Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

PUASA DAN RASA KEMANUSIAAN (9)

PUASA DAN RASA KEMANUSIAAN (9)
Puasa hakikatnya merupakan salah satu jalan agar manusia mengembangkan lebih jauh rasa kemanusiaannya. Tentu tidak melakukan puasa kala seseorang berpuasa lalu tidak semakin peka rasa kemanusiaannya. Orang yang melakukan puasa pasti akan marasakan bagaimana menjadi orang miskin, menjadi orang yang terpinggirkan dan menjadi orang yang serba kekurangan.
Ada dua makna puasa berdasarkan penafsiran umum, yaitu untuk mencegah agar tidak melakukan perbuatan makan, minum dan bernafsu sex pada siang hari, akan tetapi juga terdapat makna kemanusiaan kapan dan dimanapun. Dengan demikian, puasa merupakan ajaran yang lengkap tentang bagaimana kita berhakikat menjadi manusia.
Salah satu asma Allah yang sangat indah untuk dimaknai terkait dengan ajaran kemanusiaan adalah al rahman dan al Rahim. Dua pasangan kata yang selalu menghiasai awal kita membaca al Qur’an adalah kata itu. Yaitu “Bismillah al rahman al Rahim.” Yang artinya kurang lebih adalah “dengan Nama Allah yang Maha Pengasih lagi penyayang”. Alangkah indahnya nama Allah itu.
Meskipun tidak masuk di dalam sifat Allah, akan tetapi sesungguhnya jika dinalar lebih jauh akan kelihatan betapa hebatnya asma Allah ini. Manakah ada yang lebih indah dari kata pemberi kasih dan sayang tersebut. Tidak salah jika kemudian Allah disebut sebagai dzat yang Maha Pengasih dan Penyayang.
Jika dilacak lebih jauh, maka dapat dipahami bahwa Allah memberikan segalanya bagi kehidupan ini. Coba jika dipikirkan berapa banyak kebutuhan oksigen yang diberikan oleh Allah karena udara yang bisa dihirup secara gratis. Bukankah harga oksigen yang sudah direkayasa oleh manusia harganya sangat mahal. Oleh karena itu, dengan rahmannya Allah maka semua manusia memperoleh oksigen gratis yang kita butuhkan setiap hari. Mana ada yang lebih penyayang dibandingkan dengan kasih Tuhan kepada manusia ini.
Dengan menggunakan penalaran saja, akan bisa diketahui bahwa al rahman dan al Rahim merupakan seperangkat asma atau nama yang melazimi seluruh sifat Allah yang berjumlah 20 sebagaimana pandangan al Asy’ariyah atau sifat 13 sebagaimana pandangan al Maturidiyah. Dengan demikian, seluruh sifat Allah itu basisnya adalah al rahman dan al Rahim ini.
Hal ini yang mendasari mengapa seluruh Nabi dan Rasul Allah memiliki sifat kasih sayang yang melebihi safat kasih sayang manusia pada umumnya. Jika manusia masih memiliki sifat marah dan keinginan berkuasa, maka Nabi dan Rasul tidaklah demikian. Rasulullah Muhammad saw sangat dikenal dengan sebutan orang yang memiliki kasih sayang melebihi manusia lainnya. Nabi Isa as, juga memiliki sifat kasih sayang yang melebihi manusia lainnya. Nabi Ayub as, Nabi Ibrahim as, dan Nabi-nabi lainnya juga seluruhnya diberi oleh Allah sifat kasih sayang yang tinggi.
Bukankah ketika Rasulullah Muhammad saw dilecehkan oleh Kaum Thaif, dengan dilempati kotoran hewan dan batu, maka beliau tetap pada prinsipnya bahwa tugasnya adalah untuk menyadarkan mereka agar kembali kepada agama yang benar.
Hampir seluruh Nabi yang diutus Allah memiliki sifat-sifat yang melebihi manusia pada umumnya. Hal ini tentu merupakan modal dasar bagi para Nabi untuk melakukan dakwah kepada umat manusia. Bagaimana dakwah akan berhasil jika para da’inya tidak memiliki sifat sedemikian indah ini. Makanya, jika para Nabi memperoleh keberhasilan, maka hal ini tentu disebabkan oleh kuatnya modal dasar di kalangan para Nabi penyebar agama tersebut.
Pertanyaannya adalah apakah dengan puasa bisa membuat orang menjadi memiliki sikap kasih sayang sebagaimana para Nabi tersebut. Pastilah bahwa sifat dan kasih sayang tersebut tidak akan sama sebangun. Akan dapat dipastikan bahwa puasa akan membuat seseorang memiliki rasa kasih sayang yang lebih dibandingkan dengan orang yang tidak melakukan puasa.
Secara normative seharusnya seperti itu. Akan tetapi jika tidak terjadi sikap kasih sayang dari mereka yang melakukan puasa, maka berarti bahwa ada kegagalan menerjemahkan puasa di dalam sikap keseharian kita. Puasa dimaknai sebagai sesuatu yang terkait dengan kewajiban ibadah saja dan memberikan kasih sayang adalah hal lain yang tidak terkait langsung dengan ibadah dimaksud.
Orang yang berhasil puasanya adalah kala ada kesesuaian antara apa yang dilakukan di dalam ibadah puasa dengan bagaimana tampilan kasih sayangnya kepada sesama umat manusia. Profile yang diharapkan adalah adanya kesesuaian antar setiap ibdah dengan tampilan sosialnya.
Jika di dalam puasa kemudian terjadi pemaksaan-pemaksaan yang dilakukan oleh individu atau lembaga bahkan struktur kekuasaan, maka berarti bahwa masih perlu dipertanyakan bagaimana makna puasanya tersebut. Kita tentu berharap bahwa puasa akan membawa kepada kita agar lebih menyayangi kepada siapa saja yang perlu diberi kasih sayang tersebut.
Wallahu a’lam bi al shawab.

MAKNA PUASA DARI PERSPEKTIF PENDIDIKAN (8)

MAKNA PUASA DARI PERSPEKTIF PENDIDIKAN (8)
Puasa bukan hanya sebuah perilaku untuk menahan makan, minum dan berlaku seksual di siang hari saja, akan tetapi sebenarnya adalah proses untuk melatih diri agar memiliki sejumlah perilaku terpuji, baik kala berhadapan dengan Allah, maupun sesama manusia.
Sebagaimana makna aslinya bahwa puasa adalah menahan, secara lebih spesifik adalah menahan dari hal-hal yang menyebabkan batalnya puasa. Namun secara lebih luas adalah menahan dari semua hal yang bisa merusak keabsahan puasa. Makanya, inti puasa yang paling mendalam adalah bagaimana puasa menjadi instrument mental untuk mengelola potensi keburukan menjadi kebaikan.
Puasa adalah ajaran agama yang sangat fundamental terkait dengan perintah langsung untuk menahan berbagai godaan di dalam menjalankan puasa dimaksud.
Sebagai medan untuk menjadi tempat pelatihan perilaku, maka puasa memiliki potensi untuk mengarahkan seseorang pada kesabaran, kepasrahan dan kepatuhan.
Dunia dewasa ini sedang dalam keadaan carut marut. Ada banyak kekerasan yang dilakukan oleh individu, kelompok bahkan negara. Ada berbagai situasi darurat terutama di Indonesia. Ada darurat narkoba, darurat pornografi, darurat kekerasan seksual, darurat kekerasan anak dan seterusnya. Semua mengindikasikan bahwa ada kesalahan tindakan yang dilakukan oleh masyarakat Indonesia. Terlepas apakah jumlahnya signifikan atau tidak, akan tetapi kenyataan terhampar yang kita lihat memberikan gambaran bahwa berbagai macam situasi darurat tersebut perlu memperoleh perhatian ekstra.
Dan yang menarik adalah antara satu dengan lainnya saling berkaitan. Misalnya terjadinya darurat pornografi diakibatkan oleh narkoba dan terpaan teknologi informasi yang telah meluber di kalangan generasi muda kita. Bahkan serangan pornografi yang luar biasa melalui internet dianggap sebagai cyber war atau proxy war, yaitu perang tanpa pertempuran, tanpa letupan senjata, mempengaruhi ideology dan membuat ketergantungan.
Dunia internet telah menjadi medan proxy war yang sesungguhnya. Coba kalau diamati bahwa dengan aktivasi pornografi, maka secara realistis telah terjadi pertempuran yang luar biasa. Internet telah memberikan pengaruh negative yang luar biasa, seperti akses pornografi, membuat ketergantungan yang sangat tinggi dan juga menyebabkan rusaknya ideology bangsa secara umum. Bisa dibayangkan jika setiap hari terdapat sebanyak 25.000 pengakses pornografi dan yang mengakses adalah generasi muda, maka betapa tingkat kerusakan moral generasi muda kita itu.
Dunia pendidikan harus sungguh-sungguh memperhatikan terhadap persoalan ini jika kita tidak ingin ke depan akan terjadi lost generation. Kitalah yang bertanggungjawab terhadap penyiapan generasi masa depan yang andal untuk negeri ini. Oleh karena itu, pendidikan adalah institusi terpenting yang mengembangkan tugas untuk membangun kesiapan generasi masa depan dalam menjemput peran sertanya bagi pengisian kemerdekaan Indonesia.
Sebagaimana diketahui bahwa pendidikan merupakan tulang punggung pengembangan generasi muda masa depan. Tidak ada yang menyangkal mengenai hal ini. Melalui pendidikanlah generasi emas Indonesia akan terbangunkan. Oleh karena pendidikan haruslah berhasil dan menuai out come yang memadai. Di antara out come tersebut adalah kemampuan generasi mendatang untuk semakin memakmurkan masyarakatnya.
Tentu tidak sia-sia jika Nabi Muhammad saw menyatakan bahwa “menuntut ilmu adalah kewajiban bagi muslim dan muslimat”. Dia bukan keharusan yang bisa diwakilkan atau didelegasikan kepada kelompok atau individu lainnya, akan tetapi adalah keharusan yang melekat kepada masing-masing individu untuk melakukannya.
Tentu bukan sebagaimana kewajiban shalat yang jika tidak dilakukan akan berdosa, akan tetapi kewajiban ini merupakan keharusan yang berdimensi kepentingan diri bagi yang bersangkutan. Dengan demikian setiap orang berkeharusan untuk menjadi pintar dan berkompeten di dalam bidangnya. Untuk itu maka setiap orang haruslah berpendidikan dalam kapasitas yang bisa dilakukannya.
Bagaimana keterkaitan antara puasa dengan pentingnya pendidikan ini. Puasa mendidik seseorang untuk selalu menjaga akhlaknya. Menjaga agar bisa terus menerus membangun perilakunya ke arah kebaikan. Melalui puasa maka seseorang akan bisa mengekang hawa nafsunya. Makanya, puasa sangat relevan dengan tujuan pendidikan yaitu untuk mendidik generasi muda agar ke depan menjadi teladan bagi masyarakatnya.
Oleh karena penyemaian bibit akhlakul karimah sebenarnya bisa dimulai dengan mengajarkan puasa kepada anak didik agar mereka dapat menjaga dirinya dari berbagai tindakan yang terkait dengan kejujuran, kesabaran dan kesalehan. Puasa dan pendidikan memiliki satu tujuan mencetak generasi yang unggul di masa yang akan datang.
Wallahu a’lam bi al shawab.

PUASA DALAM PERSPEKTIF SOLUSI KONFLIK (7)

PUASA DALAM PERSPEKTIF SOLUSI KONFLIK (7)
Sesungguhnya, puasa adalah sarana yang tepat untuk menjadi solusi atas berbagai konflik sosial yang dipicu oleh keinginan berlebihan atas penguasaan sumber daya manusia dan sumber daya alam. Keinginan menguasai merupakan bentuk dari eksistensi nafsu lawwamah (nafsu kehewanan) yang mementingkan dimensi keterpuasaan fisikal dari keterpuasaan pada dimensi spiritual dan sosial.
Dewasa ini, seirama dengan semakin banyaknya populasi suatu negara dan konsentrasi penduduk yang tidak merata, maka juga memunculkan kerawanan terkait dengan penguasaan sumber daya dimaksud. Jika menggunakan ukuran kota Jakarta dan Surabaya betapa menggambarkan bahwa tingkat kepadatan penduduk itu luar biasa. Makanya di kedua kota ini juga terjadi banyak wilayah yang disebut sebagai slum area.
Secara umum sesungguhnya keamanan tetap terjaga. Jika ada sedikit gesekan sosial, sesungguhnya hal tersebut dipicu oleh ketidakseimbangan di dalam kehidupan. Biasanya terjadi karena perebutan sumber daya kehidupan yang memang terbatas. Lahan parkir, tempat ngamen, lahan hiburan dan sebagainya sering menjadi pemicu kekerasan. Dalam beberapa kasus kekerasan ternyata sumbernya berasal dari perebutan wilayah ekonomi yang terbatas.
Yang menyedihkan tentunya adalah kekerasan antar pelajar. Ada beberapa kasus yang melibatkan para pelajar untuk tawuran. Biasanya yang seperti ini dipicu oleh pertentangan antar geng dan kemudian melibatkan institusi. Dalam beberapa kasus yang terjadi terkait dengan kekerasan pelajar, hakikatnya adalah factor perkawanan dan solidaritas antar sesama kawan. Biasanya ada pimpinan informal dari masing-masing kelompok dan kemudian menyulut solidaritas sesama kawan.
Yang dijadikan sebagai inti solidaritas adalah seperasaan almamater. Makanya, selalu saja perkelahian antar pelajar menjadi massif. Padahal penyebabnya terkadang hal-hal yang sangat sepele, misalnya ketersinggungan antar satu dengan lainnya. Bahkan pernah terjadi pembunuhan karena perkelahian antar siswa tersebut.
Pendidikan memang bisa menjadi medium perbaikan moral. Pendidikan merupakan instrument yang paling ampuh untuk mengembangkan karakter yang baik. Makanya melalui pendidikan kita berharap banyak agar terjadi perubahan karakter anak didik agar lebih mengarah kepada kebaikan. Jika pendidikan berhasil maka banyak orang berharap akan terjadi perubahan signifikan bagi kebaikan bangsa di masa depan.
Pendidikan akhlak seharusnya menjadi tumpuan untuk memperbaiki moralitas generasi muda. Makanya pendidikan akhlak tentu berbeda dengan mengajarkan sains atau ilmu sosial lainnya. Pendidikan akhlak harus momot perubahan mentalitas generasi muda agar selaras dengan tujuan agama, yaitu masyarakat yang bermoral atau berakhlakul karimah.
Di antara ajaran agama yang penting dan dapat menjadi instrument untuk mengubah perilaku para generasi muda adalah puasa. Ajaran puasa di dalam agama-agama selalu menekankan pentingnya menjaga agar menahan segala bentuk perilaku amarah dan lawwamah. Bahkan kala seseorang sudah merasa cukup usia untuk kawin dan tidak mampu melakukannya, maka disarankan agar yang bersangkutan melakukan puasa. Ada apa dengan puasa? Puasa ternyata bisa meredam nafsu syahwat dan mengarahkannya kepada perilaku terpuji. Dengan perut kosong di siang hari, maka gejolak nafsu syahwat akan bisa dikurangi. Tentu bukan menghilangkan nafsu syahwat akan tetapi mengurangi besaran nafsu syahwat dan selanjutnya akan mengarahkannya kepada perilaku kebaikan.
Berbahagialah orang yang bisa berpuasa. Melalui puasa maka seseorang akan bisa meredam nafsunya amarah dan lawwamahnya dan kemudian mengarahkannya kepada perilaku yang didasari oleh nafsu muthmainnah. Jika seseorang bisa memasuki arena nafsu muthmainnah, maka hidupnya akan menjadi bahagia sebab syahwat yang mengarahkan untuk menguasai, memenangkan, dan menihilkan orang lain akan tereduksi sedemikian rupa.
Makanya, puasa tentunya bisa menjadi wahana untuk menyelesaikan masalah yang dirasakan oleh sebagian masyarakat kita. Masalah yang didasari oleh nafsu amarah dan lawwamah akan bisa diredam dengan memaksimalkan peran nafsu mthmainnah, sehingga masalah tersebut akan bisa dipecahkannya.
Wallahu a’lam bi al shawab.

MAKNA PUASA DALAM PERSPEKTIF SOLUSI KONFLIK (6)

MAKNA PUASA DALAM PERSPEKTIF SOLUSI KONFLIK (6)
Di dalam suatu kesempatan memberikan ceramah agama di Mushallah al Amanah Sekretariat Jenderal Kementerian Agama (04/06/2016), saya sampaikan kepada jamaah shalat dzuhur bahwa puasa bisa menjadi instrument untuk mengurangi konflik sosial yang sekarang sering terjadi.
Banyak perang yang terjadi di dunia ini. Di Timur Tengah, di Afrika, di Amerika Selatan dan tempat lainnya. Semua peperangan sebenarnya adalah manifestasi nafsu amarah yang tidak dikelola dengan baik. Nafsu amarah bahkan digunakan untuk saling menghancurkan satu dengan lainnya.
Manusia sesungguhnya diciptakan dalam keadaan bergolong-golongan. Hal ini merupakan sunnatullah yang azali. Manusia diciptakan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku. Meskipun sumbernya berawal dari Allah swt dan kemudian melalui Nabiyullah Adam as., akan tetapi kemudian berkembang menjadi bervariasi kesukubangsaannya dan etnisnya. Ada yang ke wilayah Benua Afrika dengan kulit yang hitam dan rambut ikal. Ada yang ke arah Eropa dengan kulit putih dan ada yang ke wilayah Asia dengan dengan kuning dan coklat. Dan ada yang ke wilayah Amerika dengan kulit kemerah-merahan.
Ada ras Monggoloid yang berkulit terang atau kekuning-kungan dengan mata sipit, ada ras Negroid dengan kulit kehitam-hitaman dan rambut ikal, dan ada ras Kaukasoid dengan kulit putih bermata biru. Selain juga bentuk tubuh dan watak umum yang berbeda-beda.
Meskipun agama besar dunia itu muncul pertama kali di wilayah Timur Tengah, akan tetapi mengalami fase perkembangan yang berbeda. Semula adalah Millah Ibrahim, yaitu Yahudi, Nasrani dan Islam. Yahudi tetap berada di wilayahnya secara geografis, sedangkan Nasrani berkembang ke utara di Eropa, Afrika dan Amerika. Sedangkan Islam berkembang ke timur wilayah Asia dan sebagian Afrika. Dahulu Islam pernah berkembang di daratan Eropa akan tetapi setelah kekalahan kerajaan-kerajaan Islam di Eropa, maka kemudian berganti kembali menjadi Nasrani.
Disebabkan oleh berbagai varian tersebut, maka tidak dapat disangkal juga sering terjadi berbagai perbedaan, pertentangan, rivalitas dan bahkan konflik. Bahkan secara vulgar bisa juga dapat dinyatakan bahwa hal itu merupakan sunnatullah. Perbedaan, pertentangan, rivalitas dan konflik adalah ciri kehidupan manusia. Makanya, jangan pernah ada yang berkeinginan menihilkan hal itu. Sejauh yang bisa dilakukan adalah memanej agar hal tersebut menjadi realitas yang saling dipahami. Sering saya nyatakan bahwa nadi kehidupan manusia itu salah satunya adalah konflik selain keteraturan. Keduanya merupakan kenyataan yang selalu menyertai kehidupan manusia dan masyarakatnya.
Ada sumber-sumber kehidupan yang selalu dipertentangkan. Bisa sumber daya manusia maupun sumber daya alam. Manusia butuh wilayah, makan, minum, dan menguasai sumber-sumber daya tersebut. Makanya, konflik dalam banyak hal difasilitasi oleh perebutan akan kekuasaan atau penguasaan satu atas lainnya. Banyaknya peperangan di dunia ini tentu juga disebabkan oleh perebutan sumber daya yang mereka inginkan.
Dengan demikian, sejarah kemanusiaan sesungguhnya adalah pertarungan antara keteraturan sosial dan konflik sosial ini. Keduanya silih berganti dan saling mengintip peluang untuk rivalitas. Meskipun juga diakui bahwa sesungguhnya dalam batin semua manusia menginginkan kedamaian dan bukan sebaliknya. Jika ada perang atau lainnya kebanyakan dipicu oleh factor eksternal yang sangat kuat dan tidak dapat ditolaknya.
Di sini maka diturunkan agama untuk mengatur agar manusia memiliki pedoman di dalam bermasyarakat dan membangun peradaban yang agung. Seluruh peradaban agung di dunia ini tentu diciptakan saat suasana damai. Peradaban Mesir yang agung, peradaban Yunani yang agung, peradaban Persia yang agung, peradaban Cina yang agung dan kemudian peradaban Islam yang agung juga dibangun pada saat perdamaian. Dan sumbernya adalah ajaran agama yang diyakininya.
Salah satu ajaran agama yang penting untuk menjadi instrument di dalam kerangka mengeliminasi konflik adalah puasa. Hal ini tentu disebabkan puasa adalah sarana untuk menahan hawa nafsu keserakahan, keinginan untuk memenangkan diri sendiri, keinginan untuk berkuasa yang berlebihan. Makanya, Tuhan menurunkan ajaran puasa agar manusia memiliki kendali diri di dalam menghadapi semua hal yang terkait dengan perbedaan, rivalitas, pertentangan dan konflik.
Inilah kira-kira rahasia kenapa Tuhan memberikan ajaran puasa kepada semua agama. Kiranya puasa akan dapat dijadikan sebagai instrument untuk membangun perdamaian. Jadi puasa adalah ajaran yang strategis untuk mengarungi kehidupan ini.
Wallahu a’lam bi al shawab.

MAKNA PUASA DALAM KONTEKS SOLUSI MASALAH (5)

MAKNA PUASA DALAM KONTEKS SOLUSI MASALAH (5)
Manusia sekarang memiliki tantangan kehidupan yang lebih kompleks dibandingkan 30-40 tahun yang lalu. Masalah yang mendasar tersebut terkait dengan perkembangan dunia yang makin cepat, sementara kemampuan manusia untuk mengikutinya tentu sangat terbatas. Salah satu di antara masalah sosial yang mendasar tersebut adalah mengenai kehidupan masyarakat perkotaan yang makin kompleks.
Di dalam ceramah agama yang saya sampaikan di Masjid Istiqlal dalam kerangka shalat jamaah tarawih (08/06/2016) tersebut saya sampaikan bahwa kehidupan masyarakat perkotaan semakin komplek pada akhir-akhir ini. Bagi kita yang hidup di Jakarta, maka begitu sangat terasa mengenai kompleksitas kehidupan tersebut. Tekanan jumlah penduduk yang makin banyak sehingga ruang kehidupan juga semakin sesak. Benturan kepentingan juga semakin tinggi terkait dengan ketenagakerjaan, pengupahan, pekerjaan dan sumber daya kehidupan lainnya. Melalui ledakan jumlah penduduk yang tidak terkendalikan, maka banyak terjadi wilayah slum area. Permukiman kumuh dengan tingkat kepadatan penduduk yang sangat tinggi. Selain itu juga terjadinya perebutan fasilitas dan ruang pekerjaan yang sangat ketat. Dengan demikian, pemenuhan sandang, pangan dan papan yang semakin membesar juga tidak terhindarkan. Lalu dampak ikutannya tentu adalah semakin banyak kekerasan sosial dan kekerasan fisik yang sering terjadi.
Cobalah kita lihat betapa kemacetan kota Jakarta ini. Hal ini terkait dengan semakin banyaknya anggota masyarakat kita yang mengakses jalan raya, sementara itu ruas jalan tidak bisa diperlebar atau diperluas sebagaimana yang kita inginkan. Orang berdesakan di jalan raya, di alat transportasi umum, di permukiman dan sebagainya. Orang bisa berada di jalan raya dalam waktu yang panjang. Jarak 3-4 kilo meter bisa ditempuh dalam waktu 2 sampai 3 jam. Sungguh hal ini bukanlah pemandangan aneh di kota seperti Jakarta. Untuk menempuh jarak dari satu titik ke titik lain di Jakarta, bukanlah sesuatu yang prediktif. Sungguh tidak bisa diprediksi.
Suasana kehidupan kota seperti ini tentu bisa mendorong orang untuk mudah emosional, seperti mudah tersinggung, pemarah, dan bahkan stress ringan atau berat. Orang menjadi egois, keras kepala dan mau menang sendiri. Perasaan individual makin menguat sementara perasaan sosialnya makin mengecil bahkan hilang sama sekali. Kira-kira mindsetnya menjadi “yang penting gue dapat”, “yang penting gue sampai” dan seterusnya.
Jika tekanan demi tekanan kehidupan kota ini terus mengeksis di dalam kehidupan setiap hari, maka sangat wajar jika ada di antara kita yang mudah terkena stroke, jantung coroner, dan penyakit lain yang terkait dengan seringnya emosional. Pelampiasan emosi terkadang juga tidak tepat, sehingga sesiapapun yang berhubungan dengannya akan terkena imbasnya.
Di dalam konteks seperti ini, maka puasa menjadi penting adanya. Di dalam puasa diajarkan justru untuk meredam terhadap masalah-masalah yang terus menerus mendera individu dan masyarakat ini. Puasa mengharuskan seseorang untuk menepis semua tindakan emosional yang ada di dalam diri. Semua harus ditekan sampai titik nol jika dimungkinkan. Oleh sebab itu, puasa dengan ajaran kesabaran, kepasrahan dan kepatuhan yang tinggi akan menjadi pengantar agar kita dapat mereduksi dan bahkan menihilkan semuanya itu.
Allah mengajarkan agar di kala kita menghadapi masalah adalah dengan berdizikir kepada Allah. Di saat kita sedang menghadapi persoalan, maka yang diajarkan adalah dengan mengembalikan semuanya itu kepada Allah semata. Maka diajari agar kita menyatakan “inna lillahi wa inna ilaihi raji’un”. Yang arti secara umumnya adalah “semua adalah milik Allah dan akan kembali kepadanya”. Allah yang memberikan dan Allah pula yang akan mengambilnya.
Kala kita sedang terjebak macet, jangan berpikir yang negative, jangan menggerutu, jangan berkeluh kesah, akan tetapi gunakan waktu tersebut untuk berdzikir kepadanya. Ada yang menganjurkan membaca “Allahumma yassir wa tu’assir” yang maknanya adalah “Ya Allah permudah jangan persulit”. Lantunkan kalimat thayyibah, baca doa dan ayat al Qur’an yang kita hafal.
Jika bisa seperti ini, maka masalah terkait dengan kemacetan di Jakarta bukanlah menjadi persoalan akan tetapi justru mendatangkan waktu secara khusus tanpa kita desain untuk berdzikir kepada Allah. Alangkah indahnya jika kita bisa seperti ini. Kemacetan yang menyesakkan menjadi waktu dan ruang untuk mengekspresikan keberagamaan kita. Makanya, masalah bisa menjadi berkah. Dengan demikian, bagaimana kualitas kehidupan kita sesungguhnya sangat tergantung pada bagaimana kita memaknai kehidupan.
Jika kita bisa berpikir positif, maka juga akan menghasilkan energy positif. Dan insyaallah kehidupan akan menjadi semakin berkah. Sekali lagi “masalah menjadi berkah”.
Wallahu a’lam bi al shawab.