upaya Menteri Agama untuk membangun public trust tentang Kemenag. Makanya, dicanangkan program lima nilai budaya kerja, yaitu Integritas, profesionalitas, inovatif, tanggung jawab dan keteladanan. Program ini dilaunching oleh Menteri Agama, Bapak Lukman Hakim Saifuddin pada akhir tahun 2014 melalui kerjasama dengan Tim ESQ yang dipimpin oleh Bapak Ary Ginanjar.

Lalu program kerukunan umat beragama. Program ini dilaksanakan mengingat bahwa kerukunan umat beragama merupakan sesuatu yang sangat dinamis, sehingga selalu diperlukan cara untuk menjaganya. Kerukunan merupakan bagian tidak terpisahkan dari persatuan bangsa dan persatuan bangsa merupakan prasyarat bagi pembangunan bangsa. Oleh karena itu, kerukuan bangsa, persatuan bangsa dan pembangunan bangsa merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan.

Kemudian tentang haji, kita merasa bergembira bahwa pelayanan haji Indonesia makin baik. Berdasarkan survey yang dilakukan oleh BPS, bahwa ada kenaikan persentase layanan jamaah haji. Melalui konsep First Come First Serve, maka selama dua tahun terakhir, kita bisa memanej secara sangat memadai mengenai kuota jamaah haji. Tahun 2014 hanya menyisakan 9 seat saja yang tidak terisi, sementara tahun 2015 semua seat terisi. Dan yang menggembirakan bahwa tidak ada lagi titipan pemberangkatan haji dari manapun. Semuanya dilakukan melalui pengaturan sesuai dengan regulasi.

Di dalam konteks pembenahan haji, maka ada tiga titik utama yang dibenahi yaitu catering, pemondokan dan transportasi. Ketiganya telah dibenahi dengan memadai, misalnya catering yang makin baik, pemondokan jamaah haji setara dengan hotel bintang tiga dan empat, serta transportasi yang makin baik. Semuanya dilakukan agar pelayanan haji makin baik di mata jamaah haji Indonesia.

Yang juga tidak kalah penting adalah mengenai KUA yang bersih dan melayani. Program ini dilakukan untuk membangun public trust, bahwa menikah di KUA tidak mengandung gratifikasi. Melalui program ini maka diluncurkan paket kebijakan untuk menikah di KUA yang tidak dikenai pembiayaan atau gratis, sedangkan yang menikah di luar kantor dikenai biaya Rp600.000. Kita tentu merasa bergembira dengan paket program ini, maka sekarang terjadi kenaikan jumlah mereka yang menikah di kantor. Melalui program ini, tentu kita berharap bahwa gratifikasi akan dapat diturunkan ke dalam titik nol.

Di antara yang juga menjadi program unggulan Kemenag adalah mengenai reformasi birokrasi. Program ini dilakukan untuk memberikan jaminan bagi ASN bahwa siapa yang bekerja keras, memiliki profesionalitas dan performance kerja yang unggul akan memperoleh pendapatan yang baik. Makanya kemudian dilakukan upaya untuk menaikkan tunjangan kinerja bagi seluruh ASN Kemenag. Bahkan melalui kinerja yang memadai, maka performance tunjangan kinerja ASN Kemenag juga mengalami kenaikan dari 40 persen ke 60 persen.

Melalui program yang relevan dengan masalah, sasaran dan kebutuhan yang dirasakan oleh stakeholder kemenag, maka akan dapat dihasilkan out come yang memadai. Survey layanan haji yang makin baik, implementasi lima nilai budaya kerja, KUA yang makin baik pelayanannya dan ketiadaan gratifikasi, gerakan reformasi yang makin digalakkan, dan terbinanya kerukunan umat beragama yang makin baik tentu menjadi ukuran bahwa Kemenag hadir di tengah kehidupan masyarakat.

Wallahu a’lam bi al shawab.

MENAKAR PERAN NEGARA DALAM IMPLEMENTASI ZAKAT (2)

Agak lama jarak antara penulisan pertama mengenai tema ini dengan tema kedua disebabkan oleh beberapa faktor. Tentu saja saya tidak akan membahas tentang faktor penyebab lamanya jarak tersebut, tetapi saya akan fokus membahas tentang solusi problem implementasi zakat dimaksud, agar korelasi antara tulisan pertama dan kedua segera akan bisa dipahami.

Terhadap problem pertama, saya berpikir bahwa rendahnya kesadaran untuk membayar zakat melalui lembaga resmi yang dibentuk oleh pemerintah, sesungguhnya disebabkan oleh kurangnya sosialisasi tentang mekanisme pembayaran zakat melalui lembaga yang dibentuk oleh pemerintah. Jumlah umat Islam yang demikian banyak belum seluruhnya tersentuh oleh sosialisasi implementasi zakat melalui lembaga-lembaga resmi ini.

BAZ dan LAZ belum menjadi destinasi orang membayar zakat. Orang masih lebih suka untuk membayar zakat melalui pribadi (tokoh-tokoh agama) atau lembaga-lembaga tidak resmi di sekutar rumahnya. Melalui pembayaran zakat seperti ini, maka mereka mengetahui secara langsung kepada siapa zakat tersebut didistribusikan dan kapan didistribusikannya.

Rasanya memang ada problem trust yang masih cukup kental di kalangan masyarakat. Public trust inilah yang masih menjadi ganjalan di dalam implementasi UU No 25 tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat. Saya kira peran negara perlu diaktifkan terkait dengan implementasi zakat ini melalui para aparat Kementerian Agama bekerja sama dengan para tokoh agama dan masyarakat di seluruh wilayah Indonesia. Saya menduga bahwa keterlibatan Kakankemanag Kabupaten/kota serta kepala KUA di daerah-daerah untuk sosialisasi implementasi zakat masih belum terjadi secara maksimal.

Mengenai sosialisasi implementasi UU No 25 tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat di masjid-masjid, pertemuan organisasi keagamaan, seperti “laylatul Ijtima’ di NU atau forum-forum pertemuan di organisasi sosial keagamaan lainnya. Rasanya perlu desain khusus mengenai komunikasi, informasi dan edukasi (KIE) yang dapat digunakan sebagai instrument untuk menyelenggarakan kegiatan sosialisasi mengenai regulasi ini.

Saya yakin bahwa problemnya adalah mengenai anggaran yang minim sehingga pendesainan program ini agar lebih massif atau menjangkau terhadap masyarakat secara lebih luas agak sulit dilakukan. Oleh karena itu, diperlukan anggaran yang cukup di dalam kerangka mempersiapkan KIE yang lebih berdaya guna. Saya kira Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam perlu untuk melakukan pemetaan anggaran dan juga merumuskan teknik KIE dimaksud dalam kerjasamanya dengan BAZ dan LAZ.

Keberhasilan program KIE sangat tergantung kepada agen-agen dan konten sosialisasi. Makanya, keberadaan agen-agen yang akan membawakan peran sebagai sosialisator haruslah mereka yang teruji untuk kepentingan membangun komunikasi yang efektif dan efisien. Selain komunikator yang bagus juga konten juga harus bagus, sehingga desain konten yang baik akan mempengaruhi terhadap audience kita.

Program sosialisasi ini tentu harus mendapat dukungan dari berbagai kalangan. Pemerintah daerah sangat penting untuk dilibatkan di dalam aktivitas ini. Demikian pula para ulama yang memiliki pengaruh di masyarakat. Mereka adalah orang yang memiliki kewenangan spiritual terkait dengan agama dan masyarakat. Hampir tidak ada yang menggugat mengenai pengaruh ini. Jika kita mengkaca pada program Keluarga Berencana, maka keterlibatan para Kyai tentu menjadi variabel utama keberhasilan program ini. Maka tidak salah jika pada masa itu, pemerintah daerah menggandeng para ulama untuk menjadi agen bagi kesuksesan program Keluarga Berencana. Kita tidak bisa membayangkan bahwa tanpa program Keluarga Berencana, maka jumlah penduduk Indonesia tentu akan jauh lebih besar jumlahnya sekarang ini.

Di dalam kerangka membangun trust masyarakat, maka bisa kiranya didesain program yang memang memiliki kaitan langsung dengan masyarakat. Misalnya zakat dari wilayah tertentu, maka konsekuensinya adalah dikembalikan berapapun besarnya untuk wilayah tersebut. Mungkin zona kecamatan bisa menjadi ukuran terkecil wilayah pengembalian zakat bagi masyarakat. LAZ atau BAZ di Kabupaten harus memiliki data yang kuat di dalam pengelolaan zakat ini. Dengan demikian, maka program Zakat Request (ZR) akan bisa dikembalikan ke daerah tersebut melalui program yang nyata dan bukan konsumtif. Misalnya Program Bedah Rumah Zakat (PBRZ), atau Beasiswa Pendidikan Rumah Zakat (BPRZ) atau program lain yang relevan dengan pengembangam zakat.

Yang tidak kalah menarik adalah tentang pemberdayaan masyarakat. Melalui basis Zakat Request (ZR), maka zakat juga dikembalikan kepada masyarakat untuk tujuan pemberdayaan ekonomi. Program Zakat Usaha Mikro (PZUM) untuk para pengusaha kecil dengan memperkenalkan pada perbankan syariah dan produsen langsung, maka mereka akan memiliki akses untuk bisa berkembang. Dengan demikian, maka program pengelolaan zakat akan dirasakan oleh masyarakat secara berkelanjutan.

Desain-desain program unggulan harus terus diupayakan di dalam penguatan public trust. Hal ini dilakukan semata-mata agar masyarakat mempercayai bahwa zakat yang dikelola oleh negara atau lembaga swasta yang dipercayainya ternyata memang benar untuk kepentingan masyarakat.

Gerakan Nasional Pembayaran Zakat (GNPZ), saya kira merupakan program strategis yang akan membawa kemanfaatan zakat ke depan. Saya kira semuanya harus mendukung program ini, sehingga zakat akan dapat menjadi alternative untuk pembangunan masyarakat.

Wallahu a’lam bi al shawab.

KEPROTOKELERAN DAN KUALITAS LAYANAN MASYARAKAT

Hari Kamis yang lalu, saya diundang oleh Pak Kepala Biro Umum Sekretariat Jenderal Kementerian Agama untuk memberikan pengarahan pada acara Pengembangan SDM Keprotokolan Kementerian Agama yang dihadiri oleh seluruh protokoler Pejabat Eselon I pusat dan pejabat eselon II daerah. Yang menjadi nara sumber adalah orang-orang hebat yang telah malang melintang di dunia protokoler Indonesia dan juga Master Ceremony yang andal. Ada yang dari protokoler kepresidenan dan juga dari TVRI.

Saya sebenrnya diminta untuk menghadiri acara Pembukaan, namun karena waktunya bersamaan dengan acara Anugrah Konstitusi yang diselenggarakan oleh Mahkamah Konstitusi (MK), maka saya terpaksa tidak bisa hadir di acara ini, sebab harus mewakili Pak Menteri Agama di acara Anugrah Konstitusi di Puncak. Tetapi saya berkesempatan hadir saat sessi acara hari berikutnya, Jum’at, 26 Nopember 2015.

Saya memang secara teoretik tidak menguasai mengenai ilmu ini. Tetapi saya selalu mengambil arah yang terkait dengan kebijakan dan membangun kesadaran bahwa program Kementerian Agama harus berhasil dan memiliki dampak bagi meningkatnya kualitas pelayanan masyarakat. Inti dari birokrasi sebenarnya adalah bagaimana masyarakat merasa puas dengan pelayanan yang kita lakukan.

Ada dua hal yang saya sampaikan pada kesempatan ini, pertama: bahwa keprotokolan yang berkualitas akan menentukan terhadap peningkatan citra kementerian. Pencitraan Kementerin/Lembaga dan juga organisasi juga dapat disebabkan oleh kualitas prokolernya. Makin baik kualitas protocol maka akan makin baik kualitas citra yang dihasilkannya. Hamper semua masyarakat memahami bahwa protocol sangat menentukan terhadap kualitas acara. Tanpa protocol yang baik, maka acara bisa saja tidak maksimal.

Di dalam konteks kepresidenan, misalnya maka protocol memiliki otoritas mengatur acaranya presiden. Di zaman pak SBY, maka acara yang akan dihadiri oleh beliau tentu sudah dibahas sekurang-kurangnya seminggu atau dua minggu. Makanya, acara Pak SBY selalu perfect sebab memang sudah didesain dengan sangat matang oleh staf protokolernya. Tentu masing-masing presiden memiliki gaya dan cita rasa yang berbeda, akan tetapi tetap saja bahwa acara presiden harus sukses dan menarik dan hal itu sangat tergantung pada kualitas protokolernya.

Bisa dibayangkan bahwa sebuah acara kenegaraan mengalami masalah. Makanya protokoler memiliki kewenangan untuk menentukan apa dan bagaimana tatacara yang harus ditempuh sesuai dengan standart protocol dan prosedur tetap (protap) baku yang sudah disepakati oleh acara-acara kenegaraan. Saya kira seharusnya memang protokoler itu memiliki keahlian yang sangat memadai dan juga memahami protap dan standart keprotokolan. Oleh karena itu, protokoler harus memperoleh pengetahuan standart tentang ilmu keprotokoleran, sehingga ketika yang bersangkutan memandu acara apapun yang dibebankan kepadanya akan menuai kesuksesan.

Kedua, bahwa keprotokoleran memiliki kaitan dengan kepribadian. Artinya, bahwa agar menjadi staf protocol yang baik, maka harus memiliki kepribadian yang baik pula. Kepribadian merupkan bagian yang yang tidak terpisahkan dari setiap ranah pekerjaan kita. Staf protocol sebagai garda depan penyelenggaraan acara-acara penting tentu juga harus memiliki kepribadian yang menakjubkan. Apa yang sebenarnya berpengaruh terhadap kepribadian? Saya menyebutkan ada tiga hal, yaitu: 1) external beauty, ialah kecantikan luar yang sangat menentukan terhadap penampilan, keberanian dan kepercayaan diri. Seseorang yang memiliki external beauty, maka yang bersangkutan akan percaya diri di dalam menghadapi segala medan yang berada di sekelilingnya.

External beauty bukan ditentukan oleh wajah atau badan seseorang. Akan tetapi external beauty ditentukan oleh penampilannya. Oleh karena itu, pemilihan pakaian, keserasian antara sepatu, ikat pinggang, jam tangan, bahkan juga cincin sangat menentukan dimensi external beauty ini. Banyak di antara kita yang tidak memahami bagaimana menyerasikan pakaian itu. Contoh, coba lakukan analisis terhadap bagaimana pakaian Ibu Chairiani dari TVRI ini, maka akan menunjukkan tingkat keserasian yang sangat mendalam. Jilbab, dan pakaian terusan atasan dan bawahannya betapa sangat serasi. Dipandu dengan asesori yang manis dan sepatu yang relevan, maka akan menggambarkan betapa serasi gaya berpakian yang bersangkutan.

Selain itu juga senyum yang terus menyungging, tutur kata yang merdu dan menawan adalah bagian yang tidak terpisahkan dari bagaimana seseorang menghandle acara yang penting. Coba lakukan analisis terhadap cara berbicara, cara senyum, cara berdiri, cara duduk dan sebagainya tentu hal ini menggambarkan bahwa semuanya serba didesian namun kemudian menjadi tabiat dan kebiasaan yang sangat baik. Yang diharapkan tentu bukan senyuman yang terpaksa atau kehalusan bahasa yang terpaksa. Semuanya harus alami dan menggambarkan kenaturalan penampilan.

2) internal beauty, ialah kecantikan dari dalam lalu memancar keluar dalam bentuk sikap, tindakan, tutur kata, ekspressi wajah, senyuman, dan sebagainya. Internal beauty merupakan ekspressi yang memancar ke luar dari diri seseorang. Makanya, jika seseorang telah memiliki pancaran internal beauty ini tentu akan melakukan sesuatu yang tidak akan merugikan dirinya sendiri dan juga diri orang lain. Sungguh merupakan kebahagiaan jika orang sudah memiliki inner beauty seperti ini.

Seorang protocoler adalah orang yang akan menghandle acara-acara dengen segala pernak-perniknya, makanya dia haruslah orang memiliki inner beauty ini. Sikap keikhlasan, kerja keras akan memancar di dalam pekerjaannya. Mereka juga akan mencintai pekerjaannya. Ikhlas dalam melayani dan kerja karas agar yang dilayani merasa nyaman dan aman. Oleh karena itu, agar seorang protokoler berhasil di dalam mengembang tugasnya ini, maka serangkaian prasyarat untuk berhasil juga harus dimilikinya.

3) spiritual beauty ialah ekpressi rasa keberagamaan yang mengiringi semua langkah-langkah kerjanya. Dia bekerja dipandu oleh keridlaan, kesabaran, tawakkal dan taubat kepada Allah. Ridla bahwa tugasnya adalah melayani pimpinan yang dicintainya, sabar di dalam menghadapi tantangan yang tidak sedikit di dalam menjalankan tugas keprotokolannya, tawakkal artinya selalu berserah diri setelah semua usaha dilakukan untuk menyukseskan acara yang menjadi tanggungjawabnya dan kemudian bertaubat atas semua hal yang dirasa kurang memuaskan.

Saya yakin bahwa ekspressi orang yang memiliki basis spiritualitas dan yang tidak memiliki basis spiritualitas pastilah akan berbeda di dalam menangani pekerjaan.

Dengan demikian, andaikan ada di antara para peserta pengembangan SDM keprotokolan yang ingin benar-benar menjadi protocol yang berhasil, maka dua hal yang saya jelaskan ini akan menjadi panduan umumnya dan setelah itu pelatihan yang benar akan menjadikannya dalam kesuksesan.

Wallahu a’lam bi al shawab.

ROBOT PERTAMA DARI DUNIA ISLAM

ROBOT PERTAMA DARI DUNIA ISLAM

Minggu yang lalu, tepatnya hari Senin, 22-23 Nopember 2015, saya diundang oleh Direktorat Madrasah Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI untuk membuka program Festival Robot Madrasah atau Madrasah Robotic Festival yang digelar di Mall Citos atau City Town Square Jakarta Selatan.

Saya mengapresiasi penyelenggaraan Festival Robot ini, karena program ini memang didesaian untuk menjadi ajang bagi penggemar robot di berbagai madrasah untuk tampil di gelanggang nasional dan berkompetisi dengan berbagai madrasah dari wilayah lainnya. Selain itu juga pikiran cerdas untuk menyelenggarakan acara ini di Mall yang memiliki pansa pasar bagi kalangan menengah ke atas tentu juga menjadi catatan tersendiri.

Di dalam kesempatan ini, saya kemukakan dua hal penting terkait dengan festival robot madradah ini, pertama: bahwa penemu robot sebenarnya adalah insinyur Muslim, namanya adalah Al Jazari yang kepanjangan namanya adalah Syeikh Rais al Amal Badi al Zar al Izz ibn Ismail Ibn Razzan al Jazari. Beliau menemukan robot pada tahun 1203 Masehi. Melalui penemuan robot dari Insinyur Muslim ini, maka patahlah anggapan selama ini bahwa yang menemukan robot pertama di dunia adalah Leonardo da Vince, sebab beliau menemukan robotnya pada tahun 1478 M. artinya, bahwa Al Jazari menemukan robot pada abad ke 13 awal, sedangan da Vince menemukan robot di paruh pertama abad ke 15.

Al Jazari membuat robot sebanyak 50 buah, dan salah satu robotnya adalah robot penabuh drum, yang dikenal dengan nama hand robot. Selain itu juga menemukan robot pengisi air yang pada prinsipnya menggunakan hidrolik untuk menggerakkan mesin. Melalui temuan Al Jazari ini, maka juga meneguhkan bahwa sumbangan dunia Islam terhadap perkembangan ilmu pengetahuan memang luar biasa.

Memang harus diakui bahwa sebelum jatuhnya Baghdad ke dalam kekuasaan Jengis Khan, maka dunia Islam sesungguhnya adalah kiblatnya ilmu pengetahuan. Jutaan temuan para intelektual Muslim yang menghiasi sejarah perkembangan ilmu pengetahuan. Bukankah dunia barat berhutang budi pada dunia Islam dalam sains dan teknologi selain juga filsafat dan ilmu pengetahuan lainnya. Ahli-ahli filsafat, sains dan teknologi mewarnai terhadap perkembangan dunia barat di dalam penguasaan ilmu di masa berikutnya.

Sejarah, sebagaimana hukum sejarah, memang mengalami masa up and down. Selama 700 tahun lamanya dunia Islam sangat masyhur di dalam pengembangan sains dan teknologi, berbagai temuan di bidang fisika, kimia, biologi, kedokteran, teknologi robot, filsafat, ilmu sosial dan humaniora muncul dan berkembang di era ini. Pada kekhalifahan Abbasiyah, maka terdapat ribuan Rumah Hikmah yang menjadi ajang bagi pendidikan agama, filsafat, sains dan teknologi. Dari Rumah Hikmah inilah maka bertumbuhan dengan pesat-pesat ahli-ahli ilmu pengetahuan dengan temuan-temuan mereka yang very-very outstanding.

Namun demikian, dengan kejatuhan kekhalifahan Islam di Baghdad dan juga kemudian di Spanyol, maka runtuhlah peradaban Islam itu dan kemudian terjadilah masa vakum pengembangan ilmu pengetahuan di dalam dunia Islam. Di era inilah kemudian perlahan-lahan dunia barat bangkit dari tidur panjangnya dan kemudian mengadaptasi dan mengadopsi ilmu pengetahuan yang dihasilkan oleh para pakar ilmu pengetahuan muslim. Karya-karya mereka diterjemahkan dan kemudian diakui sebagai temuan-temuannya. Untunglah bahwa masih ada di antara mereka yang jujur dengan tetap menyatakan bahwa temuan orang barat sesungguhnya adalah hasil dari adaptasi dan adopsi orang barat terhadap temuan-temuan ilmuwan muslim.

Karya robotic yang dihasilkan oleh Al Jazari memberikan gambaran bahwa penemuan robot di dunia robotic bukan oleh insinyur barat akan tetapi oleh sarjana muslim yang memiliki reputasi luar biasa ini. Temuan-temuan sarjana muslim ini lalu dikembangkan sedemikian rupa, sehingga muncullah berbagai robot yang kita kenal sekarang.

Negara-negara muslim yang dahulu menjadi pioneer di dalam ilmu pengetahuan lalu menjadi negara-negara jajahan dan kalau tidak lalu menjadi negara miskin, sehingga pengembangan ilmu pengetahuan lalu menjadi mandeg. Sedangkan masyarakat barat yang menjadi kaya karena eksploitasi dan penjajahan yang dilakukan menjadi semakin kaya, sehingga bisa mengembangkan ilmu pengetahuan sedemikian pesat. Setelah mereka menemukan bubuk mesiu, maka dikuasainya dunia ini dengan senjatanya dan dikalahkannya negara-negara lain lalu dijajahnya.

Kedua, ajang Festival Robotik Madrasah ini tentu memiliki makna penting di tengah kerinduan dunia Muslim akan lahirnya ilmuwan muslim yang memiliki kemampuan untuk meneruskan kehebatan Al Jazari. Melalui kompetisi madrasah ini, maka ke depan akan dapat dihasilkan generasi alumni madrasah yang memiliki keahlian yang penting ini.

Robot ke depan akan menjadi andalan di dalam kerangka untuk menjadi instrument bagi penyelesaian pekerjaan yang tidak bisa dilakukan oleh manusia. Robot akan menggantikan peran manusia untuk pekerjaan yang tidak manusiawi atau yang impossible dilakukan oleh manusia. Makanya melalui ajang kompetisi ini akan menjadi medan bagi anak-anak muda madrasah untuk berprestasi di medan persaingan yang lebih luas.

Wallahu a’lam bi al shawab.