Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

PUASA DAN NUZUL AL QUR’AN (19)

PUASA DAN NUZUL AL QUR’AN (19)
Al Qur’an adalah pembeda antara yang haq dan bathil atau yang benar dan salah. Sebagai pattern for behavior, maka pastilah Al Qur’an menyajikan gambaran tentang jalan mana yang benar dan jalan mana yang salah.
Doa kita kepada Allah adalah “allahumma arina al haqqa haqqa wa al zuqna tiba’ah wa arina al abathila bathila wa al zuqna ijtinabah” yang artinya secara general adalah “Ya Allah tunjukkan pada kami jalan yang lurus dan berikan kami kekuatan untuk mengikutinya dan tunjukkan kami jalan yang salah adalah salah dan berikan kami kekuatan untuk menghindarinya”.
Sebagai Kitab Suci yang diturunkan untuk umat manusia, maka pastilah penjelasan tentang jalan menuju kepada Tuhan itu terbentang dengan jelas. Meskipun mujmal atau garis besar, akan tetapi Al Qur’an adalah Kitab Suci yang lengkap terkait dengan keimanan, peribadahan dan kemasyarakatan. Al Qur’an mengandung ajaran yang syumul atau komplit dan menyeluruh. Hal-hal yang ushuli dibahas tuntas, lalu untuk memperjelaskannya maka dibutuhkan petunjuk tehnisnya, yaitu melalui hadits atau sunnah Nabi Muhammad saw.
Itulah sebabnya Al Qur’an dan Sunnah disebut sebagai sumber ajaran Islam yang komplit, jelas dan konprehensif. Jika al Qur’an menggambarkan prinsip-prinsipnya, maka hadits menjelaskan hal-hal yang lengkap dan menjelaskan secara tuntas. Maka, keduanya tidak dapat dipisahkan sama sekali. Untuk memperoleh penjelasan tentang bagaimana menjalankan shalat, maka mau tidak mau seseorang harus mempelajari hadits Nabi Muhammad saw.
Al Qur’an memberikan ajaran mana yang benar dan salah, makanya al Qur’an juga menjelaskan tentang sekelompok orang yang dinyatakan sebagai ashhab al yamin dan ashhab al syimal. Kelompok orang yang berada di garis kanan dan kiri. Al Qur’an memang penuh metafora. Ada banyak penggambaran tentang posisi orang per orang termasuk pada bagian yang mana.
Al ashhab al yamin tentu adalah gambaran orang yang berada di jalan Allah, orang muslim dan mukmin dan orang yang akan memperoleh kebahagiaan di kelak kemudian hari. Mereka adalah orang yang saleh, tidak hanya saleh secara ritual akan tetapi juga saleh secara sosial. Dia taat beribadah dan juga memberikan peluang untuk mengembangkan masyarakatnya ke arah yang lebih baik.
Orang yang seperti ini tidak hanya menginginkan seseorang untuk menjadi pemeluk Islam yang hanya berurusan ke atas, akan tetapi juga membangun relasi yang baik ke samping, depan, belakang dan bawah. Mereka adalah orang yang menggalang aktivisme untuk menyejahterakan masyarakatnya. Kesalehan ritual bisa saja dilakukan atas nama agama, akan tetapi tentu agak sulit menghagai orang karena factor agama, terutama agama yang berbeda.
Sedangkan yang tergolong sebagai ashhab al syimal adalah orang yang selalu ingkar kepada Allah, tidak mengindahkan moralitas agama, tidak menjalankan ajaran agamanya dan tidak mematuhi ajaran agamanya. Tentu juga orang yang tidak mau menerima hidayah Allah dengan mata batinnya. Selalu saja ditolaknya ajaran Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw. Orang kafir, musyrik, munafik dan orang yang melakukan kedloliman terhadap sesama tentu bisa saja dikategorikan sebagai ashhab al syimal ini.
Jika orang nonmuslim tentu sudah jelas posisinya, namun terkadang ada juga orang Muslim yang melakukan tindakan memperdayakan kepada sesama manusia dengan kekuasaannya. Bisa saja seorang pejabat yang dengan semena-mena melakukan tindakan abuse of power. Kekuasaan tidak diwakafkan untuk membuat orang lain “tersenyum” akan tetapi justru digunakan untuk membuat orang lain “menangis”. Makanya, kekuasaan terkadang bisa menyelamatkan diri dan terkadang bisa membuat diri di belakang hari menderita.
Sesungguhnya Al Qur’an telah menggariskan agar kita memasuki barisan “orang yang baik”. Yaitu orang yang selalu berada di dalam koridor menjalankan amalan-amalan baik yang relevan dengan ajaran agama. Bukankah agama pasti mengajarkan akan moralitas yang baik dan menjaga harmoni di dalam kehidupan. Orang yang berbuat baik tentunya adalah orang yang selalu menjaga akal, perasaan dan hati orang lain sebagaimana dia menjaga akal, pikiran dan perasaan serta hatinya.
Jika dicubit orang sakit pastilah kala kita mencubit orang lain juga akan terasa sakit. Makanya orang baik adalah orang yang selalu mengajak orang lain tersenyum dan tertawa bukan karena terpaksa tetapi karena merasa bahagia. Kala kita tidak seperti itu, maka berarti ada yang salah di dalam diri kita. Jangan sampai terbersit perasaan senang melihat orang lain sengsara sering disingkat SMS.
Dengan demikian maka, Islam mengajarkan “jadikan tangisan berubah menjadi senyuman, dan jadikan senyuman sebagai shadaqah untuk kebahagiaan”. Allah pasti bersama orang yang seperti ini.
Wallahu a’lam bi al shawab.

PUASA DAN NUZUL AL QUR’AN (18)

PUASA DAN NUZUL AL QUR’AN (18)
Al Qur’an juga disebut sebagai petunjuk atau pembeda antara yang benar dan salah. Al Qur’an itu “huda li al nasi wabayyinati min al huda wa al furqon” (Al Baqarah: 183). Sebagai petunjuk pastilah al Qur’an memiliki kualitas untuk menjadi pedoman di dalam kehidupan umat manusia, khususnya umat Islam. Di dalam ayat ini disebutnya sebagai “petunjuk bagi umat manusia, dan juga berisi penjelasan-penjelasan tentang petunjuk dan pembeda antara yang haq dan bathil”.
Sebagai petunjuk tentang agama, maka al Qur’an tentu memberikan gambaran tentang apa dan bagaimana beragama itu. Al Qur’an memberikan penjelasan tentang Iman kepada Allah dan juga alam gaib lainnya yang sesuai dengan ajaran Islam. Kemudian juga berisi tentang seluruh tata peribadahan kepada Allah dan bagaimana manusia harus hidup di dalam kehidupan dunia dengan segala konsekuensinya.
Manusia harus memiliki keyakinan bahwa hanya Allah swt yang wajib disembah dan meyakinkan dirinya bahwa tidak ada illah lain yang menyamainya atau tidak ada hal atau dzat lain yang menyerupainya. Keimanan itu harus utuh dan tidak terfragmentasi ke dalam unsur-unsur yang ada di dalamnya. Iman di dalam Islam itu merupakan satu keutuhan yang harus benar-benar menyatu.
Tuhan itu ahad. Bukan hanya sekedar wahid. Tuhan itu satu dzat, sifat dan af’al. Meskipun ada bermacam-macam sifat yang bisa dilabelkan kepada Allah, akan tetapi sesungguhnya sifatnya itu “manunggal” atau merupakan satu kesatuan. Demikian pula af’al Allah yang berdasarkan sifatnya bervariatif. Dengan demikian, sifat dan af’al Allah juga satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Sama sekali tidak ada unsur yang saling berkesatuan.
Jika di dalam agama lain Tuhan bisa terdiri dari unsur yang menyatu, maka di dalam Islam hal itu tidak dikenal. Dzat, sifat dan af’al Tuhan adalah satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Ketiganya bukan merupakan unsur, akan tetapi merupakan kebersatuan yang utuh. Ketiganya hanya label saja untuk memberikan gambaran bahwa Tuhan pastilah memiliki dzat, sifat dan af’al, sebagaimana gambaran kita tentang sesuatu. Namun sesungguhnya Tuhan bukan sesuatu yang berlabel dengan pembagian tugas seperti itu.
Jika alam ciptaannya ini mengenal hukum pasangan, misalnya siang dan malam, lelaki dan perempuan, bumi dan langit dan seterusnya, maka sebagai pencipta alam ini, maka Tuhan itu tidak mengenal pasangan. Dia itu “laisa kamitslihi syaiun” dan “qiyamuhu binafsihi”. Dia itu sungguh berbeda dengan sesuatu lainnya dan berdiri dengan dirinya sendiri. Disebut berdiri dengan dirinya sendiri, sebab alam dengan hukum pasangannya itu saling menopang, berkaitan dan berkelanjutan. Yang lain atau makhluk itu saling bersebab akibat. Ada prima kausanya.
Coba kita perhatikan tetumbuhan, maka dia ada karena ada bumi yang menjadi pijakannya dan dia akan hidup kala ada air sebagai penyebab kehidupannya. Sama dengan manusia, untuk hidup maka manusia harus makan yang bersumber dari hewan atau tumbuhan dan keduanya bisa hidup juga karena ditopang oleh adanya bumi dan air. Itulah yang disebut bahwa Allah itu beda dengan makhluk lainnya dan berdiri dengan dirinya sendiri.
Al Qur’an memang menjadi pedoman bagi manusia untuk mengenal Tuhan lewat firman-firmannya. Berdasarkan sejarah perjalanan Nabi Muhammad saw untuk menyebarkan ajaran tauhid selama di Makkah dan beratnya tantangan untuk melaluinya, maka sesungguhnya memberikan gambaran betapa beratnya untuk menyebarkan ajaran ketauhidan tersebut. Mengubah keyakinan orang kepada yang baru bukanlah sesuatu yang mudah dilakukan. Apalagi jika keyakinan lama itu telah memberikan privilege yang kuat. Bayangkan bagaimana posisi kaum Qurays yang telah memiliki sejumlah otoritas di dalam keyakinan lama dan kemudian akan terkikis oleh keyakinan baru meskipun itu dilakukan oleh kerabat mereka sendiri.
Jadi menurut saya mereka bukanlah ketakutan kehilangan kepercayaannya yang lama, akan tetapi ketakutan kehilangan implikasi kayakinan yang telah membangun jejaring kekuasaan yang demikian kuat.
Kepercayaan paganism yang dianut oleh masyarakat Arab Jahiliyah tidaklah memiliki kekuatan yang mendasar. Makanya jika mereka menolak sedemikian kuat terhadap ajaran Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw sesungguhnya adalah kekhawatiran akan kehilangan otoritas untuk menguasai masyarakat Arab kala itu. Itulah sebabnya dalam waktu hanya 23 tahun akhirnya dapat diubah oleh Rasulullah Muhammad saw.
Al Qur’an sebagaimana diwahyukan oleh Allah kepada Nabi Muhammad saw akhirnya memang menjadi pedoman bagi masyarakat Arab dan kemudian berkembang ke seluruh penjuru dunia. Al Qur’an bukan hanya menjadi pedoman di kalangan orang Arab, akan tetapi telah menjadi pedoman bagi seluruh umat manusia.
Al Qur’an yang berisi ajaran untuk bertauhid, beribadah dan bermasyarakat memang menjadi kitab Suci yang paling orisinal, sehingga tidak ada keraguan sedikitpun tentang keabsahannya. Dengan demikian, turunnya Al Qur’an tentu menandai kebangkitan peradaban baru berbasis pada spirit ajaran Islam yang bersumber dari Al Qur’an.
Jadi, sudah saatnya jika makin digalakkan berbagai program dan kegiatan yang mendukung upaya untuk memasyarakatkan Al Qur’an di dalam kehidupan. Ke depan, tidak ada kata lain kecuali pernyataan “hidupkan Al Qur’an untuk mendorong perubahan ke arah peradaban baru yang Islami”.
Wallahu a’lam bi al shawab.

PUASA DAN NUZUL AL QUR’AN (17)

PUASA DAN NUZUL AL QUR’AN (17)
Di antara keutamaan agama Islam adalah memiliki Kitab Suci yang terjaga keasliannya mulai pertama kali diturunkan hingga kini. Al Qur’an memiliki kekuatan sebagai Kitab Suci dengan terjaganya dari pemalsuan dan kesalahan. Al Qur’an telah menjadi Kitab Suci dengan orisinalitas yang sangat kuat.
Semenjak diturunkan ayat pertama “iqra’ bismi rabbika al ladzi khalaq, khalaqa al insana min ‘alaq, iqra warabbuka al akram al ladzi allama bi al qalam, ‘allama al insana ma lam ya’lam”. (al Alaq: 1-5). Artinya “bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmu yang maha mulia. Yang mengajar manusia dengan pena. Dia mengajar manusia apa yang tidak diketahuinya.
Bermula dari ayat yang diterima oleh Nabi Muhammad saw di Gua Hira’ ini, maka kemudian secara perlahan-perlahan Allah menurunkannya melalui Malaikat Jibril hingga sebanyak 114 Surat dan 6666 ayat. Dan yang juga membanggakan bahwa Al Qur’an tetap dijaga keasliannya oleh para huffadz hingga sekarang.
Al Qur’an al karim terjaga keasliannya disebabkan Al Quran memang dijaga oleh Allah dengan memberikan hafalan yang baik kepada umat Islam, sehingga Al Qur’an yang berjumlah 30 juz tersebut dapat dihafal dengan baik dan terpelihara hafalannya sedemikian rupa. Allah berfirman “ inna nahnu nazzalna al dzikra wa inna lahu lahafidunz” (Al Hijr: 9), yang artinya secara bebas “sesungguhnya Kamilah yang menurunkan al Qur’an dan pastilah Kami pula yang menjaga memeliharanya”.
Keterjagaan Al Qur’an disebabkan oleh banyaknya ulama yang menjadikannya sebagai pedoman di dalam mengarungi kehidupan. Al Qur’an dihafal dan diajarkannya. Al Qur’an dihafal dan ditafsirkan dengan ilmu tafsir yang standar, sehingga tidak terjadi penyimpangan di dalamnya. Keistimewaan Al Qur’an dibandingkan dengan lainnya adalah dari keasliannya ini.
Keaslian al Qur’an memberikan jaminan bahwa ajaran Islam memang terjaga kebenarannya. Semenjak Nabi Muhammad saw hingga sekarang Al Qur’an terus dibaca, dipelajari, diteliti dan dijadikan sebagai lahan kajian yang tidak ada henti-hentinya. Al Qur’an dikaji dengan ilmu Islam dan juga ilmu sosial, humaniora, sains dan teknologi.
Tidak ada teks apapun yang melebihi jumlah banyaknya orang yang membacanya (Al Qur’an) dari dulu hingga sekarang. Al Qur’an dibaca dengan kesungguhan apakah mengerti atau tidak mengerti artinya. Semua terjamin akan mendapatkan pahala berlipat ganda. Itulah sebabnya orang terus menerus membaca Al Qur’an kapan dan di mana saja.
Pada bulan puasa seperti ini, al Qur’an menjadi salah satu kitab yang dibaca, dikaji dan diteliti lebih banyak dari buku, kitab atau teks-teks lainnya. Ada tradisi tadarrus Al Qur’an. Di dalam tradisi ini, al Qur’an dibaca secara berulang-ulang, dan juga dikaji dan diteliti maknanya.
Dewasa ini tidak hanya sarjana dan akademisi dari dunia Timur yang mengkaji Al Qur’an, akan tetapi juga para sarjana dari dunia Barat. Ada di antara mereka yang berangkat dari ketidakpercayaannya bahwa Al Qur’an adalah kalam Allah yang memiliki kebenaran dan juga ada di antaranya yang berangkat dari keyakinan tentang kebenaran Al Qur’an.
Akan tetapi yang menggembirakan bahwa banyak di antara mereka yang justru kemudian menjadi Muslim setelah melakukan pengkajian tentang kebenaran Al Qur’an. Maurice Buchaille, dan Mohammad As’ad adalah contoh di antara para orientalis yang kemudian menjadi Muslim setelah mempelajari kebenaran Al Qur’an. Namun juga ada yang tetap pada keyakinan lamanya, misalnya Snouck Hurgronye, T. Isutzu, hingga Karl Steenbrink yang meskipun mengakui kebenaran Al Qur’an, akan tetapi tetap teguh pada keyakinannya semula.
Di sinilah barangkali letak hidayah Allah. Ada orang yang menjadi muslim karena faktor keturunan seperti kebanyakan orang Indonesia, termasuk saya, dan ada yang memperoleh petunjuk Allah setelah mempelajari al Qur’an. Hidayah itu adalah hak Allah untuk diberikan kepada siapa saja yang dikehendakinya. Allah menyatakan “innaka la tahdi man ahbabta walakkinna Allah yahdi man yasya’. (Al Qashshah: 56) Yang artinya “Engkau tidak akan bisa memberikan petunjuk kepada siapa yang kamu sukai, akan tetapi hanya Allah saja yang bisa memberikan petunjuk bagi siapa yang dikehendakinya”.
Orang yang mempelajari Al Qur’an juga terkena ketentuan seperti itu. Artinya ada di antara mereka yang memperoleh hidayah, seperti peristiwa Sahabat Nabi Muhammad saw, Sayyidina Umar RA., akan tetapi juga ada seperti Abu Jahal, Abu Lahab dan sebagainya yang meskipun dia memperoleh penjelasan langsung dari Nabi Muhammad saw, namun tidak juga memeluk Islam dan bahkan memusuhi Islam hingga akhir hayatnya.
Oleh karena itu berbahagialah kita semua umat Islam Indonesia yang bisa memeluk Islam karena keturunan atau kedaerahan. Makanya, sudah sepantasnya bahwa di tengah gelegak kehidupan yang makin kompleks dewasa ini, lalu kita terus mempelajari Al Qur’an atau mengajarkan Al Qur’an. Sekurang-kurangnya kita terus membaca Al Qur’an yang kita cintai itu.
Dengan demikian Al Qur’an yang merupakan satu-satunya kitab suci yang terjaga kesabsahannya dan kesahihannya di dalam rentang sejarah agama-agama, perlu terus untuk didakwahkan kepada umat manusia agar mereka bisa menjadi pemeluk teguh terhadap ajaran agama Islam.
Wallahu a’lam bi al shawab.

PUASA DAN NUZUL AL QUR’AN (16)

PUASA DAN NUZUL AL QUR’AN (16)
Peristiwa Nuzul al Qur’an memang diperingati di Istana Negara sebagaimana layaknya hari-hari besar Islam lainnya. Saya tidak tahu persis kapan dimulainya upacara kenegaraan menyambut Nuzul Al Quran di Istana Negara, akan tetapi semenjak Orde Baru acara menyambut Nuzul Al Qur’an dilakukan di istana. Bahkan mungkin sudah di era Presiden Soekarno yang lalu.
Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, maka tahun ini (2016) juga dilakukan acara penyambutan hari turunnya Al Qur’an di Istana Negara. Sebagaimana umat Islam lainnya, maka saya tentu bergembira bahwa tradisi menyambut Nuzul al Quran selalu dilakukan di Istana Negara.
Al Qur’an sebagai kalam Illahi memang diturunkan pada bulan Ramadlan sebagaimana pendapat jumhur ulama atau kebanyakan para ulama. Meskipun ada varian pandangan, akan tetapi yang lebih dianggap sebagai pendapat yang absah adalah Al Qur’an diturunkan pada tanggal 17 Bulan Romadlon. Dan pendapat ini pula yang dipegangi oleh ulama Indonesia dan juga pemerintah Indonesia.
Memperingati hari turunnya Al Qur’an memang sebuah amalan yang baik. Bisa dikategorikan sebagai amalan sunnah. Jadi memperingati Nuzul Al Qur’an tentu akan mendapatkan pahala sebagaimana perbuatan sunnah lainnya. Di Negara-negara Islam lainnya seperti Malaysia dan Brunei Darussalam juga diselenggarakan upacara kenegaraan Nuzul al Qur’an meskipun dengan corak dan cara yang berbeda-beda.
Al Qur’an memang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad saw dengan lokus Arab. Artinya, Al Qur’an diturunkan dengan bahasa dan langgam bahasa dan bahkan budaya masyarakat Arab kala itu. Namun demikian, kandungan Al Qur’an memiliki cakupan universal sebab al Qur’an memang ajaran yang memiliki lokus universal. Al Qur’an itu “shahih fi kulli zaman wa makan” atau Al Qur’an itu benar pada semua tempat dan zaman.
Al Qur’an adalah pedoman kehidupan. Dengan demikian, Al Qur’an dapat menjadi pedoman bagi siapa saja warga dunia yang memang memperoleh petunjuk untuk menjadi muslim. Menjadi Muslim atau menjadi nonMuslim adalah pilihan setelah diturunkannya Al Qur’an. Ada yang mempercayainya dengan setulus hati dan ada pula yang menolak. Semua tergantung kepada kemauan pikiran dan hati untuk menerimanya.
Kajian tentang Al Qur’an dari berbagai perspektif ilmu pengetahuan telah dilakukan dan semuanya menghasilkan proposisi yang menyatakan bahwa kebenaran Al Qur’an adalah kebenaran yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah maupun reflektif. Kebenaran tentang tata surya, penciptaan alam semesta, sejarah masa lalu, dan kebenaran sains dan teknologi juga tentu memberikan gambaran bahwa Al Qur’an adalah kebenaran yang mutlak adanya.
Al Qur’an yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad saw 15 abad yang lalu ternyata bisa menjadi pedoman kehidupan di era modern ini. Itu artinya bahwa Al Qur’an memiliki cakupan yang universal dalam waktu dan tempat. Bisa dibayangkan bahwa Al Qur’an yang diturunkan dalam nuansa masyarakat Arab yang konon dilabel jahiliyah, akan tetapi memiliki daya cakupan yang mencakupi dunia modern ini. Al Qur’an merupakan kitab suci yang menyejarah di dalam rentang panjang kehidupan manusia.
Di era modern ini tentu kita merasa gembira sebab semakin banyak orang yang mengkaji Al Qur’an di dalam berbagai dimensinya. Al Qur’an banyak dihafal oleh anak bangsa ini. Al Qur’an banyak diperlombakan di berbagai even dan tempat. Semua menggambarkan akan “kebangkitan” kajian Al Qur’an.
Di berbagai sudut perkotaan berdiri Rumah Al Qur’an atau Tempat Pembelajarn Al Qur’an. Berbagai eksperimen dilakukan agar Al Qur’an mudah dipelajari untuk dibaca dan mudah dipahami terjemahnya. Ada banyak program mulai yang manual sampai yang eletronik tentang pembelajaran Al Qur’an Cara Cepat.
Berbagai inovasi ini tentu menjadi bukti bahwa masyarakat semakin sadar akan pentingnya Al Qur’an untuk dimasyarakatkan. Al Qur’an telah menjadi bagian dari cara orang untuk mengekspressikan agamanya. Al Qur’an bisa hanya dibaca tanpa memahami kandungan maknanya. Al Qur’an juga bisa dibaca dengan memahami makna dan tafsirnya. Semua dilakukan untuk memperoleh pahala Allah swt.
Di berbagai lembaga pendidikan juga berkembang studi-studi Al Qur’an yang didesain untuk menjadikan Al Qur’an sebagai pedoman kehidupan. Semua diarahkan agar Al Qur’an menjadi sesuatu yang hidup di dalam diri manusia. Sering diungkapkan sebagai “The Living Al Qur’an.”
Dengan penuh kegembiraan dan kebanggaan kita merayakan Nuzul Al Qur’an dan semoga kita memperoleh pahala dengan melakukan kebikan seperti ini. Ada sebuah hadits Nabi Muhammad saw yang menyatakan “sebaik-baik manusia adalah yang mempelajari Al Qur’an dan mengajarkannya”. Jadi, sekurang-kurangnya kita telah mempertingati untuk mempelajari Al Qur’an.
Wallahu a’lam bi al shawab.

PUASA DAN RASA KEMANUSIAAN (15)

PUASA DAN RASA KEMANUSIAAN (15)
Orang yang melakukan puasa adalah orang yang bisa menahan hawa nafsu. Semua umat Islam memahami hal ini. Apakah dia kaum awam Muslim sampai kyai atau ulama pastilah memahami tentang hal ini. Penjelasan tentang puasa melalui berbagai sumber informasi sudah menggambarkan tentang hal ini.
Persoalannya adalah apakah benar kita sudah melakukannya di dalam kehidupan kita. Atau apakah menahan nafsu biologis makan dan minum sudah menjadi kebudayaan kita atau menjadi kenyataan di dalam kehidupan kita. Ini merupakan pertanyaan umum yang saya kira bisa ditanyakan kepada diri kita di tengah suasana pelatihan menahan nafsu biologis ini.
Secara umum, semua orang yang berpuasa pastilah bisa menahan makan dan minum dan juga nafsu syahwat. Tiga larangan ini sudah menjadi pengetahuan semua orang yang berpuasa. Soal lainnya, misalnya menahan menggunjingkan orang, berkata kasar yang menyakiti orang, tingkah laku yang tidak menyenangkan, bahkan terbersit niat untuk melakukan sesuatu yang bertentangan dengan ajaran Islam mungkin masih tanda tanya. Namun secara umum yang terkait dengan hal-hal yang fisikal tentu masih bisa dilakukan.
Sebagai salah satu ajaran yang mendedahkan tentang pentingnya berempati terhadap mereka yang kurang dan tidak beruntung, maka sesungguhnya ada pertanyaan penting yang bisa diajukan, yaitu apakah kita sudah juga mengembangkan sikap tidak berlebihan di dalam mengonsumsi makanan pada malam hari atau kita juga berhemat untuk kepentingan konsumtif lainnya serta hasil penghematan itu lalu diberikan kepada yang sangat membutuhkan. Puasa saya kira tentu sangat menghargai kala kita bisa berhemat dan kemudian hasilnya didayagunakan untuk kepentingan kaum miskin, misalnya.
Sungguh suatu pemandangan yang juga kurang berkaitan dengan perintah untuk hidup sederhana dalam banyak hal, misalnya dalam hal makan, yaitu dengan ramainya rumah-rumah makan berkelas dengan tarif berkelas juga. Kalau kita jalan di berbagai Mall dan hotel yang di situ ada rumah makannya, maka kita akan bisa melihat bagaimana ramainya pengunjung dengan indikasi mereka berbuka puasa, misalnya dari cara berpakaian, dan saat menunggu waktu berbuka.
Semua ini memberikan gambaran bahwa justru bulan puasa menjadi bulan yang memperkuat “kesadaran” berkuliner di rumah-rumah makan berkelas. Mungkin ada yang berpikir hal ini dilakukan setahun sekali, sehingga dianggapnya hal yang lumrah atau biasa. Jika yang berpikir hal lumrah sedikit, mungkin masih bisa ditolelir, namun jika yang berpikir seperti itu banyak berarti bahwa akan terjadi peluberan orang yang memanfaatkan rumah makan berkelas di bulan puasa.
Saya yakin bahwa ada di antara kita yang berpandangan bahwa puasa itu setahun sekali, dan menahan nafsu makan selama 12 jam itu juga perjuangan yang berat, maka ketika datang malam hari, maka semuanya seakan mau dimakan atau diminum. Makanya, konsumsi gula, buah-buahan, daging dan makanan kaleng lainnya juga meningkat di bulan puasa.
Pemerintah juga mengantisipasi lonjakan kebutuhan sembilan bahan pokok di bulan puasa. Permintaan terhadap produk-produk makanan menjadi sangat meningkat di bulan puasa. Hal ini menandakan bahwa terjadi lonjakan komsumsi terhadap kebutuhan bahan makanan. Bagi yang melakukannya tentu bukanlah hal yang salah. Sebab untuk mau makan atau minum di manapun tentu merupakan hak bagi setiap individu. Mau makan di rumah saja juga tidak ada masalah. Hal ini juga menyangkut selera dan kemauan yang bersangkutan.
Namun demikian, menghadapi bulan puasa yang oleh orang Jawa dianggap sebagai “bulan tirakat” maka semestinya kita juga membatasi agar pemenuhan nafsu biologis ini tidak diumbar sedemikian rupa. Harus ada etika untuk menghormati bulan puasa sebagai bulan yang penuh makna dengan benar-benar memanej pemenuhan nafsu biologis secara ketat dan terkendali.
Kata kuncinya adalah pengendalian diri ini. Melalui ajaran puasa sebenarnya kita tidak hanya diajari untuk tidak makan dan minum di siang hari serta berhubungan seks di siang hari. Bukan hanya ini, akan tetapi yang juga penting adalah bagaimana kita memanej kebutuhan biologis (makan dan minum) di malam hari dengan cara mengatur sesuai dengan pemenuhan kebutuhan secara proporsional.
Jadi puasa juga mengatur agar kita bisa berhemat dalam pemenuhan kebutuhan biologis (makan dan minum) dan hasilnya bisa didayagunakan untuk memberikan “kesenangan” kepada orang lain yang belum beruntung di dalam kehidupannya.
Wallahu a’lam bi al shawab.