• June 2026
    M T W T F S S
    « May    
    1234567
    891011121314
    15161718192021
    22232425262728
    2930  

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

REKONSTRUKSI PENDIDIKAN ANAK

REKONSTRUKSI PENDIDIKAN ANAK
Suatu pagi saya memperoleh pesan melalui Whatsapp (WA) dari Ibu Hurriyah El Islamy, anggota Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH), tentang pesan Jack Ma, pengusaha China yang sukses dan luar biasa keberhasilannya. Makanya, pesan itu lalu saya sampaikan kepada grup WA Eselon I Kemenag, terutama kepada Pak Dirjen Pendis, Prof. Kamaruddin Amin, sebab sangat relevan untuk direspon.
Pesan Jack Ma itu ialah: “kita harus mengubah cara kita untuk mendidik anak-anak. Kita tidak dapat berkompetisi dengan mesin. Robot dapat mengganti 800 juta pekerjaan pada tahun 2030. Makanya, pendidikan memiliki tantangan besar pada masa yang akan datang. Jika kita tidak mengubah cara kita mendidik anak, maka 30 tahun ke depan kita akan memiliki masalah besar. Kita harus mengubah cara kita mengajar anak. Kita harus berhenti mengajarkan pengetahuan sebagaimana 200 tahun yang lalu. Para guru agar berhenti mengajar untuk melawan mesin. Dia sangat cepat. Kita memiliki sesuatu yang unik. Guru harus mengajarkan tentang soft skill. Guru harus mengajarkan tentang nilai, keyakinan, berpikir independent, team work dan menghargai manusia. Guru harus berhenti mengajarkan pengetahuan. Guru harus mengajarkan tentang hal-hal yang tidak dimiliki oleh mesin. Guru harus mengajarkan tentang olahraga, music, melukis, dan seni. Inilah yang membedakan antara manusia dengan mesin.”
Apa yang dinyatakan oleh Jack Ma, saya kira benar. Kita sekarang sedang menghadapi era industry 4.0, di mana semakin menguat peran mesin, khususnya robot dalam dunia pekerjaan. Manusia sesungguhnya akan melawan terhadap teknologi hasil ciptaannya sendiri. Artificial intelligent yang merupakan ciptaan manusia ke depan akan menjadi lawan tangguh bagi manusia di dunia kerja. Dan dipastikan manusia akan kalah melawan mesin artifisial intelligent tersebut. Robot memiliki ketangguhan, kecepatan dan akurasi yang sangat tinggi.
Itulah sebabnya Jack Ma memberikan atau membagi pengetahuannya agar dunia pendidikan melakukan perubahan terkait dengan program pengajaran. Pembelajaran harus mengangkat keunikan manusia dengan pengetahuan, keterampilan dan keyakinannya. Manusia harus diajarkan sesuatu yang lebih dari sekedar pengetahuan. Dia harus diajarkan tentang nilai, yaitu seperangkat standart kebenaran dan kebaikan yang diyakini dapat menjadi pedoman di dalam kehidupannya. Manusia harus diajari tentang keyakinan, bahwa dia akan bisa melakukan sesuatu yang benar berdasarkan atas nilai-nilai ketuhanan, nilai-nilai sosial dan budaya yang baik. Manusia harus diajarkan tentang agama yang dapat dijadikan sebagai pedoman di dalam kehidupannya. Di dalam agama tentu selalu ada aspek kejujuran atau integritas, keadilan, kerukunan, keharmonisan dan juga keselamatan. Manusia harus yakin bahwa dengan ajaran agama itu maka dirinya akan bisa menyelamatkan kehidupannya sendiri, masyarakat dan juga lingkungannya.
Anak-anak juga harus dididik untuk berpikir independent, berpikir bebas dan bahkan juga berpikir kritis tetapi solutif. Dengan berpikir bebas, maka dia akan mampu untuk menghasilkan karya-karya inovatif yang berguna bagi manusia dan kemanusiaan serta masyarakat. Karya inovatif hanya akan muncul ketika seseorang bisa berpikir kritis, independent dan terbuka. Era sekarang mengajarkan bahwa siapa yang paling inovatif, maka dialah yang akan menguasai banyak hal di dalam kehidupan ini.
Anak-anak juga harus diajari untuk bekerja sama dan bukan hanya berpikir kompetitif. Kemampuan kompetisi penting tetapi harus berbasis pada kerja sama. Saya kira ke depan kita membutuhkan kemampuan bekerja sama di tengah semakin terdiferensiasinya kehidupan yang semakin kompleks. Hanya dengan teamwork maka kerja yang sulit akan bisa diurai dan dipecahkan melalui solusi yang cerdas.
Yang tidak kalah penting ialah agar anak didik diajar agar memiliki cinta kasih dan penghormatan kepada orang lain. Di dalam dirinya harus ditanamkan dengan kuat untuk menghargai manusia. Manusia itu tidak hanya terdiri dari daging dan tulang, akan tetapi juga dengan hati dan emosi. Makanya, manusia harus ditempatkan di dalam mitra kehidupan yang saling menghormati dan menghargai, sehingga akan tercipta keharmonisan, kerukunan dan keselamatan.
Anak didik juga harus diajarkan tentang olahraga agar sehat badannya. Men sana in corpore sano, di dalam badan yang sehat akan terletak jiwa yang sehat. Selain itu juga harus dididik dengan seni agar jiwanya sensitive terhadap kebaikan dan kesalehan. Seni akan mengasah kepekaan rohani dan menjaga ritme spiritualitas.
Jadi kita harus berani melakukan lompatan untuk kembali melakukan rekonstruksi dalam proses pembelajaran, dalam konteks kembali mengajarkan nilai-nilai kebaikan yang dahulu menjadi pedoman bagi kehidupan. Saya kira era revolusi industry 4.0 tetap perlu didampaingi dengan nilai moralitas dan spiritualitas yang agung.
Wallahu a’lam bi al shawab.

KE RAJA AMPAT: PERJALANAN LAUT YANG PANJANG (4)

KE RAJA AMPAT: PERJALANAN LAUT YANG PANJANG (4)
Pada waktu saya belajar Manajemen Pendidikan Tinggi, tahun 2007 di Mc-Gill University, maka saya pernah melakukan perjalanan panjang dari Mc-Gill ke Toronto dan melewati gugusan pulau-pulau kecil di sana. Saya sempat mengunjungi tempat wisata ini. Saya lupa namanya. Kita naik perahu dan mengelilingi pulau-pulau tersebut.
Tetapi saya kira keindahan gugusan pulau di Kanada itu tidak sama dengan gugusan kepuluan di Raja Ampat ini. Pahatan-pahatan alami di dinding batu yang sudah ratusan juta tahun itu tampak sangat indah. Deburan ombak yang mengenai batu-batu itu membuat ornament yang sangat menarik. Selain ada wisata bukit-bukit dengan aneka ragam hayati juga terdapat ragam wisata bawah laut yang luar biasa. Jadi Raja Ampat memang pantas menjadi ikon wisata Indonesia.
Saya juga ingat perjalanan panjang saya mengarungi samudra ialah di kala saya naik Kapal Fery dari Mataram ke Bali. Kira-kira 4 jam. Tetapi perjalanan di Raja Ampat ini saya kira yang terpanjang. Meskipun tidak langsung tetapi jumlah jam dan kilometernya lebih panjang. Jika dihitung nyaris tujuh jam. Selain itu, saya juga pernah menyeberang ke Singapura dari Batam dan menyeberang ke Paser di Kalimantan.
Saya tentu kagum dengan awak kapal. Mereka adalah anak muda Papua, dengan kulitnya yang hitam dan tubuhnya yang kokoh. Mereka ini selalu duduk di atas dek depan, seperti menantang samudra. Dengan pakaian kerjanya dia selalu mengunyah buah sirih, sehingga bibir dan giginya menjadi memerah. Saya tidak tahu apakah ini merupakan ritual para pelaut di sini. Gaji mereka sekali perjalanan sebesar Rp500.000,- dan sebulan rata-rata lima kali. Hanya di saat tertentu, misalnya liburan sekolah saja perjalanan ke Raja Ampat agak meningkat. Harga speed boat ini bervariasi. Untuk yang berkapasitas 10 orang harganya kisaran Rp400.000.000,- dan yang berkapasitas 30 orang kisaran harganya sebesar Rp700.000.000,-
Saya berkelililing di Kota Waisaki. Kota yang masih sederhana. Sarana perkantoran, rumah sakit, pelabuhan dan sarana-prasarananya juga sederhana. Ada banyak speed boat, kapal tangker dan kapal Phinisi yang tertambat di sini. Katanya, kapal-kapal phinisi itu dimiliki orang barat. Kapal penumpang cepat juga ada di sini. Bertepatan pulangnya ke Sorong saya menggunakan kapal cepat tersebut. Sebuah kapal yang baru, mungkin belum setahun operasional. Bahkan plastik-plastik penutup kursi di VIP juga masih utuh.
Saya lihat warna biru dominan di kota ini. Maka secara spontan saya tanyakan kepada Pak Hamid, “apakah bupatinya dari PAN?”. Dijawab Pak Hamid, “dari Demokrat Pak”. Pantaslah jika warna biru begitu dominan. Cat masjid, kantor pemerintahan, dan pagar-pagar kebanyakan berwarna biru. Memang kita bisa menebak ada keterkaitan warna dengan penguasa wilayah. Bupati atau walikota. Saya menjadi teringat ketika Pak Masjfuk menjadi bupati di Lamongan, Jawa Timur, maka nyaris semua bangunan pemerintah berwarna biru, sebab beliau adalah kader Muhammadiyah dan PAN. Sama juga ketika Bu Henny menjadi Bupati di Tuban, Jawa Timur, maka Masjid Agung Tuban pun dominan berwarna kuning. Nyaris semua bangunan berwarna kuning.
Jangan bandingkan kota Waisaki ini dengan kota-kota kabupaten di Jawa. Sarana prasaranya masih sangat sederhana dan jumlah penduduknya juga masih sangat sedikit. Populasi di Kabupaten Raja Ampat 60 persen beragama Islam. Mereka kebanyakan menempati dataran di bibir bukit. Saya kira sebuah tempat yang masih sehat untuk dihuni. Area hutan berhimpitan dengan rumah-rumah pemukiman. Saya kira 10 sampai 15 tahun lagi kota ini akan mengalami kemajuan.
Jam 14 kami kembali ke Sorong dengan menumpang kapal cepat. Ternyata penumpangnya cukup banyak. Baik dek bawah maupun dek atas penuh penumpang. Naik kapal cepat ini terasa nyaman. Nyaris tidak terdapat goncangan meskipun sebenarnya ombak lebih besar dibandingkan dengan keberangkatan saya. Beberapa kawan sudah mendahului ke Sorong dengan speed boat. Pak Hugo sudah sampai lebih dulu di Sorong.
Jika kota-kota lainnya cukup maju, misalnya Sorong, Manokwari, Fakfak, Bintuni dan beberapa lainnya, maka daerah pemekaran memang masih membutuhkan waktu untuk berkembang. Yang diperkirakan cepat berkembang adalah Kaimana. Meskipun kabupaten pemekaran akan tetapi akan lebih cepat berkembang. Selain itu juga Bintuni. Kota pelabuhan ini akan bisa berkembang lebih cepat, apalagi juga di sini terdapat pertambangan gas dan hasil budi daya laut yang lebih variatif.
Saya bertemu dengan seorang pemuda, namanya Ruska, alumni Fakultas Perkapalan UI, yang menjadi Direktur PT Juragan Kapal. Dia berminat mengembangkan usahanya di Bintuni karena sangat prospektif. Dia bersinergi untuk membangun usaha di bidang perkapalan dengan kawan-kawannya dari Universitas Hang Tuah Surabaya dan juga ITS. Produk ikan juga melimpah. Kata Pak Hamid, “pusat kepiting ialah di Bintuni.”

Papua dan Papua Barat adalah wilayah Indonesia yang terluas, setelah Kalimantan dan Sumatera. Di tempat ini bahan-bahan tambang luar biasa banyaknya. Kita masih ingat dengan Freeport yang terus menjadi bahan perbincangan di tingkat nasional. Kita juga masih ingat akan berbagai peristiwa relasi antar agama di sini. Relasi antar penganut agama ini seringkali fluktuatif. Ada kalanya memanas dan ada kalanya mendingin, meskipun yang dingin lebih dominan.
Ada masalah di Tolikara Papua antara umat Islam dengan GIDI tentang pelaksanaan shalat, lalu juga ada masalah pendirian masjid di Manokwari. Tetapi satu hal yang penting, bahwa setiap ada gejolak masalah antar umat beragama lalu bisa diselesaikan dengan memadai. Oleh karena itu tentu kita bersyukur atas terjalinnya kerukunan umat beragama yang menjadi ruh kebersamaan di antara umat beragama.
Jadi, sesungguhnya kita tetap mampu merajut kebersamaan dan kerja sama dalam kerangka meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat Indonesia.
Wallahu a’lam bi al sahwab.

KE RAJA AMPAT: AKHIRNYA BISA BERKUNJUNG (3)

KE RAJA AMPAT: AKHIRNYA BISA BERKUNJUNG (3)
Sebenarnya saya agak trauma perjalanan di laut. Hal itu terjadi pasca acara di Pulau Seribu tahun 2014. Saya ingat betul peristiwa itu, sebab ada acara yang diselenggarakan di Pulau Seribu. Bertepatan anak saya yang pertama, dr, Dhuhrotul Rizqiyah dan anaknya, Yufika Farnaz Adzkiya, yang baru usia 6 (enam) bulan datang ke Jakarta. Maka saya ajaklah anak, cucu dan isteri ke Pulau Seribu. Saya tidak menyangka bahwa gelombang laut sedang tinggi.
Saya sebelumnya sudah berkali-kali hadir dalam acara di Pulau Seribu. Ternyata gelombang hari itu lumayan tinggi. Makanya, speed boat yang kita naiki itu benar-benar naik turun seperti buih, dengan suara gemeretak di kala speed boat itu memecah ombak. Untungnya saya mengetahui gelombang itu setinggi dua meter setelah sampai di pantai.
Saya juga tidak update informasi bahwa perjalanan ke Raja Ampat itu 2,5 jam dengan speed boat. Itu baru sampai di Pulau Piaynemo, sebuah gugusan perbukitan di Raja Ampat, sedangkan untuk menjangkau pulau lainnya bisa satu jam atau lebih. Saya berangkat ke Raja Ampat dengan speed boat kapasitas 30 orang. Cukup besar. Saya bersama dengan Pak Hamid, Pak Abdul Rumkel, Hugo Rizal, Benson Hp, Jimmi Kleufna, Nurbaya Syamsuddin, Nana Mariana Luggaer, Musa Buatan dan Chuzaemi.
Untunglah cuaca sangat bersahabat pada pagi hari itu. Gelombangnya kecil dan hanya di tengah perjalanan sempat gerimis dan angin bertiup agak kencang, sehingga speed boat mengalami sedikit goncangan. Bagi kawan-kawan dari Papua Barat, tentu itu bukan hal aneh. Kata Pak Hamid, “kalau gak ada gelombang bukan laut”. Benar juga itu. Perjalanan cukup lancar hanya sekali mesin harus dimatikan karena ada sampah yang tersangkut di baling-baling. Lancar perjalanan sampai ke Piaynemo. Untuk mencapai puncak bukit ini, kita harus naik tangga. Trap kayu olin itu kuat sekali. Tangga ini merupakan hadiah Pak Jokowi ketika beliau datang di sini.
Setapak demi setapak kami dapat sampai ke atas bukit, yang jauhnya kira-kira 2000 meter. Cukup terjal. Bagi yang muda tentu tidak ada kendala, tetapi bagi yang usianya tua tentu bisa tidak kuat. Harus istirahat di setiap tanjakan. Memang disediakan tempat istirahat di antara tanjakan-tanjakan tersebut. Ada banyak wisatawan dalam dan luar negeri. Mereka berebut foto di atas bukit. Sangat bagus pemandangannya sebab kita bisa melihat gugusan pulau-pulau kecil di sekeliling dan bahkan juga kota Sorong dari jarak jauh. Tidak lama kami berada di situ, sebab informasinya rombongan 40 duta besar bersama Bu Menteri Yohanna Yambise akan datang juga di sini.
Lalu kami turun dan menikmati kelapa muda. Di bibir bukit. Ada sejumlah pedagang yang menjajakan ikan asin, akar bakau untuk gelang, kelapa muda dan kepiting kelapa. Disebut kepiting kelapa karena mereka memakan kelapa yang jatuh. Harganya ternyata mahal. Bisa Rp100.000,- sampai Rp250.000,- seekor.
Kami melanjutkan perjalanan ke Pulau Arborek. Kira-kira 30 menit. Pulau wisata Raja Ampat ini dipenuhi dengan ikan-ikan warna-warni. Pulau ini dihuni oleh banyak penduduk. Mereka juga membuat rumah-rumah penginapan. Dan kelihatannya juga banyak pendatang. Lokasi wisata ini dikelola oleh asing dalam jangka waktu 25 tahun. Di sinilah keindahan ikan itu bisa disaksikan.
Begitu kita datang, maka ikan-ikan itu sudah lalu lalang di di sekitar speed boat. Mereka sudah tahu bahwa akan ada makanan yang datang. Ikan-ikan besar dan kecil berlari-lari di bawah dan sekitar kita. Berdasarkan catatan, maka ikan-ikan itu berjenis macam-macam. Ikan Sekoda yang cucutnya panjang, ikan Gutila yang tipis putih, ikan Kakaktua berwarna hijau dan biru, ikan Bulanak laut, ikan Moci, ikan Momar yang kecil-kecil, ikan Samandar batu dan ikan nemo biru. Menurut Bu Nurbaya, menyebutnya sederhana. Ada ikan berkaos kuning, berkaos merah, berkaos biru dan sebagainya. Yang tidak ada ikan berkaos Croatia.
Kita sangat menikmati pemandangan menarik dari ikan-ikan ini. Di kala diberi makan apa saja, bahkan daun singkong, ternyata pada berebut. Maka sekejap saja habis. Jika selama ini kita hanya melihat ikan di akuarium atau di Ancol, maka sekarang kita bisa melihat akuarium alami, yang tersaji di pantai Pulau Arborek. Kita tidak boleh mancing atau menangkap ikan di wilayah ini. Dinyatakan bahwa ikan-ikan ini adalah piaraan para Raja di pulau Raja Ampat. Jika ingin memancing disediakan tempat yang agak jauh dari tempat ini. Sebuah kearifan local untuk mempertahankan ikan-ikan di pinggir pantai.
Yang indah sesungguhnya ialah wisata bawah laut. Sayangnya tidak ada di antara wisatawan dalam negeri yang memanfaatkannya. Kebanyakan wisatawan manca negara yang memanfaat diving untuk menemukan surga laut di Raja Ampat. Konon katanya, wisata bawah laut di Raja Ampat ini sangat khas dan tidak dijumpai di tempat lain. Terumbu karang dan biota lautnya luar biasa.
Saya hanya istirahat untuk makan dan kemudian melanjutkan perjalanan ke wisata laut pasir timbul. Perjalanannya selama satu jam. Angin yang sangat bersahabat tentu menenangkan hati kami. Hanya sayangnya bahwa laut sedang pasang, sehingga dataran pasir timbul itu tertutup oleh air laut. Hanya saja, warna air lautnya memang berbeda. Jika pada umumnya laut itu membiru, maka di atas pasir timbul ini airnya kebiru-biruan muda. Indah juga dipandang.
Kami melanjutkan perjalanan ke Ibu Kota Kabupaten Raja Ampat di Waisaki. Perjalanan ini juga cukup panjang kira-kira 45 menit. Kota Waisaki ini merupakan kota baru, yaitu semenjak pemekaran Raja Ampat menjadi kabupaten. Semula akan ditempatkan di pulau sebelahnya yang sudah menjadi ibukota kecamatan Raja Ampat, akan tetapi karena pulaunya lebih kecil maka dipilih Pulau Waisaki ini. Kami dijemput oleh Pak Munir, Kakankemenag Kabupaten Raja Ampat. Di sini sudah ada Bandar Udara, yang juga melayani penerbangan domestic.
Kami menyempatkan untuk keliling melihat Masjid Adung Raja Ampat, Masjid Al Ikhlas dan juga Madrasah Tsanawiyah Swasta di sebelah Masjid Al ikhlas. Masjid Agung Raja Ampat ini akan dipugar, dan ground breakingnya dilakukan oleh Pak Menteri Agama, Pak Lukman Hakim Saifuddin, saat beliau berkunjung di sini. Sudah selama 15 tahun Kota Waisaki ini berdiri dan sudah menunjukkan perkembangan, meskipun belum sebagaimana yang diharapkan.
Wallahu a’lam bi al shawab.

KE RAJA AMPAT; GROUND BREAKING LAB TERPADU (2)

KE RAJA AMPAT; GROUND BREAKING LAB TERPADU (2)
Pukul 13.00 WIT saya kembali ke Sorong dengan pesawat garuda bertipe mombardir. Saya ditemani Pak Plt. Kakanwil Papua Barat dan juga Pak Kabid Pendidikan Madrasah dan beberapa staf lainnya. Di Sorong sudah disiapkan acara pembinaan para guru pada Madrasah Negeri Insan Cendekia (MAN IC) dan juga acara ground breaking proyek pembangunan Laboratorium terpadu pada MAN IC di Sorong.
Saya dijemput oleh Kakankemenag Kabupaten Sorong dan Kepala MAN IC Sorong, Pak Ismail Betawi di Bandara Sorong. Kami lalu menyusuri wilayah Kabupaten Sorong. Lumayan jauh perjalanannya. Kira-kira 45 menit dari Bandara. Wilayah yang kami lewati adalah wilayah pemukiman orang Jawa. Mereka adalah kaum transmigran dari Jawa yang dikirim ke sini pada tahun 70-an. Mereka menguasai lahan pertanian di sepanjang jalan menuju MAN IC. Tanaman jagung, padi, sayuran dan buah-buahan ada di lahan mereka ini. Saya lihat bahwa mereka masih mempertahankan tradisi bertani tradisional. Ada irigasi namun tidak optimal penggunannya.
Menurut Pak Abdul Hamid mereka ini memang masih menjaga tradisi Jawa. Mereka menggunakan bahasa Jawa sebagai medium berkomunikasi dan juga masih menyelenggarakan berbagai upacara lingkaran hidup sebagaimana orang Jawa. Di antara anak-anak mereka tentu sudah memasuki ruang kerja yang bervariasi, termasuk menjadi PNS. Bahkan kebanyakan PNS adalah dari keturunan orang Jawa dan pendatang lainnya, seperti orang Maluku Utara, Orang Sulawesi atau Ambon. Sepanjang kiri jalan, saya lihat ada pekerja pertanian yang sedang bertani. Rumah-rumah mereka sudah ada yang permanen tetapi kebanyakan masih rumah panggung. Rumah bawah dipakai untuk memelihara ternak, sedangkan yang atas dipakai untuk aktivitas keluarga.
Ketika saya masuk ke MAN IC, maka sudah menunggu dengan berdiri para murid MAN IC, baik lelaki maupun perempuan. Dengan seragam khas MAN, mereka melambaikan tangan kepada kami yang datang. Para guru juga menyambut kami dan acara pun kemudian berlangsung. Bertempat di ruang pertemuan, kami diminta untuk memberikan pengarahan. Hadir bersama saya ialah Pak Plt. Kakanwil Papua Barat, Kakankemenag Kota dan Kabupaten Sorong, Kabid Madrasah, Kepala MAN IC dan semua guru dan staf kependidikan di MAN IC. Ada tiga hal yang saya sampaikan kepada para guru dan pejabat di Kemenag.
Pertama, saya bersyukur bahwa upaya untuk mendirikan MAN IC di berbagai provinsi di Indonesia telah tampak hasilnya. Saya teringat pada tahun 2013 ketika program untuk memperbanyak lembaga pendidikan berkualitas ini dilakukan. Kita sudah memiliki tiga MAN IC di Serpong, Gorontalo dan Jambi. Seirama dengan keinginan untuk mendirikan MAN bertarap internasional, maka program itu dihentikan oleh Kemendikbud, pasca keputusan MA. Maka keinginan untuk mendirikan MAN Berstandart Internasional pun kandas. Sudah banyak daerah yang menghibahkan tanah sebesar 10 hektar untuk program ini. Salah satunya ialah Kabupaten Paser di Kalteng.
Berdasarkan atas kenyataan ini, maka program MAN IC menjadi pilihan. Saya ingat semula diprioritaskan sebanya 19 provinsi yang akan dibangun MAN IC ini, dengan catatan bahwa tanah-tanah yang akan dibangun MAN IC itu sudah diserahkan kepada Kemenag. Saya lalu datang ke Kabupaten Paser bersama dengan Bu Ida Noor Qasim dan lain-lain. Saya sungguh terharu ketika Pak Bupati memberikan sambutan sambil mencucurkan air mata karena rasa gembiranya, bahwa di Paser akan dibangun MAN IC yang juga mengusung semangat internasional. Dan hari ini saya melihat MAN IC juga berkembang di Sorong.
Kedua, saya menitipkan agar program pendidikan kita ini harus bersearah dengan tujuan untuk membekali para generasi penerus bangsa. Saya berkeyakinan bahwa para siswa di MAN IC adalah anak-anak hebat yang ke depan akan mewarisi dan bertanggungjawab atas kelestarian NKRI. Maka hendaknya mereka dibekali dengan ilmu-ilmu untuk masa depan. Para generasi milenial ini agar diajarkan tentang bagaimana menghadapi dunia teknologi informasi yang semakin hebat. Ajari mereka untuk cerdas menggunakan media sosial, agar tidak terpancing dengan gerakan-gerakan intoleransi, kekerasan, hate speech, dan lainnya.
Mereka harus menjadi orang Indonesia yang dapat memanfaatkan bonus demografi secara benar. Para guru harus mengantisiasi dampak buruk media informasi, misalnya pornografi, pornoaksi, narkoba dan sebagainya. Jangan sampai bonus demografi yang sesungguhnya sangat positif bagi bangsa ini menuai kegagalan karena kita tidak benar di dalam mendidik mereka semua.
Ketiga, kita sedang memiliki program yang sangat baik, yaitu program moderasi agama. Ajarkan kepada para siswa agar beragama yang moderat, yang wasathiyah. Jangan tertarik kepada gerakan kanan atau kiri. Yang kanan adalah gerakan radikalisme, ekstrimisme bahkan terorisme, sedangkan yang kiri ialah gerakan liberalisme bahkan atheism. Semua tidak ada manfaatnya bagi bangsa Indonesia. Harus diajarkan mereka ini semangat untuk menegakkan Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Kebinekaan. Pilar consensus kebangsaan ini adalah harga mati bagi bangsa Indonesia. Para siswa harus benar-benar ditanamkan semangat kebangsaan dan kenegaraan. Mereka harus diajari bahwa antara agama dan negara tidak bertentangan dan saling meneguhkan atau memperkuat. Sama sekali tidak ada pertentangan antara Pancasila dan Islam.
Setelah selesai memberikan pengarahan di MAN IC, maka acara dilanjutkan dengan ground breaking Gedung Laboratorium Terpadu pada MAN IC. Di dalam acara sambutan tunggal ini, saya sampaikan kepada Pak Hendra, Direktur PT Arvindo Mitra Perkasa, agar dipahami bahwa pembangunan gedung pendidikan ini adalah pembangunan untuk peradaban bangsa. Jika Pak Soekarno menyatakan bahwa pembangunan Masjid Istiqlal itu tahan selama 1000 tahun, maka gedung Laboratorium ini juga harus tahan ratusan tahun.
Oleh karena itu jangan kurangi spesifikasinya, penuhi standartnya dan lakukan yang terbaik bagi lembaga pendidikan ini. Setelah itu lalu kita melakukan ground breaking bersama-sama dengan Pak Plt. Kakanwil, Pak Kabid Madrasah, Pak Kepala MAN IC dan kakankemenag Kabupaten Sorong, serta sejumlah tokoh lainnya.
Wallahu a’lam bi al shawab.

KE RAJA AMPAT: PEMBINAAN ASN KEMENAG (1)

KE RAJA AMPAT: PEMBINAAN ASN KEMENAG (1)
Sebenarnya, pada tahun 2013, saya pernah merencanakan untuk melihat kehebatan pariwisata Indonesia, yaitu Raja Ampat. Namun perjalanan itu tertunda sebab tiba-tiba ada rapat Baperjakat di Kantor untuk membahas hasil pemilihan Rektor IAIN Sunan Ampel. Saya merasa harus hadir pada acara itu dan meninggalkan rencana untuk datang ke Raja Ampat.
Jadwal saya pada waktu itu ialah ke STAIN Sorong, lalu ke STAIN Palopo dan baru kembali ke Jakarta. Akan tetapi karena jadwal Baperjakat itu, maka saya harus kembali ke Jakarta dan baru esok harinya ke STAIN Palopo. Perjalanan memang menjadi berputar-putar dari yang semula dalam satu jalur: Sorong, Makasar, Palopo, lalu menjadi Sorong, Jakarta, Makasar lalu Palopo dan kembali ke Jakarta.
Saya juga berkali-kali diundang ke Sorong dan Manokwari, akan tetapi karena kesibukan di Jakarta, maka perjalanan tersebut selalu tertunda. Terakhir saya diundang oleh Pak Sudamek untuk meresmikan Vihara di Manokwari dan akhirnya juga tidak bisa datang. Tetapi akhirnya takdir ke Manokwari dan Sorong datang juga. Bahkan juga ke tempat wisata Raja Ampat yang sangat terkenal itu.
Saya berangkat dari Jakarta hari Kamis malam, pukul 01.00 Wib dan sampai di Sorong pukul 06.00 WIT dengan pesawat Garuda, lalu melanjutkan perjalanan ke Manokwari dengan pesawat Garuda tipe Bombardir, dan sampai pukul 07.30 WIT. Saya dijemput oleh Pak Plt. Kakanwil Papua Barat, Pak Abdul Hamid Rahayamtel dan jajarannya. Bertepatan saya satu pesawat dengan Pak Wakil Gubernur Papua Barat, Pak Muhammad Lakotani. Saya disambut dengan tarian khas Papua dan juga dikalungi untaian manik-manik yang indah. Saya berpikir, ini cocok untuk mainan cucuku, Yufika Farnas Adzkiya.
Saya transit di Hotel Swiss Belhotel Manokwari untuk sekedar membersihkan muka dan badan secukupnya. Seperti biasa saya tidak berani mandi karena kurang tidur. Di pesawat saya hanya tidur 3 jam saja. Itu sudah sangat cukup bagi saya. Tetapi tentu kurang jika dihitung dengan jam tidur biasanya di rumah. Biasanya saya tidur 5 jam.
Di Kantor Wilayah Kementerian Agama sudah menunggu para pejabat dari pusat dan daerah. Bu Donna dari Ortala sudah berada di sini untuk menyelenggarakan kegiatan keortalaan, dan sementara pejabat di Kanwil Kemenag Papua Barat juga sudah menunggu untuk acara pembinaan pegawai. Pukul 09.30 WIT acara ini dimulai. Pak Plt. Kakanwil memperkenalkan profile Kanwil Kemenag dan juga berbagai kegiatan penting di sini. Lalu, saya juga menyampaikan beberapa hal yang saya anggap sangat penting di era sekarang ini. Ada beberapa hal yang saya sampaikan, yaitu:
Saya sampaikan tentang misi kementerian agama. Seperti biasanya, saya menggoda terhadap para pejabat di sini dengan pertanyaan: “siapa yang hafal tujuh misi Kemenag, akan saya beri hadiah dompet saya ini. dompetnya saja, sementara isinya tidak”. Saya tentu yakin bahwa para pejabat di sini pasti hafal tujuh misi ini. namun demikian, saya mengingatkan kembali tentang misi-misi tersebut.
Pertama, meningkatkan pemahaman dan pengamalan beragama. Misi ini merupakan misi utama Kemenag. Tugas kita semua ialah meningkatkan pemahaman dan pengamalan beragama dalam coraknya yang moderat. Atau di dalam konsepsi Islam disebut sebagai agama yang wasathiyah. Sebagai ASN Kemenag, kita semua wajib mengembangkan pemahaman dan pengamalan beragama yang mengandung perdamaian untuk memperkuat kesatuan dan persatuan bangsa. Jangan ada di antara kita yang tertarik pada pemahaman dan pengamalan agama yang mengandung kekerasan, intoleran, anti Pancasila, UUD 1945, NKRI dan ajaran berbasis takfiri. Kita harus menarik mereka yang ke kanan atau ke kiri untuk berada di tengah.
Kedua, memperkuat kerukunan umat beragama. Kita bersyukur bahwa bangsa Indonesia memiliki common platform yang berupa Pancasila. Dengan memiliki Pancasila, maka kerukunan umat beragama itu bisa dirajut dengan kuat. Negara yang besar ini tidak didasarkan atas dasar agama atau isme-isme lainnya, akan tetapi oleh Pancasila. Indonesia bukan negara agama dan juga bukan negara secular, akan tetapi negara yang berbasis pada agama. Kita telah memilih hubungan antara agama dan negara ialah yang bercorak simbiosis mutualisme. Saling membutuhkan.
Ketiga, meningkatkan kualitas pendidikan agama dan keagamaan. Pendidikan merupakan instrument penting untuk meningkatkan kualitas SDM. Makanya dengan pendidikan yang berkualitas, maka dipastikan juga akan didapatkan manusia Indonesia yang berkualitas. Lembaga pendidikan kita harus semuanya bermutu. Madrasah, Pendidikan Tinggi, lembaga pendidikan di bawah ditjen agama-agama juga harus ekselen. Semua lembaga pendidikan harus terakreditasi dengan baik. Semua guru harus professional, dan para siswa, santri atau mahasiswa juga harus berkualitas di dalam menyongsong Indonesia Emas, 2045. Jangan sampai kita salah mengajar generasi sekarang ini, sebab merekalah yang akan menjadi generasi emas Indonesia di masa depan.
Keempat, memperkuat pelayanan kepada umat beragama. Tugas kita ialah untuk memberikan pelayanan yang terbaik bagi semua umat beragama. Sarana dan prasarana umat beragama harus dipenuhi. Masjid, Vihara, Gereja, Pura dan Kelenteng juga harus dipenuhi sebagai pelayanan ibadah kepada umat beragama. Demikian pula pelayanan pendidikan, perkawinan, kependudukan, dan lain-lainnya. Kita ini adalah pelayan umat.
Kelima, penguatan ekonomi berbasis institusi keagamaan. Misi ini yang saya kira perlu diperkuat ke depan. Kita harus memperkuat penyelenggaraan Zakat, Infaq dan Shadaqah sebagai pilar ekonomi umat. Demikian pula dana punia, dana kolekte dan sebagainya juga haris didayagunakan untuk mengembangkan ekonomi umat. Masjid tidak hanya dijadikan sebagai tempat ibadah tetapi juga untuk pemberdayaan ekonomi, kesehatan dan sebagainya.
Keenam, meningkatkan kualitas pelayanan haji. Kita sungguh bersyukur sebab hasil survey tentang penyelenggaraan haji terus meningkat. Sekarang kita sudah berada dalam score 84,85 artinya hanya tinggal 0,15 score saja untuk mencapai pelayanan yang sangat memuaskan. Kita telah melakukan pembenahan secara optimal tentang pemondokan, catering dan juga transportasi. Dan hasilnya tentu adalah kepuasan para Jemaah haji yang semakin meningkat.
Ketujuh, penguatan tata kelola dan manajerial. Kita telah berbuat banyak, misalnya dalam reformasi birokrasi kita telah mencapai prestasi yang baik dengan nilai BB. Kita sudah mendapatkan nilai IRB sebesar 72, 23, artinya kita sudah akan berhak untuk memperoleh tunjangan kinerja sebesar 70 persen. Tetapi satu hal yang harus saya ingatkan agar para ASN meningkatkan kualitas kinerjanya. Sekarang kita telah memiliki aplikasi baru, SIEKA atau Sistem Informasi Elektronik Kinerja ASN. Semua harus menggunakannya agar upaya untuk meningkatkan tukin akan semakin mendekati kenyataan.
Dalam bidang Laporan Keuangan Kementerian Agama (LKKA) tahun 2017, kita bersyukur bahwa kita telah mencapai prestasi terbaik, sebagaimana tahun lalu, yaitu memperoleh opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).
LKKA merupakan marwah Kementerian Agama. Jadi kalau kita tidak mendapatkan WTP maka hal itu terasa sangat menyedihkan. Kita bisa mempertahankan berturut-turut WTP tahun 2016 dan 2017. Kita sudah mengalami disclaimer pada tahun 2000-an, lalu mulai WTP-DPP tahun 2012-2014. Menjadi WDP tahun 2015. Hal ini disebabkan oleh perubahan system akuntansi dari cash based ke accrual based. Tetapi dalam dua tahun terakhir justru kita bisa meraih WTP sebagai penilaian tertinggi dari BPK. Kita harus bersyukur tentang hal ini. dan saya ingin menyatakan bahwa WTP ini adalah kerja keras kita semua. Bukan capaian individu-individu tetapi capaian bersama.
Lalu kita juga memperoleh penilaian yang baik terkait dengan Pelayanan Publik. Ombudsman Republik Indonesia (ORI) memberikan penilaian yang signifikan, yaitu dari peringkat 19 menjadi peringkat 10. Tahun ini harus bisa masuk zona warna hijau dengan score sekurang-kurangnya 88.
Wallahu a’lam bi al shawab.