Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

KE RAJA AMPAT: PEMBINAAN ASN KEMENAG (1)

KE RAJA AMPAT: PEMBINAAN ASN KEMENAG (1)
Sebenarnya, pada tahun 2013, saya pernah merencanakan untuk melihat kehebatan pariwisata Indonesia, yaitu Raja Ampat. Namun perjalanan itu tertunda sebab tiba-tiba ada rapat Baperjakat di Kantor untuk membahas hasil pemilihan Rektor IAIN Sunan Ampel. Saya merasa harus hadir pada acara itu dan meninggalkan rencana untuk datang ke Raja Ampat.
Jadwal saya pada waktu itu ialah ke STAIN Sorong, lalu ke STAIN Palopo dan baru kembali ke Jakarta. Akan tetapi karena jadwal Baperjakat itu, maka saya harus kembali ke Jakarta dan baru esok harinya ke STAIN Palopo. Perjalanan memang menjadi berputar-putar dari yang semula dalam satu jalur: Sorong, Makasar, Palopo, lalu menjadi Sorong, Jakarta, Makasar lalu Palopo dan kembali ke Jakarta.
Saya juga berkali-kali diundang ke Sorong dan Manokwari, akan tetapi karena kesibukan di Jakarta, maka perjalanan tersebut selalu tertunda. Terakhir saya diundang oleh Pak Sudamek untuk meresmikan Vihara di Manokwari dan akhirnya juga tidak bisa datang. Tetapi akhirnya takdir ke Manokwari dan Sorong datang juga. Bahkan juga ke tempat wisata Raja Ampat yang sangat terkenal itu.
Saya berangkat dari Jakarta hari Kamis malam, pukul 01.00 Wib dan sampai di Sorong pukul 06.00 WIT dengan pesawat Garuda, lalu melanjutkan perjalanan ke Manokwari dengan pesawat Garuda tipe Bombardir, dan sampai pukul 07.30 WIT. Saya dijemput oleh Pak Plt. Kakanwil Papua Barat, Pak Abdul Hamid Rahayamtel dan jajarannya. Bertepatan saya satu pesawat dengan Pak Wakil Gubernur Papua Barat, Pak Muhammad Lakotani. Saya disambut dengan tarian khas Papua dan juga dikalungi untaian manik-manik yang indah. Saya berpikir, ini cocok untuk mainan cucuku, Yufika Farnas Adzkiya.
Saya transit di Hotel Swiss Belhotel Manokwari untuk sekedar membersihkan muka dan badan secukupnya. Seperti biasa saya tidak berani mandi karena kurang tidur. Di pesawat saya hanya tidur 3 jam saja. Itu sudah sangat cukup bagi saya. Tetapi tentu kurang jika dihitung dengan jam tidur biasanya di rumah. Biasanya saya tidur 5 jam.
Di Kantor Wilayah Kementerian Agama sudah menunggu para pejabat dari pusat dan daerah. Bu Donna dari Ortala sudah berada di sini untuk menyelenggarakan kegiatan keortalaan, dan sementara pejabat di Kanwil Kemenag Papua Barat juga sudah menunggu untuk acara pembinaan pegawai. Pukul 09.30 WIT acara ini dimulai. Pak Plt. Kakanwil memperkenalkan profile Kanwil Kemenag dan juga berbagai kegiatan penting di sini. Lalu, saya juga menyampaikan beberapa hal yang saya anggap sangat penting di era sekarang ini. Ada beberapa hal yang saya sampaikan, yaitu:
Saya sampaikan tentang misi kementerian agama. Seperti biasanya, saya menggoda terhadap para pejabat di sini dengan pertanyaan: “siapa yang hafal tujuh misi Kemenag, akan saya beri hadiah dompet saya ini. dompetnya saja, sementara isinya tidak”. Saya tentu yakin bahwa para pejabat di sini pasti hafal tujuh misi ini. namun demikian, saya mengingatkan kembali tentang misi-misi tersebut.
Pertama, meningkatkan pemahaman dan pengamalan beragama. Misi ini merupakan misi utama Kemenag. Tugas kita semua ialah meningkatkan pemahaman dan pengamalan beragama dalam coraknya yang moderat. Atau di dalam konsepsi Islam disebut sebagai agama yang wasathiyah. Sebagai ASN Kemenag, kita semua wajib mengembangkan pemahaman dan pengamalan beragama yang mengandung perdamaian untuk memperkuat kesatuan dan persatuan bangsa. Jangan ada di antara kita yang tertarik pada pemahaman dan pengamalan agama yang mengandung kekerasan, intoleran, anti Pancasila, UUD 1945, NKRI dan ajaran berbasis takfiri. Kita harus menarik mereka yang ke kanan atau ke kiri untuk berada di tengah.
Kedua, memperkuat kerukunan umat beragama. Kita bersyukur bahwa bangsa Indonesia memiliki common platform yang berupa Pancasila. Dengan memiliki Pancasila, maka kerukunan umat beragama itu bisa dirajut dengan kuat. Negara yang besar ini tidak didasarkan atas dasar agama atau isme-isme lainnya, akan tetapi oleh Pancasila. Indonesia bukan negara agama dan juga bukan negara secular, akan tetapi negara yang berbasis pada agama. Kita telah memilih hubungan antara agama dan negara ialah yang bercorak simbiosis mutualisme. Saling membutuhkan.
Ketiga, meningkatkan kualitas pendidikan agama dan keagamaan. Pendidikan merupakan instrument penting untuk meningkatkan kualitas SDM. Makanya dengan pendidikan yang berkualitas, maka dipastikan juga akan didapatkan manusia Indonesia yang berkualitas. Lembaga pendidikan kita harus semuanya bermutu. Madrasah, Pendidikan Tinggi, lembaga pendidikan di bawah ditjen agama-agama juga harus ekselen. Semua lembaga pendidikan harus terakreditasi dengan baik. Semua guru harus professional, dan para siswa, santri atau mahasiswa juga harus berkualitas di dalam menyongsong Indonesia Emas, 2045. Jangan sampai kita salah mengajar generasi sekarang ini, sebab merekalah yang akan menjadi generasi emas Indonesia di masa depan.
Keempat, memperkuat pelayanan kepada umat beragama. Tugas kita ialah untuk memberikan pelayanan yang terbaik bagi semua umat beragama. Sarana dan prasarana umat beragama harus dipenuhi. Masjid, Vihara, Gereja, Pura dan Kelenteng juga harus dipenuhi sebagai pelayanan ibadah kepada umat beragama. Demikian pula pelayanan pendidikan, perkawinan, kependudukan, dan lain-lainnya. Kita ini adalah pelayan umat.
Kelima, penguatan ekonomi berbasis institusi keagamaan. Misi ini yang saya kira perlu diperkuat ke depan. Kita harus memperkuat penyelenggaraan Zakat, Infaq dan Shadaqah sebagai pilar ekonomi umat. Demikian pula dana punia, dana kolekte dan sebagainya juga haris didayagunakan untuk mengembangkan ekonomi umat. Masjid tidak hanya dijadikan sebagai tempat ibadah tetapi juga untuk pemberdayaan ekonomi, kesehatan dan sebagainya.
Keenam, meningkatkan kualitas pelayanan haji. Kita sungguh bersyukur sebab hasil survey tentang penyelenggaraan haji terus meningkat. Sekarang kita sudah berada dalam score 84,85 artinya hanya tinggal 0,15 score saja untuk mencapai pelayanan yang sangat memuaskan. Kita telah melakukan pembenahan secara optimal tentang pemondokan, catering dan juga transportasi. Dan hasilnya tentu adalah kepuasan para Jemaah haji yang semakin meningkat.
Ketujuh, penguatan tata kelola dan manajerial. Kita telah berbuat banyak, misalnya dalam reformasi birokrasi kita telah mencapai prestasi yang baik dengan nilai BB. Kita sudah mendapatkan nilai IRB sebesar 72, 23, artinya kita sudah akan berhak untuk memperoleh tunjangan kinerja sebesar 70 persen. Tetapi satu hal yang harus saya ingatkan agar para ASN meningkatkan kualitas kinerjanya. Sekarang kita telah memiliki aplikasi baru, SIEKA atau Sistem Informasi Elektronik Kinerja ASN. Semua harus menggunakannya agar upaya untuk meningkatkan tukin akan semakin mendekati kenyataan.
Dalam bidang Laporan Keuangan Kementerian Agama (LKKA) tahun 2017, kita bersyukur bahwa kita telah mencapai prestasi terbaik, sebagaimana tahun lalu, yaitu memperoleh opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).
LKKA merupakan marwah Kementerian Agama. Jadi kalau kita tidak mendapatkan WTP maka hal itu terasa sangat menyedihkan. Kita bisa mempertahankan berturut-turut WTP tahun 2016 dan 2017. Kita sudah mengalami disclaimer pada tahun 2000-an, lalu mulai WTP-DPP tahun 2012-2014. Menjadi WDP tahun 2015. Hal ini disebabkan oleh perubahan system akuntansi dari cash based ke accrual based. Tetapi dalam dua tahun terakhir justru kita bisa meraih WTP sebagai penilaian tertinggi dari BPK. Kita harus bersyukur tentang hal ini. dan saya ingin menyatakan bahwa WTP ini adalah kerja keras kita semua. Bukan capaian individu-individu tetapi capaian bersama.
Lalu kita juga memperoleh penilaian yang baik terkait dengan Pelayanan Publik. Ombudsman Republik Indonesia (ORI) memberikan penilaian yang signifikan, yaitu dari peringkat 19 menjadi peringkat 10. Tahun ini harus bisa masuk zona warna hijau dengan score sekurang-kurangnya 88.
Wallahu a’lam bi al shawab.

SEPAKBOLA DAN SIHIR BUDAYA POP

SEPAKBOLA DAN SIHIR BUDAYA POP
Perhelatan Piala Dunia, tahun 2018 selesai sudah. Stadion Luhzniki, Rusia, menjadi saksi berakhirnya pertandingan final antara Perancis dan Kroasia. Para penggila bola dimanjakan oleh pertandingan demi pertandingan sepakbola berkelas dunia, mulai dari babak 32 besar, 16 besar, perdelapan final, semi final dan final. Semua sudah tahu, bahwa di dalam semi final, Tim Ayam Jantan Perancis memenangkan pertandingan melawan tim kuat, Belgia dengan score 1:0., dan Kroasia memenangkan pertandingan melawan Tim Three Lions, Inggris dengan skore 2:1. Lalu di dalam perebutan tempat ketiga, Belgia memenangkan pertandingan melawan Inggris dengan score 2:0.
Ada banyak candaan terkait dengan Piala Dunia ini, misalnya Kroasia itu nenek moyangnya berasal dari Sumedang. Kroya. Coba simak WA yang dikirim oleh Mas Hadi sebagai berikut:
Pak Huda: Pak Oman, menurut Bapak siapa yang akan jadi juara Piala Dunia.
Pak Oman: Kroasia dong.
Pak Huda: Tahu dari mana Pak?
Pak Oman: Dari Sumedang lah!
Saya juga kirim pesan ke Pak Abdurahman, lewat WA. Saya nyatakan bahwa: Tim Belgia itu asal usulnya dari Madura. Mereka berasal dari Blega. Karena factor cuaca dan lidah orang Belgia, semestinya Blega menjadi Belgia. Makanya saya mendukung Belgia pada waktu pertandingan memperebutkan juara ketiga melawan Inggris.
Lain lagi ketika saya mendukung Tim Perancis. Saya nyatakan bahwa Tim Perancis mendukung program Kementerian Agama, sebab Paul Pogba baru saja menunaikan ibadah umrah. Pak Rahman dengan nada serius menyatakan: Pogba tidak berangkat dari Indonesia. Saya tambahkan lagi, Paul Pogba itu orang Jawa. Nama sebenarnya ialah Polo. Dalam bahasa Jawa Polo itu jabatan dalam system pemerintahan di pedesaan Jawa. Ada Polo, Kamituwo. Carik dan sebagainya.
Ada juga guyonan Pak Lukman Hakim Saifuddin (Menteri Agama). “Tenang… Pelatih Croasia Zlatko Dalic masih belum mau menurunkan 2 pemain yang keturunan Indonesia, Dewi Persic dan Zaskia Gotic untuk melemahkan pertahanan Perancis…”. Kita sungguh menikmati pertandingan demi pertandingan di dalam Piala Dunia dengan tertawa dan canda yang menggairahkan.
Saya berkesempatan untuk nonton bareng di Hotel D’Consulate di Jalan Wahid Hasyim Jakarta. Saya kira tidak ramai, ternyata luar biasa ramainya. Tidak hanya dari kami, tetapi juga dari Kementerian Perhubungan. Sekjen Kemenhub juga tampak nonton di situ. Rupanya kebanyakan dari Kemenhub ini mendukung Kroasia. Terlihat dari jersey berupa kaos yang sesuai dengan seragam tim Kroasia. Nyaris tidak ada yang mendukung Tim Perancis kecuali ada warga negara asing, rasanya orang Perancis yang memakai syal dengan lambang Ayam Jantan, Perancis. Saya nonton dengan Pak Tarmizi, Pak Thamrin, Pak Afrizal, Pak Mujab, Pak Sadirin, dan lain-lainnya. Ada sebanyak 13 orang dari kita dan lebih dari 20 orang dari Kemenhub.
Kita tidak menggunakan artibut apapun. Rupanya memang kami tidak memiliki dukungan absolut terhadap tim tertentu. Sementara juga sangat banyak penonton lainnya yang memang mendukung Kroasia. Kaosnya merupakan kostum Tim Kroasia. Tetapi anehnya kala Perancis memasukkan gol, semuanya berteriak hore, hore, hore dan sebagainya. Tetapi riuh rendah tentu saja terjadi saat Kroasia mampu menyamakan kedudukan 1:1. Mereka pada berteriak dan berjoget sangat antusias.
Kroasia memang tidak dipayungi Dewi Fortuna, Dewi Keberuntungan. Gol pertama Perancis sebenarnya adalah gol bunuh diri Mario Mandzukic yang sama-sama melompat untuk menghalau bola hasil sepak pojok Perancis. Dan gol kedua Perancis yang merupakan gol tendangan penalti juga disebabkan oleh hand ball yang dilakukan oleh pemain Kroasia di area penalti. Wasit mengalami keraguan apakah perlu tendangan penalti atau tidak. Sebab untuk memberikan tendangan penalti tentu jika ada kesengajaan pemain lawan untuk menghalau bola dengan tangan. Ada gerakan untuk melakukannya. Wasit Nestor Pitana dari Argentina meminta bantuan Video Assistance Referee (VAR), untuk memastikan apakah itu tendangan penalty atau tidak. Akhirnya diputuskan bahwa memang ada kesengajaan pemain Kroasia, Ivan Perisic, dalam menghalau bola di kotak penalti. Antoine Griezmann dengan lihainya mengecoh penjaga gawang Kroasia, Danijel Subasic, sehingga kedudukan menjadi 2:1.
Melihat permainan Kroasia yang terus menyerang, maka sesungguhnya tim ini layak untuk memenangkan pertandingan. Bayangkan dengan tim Inggris yang lamban di dalam mengatur serangan, mereka memenangkannya dengan skore 2:1. Lalu Inggris juga kalah dari Belgia 2: 0, pada laga perebutan juara ketiga. Belgia dengan Romelu Lukaku, Eden Hazard dan penyerang hebat lainnya memainkan gaya bermain menyerang yang sangat efektif. Barisan pertahanan Inggris pun menjadi babak belur menghadapi tim dengan gaya ofensif. Dan Inggris akhirnya kemasukan dua gol tanpa mampu membalas. Tipe permainan menyerang memang menjadi ciri khas di dalam perhelatan Piala Dunia 2018.
Perancis memang memiliki pemain dengan kemampuan berlari yang sangat cepat. Griezmans dan Mbappe adalah dua penyerang kiri dan kanan yang luar biasa. Kecepatan pemain depan Kroasia yang sangat terkenal, seperti Luca Modric, Mario Mandzukic dan Ivan Perisic bisa dibuat tidak berdaya oleh barisan belakang tim Perancis, Umtiti, Blaise Matuidi dan kawan-kawan. Kecepatan permainan tim Kroasia terasa berhenti di pemain belakang Perancis.
Bahkan tidak hanya pemain depan atau para penyerang yang bisa membuat goal tetapi pemain belakang juga bisa melakukannya. Bola-bola mati di sekitar are penalti dan sepak pojok menjadi lahan yang baik untuk mencetak goal. Pogba juga bisa mencatatkan namanya di papan score setelah mencetak goal bagi Perancis. Demikian pula Kylian Mbape juga menorehkan langkah emas sebagai pemin muda berbakat. Tendangan kerasnya di babak kedua memastikan Perancis memenangkan pertandingan final.
Tetapi yang lucu tentu ialah bagaimana penjaga gawang Perancis, Victor Hugo Lloris, memainkan bola di dekat Mandzukic dan dengan kegesitannya, penyerang Kroasia ini dapat menyarangkan bola ke gawangnya. Score menjadi 4:2. Dan Perancis untuk kedua kalinya memenangkan Piala Dunia. Yang pertama tentu di era Didier Deschamps, Laurent Blank, Zinedine Zidan dan kawan-kawan. Dan catatan khusus, Deschamps adalah pemain dan pelatih yang memenangkan Piala Dunia.
Malam itu, jalan-jalan menjadi sepi. Banyak mobil yang parkir di tempat nonton bola bareng. Di jalan-jalan yang saya lewati ternyata banyak mobil yang parkir karena pemiliknya sedang nonton bola di hotel-hotel dan café-café yang secara khusus memang menyediakan tayangan bola. Inilah sihir budaya pop, yang bernama sepak bola.
Wallahu a’lam bi al shawab.

KE ROMA: BERTEMU TOKOH AGAMA (15)

KE ROMA: BERTEMU TOKOH AGAMA (15)
Acara terakhir saya ialah bertemu dengan Tokoh Islam, Ustadz Abdalla Ridlwan, orang Maroko, yang mengabdikan dirinya bagi pengembangan Islam di Italia. Kami sudah bertemu sebelumnya di Masjid Agung Roma, dan hari ini, 5/07/2018, kami bertemu kembali. Jika acara sebelumnya ialah kunjungan muhibbah ke Masjid Agung Roma, maka kali ini adalah pertemuan dengan Beliau selaku Sekretaris Majelis Agama Islam di Italia.
Jika yang pertama kami diantar oleh Pak Dubes Vatikan, Pak Agus Sriyono, maka untuk kunjungan kedua diantar oleh Bu Dubes Italia, Malta dan Cyprus, Bu Esti. Saya kembali diajak bertemu di Ruang Teater Masjid Agung Roma. Saya, Bu Dubes, Pak Abdalla dan staf Dubes Vatikan duduk di depan, sementara para tokoh agama duduk di kursi-kursi yang sudah disediakan.
Karena waktu yang sangat terbatas, kira-kira 30 menit, maka acara langsung dibuka oleh Bu Dubes dan pamaparan langsung oleh Pak Abdallah. Beliau langsung mengungkapkan beberapa hal yang dianggap sangat urgen, misalnya pandangannya tentang Islam wasathiyah. Jika kemarin beliau tidak menjelaskan tentang Islam wasathiyah, dan lebih mengedepankan Islam authentic, maka kali ini beliau secara khusus membahas tentang Islam wasthiyah itu.
Baginya bahwa Islam memang megajarkan jalan tengah, mengajarkan agar menjadi umat yang wasathan. Umat yang wasathan itu ditandai dengan tidak beragama dengan cara yang keras dan radikal apalagi yang mengembangkan terorisme. Islam baginya mengajarkan perdamaian dan keselamatan. Islam sama sekali tidak mengajarkan intoleransi. Islam mengajarkan agar kita menghargai keberadaan umat lain, lakum dinukum waliyadin. Bagimu agamamu dan bagiku agamaku. Islam tidak memaksakan agar umat lain harus menjadi Islam. La ikraha fiddin. Tidak ada paksaan dalam agama.
Muslim Italia ini terdiri dari sejumlah kaum migran dari berbagai negara. Mereka hidup di Italia dan menjadi komunitas Muslim. Meskipun mereka berasal dari berbagai negara tetapi seharusnya juga menjadi orang Italia. Pemahaman agamanya bisa berbeda-beda tetapi mereka mestilah menjadi masyarakat muslim yang bisa menyatu dengan masyarakat Italia. Makanya di masjid ini ada tiga Bendera, yaitu Bendera Islam, Bendera Italia dan Bendera Masyarakat Eropa.
Kita mestilah mengamalkan Islam di dalam kehidupan yang tidak harus sama dengan di Arab Saudi atau lainnya. Di dalam ibadah bisa terdapat kesamaan tetapi di dalam kehidupan sehari-hari boleh tidak sama. Misalnya tentang peran perempuan. Di Arab Saudi baru saja perempuan boleh menyetir mobil atau nonton bola. Dan ini menggambarkan bahwa ada perubahan di dalam kehidupan orang Arab Saudi. Di Indonesia perempuan bisa apa saja, bahkan sudah ada yang menjadi duta besar, seperti Bu Esti, ada yang menjadi kepala daerah dan sebagainya.
Bagi Pak Abdalla bahwa Islam Indonesia adalah contoh bagi dunia. Meskipun sekarang juga menghadapi orang Islam radikal tetapi Indonesia tetap merupakan negara muslim terbesar yang bisa mengatasi persoalan bangsa. Bangsa Indonesia adalah harapan dunia. Jika Indonesia tidak damai dan aman, maka juga negara lainnya. Indonesia memiliki pengaruh yang luar biasa bagi kehidupan umat Islam di dunia. Saya selalu berharap agar Indonesia selalu aman dan damai.
Berikutnya, saya diminta oleh Bu Esti untuk memberikan sambutan. Saya sampaikan rasa terima kasih saya, dan juga penghargaan atas penjelasan mengenai Islam wasathiyah sebagaimana baru saja kita dengarkan. Selain itu kita juga bekerja sama untuk membangun dialog. Dan secara lesan saya sampaikan kami mengundang Pak Abdalla untuk datang ke Indonesia dan melakukan dialog dan perjalanan di Indonesia. Nanti Pak Fery akan menjadi PIC untuk kepentingan ini.
Wallahu a’lam bi al shawab.

KE ROMA; BERTEMU TOKOH AGAMA KATOLIK (14)

KE ROMA; BERTEMU TOKOH AGAMA KATOLIK (14)
Hari terakhir saya di Vatikan ialah bertemu dengan dua tokoh agama di Vatikan dan Roma, ialah Ustadz Abdallah Ridlwan dan His Excellency Kardinal Pietro Parolin. Dua kegiatan yang sangat menarik. Pertemuan dengan His Eminent Kardinal Pietro Parolin ini nyaris batal, sebab Surat yang dilayangkan oleh Pak Dubes Vatikan, Agus Sriyono, lama tidak dijawab oleh staf Sekretariat Negara.
Hari Rabo sore, kira-kira pukul 5 (lima), Pak Dubes kontak saya, bahwa pertemuan dengan Kardinal Parolin bisa diselenggarakan. Semestinya pertemuan akan dilakukan pada jam 4 sore. Dan saya menyatakan siap dilaksanakan. Akan tetapi ternyata pesawat saya ke Jakarta pukul 19.40 waktu Italia, sehingga rasanya sudah hopeless untuk bisa berrtemu.
Tiba-tiba ada berita bahwa His Eminent Kardinal Parolin bisa menerima kami pada pukul 1.00 waktu Italia. Pak Dubes kontak saya bahwa pertemuan bisa dilakukan. Jadi, Kardinal Parolin mengurangi jam makan siang dan istirahatnya demi kami dari Indonesia. Pak Dubes sangat surprise, demikian pula kami semua.
Kami dengan sejumlah tokoh agama: Prof. A’la, Prof. Philip, Prof. Henriette, Pak Uung, Pak Wisnu, Romo Markus, Romo Leo, Romo Purnama, Pak Fery, Jemi, Ubed dan sejumlah staf kedubes hadir di dalam acara Courtesy Call ini. Saya bersama Pak Dubes, naik mobil dinas kedutaan, Mercy yang nyaman, dan tentu tidak rumit untuk melalui penjagaan yang ketat di Kantor Sekretariat Negara Vatikan ini. Gedungnya di berada di wilayah Basilika Santo Petrus di dalam kota Vatikan.
Di ruang depan kantor ini terdapat ruang bisnis, yang diperuntukkan bagi para Romo dan diplomat. Jika belanja di sini maka tidak dikenai tax. Makanya, setiap kali butuh belanja, Pak Dubes ke sini karena lebih murah. Kami bisa juga belanja dengan menggunakan privileged Pak Dubes atau para Romo di sini.
Kami memasuki ruang pertemuan dikawal oleh staf Sekretariat Negara. Sebagaimana diketahui bahwa Kardinal Parolin adalah pemangku jabatan sebagai Sekretaris Negara. Jadi beliau adalah orang kedua setelah Paus. Gedung yang tertata sangat baik meskipun didirikan pada masa yang sangat lama, pada abad ke 15. Tentu saja sudah mengalami pemugaran yang rusak akan tetapi bangunan lamanya masih kelihatan sangat kokoh.
Kami memasuki ruang pertemuan yang indah. Dihiasi dengan lukisan-lukisan dalam nuansa Kekatotikan yang indah. Di dinding dalam dan atasnya terdapat ornamen-ornamen khas Vatikan. Kami tentu saja sempat berfoto di dalamnya. Berbagai pose kami lakukan. Rasa gembira bisa bertemu dengan orang kedua di negeri Vatikan. Kardinal Parolin adalah seorang Kardinal yang sangat terkenal di Vatikan bahkan juga Italia dan dunia.
Kami menunggunya sambil berdiri, sampai kemudian pintu terbuka dan wajah yang damai datang menyalami kami. Pak Dubes yang pertama salaman, lalu saya dan seterusnya tokoh-tokoh agama. Tibalah acara yang ditunggu bertemu dan berbicara dengan His Excellency Kardinal Parolin. Pak Dubes mengantarkan pembicaraan bahwa kami yang hadir adalah tokoh-tokoh agama di Indonesia dari semua agama di Indonesia. mereka adalah representasi Islam, Katolik, Kristen, Hindu, Buddha dan Khonghucu. Mereka adalah narasumber di dalam acara dialog antaragama Masyarakat Indonesia di Eropa atau para diaspora Indonesia.
Lalu saya dipersilahkan oleh Pak Dubes untuk menyerahkan hasil dialog yang sudah dideklarasikan sebagai Roma Recommendation. Saya sampaikan ucapan salam dan terima kasih yang mendalam atas diterimanya kami dan saya akan serahkan dokumen deklarasi Roma kepada beliau. Dokumen itu diterimanya dengan senyuman yang tulus.
Beliau lalu menyampaikan sambutannya dengan bahasa yang lembut. Disampaikannya bahwa masyarakat dunia mengharapkan kita semua umat beragama untuk membangun perdamaian. Kita hidup di dunia yang semakin terfragmentasi dalam banyak hal.
Sebagaimana dinyatakan oleh Paus Franciskus bahwa kita harus membangun perdamaian dunia. Kita berbeda dan itu yang terkadang membuat terjadinya konflik di antara kita. Namun demikian hal itu harus memperkaya kita untuk membangun perdamaian dan mempromote persatuan. Seperti penyelenggaraan dialog antaragama hakikatnya adalah untuk memberikan solusi dan bukan kita menjadi bagian dari problem tersebut. Terkadang agama dimanipulasikan untuk beberapa alasan, agama seharusnya menjadi alasan untuk saling bertoleransi.
Saya sungguh menaruh rasa hormat dan mensupport negara Indonesia, yang besar, negeri yang seperti mosaic, untuk membangun bersama demi kebesaran negeri anda. Kita sekarang membutuhkan spiritualitas, di tengah dunia yang semakin materialistic. Kita harus mengharap atas petunjuk Tuhan untuk menyelamatkan kehidupan manusia di dunia ini. Kita harus terus bekerja dalam menghadapi intoleransi dan fundamentalisme melalui kontribusi yang positif.
Penting juga untuk mendidik anak-anak muda untuk membangun perdamaian agar kita mendapatkan keberkatan Tuhan. Kita harus terus berdoa agar memperoleh keberkatan Tuhan itu. Kita tidak boleh pessimis. Kita orang yang percaya Tuhan, kita harus saling menghargai, saling membantu dan saling memahami satu dengan lainnya agar kehidupan kita semakin baik dan bermakna.
Wallahu a’lam bi al shawab.

KE ROMA; BERTEMU TOKOH AGAMA ISLAM (13)

KE ROMA; BERTEMU TOKOH AGAMA ISLAM (13)
Di antara tokoh agama Roma yang kami temui bersama para tokoh agama dari Indonesia adalah Imam Yahya Pallavicini. Beliau adalah President of Coreis, sebuah organisasi Masyarakat Muslim di Roma. Beliau orang Italia, dan Bapaknya dulu masuk Islam sehingga dia dan keluarganya juga beragama Islam. Ketika saya Tanya: “are you fans of AS. Roma?. Dia menyatakan dengan semangat: “Yes, I am fans of AS. Roma”. Beliau pernah datang ke Jakarta mengikuti acara High Level Consultation of Ulama di Bogor, yang diselenggarakan oleh Utusan Khusus Presiden Bidang Dialog Antaragama dan Peradaban.
Acara ini dipandu oleh Bu Esti Andayani, Dubes RI untuk Italia, Cyprus dan Malta. Saya diberi kesempatan pertama selaku pimpinan delegasi untuk menyampaikan sambutan. Saya sampaikan terima kasih dan rasa bahagia karena bisa bertemu dengan Pak Imam Yahya. Selanjutnya saya minta Pak Fery Meldy untuk menyampaikan presentasi tentang peran Kementerian Agama, terutama Pusat Kerukunan Umat Beragama (PKUB) dan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB). Oleh Pak Fery dijelaskan bahwa antara PKUB dan FKUB adalah dua institusi yang saling mendukung. PKUB merupakan institusi pemerintah dan FKUB adalah institusi masyarakat. keduanya membawa peran yang sangat penting didalam membangun kerukunan umat beragama.
Selanjutnya, Bu Henriette menyatakan bahwa harmoni umat beragama di Indonesia terselenggara dengan baik, sebab kita memiliki kesamaan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara dengan dasar Pancasila. Umat Kristen merasa bahwa dengan Pancasila tersebut dapat menjadi pemersatu bangsa yang sangat plural. Berikutnya, Pak Jenderal Wisnu juga menyatakan bahwa umat Hindu di Indonesia bisa bersatu dengan umat agama lain disebabkan oleh falsafah bangsa dan dasar negara, Pancasila. Kita bersyukur bahwa para pendiri bangsa menghasilkan Pancasila yang menjadi sarana untuk mempersatukan bangsa Indonesia.
Berikutnya adalah paparan Imam Yahya. Masih muda dan bersemangat serta kemampuan bahasa Inggrisnya juga sangat baik. Beliau sampaikan bahwa di Italia ini umat Islam kira-kira 2 juta orang. Dari jumlah tersebut, maka kebanyakan ialah kaum migran dari Afrika, Timur tengah dan Asia lainnya. Ada yang dari Afghanistan, Maroko, Tunisia, Suriah, Iraq dan sebagainya. Mereka inilah yang sekarang menjadi bagian dari umat Islam di Italia.
Saya senang bisa mengunjungi Indonesia dalam acara di Bogor. Indonesia adalah negeri yang besar dengan jumlah penduduk Muslim terbesar. Indonesia dikenal sebagai negara yang penuh kedamaian dan harmoni antar umat beragamanya. Saya tahu bahwa sekarang Indonesia juga sedang menghadapi gerakan radikalisme sebagaimana negara-negara lain di dunia. Tetapi Indonesia selama ini bisa mengatasi radikalisme itu dengan baik. Saya berharap negara lain juga bisa melakukan hal yang sama.
Di Italia, umat Islam itu membentuk kelompoknya sendiri-sendiri. Misalnya kelompok Islam Maroko, kelompok Islam Afghanistan, Kelompok Islam Suriah dan sebagainya. Meskipun begitu mereka tetap merupakan satu kesatuan umat Islam di Italia. Organisasi Coreis itulah yang menjadi tempat bagi semua pemeluk agama Islam di Italia untuk bersatu. Kita juga bersyukur karena memiliki Masjid Agung Roma, yang merupakan hasil donasi umat Islam di berbagau negara dan kerja sama antar pemeluk agama di Italia. Masjid ini dapat menjadi tempat untuk pengajaran Islam.
Saya menanyakan kepada Beliau tentang 3 (tiga) symbol bendera di Masjid Agung Roma, yaitu bendera lambang Islam atau Musulmane, bendera Italia sebagai lambang orang Italiano dan juga bendera Uni Eropa sebagai bagian dari Europano. Saya sedikit-sedikit belajar bahasa Italia. Dinyatakannya, bahwa kita sedang membangun proses untuk saling memahami tentang hal ini. Umat Islam di Italia harus belajar menjadi warga Italia, dan bahkan juga warga masyarakat Eropa. Kita terus berupaya agar warga muslim tidak eksklusif, mereka harus menjadi bagian tidak terpisahkan dari masyarakat Italia pada umumnya. Meskipun mereka berasal dari berbagai bangsa sebelumnya, tetapi ke depan harus menjadi bangsa Italia.
Lalu saya juga tanyakan: “Many Muslim of Italia base on the migrant, who come from many state di Middle East and other which the interpretation of religion are very different. How do you manage about this? Beliau menyatakan inilah problem saya yang sangat mendasar. Saya terus berupaya agar mereka itu menjadi umat Islam yang inklusif. Jangan merasakan masih menjadi bagian dari negara asalnya. Mereka harus menyatu dengan masyarakat Italia. Saya terus berupaya dengan para tokoh Islam dan umat agama lainnya, terutama umat Katolik untuk berdialog dalam rangka membangun harmoni antar umat beragama. Di Italia ini, ada banyak umat beragama, yang minoritas ialah Islam, Kristen Protestant, Hindu, Buddha, Yahudi, Baha’i dan sebagainya. Untungnya Italia memiliki satu pasal di dalam Undang-Undang Negara Italia, yang menjamin warga Italia bebas menjalankan agamanya.
Kemudian saya tanyakan: “what does the government of Italia support of the development of Islam in Italia? Lalu dinyatakan bahwa negara tidak memberikan supportnya untuk mengembangkan agama di sini. Semua tidak disupport untuk membangun kehidupan agamanya. Sebagai negara secular, maka agama ialah urusan individu dan bukan urusan negara. Negara memang mensupport terhadap harmoni antar umat beragama melalui dialog-dialog antar umat beragama. Namun dalam urusan pengembangan masing-masing agama diserahkan kepada umat agama tersebut. Maka upaya yang kita lakukan ialah dengan melakukan dakwah secara terus menerus.
Sebagai akhir pertemuan, Saya menambahkan bahwa Indonesia memiliki konsep 3 (tiga) kerukunan umat beragama: yaitu: kerukunan interen umat beragama, antar umat beragama dan antara umat beragama dengan pemerintah. Kita memiliki program moderasi agama yang diharapkan akan dapat menjadi salah satu pola preventif agar radikalisme tidak semakin berkembang, Dan juga memiliki program pendidikan untuk menangkal terhadap gerakan radikalisme. Semuanya kita lakukan dalam rangka untuk membangun Islam yang wasathiyah atau Islam yang rahmatan lil alamin.
Wallahu a’lam bi al shawab.